cover
Contact Name
buhari
Contact Email
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Phone
+6285241919232
Journal Mail Official
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia Telp Kantor/HP : 04013127180 / 085241919232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25026666     EISSN : 25026674     DOI : https://doi.org/10.36709/jpps
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan November. Terbitan awal Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO yaitu Volume 1 nomor 1 Maret 2016. Tujuan dari adanya publikasi pada jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO merupakan wadah ilmiah untuk mempublikasikan berbagai hasil penelitian mahasiswa, dosen, maupun guru, dengan Ruang lingkup Jurnal memuat tentang kajian Pendidikan Sosial-Budaya khususnya aspek: Pendidikan Sejarah, Etnopedagogik, Kajian Sejarah Lokal, Kajian kearifan lokal sebagai modal pendidikan dan penguatan karakter.
Articles 208 Documents
KENAKALAN REMAJA (STUDI DI KELURAHAN BONE LIPU KECAMATAN KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA) Sari, Linda; Jamiludin, Jamiludin
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i2.15465

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan pokok penelitian ini adalah: a) bagaimana bentuk-bentuk kenakalan remaja di Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara?, b) faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja di Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara?, c) bagaimana dampak negatif kenakalan remaja di Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara? Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Dengan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara, observasi, wawancara, dan domentasi. Analisis data menggunakan 3 tahapan yaitu: a) reduksi data, b) penyajian data, c) penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Teknik validitas data dilakukan dengan cara a) triangulasi, b) mengadakan member chek. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Bentuk-bentuk kenakalan remaja khususnya di Kelurahan Bone Lipu diantaranya adalah minuman keras (alkohol), mencuri, perjudian dan perkelahian. 2) Faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja di Kelurahan Bone Lipu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara ada 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 1) Faktor Internal: a) keingintahuan terhadap sesuatu yang baru sangat penting bagi perkembangan remaja, namun apabila keingintahuan tersebut mengarah pada hal-hal yang negatif akan mempengaruhi pergaulan seorang anak remaja, misalnya keingintahuan tentang minuman beralkohol sehingga mengakibatkan remaja terjerumus pada perilaku menyimpang. b) Kurangnya pemahaman keagamaan menyebabkan seseorang dengan sangat mudah terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat negatif seperti terlibat minum-minuman keras (alkohol), perkelahian, dan lain-lain. c) Didikan orang tua sangat penting bagi pembentukan kepribadian seorang anak. Namun, apabila didikan orang tua bersifat otoriter akan memicu terjerumusnya remaja pada perilaku nakal. 2) Faktor Eksternal: a) Keluarga dalam hal ini adalah orang tua yang hanya sibuk dengan kepentingannya tanpa punya waktu untuk anak-anaknya sehingga yang terjadi adalah diskomunikasi  yang dapat menyebabkan anak bergaul dengan siapa saja termasuk anak-anak nakal. b) Faktor lingkungan dan ajakan teman merupakan Salah satu penyebab remaja terjerumus dalam perilaku menyimpang. Faktor lingkungan ini menentukan baik buruknya perilaku seseorang. 3) Dampak negatif kenakalan terhadap kehidupan remaja diantaranya adalah putus sekolah dan hamil di luar nikah. Kata Kunci : Bentuk, Faktor Penyebab, Dampak, Kenakalan, Remaja. ABSTRACT: The main problems of this study are: a) what are the forms of juvenile delinquency in Bone Lipu Village, Kulisusu District, North Buton Regency ?, b) What factors cause juvenile delinquency in Bone Lipu Village, Kulisusu District, North Buton Regency ?, c) what is the negative impact of juvenile delinquency in Bone Lipu Village, Kulisusu District, North Buton Regency? This type of research is descriptive. With the data collection technique is done by means, observation, interviews, and domination. Data analysis used 3 stages, namely: a) data reduction, b) data presentation, c) drawing conclusions or data verification. The data validity technique is done by a) triangulation, b) holding a member check. The results of this study indicate that: 1) The forms of juvenile delinquency, especially in Bone Lipu, are alcohol, stealing, gambling and fights. 2) There are 2 factors causing juvenile delinquency in Bone Lipu Village, Kulisusu District, North Buton Regency, namely internal factors and external factors. 1) Internal factors: a) curiosity about something new is very important for adolescent development, but if this curiosity leads to negative things, it will affect the association of a teenager, for example curiosity about alcoholic drinks that causes adolescents to fall into deviant behavior. b) Lack of religious understanding causes a person to be very easily influenced by something negative, such as being involved in drinking (alcohol), fighting, and so on. c) Parental education is very important for the formation of a child's personality. However, if parental education is authoritarian, it will lead to adolescents falling for naughty behavior. 2) External Factors: a) Families in this case are parents who are only busy with their interests without having time for their children so that what happens is discommunication which can cause children to hang out with anyone, including naughty children. b) Environmental factors and friend invitations are one of the causes of teenagers falling into deviant behavior. This environmental factor determines whether a person's behavior is good or bad. 3) The negative impact of delinquency on adolescent life, among others, is dropping out of school and getting pregnant outside of marriage.  Keywords: Form, Causative Factors, Impact, Delinquency, Adolescents.
TRADISI KAMOMOSE SEBAGAI AJANG MENCARI JODOH DI KELURAHAN GU TIMUR KECAMATAN LAKUDO KABUPATEN BUTON TENGAH Husni, Muhamad Ihram; Darnawati, Darnawati; Hayari, Hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i3.15674

