cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Potensi keanekaragaman vegetasi pohon untuk konservasi air di desa Kolobolon, kecamatan Lobalain, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur Nur Ahmad Rudin; Fitria Nur Damayanti; Muhamad Ujang Sawajir; Derlin Kristine Natalis Zacharias; Melani Susanti Tasik; Regina Diana Donuisang
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15731

Abstract

Rote Ndao merupakan daerah lahan kering dan beriklim kering yang sering mengalami permasalahan ketersediaan air. Minimnya vegetasi di permukaan akan berpengaruh terhadap rendahnya simpanan air dan memperparah bencana kekeringan. Masyarakat membangun embung dan sistem panen air sebagai solusi jangka pendek terhadap masalah kekeringan. Diperlukan solusi jangka panjang atas permasalahan ketersediaan air tersebut Konservasi air menggunakan tumbuhan merupakan solusi jangka panjang terhadap kekeringan. Desa Kolobolon yang berada di bagian selatan Kabupaten Rote Ndao berpotensi mengalami bencana kekeringan. Penting dilakukan inventarisasi keanekaragaman vegetasi pohon yang berpotensi dalam konservasi air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman vegetasi pohon di Desa Kolobolon, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilakukan dengan survei, sampling dan identifikasi spesies pada wilayah dengan tutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 27 spesies vegetasi pohon dari 16 famili. Jumlah spesies vegetasi pohon didominasi oleh famili Moraceae dan Fabaceae yang berpotensi untuk konservasi air, kecuali Acacia nilotica dari famili Fabaceae yang bersifat invasif.
Potensi aerami (air rendaman jerami) sebagai alternatif bahan pengawet alami dalam dunia industri tahu di era COVID-19 Maya Kencana Wulandari; Siti Rismaul Azizah; Achmad Choiruddin
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.16824

Abstract

Tahu merupakan produk pangan sumber nabati yang relatif banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, masa simpan tahu yang relatif pendek menjadi permasalahan tersendiri dalam proses pengolahannya, sehingga tahu rentan untuk disalahgunakan dalam proses pengawetannya dengan menggunakan formalin dan boraks. Dewasa ini, berkembang berbagai bahan organik sebagai bahan pengawet pangan selain pengawet kimia. Salah satu contohnya adalah air rendaman abu jerami atau dikenal dengan air ki yang diperoleh dari proses perendaman abu hasil bakaran batang jerami, dan diharapkan dapat menjadi bahan pengawet alternatif pada tahu. Penggunaan pengawet dalam pangan harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. Penelitian ini dirumuskan berdasarkan potensi sumber daya alam dari limbah hasil pertanian berupa merang yang layak dikembangkan sebagai bahan pengawet alternatif alami yang diaplikasikan pada pangan khususnya tahu serta menentukan konsentrasi air ki terbaik sebagai media penyimpanan tahu. Kerusakan tahu sangat erat kaitannya dengan aktivitas bakteri. Pada suhu kamar, kerusakan tahu dimulai pada jam ke-12. Penelitian ini menggunakan air ki dengan enam konsentrasi berbeda yaitu 0% (kontrol), 2%, 3%, 4%, 5%, dan 6% yang didapat dari pencampuran abu jerami ditambahkan dengan 100 ml akuades. Pengujian organoleptik dilakukan menggunakan uji hedonik yang menggunakan 15 orang panelis tidak terlatih dengan menggunakan parameter rasa, warna, tekstur, aroma (bau), dan nilai rata-rata keseluruhan pada produk tahu dengan konsentrasi yang berbeda. Sehingga, penerimaan panelis terhadap produk dapat diketahui dan formula penggunaan air ki terbaik dapat diketahui. Uji hedonik menggunakan penilaian dilakukan dengan 7 skala numerik.
Pola resistensi bakteri pada ulkus diabetik Idris Idris; Zahra Palisoa; Andi Ernawati
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15573

Abstract

Ulkus diabetik merupakan salah satu komplikasi jangka panjang diabetes melitus yang sering terjadi. Dengan adanya ulkus yang terinfeksi, maka resiko amputasi menjadi lebih besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis bakteri dan uji resistensi antibiotik pada ulkus diabetik yang diperoleh dari spesimen luka penderita diabetes melitus. Penelitian ini bersifat eksperimen. Hasil penelitian diperoleh bakteri Staphylococcus aureus pada spesimen luka/ulkus diabetik penderita diabetes melitus. Hasil uji efektivitas antibiotik imipenem memiliki nilai sensitivitas yang paling tinggi dibanding jenis antibiotik lainnya yaitu sebesar 31,2 mm.
Etnobotani tanaman pepaya di daerah Moga Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang Rizkiati Khasanah; Baiq Farhatul Wahidah; Nur Hayati; Miswari Miswari; Irsyad Kamal
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15870

