cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Struktur Kalimat Bahasa Sunda dalam Artikel Siswa Auliya, Maolidda; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25199

Abstract

The background of this research is the lack of students' understanding of Sundanese sentences, they are considered confused in selecting the spelling, words or appropriate sentence patterns. This research aims to describe the form and structure of sentences in articles written by students. The method used in this study is descriptive with a qualitative approach, with the techniques used in data collecting are test technique and record keeping technique. The result of this research are, first, there is a description of the sentence forms in the article. Second, the structure of Sundanese sentences found in student articels. The result of this research can be used as learning material for teachers to introduce Sundanese grammar to students especially 12th grade in twelve senior high school students IPS 2. AbstrakLatar belakang penelitian ini yaitu kurangnya pemahaman siswa terhadap kalimat-kalimat bahasa Sunda dalam memilih ejaan, kata, ataupun struktur kalimat yang sesuai. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan struktur kalimat dalam artikel karangan siswa. Metode yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu teknik tes dan studi pustaka. Hasil penelitian ini yaitu pertama, adanya deskripsi tentang bentuk-bentuk kalimat yang terbagi menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kedua, struktur kalimat bahasa Sunda yang ditemukan pada artikel siswa SMA kelas XII terdiri atas fungsi dan kategori. Penelitian ini dapat dijadikan bahan pembelajaran guru untuk mengenalkan tata bahasa Sunda kepada siswa khususnya di SMAN 12 Bandung kelas XII IPS 2.
Karakteristik Kepemimpinan Sunda dalam Novel Sejarah Mantri Jero Karya R. Memed Sastrahadiprawira Darajat, Danan; Ruhaliah, Ruhaliah; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25162

Abstract

This research is motivated by the assumption that the Sundanese leadership is still weak, whereas in history recorded the names of great Sundanese leaders and can be used as example for others, such as Prabu Wangi, Niskala Wastu Kancana, and Sri Baduga Maharaja. Likewise in works of fiction, one of which is the main character in the historical novel Mantri Jero. The theories used in this study are Robert Stanton's structural theory, Sundanese leadership theory based on the ancient Sundanese manuscript Sanghyang Siksa Kandang Karesian, and the etnopedagogy theory of R. Hidayat Suryalaga's delay. This study aims to analyze and describe: 1) the story structure of the historical novel Mantri Jero, 2) the characteristics of Sundanese leadership in the historical novel Mantri Jero, and 3) the value of ethnopedagogy in the historical novel Mantri Jero by R. Memed Sastrahadiprawira. The data source of this research is the historical novel Mantri Jero by R. Memed Sastrahadiprawira. The methods and techniques used in this research are descriptive methods, literature review techniques, and documentary studies, while the way to analyze them is using a qualitative approach. The instrument used was divided into two, namely the instrument for collecting data (checklist of source books) and the instrument for processing data (data cards). The results of this study indicate that the historical novel Mantri Jero has a complete story structure, good Sundanese leadership characteristics, and ethnopedagogic values grouped from the characteristics of good Sundanese leadership. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anggapan yang menyebutkan bahwa kepemimpinan orang Sunda masih lemah, padahal dalam sejarah dicatat nama-nama pemimpin Sunda yang hebat dan bisa dijadikan contoh untuk yang lainnya, seperti Prabu Wangi, Niskala Wastu Kancana, dan Sri Baduga Maharaja. Demikian juga dalam karya fiksi, salah satunya yaitu tokoh utama dalam novel sejarah Mantri Jero. Teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teori struktural Robert Stanton, teori tata krama kepemimpinan Sunda berdasarkan naskah Sunda kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan teori etnopedagogi kesundaan R. Hidayat Suryalaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan: 1) struktur cerita novel sejarah Mantri Jero, 2) karakteristik kepemimpinan Sunda dalam novel sejarah Mantri Jero, dan 3) nilai etnopedagogi dalam novel sejarah Mantri Jero karya R. Memed Sastrahadiprawira. Sumber data penelitian ini, yaitu novel sejarah Mantri Jero karya R. Memed Sastrahadiprawira. Metode dan teknik yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif, teknik telaah pustaka, dan studi dokumentasi, sedangkan cara menganalisisnya menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan terbagi dua, yaitu instrumen untuk mengumpulkan data (ceklis buku sumber) dan instrumen untuk mengolah data (kartu data). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel sejarah Mantri Jero terdapat karakteristik kepemimpinan Sunda yang ada pada diri Yogaswara selaku tokoh utamanya. Karakter-karakter tersebut yaitu parigeuing, dasa pasanta, pangimbuhning twah, dan opat panyaraman. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa novel sejarah Mantri Jero mempunyai struktur cerita yang lengkap, karakteristik kepemimpinan Sunda yang baik, dan nilai-nilai etnopedagogi yang dikelompokkan dari karakteristik kepemimpinan Sunda yang bagus.
KUALITAS SOAL PENILAIAN TENGAH SEMESTER MATA PELAJARAN BAHASA SUNDA DI SMPN 2 LEUWISADENG BOGOR Destivani, Vika; Kuswari, Usep; Awaliah, Yatun Romdonah
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25200

