cover
Contact Name
AAhmad Zainul Hamdi
Contact Email
ahmadinung@gmail.com
Phone
+6281931787511
Journal Mail Official
religio@uinsa.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya, 60237 JAWA TIMUR - INDONESIA
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Religio : Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 20886330     EISSN : 25033778     DOI : 10.15642/religio
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal yang mengeksplorasi gagasan kreatif dan solutif seputar tema agama dan sosial-budaya. Selain sebagai wahana sosialisasi, jurnal Religio diharapkan bisa menjadi ruang publik (public sphere) bagi masyarakat, khususnya bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi. Substansi isi tulisan jurnal, lebih menitikberatkan pada agenda pengembangan pola pikir keberagamaan yang moderat, yang berpijak pada nilai-nilai demokrasi, pluralisme, multikulturalisme dan toleransi agama. Jurnal Religio didedikasikan untuk mewujudkan paradigma masyarakat agama yang harmonis, pluralis dan transformatif, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional. Dengan demikian, kehadiran di tengah-tengah masyarakat, diharapkan dapat bermanfaat bagi pencapaian cita-cita bersama, yaitu membangun kehidupan beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan, keadilan dan perdamaian.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 406 Documents
Contesting Religion and Ethnicity in Madurese Society Akhmad Siddiq; Leonard C Epafras; Fatimah Husein
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.696 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.733

Abstract

Abstract: This paper describes historical phases of Madurese identity construction, the origins of Madurese ethnicity, inter-ethnic and inter-cultural relation, Madurese Pendalungan culture, and how Islam involves into cultural identities of the Madurese. In this paper, I will argue that Islam has become part of cultural values of the Madurese, that is, embedded within traditional activities and local wisdom. However, the involvement does not mean to exclude other “non-Islamic” and “non-Madurese” tradition in the process of construing Madurese identity. By exploring how Madurese identity was culturally constructed we could be able to draw more visible connection between religion, tradition, and social identity. This paper illustrates how Madurese identity culturally produced, nurtured, and matured. Since identity is a way of perceiving, interpreting, and representing the existence of people, I persist that Madurese identity has also been produced and reproduced depending on political, social, and cultural situation. In this regard, inter-religious or inter-ethnic relation remains important. [Artikel ini menjelaskan fase terbentuknya identitas orang-orang Madura, asal-usul etnis, hubungan lintas-budaya dan antaretnis, budaya Pendalungan, dan bagaimana Islam berinteraksi dengan identitas budaya orang Madura. Dalam artikel ini saya meneguhkan bahwa Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai budaya Madura, yang bisa dilihat dari dalam aktivitas sosial dan kearifan lokal orang Madura. Meski demikian, hal ini tidak menafikan bahwa tradisi “non-Islam” atau “non-Madura” juga memiliki peran dalam proses pembentukan identitas Madura. Dengan mengurai proses konstruksi identitas sosial Madura, seseorang bisa melihat dengan lebih jelas hubungan erat antara agama, tradisi, dan identitas sosial. Artikel ini juga menggambarkan bagaimana identitas Madura diproduksi, dikembangkan, dan dilestarikan. Sebab identitas adalah sebuah persepsi, interpretasi, dan representasi, artikel ini menyimpulkan bahwa identitas Madura pun tidak lepas dari tahapan itu: bergantung pada kondisi politik, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam konteks ini, relasi antaragama dan antaretnis menjadi sangat penting.]
Muslim Paruh Waktu di SMAN 6 dan SMKN 2 Kota Padang Andri Ashadi
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 2 (2017): September
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.401 KB) | DOI: 10.15642/religio.v7i2.738

