cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2024)" : 14 Documents clear
Enhancing microbial population and biomass of water spinach grown in tailing and inceptisols by manure amendment Hindersah, Reginawanti; Suryatmana, Pujawati; Herdiyantoro, Diyan; Hamdani, Jajang Sauman
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39611

Abstract

The impact of tailings accumulated on agricultural land is the loss of soil profile and decreased soil quality, making plants difficult to grow. This study aimed to observe the effect of cow dung manure (CM) doses to gold mine tailings on total fungal and bacterial populations of soil surrounding roots and water spinach biomass and to analyze the correlation between fungal and bacterial populations with water spinach growth parameters. The experiment was designed in a randomized block design with five treatments and five replications. The treatments included without CM (control) and 5, 10, 15, and 20% of CM in tailing. Similar treatments were added to plants grown in mineral soil, i.e. Inceptisols. The results determined the retarded plant growth in tailing compared to that in Inceptisols. The plant grown in tailing was more responsive to manure amendment. The CM increased total fungal and bacterial populations in the soil around the roots, plant height, leaf number, stem thickness, wet weight, and dry weight of intact plants. Applying 5% of CM caused better growth of water spinach than other treatments. Total fungal and bacterial populations were strongly correlated with water spinach height and dry weight. ABSTRAK Dampak negatif penumpukan tailing di lahan pertanian adalah hilangnya profil tanah dan penurunan kualitas tanah sehingga tanaman sulit tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi pengaruh pemberian dosis pupuk kotoran sapi (PKS) pada tailing tambang emas terhadap populasi jamur dan bakteri total biomassa kangkung darat (Ipomoea reptans (L.) Poir.) serta menganalisis korelasi antara populasi jamur dan bakteri di tanah sekitar perakaran dengan parameter pertumbuhan kangkung. Percobaan pot di rumah kaca disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan percobaan adalah tanpa dan dengan penambahan 5, 10, 15 dan 20% PKS ke dalam tailing. Perlakuan yang sama diberikan pada tanaman kangkung dengan tanah Inceptisol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan kangkung di tailing terhambat dibandingkan di tanah Inceptisols, tetapi tanaman di tailing lebih responsif terhadap aplikasi PKS. Pupuk kotoran sapi mampu meningkatkan populasi jamur dan bakteri total di sekitar perakaran, tinggi tanaman, jumlah daun, ketebalan batang, bobot basah serta bobot kering tanaman di tailing. Pemberian 5% PKS lebih meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Populasi jamur dan bakteri masing-masing berkorelasi positif dengan hubungan yang sangat kuat dengan bobot kering serta tinggi tanaman kangkung. Percobaan ini menjelaskan bahwa bahan organik penting untuk memperbaiki kualitas tailing dan pertumbuhan tanaman.
Genetic variability in 12 butterfly pea (Clitoria ternatea L.) accessions: a dual approach with cluster and principal component analysis Algina, Azka; Ustari, Debby; Wicaksono, Arif Affan; Concibido, Vergel; Karuniawan, Agung
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37117