Abstract

This research based on the quality of mid-semester test questions in Sundanese language subject which is proposed by the teacher is still not meeting the criteria of validity , reliability, and questions properness,. This research aims to describe the validity level, content validity, and empirical validity (difficulty level and differentiator power), reliability, and questions appropriateness level  of Sundanese language subject in SMPN 2 Leuwisadeng Bogor. This research uses descriptive method, specifically, descriptive and inferential statistics. This methods used descriptive method of quantitative approach.The data for this research are Sunadanese subject mid-term questions and the answer sheets of the first and second semester student year 2018/2019. Furthermore, this research uses documentation study as the technique of the research. Based on the 11 analyzed aspects, the result shows that mid-semester test question content validity of 110 questions that 44 questions are valid, 21 questions are obliged to be revised, and 45 questions should be changed. Empirical Validity based on difficulty level shows that 62 questions are proper, 40 questions should be revised and 8 questions should be changed. Based on the differentiator power shows that 49 questions are proper, 31 questions should be revised, and 30 questions should be substituted. Based on the reliability level, 50% is in good category, 30% is in middle category, and 20% is in the bad category. Therefore, based on validity, either contect valididty or empirical validity (questions’difficulty level and differentiator poer), as well as reliability level, there are 35 proper questions (32%), 50 questions should be revised (45%), and 25 questions should be changed (23%). The conclusion is mid-semester test questions of Sundanese subject in SMPN 2 Leuwisadeng Bogor has’good’ standard of questionsappropriateness. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kualitas soal penilaian tengah semester mata pelajaran bahasa Sunda yang dibuat oleh guru masih belum memenuhi kriteria tingkat validitas, reliabilitas, dan kelayakan soal penilaian tengah semester. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan validitas, baik validitas isi maupun validitas empiris (tingkat kesukaran dan daya pembeda), tingkat relibilitas, dan tingkat kelayakan soal-soal penilaian tengah semester basa Sunda di SMPN 2 Leuwisadeng Bogor. Metode yang digunakan yaitu metode deksriptif dengan pendekatan kuantitatif.  Sumber data dalam penelitian ini didapat dari pengumpulan soal-soal penilaian tengah semester bahasa Sunda dan lembar jawaban siswa semester 1 dan semester 2 taun ajar 2018/2019. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik studi dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian 11 aspek yang telah dianalisis ini yaitu validitas isi soal penilaian tengah semester dari 110 soal yaitu 44 soal valid, 21 soal harus direvisi, dan 45 soal harus diganti. Validitas empiris, berdasarkan kesukaran soal ada 62 soal yang layak, 40 soal direvisi, dan 8 soal harus diganti. Berdasarkan tingkat daya pembeda ada 49 soal layak, 31 soal direvisi, dan 30 soal harus diganti. Berdasarkan tingkat reliabilitas soal Penilaian Tengah Semester ada 50% kategori tinggi, 30% kategori sedang, dan 20% kategori rendah. Oleh sebab itu, berdasarkan validitas,  baik validitas isi maupun validitas empiris (tingkat kesukaran soal dan daya pembeda soal), serta tingkat reliabilitas terdapat kelayakan soal yaitu ada 35 soal yang layak (32%), 50 soal harus direvisi (45%),  dan 25 soal harus diganti (23%). Jadi, soal-soal penilaian tengah semester bahasa Sunda di SMPN 2 Leuwisadeng Bogor mempunyai tingkat kelayakan soal yang “cukup”.
Tata Ruang Kosmologis Masyarakat Adat Kampung Naga berbasis Naskah Sunda Kuno Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25163