Abstract

Some Islamic programs both in SMAN 6 nor in SMKN 2 such as Muslim-Muslim clothing, learning of Islamic Religion and Character Education are not only aimed at Muslim students but also involve non-Muslim (Christian) students. In this position, Christian students are faced with a conflict of identity. On the one hand, they are not possible to establish Islamic identity as Muslim students because the religion is a dogma that does not cast doubt. On the other hand, they were almost impossible to get out of various Islamic programs because it was a regional policy and in the public schools was embodied in various rules and rule of schools. This paper presents a study of how they imitate the Islamic identity of the school's public space and how they interpret the imitation process. Based on the results of observations, interviews, and FGDs with schools, Christian students, their parents, Padang City Christian religious leaders and Padang City Education Office, this paper concludes that Christian students try to imitate "like" Muslim students. It's just they behave "like" Muslim students are more meaningful than self-adjustment which has nothing to do with religion. While religion is interpreted as faith and belief and that is the reality of religion. [Beberapa program keislaman baik di SMAN 6 maupun di SMKN 2 seperti kewajiban berbusana muslim-muslimah, kultum dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tidak hanya ditujukan terhadap siswa muslim, namun juga melibatkan siswa non-muslim (Kristen). Dalam posisi tersebut siswa Kristen dihadapkan pada benturan identitas. Di satu sisi, mereka tidak mungkin untuk menjati-dirikan identitas keislaman sebagaimana layaknya siswa muslim lantaran agama adalah dogma yang tidak meruangkan keragu-raguan. Mereka hampir tidak mungkin pula keluar dari berbagai program keislaman lantaran hal tersebut merupakan kebijakan daerah dan di sekolah-sekolah umum negeri dijelmakan dalam berbagai aturan dan tata tertib sekolah. Paper ini menghadirkan kajian tentang bagaimana mereka meniru identitas keislaman ruang publik sekolah dan bagaimana pula mereka memaknai proses peniruan tersebut. Berdasarkan hasil-hasil observasi, wawancara, dan FGD dengan pihak sekolah, siswa Kristen, para orang tua mereka, pemuka agama Kristen Kota Padang dan Dinas Pendidikan Kota Padang, paper ini menyimpulkan bahwa bahwa siswa Kristen berusaha meniru untuk “seperti” siswa muslim. Hanya saja berperilaku “seperti” siswa muslim lebih mereka maknai sebatas penyesuaian diri yang tidak ada hubungannya dengan agama. Sementara agama dimaknai sebagai iman dan keyakinan dan itulah agama yang sesungguhnya.]
Makna Pengobatan Tradisional Badewah Suku Dayak Bagi Masyarakat Muslim di Kalimantan Tengah Asmawati Asmawati; Zainap Hartati; Emawati Emawati
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.149 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.740

Abstract

The development of science and technology can not replace the meaning of traditional medicine. Some people choose traditional medicine that have less side effects, is also related to the community's beliefs. Thus, the present study will basically try to answer such questions as: What is a badewah? How is the meaning of badewah for the Moslems communty of Muara Teweh? The study was conducted in North Barito District, Central Kalimantan. The research data consists of language, action, experience and history. The result of research as: badewah is a traditional treatment by praying to the God for healhty. Badewah treats the irrational disease and eternal disease. Muslim community in Muara Teweh choose badewah as an alternative treatment solution and interpreted as a multi-function card. Badewah has been interpreted differently by the patient. The meaning is reflected in their goals and expectations. Dayak tribe believe, if suffering from disease, before or after coming to the doctor or hospital, they are also seeking for alternative treatments such as medicines kampong and traditional healer. [Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa menggantikan makna pengobatan tradisional. Sebagian orang memilih pengobatan tradisional yang memiliki efek samping lebih sedikit, juga terkait dengan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini pada dasarnya akan mencoba menjawab permasalahan: Apa itu badewah? Bagaimana makna badewah bagi umat Muslim di Muara Teweh? Penelitian dilakukan di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Data penelitian terdiri dari bahasa, tindakan, pengalaman dan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan badewah adalah pengobatan tradisional dengan cara berdoa kepada Tuhan untuk kesehatan. Badewah dilakukan untuk mengobati penyakit irasional dan penyakit yang tak kunjung sembuh. Komunitas Muslim di Muara Teweh memilih badewah sebagai solusi pengobatan alternatif dan ditafsirkan sebagai kartu multi-fungsi dan berbeda oleh pasien. Makna pemilihan pengobatan tradisional tercermin dalam tujuan dan harapan mereka. Suku Dayak percaya, jika menderita penyakit, sebelum atau sesudah datang ke dokter atau rumah sakit, mereka juga mencari pengobatan alternatif seperti obat-obatan kampung dan tabib tradisional.]
Potret Harmoni Kehidupan Keagamaan di Kabupaten Bojonegoro Ahmad Zainul Hamdi
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.361 KB) | DOI: 10.15642/religio.v7i1.744

