cover
Contact Name
Syahril Furqany
Contact Email
jurnal.albayan@ar-raniry.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.albayan@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Jl. Syeikh Abdul Rauf Kopelma Darussalam Banda Aceh, Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
The focus of Al Bayan Media Kajian dan Pengembangan Dakwah is Dawah and Social Sciences Editor of Al Bayan Journal accepts scientific articles related to the development of Islam in terms of various aspects so the scope of this journal (Islamic Communication (Tabligh) Islamic Counselling (Irsyad) Dawah Manajemen (Tadbir) Islamic Community Development (Tamkin) that can be correlated with the latest issues of dawah
Articles 150 Documents
Strategi Komunikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Melalui Program Wisata Halal Wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang Arif Ramdan
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 25, No 1 (2019): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v25i1.5338

Abstract

 ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Strategi Komunikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Melalui Program Wisata Halal Wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.” Banda Aceh, Aceh Besar, dan Kota Sabang merupakan destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan baik pelancong lokal maupun mancanegara, namun demikian Aceh sebagai daerah berstatus wilayah syariat Islam, tidak menjadikan kawasan pada tiga wilayah ini sebagai pemenang atau ikon destinasi halal di Indonesia. Kondisi ini patut diteliti bagaimana sebenarnya strategi komunikasi dinas pariwisata dalam mempromosikan wisata halal. Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi Pemerintah Kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang dalam mempromosikan wisata halal dan apa saja hambatan yang dialaminya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yakni meneliti secara mendalam dengan teknik pengumpulan data seperti observasi langsung ke lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dalam hal ini penulis melakukan wawancara dengan beberapa informan, dengan menggunakan teknik purposive sampling.Hasil penelitian, promosi wisata halal di tiga kawasan ini dilakukan dengan strategi komunikasi  oleh  Pemerintah  Kota  Banda Aceh,  Aceh Besar, dan Sabang yaitu:  melakukan  sosialisasi  dan mengenai wisata halal kepada masyarakat, pedagang, dan pemilik hotel. Tiga wilayah ini melakukan promosi dengan memanfaatkan media massa cetak, elektronik dan internet. Pemanfaatan sosial media seperti  Instagram,  Facebook,  dan  Twitter juga menjadi salah satu strategi dalam sosialisasi wisata halal.  Pemanfaatan berbagai  iklan dalam bentuk baliho serta agen-agen promosi seperti duta wisata dan mahasiswa, serta wisatawan itu sendiri. Ketiga kawasan ini memiliki  hambatan  dalam mempromosikan wisata halal ini seperti: minimnya sumber daya manusia yang kompeten  di  bidang  kepariwisataan,  kurangnya  pemahaman masyarakat  akan pengetahuan wisata halal itu sendiri. Khusus Aceh Besar, minimnnya anggaran dan pengetahuan masyarakat menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan wisata halal di Aceh Besar. Kata Kunci : Pariwisata, wisata halal, strategi komunikasi, promosi, hambatan 
KONTRIBUSI DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH INDONESIA ACEH DALAM MENANGKAL KRISTENISASI jasafat jasafat
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 23, No 1 (2017): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v23i1.2063

Abstract

Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Aceh merupakan lembaga kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang dakwah yang mempunyai maksud dan tujuan dibidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan, yakni terwujudnya tatanan kehidupan yang Islami dengan meningkatkan mutu dakwah berasaskan Islam, taqwa dan keridhaan Allah Swt. Serta mengantisipasi pemurtadan dan ghauzul fikri yang terjadi di Aceh. Sehingga akan terwujudnya kehidupan Islami yang jauh dari misi misionaris yang mencoba menghancurkan akidah masyarakat Aceh. Penulisan menunjukkan bahwa peran DDII dalam menangkal Kristenisasi di Aceh belum maksimal, karena banyaknya hambatan-hambatan yang dialami oleh DDII seperti dalam segi dana dan SDM yang terbatas. Sehingga program kegiatan yang telah direncanakan tidak terlaksana secara maksimal, hambatan lain adalah pengurus DDII 99% Pegawai Negri Sipil yang mempunyai kesibukan masing-masing. Meskipun demikian DDII sudah berusaha untuk menangkal dan membatasi ruang gerak Kristenisasi di Aceh.
PERBEDAAN PANDANGAN KEAGAMAAN ULAMA DAYAH zalikha zalikha
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 21, No 2 (2015): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v21i32.421

