cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Spektra
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 111 Documents
Analisis Persamaan Dirac untuk Potensial Pöschl-Teller Trigonometrik dan Potensial Scarf Trigonometrik pada Kasus Spin Simetri Bagian Radial menggunakan Metode Iterasi Asimtotik Suparmi, -; Cari, -
Jurnal Spektra Vol 16, No 2 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPersamaan Dirac untuk potensial Pöschl-Teller Trigonometrik dan Potensial Scarf Trigonometrik pada kasus spin simetri bagian radial diselesaikan dengan menggunakan metode Iterasi Asimtotik atau Asymptotic Iteration Method (AIM). Penyelesaian pada kasus ini dengan mengkombinasikan dua potensial lalu disubstitusikan ke persamaan Dirac, kemudian dilakukan pemisahan variabel menjadi bagian radial. Persamaan bagian radial diselesaikan dengan mereduksi menjadi persamaan perantara hipergeometri dan dilanjutkan dengan menyelesaikan menggunakan AIM. Energi relativistik sistem dihitung menggunakan software Matlab 2011. Penelitian ini dibatasi untuk kasus spin simetri bagian radial.Kata kunci: Persamaan Dirac, potensial Pöschl-Teller Trigonometrik, potensial Scarf Trigonometrik, metode Iterasi Asimtotik, dan spin simetriAbstract The Dirac equation for Pöschl-Teller Trigonometric potential and Scarf Trigonometric potential in case spin symmetric of radial is solved using asymptotic iteration method (AIM). The combination of two potential is subtituted into the Dirac equation,then the separation of  variables into radial part. Radial part equation solved by reducing it to the hypergeometri intermediaries equation and continued with resolved to follow the asymptotic iteration method. The relativistic energy calculated using Matlab 2011. This study is limited to the case of spin symmetry radial section.Key words: Dirac equation, Trigonometric Pöschl-Teller potential, Trigonomteric Scarf potential, Asymptotic Iteration Method (AIM), and spin symmetry
PEMETAAN TINGKAT RESIKO GEMPA BUMI DI SEKITAR WILAYAH KOTA JAYAPURA BERDASARKAN PENGUKURAN MIKROTREMOR Lunga, Sarlina; Minarto, Eko; Mantiri, Steven Y Y
Jurnal Spektra Vol 16, No 1 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian mikrotremor di sekitar wilayah Kota Jayapura. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sebaran tingkat resiko gempabumi berdasarkan nilai percepatan getaran tanah maksimum (PGA). Pengukuran data dilakukan menggunakan alat Digital Portable Seismograph TDL-303 sebanyak 42 titik. Data dianalisa dengan menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR). Hasil analisa HVSR menghasilkan frekuensi dominan  dan Amplifikasi ). Perhitungan nilai PGA dilakukan dengan menggunakan persamaan empiris Kanai (1966) untuk event gempabumi tanggal 17 Oktober 2002. Selanjutnya dilakukan perhitungan tingkat resiko gempabumi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai PGA di sekitar wilayah Kota Jayapura berkisar antara 32,74–207,14 gal dengan intensitas VI–IX Modified Mercalli Intensity (MMI). Berdasarkan klasifikasi tingkat resiko gempabumi dari nilai PGA tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah sekitar Kota Jayapuara rentan terhadap gempabumi dengan tingkat resiko yaitu tingkat resiko kecil sampai resiko besar tiga.Kata Kunci: Mikrotremor, HVSR, Percepatan Getaran Tanah AbstractResearch of microtremor around Jayapura City has been done. This study was conducted to determine the risk level distribution of earthquake based on Peak Ground Acceleration (PGA). The measurements by using Digital Portable Seismograph TDL-303 at 42 points. The data analysis using Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method. The results