cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Lettuce and water spinach growth in silver catfish (Pangasius Sp) culture using aquaponic system Yuli Andriani; Zahidah Zahidah; Yayat Dhahiyat; Herman Hamdani; Ristiana Dewi
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8724

Abstract

Solid and liquid wastes from feces and fish feed residues can affect water quality, which in turn affect fish physiological processes, behavior, growth and mortality. So it is necessary to have water quality management in the aquaponic system. This study aimed to observe the growth of lettuce and water spinach as biofilters in silver catfish culture (Pangasius sp) using aquaponic system. The study was conducted at the Laboratory of Fisheries, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran, from March to April 2018. This was an experimental study using Randomized Block Design (RBD) with two treatments and six repetitions to compare between combination of silver catfish and water spinach with silver catfish and lettuce combination. The parameters observed were fish growth, fish survival, increase in  stem length, and increase in the number of leaves. The results show silver catfish and water spinach combination produced the highest crop with a stem length of 38.7 cm and more leaves with an addition of 16 leaves. A higher absolute growth of 7.79 grams fish-1 and 100% survival are also seen in this combination. Furthermore, water spinach is more effective as biofilter for aquaponic systems than lettuce.Limbah padat dan cair dari feses dan sisa pakan ikan dapat mempengaruhi kualitas air, yang selanjutnya memengaruhi proses fisiologis ikan, perilaku, pertumbuhan, dan angka kematian. Sehingga perlu adanya manajemen kualitas air pada sistem akuaponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan selada dan kangkung sebagai biofilter pada budidaya ikan lele (Pangasiussp) dengan sistem aquaponik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dari bulan Maret hingga April 2018. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua perlakuan dan enam ulangan untuk membandingkan kombinasi Ikan Patin dan kangkung dengan kombinasi lele dan selada. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan ikan, kelangsungan hidup ikan, pertambahan panjang batang, dan pertambahan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan Kombinasi lele perak dan kangkung menghasilkan tanaman tertinggi dengan panjang batang 38,7 dan daun lebih banyak dengan penambahan 16 helai daun. Pertumbuhan absolut yang lebih tinggi sebesar 7,79 g ikan-1 dan kelangsungan hidup 100% juga terlihat pada kombinasi ini. Dengan demikan kangkung merupakan biofilter yang lebih efektif untuk aquaponik dibandingkan selada.
Karakter morfologi, heritabilitas dan indeks seleksi terboboti beberapa generasi F1 Melon (Cucumis melo L.) Achmad Amzeri; Kaswan Badami; Syaiful Khoiri; Ahmad Syaiful Umam; Nasirul Wahid; Siti Nurlaella
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6244

Abstract

Perakitan varietas melon hibrida dengan karakter-karaker unggul merupakan suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan benih melon dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor benih melon dari luar negeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penampilan fenotipik 24 genotip tanaman melon hibrida (F1).  Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura pada bulan Februari sampai Mei 2019. Bahan yang digunakan adalah 24 genotip melon hibrida (F1) hasil persilangan di antara galur-galur melon. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu perlakuan yaitu genotip dan diulang sebanyak 3 kali. Analisis data menggunakan analisis varians (Anova) yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Nilai heritabilitas dalam arti luas dihitung menggunakan taksiran nilai kuadrat tengah pada analisis varians. Seleksi indeks digunakan untuk mendapatkan kandidat varietas tanaman melon hibrida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 24 tanaman melon hibrida (F1) yang diuji memiliki perbedaan penampilan pada karakter umur berbunga, panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, kadar gula, jumlah biji per buah, bobot buah per tanaman dan produksi per hektar. Nilai heritabilitas dalam arti luas tanaman melon hibrida (F1) pada karakter yang dievaluasi berkisar antara 0,15 – 0,71. Hasil  nilai seleksi indeks terboboti menunjukkan bahwa terdapat dua calon varietas tanaman melon hibrida yang memiliki seleksi indeks tertinggi yaitu G4 dan G5.  ABSTRACTAssembling hybrid melon varieties with superior characters is an effort to meet the needs of domestic melon seeds and reduce dependence on imported melon seeds. The purpose of this study was to evaluate the phenotypic appearance of 24 genotypes of hybrid melon plants (F1).  This research was conducted at the Agrotechnology Experimental Field at Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura from February to May 2019. The materials used
Komponen epidemi penyakit antraknosa pada tanaman cabai di kecamatan baturaden kabupaten Banyumas Nur Prihatiningsih; Heru Adi Djatmiko; Erminawati Erminawati
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8000

