cover
Contact Name
buhari
Contact Email
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Phone
+6285241919232
Journal Mail Official
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia Telp Kantor/HP : 04013127180 / 085241919232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25026666     EISSN : 25026674     DOI : https://doi.org/10.36709/jpps
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan November. Terbitan awal Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO yaitu Volume 1 nomor 1 Maret 2016. Tujuan dari adanya publikasi pada jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO merupakan wadah ilmiah untuk mempublikasikan berbagai hasil penelitian mahasiswa, dosen, maupun guru, dengan Ruang lingkup Jurnal memuat tentang kajian Pendidikan Sosial-Budaya khususnya aspek: Pendidikan Sejarah, Etnopedagogik, Kajian Sejarah Lokal, Kajian kearifan lokal sebagai modal pendidikan dan penguatan karakter.
Articles 208 Documents
INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT PENDATANG DENGAN MASYARAKAT LOKAL DI DESA LAWORO sadi, La; Untarti, dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.20100

Abstract

Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskipsikan interaksi sosial yang terjadi antara orang Bugis dan orang Muna di desa Laworo, (2) Untuk mengindentifikasi bentuk interaksi sosial antara orang Bugis dan orang Muna di desa Laworo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi, teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengamatan. Analisis data dilakukan melalui model interaktif yang terdiri dari a) reduksi, b) penyajian data, c) penarikan kesimpulan. Validitasi data yang terdiri dari a) perpanjangan pengamatan b) triangulasi, triangulasi sumber, triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Interkasi social yang terjadi antara masyarakat local dan masyarakat pendatang di Desa Laworo berjalan dengan baik. Tidak ada diskrimasi dalam interaksi social. Justru sebaliknya, interkasi yang terjadi semakin meningkatkan keeratan dalam hubungan bermasyarakat antara masyarakat local dan masyarakat pendatang. Terdapat banyak bentuk interaksi social yang terjadi antara masyarakat local dan masyarakat pendatang di Desa Laworo Kecamatan Tikep Kabupaten Muna Barat. Bentuk interkasi social yang terjadi diantaranya adalah membangun masjid, membuka lahan baru, pesta panen, membantu acara hajatan hingga memperbaiki balai desa. Semua bentuk interaksi ini dilakukan secara bersama-sama dengan tujuan untuk mempererat persaudaraan antara masyarakat local dan masyarakat pendatang. Tidak ditemukan sama sekali kendala dalam interaksi social yang terjadi antara masyarakat local dan masyarakat pendatang. Hal ini dikarenakan pada dasarnaya baik masyarakat local dan masyarakat pendatang telah paham bagaimana cara bermasyarakat yang baik.
SEJARAH BENTENG LIPU OGENA DI KELURAHAN TAKIMPO KECAMATAN PASARWAJO KABUPATEN BUTON (ABAD XVI-XX) Salwiarni, Salwiarni; Jamiludin, Jamiludin
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i2.13182