Abstract

Cosmologically, humans are seen as the microcosm of the universe whose entire life must always carry out all the torments or teachings of the Sanghyang Darma. That is the ideal human who can reach eternal heaven or nirvana according to the Sanghyang Raga Dewata (SRD) manuscript, one of the lontar manuscripts and the ancient Sundanese language of the sixteenth century AD. The cosmological concept of spatial Sundanese society, based on several Sundanese manuscripts of the XVI century AD, is triad, triune or triumvirate. Sundanese people have a view of parallels between the macrocosm and the microcosm, between the universe and the human world. This order seeks to find the meaning of the world according to its existence. This paper presents the cosmological layout of the Kampung Naga indigenous people, based on the Ancient Sundanese XVI century AD, which is examined through descriptive analysis research methods, and philological and cultural studies methods. The cosmological concept of the Kampung Naga community is closely related to the concept known as Tri Tangtu Di Bumi, which includes ‘tata wilayah', 'tata wayah', and 'tata lampah', all of which are interconnected with one another, according to their customs and traditions. AbstrakSecara kosmologis, manusia dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya, seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa atau ajaran Sanghyang Darma.  Itulah manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga abadi atau nirwana menurut naskah Sanghyang Raga Dewata (SRD), salah satu naskah lontar beraksara dan berbahasa Sunda kuno abad ke-16 Masehi. Konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis, berdasarkan beberapa naskah Sunda abad  ke-16 Masehi, bersifat tiga serangkai, tritunggal atau triumvirate. Masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Dalam tatanan ini, berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya. Tulisan ini menyajikan kosmologis tata ruang masyarakat adat Kampung Naga, berbasis naskah Sunda Kuno abad ke-16 Masehi, yang dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan kajian filologi dan budaya. Konsep kosmologis masyarakat Kampung Naga seperti itu, berkaitan erat dengan konsep yang dikenal dengan sebutan Tri Tangtu di Bumi, yang meliputi ‘tata wilayah’, ‘tata wayah’,  dan‘tata lampah’, yang ketiganya saling berhubungan satu sama lain, sesuai dengan adat dan tradisi mereka.
Analisis Wacana pada Lirik Ntoko Mbojo di Bima, Nusa Tenggara Barat Muslimah, Muslimah
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.22639