of the HVSR analysis are the dominant frequency  and Amplification ). Calculation of PGA values using by Kanai (1966) empirical equation for the earthquake event on October 17th, 2002.The result show that PGA around Jayapura City have values from 32,74–207,14 gal with VI–IX Modified Mercalli Intensity (MMI). Based on the risk level classification of earthquake of these data can be concluded that around Jayapura City vulnerable of earthquake, which has the risk level is from the low risk up to the third highest risk.Keywords: Microtremor, HVSR, Peak Ground Acceleration
PENGARUH POSISI INTRUDER TERHADAP BENTUK PERMUKAAN BED GRANULAR PADA EFEK KACANG BRASIL DUA-DIMENSI Viridi, Sparisoma; Khotimah, Siti Nurul; Wibowo, Hari Anggit Cahyo; Ain, Trise Nurul; Aji, Dimas Praja Purwa
Jurnal Spektra Vol 16, No 1 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakEfek kacang Brasil dua-dimensi dengan partikel bed dan intruder terbuat dari keping akrilik diamati dengan vibrasi sinusoidal yang diselingi waktu diam sehingga memudahkan untuk mengambil foto yang baik untuk diproses lebih lanjut. Parameter vibrasi adalah f = 13 Hz dan Γ = 2. Dalam tulisan ini disajikan evolusi posisi intruder dengan waktu apung Trise = 67 langkah, dengan posisi awal intruder saat sisi bawahnya mengenai dasar wadah dan posisi akhir saat sisi atasnya menyentuh permukaan bed partikel. Tinggi bed partikel awal adalah 21 buah dan lebarnya adalah 19 buah. Rasio intruder dan bed kira-kira 2.545. Bentuk permukaan bed paling melengkung diamat saat posisi intruder berada di antara konfigurasi awal dan akhir dalam observasi.AbstractTwo-dimension Brazil-nut effect using acrylic plate as intruder and bed particles is observed under non-continuous sinusoidal vibration in order to obtain sufficient image quality for further process. Vibration parameters are f = 13 Hz and Γ = 2. In this work time series of intruder position is presented, which shows that it has rise time Trise = 67 steps, with initial position defined as lower side of intruder in touch with bottom of the container and final position is defined as upper side of intruder is on the bed particle surface. Initial height and width of bed particles are 21 and 92 particles, respectively. Ratio of intruder and bed particle diameter is about 2.545. Most curved of bed particle surface is observed while intruder position is about in the middle between its initial and final configurations.Keywords: Brazil-nut effect, granular materials, two-dimension system, vertical vibration, rise time.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SUPERKONDUKTOR BAHAN MIKROPARTIKEL BERBASIS BSCCO FASA 2223 DI DOPING Sn DAN Pb Sihombing, Eidi; Lubis, Hariyati
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Superkonduktor berbasis bismut Bi2Sr2Ca2Cu3O10+δ (BSCCO) fasa 2223 merupakan bahan superkonduktif yang banyak dikaji untuk meningkatkan suhu kritis dan memperbaiki sifat mekanik yang merupakan masalah dalam aplikasi teknologi. Berbagai metode telah di upayakan untuk meningkatkan suhu kritis dan memperbaiki sifat mekanik yang berkaitan dengan struktur yang diharapkan pada bahan superkonduktor berbasis YBCO, BSCCO, TBCCO, HBCCO.Penelitian superkonduktor ini berbasis BSCCO dibuat dari bahan-bahan nitrat seperti: Bismuth Nitrate (BiNO3), Stronsium Nitrate (SrNO3), Calsium Nitrate (CaNO3), Cupri Nitrate (CuNO3) dan sebagai doping adalah Timbal Nitrate( PbNO3) dan Timah oksida (SnO). Bahan-bahan ini direaksikan melalui reaksi padatan dengan perbandingan molar Bi:Sr:Ca:Cu adalah 2:2:2:3. Reaksi padatan dimaksud dilakukan dengan menggunakan Ballmill pada kelajuan 500 rpm selama 8 jam, menghasilkan partikel berdimeter 