cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika)
ISSN : 23017929     EISSN : 25021745     DOI : -
Core Subject : Education,
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) is a semiannual journal, published on March and September. JIPM published by Universitas PGRI Madiun. JIPM provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, and students to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles. The journal invites professionals in study of Mathematics Education, especially teaching and learning, curriculum development, learning environments, teacher education, educational technology , and educational developments.
Arjuna Subject : -
Articles 338 Documents
Implementasi Pendekatan STEM pada materi Statistika Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP Negeri 2 Pagaralam Derra Valentza; Novi Susanti; Indah Widyaningrum
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.22447

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa pada materi statistika setelah diterapkannya pembelajaran dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah Pre- Experimental Designs dengan One Grub Pretest-Postest Design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.I SMPN 2 Pagaralam yang berjumlah 32 orang. Rata-rata pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 70%. Secara rinci, sebanyak 80% siswa mampu memahami informasi yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, 70% bisa menghubungkan konsep dan membuat model matematika, 67% dapat menentukan strategi penyelesaian dengan benar, dan 63% bisa membuat kesimpulan dengan tepat. Hasil penelitian menggambarkan tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dalam konteks pembelajaran berbasis STEM.   The purpose of this study is to determine how critical students’ ability on statistical material is after the implementation of learning with a STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) approach. The design used in this research is Pre- Pre-Experimental Designs with One Grub Pretest-Posttest Design. The subject in this study was class VIII students. i SMPN 2 Pagaralam which amounted to 32 people. The average achievement of students’ critical thinking ability is included in the category of both with a 70% percentage. In detail, as many as 80% of students are able to understand known information and asked in questions, 70% could connect the concept and create mathematical models, 67% of which can determine a settlement strategy properly, and 63% of students can make the conclusions. The results described the level of students’ critical thinking ability in a STEM-based learning context.
Eksplorasi Pemecahan Masalah Geometri Berdasarkan Gender: Studi pada Materi Garis dan Sudut Siswa SMP Ismiyati; Sutama; Nining Setyaningsih; Agus Susanto; Rukman Muslimin
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.22556

Abstract

Pemecahan masalah matematika merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki siswa untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, perbedaan gender sering kali memengaruhi strategi dan keberhasilan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan level kemampuan siswa SMP dalam memecahkan soal cerita matematika berdasarkan jenis kelamin dengan topik garis dan sudut. Pemahaman siswa terhadap masalah yang diajukan, perencanaan pemecahan, langka-langkah yang ditempuh, dan memeriksa kembali hasil tes dieksplorasi dengan teliti secara detail menurut teori Polya. Metode deskriptif-kualitatif dipilih untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai perbedaan antara kemampuan pemecahan masalah antara siswa dan siswi. Kerangka pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada langkah-langkah Polya, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan meninjau kembali hasil. Subjek penelitian terdiri-dari 40 murid kelas VII SMP, tiga laki-laki dan tiga perempuan, yang dipilih berdasarkan kategori kemampuan matematika sedang. Instrumen yang digunakan adalah soal tes pemecahan masalah berbentuk uraian berbasis konteks dan pedoman wawancara semi terstruktur. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas peserta tes berada pada level 1 dan 3 dalam memecahkan masalah dalam bentuk soal cerita matematika. Level kemampuan peserta tes dalam memecahkan masalah dalam bentuk soal cerita dengan materi sudut dan garis berdasarkan gender cukup kompleks untuk dideskripsikan. Hal ini karena diantara mereka hanya terpaut sedikit. Siswa yang berada pada 2 level terendah sebanyak 25%, sedangkan untuk siswi sebanyak 27,5%. Sebanyak 2,5 % siswa berada pada 2 level teratas, dan sebanyak 15% siswi berada pada level 4 dan 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah pada siswi lebih baik dari siswa. Hal ini terlihat ketika siswa perempuan telah memahami masalah dan sudah mampu mengetahui keterkaitan antar topik dan melaksanakan operasi matematis. Hal berbeda ditunjukkan oleh siswa laki-laki belum mampu memahami masalah dan kurang mengetahui keterkaitan antar topik dan melakukan operasi hitung matematis dengan tepat.   Mathematical problem solving is a crucial competency for students to face real-life challenges and advances in science. However, gender differences often influence students' strategies and success in solving mathematical problems. This study aims to describe the level of junior high school students' ability in solving mathematical story problems based on gender with the topic of lines and angles. Students' understanding of the problems posed, planning solutions, steps taken, and re-checking test results are explored carefully in detail according to Polya's theory. The descriptive-qualitative method was chosen to provide a comprehensive picture of the differences in problem-solving abilities between male and female students. The problem-solving framework used in this study refers to Polya's steps: understanding the problem, planning a solution, implementing the plan, and reviewing the results. The study subjects consisted of 40 seventh-grade junior high school students, three boys and three girls, selected based on their moderate mathematical ability. The instruments used were context-based descriptive problem-solving test questions and semi-structured interview guidelines. The results show that the majority of test participants are at levels 1 and 3 in solving problems in the form of mathematical story problems. The level of test participants' ability in solving problems in the form of story problems with the material of angles and lines based on gender is quite complex to describe. This is because there is only a slight difference between them. Students who are at the 2 lowest levels are 25%, while for female students there are 27.5%. As many as 2.5% of students are at the top 2 levels, and as many as 15% of female students are at levels 4 and 5. The results of the study show that the problem-solving abilities of female students are better than male students. This can be seen when female students have understood the problem and are able to identify the relationship between topics and carry out mathematical operations. A different thing was shown by male students who were not yet able to understand the problem and were less aware of the relationship between topics and carrying out mathematical operations correctly.
Pengembangan Media Articulate Storyline Terhadap Motivasi Belajar Materi Luas Bangun Datar Siswa Kelas IV Dhyta Syafira Nur Zahra Kuswandi; Ima Mulyawati
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.22598

