cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
KAJIAN POPULASI BAKTERI VIBRIO SP. PADA TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANAME (LITHOPENAEUS VANNAMEI) SISTIM SEMI INTENSIF DENGAN PERSENTASE PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA Arifuddin Tompo
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 5, No 1 (2016): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.619 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v5i1.678

Abstract

The study of the population of Vibrio sp isolated from water and sediment in semi-intensive ponds with a different percentage of doses of feed carried on the pond size 2500 m2 as 8 plot consisting of 6 plots the treatment and 2 plots reservoir. Shrimp used size PL 12 with dense stocking 25 tail/m2 maintained for 100 days. The treatments tested were to compare the percentage of feed between day and night. Treatment A = 100% at day and 0% at night, treatment B = 60% at day and 40% during the night, treatment C = 80% at day and 20% during the night. Each treatment was repeated twice. The results showed that population of bacteria in the sediment pond were in the range of 106 to 1012 CFU /mL. While the population of bacteria in water was in the range of 103 to 109 CFU/mL. Populations of Vibrio sp. in the pond sediment for all treatments during the study were in the range of 103 to 105 CFU/ mL. While in aqueous media is still in the range of 101 to 103 CFU/mL for all treatments. In general, bacterial populations are found in both sediment and water pond on the media is still in a safe range for the growth of cultured organisms.
Implementasi Berbagai Jenis Substrat Dasar Sebagai Media Produksi Lawi-Lawi Caulerpa Sp. Dasep Hasbullah; Akmal Akmal; Syamsul Bahri; IGP Agung; Muh. Suaib; Ilham Ilham
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.631 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.543

Abstract

Perekayasaan ini bertujuan untuk mengetahui substrat dasar yang sesuai dan layak terhadap pertumbuhan dan produksi lawi-lawi Caulerpa racemosa.  Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 5 (lima) perlakuan substrat, yaitu; A. Pasir Campur Lumpur (PCL); B. Pecahan Karang Campur pasir (PKCP); C. Pecahan Karang Campur Lumpur (PKCL); D. Pecahan Karang Tanpa Campuran (PKTC) ; dan E kontrol. Pasir Tanpa Campuran (PTC) dengan  4 (empat) kali ulangan, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan biomassa C. racemosa pada semua perlakuan substrat meningkat pada hari ke 7 sampai ke 28. Pada hari ke 8 perlakuan D sebagai kontrol diperoleh pertumbuhan biomassa rata-rata tertinggi 1.912,5 g dan perlakuan E dengan pertumbuhan biomassa rata-rata terendah 1.015 g, lebih rendah jika di bandingkan dengan perlakuan A pertumbuhan biomassa rata-ratanya 1.515,3 g, perlakuan C sekitar  1.105,0 g, dan B rata-rata hanya 1.030,0 g.  Namun, pada hari ke 35 sampai akhir percobaan semua perlakuan mengalami penurunan pertumbuhan biomassa rata-rata sampai akhir perekayasaan.  Sedangkan kandungan karatenoid C. racemosa pada setiap perlakuan substrat diperoleh nilai tertinggi pada perlakuan A  yaitu 0,0013 ppm dan terendah pada perlakuan C. Kandungan karotenoid pada perlakuan A lebih tinggi dibanding dengan perlakuan B dan E sebagai kontrol dan masing-masing 0,011 ppm dan 0,008 ppm. Tingginya kandungan karotenoid yang terdapat dalam tubuh C. racemosa, yakni sebesar 0,0013 ppm, hal tersebut dapat menggangu pertumbuhan C. racemosa. Kata Kunci: Substrat, Pertumbuhan, Biomassa, Caulerpa racemosaEngineering aims to determine the base substrate with suitable and the growth and production lawi-lawi Caulerpa racemosa. The design used in this experiment was completely randomized design (CRD). There are five (5) treatment of the substrate, namely; A. Sand Mix Lumpur (PCL); B. Fractions Mixed Coral sand (PKCP); C. Smithers Reef Mixed Lumpur (PKCL); D. Smithers Coral Without Mix (PKTC); and E control. Without sand mixture (PTC) with 4 (four) times repetition, so there are 20 experimental units. The results showed that the biomass growth of C. racemosa on all treatments substrate increased on day 7 to 28. On day 8 treatment D as control growth of biomass obtained the highest average 1912.5 g and treatment E with biomass growth lowest average 1,015 g, lower when compared with treatment A biomass growth averaged 1515.3 g, approximately 1105.0 g C treatment, and B average only 1030.0 g. However, on day 35 until the end of the experiment all treatments decreased the average biomass growth until the end of engineering. While Carotene content of C. racemosa on each substrate treatment obtained the highest score in treatment A is 0.0013 ppm and the lowest in the treatment of C. The content of carotenoids in treatment A higher compared with treatment B and E as control and respectively 0,011 ppm and 0,008 ppm. The high content of carotenoids found in the body of C. racemosa, which is equal to 0.0013 ppm, it can interfere with the growth of C. racemosa.Keywords: Substrates, Growth, Biomass, Caulerpa racemosa
EFEKTIFITAS LARUTAN MADU DALAM NATRIUM CHLORIDA (NaCl) FISIOLOGIS TERHADAP DAYA TETAS TELUR DAN SINTASAN IKAN LELE (Clarias sp) Mardiana Mardiana; Dahlifa Dahlifa
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 6, No 2 (2017): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v6i2.1305

