cover
Contact Name
Fathul Qorib
Contact Email
fathul.indonesia@gmail.com
Phone
+6285354769970
Journal Mail Official
jisip.unitri@gmail.com
Editorial Address
Jl. Telaga Warna, Tlogomas, Malang, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP)
ISSN : -     EISSN : 24426962     DOI : 10.33366/jisip
JISIP Journal of Social and Political Science is published three times a year (April, August and December). Article published in JISIP is an article based on the results of research (priority), and articles on scientific reviews of contemporary phenomena in the field of Social and Political Science, Communication and Public Administration. In receiving articles that will be reviewed by internal, external editors and reviewers. Each article entered in the JISIP journal will be sent to the editors section through the Initial Review process. After that, the articles will be sent to peer reviewers to get the Double-Blind Peer Review Process. JISIP will be published papers chosen under the a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Articles 595 Documents
Human Security and Its Impact on Political, Economic, and Social Development in Indonesia: A Study of Joko Widodo’s Administration from 2014 to 2024 Purwanti, Asih; Ng, Yufita
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3405

Abstract

This study analyzes the implementation of human security in Indonesia during the administration of President Joko Widodo (2014–2024). Human security, which places individuals at the center of protection and development, encompasses seven main pillars: economic security, food security, health security, environmental security, personal security, community security, and political security. This study uses a descriptive-qualitative approach with secondary data from government documents, NGO reports, and academic studies. The results show significant progress in improving economic security through poverty alleviation programs such as the Family Hope Program (PKH) and large-scale infrastructure development projects. The National Health Insurance Program (JKN) has expanded health coverage, improving health security for millions of people. In terms of food security, the government's food estate program and agricultural diversification efforts have increased local food production, although challenges in distribution and sustainability remain. Environmental security has improved with a decline in deforestation rates, although illegal deforestation and land conflicts still occur. Despite successes in some areas, challenges to civil rights and political security remain, with restrictions on freedom of speech and the weakening of anti-corruption institutions. In conclusion, the integration of human security into Indonesia's development policies needs to be strengthened, particularly in political and civil rights, to ensure a comprehensive and sustainable future for all citizens.Penelitian ini menganalisis implementasi keamanan insani di Indonesia selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024). Keamanan insani, yang menempatkan individu sebagai pusat perlindungan dan pengembangan, mencakup tujuh pilar utama: keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan pribadi, keamanan komunitas, dan keamanan politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan data sekunder dari dokumen pemerintah, laporan LSM, dan studi akademis. Hasil penelitian menunjukkan kemajuan signifikan dalam meningkatkan keamanan ekonomi melalui program pengentasan kemiskinan seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan proyek pembangunan infrastruktur skala besar. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah memperluas cakupan kesehatan, meningkatkan keamanan kesehatan bagi jutaan orang. Dalam hal ketahanan pangan, program food estate dan upaya diversifikasi pertanian pemerintah telah meningkatkan produksi pangan lokal, meskipun tantangan dalam distribusi dan keberlanjutan masih ada. Keamanan lingkungan membaik dengan penurunan laju deforestasi, meskipun deforestasi ilegal dan konflik lahan masih terjadi. Meskipun berhasil di beberapa bidang, tantangan hak sipil dan keamanan politik tetap ada, dengan pembatasan kebebasan berbicara dan pelemahan lembaga antikorupsi. Sebagai kesimpulan, integrasi keamanan insani dalam kebijakan pembangunan Indonesia perlu diperkuat, khususnya dalam hak-hak politik dan sipil, untuk memastikan masa depan yang komprehensif dan berkelanjutan bagi seluruh warga negara.
Analysis of the Domestic and International Factors Behind Denmark’s Shift From Zero Asylum to Accepting Ukrainian Refugees in 2021-2022 Putri, Laycha Nazila Supoyo; Annajah, Bunga Haura; Luhung, Pandu Adi; Perbawani, Firsty Chintya Laksmi; Amaliyah, Ridha
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3532