Abstract

Understanding genetic variability is crucial for enhancing the breeding programs of butterfly pea (Clitoria ternatea L.), particularly in the face of the demand for improved crop varieties. This study aims to (i) evaluate the genetic variability of 12 butterfly pea accessions based on 28 agro-morphological traits and (ii) analyze the genetic relationships among these accessions. The research was conducted from December 2022 to October 2023 at the Ciparanje Experimental Field, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with 12 accessions and three replications. Observations were made on 28 agro-morphological traits. Data analysis was performed using analysis of variance (ANOVA), principal component analysis (PCA), and agglomerative hierarchical clustering (AHC). ANOVA results indicated significant diversity among the 12 accessions based on 17 agro-morphological traits. PCA results showed that the first six principal components accounted for 89.1% of the total genetic variability and identified all traits as contributing factors to the genetic variability among the accessions. AHC analysis grouped the accessions into two main clusters, with Euclidean distances ranging from 1.00 to 4.00, indicating varying levels of genetic relatedness. These findings underscore the importance of genetic variability in formulating breeding strategies, particularly in the selection of parents based on targeted agro-morphological traits. ABSTRAK Informasi keragaman genetik sangat penting untuk mendukung program pemuliaan tanaman telang (Clitoria ternatea L.), khususnya dalam menghadapi permintaan varietas unggul. Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengevaluasi keragaman genetik dari 12 aksesi kembang telang berdasarkan 28 karakter agro-morfologi dan (ii) menganalisis hubungan genetik di antara aksesi-aksesi tersebut berdasarkan 28 karakter agro-morfologi. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2022 hingga Oktober 2023 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Desain eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 12 aksesi dan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan pada 28 karakter agro-morfologi. Analisis data dilakukan dengan analisis varians (ANOVA), analisis komponen utama (PCA), dan pengelompokan hierarki aglomeratif (AHC). Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa 12 aksesi telang beragam secara signifikan berdasarkan 17 karakter agro-morfologi. Hasil PCA menunjukkan bahwa enam komponen utama pertama menjelaskan 89,1% dari total keragaman genetik dan mengidentifikasi 28 karakter agro-morfologi sebagai karakter yang berkontribusi terhadap keragaman genetik 12 aksesi telang. Analisis AHC mengelompokkan 12 aksesi menjadi dua kelompok utama dengan jarak Euclidean berkisar antara 1,00 hingga 4,00, mengindikasikan tingkat kekerabatan genetik yang jauh. Temuan ini menegaskan pentingnya keragaman genetik dalam merumuskan strategi pemuliaan yang efektif, terutama dalam pemilihan tetua berdasarkan karakter agro-morfologi yang ditargetkan.
Strategi perbaikan tanah untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura di Kawasan penambangan pasir yang terdegradasi Rosalina, Febrianti; Riskawati, Riskawati; Sangadji, Zulkarnain; Lisalohit, Sulaiman; Wardan, Kharisma Dewi Sukma
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38086

Abstract

The addition of ameliorant materials into the soil on former post-rock mining land was identified as one of the potential approaches in improving soil quality. This study aims to determine the effect of ameliorant materials on the growth and yield of horticultural crops. The study used a Randomized Group Design with five treatments and three. Plants used as indicator plants used two types of horticultural crops (spinach and pakcoy). The treatments consisted of KS0 (Control), KS1 (compost at a dose of 10 t ha-1 + biofertilizer 5 ml L-1), KS2 (compost at a dose of 15 t ha-1 + biofertilizer 10 ml L-1), KS3 (compost at a dose of 20 t ha-1 + biofertilizer 15 ml L-1), and KS4 (compost at a dose of 25 t ha-1 + biofertilizer 20 ml L-1). The results of the research showed that the application of ameliorant material had a significant effect on plant height, number of leaves and wet weight of pakchoy plants, but had no significant effect on plant root length. Treatment with a compost dose of 15 t ha-1 + biofertilizer 10 ml L-1 (KS2) gave the highest results for the growth of Pakcoy plants. The provision of ameliorant had a significant effect on all observation parameters (plant height, number of leaves, wet weight and root length) of spinach plants, where treatment with a compost dose of 20 t ha-1 + biofertilizer 15 ml L-1 (KS3) gave the highest results on growth Spinach plant. These results imply that the ameliorant used can be used as an alternative in improving the quality of former sand mining land. ABSTRAK Penambahan bahan amelioran ke dalam tanah di lahan bekas tambang batuan diidentifikasi sebagai salah satu pendekatan yang berpotensi dalam perbaikan kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hortikultura. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakukan dan tiga kelompok. Tanaman yang digunakan sebagai tanaman indikator menggunakan dua jenis tanaman hortikultura (bayam dan pakcoy). Adapun perlakuan yang diberikan terdiri dari Kontrol (KS0), kompos ampas sagu dengan dosis 10 t ha-1 + pupuk hayati 5 ml L-1 (KS1), kompos ampas sagu dengan dosis 15 t ha-1 + pupuk hayati 10 ml L-1 (KS2), kompos ampas sagu dengan dosis 20 t ha-1 + pupuk hayati 15 ml L-1 (KS3), dan kompos ampas sagu dengan dosis 25 t ha-1 + pupuk hayati 20 ml L-1 (KS4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan amelioran berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot basah tanaman pakcoy, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap panjang akar tanaman. Perlakuan dengan dosis kompos ampas sagu 15 t ha-1 + pupuk hayati 10 ml L-1 (KS2) memberikan hasil tertinggi terhadap pertumbuhan tanaman Pakcoy. Pemberian bahan amelioran berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan (tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah dan Panjang akar) tanaman bayam, dimana perlakuan dengan dosis kompos ampas sagu 20 t ha-1 + pupuk hayati 15 ml L-1 (KS3) memberikan hasil tertinggi terhadap pertumbuhan tanaman Bayam. Hasil ini memberikan implikasi bahwa bahan amelioran yang digunakan dapat dijadikan sebagai alternatif dalam perbaikan kualitas lahan bekas tambang pasir.
Pengaruh metode aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah Pardono, Pardono; Erdhofin, Erdhofin; Triharyanto, Eddy; Manurung, Ida Rumia
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39673