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh Madu dan NaCl pada pengenceran sperma terhadap daya tetas dan sintasan hidup larva ikan lele (Clarias sp). Metode penelitian yang digunakan adalah telur ikan lele ( Clarias sp) di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai Gowa. Telur ikan lele yang digunakan sebanyak 200 butir telur/wadah. Jumlah wadah penelitian sebanyak 12 buah dengan kapasitas masing-masing wadah sebanyak 15 liter air. Perlakuan yang dicobakan adalah pemberian larutan madu dan NaCl dengan dosis yang berbeda untuk pengamatan daya tetas telur dan sintasan ikan lele. Pada penelitian ini terdapat 4 perlakuan, yaitu tampa pemberian madu + 100 ml NaCl (perlakuan A), pemberian madu 0,2 ml + 99,8 ml NaCl (perlakuan B), pemberian larutan madu 0,4 ml + 99,6 ml NaCl (perlakuan C), dan pemberian larutan madu 0,6 ml + 99,4 ml NaCl (perlakuan D). Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh perlakuan terbaik pada perlakuan dengan dosis madu 0,6 ml + 99,4 ml Nacl dengan sintasan 67%.
Kepadatan yang diberi Probiotik Epicin terhadap Sintasan Pasca Larva Udang Windu (Penaeus Monodon Fabr). Nova Yuniarti
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 1 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.858 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i1.440

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui padat penebaran yang terbaik bagi pasca larva udang windu dengan pemberian dosis epicin 20 ppm. Metode yang digunakan adalah metode percobaan (eksperimen), Pasca Larva udang windu berasal dari panti pembenihan Benur Kita yang berada di Kabupaten Barru. PL udang windu di aklimatisasi dalam salinitas 25 ppt selama seminggu. Air media yang telah disiapkan di-masukkan ke dalam wadah penelitian sebanyak 10 l/tangki. Pada masing-masing wadah diberi aerasi. Sebelum wadah diisi hewan uji terlebih dahulu dilakukan pengukuran kualitas air kemudian diaplikasikan epicin dosis 20 ppm, setelah itu diisi hewan uji sesuai dengan perlakuan yaitu perlakuan A = 10 ekor/l, perla-kuan B = 20 ekor/l, perlakuan c = 30 ekor/l dan perlakuan D = 40 ekor/l. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan peubah yang diukur : sintasan dan pertumbuhan biomassa. Hasil yang diperoleh adalah perlakuan A = rata-rata sintasan 57,95 %, perlakuan B = rata-rata tingkat sintasan 53,01 %, perlakuan C = rata-rata tingkat sintasan 42,83 % dan perlakuan D = rata-rata tingkat sintasan 25,27 %Kata Kunci: Juvenil udang windu, Salinitas, Kepadatan udang windu, Sintasan dan Pertumbuhan Biomassa Mutlak
Perkembangan Populasi Bakteri pada Media Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) dengan Penambahan Sumber Karbon Berbeda Hidayat Suryanto Suwoyo; Bunga Rante Tampangallo
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 4, No 1 (2015): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.297 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v4i1.573