Abstract

This study aims to investigate the reasons why violence and religious conflict occurred in Bojonegoro district do not lead to radical actions. Departing from the fundamental question, “why does violence and religious conflict not extend into radical actions even though the potential for religious radicalization exists and even explode into destructive social conflict?”, this study found that there are two main factors that make religious life among believers in Bojonegoro keep running in balance and harmonious way, namely cultural and structural factors. The most important cultural factor is the existence of cross-cutting affiliation where there are neutral social spaces that make people from different backgrounds meet without being troubled by their primordial identity. Meanwhile, structural factors that prevent radical action and religious conflict are the presence of the State as a neutral and decisive party; institutionalization of assurance of freedom of faith; and the activeness of the State in early prevention and conflict mediation. [ Studi ini bertujuan untuk melihat mengapa di wilayah Bojonegoro kekerasan dan konflik keagamaan nyaris tidak pernah meledak secara berarti. Berangkat dari pertanyaan mendasar, faktor-faktor apakah yang menyebabkan tidak terjadi proses radikalisasi keagamaan, sekalipun terdapat beberapa potensi konflik yang sebetulnya bisa meledak menjadi kekerasan atau konflik sosial yang destruktif, penelitian ini menemukan bahwa ada dua faktor penting yang mampu menjaga kehidupan keagamaan masyarakat Bojonegoro tetap seimbang, yaitu kultural dan struktural. Faktor kultural terpenting adalah bekerjanya cross-cutting affiliation. Terdapat ruang-ruang sosial netral yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda, tanpa dibebani oleh identitas-identitas primordial. Sementara, faktor struktural yang mencegah radikalisasi dan konflik keagamaan adalah hadirnya negara sebagai pihak yang netral dan tegas; institusionalisasi jaminan kebebasan berkeyakinan; dan keaktifan negara dalam melakukan pencegahan dini dan memediasi konflik.]
Revitalisasi Identitas Diri Komunitas Masjid Saka Tunggal Banyumas, Masjid Raya Al Fatah Ambon, dan Masjid Agung Jami’ Singaraja Bali dalam Perubahan Budaya Global Ahmad Salehudin
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.135 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.746

Abstract

This study examines how three communal mosques: Masjid Saka Tunggal Cikakak Banyumas, Masjid Raya Al Fatah Ambon, and Masjid Agung Jami’ Singaraja respond toward globalization. Globalization that is characterized with the territorial demarcations of states’ administration jurisdiction, political currents, economic strata, and religions has shaped global villages with cultural homogeneity as its estuary. Strong cultures tend to crush the vulnerable cultures. These conditions tend to generate a dilemma for the existence of an identity, including the identity of communal mosques. However, communal mosques are not merely a set of inanimate objects which can only passively accept external influences. They are a collection of beings who “tactically” respond to the “strategy” of the global cultural cooptation. The result of this study reveals that communal mosques become a collective awareness of each its individual to respond to and live the life amidst the increasingly uncontrollable wave of global cultures. Global cultures, as long it benefits, are adapted and adopted to strengthen their communal identity and, otherwise, left when they bring disadvantages. In order to protect communal identities, the result of this study offers three ways: habituation and institutionalization of the communal identity, reinforcing the ancestral authority, and affirming the institutional vision and mission. [Penelitian ini mengkaji respon tiga komunitas masjid, yaitu Masjid Saka Tunggal Cikakak Banyumas, Masjid Raya Al Fatah Ambon, dan Masjid Agung Jami’ Singaraja terhadap globalisasi. Globalisasi yang ditandai oleh menghilangnya batas-batas administrasi negara, aliraan politik, strata ekonomi, dan agama telah membentuk kampung global dengan homogenisasi budaya sebagai muaranya. Budaya yang kuat cenderung menggilas budaya yang lemah. Kondisi ini cenderung melahirkan dilema bagi eksistensi identitas, termasuk identitas komunitas masjid. Namun demikian, komunitas masjid bukanlah sekumpulan benda mati yang hanya bisa pasrah menerima pengaruh luar, tetapi sekumpulan mahluk hidup yang “taktik” untuk merespon “strategi” kooptasi budaya global. Hasil penelitian menunjukkan masjid-masjid komunitas menjadi collective awareness para individu untuk merespon dan menjalani kehidupan di tengah samudra budaya global yang semakin tak terkendali. Budaya global diadaptasi dan diadopsi selama bermanfaat untuk menguatkan identitas komunitasnya, dan bersikap acuh jika tidak sesuai atau membahayakan. Untuk melindungi identitas komunitasnya, ada tiga hal yang dilakukan, yaitu melalui pembiasaan dan pelembagaan identitas komunitas, meneguhkan otoritas leluhur, dan peneguhan visi misi lembaga.]
Eksistensi Warok Dan Gemblak di tengah Masyarakat Muslim Ponorogo Tahun 1960-1980 Nia Ulfia Krismawati; Warto Warto; Nunuk Suryani
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.527 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.747