Abstract

The demand for shallots continues to experience a significant increase in consumption. The use of appropriate varieties and improved nutrition is one of the efforts to increase shallot production. The purpose of the study was to determine the effect of fertilizer application methods on the growth and yield of several shallot varieties. The research was conducted in May-August 2023 in Ngringo Village, Jaten District, Karanganyar, Central Java with an altitude of 119.6 masl. This study used a factorial Complete Randomized Group Design (CRD) with two factors. Fertilizer application method was the first factor, namely: sowing and leaking. Varieties became the second factor, namely: Bima Brebes, Bauji, Tajuk, and Batu Ijo, resulting in eight treatment combinations with four replications. Observation parameters included plant height, number of leaves, fresh stalk weight, dry stalk weight, number of bulb, fresh weight of bulb, dry weight of bulb, dry weight of bulb per hectare, and bulb diameter. The results showed that the application of fertilizer by sowing can increase plant height 2-3 weeks after planting, fresh weight of bulbs, and dry weight of bulbs of shallots. The Tajuk variety produces plant height at 5 weeks, the number of leaves at 5 weeks, the fresh and dry weight of bulbs, the number of bulbs, and the fresh and dry weight stalk of shallots higher than other varieties. Fertilizer application by sowing can be applied to the Tajuk variety of shallots. ABSTRAK Kebutuhan bawang merah terus mengalami peningkatan konsumsi yang cukup signifikan. Penggunaan varietas yang tepat dan perbaikan nutrisi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah. Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh cara aplikasi pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei-Agustus 2023 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah dengan ketinggian wilayah 119,6 mdpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan dua faktor. Cara aplikasi pupuk menjadi faktor pertama, yaitu: ditabur dan dituangkan. Varietas menjadi faktor kedua, yaitu: Bima Brebes, Bauji, Tajuk, dan Batu Ijo, sehingga terdapat delapan petak kombinasi perlakuan yang diulang empat kali. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, berat brangkasan segar, berat brangkasan kering, jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun, berat kering umbi per rumpun, berat kering umbi per hektar, dan diameter umbi. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk dengan cara ditabur dapat meningkatkan tinggi tanaman 2-3 minggu setelah tanam (MST), berat segar umbi per rumpun, dan berat kering umbi per rumpun bawang merah. Varietas Tajuk menghasilkan tinggi tanaman pada 5 MST, jumlah daun pada 5 MST, berat segar dan kering umbi per rumpun, jumlah umbi per rumpun, serta berat brangkasan segar dan kering bawang merah lebih tinggi dibanding varietas lain. Pemberian pupuk dengan cara ditabur dapat diaplikasikan pada bawang merah varietas Tajuk.
Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik Hafizah, Rumaisha Afifatul; Sobir, Sobir; Aisyah, Syarifah Iis; Tamami, Djoko; Roostika, Ika
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37229