Abstract

ABSTRAK:     Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi kamomose di Kelurahan Gu Timur Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah, 2) Untuk menjelaskan makna simbolik dalam tradisi kamomose di Kelurahan Gu Timur Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah, 3) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kamomose di Kelurahan Gu Timur Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Pengumpulan sumber (heuristik), 2) Kritik sumber (verifikasi), 3) Penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan tradisi kamomose di Kelurahan Gu Timur Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah terdiri dari; a) Tahap persiapan yaitu alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi kamomose adalah: (1) Gendang (ganda dhawa), terbuat dari kulit kambing atau sapi, (2) Mbilolo (gong), terbuat dari kuningan yang dipakai untuk mengiringi acara kamomose, (3) Dhawa-dhawa, merupakan alat musik tradisional yang dipasang didekat mbilolo, (4) Ndengu-ndengu, alat musik tradisional yang terbuat dari kuningan yang terdiri dari tiga buah. b) Tahap pelaksanaan yaitu; (1) Waktu pelaksanaan tradisi kamomose dimulai pukul 20.00 Wita sampai selesai, (2) Kalampi adalah pakaian yang digunakan peserta kamomose, (3) Pu’uno lambu adalah pihak penyelanggara tradisi kamomose, 4) Fopangano adalah peserta yang duduk dalam acara kamomose dan penabur gendang. 2) Makna simbolik yang terkandung dalam tradisi kamomose di Kelurahan Gu Timur Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah yaitu sebagai alat pemersatu untuk membina hubungan keakraban di Kelurahan Gu Timur. 3) Nilai yang terkandung dalam tradisi kamomose di Kelurahan Gu Timur Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah terdiri dari; a) Nilai spiritual yaitu pelaksanaannya disesuaikan dengan aturan-aturan agama, b) Nilai etika yaitu bentuk sikap yang baik agar selalu hidup berdampingan dan saling membantu dan, c) Nilai estetika yaitu memberikan keindahan tersendiri pada semua peserta yang mengikuti tradisi kamomose. Kata Kunci: Tradisi, Kamomose, Mencari Jodoh, Kelurahan Gu Timur ABSTRACT: The objectives of this study are: 1) To describe the process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 2) To explain the symbolic meaning in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 3) To explain the value -values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency. The method used in this research is the historical research method according to Helius Sjamsuddin with the following steps: 1) Source collection (heuristics), 2) Source criticism (verification), 3) Historical writing (historiography). The results of this study indicate that: 1) The process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consists of; a) The preparation stage, namely the tools used in the implementation of the chamomose tradition are: (1) Gendang (double dhawa), made of goat or cow skin, (2) Mbilolo (gong), made of brass used to accompany chamomose events, (3) Dhawa-dhawa, is a traditional musical instrument installed near the mbilolo, (4) Ndengu-ndengu, a traditional musical instrument made of brass consisting of three pieces. b) The implementation stage, namely; (1) When the chamomose tradition starts at 8:00 p.m. until finished, (2) Kalampi is the clothes worn by the chamomose participants, (3) Pu'uno lambu is the organizer of the chamomose tradition, 4) Fopangano is a participant who sits in the chamomose and sower event drum. 2) The symbolic meaning contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, which is as a unifying tool to foster a close relationship in Gu Timur Village. 3) The values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consist of; a) Spiritual value, which is implemented according to religious rules, b) Ethical values, namely a form of good attitude so that they always live side by side and help each other and, c) Aesthetic values, namely giving beauty to all participants who follow the kamomose tradition  Keywords: Tradition, Chamomose, Finding a Match, Gu Timur Village
METATULUNGI SEBAGAI SIKAP PERSAUDARAAN DI DESA KOBURU KECAMATAN BUNGKU SELATAN KABUPATEN MOROWALI M, Rahmi Rafirda; Irawaty, Irawaty
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15677