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media berbasis Articulate Storyline guna menambah efektivitas pembelajaran peserta didik. Materi yang dikembangkan berfokus pada materi Luas Bangun Datar kelas IV. Media Articulate Storyline dirancang untuk mendorong peningkatan semangat belajar. Penelitian ini menggunakan Research and Development (R&D) dengan metode ADDIE, yang terdiri dari lima tahapan. Pada tahap awal, melakukan wawancara dan observasi. Selanjutnya, kelayakan media ditelaah dosen ahli materi dan media. Subjek pada penelitian ini yaitu 32 peserta didik kelas IV Sekolah Dasar Negeri Cijantung 03 Pagi. Hasil validasi menunjukan media yang telah dikembangkan tergolong sangat layak hasil persentase 92,5% dari ahli media dan 98% dari ahli materi. Uji keefektivitas melalui angket motivasi memperlihatkan bahwa motivasi belajar peserta didik meningkat perolehan sebesar 88%. Berdasarkan temuan ini, media yang dikembangkan tergolong layak untuk menunjang proses pembelajaran serta berkontribusi terhadap motivasi belajar yang meningkat.   This research aims to develop a media based on Articulate Storyline to increase the effectiveness of student learning. The material developed focuses on the Flat Building Area material for grade IV. Articulate Storyline media  is designed to encourage increased enthusiasm for learning. This research uses Research and Development (R&D) with the ADDIE method, which consists of five stages. In the initial stage, conduct interviews and observations. Furthermore, the feasibility of the media is reviewed by lecturers who are experts in materials and media. The subjects in this study are 32 grade IV students of Cijantung State Elementary School 03 Pagi. The validation results show that the media that has been developed is classified as very feasible, as a percentage of 92.5% of media experts and 98% of material experts. The effectiveness test through a motivation questionnaire showed that students' learning motivation increased by 88%. Based on these findings, the media developed is considered feasible to support the learning process and contribute to increased learning motivation.
Pengembangan Game Edukatif “Tico the King” untuk Meningkatkan Kemampuan Numerasi Siswa SD Diana Ermawati; Lovika Ardana Riswari; Indra Lina Putra
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.22744