Abstract

Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu.
Kajian pengaruh iradiasi gamma cobalt-60 terhadap tanaman kapulaga jawa (Amomum compactum) Aprianti, Rina; Devy, Lukita; Nurhangga, Eka; Nawfetrias, Winda; Widiarsih, Sasanti
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37683

Abstract

Javanese cardamom plants are mostly propagated vegetatively using its rhizome. Therefore, the genetic variability is quite low so that the variability needs to be enhanced, one of them is by gamma irradiation. The objectives were to reveal the optimal dose (LD20 and LD50) of gamma irradiation on Java cardamom seedlings and to assess the performance of seedlings post irradiation. The experiment was arranged in randomized complete block design with 6 replications. Gamma ray used were 0, 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 225, 250, 275 and 300 Gy. Survival rate, quantitative and qualitative observation of plant growth were conducted. Irradiation was conducted on mature plant. Result showed the LD20 and LD50 values were 55,89 Gy and 100,75 Gy. Seedling showed necrosis on leaves and stem area after irradiation especially in high gamma ray doses. Until 25 weeks after irradiation, plants irradiated with 50 Gy and 100 Gy produced 16.7% new shoots, but their development was very slow. Control plants produced 5.2 new shoots with good agronomic appearance and 67% produced flowers at 25 weeks after irradiation. Furthermore, the irradiation dose for cardamom cultivation needs to be optimized in the range of 50-100 Gy by using younger plant material. ABSTRAK Tanaman kapulaga jawa sebagian besar diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimpangnya. Oleh karena itu, variabilitas genetiknya cukup rendah sehingga variabilitas tersebut perlu ditingkatkan, salah satunya dengan iradiasi sinar gamma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimal (LD20 dan LD50) iradiasi gamma pada bibit kapulaga Jawa dan menilai keragaan bibit kapulaga pasca iradiasi gamma. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 6 ulangan. Iradiasi sinar gamma digunakan adalah 0, 25, 50, 75, 100, 125, 150, 175, 200, 225, 250, 275 dan 300 Gy. Tingkat kelangsungan hidup, pengamatan kuantitatif dan kualitatif pertumbuhan tanaman dilakukan. Iradiasi dilakukan pada tanaman dewasa. Hasil menunjukkan nilai LD20 dan LD50 sebesar 55,89 Gy dan 100,75 Gy. Bibit menunjukkan nekrosis pada area daun dan batang setelah penyinaran terutama pada dosis sinar gamma tinggi. Sampai umur 25 minggu setelah iradiasi (MSI), tanaman yang diiradiasi 50 Gy dan 100 Gy menghasilkan 16,7% tunas baru, namun perkembangannya sangat lambat. Tanaman kontrol menghasilkan 5,2 tunas baru dengan penampilan agronomis baik dan 67% menghasilkan bunga pada umur 25 minggu setelah iradiasi. Selanjutnya dosis iradiasi pada budidaya kapulaga perlu dioptimalkan pada kisaran 50-100 Gy dengan menggunakan bahan tanaman yang lebih muda.
Keragaan karakter morfo-agronomi beberapa aksesi bawang merah (Allium cepa L.) lokal jawa berdasarkan analisis multivariat Azizah, Elia; Ardiyansah, Ardiyansah; Fauzi, Iqbal
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/38577