207,8 nm di ukur melalui Particel Size Analyzer (PSA), selanjutnya bahan ini di kalsinasi pada suhu 8200C selama 80 jam dan di cetak pada wadah berukuran diameter 1,0 cm, tebal 0,5 cm diberi tekanan 5,0 ton ditahan selama 4 jam, selanjutnya disintering pada suhu 8500C selama 12 jam.Hasil yang diperoleh adalah superkonduktor B(Pb, Sn) SCCO memiliki levitasi sekitar 2,5 cm. Uji XRD memberi hasil parameter kisi: a = 20.8710 Å, b = 9.4960 Å, c = 5.6000 Å disimpulkan bahwa kisi BPbSnSCCO adalah ortorombik dengan permukaan memiliki gumpalan acak yang diperoleh dari uji SEM. Kata kunci : Superkonduktor, BPbSnCCO. PREPARATION AND CHARACTERIZATION OF SUPERCONDUCTORS BASED MICROPARTICLES MATERIAL BSCCO 2223 PHASE IN DOPING Sn AND Pb  ABSTRACT  Bismuth-based superconductors Bi2Sr2Ca2Cu3O10+δ (BSCCO) 2223 phase superconducting is a material that is widely studied to enhanced the critical temperature and improve mechanical properties is a problem in the application of technology. Various methods have been done to enhanced the critical temperature and improve mechanical properties relating to the expected structure based on superconducting materials YBCO, BSCCO, TBCCO, HBCCO. This research-based BSCCO made from nitrate materials: Bismuth Nitrate (BiNO3), Strontium Nitrate (SrNO3), Calcium Nitrate (CaNO3), Copper Nitrate (CuNO3) and as doping is Lead Nitrate (PbNO3) and tin oxide (SnO). These materials are reacted by solids reaction with a molar ratio of Bi:Sr:Ca:Cu is 2:2:2:3. Solid state reaction is carried out by using ballmill speed of 500 rpm for 8 hours, obtained dimeter 207.8 nm particles measured by particle size analyzer (PSA), and in the calcination at a temperature of 8200C for 80 hours and be formed on the cast diameter 1.0 cm, 0.5 cm thick pressurized 5.0 tons for 4 hours, then sintering at a temperature of 8500C for 12 hours. The results obtained are superconducting B(Pb, Sn)SCCO has Meisneer levitation approximately 2.5 cm. XRD test gives results lattice parameters: a = 20.8710 Å, b = 9.4960 Å, c = 5.6000 Å, B(PbSn)SCCO concluded that the lattice is orthorhombic with a surface having a random clotted granules obtained from SEM test. Key words : Superconductor, B(PSn)SCCO
PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN NaOH PADA KARBON AKTIF TEMPURUNG KELAPA UNTUK ADSORPSI LOGAM Cu2+ Wulandari, Futri; Umiatin, -; Budi, Esmar
Jurnal Spektra Vol 16, No 2 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian mengenai pembentukan karbon aktif berbahan dasar arang tempurung kelapa sebagai adsorben telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi larutan NaOH dalam aktivasi kimia fisika untuk adsorpsi logam Cu2+. Arang tempurung kelapa hasil pirolisis digerus hingga mencapai ukuran granul milimeter kemudian dibersihkan dalam larutan alkohol 96% dan dipanaskan diatas hot plate selama 60 menit pada suhu ruang. Proses aktivasi kimia arang tempurung kelapa dilakukan dengan merendam arang tempurung kelapa dalam larutan NaOH pada variasi konsentrasi 1%, 2%, 4%, 7% selama 24 jam. Proses aktivasi fisika dilakukan dengan memanaskan arang hasil aktivasi kimia pada suhu 4000C selama 1 jam didalam tungku horizontal dan dialirkan gas Argon. Pada penelitian ini hasil uji AAS menunjukkan bahwa karbon aktif arang tempurung kelapa dapat diaplikasikan untuk mengadsorpsi logam Cu2+. Semakin tinggi konsentrasi larutan NaOH maka persentase logam Cu2+ teradsorpsi akan semakin menurun. Persentase logam Cu2+ teradsorpsi maksimum dihasilkan oleh karbon aktif dengan larutan NaOH 1% sebesar 80.87%. AbstractThe research on the formation of the activated carbon made from coconut shell charcoal as an adsorbent has been done. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of NaOH solution in the activation of chemistry physical for metal adsorption of Cu2+. Coconut shell charcoal pyrolysis results were crushed to size granules in millimeter then cleaned in a solution of 96% alcohol and heated on a hot plate for 60 minutes at room temperature. Chemical activation process of coconut shell charcoal is done by soaking the coconut shell charcoal in various concentration of NaOH solution at 1%, 2%, 4%, 7% for 24 hours. Physical activation process was done by heating the samples using horizontal furnace at temperature 4000C for 1 hours and Argon gas was flowed. In this study, the AAS test results indicate that activated carbon coconut shell charcoal can be applied to adsorb metals Cu2+. The higher the concentration of NaOH solution then the percentage of Cu2+ adsorbed metal will be decrease. The percentage of the maximum adsorbed Cu2+ metal was produced by activated carbon with  NaOH 1% solution at 80.87%. Keywords: activated carbon, coconut shell charcoal, chemical – physics activation, NaOH, Cu2+
FOTOMETRI GUGUS BINTANG TERBUKA M67 (NGC 2682) Ramadhan, Fajar; Priyatikanto, Rhorom; Utama, Judhistira Aria
Jurnal Spektra Vol 16, No 2 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakGugus bintang terbuka M67 merupakan salah satu gugus bintang paling tua di Galaksi Bima Sakti. Studi tentang gugus bintang terutama gugus bintang tua bertujuan untuk memahami hal-hal seperti struktur galaksi, komposisi kimia, populasi bintang, evolusi dinamis dan proses pembentukan bintang-bintang baru di galaksi. Dengan melakukan pengolahan citra gugus bintang terbuka M67 menggunakan metode fotometri bukaan (aperture photometry), tujuan penelitian ini adalah menentukan besar nilai usia, pemerahan dan jarak gugus bintang terbuka M67. Pengolahan citra gugus bintang terbuka M67 memanfaatkan citra yang diambil dengan menggunakan dua pita yakni pita B dan V. Nilai magnitudo instrumen dalam dua pita diperoleh dengan memanfaatkan perangkat lunak ImageJ. Transformasi ke sistem standar dilakukan dengan bantuan bintang standar untuk membangun diagram H-R. Dengan mencocokkan hasil berdasarkan model Isochrone padova, diperoleh usia gugus bintang terbuka M67 sebesar 3,2 milyar tahun, nilai pemerahan sebesar 0,06 dan jarak sebesar 909 parsek.AbstractM67 is one of the oldest open cluster within Milky Way galaxy and known as the richest star cluster. Star cluster studies especially old cluster help us to understand galaxy structure, chemical composition, star population, dynamical evolution and star formation within galaxy. By employing photometric method, the objective of this research is to determine the age, reddening and distance of M67. The instrumental magnitude in B and V filter is obtained by using ImageJ software. Transformation to standard system has been done based on the standard stars within the cluster to construct cluster’s H-R diagram. By employing model of Padova isochrone for the curve fitting to H-R diagram, the age of M67 is found to be 3.2 billion years, reddening is 0.06 and its distance 909 parsec.Keywords: H-R diagram, Isochrone, M67 open cluster, photometric method
SINTESIS DAN KARAKTERISASI ORGANOLEMPUNG DARI BENTONIT INDONESIA Rahman, Arif; Arryanto, Yateman; Sutarno, Sutarno; Juwono, Ariadne L; Roseno, Seto