Abstract

Penyakit antraknosa merupakan penyakit utama pada tanaman cabai yang dapat menyebabkan kegagalan panen dan kerugian mencapai 80 %. Tujuan penelitian untuk menilai perkembangan penyakit antraknosa cabai di Kecamatan Baturraden, menguji pengaruh  komponen epideminya terhadap pertumbuhan jamur Colletotrichum gloeosporioides dan penekanan penyakit pada buah cabai. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling di empat desa di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Pengujian pengaruh komponen epidemi dilakukan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Faperta Unsoed dengan menumbuhkan jamur C. gloeosporioides pada beberapa suhu dan menguji penekanan penyakit pada buah cabai.  Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Variabel pengamatan yaitu intensitas penyakit, laju infeksi, kecepatan pertumbuhan jamur, persentase penghambatan pertumbuhan jamur dan penekanan penyakit pada buah cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit antraknosa di desa Kemutug Lor menunjukkan intensitas penyakit tertinggi yaitu 76% dengan laju infeksi 0,345 unit/hari.  Suhu optimum yang mendukung  pertumbuhan C. gloeosporioides yaitu 29oC, dengan kecepatan pertumbuhan 14,72 mm.hari-1. Pertumbuhan C. gloeosporioides dihambat oleh bakteri endofit cabai BE2 sebesar 78,6%.  Bakteri endofit cabai dapat menekan penyakit antraknosa pada buah cabai dengan efektivitas 30,93%. Anthracnose is the main disease in chili that can cause crop failure and losses up to 80%. The aim of the study was to assess the development of chili anthracnose in the Baturraden district, to examine the effect of its epidemic components on the growth of Colletotrichum gloeosporioides, and suppression of anthracnose. The research method used was a survey with purposive random sampling in four villages in Baturraden district, Banyumas Regency. Testing the effect of epidemic components was carried out in Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture Unsoed by growing the C. gloeosporioides at several temperatures, and testing the disease suppression of chilies with chili endophytic bacteria. The design used was a Completely Randomized Design. The variables observed were disease intensity, infection rate, fungal growth rate, percentage of inhibition of fungal growth, and disease suppression in chilies. The results showed that chili anthracnose in the village of Kemutug  Lor showed the highest intensity of 76% with an infection rate of 0,345 units per day. The optimum temperature that supported the growth of C. gloeosporioides was 29oC with a growth rate of 14,72 mm day-1. Growth of C. gloeosporioides was inhibited by endophytic bacteria BE2 chili by 78,6%. Chili endophytic bacteria could suppress anthracnose in chilies by 30,93% effectivity.
Shade effect on growth, yield, and shade tolerance of three peanut cultivars Noertjahyani Noertjahyani; Choerul Akbar; Ai Komariah; Hudaya Mulyana
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6273

Abstract

Peanut, which is commonly planted in interculture and intercropping system, often suffers from shading caused by associated plants. This experiment aimed to study the effect of different shade levels of three peanut cultivars on the growth and seed yield, also to determine the shade-tolerant cultivar. A pot experiment was done at the Research Station of Agriculture Faculty Universitas Winaya Mukti since July until October 2016 by creating 50%, 65%, and 75% artificial shade levels during the lifetime of Tuban, Jepara, and Bima cultivars. The shade significantly affected on number of trifoliate leaves, number of branches, plant dry weight, yield components (number of pods, number of filled pods, and number of seeds), dry weight of pod, and seed weight per plant. The cultivar gave same effect on the growth and seed yield per plant. Based on Stress Tolerance Index (STI) analysis on the seed dry weight per plant, only Tuban cultivar showed great tolerance of 65% shade of natural light. Overall, the whole  cutivars tested were sensitive on 75% shade level.                                                       ABSTRAKKacang tanah yang biasa ditanam pada sistem tumpangsari dan interkultur, sering ternaungi karena berasosiasi dengan tanaman lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh  naungan yang berbeda pada tiga kultivar kacang tanah terhadap pertumbuhan dan hasil, serta mendapatkan kultivar kacang tanah yang toleran terhadap naungan. Percobaan pot dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti  dari  bulan Juli sampai dengan Oktober 2016. Perlakuan percobaan adalah perbedaan naungan (tanpa naungan, naungan 50%, 65% dan 75%) selama siklus hidup tiga kultivar tanaman kacang tanah  (Tuban, Jepara dan Bima). Hasil percobaan menunjukkan bahwa naungan memengaruhi jumlah daun trifoliat, jumlah cabang, bobot kering tanaman, komponen hasil (jumlah polong, jumlah polong isi, dan jumlah biji), bobot kering polong dan bobot kering biji per tanaman. Kultivar memberikan efek yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil per tanaman. Berdasarkan analisis Stress Tolerance Index (STI) terhadap bobot kering per tanaman, hanya kultivar Tuban yang toleran pada naungan 65%. Semua kultivar peka terhadap naungan 75%.
Konservasi in vitro dua aksesi lili mealui modifikasi media kultur Kurniawan Budiarto; Indijarto Budi Raharjo; Hanudin Hanudin; Wakiah Nuryani
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4179