Abstract

ABSTRAK: penelitian ini bertujuan menjelaskan proses dan mengurakan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam budaya metatulungi di Desa Koburu Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Proses terbentuknya budaya metatulungi sebagai sikap persaudaraan yaitu: (a) perhatian, yaitu seseorang menyadari bahwa adanya keadaan darurat; b) Interpretasi situasi, yaitu menafsirkan situasi sebagai keadaan darurat; c) Mengasumsikan sebagai tanggung jawab, yaitu menganggap bahwa sudah merupakan tanggung jawabnya untuk menolong; d) Pengetahuan dan Keterampilan, yaitu mengetahui dan terampil mengenai apa yang harus dilakukan; e) Pengambilan keputusan, yaitu merupakan tahap yang paling rumit dalam perilaku tolong menolong. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya metatulungi yaitu:  (a) Nilai agama seperti mendapatkan balasan dari manusia dan juga tatkala pentingnya mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT; b) Nilai ekonomi dapat meringankan beban sesama masyarakat yang membutuhkan; c) Nilai sosial merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan adanya keterlibatan manusia lain dalam berbagai aspek kehidupan; d) Nilai persatuan dan kesatuan yang merupakan kebiasaan dalam hal mengerjakan suatu hal yang menciptakan rasa saling memiliki dan menjaga akan kepentingan bersama; e) Nilai kekeluargaan merupakan asas penting yang banyak diterapkan di berbagai tempat, aspek, organisasi dan sebagainya; f) Nilai kebersamaan dimana tolong menolong mencerminkan adanya kebersamaan yang tumbuh dalam lingkungan dan kehidupan masyarakat. Kata Kunci: Proses, Nilai, Metatulungi ABSTRACT: This study aims to explain the process and reduce the social values contained in the metatulungi culture in Koburu Village, Bungku Selatan District, Morowali Regency. The method used in this research is qualitative research methods. The data collection techniques used in this research were observation, interview and documentation. The data analysis techniques used in this study were data reduction, data presentation and conclusion drawing. While the validity of the data used in this study is triangulation. The process of forming the metatulungi culture as a brotherly attitude, namely: (a) attention, that is, someone realizes that there is an emergency; b) Interpretation of the situation, namely interpreting the situation as an emergency; c) Assuming responsibility, namely assuming that it is his responsibility to help; d) Knowledge and Skills, namely knowing and being skilled about what to do; e) Decision making, which is the most complicated stage in helping behavior. The values contained in the metatulungi culture are: (a) Religious values such as getting rewards from humans and also when it is important to get rewards from Allah SWT; b) Economic value can ease the burden on fellow citizens in need; c) Social values are social creatures that cannot live alone, but the involvement of other humans in various aspects of life; d) The value of unity and integrity which is a habit in doing things that create a sense of belonging and protect the common interest; e) Family values are an important principle that is widely applied in various places, aspects, organizations and so on; f) The value of togetherness which helps reflect the existence of togetherness that grows in the environment and community life.  Keywords: Process, Value, Metatulungi
DESA TANGKENO SEBAGAI DESA WISATA DI KECAMATAN KABAENA TENGAH KABUPATEN BOMBANA (1997-2018) Safitri, indah; Hadara, Ali; Hayari, Hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15681