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan serta efektivitas media pembelajaran interaktif matematika berbasis game bernama TICO THE KING (Mathematics Fun Education for Critical Reasoning) dalam meningkatkan kemampuan numerasi siswa sekolah dasar, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Pengembangan dilakukan dengan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation. Media dirancang menyerupai permainan petualangan yang memadukan unsur edukatif dan hiburan. Subjek penelitian adalah 15 siswa kelas IV SD 1 Peganjaran. Instrumen yang digunakan berupa soal pretest dan posttest, serta dokumentasi. Analisis data melalui uji normalitas, uji Paired Sample T-Test, dan uji N-Gain. Uji kelayakan dilakukan oleh ahli materi, ahli media, praktisi pendidikan, dan ahli bahasa dengan hasil rata-rata kelayakan sebesar 95,5% dan kategori Sangat Layak. Uji efektivitas dilakukan melalui pretest dan posttest yang dianalisis dengan uji normalitas, paired sample T-Test, dan uji N-Gain. Hasil menunjukkan data berdistribusi normal, terdapat perbedaan signifikan antara pretest dan posttest (p < 0,05), serta rata-rata peningkatan kemampuan numerasi sebesar 71,80% termasuk kategori tinggi. Untuk hasil pretest memperoleh rata-rata nilai 43 dan posttest memperoleh rata-rata nilai sebesar 85,8. Dengan demikian, media TICO THE KING dinyatakan layak dan efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan numerasi siswa sesuai prinsip pembelajaran Kurikulum Merdeka.   This study aims to develop and test the feasibility and effectiveness of interactive game-based mathematics learning media called TICO THE KING (Mathematics Fun Education for Critical Reasoning) in improving elementary school students' numeracy skills, especially in the implementation of the Kurikulum Merdeka. The development was carried out using the ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) and 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) models. The media is designed to resemble an adventure game that combines educational and entertainment elements. The feasibility test was carried out by material experts, media experts, education practitioners, and language experts with an average feasibility result of 95.5% and the category "Very Feasible". The effectiveness test was carried out through a pretest and posttest which were analyzed using a normality test, paired T-Test, and N-Gain test. The results showed that the data was normally distributed, there was a significant difference between the pretest and posttest (p <0.05), and an average increase in numeracy skills of 71.80%, including the high category. Thus, the TICO THE KING media is declared feasible and effective for use in improving students' numeracy skills according to the principles of the Independent Curriculum learning.
Komunikasi Matematis Tertulis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Tipe PISA Ditinjau dari Tipe Kepribadian Littauer Vanie Dewi Rosliani; Subanji; I Nengah Parta
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.22849

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi matematis tertulis siswa dalam menyelesaikan soal tipe PISA ditinjau dari tipe kepribadian Littauer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari dua siswa kelas VIII di Malang yang mewakili setiap kepribadian. Instrumen penelitian meliputi angket kepribadian Littauer, soal literasi matematis tipe PISA, dan pedoman wawancara. Identifikasi tipe kepribadian siswa dilakukan menggunakan klasifikasi Littauer yang membagi individu ke dalam empat tipe dominan, yaitu Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis. Dari hasil klasifikasi tersebut dipilih dua tipe kepribadian yang bertolak belakang, yaitu Sanguinis dan Melankolis sebagai fokus kajian penelitian ini. Hasil analisis menjelaskan bahwa siswa Sanguinis mampu memenuhi aspek written text. Siswa Sanguinis mampu menuliskan informasi yang diperoleh menggunakan bahasanya sendiri. Namun, mereka cenderung kurang teliti dalam penyelesaian. Hal ini disebabkan oleh sifat Sanguinis yang cenderung ekspresif namun kurang teliti. Kemudian pada ada aspek drawing, siswa Melankolis mampu menyajikan grafik serta menginterpretasikan pola dalam data yang diperoleh sesuai dengan konteks soal. Pada aspek written text, siswa mampu menuliskan informasi dalam soal dengan bahasanya sendiri, serta menjelaskan nilai yang diperoleh dalam konteks soal. Pada aspek mathematical expression, siswa juga mampu menyatakan informasi soal dalam bentuk model matematika, menuliskan strategi dan menarik kesimpulan dari hasil penyelesaiannya. Sifat perfectionist yang dimiliki siswa Melankolis membuatnya berpikir secara detail dalam menyelesaikan permasalahan matematis.   This study aims to describe students' written mathematical communication in solving PISA-type questions in terms of Littauer personality types. This study employs a descriptive qualitative approach. The research subjects consist of two eighth-grade students in Malang, each representing a different personality type. The research instruments include the Littauer personality questionnaire, PISA-style mathematical literacy questions, and interview guidelines. Student personality types were identified using Littauer's classification, which divides individuals into four dominant types: Sanguine, Melancholic, Choleric, and Phlegmatic. From the classification results, two opposing personality types—Sanguine and Melancholic—were selected as the focus of this study.  The analysis results explain that Sanguinis students are able to fulfill the written text aspect. Sanguinis students are able to write down the information obtained using their own language. However, they tend to be less thorough in their work. This is due to the Sanguinis nature, which tends to be expressive but less thorough. Then, in the drawing aspect, Melancholic students are able to present graphs and interpret patterns in the data obtained in accordance with the context of the question. In the written text aspect, students are able to write down the information in the question using their own language and explain the values obtained in the context of the question. In the mathematical expression aspect, students are also able to express the information in the question in the form of a mathematical model, write down strategies, and draw conclusions from the results of their solutions. The perfectionist nature of Melancholic students makes them think in detail when solving mathematical problems.
The Role of Culturally Responsive Teaching Implementation in The Mathematical Literacy Performance of Junior High School Students Intan Nurlianti; Jarnawi Afgani Dahlan; Al Jupri
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.22974