Abstract

Konservasi in vitro merupakan salah satu alternatif penyimpanan materi genetik dalam kondisi aseptik. Metode ini dapat mengurangi resiko kepunahan materi genetik akibat kondisi lingkungan yang ekstrem dan kerumitan pengelolaan pada skala in vivo terutama untuk tanaman yang berasal dari subtropis, seperti lili. Metode penghambatan pertumbuhan dan ketahanan plantlet selama perlakuan konservasi merupakan faktor penting untuk kelangsungan hidup materi genetik yang disimpan. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi media konservasi melalui modifikasi kandungan nutrien dan konsentrasi sukrosa untuk konservasi in vitro jangka menengah terhadap dua aksesi lili yaitu lokal Lilium longiflorum dan cv. Candilongi. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias mulai Januari 2015 sampai September 2017. Hasil penelitian menunjukkan laju kematian plantlet semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu penyimpanan. Laju kematian plantlet dengan pertumbuhan daun yang terendah diperlihatkan oleh plantlet Lili yang dikonservasi pada media ¼ MS + 7 % sukrosa dengan kisaran 27-31 % setelah 24 bulan penyimpanan. Dua genotipe lili menunjukkan respon pertumbuhan yang berbeda selama konservasi in vitro dan in vivo, namun tidak pada media konservasi yang dicoba. Plantlet lili lokal L. longiflorum mempunyai jumlah daun lebih sedikit selama konservasi in vitro. Sedangkan cv. Candilongi memperlihatkan tinggi tanaman yang lebih rendah dengan jumlah bunga lebih banyak dan ukuran bunga lebih besar pada evaluasi in vivo. ABSTRACTIn vitro conservation is an alternative method of plant genetic resources preservation in aseptic condition. The method has successfully applied in many crops and reduced the limitation of in vivoconservation of non-native crop as Lily planted in the tropic area. Growth inhibition method and plantlet resistance are important factors to ensure the life-span of the conserved plantlet during in vitro storage. The research aimed to evaluate the media compositions and sucrose concentrations for mid-term conservation of two Lilium accessions, local L. longiflorum and cv. Candilongi. The experiment was carried out at Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January 2015 to September 2017. The results showed the plantlet death rates increased in line with the duration of storages. After 24 months storage, plantlets conserved under ¼ MS + 7% sucrose showed fewer numbers of leaves and death plantlets in the range of 27-31%. Growth plantlet retardation during storage was merely detected on local L. longiflorum that showed less leaves development. Plantlet of cv. Candilongi had shorter plant height, yet bigger flower size and higher number of flower per plant under in vivo evaluation.
Aplikasi Pseudomonas fluorescens P20 formula cair tepung ikan terhadap rebah semai mentimun Hening Kurniasih; Nur Prihatiningsih; Endang Mugiastuti; Loekas Soesanto
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8591