Abstract

ABSTRAK: Tujuan dalam penelitian ini adalah : (1) Untuk mendeskripsikan  Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata di Kecamatan Kabaena Tengah (2) Untuk mendeskripsikan latar belakang terbentuknya Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata di Kecamatan Kabaena Tengah (3) Untuk menjelaskan  tingkat kunjungan wisata ke Desa Tangkeno Kecamatan Kabaena Tengah (4) Untuk menjelaskan prospek pengembangan Desa Tangkeno menjadi Desa Wisata di Kecamatan Kabaena Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang dikemukakan oleh Helius Syamsudin yang terdiri atas 3 tahap yaitu: (1) Heuristik yakni mencari sumber melalui wawancara,studi kepustakaan, dan penelitian lapangan, (2) Kritik sumber terdiri atas kritik eksternal dan kritik internal guna mendapat data yang akurat, (3) Historiografi yang di maksudkan dalam bentuk tulisan secara sisitematis dan kronologis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Desa wisata Tangkeno adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana, terletak disebelah utara Gunung Sabampolulu. Dinobatkan sebagai desa wisata menjadikan Tangkeno sebagai ikon pariwisata Kabupaten Bombana. Kekayaan pesona alam, keunikan adat dan budaya, keunikan adat dan budaya diyakini mampu menarik dan memanjakan mata wisatawan yang berkunjung ke Desa yang juga dikenal dengan sebutan Negeri di Awan ini. (2) Latar belakang terbentuknya Desa Tangkeno adalah pada mulanya Desa Tangkeno masih bergabung dengan beberapa desa lainnya yaitu Enano, Lengora, dan Tangkeno yang dinamai dengan kepala desa gabungan. Pada saat perubahan sistem pemerintahan dari kepala gabungan menjadi desa maka Desa Tangkeno akhirnya dimekarkan di bawah pemerintahan Kabupaten Buton. (3) Tingkat kunjungan wisata ke Desa Tangkeno dapat dilihat sejak dari diresmikannya menjadi Desa Wisata, Tangkeno cukup banyak menarik para wisatawan untuk berkunjung baik wisatawan lokal, maupun wisatawan asing hal ini dapat dilihat dari meningkatnya tingkat kunjungan para wisatawan. (4) Prospek pengembangan Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata membutuhkan strategi pengembangan yang kuat dan ditinjau dari aspek kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Kata Kunci: Perkembangan, Desa Wisata Tangkeno ABSTRACT: The objectives of this study are: (1) To describe Tangkeno Village as a Tourism Village in Kabaena Tengah District (2) To describe the background of the formation of Tangkeno Village as a Tourism Village in Kabaena Tengah District (3) To explain the level of tourist visits to Tangkeno Village Kabaena Tengah District (4) To explain the prospect of developing Tangkeno Village into a Tourism Village in Kabaena Tengah District. The method used in this research is the historical method proposed by Helius Syamsudin which consists of 3 stages, namely: (1) Heuristics, namely finding sources through interviews, literature study and field research, (2) Source criticism consists of external criticism and internal criticism. in order to obtain accurate data, (3) Historiography which is meant in writing systematically and chronologically. The results of this study indicate that: (1) Tangkeno tourism village is one of the villages located in Kabaena Tengah Subdistrict, Bombana Regency, located north of Mount Sabamp Honolulu. Having been named a tourist village, Tangkeno is a tourism icon for Bombana Regency. The wealth of natural charm, uniqueness of customs and culture, uniqueness of customs and culture is believed to be able to attract and spoil the eyes of tourists visiting this village which is also known as the Land of the Clouds. (2) The background for the formation of Tangkeno Village was that at first Tangkeno Village was still joined by several other villages, namely Enano, Lengora, and Tangkeno which were named after the joint village head. When the government system changed from a joint head to a village, Tangkeno Village was finally expanded under the Buton Regency administration. (3) The level of tourist visits to Tangkeno Village can be seen since the inauguration of a Tourism Village, Tangkeno has attracted quite a lot of tourists to visit both local and foreign tourists, this can be seen from the increasing level of tourist visits. (4) Development prospects Tangkeno Village as a Tourism Village requires a strong development strategy in terms of strengths, weaknesses, opportunities and challenges.  Keywords: Development, Tangkeno Tourism Village
SEJARAH TARI MODERO PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LASUNAPA astima, astima; anwar, anwar
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19070