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Apa yang melatar belakangi pembangunan benteng Lipu Ogena? (2)  Bagaimana struktur fisik benteng Lipu Ogena? (3) Bagaimana fungsi benteng Lipu Ogena bagi masyarakat Takimpo pada masa lampau dan masa kini? (4) Apa saja peninggalan sejarah yang terdapat didalam benteng Lipu Ogena? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Heuristik (Pengumpulan Sumber), yang dilakukan dengan teknik pengamatan, wawancara dan studi dokumen, (2) Kritik, yang dilakukan melalui kritik eksternal dan kritik internal, (3) Historiografi, yang dilakukan secara sistematis melalui tahap interpretasi, eksplanasi, dan ekspose. Dalam tinjauan pustaka penulis menggunakan konsep kebudayaan, konsep benteng, fungsi benteng dan konsep peninggalan sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang pembangunan benteng Lipu Ogena adalah sangat erat kaitannya dengan strategi pertahanan dan keamanan guna melindungi masyarakat yang bermukim di tempat itu dari segala ancaman musuh. Dalam menghadapi situasi yang demikian sulit, maka penguasa di Lipu Ogena mendirikan benteng Lipu Ogena. (2) Struktur fisik benteng Lipu Ogena merupakan benteng pertahanan yang strategis dengan posisinya yang berada di puncak bukit. Benteng Lipu Ogena berbentuk persegi empat dan memiliki luas 100 x 130 meter persegi, struktur fisik dengan berdinding batu gunung. Namun dataran benteng tidak rata sehingga ketinggian susunan batunya berbeda-beda. Susunan batu tertingginya 5 meter sedangkan susunan batu terendah 2 meter. (3) Fungsi benteng Lipu Ogena pada masyarakat Takimpo pada masa lampau adalah sebagai pusat pertahanan dan keamanan, sebagai tempat pemukiman, pusat pemerintahan dan budaya sedangkan pada masa kini fungsi benteng Lipu Ogena sebagai situs sejarah sekaligus sebagai tempat wisata. (4) Peninggalan sejarah yang terdapat didalam benteng Lipu Ogena yaitu berupa koburu (kuburan), masigi (masjid), lawa (pintu masuk), galampa (rumah adat), parang, tombak, perisai  dan batu yang dahulu digunakan sebagai tempat pelantikan parabela. Kata kunci: Struktur, fungsi, peninggalan, benteng ogena ABSTRACT: The problems raised in this study are as follows: (1) What is behind the construction of the Lipu Ogena fort? (2) What is the physical structure of the Lipu Ogena fort? (3) What is the function of the Lipu Ogena fortress for the people of Takimpo in the past and present? (4) What are the historical relics contained in the Lipu Ogena fortress? The method used in this study is the historical method according to Helius Sjamsuddin with the following steps: (1) Heuristics (Collection of Sources), which are carried out by observation, interview and document study techniques, (2) Criticism, which is carried out through external criticism and internal criticism, (3) Historiography, which is carried out systematically through the stages of interpretation, explanation, and exposure. In literature review, the writer uses the concept of culture, the concept of a fort, the function of the fort and the concept of historical heritage. The results of this study indicate that: (1) The background of the construction of the Lipu Ogena fort is very closely related to the defense and security strategy to protect the people who live in that place from all enemy threats. In dealing with such a difficult situation, the authorities at Lipu Ogena established the Lipu Ogena fortress. (2) The physical structure of the Lipu Ogena fort is a strategic fortress with its position on the hilltop. Lipu Ogena Fortress is rectangular and has an area of 100 x 130 square meters, physical structure with stone walled mountains. But the fort plain is not flat so the height of the stone arrangement varies. The highest stone arrangement is 5 meters while the lowest stone structure is 2 meters. (3) The function of the Lipu Ogena fortress in the Takimpo community in the past was as a center of defense and security, as a place of settlement, a center of government and culture while at present the function of the Lipu Ogena fortress as a historical site as well as a tourist site. (4) Historical relics contained in the Lipu Ogena fortress are in the form of koburu (graves), masigi (mosque), lawa (entrance), galampa (traditional house), machetes, spears, shields and stones that were used as places for parabela inauguration. Keywords: Structure, function, heritage, ogena fort
DAMPAK TANAMAN NILAM TERHADAP SOSIAL EKONOMI PETANI DI DESA KATANGANA KECAMATAN TIWORO SELATAN KABUPATEN MUNA BARAT Hasmawati, Waode; Batia, La
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i1.14089

