cover
Contact Name
buhari
Contact Email
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Phone
+6285241919232
Journal Mail Official
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia Telp Kantor/HP : 04013127180 / 085241919232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25026666     EISSN : 25026674     DOI : https://doi.org/10.36709/jpps
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan November. Terbitan awal Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO yaitu Volume 1 nomor 1 Maret 2016. Tujuan dari adanya publikasi pada jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO merupakan wadah ilmiah untuk mempublikasikan berbagai hasil penelitian mahasiswa, dosen, maupun guru, dengan Ruang lingkup Jurnal memuat tentang kajian Pendidikan Sosial-Budaya khususnya aspek: Pendidikan Sejarah, Etnopedagogik, Kajian Sejarah Lokal, Kajian kearifan lokal sebagai modal pendidikan dan penguatan karakter.
Articles 208 Documents
ADAT PERKAWINAN SUKU MORONENE DI DESA LANGKEMA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Darmayanti, Dila; Hak, Pendais
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19228

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk menjelaskan proses pelaksanaan, perubahan dan nilai adat perkawinna Suku Moronene di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana dalam perspektif sejarah. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan pendekatan antropologis, metode yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri atas (heuristik), verifikasi data, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema terdiri dari 3 tahap yaitu: 1) Podioha ninyapi (pelamaran), dalam tahap ini terbagi menjadi 2 bagian yang pertama, modio hartia (menyampaikan maksud) dan kedua mongapi (melamar). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (membawa bahan makanan dan penanyaan). Tahap ini terbagi menjadi 4 bagian, yang pertama waktu pelaksanaan pontangkia, kedua pontangkia (membawa bahan makanan), ketiga pompetukanaiha (penanyaan), keempat totolea (penentuan mahar). Dan terakhir tahap ke 3) Lumanga (penyerahan mahar adat/benda adat), tata cara pelaksanaan lumanga, pertama morongo kompe, kedua mesua bolo raha (masuk dalam rumah pengantin perempuan), ketiga montunu peahu (membakar rokok), keempat tuduako langa (penyerahan benda adat), kelima akad nikah, keenam molangarako (membawa pengantin perempuan kerumah pengantin pria) dan terakhir mohuletako alo (pasangan pengantin kembali kerumah pengantin perempuan).  2). Perubahan adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema yaitu: (a) Disepakati adanya Rumpantole (adat dipersingkat) yaitu Pompetukanaiha dan Lumanga dapat dilaksanakan dalam waktu/hari yang sama. Sedangkan sebelumnya antara Pompetukanaiha dan Lumanga jarak waktunya sampai 7 tahun. (b) Pada saat Modio Ninyapi ada bungkusan yang ditampilkan. Bungkusan tersebut memakai kertas putih polos yang ikatannya terbuat dari daun agel yang diberi warna kasumba merah, setelah diadakannya seminar tahun 2006 kesepakatan itu dirubah, bungkusan yang diikat pakai daun agen itu dirubah dengan menggunakan benang wol berwarna merah.  3). Nilai-nilai yang terkandung dalam adat perkawinan Suku Moronene di Desa Langkema adalah: (1) Nilai religius (agama) adalah suatu nilai yang terkait dengan keberadaan manusia itu sebagia hamba Allah. (2) Nilai kekeluargaan yaitu setiap kegiatan yang melibatkan keluarga melalui kerja sama. (3) Nilai pendidikan yaitu nilai yang dapat meningkatkan kecerdasan dalam meraih sukses. (4) Nilai estetika yaitu dipandang dari segi keindahan. Kata Kunci: Perkawinan, Masyarakat dan Sejarah. ABSTRACT: The objectives of this study are: To explain the process of implementation, change and the customary values of the Moronene tribe of marriage in Langkema Village, Kabaena Selatan District, Bombana Regency from a historical perspective. This type of research is historical research with an anthropological approach, the method used is the historical method consisting of (heuristics), data verification, and historiography. The results showed that: 1) The process of implementing the Moronene tribe's marriage customs in Langkema Village consists of 3 stages, namely: 1) Podioha ninyapi (application), in this stage it is divided into 2 parts, the first, modio hartia (conveying intent) and the second mongapi (apply). 2) Pontangkia hamopompetukanaiha (bring groceries and questions). This stage is divided into 4 parts, the first is the pontangkia implementation, the second is the pontangkia (bringing food ingredients), the third is pompetukanaiha (questions), the fourth is totolea (determining the dowry). And finally the third stage) Lumanga (handover of a customary dowry / customary object), the procedure for implementing the lumanga, first morongo kompe, second mesua bolo raha (entering the house of the bride), third montunu peahu (burning cigarettes), fourth tuduako langa (submission customary objects), the five marriage contracts, the six molangarako (bringing the bride to the groom's house) and finally the mohuletako alo (the bride and groom returning to the bride's house). 2). Changes in the marriage custom of the Moronene Tribe in Langkema Village, namely: (a) It is agreed that a Rumpantole (abbreviated tradition), namely Pompetukanaiha and Lumanga, can be carried out within the same time / day Whereas previously between Pompetukanaiha and Lumanga the time gap was up to 7 years. (b) At the time of Modio Ninyapi a package was displayed. The package used plain white paper tied with agel leaves colored with red kasumba. After the 2006 seminar the agreement was changed, the package tied with agent leaves was changed using red wool yarn. 3). The values contained in the marriage customs of the Moronene Tribe in Langkema Village are: (1) Religious value (religion) is a value related to human existence as a servant of God. (2) Family values, namely any activity that involves the family through cooperation. (3) The value of education is the value that can increase intelligence in achieving success. (4) Aesthetic value, namely in terms of beauty.  Keywords: Marriage, Society and History.
PENGARUSUTAMAAN GERAKAN MODERASI BERAGAMA PADA ORGANISASI KEPEMUDAAN DI KOTA KENDARI Hak, Pendais; abas, muh.; Marhini, la Ode; Rohani, siti
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i4.21804