Abstract

Shallot production still fluctuative in several production centers such as Brebes due to the lack of new superior varieties with a high level of adaptation in areas of Indonesia that are prone to damage from land conversion, weather, and low technology application. The study aimed to obtain the best morphological and agronomic appearance of lowland shallots accessions through clustering analysis, and to obtain the limiting characters that provide the highest variation in the population. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Agriculture, Singaperbangsa University of Karawang in Pasirjengkol Village, West Java. Field trials were conducted during one growing season using 8 accessions of shallots from different regions, including the accession of Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, and Bandung with 15 observed morpho-agro characters. The research was conducted using a single-factor randomized block design with 4 replications, further tested using cluster and principal component analysis (PCA). The results showed that the level of similarity of Trisula accession was very different from other accessions (0.2) for the widest diameter and tuber shape characters. In contrast, the accessions Berlin and Maja have the same morpho-agro appearance (0.8) in tuber diameter, root tip shape, tuber shape, tuber skin thickness, leaf color, crown curvature, and tuber color. The limiting characteristics causing the highest variation in the population are the dry weight of tubers per plant and the shape of the tip tuber stem. ABSTRAK Produksi bawang merah masih fluktuatif di beberapa sentra bawang merah seperti brebes, hal ini akibat belum adanya varietas unggul baru yang memiliki tingkat adaptasi luas pada wilayah di Indonesia yang cenderung mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, cuaca, dan rendahnya penerapan teknologi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan aksesi bawang merah yang memiliki penampilan morfologi dan agronomi terbaik di dataran rendah melalui analisis klaster serta mendapatkan karakter pembatas yang memberikan variasi tertinggi pada populasi. Penelitian dilaksanakan dikebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Pasirjengkol, Jawa Barat. Percobaan lapangan dilaksanakan selama satu musim tanam dengan 8 aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) yang diambil dari berbagai wilayah diantaranya yaitu aksesi Cikijing, Pati, Nganjuk, Trisula, Bima, Berlin, Maja, dan Bandung berdasarkan 15 karakter morfo-agro yang diamati. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan 4 ulangan, kemudian diuji lanjut dengan analisis kluster dan komponen utama (principle component analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemiripan (similarity) aksesi Trisula jauh berbeda dengan aksesi lainnya (0,2) untuk karakter diameter terluas dan bentuk umbi. Berbeda dengan aksesi Berlin dan Maja yang memiliki penampilan morfo-agro yang sama (0,8) pada diameter umbi, bentuk ujung akar, bentuk umbi, ketebalan kulit umbi, warna daun, kelengkungan tajuk, dan warna umbi. Adapun karakter pembatas yang menyebabkan variasi tertinggi pada populasi adalah bobot kering umbi per tanaman dan bentuk ujung batang umbi.
Kolonisasi mikoriza Claroideoglomus etunicatum dalam menurunkan penyakit busuk akar Rhizoctonia solani pada kacang hijau Chasanah, Laila Uswatun; Kasiamdari, Rina Sri
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/36464