Abstract

ABSTRACT: The objectives of this study were: 1) To describe the development of patchouli cultivation in Katangana Village, Tiworo Selatan District, West Muna Regency, 2) To describe the impact on the socioeconomic impact of patchouli farming communities in Katangana Village, Tiworo Selatan District, West Muna Regency. This type of research is descriptive qualitative. This type of qualitative research with the following stages: 1) data collection techniques consist of several parts, namely: interviews, direct observation, and documentation; 2) data analysis technique consists of several parts, namely: data reduction, data presentation, and drawing conclusions; 3) data validity consists of extending observations, increasing persistence, and triangulation. Based on the research results that: 1) The development of patchouli cultivation, the main thing that must be known is the characteristics of the plant. In addition, factors supporting the success of patchouli cultivation are also very important, including plant nurseries, land management and planting, maintenance, harvesting and post-harvest handling, and distillation. Planting the patchouli plant is done indirectly by seeding the cuttings first in a nursery. 2) The socio-economic impacts of the patchouli farmer community in Katangana Village are as follows: The social impact of the patchouli farmer community is seen from the social interaction that among patchouli farmers, farm laborers and the community in Katangana Village have a very good relationship such as a sense of unity and brotherhood. The economic impact of the patchouli farmer community has positive and negative impacts on patchouli farmers seen from the income level, it can be explained that the positive impact of patchouli farmers' income in Katangana Village increases because the first and second harvest results are usually the amount or production obtained by the farmers. patchouli farmers increased. While the negative impact obtained from patchouli plants is that during the third harvesting process, patchouli farmers' income usually decreases because the land or land used to plant patchouli is no longer fertile as during the first and second harvesting processes. However, with the income, the patchouli farmers can still meet their daily needs.
HASIL BELAJAR SISWA SMP NEGERI 7 SIOTAPINA KABUPATEN BUTON PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII Artianingsih, Artianingsih; Taena, La
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i2.15455

Abstract

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Gambaran hasil belajar, Faktor-faktor ya ng menyebabkan rendahnya hasil belajar dan  Upaya guru dalam mengatasi rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 7 Siotapina. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskripstif kualitatif. Teknik pengumpulan data terdri dari: 1) Pengamatan, 2) Wawancara, dan 3) Dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari: 1) Pengumpulan data, 2) Reduksi data, 3) Penyajian data, 4) Penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data terdiri dari: 1) Kredibilitas data, 2) Triangulasi data, 3) Transferadibility data, dan 4) Dependenbility data. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS terdapat 10 siswa yang nilainya tidak mencukupi KKM, diantaranya 6 siswa dari kelas VIII A dan 4 siswa kelas VIII B, 2) Faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VIII SMP Negeri 7 Siotapina, antara lain: a) internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. b) faktor eksternal seperti kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua, suasana rumah yang ribut, lingkungan sekolah; hubungan/relasi antara guru dan siswa yang kurang, dan hubungan/relasi antara siswa dengan siswa yang tidak harmonis dan masyarakat (lingkungan); 3) Upaya guru dalam mengatasi rendahnya hasil belajar siswa yaitu: memberikan remedial kepada siswa yang tidak tuntas hasil belajarnya, memberikan tugas tentang materi yang belum dituntaskan, memberikan motivasi kepada mereka yang belum tuntas hasil belajarnya, menyuruh siswa-siswi agar banyak membaca buku pelajaran, serta mencoba metode mengajar lain selain metode ceramah, tanya jawab dan diskusi. Kata Kunci: Rendahnya Hasil Belajar, Pelajaran IPS, Upaya Mengatasinya
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII-1 SMP NEGERI 1 SAMPARA Sigalingging, Ardian Brendy; anwar, anwar
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i2.15461

Abstract

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk meningkatkan keefektifan mengajar guru IPS kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Sampara melalui penerapan model pembelajaran Mind Mapping. 2) Untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS pada siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Sampara melalui penerapan model pembelajaran Mind Mapping. 3) Untuk meningkatkan hasil IPS pada siswa kelas VIII-1 SMPNegeri1 Sampara melalui penerapan model pembelajaran Mind Mapping. Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dengan prosedur pelaksanaannya melalui empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memberikan tes tertulis dalam bentuk esai pada tiap akhir siklus pembelajaran.Sesudah itu juga dilakukan pengamatan terhadap keefektifan mengajar guru dan aktivitas belajar siswa.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik sederhana yaitu analisis deskriptif untuk menentukan persentase peningkatan keefektifan mengajar guru, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar siswa sesudah melakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Mind Mapping. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Keefektifan mengajar guru IPS berdasarkan skenario penelitian yang dilaksanakan mengalami peningkatan setiap siklusnya. Persentase yang diperoleh pada siklus I sebesar 71,42% dan pada siklus II meningkat sebesar 92,85%. 2) Aktivitas belajar IPS siswa dengan menerapkan model pembelajaran Mind Mapping sudah menunjukan peningkatan yang signifikan. Persentase yang diperoleh pada siklus I sebesar 60% dan pada siklus II meningkat sebesar 90%. 3) Hasil belajar IPS siswa meningkat dengan menerapkan model pembelajaran Mind Mapping dengan persentase ketuntasan secara klasikal telah tercapai 80%. Hasil tes pada siklus I yaitu sebesar 40% dengan rata-rata 67,46, sedangkan pada siklus II hasil tes mengalami peningkatan menjadi 90% dengan nilai rata-rata 80,06. Dengan demikian penelitian tindakan kelas ini telah berhasil meningkatkan keefektifan mengajar guru IPS, aktivitas belajar IPS siswa, dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Sampara melalui penerapan model pembelajaran Mind Mapping. Kata Kunci: Hasil Belajar, Model Pembelajaran, Mind Mapping
TRADISI KABHANTI PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LAILANGGA KECAMATAN WADAGA KABUPATEN MUNA BARAT Nurlianti, Nurlianti; Untarti, Dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i2.15466