Abstract

Tulisan ini mengangkat topik “Dinamika Pemikiran Keagamaan Ulama Dayah” Sebagaimana diketahui, khususnya di daerah Aceh, dalam hal pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan berawal dari pendidikan dayah. Dari waktu ke waktu lembaga pendidikan dayah sudah melahirkan banyak ilmuan, khususnya yang ilmuan yang menguasai ilmu-ilmu agama. Tempat-tempat pengajian atau lebih dikenal dengan dayah dalam perkembangannya terus bertambah, baik untuk kaum perempun maupun laki-laki. Namun dalam perkembangannya antara dayah-dayah yang ada tersebut sering kali terjadinya perbedaan pandangan antara teungku dayah, dalam beberapa hal keagamaan khususnya di Kecamatan Montasik, Aceh Besar Besar. Perbedaan pandangan keagamaan yang terjadi di kalangan Teungku dayah di kecamatan Montasik Aceh Besar adalah dalam banyak permasalahan keagamaan, akan tatapi di antara yang kebanyakan permasalahan tersebut ada yang sangat kentara dan ada juga yang tidak memunculkan gejolak dalam masyarakat, maksudnya adalah ada perbedaan-perbedaan yang tensinya tinggi dan ada juga yang tensinya rendah, sehingga masyarakat terlihat biasa-biasa saja dalam kehidupan kesehariannya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perbedaan pandangan keagamaan di kalangan teungku dayah di Kecamatan Montasik Aceh Besar, juga diketahui adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor latar belakang pendidikan yang ditekuni oleh seorang teungku dayah, faktor ide, yaitu sebagian juga mempertahankan idealitasnya, kemudian juga faktor pengalaman yang dilalui oleh seseorang teungku dayah. Kata kunci : Pemikiran, Ulama dan Dayah
GERAKAN DAKWAH SULTAN AGUNG (Arti Penting Perubahan Gelar Sultan Agung Terhadap Gerakan Dakwah di Jawa Pada Tahun 1613 M - 1645 M) Hariyanto Hariyanto
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 24, No 1 (2018): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v24i1.3176

Abstract

The peak of the glory of the Mataram kingdom occurred during the reign of Sultan Agung. He managed to perform da'wah movement to master Central Java, East Java and some areas in West Java. Many strategies of da'wah movement conducted by Sultan Agung. However, the change and the addition of the title by Sultan Agung is one thing that distinguishes the previous Mataram kings. Sultan Agung recorded the changes and the addition of his title ranging from "Panembahan" to "Susuhunan" or "Sunan", to "Sultan" Degree "Susuhunan" or "Sunan" commonly used by the guardian gives charisma (authority) to the king. The title is used karen areas that have mastered the territory of the great Muslim Guardians. The title of "Sultan" which bears Sultan Agung further strengthens himself as a leader as well as a figure of Religion, who has responsibility towards his people and its creator . Complexity of the title that carried the Sultan Agung able to raise its degree and bring social effects for the movement of his da'wah. Areas that did not initially recognize themselves as kings, managed to recognize themselves as kings and submit and obey the king's policies. The complete title of Sultan Agung known as "Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati Ing Alaga Sayyidin Panatagama Khalifatullah" has the meaning that the third Mataram King is a leader who gets the mandate from Allah to organize the life of his people. Keywords: Title, Sultan Agung, Movement of Da'wah
KONSEP KESETARAAN DALAM WACANA AL-QUR'AN (Hubungan Hak dan Kewajiban Laki-laki dan Perempuan) Syukri Syamaun
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 22, No 2 (2016): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v22i34.882