Abstract

Kemampuan literasi matematis merupakan keterampilan esensial yang harus dimiliki individu dalam menghadapi berbagai tantangan di era abad ke-21. Namun, kemampuan literasi matematis siswa Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah penerapan pembelajaran yang kurang kontekstual, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang terdapat dalam soal literasi matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan pencapaian kemampuan literasi matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain Non-Equivalent Control Group, di mana perbedaan pencapaian literasi matematis dianalisis secara komparatif. Studi ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sampel penelitian terdiri dari 32 siswa kelas eksperimen yang menerima pembelajaran CRT dan 34 siswa kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional. Instrumen pengumpulan data berupa tes kemampuan literasi matematis. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor post-test literasi matematis siswa kelas CRT sebesar 30,91, sedangkan siswa kelas konvensional memperoleh rata-rata skor 22,68, dengan Skor Maksimal Ideal sebesar 50. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik non-parametrik Mann-Whitney pada tingkat signifikansi 5%. Nilai p-value yang diperoleh sebesar 0,003 (< 0,05) mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan dalam pencapaian kemampuan literasi matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan CRT dan siswa yang menerima pembelajaran konvensional.   Mathematical literacy skills are essential for individuals to face the various challenges of the 21st century. However, Indonesian students' mathematical literacy skills are still relatively low. One of the reasons for this is the lack of contextual learning, which makes it difficult for students to understand the information contained in mathematical literacy questions. This study aims to examine the differences in mathematical literacy achievement between students who participated in Culturally Responsive Teaching (CRT) and those who received conventional instruction. The method used was a quasi-experimental design with a Non-Equivalent Control Group, where differences in mathematical literacy achievement were analysed comparatively. The study was conducted during the second semester of the 2024/2025 academic year at a junior high school in Cianjur Regency, West Java. The research sample consisted of 32 students in the experimental class, who received CRT, and 34 students in the control class, who received conventional instruction. The data collection instrument was a mathematical literacy test. The results showed that the average post-test score for mathematical literacy in the CRT class was 30.91, while the conventional class achieved an average score of 22.68, with a maximum ideal score of 50. Data analysis was conducted using the non-parametric Mann-Whitney statistical test at a significance level of 5%. The p-value obtained was 0.003 (< 0.05), indicating a significant difference in mathematical literacy achievement between students who participated in CRT-based learning and those who received conventional learning.
Eksplorasi Konsep Geometri dalam Arsitektur Masjid Raya Pematangsiantar melalui Pendekatan Etnomatematika Nur Syahrani; Eka Khairani Hasibuan
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.23104