Abstract

This study explores Denmark’s shift in foreign policy, specifically its transition from a strict Zero Asylum policy to a more open approach toward Ukrainian refugees. Using Eidenfalk’s Foreign Policy Change Theory, the study examines the domestic and international factors that contributed to this policy change. The theory helps explain how both internal political pressures and external forces shaped Denmark's response. The research takes a qualitative approach, analyzing secondary data from sources like government documents, media coverage, and scholarly articles. Through qualitative content analysis, key themes were identified to understand how Denmark’s policy evolved. The findings show that domestically, strong public support for Ukrainian refugees, media narratives framing them as fellow Europeans, and political pressure all played significant roles in the shift. Internationally, factors like the global refugee crisis, EU pressure to adopt the Temporary Protection Directive (TPD), and Denmark’s relationship with Ukraine also influenced the change. The 2022 Russia-Ukraine war catalyzed this shift. In conclusion, the study reveals that Denmark’s foreign policy change was driven by a mix of domestic public opinion and international pressures, highlighting how both local and global factors interact to shape national refugee policies. This research sheds light on the broader dynamics behind foreign policy changes in times of crisis.Penelitian ini mengkaji pergeseran kebijakan luar negeri Denmark, khususnya transisi dari kebijakan Zero Asylum yang ketat menuju pendekatan yang lebih terbuka terhadap pengungsi Ukraina. Dengan menggunakan Teori Perubahan Kebijakan Luar Negeri Eidenfalk, penelitian ini menjelaskan faktor-faktor domestik dan internasional yang berkontribusi pada perubahan kebijakan ini. Teori ini membantu menjelaskan bagaimana tekanan politik internal dan faktor eksternal membentuk respons Denmark. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menganalisis data sekunder dari dokumen pemerintah, pemberitaan media, dan artikel ilmiah. Melalui analisis konten kualitatif, tema-tema utama diidentifikasi untuk memahami bagaimana kebijakan Denmark berkembang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara domestik, dukungan publik yang kuat terhadap pengungsi Ukraina, narasi media yang menggambarkan mereka sebagai sesama orang Eropa, dan tekanan politik memainkan peran penting dalam pergeseran ini. Secara internasional, faktor-faktor seperti krisis pengungsi global, tekanan Uni Eropa untuk mengadopsi Temporary Protection Directive (TPD), dan hubungan bilateral Denmark dengan Ukraina juga memengaruhi perubahan kebijakan ini. Perang Rusia-Ukraina pada 2022 menjadi katalisator utama bagi pergeseran tersebut. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan kebijakan luar negeri Denmark didorong oleh kombinasi opini publik domestik dan tekanan internasional, yang menyoroti bagaimana faktor lokal dan global saling berinteraksi dalam membentuk kebijakan nasional terkait pengungsi. Penelitian ini memberikan wawasan tentang dinamika di balik perubahan kebijakan luar negeri di masa krisis. 
Self-Disclosure Pengguna Gay di Bumble: Strategi dan Dampaknya terhadap Identitas Seksual dalam Konteks Teori Penetrasi Sosial Widjaja, Marshella; Subandi, Zera Edenzwo
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3649