Jurnal Spektra Vol 16, No 1 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSintesis organolempung dari bentonit alam Indonesia telah berhasil dilakukan. Bentonite alam yang digunakan untuk bahan dasar organolempung dipilih dari tiga sampel yang berasal deposite di Sukabumi, Pontianak, dan Pacitan. Spektroskopi FTIR, XRD dan SEM serta kuantifikasi kapasitas tukar kation (KTK) digunakan untuk menganalisis dan menentukan kualitas sampel yang diperiksa. Bentonite dari Pacitan dipilih karena memiliki kandungan montmorillonite tertinggi yakni 71% dan KTK sebesar 77 meq/100g. Selanjutnya, material bentonite terpilih digunakan untuk sintesis organolempung. Surfaktan kationik CTMABr digunakan sebagai pengubah muatan permukaan lempung untuk meningkatkan karakteristik hidrofobik permukaan lempung. Oganolempung hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRD, TGA dan FTIR. Organolempung hasil sintesis menunjukkan spasi antarlapis sebesar 18 – 39 Å. Thermogram TGA menunjukkan bahwa organoclay hasil sintesis memiliki dua kali pelepasan massa CTMABr yang berkorelasi dengan posisi lokasi CTMABr pada dua lokasi yang berbeda. Data-data tersebut memberikan informasi keberhasilan sintesis organolempung berbahan dasar bentonit alam Indonesia menggunakan CTMABr sebagai pemodifikasi permukaan.AbstractSynthesis and Characterization Organoclay from Indonesian BentoniteSynthesis organoclay from Indonesian natural bentonite from Indonesia has been carried out. Natural bentonite has been chosen from three samples from Sukabumi, Pontianak and Pacitan deposites. The FTIR, XRD, SEM spectroscopy and quantification of CEC (cation exchange capacity) techniques were employed to analyze the quality of these samples. Bentonite from Pacitan was chosen as the finest quality of bentonite, because it has bot the highest montmorillonite content i.e 71% and the highest CEC i.e 77 meq/100 g. Furthermore, the bentonite was used as material for organoclay synthesis. Cationic surfactant of CTMABr has been used as surface modifier to improve the hydrophobic properties of clay. The organoclay was then characterized by using XRD, TGA and FTIR. The organoclay has d-spacing of around 18-39 Å. TGA thermogram show that the organoclay has two differences of CTMA group dissociation temperature from the clay surface due to differences of CTMA group location. These data show that organoclay succesfully synthesized from natural Indonesian bentonite and CTMABr as surface modifier.Keywords: Organoclay, Natural Bentonite
PREPARASI DAN KARAKTERISASI SIFAT FISIS ION Nd3+ DIDOPING PADA GELAS Na2O-PbO-ZnO-Li2O-B2O3 Rajagukguk, Juniastel; Simamora, P.; Aminudin, A.; Djamal, M.; Suprijadi, -; Hidayat, R.
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTelah berhasil dilakukan pembuatan medium gelas dengan komposisi (65-x)B2O3-15Na2O-10PbO-5ZnO-5Li2O (x = 0,05; 0,1; 0,5; 1,0; 2,0 dam 4,0 mol%) dan didoping oleh ion aktif xNd2O3. Melalui pendopingan ion Nd3+ ini diharapkan diperoleh medium aktif berupa gelas yang dapat diaplikasikan sebagai penguat optik atau medium laser untuk rentang panjang gelombang pada near infra red (NIR). Semua senyawa kimia berbentuk serbuk dengan massa total 20 gram dicampur di dalam wadah alumina (alumina crucible) dan dibuat dengan metode melt-quenching. Untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang optimum, maka sampel gelas dipotong menjadi tiga ukuran berbeda yakni: 20 x 10 x 3 mm3, 15 x 5 x 3 mm3 dan 10 x 10 x 3 mm3. Selanjutnya gelas dihaluskan untuk memperoleh permukaan yang rata dan transparansi yang tinggi. Untuk mengetahui performa material, maka dilakukan pengukuran dan perhitungan terhadap sifat fisis antara lain: kerapatan, volume molar, indeks bias, konsentrasi ion Nd3+, refraktivitas molar dan suseptibilitas. Sedangkan suhu transisi di dalam gelas diperoleh dengan menggunakan thermo-gravimetric analysis (TGA). Dari hasil pengukuran di peroleh indeks bias gelas meningkat secara bertahap dari 1,570 untuk gelas undoped menjadi 1.625 untuk