Abstract

Rebah semai merupakan penyakit penting bibit mentimun, dan formula cair Pseudomonas fluorescens P20 dengan tepung ikan perlu dicoba untuk mengatasi hal tersebut. Penelitian bertujuan mencari konsentrasi tepat tepung ikan untuk P. fluorescens P20, pengaruhnya dalam menekan rebah semai, dan terhadap pertumbuhan mentimun. Penelitian dilaksanakan di Screen House Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto selama empat bulan. Rancangan Acak Lengkap digunakan pada in vitro dengan 5 ulangan dan 5 perlakuan terdiri atas kontrol (King’s B cair), serta tepung ikan 10, 20, 30, dan 40 g L-1. Uji in planta menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 ulangan dan 6 perlakuan terdiri atas kontrol, King’s B cair, serta tepung ikan 10, 20, 30, dan 40 g L-1. Variabel yang diamati adalah populasi bakteri, masa inkubasi, kejadian penyakit, area under the disease progress curve (AUDPC), tinggi tanaman, panjang akar, bobot tanaman segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. fluorescens P20 dalam tepung ikan 10 g L-1 memiliki populasi tertinggi yaitu 3,99 x 1021 upk mL-1 atau meningkat sebesar 47,23%. Saat diaplikasikan, formula bakteri ini paling efektif menunda masa inkubasi dan menekan kejadian penyakit hingga 100% dan nilai AUDPC terendah yaitu 0%-hari. Perlakuan mampu meningkatkan panjang akar 5,30-31,19% dan bobot akar segar 10,81-65,85%. Damping-off is an important cucumber seedlings disease, and liquid formulation of Pseudomonas fluorescens P20 is developed to overcome this problem. This research aimed to gain the right concentration of fish flour for P. fluorescens P20, its effect on suppressing damping-off and on cucumber growth. The research was conducted at the Screen House, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto for four months. Randomized completely design was used for in vitro test with 5 treatments consisted of control, fish flour of 10, 20, 30, and 40 g L-1repeated 5 times. Randomized block design was used for in planta test with 6 treatments consisted of control, King’s B Broth, flour liquid of 10, 20, 30, and 40 g L-1repeated 5 times. Variables observed were bacterial population, incubation period, disease incidence, area under the disease progress curve (AUDPC), plants height, roots length plants fresh weight, and roots fresh weight. Result showed that P. fluorescensP20 in fish flour of  10 g L-1 had the highest population as 3.99 x 1021 cfu ml-1 or increase as 47.23%. Application of this formula could delay incubation period and suppress disease incidence as 100% and decrease AUDPC as 0%-days. The formula could increase roots length and roots fresh weight as 5,30-31,19 and 10,81-65,85%.
Aplikasi dan efektivitas pupuk hayati dalam upaya perbaikan mutu produksi, produktivitas dan pengendalian serangan layu fusarium pada bawang merah Wakiah Nuryani; Hanudin Hanudin; Kurniawan Budiarto
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5871

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Untuk pencapai target produksi yang maksimal, umumnya petani menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetik yang tinggi. Penurunan daya dukung lahan pertanian akibat penggunaan bahan kimia agroinput berlebihan mendorong penggunaan pupuk hayati berbahan aktif mikroba pemicu pertumbuhan terutama untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik pada bawang merah. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi beberapa pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk kimia sintetik untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan dan produksi bawang merah, serta menekan penyakit layu fusarium. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan berupa tiga jenis pupuk hayati, yaitu Agrofit, Bio Pf dan Biotrico dikombinasikan dengan dosis pupuk kimia sintetik yaitu sebesar 0, 25, 50, 75, 100% dari dosis rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kombinasi pupuk hayati Agrofit, Bio-Pf dan Biotrico dengan 50% dosis rekomendasi pupuk kimia sintetik dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan dan bobot umbi kering sebesar 7.91 – 32.65% dari aplikasi pupuk kimia sintetik 100% dosis rekomendasi. Pada kombinasi Bio-Pf yang ditambah dengan 25% pupuk kimia sintetik dosis rekomendasi menunjukkan nilai efektifitas relatif agronomi dan nilai penekanan terhadap infeksi fusarium tertinggi. Kombinasi perlakuan ini juga memberikan total biomasa tidak berbeda pada dosis pupuk kimia sintetik 100%.                                                         ABSTRACT Shallot is one of important vegetables in Indonesia. Expecting high yield, farmers tend to apply high amount of chemical  fertilizer and shynthetic pesticide. The concern to the negative impacts of chemical agroinput in agriculture production has induced the application of biofertilizer containing beneficial microbes to reduce the use of synthetic fertilizers in shallot production. The research was conducted to evaluate several formulated biofertilizers combined with synthetic fertilizers on growth, yield and productivity improvement, and fusarium wilt control on shallot. The research was conducted at Sukabumi, West Java, Indonesia from March to August 2017. The combination of bio-fertilizer types, i.e. Agrofit, Bio-Pf and Biotrico and synthetic fertilizers in different dosages, i.e 0, 25, 50, 75, 100 % from recommended dosages were arranged in completely randomized block design with three replications. The results showed the application of bio-fertilizers might reduce 50% of synthetic fertilizer usage. The combined application of each bio-fertilizer with 50% recommended dosage of synthetic fertilizers improved growth quality and total dry bulb weight of 7.91 – 32.65% from 100% recommended dosage of synthetic fertilizer. The combination of Bio-Pf and Agrofit with 25% recommended synthetic fertilizer gave highest relative agronomic effectiveness value and fusarium wilt suppression. Total biomass weight of these treatments also had negligible differences with 100% synthetic fertilizers dosages. 
Analisis Diversitas Morfologi dan Potensi Persebaran Maja (Aegle marmelos (L.) Corr. dan Crescentia cujete L.) di Mojokerto Fakhri Hafidh; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8808