Abstract

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mendeskripsikan latar belakang munculnya tari  Modero pada masyarakat Muna di Desa Lasunapa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna. 2) Untuk menjelaskan proses pelaksanaan tari Modero pada masyarakat Muna di Desa Lasunapa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna. 3) Untuk menjelaskan perubahan pelaksanaan tari Modero pada masyarakat Muna di Desa Lasunapa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna. Motode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan tahap-tahap sebagai berikut: 1) Pengumpulan sumber. 2) Kritik sumber yang terdiri dari kritik eksternal dan kritik internal, dan 3) Penulisan sejarah. Kajian pustaka dalam penelitian ini terdiri dari kerangka konsep dan kerangka teori,  kerangka konsep yang digunakan yaitu konsep sejarah, konsep perubahan Kebudayaan dan konsep seni tari. Sedangkan teori yang digunakan yaitu teori pertumbuhan budaya dan teori perubahan kebudayaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Latar belakang munculnya tari Modero di Desa Lsunapa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna berasal dari daerah Sulawesi Tengah. Pertama kali dibawakan oleh Raja Muna yang bernama Baidillzamani pada tahun1460. Setelah Baidullzamani menikah dengan putri Raja Sulawesi Tengah yaitu Tandi Abe, seni tari Modero sudah mulai dilaksanakana pada acara pernikahan dan upacara adat. 2) Proses pelaksanaan tari  Modero pada masyarakat Muna di Desa Lasunapa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna dipertunjukan pada upacara Katoba, Kakawi, Kampua, dan  Kalempagi. Pakaian yang digunakan pada tari Modero yaitu baju sehari-hari dan sarung Bhia-bhia atau disebut dengan Kamoru. Namun sesuai dengan perkembangannya, tari  Modero hanya menggunakan baju sehari-hari baik itu penari perempuan maupun penari laki-laki. 3) Perubahan pelaksanaan tari Modero di Desa Lasunapa Kecamatan Duruka Kabupaten Muna yaitu dilihat dari waktu pelaksanaan, tata cara pelaksanaan, tata cara pelaksanaannya serta pakaian yang digunakan tergantung dari orang yang membutuhkan tarian ini atau bisa dikatakan bahwa disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kata Kunci: Sejarah, Masyarakat, Tari Modero
PERAN ORANG TUA DALAM MEMBENTUK NILAI KARAKTER PADA ANAK USIA REMAJA Suprianto, Aswar
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19160

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk menjelaskan peran orang tua dalam membentuk nilai karakter pada anak usia remaja di Kelurahan Wolulu. (2) Untuk mendeskripsikan apa yang menjadi penghambat orang tua dalam membentuk nilai karakter pada anak usia remaja di Kelurahan Wolulu. Penelitian ini mengunakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi. Kemudian data terkumpul berupa kata-kata dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatifHasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Peran orang tua dalam membentuk nilai karakter pada anak usia remaja di Keluraha Wolulu yaitu yang pertama a. Memberikan teladan dan pengajaran dengan membentuk karakter religius, karakter kedisiplinan, karakter gemar membaca b. Memberikan penghargaann dan hukuman. Orang tua dalam membentuk nilai karakter pada anak remaja dengan memberikan penghargaan baik berupa pujian ataupun hadiah bagai anak mereka yang menuruti perintah orang tua dengan berperilaku baik namun sebaliknya orang tua akan memberi hukuman kepada anak mereka yang tidak berperilaku baik. (2). Hambatan orang tua dalam membentuk nilai karakter pada anak usia remaja di Kelurahan Wolulu yaitu Faktor internal, yaitu faktor dari dalam keluarga seperti faktor kesibukan orang tua. Faktor eksternal yaitu faktor pertemanan remaja dan pengaruh media massa dan online. Kata kunci: Orang Tua, Remaja, dan Nilai Karakter.
PENYEBAB RENDAHNYA HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 AGAST KABUPATEN ASMAT Salawani, Salawani; Jamiludin, Jamiludin
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19316