Abstract

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu komoditas buah yang memiliki banyak fungsi dan manfaat. Pepaya sebagai buah segar banyak dikonsumsi karena mengandung nutrisi yang baik. Harga pepaya relatif terjangkau dibandingkan buah lainnya. Daerah penghasil pepaya di Jawa Tengah salah satunya adalah di Kabupaten Pemalang tepatnya di Daerah Moga. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif dengan metode survei, wawancara semiterstruktur dan dikuatkan dengan angket. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik acak sederhana dan snowball sampling yang dilakukan di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang. Pemanfaatan tanaman pepaya itu sendiri dapat dimanfaatkan sebagai masakan, manisan, obat, jajanan dan kebutuhan masyarakat. Masyarakat yang memanfaatkan tanaman pepaya sebagai masakan sebanyak 55%, jajanan sebanyak 43,30%, obat 46,60%, manisan 48,30% dan yang terakhir kebutuhan masyarakat sebanyak 45%. Pemanfaatan tanaman pepaya meliputi semua organ, baik buah muda maupun matang, daun, biji, getah dan akar.
Variasi ciri morfometrik dari tikus Bunomys chrysocomus di Sulawesi dengan metode PCA (Principal Component Analysis) Risdayanti Adi Purba; Anang Setiawan Achmadi; St. Aisyah Sijid
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15576

Abstract

Bunomys chrysocomus merupakan tikus bukit berambut kuning yang endemik di pulau Sulawesi. Meskipun tikus tersebar luas di Indonesia khususnya Sulawesi, namun penelitian tentang tikus B. chrysocomus masih belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi ciri morfometrik dari tikus B. chrysocomus di Sulawesi dengan metode PCA (Principal Component Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua variabel baru dari hasil pengukuran bagian tengkorak tikus mampu menjelaskan total varian sebesar 85,913%. Dua variabel baru yang dibentuk dengan analisa PCA ialah pengukuran tengkorak 1 dan pengukuran tengkorak 2. Kedua variabel baru ini menjadi karakter utama yaitu BBP, BFM, BMF, M1W, M2W, M3W dan BZP yang memiliki karakter kuat dalam variasi morfometrik bagian tengkorak dari tikus B. chrysocomus yang ada di Sulawesi. 
Komunitas makroinvertebrata bentik sebagai bioindikator kualitas air Sungai Code Agnes Hellen; Kisworo Kisworo; Djoko Rahardjo
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15847

Abstract

Sebagai salah satu sungai besar di Daerah Istimewa Yogyakarta, aliran Sungai Code tercemar oleh berbagai aktivitas, diantaranya limbah rumah tangga, limbah pabrik, serta polutan pada air hujan dan daratan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air Sungai Code berdasarkan parameter fisik-kimia, indeks ekologi, dan indeks biologi. Parameter fisik-kimia digunakan untuk mengukur suhu, TDS, TSS, kecepatan arus, kedalaman, kecerahan, lebar sungai, kekeruhan, pH, DO, BOT, nitrat, fosfat, dan amonia. Paramer biologi digunakan untuk menghitung indeks ekologi (indeks similaritas, desitas, diversitas dan dominasi, dan keseragaman) dan biologi (Family Biotik Indeks). Analisa dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.  Hasil observasi menyatakan bahwa aktivitas manusia di sekitar aliran Sungai Code, yang didominasi oleh pertanian, pertambakan ikan, dan pertambangan pasir menyebabkan adanya perbedaan kualitas air. Ditemukan 13 jenis makroinvertebrata dari 12 genus dan 11 famili. Terdapat perbedaan kualitas air antar stasiun pengambilan sampel (sig< 0,05) untuk parameter kedalaman, kecepatan arus, TDS, BOT, fosfat, nitrat dan amonia. Berdasarkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 20 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sungai Code masuk dalam kategori kelas II. Dengan menggunakan makroinvertebrata sebagai bioindikator, nilai FBI Sungai Code berkisar 6,4 sampai 8,91 masuk dalam kategori kriteria kualitas air kurang baik sampai sangat buruk dengan tingkat pencemaran terpolusi banyak sampai terpolusi berat oleh bahan organik. Berdasarkan hasil indeks diversitas Sungai Code berada dalam kategori tercemar ringan sampai tercemar berat dengan nilai indeks berkisar 0,6-1,57.
Implementasi penatalaksanaan Hiperemesis gravidarum pada wanita hamil dengan keterbatasan sumber daya (Studi kasus) Bambang Tri Margono; Rendy Singgih
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.23219