Abstract

Keanekaragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  merupakan ”Anugrah” yang maha indah yang patut disyukuri. Namun demikian, hasil observasi dan riset para peneliti menunjukan bahwa keanekaragaman tersebut berpotensi memicu konflik di kota Kendari misalnya masih adanya penolakan pembangunan rumah ibadah kelompok minoritas, intimidasi dan penghakiman pada kelompok dan aliran tertentu, pelecehan agama tertentu baik secara verbal maupun melalui media social, munculnya komunitas-komunitas sektarian baru berbasis etnis, dan munculnya kelompok new puritanisme Islam dan kelompok politik Islam. Oleh karena itu, tujuan pelaksanaan kegiatan ini Pertama, mengidentifikasi tantantangan moderasi beragama serta membangun basis pengetahuan dan komitmen organisasi kepemudaan berbasis keagamaan dan Etnik dalam memahamkan konsep dan strategi moderasi beragama di Kota Kendari. Kedua, merancang strategi gerakan dan kolaborasi kelompok umat beragama dan organisasi berbasis etnik dalam melakukan reideologisasi dan internalisasi “Moderasi Beragama” khususnya pada kawasan rentan konflik di Kota kendari. Ketiga, Mengawal pelaksanaan/implementasi gerakan “Moderasi Beragama” dalam menguatkan kerukunan dan pencegahan radikalisme di Kota kendari. pelaksanan kegiata ini dalam bentuk workshop dan pendampingan. Workshop dilaksanakan selama 3 hari dengan pola dialog. Setelah pelaksanaan workshop, dilanjutkan dengan pendampingan dalam bentuk kolaborasi Ormas/OKP dalam mengawal tindak lanjut (TL) hasil workshop secara berkelanjutan selama tahun 2021. Hasil dari workshop ini menunjukan bahwa (1) tantangan moderasi beragama yaitu adanya sikap yang tidak saling menghargai karena perbedaan keyakinan dan aliran, komitmen kebangsaan anak-anak muda yang mengalami degradasi, dan kecendurungan meninggalkan peran budaya dan kearifan local, (2) Strategi yang dirumuskan yaitu; pertama, penguatan nilai-nilai kebangsaan, kedua penguatan pemahaman keagamaan. Ketiga penguatan nilai-nilai kearifan lokal, dan (3) pada aspek tindak lanjut yang dilakukan antara lain pertama Membangun budaya dialog secara berkala. Kedua,  Membangun wadah bersama sebagai pusat pertemuan baik organisasi informal maupun di media sosial. Ketiga mengoptimalkan road show kerukunan.
PEREKONOMIAN ORANG TUA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK PADA SUKU BAJO DI DESA MAROBO Hajrani, sitti; Batia, La
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19317