Abstract

Abstrak: Sebagai wujud dari proses penciptaan manusia, Allah telah memberikan masing-masing pihak keragaman dan kelebihan yang satu sama lain. Keragaman dan kelebihan ini bukan merupakan kunci pembeda yang mesti dinilai sakral, melainkan wujud kesetaraan yang saling mengisi satu sama lain. Oleh karena itu, perbedaan peran laki-laki dan wanita hanya bersifat kodrati (alamiah). Artinya, dampak perbedaan anatomi antara laki-laki dan wanita menjadi legalisasi utama dalam menjalankan pelbagai mobilitas fenomena sosial, dan ini perlu upaya penafsiran kembali agar tidak mengandung bias terhadap posisi perempuan yang dipandang sebagai makhluk yang sempurna pula. Kata Kunci: Konsep Kesetaraan, Hubungan Hak dan Kewajiban dan al-Qur’an.
DAKWAH DI INTERNET: KONSEP IDEAL, KONDISI OBJEKTIF DAN PROSFEKNYA Salman Yoga S
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 21, No 1 (2015): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v21i31.148

Abstract

Kemajuan teknologi komunikasi yang dibarengi juga dengan semakin pluralis dan homogennya dalam perkembangan masyarakat muslim modren sangat terbantu dalam mendapat informasi ke-Islam-an melalui media massa, termasuk si’ar dan dakwah agama yang dapat diakses oleh banyak orang dari berbagai tempat di dunia. Fenomena ini yang telah demikian menyatu dengan kehidupan dan perkembangan zaman, sehingga tidak heran dunia saat ini telah menjelma menjadi sebuah “kampung” / global village. Hal ini dimungkinkan dengan hadirnya teknologi komunikasi canggih seperti internet atau yang juga kerap disebut sebagai media Cyber. Dengan metode analisis dari sejumlah literatur dengan membandingkannya dengan kondisi kekinian kajian ini berfokus dan menghasilkan tiga hal: Pertama, sekilas tentang sejarah kemunculan internet sebagai media massa dan konsep ideal. Kedua, kondisi objektifnya sebagai salah satu media yang tengah digandrungi dunia. Ketiga, menyangkut prosfek dan kemungkinan-kemungkinannya menjadi media penyebar luasan ajaran Islam.
Komunikasi Tradisional Efektif Ditinjau dari Aspek Komponen Ade Irma
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 19, No 1 (2013): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v19i27.95

Abstract

Komunikasi itu rumit, pelik, dan terikat oleh budaya. Seseorang memiliki persepsi yang sangat terbatas di mana sebahagian besar orang cenderung etnosentrik, menganut stereotipe dalam berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karenanya ketrampilan komunikasi penting untuk sukses dalam kehidupan dan juga sukses dalam meniti karir. Komunikasi efektif sangat diharapkan bagi semua orang. Dikatakan efektif bila komunikan dapat menerima pesan komunikatornya dengan baik meskipun tidak semestinya harus ada perubahan sikap, namun tergantung dari tujuannya. Dalam proses komunikasi, media yang digunakan cukup beragam, mulai dari media modern sampai kepada media tradisional. Namun demikian, fenomena yang terjadi dewasa ini banyak masyarakat yang belum menyadari bila dalam kesehariannya menggunakan komunikasi tradisional. Lalu, bagaimana seseorang dapat mempertahankan warisan budaya bila masih ada orang-orang yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya orang tersebut masih menggunakan media tradisional, bahkan masih menganggap media tersebut sudah ketinggalan zaman. Padahal media tradisional yang digunakan dalam komunikasi tradisional merupakan identitas dan karakter bangsa maupun daerahnya, di mana seharusnya sebagai masyarakat cukup bangga dengan budaya kolektif yang ada karena tidak ada satu kelompok manapun yang dapat mengklaim dan mengambil warisan budaya tersebut. Sehingga dengan keunikan dan keistimewaan tradisi yang ada perlu suatu upaya untuk melestarikan dan menjadikannya efektif dalam proses komunikasi sehari-hari. Salah satu upaya untuk mencapai komunikasi efektif adalah dengan meninjau komponen-komponen yang melekat dalam sebuah proses komunikasi. Ada enam komponen yang perlu ditinjau ulang sebagai upaya untuk menjadikan komunikasi tradisional berjalan dengan baik. Keenam komponen tersebut adalah komunikator, pesan, media, komunikan, efek, dan gangguan dalam proses komunikasi yang terjadi.
PEMBERIAN SUMBANGAN KEPADA PARA PEMINTA-MINTA PASCA PANEN PADI zalikha zalikha
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 22, No 1 (2016): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v22i33.625