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan sumber karbon yang berbeda  terhadap perkembangan populasi bakteri pada media budidaya udang vaname (L. vannamei) untuk pembentukan bio-flok. Hewan uji yang digunakan adalah udang vaname ukuran PL-27 dipelihara dalam bak terkontrol  berukuran 1 x 1 x 0,5 m3  yang dilengkapi dengan sistem aerasi yang memadai dan ditebar tokolan dengan kepadatan 250 ekor/m2.  Udang ini diberi pakan komersial (pellet) dengan kadar protein 35-40%. Perlakuan yang aplikasikan adalah penambahan jenis sumber C-organik yang berbeda untuk pembentukan bio-flok dalam media budidaya udang vaname yaitu (A) Molase,(B) Tepung Tapioka dan (C) kontrol (Tanpa penambahan C-Organik).  Variabel yang diamati meliputi  bakteri Vibrio dan bakteri umum (total bakteri)  dengan melakukan sampling setiap 2 minggu sekali. Sampel untuk isolasi bakteri Vibrio spp dan total bakteri dikumpulkan dengan menggunakan botol sampel steril kemuadian dimasukkan dalam box yang berisi es batu dan selanjutnya dibawa ke Laboratorium Kesehatan ikan dan Lingkungan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP). Perhitungan populasi bakteri Vibrio spp menggunakan  media TCBSA plate sedang total bakteri  menggunakan media TSA plate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Total Vibrio sp pada kolom air pada awal pemeliharaan berkisar antara 5 x 100 – 2,4 x 102  cfu/mL, kemudian memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat hingga akhir pemeliharan.  Total Vibrio sp pada akhir pemeliharaan di perlakuan A berkisar 1,85-6,8 x 103 cfu/mL, perlakuan B berkisar 3,7-8,3 x 103 dan perlakuan C berkisar 1,3 x 103 – 1,1 x 104. Total populasi bakteri pada awal pemeliharaan berkisar 3,25 x 104 – 1,35 x105, selanjutnya meningkat menjadi 2,20 x 107 cfu/mL pada perlakuan A, sedangkan pada perlakuan B mencapai 6,97 x 106 cfu/mL dan perlakuan C sebesar 2,19 x 106 cfu/mL.  Adanya penambahan sumber karbon kedalam media pemeliharan udang vaname menyebabkan peningkatan populasi bakteri pembentuk bioflokKata Kunci:  bakteri, bioflok, molase, tapioka, udang vaname
Optimasi Tingkat Kerja Osmotik Benih Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes Altivelis) Yang Dipelihara Pada Salinitas Berbeda Hamka Hamka; Zainal Burhanuddin; Faisal Faisal
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.544 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.526