Abstract

Abstrak: Tulisan ini merupakan penelitian mengenai nyanyian daerah, di Bima Nusa Tenggara Barat yang disebut dengan Ntoko Mbojo. Tulisan ini mengkaji Ntoko Mbojo dengan menggunakan analisis wacana dalam paradigma etnolinguistik. Metode yang digunakan adalah teknik dasar berupa teknik pancing dan teknik lanjutan yang berupa teknik cakap bertemu muka. Selain itu, pengumpulan data juga menggunakan metode observasi partisipatoris. Struktur wacana Ntoko Mbojo yang dipentaskan semalaman tersebut terdiri dari 17 ntoko (irama) dengan 2 irama yang berulang. Unsur pembentuk Ntoko Mbojo terdiri dari dua unsur yang saling bertautan yaitu unsur irama dan unsur verbal. Sedangkan unsur verbalnya menggunakan bahasa mbojo umum, tetapi terkadang ada sedikit campur kode dengan bahasa Indonesia. Konteks wacana Ntoko Mbojo juga berpengaruh antara lain dari aspek latar, partisipan, hasil, pesan, cara, sarana, norma dan genrenya. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa terdapat kohesi gramatikal (4) dan leksikal (6) dalam wacana Ntoko Mbojo. Sedangkan koherensi yang memadukan sejumlah irama dengan syairnya ialah wacana tentang cinta. Kemudian aspek kebahasaan yang menonjol adalah gaya bunyi aliterasi dan asonansi, gaya bahasa ironi, metafora, repetitio dan pilihan kata. Kata kunci: Ntoko Mbojo; Bima; analisis wacana; kohesi; koherensi     Abstract: This research is a study of the oral traditions, folk song, in the Province of West Nusa Tenggara Bima called Ntoko Mbojo. This study examines the Ntoko Mbojo using discourse analysis in the paradigm of ethno-linguistic. The method used is the basic techniques such as fishing techniques and continue techniques in the form of a conversation face to face. In addition, collecting data is also using participatory observation method. Discourse structure of Ntoko Mbojo performed was consists 17 ntoko (rhythm) with two repetitive rhythm. Ntoko Mbojo elements consist of two intertwine elements, namely the elements of rhythm and verbal elements. Rhythm analysis looks at the short length of the tone, and sometimes steady or not steady. Whereas the verbal element mbojo common language, but sometimes there is a bit of code-mixing with Indonesia language. Contexts of Ntoko Mbojo also influences among aspects like as background, participants, ends, art sequences, keys, instrumentalities, norms and genre. The research also showed that there were grammatical cohesion (4) and lexical (6) in a Ntoko Mbojo discourse. While coherence that combines a number of rhythms with his lyric is a discourse on love. Then the linguistic aspect that stands out is the sound style alliteration and assonance, style irony, metaphor, repetitive and diction. Keyword: Ntoko Mbojo; Bima; discourse; cohesion; coherence  
Struktur Wacana Percakapan dalam Program Obrolan Televisi Fitriah, Nurul Aeni; Sudaryat, Yayat; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 11, No 2 (2020): Vol. 11 No. 2, Oktober 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i2.29149