Abstract

Kondisi mual dan muntah lumrah terjadi pada wanita hamil terutama pada usia awal kehamilan. Namun kondisi menjadi tidak baik apabila keluhan tersebut terus menetap dan menjadi memburuk sehingga kondisi kesehatan wanita hamil tersebut menjadi menurun. Kondisi ini dinamakan sebagai hiperemis gravidarum. Pada sebagian wanita hamil akan terjadi hiperemis gravidarum. Pada studi kasus ini dipaparkan bahwa wanita hamil dengan hiperemis gravidarum datang untuk mendapatkan penatalaksanaan segera di rumah sakit meskipun dengan keterbatasan yang ada. Penyebab pasti hiperemis hingga kini masih belum diketahui secara pasti, diduga multifaktorial. Pemeriksaan dari hiperemis gravidarum melibatkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang yang terarah serta derajat keparahan dari keluhan mual dan muntahnya perlu diperhatikan. Mengingat banyak penyebab lain yang keluhan dan gejalanya menyerupai hiperemis gravidarum sehingga diperlukan pemeriksaan yang terarah. Penatalaksaannya dapat dimulai dari perbaikan gaya hidup, diet yang sesuai dan medikamentosa. Pada kasus ini kondisi hiperemis gravidarum merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera, meskipun terdapat keterbatasan yang dimiliki.
Diabetes Melitus: Review etiologi, patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan dan cara pencegahan Lestari Lestari; Zulkarnain Zulkarnain; St. Aisyah Sijid
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24229

Abstract

Diabetes melitus atau yang biasa masyarakat pada umumnya menyebutnya dengan penyakit kencing manis merupakan penyakit menahun yang dapat diderita seumur hidup. Diabetes memiliki 2 tipe yakni diabetes melitus tipe 1 yang merupakan hasil dari reaksi autoimun terhadap protein sel pulau pankreas, kemudian diabetes tipe 2 yangmana disebabkan oleh kombinasi faktor genetik yang berhubungan dengan gangguan sekresi insulin, resistensi insulin dan faktor lingkungan seperti obesitas, makan berlebihan, kurang makan, olahraga dan stres, serta penuaan. Review ini membahas mengenai etiologi, patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan serta cara pencegahan penyakit diabetes melitus.
Pola persebaran marga bambu di Indonesia I Putu Gede P Damayanto; Agusdin Dharma Fefirenta
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.22233

Abstract

Bambu di Indonesia sepintas memiliki pola persebaran marga yang unik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola persebaran marga bambu di Indonesia, sekaligus mengklarifikasi informasi marga bambu di Indonesia yang dilaporkan oleh Liana pada tahun 2020. Berdasarkan penelitian ini, terdapat 24 marga bambu di Indonesia yang terdiri dari 13 marga asli dan 11 marga introduksi. Marga asli Indonesia, seperti Bambusa, Dendrocalamus, Gigantochloa, dan Schizostachyum memiliki persebaran terluas mencakup semua kawasan di Indonesia, sementara Chloothamnus tersebar di wilayah selatan hingga timur Indonesia. Fimbribambusa dan Neololeba tersebar tidak merata. Dinochloa memiliki pola persebaran dari barat hingga tengah Indonesia, sementara Racemobambos tersebar cukup terbatas dari bagian utara hingga ke timur Indonesia. Parabambusa, Pinga, Sphaerobambos, dan Widjajachloa tersebar sangat terbatas hanya pada kawasan tertentu di Indonesia. Marga introduksi Phyllostachys dan Thyrsostachys memiliki persebaran yang paling luas di Indonesia, sementara marga introduksi lain, seperti Chimonobambusa, Guadua, Melocanna, Otatea, Pleioblastus, Pseudosasa, Semiarundinaria, Shibataea, dan ×Thyrsocalamus tersebar sangat terbatas di Indonesia.
Traditional production landscapes for sustainable development mainstreaming agricultural biodiversity in East Java Indonesia Permata Ika Hidayati
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24739

Abstract

Mainstreaming biodiversity in production landscapes ensures conservation and sustainable use of agricultural biodiversity. Mainstreaming integrates biodiversity in existing or new programs and policies, both cross-sectoral and sector-specific. The conventional model of agricultural production with limited diversity in production systems and use of high chemical input has taught us a valuable lesson as it is adversely impacting the environment, the essential ecosystem services, the soil health and the long term sustainability of our food systems. Using a qualitative participant observation approach, our study investigated four distinct traditional East Java production landscapes to gage (i) the farming communities’ response to institutional policies, programs and agricultural biodiversity-related activities in traditional East Java production landscapes and (ii) opportunities and challenges for sustainable development in smallholder traditional East Java farming systems. Results indicate that the top-down decision-making regime is the least effective towards achieving sustainable development in traditional East Java farming landscapes and that farmers’ experiential knowledge on participatory biodiversity management, maintenance and use for sustainable development are of critical importance to East Java’s agriculture and economy. Reclaiming agriculture’s spiritual roots through organic farming and locally grown food emerged as key, including the need for designing and implementing a more sovereign food system. Revisiting traditional smallholder farming under the COVID-19 pandemic and lessons learned for repurposing East Java’s agricultural policy are also highlighted.