Abstract

Salinitas merupakan  salah satu faktor abiotik penting yang mempengaruhi pertumbuhan organisme akuatik. Kegiatan perekayasaan ini bertujuan untuk mendapatkan salinitas yang optimal dalam pemeliharaan benih ikan kerapu bebek (C.altivelis). Sedangkan sasarannya diharapkan dapat menjadi bahan informasi dalam mengembangkan teknik pemeliharaan benih ikan kerapu bebek sehingga dapat lebih meningkatkan hasil produksi. Kegiatan ini dilakukan dalam waskom dengan volume efektif 40 liter sebanyak empat perlakuan dengan tiga ulangan.  Adapun perlakuannya adalah: Perlakuan A (pemeliharaan dengan salinitas 20 ppt); Perlakuan B (pemeliharaan dengan salinitas 25 ppt); Perlakuan C (pemeliharaan dengan salinitas 30 ppt); dan Perlakuan D (pemeliharaan dengan salinitas 35 ppt). Kegiatan ini dilakukan selama 45 hari dengan padat tebar 20 ekor/waskom.  Pengukuran peubah meliputi Tingkat Kerja Osmotik (TKO), Laju Pertumbuhan (GR), Sintasan (SR) dan Kualitas Air. Nilai TKO rata-rata yang didapatkan adalah pada perlakuan A (216 mOsmol/L H2O); perlakuan B(164 mOsmol/L H2O); perlakuan C (134 mOsmol/L H2O); dan perlakuan D (394 mOsmol/L H2O).  Adapun nilai Laju Pertumbuhan rata-rata yang didapatkan adalah pada perlakuan A (4,83 gr); perlakuan B (5,96 gr); perlakuan C (7,95 gr); dan perlakuan D (3,41 gr).  Sedangkan Sintasan (SR) rata-rata yang didapatkan pada setiap perlakuan adalah perlakuan A (93,33%); perlakuan B (100%); perlakuan C (100%) dan perlakuan D (88,33%).  Hasil pengukuran kualitas air masih menunjukkan kisaran yang layak untuk mendukung kegiatan pemeliharaan benih ikan kerapu bebek.Kata kunci: Osmoregulasi, tingkat kerja osmotik, benih ikan kerapu bebekSalinity is one of the important abiotic factors that affect the growth of aquatic organisms. Engineering activity is aimed to obtain optimal salinity in the maintenance of seed grouper duck (C.altivelis). While the target is expected to be material information in developing techniques grouper seed maintenance duck so as to further increase production. These activities are carried out in a basin with an effective volume of 40 liters a total of four treatments with three replications. The treatment was: Treatment A (with a salinity of 20 ppt maintenance); Treatment B (maintenance with a salinity of 25 ppt); C treatment (maintenance of the salinity of 30 ppt); and Treatment D (maintenance of the salinity of 35 ppt). This activity is carried out for 45 days with stocking density 20 birds / basin. Measurement variables include Osmotic Working Level (TKO), Growth (GR), survival rate (SR) and Water Quality. TKO average value obtained is in treatment A (216 mOsmol / L H2O); treatment B (164 mOsmol / L H2O); treatment C (134 mOsmol / L H2O); and treatment D (394 mOsmol / L H2O). The value of the average growth rate obtained is in treatment A (4.83 g); treatment B (5.96 g); treatment C (7.95 g); and treatment D (3.41 g). While the survival rate (SR) the average obtained in each treatment is the treatment of A (93.33%); treatment B (100%); C treatment (100%) and treatment D (88.33%). Results of water quality measurements still show a decent range to support maintenance activities humpback grouper fish fry.Keywords: Osmoregulation, osmotic work rate, seed grouper duck
EFEKTIVITAS RENDAMAN SERBUK BIJI PEPAYA (Carica papaya L) TERHADAP TINGKAT INFEKSI JAMUR Saprolegnia sp DAN DAYA TETAS TELUR IKAN KOMET (Carassius auratus) Rahmi Rahmi; Nur Insana Salam; Rahmat Hidayat
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 7, No 1 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.688 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v7i1.1807

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis larutan rendaman biji pepaya yang tepat dalam mencegah infeksi jamur Saprolegnia sp dan meningkatkan daya tetas telur ikan komet. Sedangkan manfaat dari hasil penelitiaan ini untuk dijadikan sebagai  pedoman bagi  pengembangan  teknik  pembenihan  ikan  komet  sebagai upaya dalam mengatasi keterbatasan benih ikan komet secara kualitas dan kuantitas.Penelitian ini dilaksanakan di Balai Benih Ikan (BBI) Limbung, Kelurahan Kalebajeng, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Dosis larutan yang digunakan adalah 100 ppm (perlakuan A), 150 ppm (perlakuan B), 200 ppm (perlakuan C), dan 0 ppm (perlakuan D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis rendaman 150 ppm merupakan perlakuan terbaik dengan prevalensi serangan jamur 30% dan daya tetas telur ikan komet mencapai 94,67%. Parameter kualitas air selama penelitian dalam kondisi yang layak penetasan telur ikan komet.
ANALISIS FINANSIAL RUMPUT LAUT DI KELURAHAN BINTARORE KECAMATAN UJUNG BULU KABUPATEN BULUKUMBA Asriyanti Syarif
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 7, No 1 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.43 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v7i1.1803

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui penerimaan, biaya, pendapatan, R/C ratio, serta BEP Produksi dan BEP harga dalam usahatani rumput laut. Penelitian dilakukan di Kelurahan Bintarore  Kabupaten Bulukumba dengan pertimbangan salah satu sentra usaha rumput laut disepanjang pesisir pantai di Sulawesi Selatan dengan memanfaatkan rumput laut Euchema cottoni untuk dibudidayakan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pernerimaan usahatani rumput laut sebesar Rp. 12.812.500/musim, biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp. 4.695.000/musim, dan memberikan pendapatan sebesar Rp. 8.117.500/musim. Hasil analisis finansial secara R/C ratio memberikan nilai 2,72 yang menunjukkan bahwa usahatani rumput laut mengguntungkan karena memiliki nilai lebih besar dari nilai 1. Hasil perhitungan BEP produksi sebesar 375,6 kg yang menunjukkan bahwa rumput laut harus dijual diatas nilai tersebut untuk memperoleh keuntungan. Hasil BEP harga sebesar RP. 4.580/kg yang menunjukkan titik impas harga. BEP produksi dan BEP harga dilapangan lebih besar dari nilai perhitungan menunjukkan bahwa usahatani rumput laut layak diusahakan.
PROSES PENANGANAN IKAN SEGAR PADA SWALAYAN DI KOTA MAKASSAR Sitti Khadijah Yahya Hiola
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 7, No 1 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.877 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v7i1.1804