Abstract

Warok is a central figure in the life of Ponorogo Society. The existence, authority, and high social status became a social capital in the perpetuating of an ideology of kanuragan. The groups of Warok has believed that a woman is a source of weakness for mysticists that forces them to resist the lust and avoid a woman. Some of Warok presented a figure of gemblak as diversion of lust as well as an assistant in the various activities. The “menggemblak” behavior was considered not in accordance with religious values and norms because it leads to deviant practices. This study is aimed to analyze the existence of warok and gemblak in the social structure of Ponorogo society and how warok attempted to perpetuate gemblak tradition among the Muslim society as majority. The result showed that the strategic position, social status, and power to influence in the social structure became the social capital to socialize the practice of ablution as kanuragan ideology and it is normal. Meanwhile, the Islamic efforts in shifting the gemblak tradition were carried out through modification of Reog which is considered as an appropriate means of conveying religious values
Implikasi Diskursus Kristianitas dalam Serat Dharmogandhul dan Pemikiran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung terhadap Komunitas Kristen Tegalombo Pati reni dikawati; Sariyatun Sariyatun; Warto Warto
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 2 (2017): September
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.908 KB) | DOI: 10.15642/religio.v7i2.748

Abstract

Javanese Christianity construction is not only built on the basis of biblical interpretation. Discourse and knowledge contained in literary texts show the existence of acceptance capacity, communication patterns and adjustments to the cultural context, as well as the important role of the agency. Dharmogandul manuscript is a text that is part of the construction of ideas, values, ideas, about Christianity that is understood by Javanese people. This study aims to examine the dynamics of the Dharmogandul fiber texts and discourses with genealogy approaches, connect and compare with the thoughts of Kiai Ibrahim Tunggul Wulung as a real life context, as well as psychological figures that provide worldview to the Christian community in Tegalombo, Pati. Exploring Dharmogandul fiber genealogy shows that the text originated from the concept of religiosity, in the historical development there was a shift in the meaning of Dharmogandul fiber in syncretic direction, until it became attached and became part of the comparison of formalistic religion. The results of the study showed some contradictions and comparisons in accommodating the discourse of meeting several religions in the Dharmogandul fiber with the real conditions of the Tegalombo Christian community. [Kontruksi Kristen Kejawen tidak hanya dibangun atas dasar penafsiran kitabiah. Wacana dan pengetahuan yang termuat dalam teks sastra menunjukkan adanya kapasitas penerimaan, pola komunikasi, dan penyesuaian konteks kultur, serta peran penting agency. Serat Dharmogandul merupakan salah satu teks yang menjadi bagian dari kontruksi ide, nilai dan gagasan mengenai kekristenan yang dipahami masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan menelaah dinamika teks dan wacana serat Dharmogandul dengan pendekatan geneologi serta menghubungkan dan membandingkannya dengan pemikiran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung sebagai real life context, sekaligus figur psikologis yang memberikan worldview terhadap komunitas Kristen di Tegalombo, Pati. Jelajah geneologi serat Dharmogandul menunjukkan bahwa teks berawal dari konsep religiusitas kemudian bergesr ke arah sinkretis lalu menjadi bagian dari perbandingan agama formal. Hasil penelitian menujukkan pertentangan dan perbandingan dalam mengakomodasi wacana perjumpaan beberapa agama dalam serat Dharmogandul dengan kondisi riil komunitas Kristen Tegalombo.]
Perilaku Ritual Keagamaan Komunitas Tlasih 87 dalam Menciptakan Hubungan Harmonis Antar Umat Beragama wiwik setiyani khasbullah
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.78 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.750