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan keadaan perekonomian orang tua Suku Bajo di Desa Marobo Kecamatan Marobo Kabupaten Muna. 2) Untuk mendeskripsikan keadaan pendidikan anak Suku Bajo Di Desa Marobo Kecamata Marobo Kabupaten Muna. 3) Untuk mendeskripsikan dampak ekonomi orang tua terhadap pendidikan anak Suku Bajo di Desa Marobo Kecamatan Marobo Kabupaten Muna. Metode penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Teknik pengumpulan data terdiri dari beberapa bagian yaitu: wawamcara, observasi langsung, dan dokumentasi. 2) Teknik analisis data. 3) Validasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: keadaan perekonomian orang tua suku Bajo berada pada taraf perekonomian rendah atau di kategorikan miskin, kemiskinan yang terjadi di suku Bajo ini merupakan kemiskinan yang dipengaruhi oleh faktor cultural dari nenek moyang, keadaan perekonomian orang tua mempengaruhi keadaan pendidikna anak yang ada di suku Bajo, karena rendahnya ekonomi orang tua menyebabkan keadaan pendidikan anak suku Bajo juga berada pada kategori rendah. Rendahnya taraf pendidikan ini terbukti dengan tidak adanya anak dari suku Bajo yang sampai saat ini mampu menduduki bangku perguruan tinggi. Selain faktor ekonomi, minimnya pengetahuan tentang pentingnya  pendidikan juga menjadi pengaruh statisnya keadaan pendidikan anak pada suku Bajo. Terdapat beberapa dampak yang di hasilkan oleh dampak ekonomi orang tua terhadap pendidikan anak yaitu : putus sekolah, rendahnya kemauan anak dalam menuntut ilmu, berfikir pesimis terhadap pendidikan, ketertinggalan ilmu pengetahuan dan masa depan yang terstruktur.
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KECAMATAN RANOMEETO KABUPATEN KONAWE SELATAN (KONSEL) Marhini, La Ode; Haq, Pendais; La Ode, Dinda; Rihu, Agus
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.18693

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kerukunan antar umat beragama dan peran tokoh-tokoh agama dalam merawat kerukunan antar umat beragama di desa Langgea. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori struktural fungsional Talcot Parson yang disebut AGIL (Adaptation, Goal, Integration dan Latency). Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Terdapat tiga bentuk kerukunan antar umat beragama yaitu toleransi, kerjasama dan kesetaraan agama di Desa Langgea, (2) Terdapat lima peran  tokoh agama dalam merawat kerukunan antar umat beragama di Desa Langgea yaitu (1) menjadikan rumah-rumah ibadah sebagai tempat untuk menanamkan benih perdamaian dan pendidikan kebhinekaan, (2) menghindari tema-tema khutbah yang dapat menimbulkan konflik antar agama, (3) Menepis isu-isu konflik agama di daerah lain dengan memberikan informasi yang berimbang, (4) Menyelesaikan masalah yang ada dengan mengabaikan identitas agama dan (5) Melakukan dialog antar tokoh beragama.                   
PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA NEGERI 2 KENDARI Sari, Ni Made Mayang; Darnawati, Darnawati
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.20096