Abstract

Online dating apps such as Bumble are becoming increasingly popular among gay individuals looking for partners. However, the process of self-disclosure in the digital space remains a challenge in a society rife with stigma such as Indonesia. This study aims to understand the self-disclosure strategies of gay individuals on Bumble and the challenges they face. Using a qualitative approach with a case study method, this study will explore the subjects' experiences in depth. Data was collected through in-depth interviews with four active informants on Bumble and one gender studies academic. Non-participatory observation and documentation were also used to supplement the data, providing a broader contextual understanding. The analysis uses the theories of Computer-Mediated Communication and Social Penetration. The results show that self-disclosure is done gradually and cautiously, starting with basic information on public profiles, then continuing to more personal conversations on other platforms such as WhatsApp. Although Bumble offers inclusive features such as profile flexibility and gender identity options, users are still hampered by social norms and concerns about discrimination. The study also found that physical beauty standards, masculinity stereotypes, and discrimination against feminine expressions are barriers to openness. Feedback from potential partners also influences the extent to which a person is open. Feedback from potential partners also influences the extent to which a person is open. In addition, this application is not only used to find partners, but also as a space for exploration and validation of identity. This study emphasizes the importance of a safe, inclusive, and empathetic platform design to support the experience of LGBTQ+ users in communicating more freely and reflectively.Aplikasi kencan daring seperti Bumble semakin populer di kalangan individu gay untuk mencari pasangan. Namun, proses keterbukaan diri di ruang digital tetap menjadi tantangan dalam masyarakat yang sarat stigma seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan memahami strategi self-disclosure individu gay di Bumble serta tantangan yang mereka hadapi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini akan menggali pengalaman subjek secara mendalam. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat Informan aktif di Bumble dan satu akademisi kajian gender. Observasi non-partisipatif dan dokumentasi juga digunakan untuk melengkapi data, memberikan pemahaman kontekstual yang lebih luas. Analisis menggunakan teori Komunikasi Terkomputerisasi dan Penetrasi Sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-disclosure dilakukan secara bertahap dan hati-hati, dimulai dengan informasi dasar di profil publik, lalu berlanjut ke percakapan lebih pribadi di platform lain seperti WhatsApp. Meskipun Bumble menawarkan fitur inklusif seperti fleksibilitas profil dan opsi identitas gender, pengguna tetap terhambat oleh norma sosial dan kekhawatiran akan diskriminasi. Penelitian juga menemukan bahwa standar kecantikan fisik, stereotip maskulinitas, dan diskriminasi terhadap ekspresi feminin menjadi penghalang bagi keterbukaan. Umpan balik dari calon pasangan juga mempengaruhi sejauh mana seseorang terbuka. Selain itu, aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk mencari pasangan, tetapi juga menjadi ruang untuk eksplorasi dan validasi identitas. Penelitian ini menekankan pentingnya desain platform yang aman, inklusif, dan empatik untuk mendukung pengalaman pengguna LGBTQ+ dalam berkomunikasi secara lebih bebas dan reflektif.
Kebijakan Pemerintah Desa dalam Mengurangi Angka Kemiskinan Melalui Program Pasar Online Desa Doko, Kabupaten Kediri Haq, Muhammad Alfasa Ilham; Ulfah, Irma Fitriana
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3739

Abstract

This study investigates the persistent problem of rural poverty and limited market access faced by communities in Doko Village, Kediri Regency, which prompted the initiation of the NAWASENA village online market program. The research aims to analyze how this policy-based digital market innovation contributes to strengthening the village economy. This study employs the concepts of the digital economy and community empowerment to explain how technological adoption can address structural barriers in rural economic systems. Using a descriptive qualitative method, the research utilizes primary data obtained through field observations and interviews with key informants, including village officials involved in policy implementation, local vendors participating in the NAWASENA platform, and community members who actively engage in digital market activities. Informants were selected using purposive sampling, considering their direct roles and relevance to the program. Meanwhile, secondary data were gathered from village documents, regional statistical reports, and previous studies related to digital village development. The findings reveal that the NAWASENA online market expanded distribution networks, increased vendor turnover, improved digital transaction efficiency, and enhanced community participation in local economic activities. The synergy between village government policies and community involvement proved crucial to the program’s success. This research contributes to understanding digitalization as a sustainable village development strategy and suggests that empowerment-oriented digital policies can effectively reduce rural economic vulnerability and promote inclusive growth.Penelitian ini mengkaji persoalan kemiskinan pedesaan dan keterbatasan akses pasar yang dihadapi masyarakat Desa Doko, Kabupaten Kediri, yang kemudian mendorong lahirnya program Pasar Online Desa NAWASENA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana inovasi pasar digital berbasis kebijakan desa tersebut berkontribusi dalam memperkuat perekonomian desa. Konsep ekonomi digital dan pemberdayaan masyarakat digunakan untuk menjelaskan bagaimana adopsi teknologi mampu mengatasi hambatan struktural dalam sistem ekonomi pedesaan. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini memanfaatkan data primer yang diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara dengan para informan kunci, meliputi perangkat desa yang terlibat dalam implementasi kebijakan, para pedagang yang menjadi pelaku aktif platform NAWASENA, serta anggota masyarakat yang memanfaatkan layanan pasar digital tersebut. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, berdasarkan peran dan keterkaitan langsung mereka dengan program. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen desa, laporan statistik regional, serta berbagai studi terdahulu terkait pengembangan desa digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasar Online NAWASENA mampu memperluas jaringan distribusi, meningkatkan omzet pedagang, memperbaiki efisiensi transaksi digital, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas ekonomi lokal. Sinergi antara kebijakan pemerintah desa dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting keberhasilan program ini. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mengenai digitalisasi sebagai strategi pembangunan desa berkelanjutan serta menunjukkan bahwa kebijakan digital yang berorientasi pada pemberdayaan dapat secara efektif mengurangi kerentanan ekonomi pedesaan dan mendorong pertumbuhan yang inklusif.
Digital Communication Dynamics in Game Character Communities: A Study on r/furinamains on Reddit Emeraldien, Fikry Zahria; Juliansyah, Nur Azizi; Chiang, Tosti Hsucheng
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3684