Abstract

Destructive activities in conversations such as interrupting the speech of an opponent can be negative habits of the speaker and are considered as one of the less ethical attitudes. The aims of the research are to describe the adjacency pairs, the interaction pattern of speaker, and turn-taking distribution markers in television talk show program. The method of this research is descriptive method with observes and record technique, and analysed by using an immediate constituent analysis in four episodes of “Milang Béntang” AKTV program. From the results of the research, the adjacency pair has been found are 379 data including eight standard pairs and four new pairs. The most common form of adjacency pairs is pairs of question-answers with 57% dominance. The interaction pattern of speaker found in 217 data including chain sequence patterns and circular circuit patterns. The interaction pattern of speakers is mostly a pattern of chain sequences with 93% dominance. Turn-taking distribution markers found in 401 data including the questions, orders, and statements. The most marker has been found is the questions marker with 54% dominance. From the results of the research, there has been found four new adjacency pairs including pairs of complain-recognition, praise-acceptance, praise-nonacceptance, and hope-acceptance.AbstrakKegiatan destruktif dalam percakapan seperti menyela atau memotong pembicaraan mitra tutur dapat menjadi kebiasaan negatif para pelaku tuturan dan dianggap sebagai salah satu sikap yang kurang etis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pasangan berdekatan, pola interaksi penutur, dan penanda distribusi giliran berbicara dalam program obrolan televisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik simak catat serta studi pustaka yang dianalisis menggunakan teknik analisis unsur langsung pada empat episode acara “Milang Béntang” AKTV. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 379 data pasangan berdekatan yang meliputi delapan bentuk pasangan baku dan empat pasangan baru. Bentuk pasangan berdekatan paling banyak ialah pasangan pertanyaan-jawaban dengan dominasi 57%. Pola interaksi penutur yang ditemukan sebanyak 217 data mencakup pola rangkaian berantai dan pola rangkaian melingkar. Pola interaksi penutur paling banyak merupakan pola rangkaian berantai dengan dominasi 93%. Penanda distribusi giliran berbicara yang ditemukan sebanyak 401 data mencakup penanda dalam bentuk pertanyaan, perintah, dan pernyataan. Penanda distribusi giliran berbicara paling banyak merupakan penanda dalam bentuk pertanyaan dengan dominasi 54%. Dari hasil penelitian, ditemukan empat pasangan berdekatan khusus dalam kegiatan percakapan masyarakat Sunda yang meliputi pasangan keluhan-pengakuan, pujian-penerimaan, pujian-penolakan, dan harapan-persetujuan.
Stilistika Pantun Dalam Pertunjukan Dambus Septiani, Yeni; Armariena, Dian Nuzulia; Masnunah, Masnunah
LOKABASA Vol 11, No 2 (2020): Vol. 11 No. 2, Oktober 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i2.26771

Abstract

The research aims to determine and describe the stylistics that focus on language style and imaging in the pantun of Dambus. This research uses descriptive qualitative method. Data sources from this study consisted of 4 informants. The techniques used in collecting data are observation, record, interview, and note-taking techniques. The results of the analysis obtained by researchers in the form of language styles amounted to 10 language styles according to their understanding and usefulness, namely, the style of parables, personification, antithesis, hyperbole, paronomasia, euphemism, alliteration, anaphora, anadiplosis, and asonation. While the images in the dambus performance rhymes are 4 images, they are vision, hearing, smell and taste. The use of this pantun will function as it should if someone wants to use it during a dambus performance in circumcision or marriage events. If there are words that make the listener offended in pantun, it is no more than just entertainment, and if there are positive words that can be taken for introspection as well as learning in the field of literature.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan stilistika yang memusatkan pada gaya bahasa dan pencitraan pada pantun petunjukan Dambus.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sumber data dari penelitian ini terdiri dari  4 orang informan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik observasi, rekam, wawancara, dan catat. Hasil analisis yang didapatkan oleh peneliti adalah berupa gaya bahasa berjumlah 10 gaya bahasa sesuai dengan pengertian dan kegunaannya yaitu,  gaya bahasa perumpamaan, personifikasi, antitesis, hiperbola, paronomasia, eufemisme, aliterasi, anafora, anadiplosis, dan asonasi. Sedangkan citraan pada pantun pertunjukan dambus berjumlah 4 citraan, yaitu citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pencecapan. Penggunaan pantun ini akan berfungsi sebagai mana mestinya apabila seseorang ingin menggunakannya pada saat pertunjukan dambus dalam acara khitanan maupun perkawinan. Jika dalam pantun pertunjukan dambus terdapat kata-kata yang membuat pendengar tersinggung itu tidak lebih hanya sekedar hiburan, dan jika ada kata-kata yang positif dapat diambil untuk mengintrospeksi diri maupun sebagai pembelajaran dalam bidang sastra.  
Citra Perempuan dalam Roman Pendek Pileuleuyan Karya Yus Rusamsi Robby, Kaffa Kupita; Isnendes, Retty; Suherman, Agus
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.34148