Abstract

Tanaman maja memiliki sejarah vital bagi masyarakat Mojokerto. Selain sebagai simbol budaya, maja dimanfaatkan untuk pangan, keperluan medis, dan pertanian. Sekarang, keanekaragaman hayati tanaman lokal ini terancam karena minimnya upaya pelestarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, memetakan sebaran dan potensi sebaran maja serta menganalisis keanekaragaman dan kekerabatannya berdasarkan morfologi. Metode eksplorasi didasari pada survey ekogeografi dan pemetaannya menggunakan model maxent di aplikasi DivaGIS. Indeks Shannon digunakan untuk menganalisis keanekaragaman. Analisis kekerabatan menggunakan aplikasi DARwin dengan metode Neighbor-Joining dan Hierarchical clustering. Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya penurunan populasi maja secara masif di mayoritas wilayah Mojokerto. Kecamatan Trowulan, Jetis, Kota Mojokerto, dan Ngoro menjadi pusat distribusi aktual maja. Indeks Shannon menunjukkan bahwa keanekaragaman morfologi maja pada parameter kualitatif (0,15) jauh lebih rendah dibanding kuantitatif (4,95). Secara umum, keanekaragaman morfologi maja di Mojokerto tergolong dalam kategori sedang (1,95). Ada 4 kategori maja di Mojokerto berdasarkan pengelompokan menggunakan Neighbor-Joining dan 3 kategori menggunakan Hierarchical Clustering.Maja has a vital role in Mojokerto civilization. Aside as a cultural symbol, maja also used as religious festivals, medical purpose, and agricultural practice. Today, the diversity of maja is endangered because of the minimum conservation. The research was conducted to map the actual and potential distribution of Maja. The research also analyzes the diversity and kinship of maja. The Maxent model in DivaGIS was used as the bases of the ecogeographical survey and mapping.. The morphological diversity of maja was assessed by Shannon index and the cluster analysis was carried out based on Neighbor-joining dan Hierarchical clustering method using DARwin software. The result shows that the diversity index of maja in Mojokerto is classified as medium with the value of 1.95. Maja's kinship is divided into 4 groups based on qualitative and 3 groups based on quantitative traits. Maja was spread in Mojokerto and concentrated in 4 sub districts of Trowulan, Jetis, Mojokerto, and Ngoro. Based on the comparison with maxent predictions, there is a massive maja population loss in Mojokerto. Land conversion and plant substitution is a major cause of decrease of maja population.
Pengaruh pemberian fosfor di pembibitan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada rendaman cekaman Irmawati Irmawati; Imam Wibisono; Erise Anggraini
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6611