Abstract

This research studies the dynamics of digital interaction within the Genshin Impact fan community on the subreddit r/furinamains. As part of the broader Genshin Impact fandom, this group utilizes the online platform as an open and collaborative space for social engagement. Use netnographic methods, we analyze how members construct shared identities, foster solidarity, and engage in symbolic self-expression through everyday interactions. Data were collected over a three-month period (January–March 2024) through passive observation and documentation of approximately 150 posts and comment threads within the subreddit. Thematic analysis was employed to identify communication patterns, symbolic forms, and participation dynamics among members. Findings reveal that communication occurs across multiple languages and is shaped by Reddit features such as tagging, upvoting, and moderation. Dominant discursive forms include setting discussions, speculative theories, inside jokes, and sarcastic comments, all contributing to social cohesion and collective identity formation. Symbolic practices were particularly evident in the use of memes, character nicknames, fan art, and specially created visual content, functioning as tools for symbolic interaction. These practices were reinforced both by the platform's mechanisms and by moderators' efforts to maintain norms and regulate conversation. This study demonstrates that communities like r/furinamains are not merely casual gathering places, but spaces where symbolic products are created, digital identities are formed, and participation in everyday life within the social media era occurs. This research contributes to a deeper understanding of how digital communications support vibrant virtual communities rooted in shared fandom and interests.  Penelitian ini mengkaji dinamika komunikasi digital dalam komunitas penggemar karakter Furina di subreddit r/furinamains. Sebagai bagian dari ekosistem fandom global Genshin Impact, komunitas ini memanfaatkan platform digital sebagai ruang interaksi sosial yang inklusif dan kolaboratif. Dengan menggunakan pendekatan netnografi, penelitian ini menelusuri bagaimana anggota komunitas membangun identitas kolektif, solidaritas, serta ekspresi simbolik melalui interaksi daring. Data penelitian dikumpulkan selama tiga bulan, dari Januari hingga Maret 2024, melalui observasi pasif dan dokumentasi sekitar 150 unggahan serta rangkaian komentar di subreddit tersebut. Analisis dilakukan dengan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk simbolik, serta dinamika partisipasi anggota komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi berlangsung secara satu arah, dua arah, maupun multi-arah, yang dimediasi oleh fitur Reddit seperti komentar bertingkat, sistem voting, dan moderasi komunitas. Tema dominan dalam diskusi meliputi lore, teori spekulatif, humor internal, dan sarkasme, yang secara bersama-sama membentuk kohesi sosial dan menciptakan makna kolektif. Simbol-simbol digital seperti meme, fanart, julukan karakter, dan istilah khusus menjadi elemen kunci dalam proses interaksi simbolik. Selain itu, peran platform dan moderator juga terbukti penting dalam menjaga norma komunitas serta mengarahkan diskusi. Hasil penelitian menegaskan bahwa komunitas daring seperti r/furinamains bukan sekadar ruang hiburan, tetapi merupakan arena produksi simbolik, pembentukan identitas digital, dan partisipasi budaya di era media sosial. Studi ini berkontribusi pada pemahaman mengenai peran komunikasi digital dalam membentuk komunitas virtual berbasis minat dan fandom yang berkembang secara dinamis.
Good Environmental Governance dalam Penanggulangan Banjir di Kota Surabaya Tahun 2024 Buchori, Rega Imam; Rudiana, Rudiana; Nuryanto, Yayan
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3630