gelas 4,0 Nd3+. Kerapatan dan volume molar sampel juga meningkat secara perlahan mengikuti kenaikan konsentrasi ion Nd3+.Kata kunci: ion Nd3+,gelas, didoping, sifat fisis. AbstractGlasses medium with composition (65-x)B2O3-15Na2O-10PbO-5ZnO-5Li2O (x = 0,05; 0,1; 0,5; 1,0; 2,0 and 4,0 mol%) doped by xNd2O3 active ion have been successfully prepared. Through the insertion of Nd3+ is expected to obtain the active medium in the form of glass that can be applied as optical amplifier or laser medium for near infrared (NIR) range. The chemical compounds in this work were used in the powder form with 20 gr total mass mixed in the alumina crucible and prepared by melt-quenching method. Then to obtain the optimum uniform, glass samples were cut into three different sizes 20 x 10 x 3 mm3, 15 x 5 x 3 mm3 and 10 x 10 x 3 mm3. Finally, the glasses were polished to get the flat surface and high transparency. The physical parameters such as density, molar volume, refractive indices, Nd3+ ion concentration, molar refractivity and susceptibility are measured for the observed glass material performance. From the measurement results obtained that refractive indices is gradually increased from 1.570 up to 1.625 refer to un-doped glass to 4.0 Nd3+ glass. Also, density and molar volume of the glasses are slightly increased by following increase of Nd3+ ion concentration.Key words: Nd3+ ion, glasses, doped, physical properties.
PENERAPAN METODE VERY LOW FREQUENCY ELECTROMAGNET (VLF-EM) UNTUK MENAFSIRKAN BIDANG LONGSORAN, STUDI KASUS DESA JOMBOK, KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR Wijayanto, Totok; Santosa, Bagus Jaya; Warnana, Dwa Desa; Candra, Arya Dwi
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKelongsoran sering terjadi pada tanah yang memiliki topografi curam. Salah satunya adalah yang terjadi di Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada areal seluas satu hektar dijumpai penurunan permukaan tanah (longsor). Daerah longsoran ini diteliti dengan menggunakan salah satu metoda Geofisika, yaitu Very Low Frequency-Electromagnetic (VLF-EM). Data lapangan yang didapatkan dari hasil pengukuran metode VLF-EM biasanya tercampur dengan noise dan outlier. Pada penelitian ini digunakan filter NA-MEMD untuk menghilangkan noise dan outlier. Digunakan Filter Karous-Hjelt untuk menganalisa data secara kualitatif. Sedangkan analisa secara kuantitatif diperoleh dengan melakukan pemodelan inversi menggunakan INV2DVLF. Hasil analisis VLF-EM dengan menggunakan filter NA-MEMD mampu mereduksi noise dan outlier dari data pengukuran. Sedangkan hasil inversi 2D menunjukkan bahwa terdapat zona anomali yang menunjukkan zona lemah atau rawan longsor di area penelitian. AbstractLandslide often occurs in a steep topography ground. One of them is happened in the Jombok village, Ngantang, Malang, East Java. Land subsidence (landslides) often occur in this area. The landslide area investigated using one of the Geophysics methods, the Very Low Frequency-Electromagnetic (VLF-EM). The field datas obtained from measurement results of VLF-EM method are usually mixed with noise and outliers. In this research, NA-MEMD filter.is used to eliminate the noise and outliers. Karous-Hjelt (K-Hjelt) filter is udes to qualitative analyze of the data. While quantitative analysis is obtained by performing inversion modeling using INV2DVLF. VLF-EM analysis results using the NA-MEMD filter is able to reduce the noise and outliers of measurement data. While the 2D inversion results indicate that there is an anomalous zone which indicates weak or landslide-prone zones in the study area.Keywords: VLF-EM, NA-MEMD, K-Hjelt filter, INV2DVLF, Landslide.