Abstract

ABSTRAK: Tujuan utama penelitian ini, adalah untuk mendeskripsikan jenis kabhanti di Desa Lailangga Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat, mendeskripsikan proses kabhanti dilakukan di Desa Lailangga Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat, dan untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam kabhanti di Desa Lailangga Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitataif dengan pendekatan budaya, metode yang digunakan adalah metode penelitian social dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Teknik Pengumpulan data terdiri dari beberapa bagian yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. 2) Teknik analisis data. 3) Validitas data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Jenis-Jenis Kabhanti di Desa Lailangga yaitu Kabhanti Kantola (Kabhanti  yang digunakan pada waktu bermain kantola); Kabhanti Watulea (Kabhanti yang menggunakan irama watulea); Kabhanti Gambusu (pantun yang dinyanyikan dengan diiringi oleh irama gambus); Kabhanti Modero (sebenarnya sama dengan Kabhanti gambusu). (2) Proses dilakukannya Kabhanti Modero dilakukan secara berkelompok, pebhanti saling berpegangan tangan, namun antara kelompok perempuan dan laki-laki-laki terpisah dan membentuk sebuah lingkaran dan kemudian saling melontarkan pantun. Apabila diantara salah satu kelompok pebhanti kalah dalam berbalas pantun maka pertunjukan modero telah berakhir dan dinyatakan kalah dan para pebhanti pulang kerumah masing-masing); alat yang digunakan dalam khabanti ini adalah gambus sebagai alat pengiring utama, sedangkan sendok dan botol sebagai penyemarak; kabhanti ini pemain tidak dibatasi dari segi umur, jenis kelamin, maupun berdasarkan strata sosial di masyarakat. Siapa pun yang memiliki keahlian untuk memainkan kabhanti gambusu, maka itulah yang akan tampil dalam upacara adat kampung. (3) Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Kabhanti yaitu: Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Kabhanti Modero (Nilai integrasi, Nialai solidaritas, Niali etik, Nilai estetik); Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Kabhanti Gambusu (Nilai Integrasi, Nilai Estetika). Kata Kunci: Kabhanti, Desa Lailangga ABSTRACT: The main objective of this research is to describe the types of kabhanti in Lailangga Village, Wadaga District, West Muna Regency, to describe the Kabhanti process carried out in Lailangga Village, Wadaga District, West Muna Regency, and to describe the values contained in the Kabhanti in Lailangga Village, Wadaga District, Regency West Muna. This research is a qualitative research with a cultural approach, the method used is a social research method with the following stages: 1) The data collection technique consists of several parts, namely: observation, interviews, and documentation. 2) data analysis techniques. 3) Data validity. The results of this study indicate that: (1) The types of Kabhanti in Lailangga Village are Kabhanti Kantola (Kabhanti used when playing kantola); Kabhanti Watulea (Kabhanti using the watulea rhythm); Kabhanti Gambusu (rhymes sung accompanied by the rhythm of the gambus); Kabhanti Modero (actually the same as Kabhanti gambusu). (2) The process of carrying out Kabhanti Modero is carried out in groups, with the players holding hands, but the groups of women and men separate and form a circle and then throw rhymes to one another. If one of the players loses in reply to a rhyme, the modero show has ended and is declared defeated and the players return to their respective homes); The tools used in this khabanti are the lute as the main accompaniment, while the spoon and the bottle are used as a shine; Kabhanti players are not limited in terms of age, gender, or based on social strata in society. Anyone who has the skills to play the kabhanti gambusu will appear in the village traditional ceremony. (3) the values contained in the Kabhanti, namely: the values contained in the Kabhanti Modero (the value of integration, the value of solidarity, the value of ethics, the aesthetic value); The Values Contained in Kabhanti Gambusu (Integration Value, Aesthetic Value).  Keywords: Kabhanti, Lailangga Village 
ADAT PERKAWINAN SUKU MORONENE DI DESA LANGKEMA KECAMATAN KABAENA SELATAN KABUPATEN BOMBANA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Darmayanti, Dila; Mursidin T, Mursidin T
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i3.15675