Abstract

This study analyzes the implementation of good environmental governance principles in flood control and management in Surabaya City in 2024. Although the national and local governments have issued various regulations and policies, the number of flood events increased from 41 in 2023 to 50 in 2024. This condition indicates that the principles of good environmental governance have not been effectively and sustainably applied in flood control policies. The research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews and documentation. A total of 13 informants from government agencies, WALHI, and local communities were selected using purposive and snowball methods. The findings reveal that implementing effective environmental governance still faces significant challenges, including weak institutional coordination, limited human and financial resources, and the absence of a binding legal framework. The study recommends establishing an environmentally based Regional Regulation on flood control and management to strengthen the legal foundation of existing policies, such as SDMP, and to enhance cross-sectoral coordination. The environmental-based approach emphasizes balancing ecological, social, and governance dimensions to achieve environmentally conscious development. Furthermore, strengthening public participation, integrating environmental information systems, improving project supervision, and developing accessible and transparent public complaint mechanisms are essential measures to realize adaptive, collaborative, and sustainable ecological governance in Surabaya City.Penelitian ini menganalisis penerapan prinsip good environmental governance dalam penanggulangan banjir di Kota Surabaya tahun 2024. Meskipun telah terdapat berbagai regulasi dan kebijakan dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah, jumlah bencana banjir meningkat dari 41 kejadian pada tahun 2023 menjadi 50 kejadian pada tahun 2024. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa prinsip tata kelola lingkungan yang baik belum sepenuhnya terimplementasi secara efektif dan berkelanjutan dalam kebijakan penanggulangan banjir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Sebanyak 13 informan yang berasal dari unsur pemerintah, WALHI, dan masyarakat dipilih menggunakan metode purposive dan snowball. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip good environmental governance di Kota Surabaya masih menghadapi berbagai kendala, seperti lemahnya koordinasi antarinstansi, keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran, rendahnya efektivitas implementasi kebijakan, serta belum adanya payung hukum yang kuat. Penelitian ini merekomendasikan pembentukan Peraturan Daerah tentang pengendalian dan penanggulangan banjir berbasis lingkungan guna memperkuat dasar hukum kebijakan seperti SDMP, serta menegaskan peran pemerintah daerah dalam pengawasan dan koordinasi lintas sektor. Pendekatan berbasis lingkungan menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek ekologi, sosial, dan tata kelola pemerintahan untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Selain itu, peningkatan partisipasi masyarakat, integrasi sistem informasi lingkungan, pengawasan proyek, serta sistem pengaduan publik yang transparan dan mudah diakses menjadi langkah penting menuju tata kelola lingkungan yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan di Kota Surabaya.
Dialektika Relasional dalam Proses Pemulihan Hubungan Pasca Keretakan Rumah Tangga Akibat Perselingkuhan di Tempat Kerja Tifany, Jevica; Isnaini, Muhamad; Rachmad, Teguh Hidayatul
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3644

Abstract

Marital breakdown due to infidelity is a social phenomenon that affects the quality of a couple's relationship and the psychological well-being of the family. This study aims to understand the process of relationship recovery after infidelity using relational dialectics theory. The research subjects consisted of four married couples living in Tambora, West Jakarta, who experienced marital conflict due to infidelity in the workplace. The approach used was descriptive qualitative with an intrinsic case study method. Data were obtained through in-depth interviews with the couples, participatory observation in their daily lives, and documentation related to the experiences and recovery processes undergone by the couples. The results of the study show that relationship recovery is greatly influenced by how couples manage relational tensions such as openness vs. privacy, stability vs. change, connection vs. autonomy, and expression vs. silence. Couples who successfully rebuild trust tend to practice open and empathetic communication and allow space for individual needs. Conversely, couples who fail to maintain their relationship exhibit limited communication and resistance to change. These findings emphasize the importance of communication in the process of relationship recovery after a crisis, as well as reinforcing the relevance of relational dialectics theory in understanding the dynamics of couple conflict.Keretakan rumah tangga akibat perselingkuhan menjadi fenomena sosial yang berdampak pada kualitas hubungan pasangan dan kesejahteraan psikologis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemulihan hubungan pasca perselingkuhan dengan menggunakan teori dialektika relasional. Subjek penelitian terdiri dari empat pasangan suami istri yang tinggal di Tambora, Jakarta Barat, yang mengalami konflik rumah tangga akibat perselingkuhan di tempat kerja. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus intrinsik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pasangan, observasi partisipatif dalam kehidupan sehari-hari mereka, serta dokumentasi terkait pengalaman dan proses pemulihan yang dilalui pasangan-pasangan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemulihan hubungan sangat dipengaruhi oleh cara pasangan mengelola ketegangan relasional seperti keterbukaan vs privasi, stabilitas vs perubahan, koneksi vs otonomi, dan ekspresi vs keheningan. Pasangan yang berhasil membangun kembali kepercayaan cenderung menerapkan komunikasi terbuka dan empatik, serta memberikan ruang bagi kebutuhan individu. Sebaliknya, pasangan yang gagal mempertahankan hubungan menunjukkan komunikasi terbatas dan penolakan terhadap perubahan. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi dalam proses pemulihan hubungan setelah krisis, serta memperkuat relevansi teori dialektika relasional dalam memahami dinamika konflik pasangan. 
Digital Transformation through e-Government in Indonesia's Governance and Its Impact on Reducing Corruption Levels Pratama, Adji Yuwana; Ridwan, Ridwan; Serey, Mardy
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3513