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor penyebab rendahnya hasil belajar sosiologi dan untuk mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar sosiologi pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri1 Agast. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yaitu suatu bentuk penelitian dimana data yang dikumpulkan terutama berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki arti guna menggambarkan situasi yang sebenarnya untuk mendukung penyajian data. Hasil dari penelitian ini   adalah: (1) Faktor-faktor penyebab rendahnya hasil belajar sosiologi pada siswa Kelas XI   IPS SMA Negeri 1 Agast yakni faktor internal, yaitu dari kurangnya kedisiplinan siswa dalam memperhatikan pelajaran, dan juga kondisi kesehatan yang sering dialami siswa disebabkan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Faktor eksternal yakni kurangnya persiapan guru dalam proses pembelajaran ditandai dengan kurangnya pelatihan serta fasilitas guru yang belum memadai, serta kondisi lingkungan belajar dan juga tempat tinggal peserta didik yang tidak memadai (2) Upaya yang dilakukan guru sosiologi dalam mengatasi rendahnya hasil belajar sosiologi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Agast adalah (a) pengelolaan kelas yang dilakukan dengan menciptakan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik, (b)  Penggunaan  metode  dan  media  pembelajaran yang efektif dan efisien, (c) Penilaian hasil belajar  siswa, selalu mengukur keberhasilan  siswa dalam proses pembelajaran, (d) Program remedial dan pengayaan, dilakukan memperbaiki  hasil  belajar  yang  diperolah  oleh  peserta  didik.
ANALISIS PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI DESA POLENGA KECAMATAN WATUBANGGA KABUPATEN KOLAKA Hermianti, Hermianti; Halim, Muliha; hayari, hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.20005

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini ialah: 1) Untuk mendeskripsikan pendapatan petani jagung dalam satu periode penanaman jagung di Desa Polenga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka. 2) Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani jagung di Desa Polenga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Teknik pengumpulan data terdiri dari wawancara, angket dan dokumentasi 2) Teknik analisis data yaitu persentase dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Dengan jumlah informan 15 orang dilihat bahwa pendapatan yang efisien/menguntungkan yaitu Sirang dengan jumlah 2,97 dan Hasrida 2,70 dengan luas lahan 1 Ha. Hasil ini didapatkan setelah melakukan tes rasio pada masing-masing  informan. Sedangkan pendapatan yang terendah setelah melakukan tes rasio yaitu Tadi dengan jumlah 2,22, Zakaria 2,27, dan Asdar dengan jumlah 2,29 dengan luas lahan masing-masing 800 m2. Untuk informan dengan luas lahan tertinggiyaitu Ruspardi dengan luas lahan 2 Ha, setelah menggunakan rumus rasio yang didapatkan yaitu 2,42 yang berarti keuntungan yang didapatkan Ruspardi cukup tinggi namun tidak sebanyak yang didapatkan oleh informan Sirang dikarenakan harga jual jangung yang berbeda. Dan informan Ruspardi mempunyai biaya pengeluaran yang tinggi karena semakin luas lahan yang ditanami jagung maka semakin banyak pula biaya yang dikeluarkan sehinggaa pendapatan menguntungkan namun tidak terlalu tinggi. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pendapatan petani jagung di Desa Polenga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka, yaitu: (a) faktor luas lahan, (b) faktor cuaca, (c) faktor benih, (d) faktor pestisida, (e) faktor pupuk, (f) faktor harga.
SEJARAH BENTENG LANGKAMELU-MELU DI DESA METINGKI KECAMATAN PASIR PUTIH KABUPATEN MUNA TAHUN 1300-2018 Herman, La; Mursidin, Mursidin
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.20095