Abstract

Abstrak: Latar belakang penelitian ini dilandasi oleh anggapan bahwa suara perempuan yang tercurahkan dalam sebuah karya sastra, harus digali dan diketahui secara luas oleh masyarakat.  Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: (1) struktur cerita; (2) citra diri perempuan; dan (3) citra sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan teknik studi pustaka. Sumber data yang digunakan berupa roman pendek yang berjudul Pileuleuyan karya Yus Rusamsi dengan disertai  sumber lain yang mendukung. Hasilnya: (1) struktur cerita meliputi tema, fakta cerita (alur, tokoh/watak, latar) dan sarana sastra (judul dan sudut pandang). Tema roman ini tentang kejiwaan, menggambarkan kesabaran seorang perempuan yang bernama Lili dalam menghadapi cobaan hidup terutama dalam persoalan perasaan, cobaan yang membuat dirinya harus bijak dalam mengambil keputusan. Alurnya campuran, menceritakan kejadian yang sudah berlalu. Latar tempat dari meliputi di rumah, jalan, dan puncak. Latar waktu yang digunakan dalam roman ini yaitu waktu faktual. Latar sosial menggambarkan masarakat kelas atas dan kelas rendah. Ada 13 karakter tokoh yang tergambar dalam roman ini, sedangkan sudut pandang yang digunakan yaitu orang ketiga tidak terbatas; (2) citra diri perempuan meliputi citra fisik dan citra psikis yang digambarkan oleh tokoh dalam roman ini; (3) citra sosial yaitu citra perempuan di keluarga, msalanya dalam kesopanan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota keluarga serta sebagai anggota masyarakat. Kesimpulannya, citra perempuan dalam roman pendek Pileuleuyan menggambarkan sosok perempuan yang tegar dan teguh pendirian dalam mengambil keputusan.Kata kunci: citra perempuan, roman pendek, Pileuleuyan. Abstract: The background of this research is based on the assumption that the voices of women who are poured out in a literary work must be explored and widely known by the public. The purpose of this study is to describe: (1) the structure of the story; (2) self-image of women; and (3) social image. The method used is descriptive analytic with literature study techniques. The data source used is a short novel entitled Pileuleuyan by Yus Rusamsi, accompanied by other supporting sources. The results: (1) the structure of the story includes the theme, the facts of the story (plot, character / character, setting) and literary means (title and point of view). The theme of this romance is about the psyche, depicting the patience of a woman named Lili in facing life's trials, especially in matters of feelings, trials that make her wise in making decisions. The plot is mixed, telling events that have already passed. The setting of the place includes the house, the road, and the summit. The time setting used in this novel is factual time. Social background describes the upper class and lower class society. There are 13 characters depicted in this romance, while the point of view used is that the third person is not limited; (2) the self-image of women includes physical and psychological images that are depicted by the characters in this romance; (3) social image, namely the image of women in the family, for example in politeness and a sense of responsibility as family members and as members of society. In conclusion, the image of the woman in the short romance Pileuleuyan depicts a woman who is steadfast and steadfast in making decisions.Keywords: female image, short romance, Pileuleuyan
Desain Audio E-Book Dongeng Anak Covid-19 Berbahasa Jawa Sebagai Sarana Edukasi Pencegahan Penularan Covid-19 pada Anak-Anak Hasan, Latif Nur
LOKABASA Vol 11, No 2 (2020): Vol. 11 No. 2, Oktober 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i2.28466