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan peran guru dalam pembelajaran sosiologi pada siswa di SMA Negeri 2 Kendari. 2) untuk menjelaskan kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran sosiologi pada siswa di SMA Negeri 2 Kendari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi, data yang diperoleh cenderung data kualitatif berupa kata-kata (lisan maupun tulisan). Informan dalam penelitian ini adalah siswa dan semua guru yang mengajar pelajaran sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peran guru dalam pembelajaran sosiologi di SMA Negeri 2 Kendari, yaitu a) sebagai pendidik, guru memberikan contoh yang baik kepada siswa. b) sebagai pengajar, guru memberikan pemahaman kepada siswa, menjadikan siswa agar terampil dan guru dapat memecahkan masalah. c) sebagai pembimbing, guru harus mampu memberikan bimbingan kepada siswa yang melakukan hal yang tidak baik atau siswa yang melanggar aturan agar tidak  mengulang kesalahan yang sama maupun kepada siswa  yang berprestasi agar dapat mempertahankan prestasi yang telah dicapai. d) Sebagai pelatih berarti dalam pelajaran sosiologi ini guru melatih siswa bagaimana bisa berkomunikasi yang efektif, bagaimana memberikan contoh yang berkaitan dengan karakter, pembiasaan atau disiplin. e) sebagai penasehat, guru juga harus memberikan nasehat kepada siswa agar siswa memperbaiki sikap dan akhlak baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. f) sebagai motivator, memotivasi siswa sehingga apa yang guru sampaikan diharapkan dapat mencapai target. Target yang ingin dicapai yaitu suatu kompetensi dasar. 2) Kendala yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran sosiologi yaitu pada minimnya fasilitas sarana seperti buku, infocus serta jaringan wifi.  Kendala lain yang dapat mempengaruhi  proses pembelajaran yaitu karakter siswa, sikap dan perilaku, minat dan bakat, daya serap siswa, kurangnya disiplin siswa, sikap terlalu pasif, tidak tenang di dalam kelas, pujian serta hanya mengikut saja.
SEJARAH KECAMATAN MAWASANGKA TENGAH KABUPATEN BUTON TENGAH (2005-2017) Nuhayani, Nurhayarni; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i1.13171