Abstract

Mung bean (Vigna radiata (L.) R. Wilczek) is widely cultivated in Indonesia, but root rot disease caused by Rhizoctonia solani can decrease production. Arbuscular mycorrhiza can be an alternative biocontrol to control root rot. This research aimed to determine the character of R. solani, analyze the growth of mung bean infected by R. solani inoculated with mycorrhizal fungi Claroideoglomus etunicatum, and determine the severity suppression of root rot disease in mung bean inoculated with mycorrhizal fungi C. etunicatum. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with six treatments and four replications including control (without inoculation), R. solani, 120 spores of C. etunicatum, 180 spores of C. etunicatum, 120 spores of C. etunicatum + R. solani, and 180 spores of C. etunicatum + R. solani. This research showed that R. solani had white to brown colonies, cottony, septate hyphae with 90° branching, hyphae width 5.45 – 9.79 μm, multinucleate, slow growth with an abundant-aerial pattern. Inoculation of C. etunicatum on mung bean infected by R. solani had a significant effect on increasing shoot fresh weight, shoot dry weight, and pod length and C. etunicatum reduced the intensity of R. solani disease by 44.44 – 55.46% and reduced the infection of R. solani in mung bean root by 38.10 – 52.38%. In conclusion, C. etunicatum was able to suppress the severity of rot root disease caused by R. solani on mung bean. ABSTRAK Kacang hijau (Vigna radiata (L.) R. Wilczek) banyak dibudidayakan di Indonesia, tetapi penyakit busuk akar akibat Rhizoctonia solani menyebabkan penurunan jumlah produksi. Mikoriza arbuskular dapat menjadi alternatif biokontrol untuk mengendalikan busuk akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter jamur R. solani, menganalisis pertumbuhan kacang hijau terinfeksi R. solani yang diinokulasi jamur mikoriza Claroideoglomus etunicatum, serta mengetahui penekanan keparahan penyakit busuk akar pada kacang hijau yang diinokulasi jamur mikoriza C. etunicatum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan, yaitu kontrol (tanpa inokulasi), R. solani, 120 spora C. etunicatum, 180 spora C. etunicatum, 120 spora C. etunicatum + R. solani, dan 180 spora C. etunicatum + R. solani. Penelitian ini menunjukkan bahwa R. solani memiliki koloni putih hingga coklat, cottony, hifa bersekat dengan percabangan 90°, lebar hifa 5,45 – 9,79 μm, multinukleat, pertumbuhan slow dengan pola abundant-aerial. Inokulasi C. etunicatum pada kacang hijau terinfeksi R. solani berpengaruh nyata terhadap peningkatan berat basah tajuk, berat kering tajuk, dan panjang polong serta C. etunicatum menurunkan intensitas penyakit R.solani sebesar 44,44% – 55,56% dan menurunkan infeksi R. solani pada akar kacang hijau sebesar 38,10% – 52,38%. Kesimpulan penelitian ini, C. etunicatum mampu menekan keparahan penyakit busuk akar oleh R. solani pada kacang hijau.
Biologi, infestasi dan musih alami Spodoptera frugiperda (J.E.Smith) pada pertanaman jagung di Kabupaten Banggai Yahya, Ivonela Karolina; Pakanyamong, Ambo Abd Kadir; Wahyuniarsih, Desi; Mutmainah, Mutmainah; Wahyudi, Dicky
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39573

Abstract

Spodoptera frugiperda has a high potential to cause crop failure in corn plantations. However, information on this pest attack is still very limited in Central Sulawesi and there have been no reports of this pest attack in Banggai Regency. The purpose of this study was to analyze the biology, infestation and natural enemies of S. frugiperda in Banggai Regency. This study was conducted in corn plantations owned by the community in Boras village, Sepe village and Dolom village. Observation of the biology of S. frugiperda was done by calculating the time needed at each stage. Observation of infestation was done by observing sample plants that were attacked and observing natural enemies in the form of parasitoids by taking samples of eggs and larvae then observing the parasitoids that appeared, in observing predators by using pitfall traps to trap insects on the ground which were then identified and in observing entomopathogenic fungi by taking samples of infected S. frugiperda larvae in the field and then identifying them. The results showed that the life cycle of S. frugiperda lasts approximately 45 days. The infestation of S. frugiperda is considered very high with an average infestation in the last observation in Boras Village of 84%, Sepe Village of 76% and Dolom Village of 88%. 5 types of natural enemies were found, namely 1 type of egg parasitoid (Telenomus sp.), 1 type of larval parasitoid (Megaselia sp.), 2 types of predators (Lycosa sp. and Forficula sp.), and 1 type of entomopathogenic fungus (Metarhizium sp.). ABSTRAK Spodoptera frugiperda sangat berpotensi menimbulkan gagal panen pada pertanaman jagung. Akan tetapi, informasi mengenai serangan hama ini masih sangat sedikit di Sulawesi Tengah dan belum ada laporan mengenai serangan hama tersebut di Kabupaten Banggai. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis biologi, infestasi dan musuh alami S. frugiperda di Kabupaten Banggai. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman jagung milik masyarakat di Desa Boras, Desa Sepe dan Desa Dolom. Pengamatan biologi S. frugiperda yaitu dengan menghitung waktu yang dibutuhkan pada setiap stadianya. Pengamatan infestasi dilakukan dengan cara mengamati tanaman sampel yang terserang dan pengamatan musuh alami berupa parasitoid yaitu dengan mengambil sampel telur dan larva kemudian diamati parasitoid yang muncul, pada pengamatan predator yaitu dengan menggunakan pitfall-trap untuk memerangkap serangga permukaan tanah yang kemudian diidentifikasi dan pada pengamatan cendawan entomopatogen yaitu dengan mengambil sampel larva S. frugiperda yang terinfeksi di lapangan kemudian diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus hidup S. frugiperda berlangsung kurang lebih selama 45 hari. Infestasi S. frugiperda tegolong sangat tinggi dengan rata-rata infestasinya pada pengamatan terakhir yaitu di Desa Boras sebesar 84%, Desa Sepe sebesar 76% dan Desa Dolom sebesa 88%. Ditemukan 5 jenis musuh alami yaitu 1 jenis parasitoid telur (Telenomus sp.), 1 jenis parasitoid larva (Megaselia sp.), 2 jenis predator (Lycosa sp. dan Forficula sp.), dan 1 jenis cendawan entomopatogen (Metarhizium sp.).
Agronomic characteristics of nagara sweet potatoes (Ipomoea batatas L.) from south kalimantan wetlands Apriani, Rila Rahma; Nugroho, Agung; Adriani, Dewi Erika; Purnomo, Joko
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/39576