Abstract

ABSTRAK: Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk menjelaskan proses pelaksanaan adat perkawinna Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. (2) Untuk menjelaskan perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. (3) Untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. Jenis dan pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin yang terdiri atas pengumpulan data (heuristik), kritik data (verifikasi data), dan penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Podioha ninyapi (pelamaran), dalam tahap ini terbagi menjadi 2 bagian yang pertama, modio hartia (menyampaikan maksud) dan kedua mongapi (melamar). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (membawa bahan makanan dan penanyaan). Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama waktu pelaksanaan pontangkia, kedua pontangkia (membawa bahan makanan), ketiga pompetukanaiha (penanyaan), keempat totolea (penentuan mahar). Dan terakhir tahap ke 3) Lumanga (penyerahan mahar adat/benda adat), tata cara pelaksanaan lumanga, pertama morongo kompe, kedua mesua bolo raha (masuk dalam rumah pengantin perempuan), ketiga montunu peahu (membakar rokok), keempat tuduako langa (penyerahan benda adat), kelima akad nikah, keenam molangarako (membawa pengantin perempuan kerumah pengantin pria) dan terakhir mohuletako alo (pasangan pengantin kembali kerumah pengantin perempuan). 2). Perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema yaitu: (a) Disepakati adanya Rumpantole (adat dipersingkat) yaitu Pompetukanaiha dan Lumanga dapat dilaksanakan dalam waktu/hari yang sama. Sedangkan sebelumnya antara Pompetukanaiha dan Lumanga jarak waktunya sampai 7 tahun. (b) Pada saat Modio Ninyapi ada bungkusan yang ditampilkan. Bungkusan tersebut memakai kertas putih polos yang ikatannya terbuat dari daun agel yang diberi warna kasumba merah, setelah diadakannya seminar tahun 2006 kesepakatan itu dirubah, bungkusan yang diikat pakai daun agen itu dirubah dengan menggunakan benang wol berwarna merah.  3). Nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema adalah: (1) Nilai religius (agama) adalah suatu nilai yang terkait dengan keberadaan manusia itu sebagia hamba Allah. (2) Nilai kekeluargaan yaitu setiap kegiatan yang melibatkan keluarga melalui kerja sama. (3) Nilai pendidikan yaitu nilai yang dapat meningkatkan kecerdasan dalam meraih sukses. (4) Nilai estetika yaitu dipandang dari segi keindahan. Kata Kunci: Perkawinan, Masyarakat dan Sejarah.      ABSTRACT: The objectives of this study are: 1) To describe the process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 2) To explain the symbolic meaning in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, 3) To explain the value -values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency. The method used in this research is the historical research method according to Helius Sjamsuddin with the following steps: 1) Source collection (heuristics), 2) Source criticism (verification), 3) Historical writing (historiography). The results of this study indicate that: 1) The process of implementing the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consists of; a) The preparation stage, namely the tools used in the implementation of the chamomose tradition are: (1) Gendang (double dhawa), made of goat or cow skin, (2) Mbilolo (gong), made of brass used to accompany chamomose events, (3) Dhawa-dhawa, is a traditional musical instrument installed near the mbilolo, (4) Ndengu-ndengu, a traditional musical instrument made of brass consisting of three pieces. b) The implementation stage, namely; (1) When the chamomose tradition starts at 8:00 p.m. until finished, (2) Kalampi is the clothes worn by the chamomose participants, (3) Pu'uno lambu is the organizer of the chamomose tradition, 4) Fopangano is a participant who sits in the chamomose and sower event drum. 2) The symbolic meaning contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency, which is as a unifying tool to foster a close relationship in Gu Timur Village. 3) The values contained in the chamomose tradition in Gu Timur Village, Lakudo District, Central Buton Regency consist of; a) Spiritual value, which is implemented according to religious rules, b) Ethical values, namely a form of good attitude so that they always live side by side and help each other and, c) Aesthetic values, namely giving beauty to all participants who follow the kamomose tradition  Keywords: Tradition, Chamomose, Finding a Match, Gu Timur Village
EFFECTIVENESS OF USING THE SAYGO-LEARN APPLICATION IN LONG DISTANCE HISTORY LEARNING Dini, Devvi Wahyu Wulan; Sunardi, Sunardi; Widiarto, Tri
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15237