Abstract

One thing that must be protected during the Covid-19 pandemic is children. Although many experts say that children are not susceptible to this virus many children are infected and some of them die. Therefore, education is needed to prevent transmission of Covid-19 in children. Education about COVID-19 for children is packaged through an electronic fairy tale book about COVID-19 in Javanese accompanied by audio. This book was developed through development procedures at level 1, namely making designs and design assessments by experts. This study produces a book that is ready to use with expert validation results in the very good category. The validation was carried out by the Javanese language material expert with a score of 3.7. While the design expert validation got a score of 3.78.AbstrakSalah satu yang harus dilindungi pada masa pandemi covid-19 adalah anak-anak. Walaupun banyak ahli yang mengatakan bahwa anak-anak tidak rentan terhadap virus ini, namun kenyataanya banyak anak-anak yang terinfeksi dan beberapa di antaranya meninggal. Oleh karena itu diperlukan sebuah edukasi untuk pencegahan penularan Covid-19 pada anak-anak. Edukasi mengenai covid-19 untuk anak-anak ini dikemas melalui buku dongeng elektronik tentang covid-19 berbahasa Jawa yang disertai audio. Buku ini dikembangkan melalui prosedur pengembangan pada level 1, yaitu membuat desain serta penilaian desain oleh ahli. Penelitian ini menghasilkan buku yang siap digunakan dengan hasil validasi ahli dalam kategori sangat baik. Validasi yang dilakukan ahli materi bahasa Jawa dengan skor 3,7. Sedangkan validasi ahli desain mendapatkan skor 3,78.
Media Realia dalam Pembelajaran Menulis Carita Pondok Sobarudin, Refia Mustikaati; Kuswari, Usep
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.34138

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya minat siswa dalam pembelajaran menulis cerita pendek. Hal ini dapat terlihat dari kurangnya kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan 1) kemampuan menulis cerita pendek siswa sebelum dan sesudah menggunakan Media Realia; 2) kemampuan menulis cerita pendek siswa sebelum dan sesudah tidak menggunakan Media Realia 3) peningakatan kemampuan menulis cerita pendek siswa sebelum dan sesudah menggunakan Media Realia; 4) perbedaan yang signifikan antara kemampuan menulis cerita pendek siswa yang menggunakan Media Realia dan yang tidak menggunakan Media. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen murni (True Experimental Design). Hasil dari penelitian ini adalah 1) kemampuan menulis cerita pendek siswa sebelum menggunakan Media Realia termasuk ke dalam kategori belum mampu (rata-rata 70, 29; KKM ≥ 75), sesudah menggunakan media Realia masuk ke dalam kategori mampu (rata-rata 78,41; KKM ≥ 75); 2) kemampuan menulis cerita pendek siswa sebelum tidak menggunakan Media Realia masuk ke dalam kategori belum mampu (rata-rata 64,14 ; KKM ≥ 75), sesudah tidak menggunakan media Realia masuk ke dalam kategori belum mampu (rata-rata 71,28 KKM ≥ 75); 3) Adanya peningakatan kemampuan menulis cerita pendek siswa sebelum menggunakan media Realia (70,29) dan sesudah menggunakan Media Realia (78,41); 4) adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan menulis cerita pendek siswa yang menggunakan Media Realia dan tidak menggunakan Media Realia hal ini berarti bahwa H0 ditolah dan Ha diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Media Realia efektif digunakan dalam pembelajaran menulis cerita pendek.Kata kunci: cerita pendek, Media Realia, menulis. Abstract: This research is motivated by the lack of student interest in literacy. This can be seen from the lack of students' ability to get ideas for writing short stories. The purpose of this study is to describe 1) the ability to write short stories of students before and after using Realia media; 2) the ability to write short stories before and after students do not use Realia media; 3) an increase in the ability to write short stories of students before and after using Realia media; and 4) measuring the comparison of students' ability to write short stories using Realia media and those not using Realia media. The results of this study are 1) the data obtained from this study after the test of the nature of the data, has a normal (P0,05) and homogeneous (P0,05); 2) the results of hypothesis testing using the t-test show that the ability to write short stories of students who use Realia media P=0,000 (P0,05=significant) and the ability to write short stories of students who do not use Realia media P=0,000 (P0.05=significant); 3) There is an improvement in the ability to write short stories of students before using Realia media (70,29) and after using Realia media (78,41); 4) there is a significant difference between the ability to write short stories of students who use Realia media and those who do not use Realia media. So, it can be concluded that Realia media is effective in learning to write short stories.Keywords: Media Realia, short story, writing.