Abstract

[Bagi masyarakat Jawa, ritual merupakan aktivitas yang sangat penting. Ritual Jawa meliputi nyadran (perayaan desa); procotan (kelahiran bayi); mantenan (upacara pernikahan); dan methil (panen). Masyarakat Tlasih 87 merupakan salah satu dari masyarakat Jawa yang senantiasa melestarikan dan menyelenggarakan ritual-ritual tersebut. Warga masyarakat Tlasih 87 memiliki latar belakang keagamaan yang berbeda, seperti Islam, Kristen, Hindu, dan aliran kepercayaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi antar-anggota kelompok keagamaan berbeda, terutama dalam masyarakat Tlasih 87, dan praktif partisipatif mereka dalam pelaksanaan ritual Jawa. Melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis data, penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat Tlasih 87 memiliki pola perilaku yang harmonis dan memiliki upaya menyatukan sikap kebersamaan yang baik, saling mendukung satu sama lain. Hal tersebut bisa dilihat dari keterlibatan aktif mereka dalam pelaksanaan ritual Jawa.]
Humanisme dalam Serat Jangka Jayabaya Perspektif Javanese Wordview Gusti Garnis Sasmita; Hermanu Joebagio; Sariyatun Sariyatun
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 8 No. 1 (2018): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.051 KB) | DOI: 10.15642/religio.v8i1.751

Abstract

Serat Jangka Jayabaya is a literary work that can be used as a source of historical learning. The local genius of Javanese worldview is reflected in humanism values in the manuscript. Which is much misunderstood by most people even historians. This study uses qualitative research methods that reveal the value of Jayabaya humanism based on content, authorship and axiological manuscripts through interviews and literature studies. The results show that the concept of "jangka" is the guidance as well as the control of Java society in viewing various social phenomena. The guidelines are summarized in the concept of humanism values reflected as knowledge, equity, equality, dignity, and moral ethics.
Harmoni Sosial dalam Tradisi Sedekah Bumi Masyarakat Desa Pancur Bojonegoro Mohammad Thoriqul Huda
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 2 (2017): September
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.907 KB) | DOI: 10.15642/religio.v7i2.753

Abstract

A Culture and society are two things that cannot be separated, both are closely related and go hand in hand. Sedekah bumi is one of the cultural agrarian societies that continues to be maintained from time to time, including the culture of sedekah bumi carried out by the people of Pancur Temayang village in Bojonegoro. Sedekah bumi tradition has become a routine part of the routine carried out every year by the Pancur community as a form of appreciation for God who has bestowed His fortune through abundant crops so that people can fulfill their daily needs. In conducting this research, researchers used a qualitative method with an ethnographic approach as a basis for conducting observations in the field because researchers needed to enter directly into the object of research to explore the meaning and value of tradition understood by the Pancur village community in carrying out the sedekah bumi tradition. Explained that sedekah bumi carried out by the people of Pancur village has several value benefits, including sociological values, namely with the existence of these activities, the social ties of people from various groups unite. Theological value, namely the implementation of the sedekah bumi as an expression of gratitude for maintaining good relations with God. Ecological value, the existence of sedekah bumi carried out in the village spring, give confidence to the community that the existence of the village spring must be preserved, and the existence of the surrounding ecosystem must also be maintained. In addition,sedekah bumi tradition also received a variety of responses from the village community, some agreed and some did not agree with the implementation of this tradition. [Budaya dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling erat berkaitan dan berjalan beriringan. Sedekah bumi adalah salah satu budaya masyarakat agraris yang terus dijaga dari masa ke masa, termasuk budaya sedekah bumi yang dilakukan oleh masyarakat desa Pancur Temayang Bojonegoro. Tradisi sedekah bumi sudah menjadi bagian rutinitas rutin yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Pancur sebagai bentuk pengahargaan terhadap Tuhan yang telah melimpahkan rejeki-Nya melalui hasil panen yang melimpah sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi sebagai pijakan untuk melakukan observasi di lapangan hal ini dikarenakan peneliti perlu masuk secara langsung ke objek penelitian untuk mendalami makna serta nilai tradisi yang dipahami masyarakat desa Pancur dalam melaksanakan tradisi sedekah bumi, adapun hasil penelitian menjelaskan bahwa sedekah bumi yang dilakukan oleh masyarakat desa Pancur mempunyai beberapa manfaat nilai, diantaranya adalah nilai sosiologis, yakni dengan adanya kegiatan tersebut, ikatan social masyarakat dari berbagai golongan bersatu. Nilai teologis, yakni pelaksanaan sedekah bumi sebagai ungkapan syukur untuk menjaga hubungan baik dengan Tuhan. Nilai ekologis, keberdaan sedekah yang dilaksanakan di sendang desa, memberikan kepercayaan pada masyarakat bahwa keberadaan sendang desa harus tetap dilestarikan, dan keberadaan ekosistem di sekitarnya juga harus dijaga. Selain itu tradisi sedekah bumi juga mendapatkan respon yang beragam dari masyarakat desa, ada yang setuju dan ada juga yang kurang setuju dengan pelaksanaan tradisi ini.]