Abstract

Learning is the most important part in the world of education. The Covid-19 pandemic has hampered the learning process. The ministry suggestion to impose distance learning has resulted in various schools changing the procedures for the learning process. One of the schools in Demak Regency, namely SMK Negeri 1 Sayung, created a software-based application to overcome distance history learning during the Covid-19 pandemic. The application is known as Saygo-Learn. saygo-Learn functions as a distance learning tool that contains learning materials and assignments for students. The use of the Saygo-Learn application is considered effective in improving student learning outcomes. the distance history learning process using Saygo-Learn also helps educators to foster the development of students when participating in the distance history learning process. 
SEJARAH ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT BUTON DI DESA BUTON KECAMATAN BUNGKU SELATAN KABUPATEN MOROWALI (1936-2018) Hilda, Hilda; Barlian, Barlian
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15683

Abstract

ABSTRAK: Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk menjelaskan proses pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Buton di Desa Buton Kecamatan Bungku selatan Kabupaten Morowali 1936-2018; 2) Untuk menjelaskan perubahan tata cara dalam pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Buton di Desa Buton Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali 1936-2018; 3) Untuk menjelaskan faktor penyebab terjadinya perubahan tata cara dalam pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Buton di Desa Buton Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali 1936-2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin yang terbagi atas tiga tahap yaitu: 1 Heuristik (pengumpulan sumber data), 2) Kritik sumber (verifikasi), dan 3) Historiografi (penulisan sejarah). Tinjauan pustaka dalam penelitian ini yakni menggunakan konsep sejarah, konsep masyarakat, konsep kebudayaan, konsep perkawinan, konsep perubahan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) proses pelaksanaan Adat perkawinan masyarakat Buton di Desa Buton terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut: a) Lukuti, yaitu upaya untuk menjajaki dan menyelidiki hal ihwal seorang wanita yang ingin dipinang; b) Pesoloi, yaitu penjajakan ulang sebagai kelanjutan dari lukuti; c) Losa, adalah penyampaian lamaran secara resmi pihak pria kepada pihak wanita; d) Tauraka, yang terdiri dari dua macam yakni tauraka mayidi-yidi (tauraka kecil) dan tauraka maoge (tauraka besar) ; e) Kawia, adalah prosesi pelaksanaan pernikahan (akad nikah); f) Karia, adalah pesta perkawinan yang mempersandingkan  kedua mempelai di tempat yang telah disediakan; g) Jagani, adalah suatu proses dimana pengantin pria dan wanita belum dapat tinggal bersama; h) Pobongkasia, adalah bagian penghabisan dari pesta perkawinan pada hari yang keempat; i) Dingkana Umane, adalah pengantaran tas/peti pakaian atau perlengkapan rumah tangga, serta kebutuhan lain dalam rumah tangga baru; j) Landakiana Banua, yaitu kunjungan balasan dari pihak mempelai wanita ke rumah mempelai pria. 2) Perubahan pelaksanaan Adat perkawinan masyarakat Buton di Desa Buton, yakni: a) Pemilihan jodoh (Pobaisa), melalui perjodohan (kemauan orang tua); b) Alat-alat perlengkapan adat perkawinan; c) Pemberian mahar (Boka); d) Pelaksanaan perkawinan sebelumnya hanya melalui kawin kampung, maka sekarang harus ada akad nikah berdasarkan hukum yang berlaku; e) Acara perkawinan duduk adat yang sah jarang diterapkan dan beralih ke perjamuan berdasarkan perkembangan zaman. 3) Faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan proses pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Buton di Desa Buton yakni: a) Faktor intern terdiri dari beberapa aspek, yaitu: pendidikan, agama, dan ekonomi dan gaya hidup, b) Faktor ekstern meliputi kemajuan teknologi, peraturan hukum, kemajuan pembangunan, dan aspek sosial-budaya. Kata Kunci: Proses, Perubahan, Faktor Penyebab, Adat Perkawinan     ABSTRACT: The objectives of this study are: 1) To explain the process of implementing the customary marriage of the Buton people in Buton Village, Bungku Subdistrict, South Morowali Regency, 1936-2018; 2) To explain the change in procedures in the implementation of the customary marriage of the Buton people in Buton Village, Bungku Selatan District, Morowali Regency, 1936-2018; 3) To explain the factors causing changes in procedures in the implementation of the customary marriage of the Buton people in Buton Village, Bungku Selatan District, Morowali Regency, 1936-2018. The method used in this research is the historical method according to Helius Sjamsuddin which is divided into three stages, namely: 1 Heuristics (data source collection), 2) Critical sources (verification), and 3) Historiography (history writing). Literature review in this research that is using the concept of history, the concept of society, the concept of culture, the concept of marriage, the concept of cultural change. The results showed that; 1) the process of implementing the customary marriage of the Buton community in Buton Village consists of the following stages: a) Lukuti, which is an effort to explore and investigate the matter of a woman who wants to be married; b) Pesoloi, which is a re-assessment as a continuation of the lukuti; c) Losa, is the formal submission of applications from men to women; d) Tauraka, which consists of two kinds namely tauraka mayidi-yidi (small tauraka) and tauraka maoge (large tauraka); e) Kawia, is a procession of marriage (marriage contract); f) Karia, is a wedding party that matches the bride and groom in the provided place; g) Jagani, is a process where the bride and groom cannot live together yet; h) Pobongkasia, is the last part of the wedding on the fourth day; i) Dingkana Umane, is the delivery of bags / crates of clothing or household equipment, as well as other needs in new households; j) Landakiana Banua, which is a reciprocal visit from the bride to the bridegroom's house. 2) Changes in the implementation of Indigenous marriages of Buton people in Buton Village, namely: a) Selection of marriage mates (Pobaisa), through matchmaking (the wishes of parents); b) Customary marriage equipment; c) Provision of dowry (Boka); d) The previous marriage was only carried out through village marriage, so now there must be a marriage contract based on applicable law; e) Legitimate traditional seated marriages are rarely implemented and turn to banquets based on the times. Keywords: Keywords: Process, Change, Causative Factors, Marriage Custom.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS VIII-1 fujiana, citra; hayari, hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19071

Abstract

Tujuan utama penelitian penelitian ini yaitu: (1) Untuk meningkatkan efektivitas mengajar guru IPS kelas VIII-1 SMP Negeri 19 Kendari melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick. (2) Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 19 Kendari melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick. (3) Untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 19 Kendari melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Prosedur penelitian ini meliputi: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Efektivitas mengajar guru siklus I dengan persentase sebesar 66,67% hal ini belum tercapainya indikator kinerja yang telah ditentukan sebesar 90% dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan persentase 93,33% dengan demikian telah mencapai indikator kinerja yang ditentukan. (2) Aktivitas belajar siswa pada siklus I dengan persentase 61,54%  dan pada siklus II mengalami meningkatan dengan persentase 92,31% hal ini sudah mencapai indikator kinerja yang telah ditentukan sebesar  90%. (3) Hasil belajar IPS siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 19 Kendari  meningkat dengan dengan persentase awal pada siklus I dengan nilai rata-rata 71,7 dengan ketuntasan belajar 55% sedangkan  pada siklus II  meningkat dengan nilai rata-rata 83,35 dengan ketuntasan belajar 90% dengan nilai  sesuai KKM yang telah ditetapkan dan indikator kinerja 80%. Kata Kunci : Talking Stick, Guru, Siswa, dan Hasil Belajar  

Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO More Issue