Abstract

Ikan yang baik adalah ikan yang masih segar, sehingga disukai oleh konsumen. Kualitas ikan segar sangat bergantung pada proses penanganannya. Penanganan yang baik sangat diperlukan untuk tetap menjaga kesegaran ikan, makin lama berada di udara terbuka maka makin menurun kesegarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanganan ikan segar pada swalayan di kota Makassar. Penelitian ini dilakukan dengan observasi, wawancara, diskusi, dan dokumentasi, dengan menggunakan analisis kualitatif deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada beberapa swalayan di kota Makassar selalu menerapkan tahapan-tahapan dalam proses penanganan ikan segar antara lain handling bahan baku yang meliputi pengadaan, ordering, dan penerimaan ikan segar; penyortiran dan grading bahan baku; pencucian dan pengemasan; penyimpanan dan penyajian (display) ikan segar. Penanganan yang disertai pengawasan mutu pada setiap tahapan pengolahan dan penanganan akan memberikan produk yang bermutu baik.
INDEKS BIOLOGI PAKAN ALAMI PADA BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) SEMI INTENSIF DI TAMBAK BETON Sahabuddin Sahabuddin; Hidayat Suryanto Suwoyo
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 7, No 1 (2018): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.846 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v7i1.1800

Abstract

Plankton merupakan pakan alami yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan sintasan udang, sehingga perlu dikaji pada sistem budidaya udang semi intensif di tambak. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji dinamika plankton pada budidaya udang windu (Penaeus monodon) semi intensif di tambak beton.  Penelitian  dilakukan  di tambak percobaan Punaga Takalar, menggunakan 4 petak tambak yaitu tambak beton masing-masing berukuran 1.000 m2. Hewan uji adalah udang windu PL-20 dengan bobot awal rata-rata 0,01 g yang ditebar pada tambak dengan kepadatan 20 ekor/m2. Perlakuan yang diujicobakan yaitu: A) Benur Transfeksi dan  B) Benur Non Transfeksi. Sebelum penebaran udang terlebih dahulu dilakukan persiapan tambak yang meliputi: Pengeringan tambak, pengapuran dengan kapur bakar 2000 kg/ha, pemberantasan hama dengan saponin 20 kg/ha. Untuk menumbuhkan pakan alami dilakukan pemupukan dasar urea dan SP-36 dosis masing-masing 150 kg/ha dan 200 kg/ha.Rancangan penelitian diset dengan dua perlakuan masing-masing dua ulangan.   Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan menyaring air tambak menggunakan plankton net no 25. sebanyak  100 L, kemudian disaring dan dipadatkan menjadi 100 mL, selanjutnya sampel diawetkan dengan menggunakan larutan lugol 1 mL. Identifikasi jenis plankton dilakukan di laboratorium menggunakan mikroskop monitor dengan berpedoman pada  buku  identifikasi plankton dan perhitungannya menggunakan  Sedwick Rafter Counting (SRC). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah total jenis plankton yakni ; 34 jenis di petak A dan 42 jenis di petak B, jumlah jenis fitoplankton yang ditemukan sebanyak 14 di petak A dan 26 jenis di petak B, sedangkan zooplankton terdapat 13 jenis di petak A dan 11 jenis di petak B. Nilai indeks keragaman yang diperoleh pada petak A = 1,0735, dan petak B = 1,0956, Indeks keseragaman petak  A = 0,5646 dan petak B = 0,5024, Indeks dominasi petak A  = 0,3544 dan petak B = 0,3127. Komposisi plankton (fitoplankton dan zooplankton) dan indeks biologi tersebut mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang windu yang dibudidayakan

Page 10 of 27 | Total Record : 270