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang, mendiskripsikan struktur serta menjelaskan fungsi Benteng Langkamelu-Melu. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan sumber lisan dan sumber visual. Metode yang digunakan adalah metode sejarah  yang terdiri dari (1) heuristik, (2) kritik sumber dan (3) historiografi. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Latar belakang berdirinya benteng Langkamelu-Melu adalah hasil gagasan atau ide yang fundamental pada seorang raja Koa Ching yang dituangkan melelui karya nyata manusia untuk melindungi diri dan sanak keluarganya dari gangguan manusia lainya bahkan dari binatang buas. (2) Benteng Langkamelu-Melu memiliki struktur yang unik dimana masing-masing kutub memiliki tinggi dan tebal yang berbeda-beda, selain itu Benteng Langkamelu-Melu dibangun diatas batu-batu besar sebagai dasar dan  diapit oleh batu-batu besar pula. Bahan material dasar yang digunakan untuk mendirikan benteng Langkamelu-Melu adalah jenis batu kapur atau batuan sedimen, benteng Langkamelu-Melu berada diatas bukit hal ini di peruntunkan melihat atau memantau pergerakan lawan atau kerajaan lain yang akan menyerang, benteng ini sebagai benteng pertahanan. Benteng Langkamelu-Melu berbentuk persegi panjang dengan panjang 150 m2 dan lebar 70 m2 dengan luas 10.500 m2 dan keliling 440 m2, susunan batu dalam penbangunan benteng Langkamelu-Melu dimulai dengan batu yang sangat besar sampai dengan batu kecil yang serukuran kepalan anak kecil, benteng Langkamelu-Melu memiliki dua pintu gerbang (lawa) dibagian Timur dan bagian Barat. (3) Fungsi Benteng Langkamelu-Melu sebagai pusat pertahanan dan pemukian masyarakat setempat guna melindungi diri dan keluarga dari gangguan keamanan dan binatang buas yang sewaktu-waktu menyerang.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS 〖XI〗^B IPS DI SMA NEGERI 2 PARIGI Indomanan, Nurfardila; Mursidin T, Mursidin T; Hak, Pendais
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i1.13170

Abstract

ABSTRAK: Tujuan dari penelitian ini yaitu Untuk meningkatkan aktivitas mengajar guru Sejarah kelas IPS di SMA Negeri 2 Parigi melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah di kelas IPS di SMA Negeri 2 Parigi model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah di kelas IPS di SMA Negeri 2 Parigi melalui model pembelajaran kooperatif Tipe Make A Match. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Make A Match. Penelitian ini dilaksanakan dua siklus. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IPS SMA Negeri 2 Parigi dengan jumlah siswa 21 peserta didik, yang terdiri dari 15 peserta didik laki-laki dan 6 peserta didik perempuan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan peningkatan pada aktivitas mengajar guru, aktifitas belajar siswa dan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Aktivitas mengajar guru pada siklus I mencapai persentase keberhasilan 64,28% meningkat pada siklus II menjadi 92,85%, aktifitas belajar siswa dari siklus I mencapai persentase keberhasilan 54,54% meningkat pada siklus II dengan persentase keberhasilan mencapai 90,90%, kemudian hasil belajar siswa dari siklus I mencapai persentase ketuntasan yang diperoleh 47,61%, pada siklus II meningkat dengan persentase ketuntasan 85,71% atau sebanyak 18 dari 21 siswa yang tuntas (mencapai nilai KKM) secara individual dengan mendapat nilai ≥75. Kata Kunci: Kooperatif Tipe Make A Match, Hasil Belajar SiswaABSTRAC: The purpose of this study is to improve teaching activities of the class history teacher (XI) ^ B IPS in SMA Negeri 2 Parigi through the cooperative learning model Type Make A Match. To increase student learning activities on the history subject in class (XI)^ B IPS in SMA Negeri 2 Parigi Cooperative learning model Type Make A Match. To improve student learning outcomes in the subject of History in the class (XI) ^ B IPS in SMA Negeri 2 Parigi through the cooperative learning model Type Make A Match. This type of research is Classroom Action Research (CAR) by applying the Make A Match cooperative learning model. This research was conducted in two cycles. This research consists of several stages, namely: (1) Planning, (2) Implementation, (3) Observation, (4) Reflection. The subjects of this study were the teacher and students of class XI IPS B Public High School 2 Parigi with a total of 21 students, consisting of 15 male students and 6 female students. Based on the results of the study showed an increase in teacher teaching activities, student learning activities and student learning outcomes from cycle I to cycle II. Teacher teaching activities in the first cycle reached a percentage of success 64.28% increased in the second cycle to 92.85%, student learning activities from the first cycle reached a percentage of success 54.54% increased in the second cycle with a percentage of success reaching 90.90%, then student learning outcomes from the first cycle reached the percentage of completeness obtained 47.61%, in the second cycle increased with a percentage of completeness 85.71% or as many as 18 of 21 students who completed (reaching KKM scores) individually by getting a value of ≥75.Keywords: Cooperative Type Make A Match, Student Learning Outcomes 

Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO More Issue