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 2 (2025): September Vol. 15 No. 1 (2025): March Vol. 14 No. 2 (2024): September Vol. 14 No. 1 (2024): March Vol. 13 No. 2 (2023): September Vol. 13 No. 1 (2023): March Vol. 12 No. 2 (2022): September Vol. 12 No. 1 (2022): March Vol. 11 No. 2 (2021): September Vol. 11 No. 1 (2021): March Vol. 10 No. 2 (2020): September Vol. 10 No. 1 (2020): JUNI Vol. 10 No. 1 (2020): March Vol. 9 No. 2 (2019): September Vol. 9 No. 1 (2019): JUNI Vol. 9 No. 1 (2019): March Vol. 8 No. 2 (2018): September Vol 8 No 1 (2018): JUNI Vol. 8 No. 1 (2018): JUNI Vol. 8 No. 1 (2018): March Vol. 7 No. 2 (2017): September Vol. 7 No. 2 (2017): DESEMBER Vol 7 No 2 (2017): DESEMBER Vol. 7 No. 1 (2017): March Vol. 7 No. 1 (2017): JUNI Vol 7 No 1 (2017): JUNI Vol 6 No 2 (2016): DESEMBER Vol. 6 No. 2 (2016): September Vol. 6 No. 2 (2016): DESEMBER Vol. 6 No. 1 (2016): JUNI Vol. 6 No. 1 (2016): March Vol 6 No 1 (2016): JUNI Vol. 5 No. 2 (2015): September Vol 5 No 2 (2015): DESEMBER Vol. 5 No. 2 (2015): DESEMBER Vol 5 No 1 (2015): JUNI Vol. 5 No. 1 (2015): JUNI Vol. 5 No. 1 (2015): March Vol. 4 No. 2 (2014): September Vol 4, No 2 (2014): MUTAWATIR Vol. 4 No. 2 (2014): DESEMBER Vol 4 No 2 (2014): DESEMBER Vol 4 No 1 (2014): JUNI Vol. 4 No. 1 (2014): JUNI Vol. 4 No. 1 (2014): March Vol. 3 No. 2 (2013): DESEMBER Vol 3 No 2 (2013): DESEMBER Vol. 3 No. 2 (2013): September Vol 3 No 1 (2013): JUNI Vol. 3 No. 1 (2013): March Vol. 3 No. 1 (2013): JUNI Vol. 2 No. 2 (2012): September Vol. 2 No. 2 (2012): DESEMBER Vol 2 No 2 (2012): DESEMBER Vol. 2 No. 1 (2012): JUNI Vol. 2 No. 1 (2012): March Vol 2 No 1 (2012): JUNI Vol 1 No 2 (2011): DESEMBER Vol 1, No 2 (2011): MUTAWATIR Vol. 1 No. 2 (2011): DESEMBER Vol. 1 No. 2 (2011): September Vol. 1 No. 1 (2011): JUNI Vol. 1 No. 1 (2011): March Vol 1 No 1 (2011): JUNI More Issue