Abstract

One of social and religious problems the issue related to beggar (or well known as gepeng) whose presence is a realty in Montasik District, Aceh Besar. Therefore, this research tries to discuss about “Donation Giving after Paddy Harvest to Beggars in Montasik District Aceh Besar”. In general, the main profession of people in Montasik district is farmer. In terms of educational development, particularly in religious educational sector, it has been built the place to learn Islamic and Quranic Teaching for both male and female. The place is generally called Dayah.The aims of this research are to find out the factors causing the people in Montasik district gave donation to the beggars after paddy harvest. The method used was analytic descriptive approach and this research can be categorized as field research. The object of this research is Montasik District region which consists of 39 gampongs and the key informants were gampong leaders (Keuchik or its staff) and also the people considered could be representatives in data collection process. The techniques in collecting the data were through observation and interview. The sources of data were 15 keuchiks, 1 Camat, some people and villager’s staff considered could give data to the researcher. The findings of this research were the main factor causing people in Montasik district to give donation to the beggars especially after harvest process was they believed that it was part of Islamic teaching related to worship. According to Hadih Maja that they have believed from generation to generation, when giving donation to beggars it is not by seeing to the status of beggars whether they were prosperous than the givers or not. The content of Hadih Maja is: Bek Pesoh Jaro ( which means don’t let anyone who begs donation go without taking anything), Bek Peputoh Asa (which means don’t let them be hopeless because of not getting anything) because it is not suggested in the religious teaching and it can hurt the feeling of the beggars, Nyanke Ata Tanyo (which means according to Islam, what we have given to others, it is actually our reward in hereafter, while what we enjoy in the world will be useless, therefore in is important to save the supply for the sake of hereafter life). Then, many people considered that the upper hand (who gives the donation) is better than the lower hand (who accepts the donation) as what is taught in Islam so that they gave the beggars donation sincerely. After giving donation, they felt they have followed what Islam teaches and they felt happy to be able to help the others. However, if the beggars showed unhappy feeling when accepting a small number of donations from the people, they felt unhappy and intolerant to the beggars.
COPING STRESS PADA WANITA KARIER YANG BERKELUARGA Juli Andriyani
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 20, No 2 (2014): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v20i30.119

Abstract

Keluarga dan pekerjaan yang harus diurus oleh seorang wanita banyak menimbulkan beban psikis dan juga fisik. Sumber stress yang dialami wanita tersebut berbeda-beda, bisa berasal dari internal dan eksternal . Stress akibat tuntutan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga (lelah secara psikis), tekanan yang timbul akibat peran ganda itu sendiri (kemampuan manajemen waktu dan rumah rumah tangga merupakan kesulitan yang paling sering dihadapi oleh para ibu bekerja), pekerjaan di kantor sangat berat, suami dan anak-anak merasa “kurang dapat perhatian”. Sikap dan perilaku pada anak dan suami tidak mungkin disamakan dengan perilaku pada lingkungan kerja. Dalam mengatasi stress akibat peran ganda yang dijalaninya ada berbagai macam cara yang sangat tergantung pada kepribadian, usia, intelegensi dan status social serta pekerjaannya. Coping stress dilakukan para wanita untuk mengurangi reaksi stres yang mereka alami. Coping stress merupakan suatu proses pemulihan kembali dari pengaruh pengalaman stress atau reaksi fisik dan psikis yang berupa perasaan tidak enak, tidak nyaman atau tertekan yang sedang dihadapi. Ada 2 tipe coping yang biasanya dapat menurunkan stress yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping. Individu yang menggunakan problem-focused coping biasanya langsung mengambil tindakan untuk memecahkan masalah atau mencari informasi yang berguna untuk membantu memecahkan masalah. Sedangkan emotion-focused coping lebih menekankan pada usaha untuk menurunkan emosi negatif yang dirasakan ketika menghadapi masalah atau tekanan. Kata Kunci : Copping Stress, Wanita Karier, Keluarga
KONSELING ISLAM LINTAS BUDAYA (Studi terhadap Da’i Perbatasan di Kecamatan Danau Paris, Suro Makmur dan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Aceh) Juli Andriyani; Jarnawi Jarnawi
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 24, No 2 (2018): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v24i2.3755