Abstract

Cekaman rendaman merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi dalam kegiatan budidaya padi di lahan rawa lebak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian fosfor sebelum tanaman terendam yang diharapkan mampu meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap cekaman rendaman. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan varietas padi sebagai petak utama dan waktu pemberian fosfor sebagai anak petak yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Varietas padi yang digunakan yaitu IR 42, Inpari 30, dan Ciherang. Waktu pemberian fosfor terdiri dari kontrol (P0), pemberian fosfor 3 hari sebelum perendaman (P1), 7 hari sebelum perendaman (P2), dan 14 hari sebelum perendaman (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ciherang merupakan varietas yang paling terhambat pertumbuhannya akibat cekaman rendaman. Selain itu, perlakuan P2 (aplikasi fosfor pada 7 hari sebelum perendaman) menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lain yang secara signifikan ditunjukkan pada peubah luas daun, berat kering akar dan total berat kering tanaman pada 6 minggu setelah tanam atau 14 hari setelah perendaman. Data yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan teknis budidaya padi di lahan rawa lebak.  One of the major constraints of rice cultivation in the non-tidal swamp area is submergence stress, which is considered could be managed by phosphorus application before submergence in order to increase rice tolerance towards submergence stress condition. Split plot design was used in this research with three replicates. Rice cultivars served as the main plot consisted of IR42, Inpari 30, and Ciherang. While for the sub-plot was phosphorus application consisted of P0 = control, P1 = phosphorus application 3 days before submergence, P2 = phosphorus application 7 days before submergence, and P3 = phosphorus application 14 days before submergence. Results showed that Ciherang was the most affected cultivar due to submergence stress. Furthermore, P2had better performance compared to other P treatments as significantly showed in leaf area, dry root weight, and total dry weight at 6 weeks after sowing or 14 days  after  submergence. The resulted data hopefully can be used as a consideration for swamp rice cultivation improvement effort.
Potensi bakteri pelarut P dan Penambat N rhizosper kelapa sawit gambut saprik Ida Nur Istina; Happy Widiastuti; Benny Joy
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5776

Abstract

Pemanfaatan pupuk hayati sangat berpotensi untuk menurunkan input produksi pada budidaya kelapa sawit khususnya pupuk. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan Bakteri Pelarut P dan Penambat N yang berpotensi sebagai bahan pupuk hayati dari rizosfer tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan di lahan gambut saprik Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau dari bulan Juni sampai November 2014. Pengambilan sampel tanah dilakukan menggunakan bor gambut pada bagian rizosfer dengan kedalaman sampai 20 cm. Isolasi dan karakterisasi dengan metode pure plate menggunakan media selektif N Ashby untuk penambatan N dan Pikovskaya untuk pelarutan P, sedangkan analisis fiksasi N dan pelarutan P dilakukan menggunakan HPLC dan spektrofotometer di Laboratorium mikrobiologi PT. RPN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah gambut saprik berpotensi sebagai sumber isolat bakteri pelarut P dan penambat N potensial. Jumlah isolat bakteri pelarut P yang berhasil diperoleh adalah 11 isolat sedangkan jumlah bakteri penambat N non-simbiotik adalah 6 isolat. Isolat bakteri pelarut P potensial asal Sungai Ara dengan kemampuan melarutkan P 329,94 ppm; sedangkan bakteri penambat N non-simbiotik potensial adalah asal Kuala Panduk dengan kemampuan fiksasi N 0,0293 mmol l-1jam-1. ABSTRACTUtilization of biofertilizer is potential to decrease production inputs on oil palm cultivation, especially fertilizer expense. The research aimed to obtain Solubilizing P-Bacteria and Non-Symbiotic Fixing N bacteria which potential as biological fertilizer from oil palm rhyzosphere. The research was conducted at Pelalawan sapric peat soil from June to November 2014. Soil samples were taken by using peat drill into 20 cm soil depth, while isolation and characterization used pure plate method by using the selective media N Ashby for N fixation and Pikovskaya for P solubility. N fixation and P dissolution analyzed by using HPLC and spectrophotometer at PT. RPN microbiology laboratory. The results showed that sapric peat soil potentially utilize as microbial resource. The number of phosphate solubilizing bacteria isolates were 11 isolates, while the number of non-symbiotic nitrogen fixation bacteria inhibiting N Azotobacter sp. were 6 isolates. The potential isolate of P-solubilizing bacteria was Sungai Ara origin with the ability to dissolve P about 329.94 ppm; while the potential of non-symbiotic N-fixing bacteria was Kuala Panduk origin with N fixation ability 0.0293 mmoll-1h-1.

Page 9 of 27 | Total Record : 263