Pengaruh Jejari Hidrolik Stack terhadap Beda Suhu Onset pada Prime Mover Termoakustik Gelombang Berdiri Murti, Prastowo; Widyaparaga, Adhika; Setiawan, Ikhsan; Utomo, Agung Bambang Setio; Nohtomi, Makoto
Jurnal Spektra Vol 16, No 2 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPrime mover termoakustik adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengkonversi panas menjadi kerja dalam bentuk bunyi. Panas yang digunakan dapat berasal dari sumber panas yang tak terpakai dan melimpah seperti insenerasi alat-alat rumah sakit, pabrik industri, geotermal, dan energi surya. Untuk dapat mulai menghasilkan bunyi (kondisi onset) dibutuhkan beda suhu minimum antara ujung-ujung stack yang disebut 15(∆T)onset">   Semakin kecil beda suhu onset 15(∆T)onset">  maka suhu sumber panas yang diperlukan semakin rendah. Stack merupakan jantung dari prime mover termoakustik dan tempat terjadinya osilasi paket gas akibat adanya perbedaan suhu antara kedua sisinya. Pada penelitian ini, stack yang digunakan adalah lembaran-lembaran mesh (kasa kawat) stainless-steel yang tersusun rapat dengan jejari hidrolik 0,71 mm, 0,59 mm, 0,50 mm, dan 0,34 mm dengan panjang 4 cm, 5 cm, dan 6 cm. Dalam penelitian ini, panjang resonator adalah 1,28 m dan udara digunakan sebagai medium dengan tekanan atmosfer. Telah ditemukan bahwa jejari hidrolik stack mempengaruhi beda suhu onset 15∆Tonset">  pada prime mover termoakustik. Jejari hidrolik optimum pada 0,59 mm. Selain itu, ditemukan juga bahwa stack yang lebih panjang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai kondisi onset dibandingkan dengan stack yang lebih pendek. Untuk mendapatkan 15∆Tonset">   lebih rendah dan waktu onset lebih cepat, perlu dilakukan penelitian tambahan tentang pengaruh beberapa paramater lain seperti panjang resonator, kalor input dan tekanan gas.Kata kunci : prime mover termoakustik, Stack mesh stainless steel, jejari hidraulik, beda suhu onset 15∆Tonset"> , waktu onset AbstractThermoacoustic prime mover is a device to convert heat into work in the form of sound. The heat used here can be obtained from unused and abundant heat source such as incineration hospital equipment, geothermal, and solar energy. A minimum onset temperature difference 15∆Tonset">  between stack ends is needed to produce the sound. Low onset temperature differences are desired when we intend to utilize low quality of heat sources. Stack is the main part of thermoacoustic prime mover in where the gas parcels oscillate due to a large temperature gradient along the stack. The stack used in this research is a pile of stainless-steels wire mesh screen with various hydraulic radius of 0.71 mm, 0.59 mm, 0.50 mm, and 0.34 mm and various stack length of 4 cm, 5 cm, and 6 cm. The length of resonator is 1.28 m and air as the working medium at atmosphere pressure is used to fill the resonator. It is found that the hydraulic radius is affecting the 15∆Tonset">  in the thermoacoustic prime mover. Hydraulic radius optimum at 0,59 mm. In addition, it is also found that longer stacks need longer time to reach the onset 15 "> condition. Investigation on the influences of other parameters, such as resonator length, heat input, and gas pressure, are required in order to have low 15∆Tonset"> .Keywords: themo-acoustic prime mover, stack mesh stainless steel screen, hydraulic radius, onset  Themperature difference 15 ∆Tonset"> , onset time.

Page 11 of 12 | Total Record : 111