Abstract

Kondisi masyarakat di daerah perbatasan sangat heterogen baik suku, agama maupun budaya, dimana kondisi ini cenderung menimbulkan berbagai gesekan di tengah masyarakat. Sejumlah Da’i Perbatasan telah disebar di daerah perbatasan Provinsi Sumatera dan Aceh guna menegakan amr makruf nahi munkar. Kompetensi para Da’i Perbatasan sangatlah bervariatif. Kehadiran Da’i Perbatasan diharapkan mampu meredam konflik, menawarkan pandangan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat, menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai lewat pendekatan psiko, sosio, kultural dan religius, sehingga setiap gesekan kecil mampu diredam agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. Akan tetapi, dewasa ini kehadiran dan kinerja Da’i Perbatasan tampaknya belum begitu optimal dalam membantu pemerintah menjaga integritas dan harmonisasi di tengah-tengah keberagaman masyarakat. Tujuan penelitian ini mengungkap permasalahan para Da’i Perbatasan dalam melaksanakan tugasnya, upaya yang telah dilakukan Da’i Perbatasan dalam menghadapi berbagai persoalan yang timbul di tengah masyarakat dan konseling multi-kultur yang telah dilaksanakan para Da’i Perbatasan dalam menjalankan tugasnya. Diketahui bahwa (1) dedikasi Da’i Perbatasan yang lemah, kompetensi keilmuan yang terbatas, keahlian yang kurang mumpuni dan tantangan dari masyarakat yang multi-etnis serta pembinaan muallaf yang belum maksimal, (2) upaya yang dilakukan adalah pendekatan persuasif, dakwah mimbar, pengajian dan membudayakan wirid yasin di desa-desa serta bekerjasama dengan lembaga pendidikan/Dayah dalam mendidik anak-anak muallaf untuk menjadi santri, (3) Da’i Perbatasan selama ini telah berupaya membina hubungan baik dengan warga masyarakat di daerah perbatasan dengan melakukan kunjungan ke rumah warga, menghadiri acara pernikahan dan kematian, melakukan komunikasi di tempat-tempat umum dan warung kopi. Hal ini dilakukan atas inisiatif dan kebiasaan para da’i secara sendiri sendiri.  Keyword : Konseling Islam Lintas Budaya, Da’i Perbatasan

Page 6 of 15 | Total Record : 150


Filter by Year

2013 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 28, No 1 (2022): JURNAL AL-BAYAN: MEDIA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH Vol 27, No 2 (2021): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 27, No 1 (2021): JURNAL AL-BAYAN: MEDIA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH Vol 26, No 2 (2020): JURNAL AL-BAYAN: MEDIA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH Vol 26, No 1 (2020): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 25, No 2 (2019): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 25, No 1 (2019): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 24, No 2 (2018): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 24, No 1 (2018): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 23, No 2 (2017): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 23, No 1 (2017): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 22, No 2 (2016): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 22, No 1 (2016): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 21, No 2 (2015): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 21, No 1 (2015): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 20, No 2 (2014): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 20, No 1 (2014): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 19, No 2 (2013): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 19, No 1 (2013): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah More Issue