Abstract

Digital development and globalization have encouraged many countries to implement e-Government in order to improve transparency, efficiency, and public participation in government. This study focuses on the implementation of e-Government in Indonesia, with the aim of measuring its impact in reducing corruption and identifying the challenges faced in the implementation process. In addition, this study also looks at the possibility of new forms of corruption arising as a result of digitalization, known as digital corruption. This study uses a descriptive qualitative approach by collecting secondary data from various relevant literature sources. The results show that although e-Government aims to reduce corruption, corruption rates in Indonesia have actually increased after the implementation of the Electronic-Based Government System (SPBE). The main challenges identified include a large digital divide, low digital literacy among officials and the public, and weak oversight of e-Government implementation. In addition, there is potential for digital corruption, such as data manipulation and system abuse, which could cause harm. This study provides an understanding of how e-Government in Indonesia has not yet been fully successful in reducing corruption rates. These findings also indicate the need for increased digital literacy and stricter supervision to prevent digital corruption.Perkembangan digital dan globalisasi mendorong banyak negara untuk menerapkan e-Government guna meningkatkan transparansi, efisiensi, dan partisipasi publik dalam pemerintahan. Penelitian ini fokus pada penerapan e-Government di Indonesia, dengan tujuan untuk mengukur dampaknya dalam mengurangi korupsi serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam proses implementasinya. Selain itu, penelitian ini juga melihat kemungkinan munculnya bentuk korupsi baru akibat digitalisasi, yang dikenal dengan istilah digital corruption. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun e-Government bertujuan untuk mengurangi korupsi, angka korupsi di Indonesia justru meningkat setelah penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Tantangan utama yang ditemukan termasuk kesenjangan digital yang masih besar, rendahnya literasi digital di kalangan pejabat dan masyarakat, serta lemahnya pengawasan terhadap implementasi e-Government. Selain itu, ditemukan adanya potensi digital corruption, seperti manipulasi data dan penyalahgunaan sistem yang berpotensi merugikan. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang bagaimana e-Government di Indonesia belum berhasil sepenuhnya menurunkan angka korupsi. Temuan ini juga menunjukkan perlunya peningkatan literasi digital dan pengawasan yang lebih ketat agar digital corruption dapat dihindari.
Strategi Penguatan Layanan Fisik dan Digital melalui Analisis SWOT untuk Meningkatkan Kunjungan di Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Timur Wahyu, Diky; Arif, Lukman
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3550