Abstract

Etnomatematika merupakan sebuah pendekatan dalam belajar matematika yang mempertimbangkan elemen kebudayaan di mana matematika itu berkembang dengan cara memahami logika dan sistem matematika yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsep geometri digunakan dalam struktur bangunan Masjid Raya Pematangsiantar serta mengungkap makna filosofis yang tersembunyi di dalamnya. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai unsur-unsur matematika yang terdapat pada Masjid Raya Pematangsiantar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data primer dan sekunder yang relevan, guna menelusuri makna filosofi dan nilai budaya yang terkandung dalam arsitektur Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konsep matematika pada Masjid Raya Pematangsiantar yaitu pada bangunan dan makna filosofis terdapat konsep matematika yaitu setengah bola, tabung, prisma segi delapan, persegi panjang, trapesium, segitiga sama sisi dan translasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan studi etnomatematika dan memperkaya pemahaman pembelajaran matematika berbasis budaya dan keagamaan dalam arsitektur Islam.   Ethnomathematics is an approach to learning mathematics that considers the cultural elements in which mathematics develops by understanding the logic and mathematical systems used. This study aims to explore how geometric concepts are used in the structure of the Pematangsiantar Grand Mosque and to uncover the philosophical meanings hidden within. This study identifies various mathematical elements found in the Pematangsiantar Grand Mosque. The method used in this study is a qualitative approach with observation, interview, and documentation techniques to collect relevant primary and secondary data, in order to explore the philosophical meanings and cultural values ????contained in Islamic architecture. The results of the study indicate that there are mathematical concepts in the Pematangsiantar Grand Mosque, namely in the building and philosophical meaning there are mathematical concepts such as hemispheres, cylinders, octagonal prisms, rectangles, trapezoids, equilateral triangles and translations. This research is expected to contribute to the development of ethnomathematics studies and enrich the understanding of cultural and religious-based mathematics learning in Islamic architecture.
Keefektivan Desain LKT untuk Memahami Penentuan Luas WP dan TPC Menggunakan Aturan Simpson 1/3 Wulan Marlia Sandi; Vigih Hery Kristanto; Eka Nurmala Sari Agustina; Tanti Diyah Rahmawati
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v14i1.23164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektivan desain Lembar Kerja Taruna (LKT) dalam membantu taruna memahami perhitungan luas Waterplane (WP) dan Ton per Centimetre Immersion (TPC) menggunakan aturan Simpson 1/3. Permasalahan utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah masih banyaknya taruna yang mengalami kesulitan menghubungkan konsep integral dengan data numerik dalam konteks perkapalan. Penelitian dilaksanakan di Politeknik Pelayaran Surabaya dengan melibatkan 43 taruna Program Studi DIII Teknika dan DIV Teknik Rekayasa Permesinan Kapal (TRPK) sebagai subjek. Metode yang digunakan ialah kombinasi kualitatif dan kuantitatif dengan instrumen berupa catatan lapangan, kuesioner pendapat positif (KPP), dan tes kemampuan kognitif (TKK). Analisis kualitatif dilakukan melalui triangulasi data, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan uji Wilcoxon karena data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah berpusat pada taruna, dosen melaksanakan pembelajaran secara sistematis, dan aktivitas taruna relevan dengan tujuan pembelajaran. Sebanyak 100% taruna memberikan pendapat positif terhadap LKT, serta hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan kognitif setelah pembelajaran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa LKT yang dikembangkan efektif mendukung pemahaman taruna dalam penerapan aturan Simpson 1/3 pada perhitungan WP dan TPC.   This study aims to examine the effectiveness of the Cadet Worksheet (LKT) in helping cadets understand the calculation of the Waterplane (WP) area and Ton per Centimetre Immersion (TPC) using Simpson’s 1/3 rule. The main problem underlying this research is that many cadets still find it difficult to connect integral concepts with numerical data in the context of shipping. The research was conducted at the Surabaya Maritime Polytechnic involving cadets from the DIII Marine Engineering and DIV Ship Machinery Engineering Technology programs as subjects. The method employed was a combination of qualitative and quantitative approaches using instruments such as field notes, a positive opinion questionnaire (KPP), and cognitive ability tests (TKK). Qualitative analysis was carried out through data triangulation, while quantitative analysis used the Wilcoxon test since the data were not normally distributed. The results indicated that the learning process was student-centered, the lecturer implemented the lessons systematically, and cadet activities were relevant to the learning objectives. A total of 100% of cadets gave positive opinions regarding the LKT, and the Wilcoxon test results showed a significant improvement in cognitive ability after the learning process. Thus, it can be concluded that the developed LKT is effective in supporting cadets’ understanding of the application of Simpson’s 1/3 rule in calculating WP and TPC.