Abstract

Understanding the agronomic characteristics of sweetpotato grown in wetland is critical to optimise cultivation and maximise yield. By studying factors such as plant morphology and yield, as well as environmental conditions, is important to identify varieties and cultivation practices that are most suitable for specific agroecological zones. This research aims to study the agronomic characters of nagara sweet potato in South Kalimantan's wetlands and identify abiotic factors that support its growth. A total of 15 sweet potato accessions were randomly sampled in sweet potato cultivation hotspot areas in July 2024. Hierarchical cluster analysis was conducted to see the similarity of the accessions found. The results showed that the agronomic characters of sweet potato accessions differed from the registered variety (Ubi Nagara KB-1), especially in characteristics type & number of leaf lobes, shape and number of tubers. Sweet potato yield was also found to be lower (14 t ha-1) compared to Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Abiotic data were found to be favourable for sweet potato agronomy, except for pH. The accessions found are still recommended to be developed in lebak swamp land, due to their adaptability and potential which is still higher than sweet potato in general (in dry land). Genetic testing is needed to prove that morphological differences are caused by different varieties (genetic) or decreased environmental conditions. ABSTRAK Karakteristik agronomi ubi jalar yang ditanam di lahan basah sangat penting dipelajari untuk mengoptimalkan budidaya dan memaksimalkan hasil panen. Pemahaman faktor-faktor seperti morfologi dan hasil tanaman, serta kondisi lingkungan, penting untuk mengidentifikasi varietas dan praktik budidaya yang paling sesuai untuk zona agroekologi tertentu. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter agronomi ubi nagara di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan dan mengidentifikasi faktor abiotik yang mendukung pertumbuhannya. Sebanyak 15 aksesi ubi jalar diambil secara acak di area sentra budidaya ubi pada Juli 2024. Analisis kluster hierarki dilakukan untuk melihat kekerabatan aksesi yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter agronomi aksesi ubi jalar berbeda dengan varietas yang terdaftar (Ubi Nagara KB-1), terutama pada ciri tipe, jumlah cuping daun, bentuk dan jumlah umbi. Hasil ubi jalar juga ditemukan lebih rendah (14 t ha-1) dibandingkan dengan Ubi Nagara KB-1 (20 t ha-1). Data abiotik ditemukan mendukung agronomi ubi jalar, kecuali pH. Aksesi yang ditemukan masih direkomendasikan untuk dikembangkan di lahan rawa lebak, karena adaptabilitas dan potensinya yang masih lebih tinggi dibanding ubi jalar secara umum (di lahan kering). Uji genetik diperlukan untuk membuktikan perbedaan morfologi disebabkan oleh varietas berbeda (genetik) atau penurunan kondisi lingkungan.

Page 1 of 2 | Total Record : 14