Abstract

The significant decline in the number of visitors, both in physical and digital services at the Regional Library of East Java Province, has become a concerning phenomenon amidst the growing demand for cultural literacy strengthening within the community. This study aims to formulate strategies to improve visitor participation through a SWOT analysis approach. Using a qualitative descriptive method, data were collected through direct observation of library service activities (borrowing flows, use of reading rooms, and digital facilities), in-depth interviews with service managers (Subcoordinator for Library Services, Subcoordinator for Extension Services, and Subcoordinator for Reading Hobby Cultivation), and active visitors, along with documentation such as visitor statistics, literacy activity archives, and photos of supporting facilities. The findings show that the library's strengths include its strategic location, inclusive facilities, diverse collections, and educational literacy programs, while weaknesses involve limited operating hours, suboptimal collection arrangement, and insufficient digital promotions. Opportunities include regulatory support, collaboration with educational institutions, and social media-based promotions, while threats consist of changes in reading behavior, the dominance of instant digital content, and dependency on social media and AI. Based on the SWOT analysis, four key strategies (SO, WO, ST, WT) were formulated to enhance physical and digital services. This study offers normative, practical, and academic contributions, providing insights for the East Java Province Library and Archives Service to expand services, improve collection management, and enhance digital promotion, while enriching literature on library management strategies in the post-pandemic digital age.Penurunan signifikan jumlah pengunjung, baik di layanan fisik maupun digital Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Timur, menjadi fenomena yang mengkhawatirkan di tengah tuntutan penguatan budaya literasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi peningkatan kembali partisipasi pengunjung dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap aktivitas layanan perpustakaan (alur peminjaman, penggunaan ruang baca, serta fasilitas digital), wawancara mendalam dengan pengelola layanan (Subkoordinator Pelayanan Perpustakaan, Subkoordinator Pelayanan Ekstensi, Subkoordinator Pembudayaan Kegemaran Membaca) serta sejumlah pengunjung aktif, dan dokumentasi berupa data statistik pengunjung, arsip kegiatan literasi, serta foto fasilitas pendukung. Hasil penelitian menunjukkan kekuatan utama perpustakaan meliputi lokasi strategis, fasilitas inklusif, koleksi beragam, dan program literasi edukatif; kelemahannya antara lain jam operasional terbatas, penataan koleksi kurang optimal, serta promosi digital yang belum maksimal. Peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu dukungan regulasi, kolaborasi dengan lembaga pendidikan, serta promosi berbasis media sosial, sementara ancamannya mencakup perubahan perilaku membaca, dominasi konten instan digital, dan ketergantungan pada media sosial maupun AI. Dari analisis SWOT, dirumuskan empat strategi utama (SO, WO, ST, WT) yang relevan untuk memperkuat daya tarik layanan fisik dan digital. Kontribusi penelitian ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga praktis dan akademis. Secara praktis, hasil kajian dapat menjadi acuan bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dalam memperluas layanan, memperbaiki manajemen koleksi, serta meningkatkan promosi digital. Secara akademis, penelitian ini memperkaya literatur terkait strategi pengelolaan perpustakaan daerah berbasis SWOT pada konteks pasca pandemi dan era digital.
Proses Adaptasi Mahasiswa Baru melalui Manajemen Kecemasan dan Motivasi Pemahaman Lintas Budaya di Universitas Garut, Provinsi Jawa Barat Yuniar, Yuyun; Hudaya, Deri; Yatnosaputro, Rosanti Dewi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 14, No 3 (2025): December
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v14i3.3636

Abstract

This study aims to examine how non-local students adapt to the local culture at Garut University, where Sunda culture predominates. The research focuses on three key aspects: the development of self-concept, the motivation to interact, and the relationships formed with local students. Data were collected through in-depth interviews with six non-local students from diverse cultural backgrounds, supported by insights from lecturers and counselors who served as expert informants. The findings indicate that although the students initially experienced anxiety and uncertainty, they were able to overcome these feelings through self-reflection, a desire to be accepted within a new social environment, and active participation in various campus activities. Intensive and positive interactions with local students played a crucial role in accelerating their adaptation process and fostering a sense of belonging. Their adjustment of self-concept occurred in a flexible manner—maintaining their original identity while remaining open to the new environment. Their motivation to interact was driven not only by academic needs but also by a personal desire to build meaningful social relationships. This study highlights the importance of creating an inclusive and culturally aware campus environment to support the adaptation of students from diverse cultural backgrounds.Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa pendatang beradaptasi dengan budaya lokal di Universitas Garut, yang sebagian besar didominasi oleh budaya Sunda. Fokus penelitian ini meliputi tiga hal utama: pembentukan konsep diri, motivasi berinteraksi, dan hubungan mereka dengan mahasiswa lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan enam mahasiswa pendatang dari berbagai latar belakang budaya, serta masukan dari dosen dan konselor yang berperan sebagai narasumber ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya, siswa pendatang merasa cemas dan tidak yakin, namun mereka bisa mengatasi hal tersebut melalui refleksi diri, keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial baru, dan keterlibatan aktif dalam berbagai aktivitas kampus. Interaksi yang intens dan positif dengan pelajar lokal sangat membantu mempercepat proses adaptasi mereka dan memberi rasa diterima. Penyesuaian konsep diri mereka dilakukan dengan cara yang fleksibel, tanpa menghilangkan identitas aslinya, tetapi dengan terbuka terhadap lingkungan baru. Motivasi untuk berinteraksi tidak hanya didorong oleh kebutuhan akademik, tetapi juga oleh keinginan pribadi untuk membangun hubungan sosial yang bermakna. Penelitian ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan sadar budaya untuk mendukung adaptasi mahasiswa dari latar belakang budaya yang berbeda.