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan dalam penelitian mengkajian bagaimana kronologi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan mawasangka Tengah dan bagaimana perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah (2005-2017). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1). Heuristik (Pengumpulan Sumber), 2). Verifikasi (Kritik Sumber), 3). Histiografi (Penulisan Sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Kronologi pembentukan Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Awal mula rencana pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah, yang ditandai dengan upaya masyarakat setempat untuk bersama-sama berjuang untuk pemekaran Kecamatan Mawasangka Tengah sejak tahun 2000. (b) terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah, yang resmi terbentuk pada tanggal 27 Agustus 2005, setelah melalui konsolidasi dan koordinasi seluruh elemen masyarakat. 2). Faktorfaktor yang mempengaruhi terbentuknya Kecamatan Mawasangka Tengah meliputi: (a) Faktor geografis/wilayah yang menekankan kepada kondisi wilayah yang luas, jumlah penduduk yang cukup memungkinkan untuk mekar, (b) Faktor demografi/kependudukan dimana jumlah penduduk yang sudah memenuhi syarat untuk dimekarkan menjadi daerah baru, (c) Faktor lingkungan lebih kepada pembelajaran kepada daerah lain yang telah mekar sehingga dijadikan contoh, (d) Faktor dukungan masyarakat yang membuat semua elemen masysrakat semangat untuk bahu membahu memperjuangkan pemekaran, dan (e) Faktor pembangunan yakni karena pembangunan di segala aspek yang sudah memadai. 3) Perkembangan Kecamatan Mawasangka Tengah 2005-2017 sudah cukup baik dapat dilihat dari (a) Bidang administrasi yakni dengan terbentuknya 2 desa baru serta dinaikkannya status Desa Lakorua menjadi Kelurahan Lakorua sebagai ibu kota kecamatan, sehingga keseluruhan berjumlah 9 desa dan 1 kelurahan, (b) Bidang sosial mencakup pendidikan dan kesehatan. Terdapat 9 gedung SD, 3 gedung SMP dan 3 gedung SMA. Sedangkan dari aspekkesehatan terdapat 1 gedung puskesmas dan 1 klinik kesehatan, (c) Bidang infrastruktur yang sangat berbeda dibandingkan sebelum pemekaran yakni terdapat Kantor Camat dan Kantor Polsek, (d) Bidang ekonomi, yang sebagian besar masyarakatnya lebih mengandalkan sector pertanian/perkebunan dan perdagangan.Kata Kunci: Krimonologi, faktor, perkembangan ABSTRACT: The problem in research studies how the chronology of the formation of Central Mawasangka District, what factors influence the formation of Central Mawasangka District and how the development of Central Mawasangka District (2005-2017). The method used in this study is the historical method according to Helius Sjamsuddin with the following stages: 1). Heuristics (Collection of Sources), 2). Verification (Source Criticism), 3). Histiography (Writing History). The results of this study indicate that: 1) Chronology of the formation of Central Mawasangka District includes: (a) The origin of the planned expansion of Central Mawasangka District, which was marked by the efforts of the local community to jointly fight for the expansion of Central Mawasangka District since 2000. (b) Central Mawasangka District, which was officially formed onAugust 27, 2005, after going through consolidation and coordination of all elements of society. 2). Factors influencing the formation of Central Mawasangka Subdistrict include: (a) Geographical / regional factors that emphasize the condition of a wide area, sufficient population size that is possible to bloom, (b) Demographic / population factors where the number of residents who have fulfilled the requirements for expansion become a new area, (c) Environmental factors are moretowards learning to other regions that have bloomed so that they are used as an example, (d) Community support factors that make all elements of the community enthusiastic to work together to fight for pemekaran, and (e) Development factors which are due to development in all aspects are sufficient. 3) The development of Central Mawasangka Subdistrict 2005-2017 is good enough, it can be seen from (a) Administration sector, namely the formation of 2 new villages and the improvement of the status of Lakorua Village to become Lakorua Village as the capital of the subdistrict, so that in total there are 9 villages and 1 kelurahan, (b ) The social sector includes education and health. There are 9 elementary buildings, 3 junior high buildings and 3 high school buildings. Whereas from the health aspect there are 1 puskesmas building and 1 health clinic, (c)Infrastructure sector which is very different compared to before the division namely there is the Camat Office and Polsek Office, (d) The economic sector, most of the people rely more on the agriculture / plantation and trade sectors .Keywords: Crimonology, factors, development
PENDIDIKAN KARAKTER REMAJA PADA MASYARAKAT MUNA (STUDIDI DESA ONDOKE KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT) sumardin, sumardin; bia, buhari la
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.20102

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah, (1) Untuk mendeskripsikan sistem penanaman nilai karakter remaja pada masyarakat muna di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat. (2) Untuk mendeskripsikan dampak dari pendidikan karakter terhadap remaja di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi, teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengamatan. Analisis data dilakukan melalui model interaktif yang terdiri dari a) reduksi, b) penyajian data, c) penarikan kesimpulan. Validitasi data yang terdiri dari a) perpanjangan pengamatan b) triangulasi, triangulasi sumber, triangulasi teknik.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Sistem penanaman nilai karakter pada Masyarakat di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat dilakukan melalui dua cara aitu melalui ritual Katoba dan juga pada ritual Karia pada wanita. (2) Dampak dari pendidikan karakter terhadap remaja di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat adalah melatih kontrol diri berupa kesabaran dalam menghadapi situasi ataupun suatu masalah, adanya jiwa kepedulian, lahirnya remaja yang taat kepada Tuhan dan orang tua, memiliki Sikap menghargai sesama, memiliki sikap rendah hati dan tidak sombong, memiliki sikap tanggung jawab, memahami perannya sebagai wanita.
SEJARAH BUDAYA MASYARAKAT BUGIS DI KELURAHAN BOEPINANG KECAMATAN POLEANG KABUPATEN BOMBANA Wawan, Andi; Aswati M, Asmati M
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i2.13183

Abstract

ABSTRAK: Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) Untuk menjelaskan bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana, (2) Untuk menjelaskan perkembangan kebudayaan masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana, dan (3) Untuk menjelaskan strategi masyarakat suku Bugis dalam mempertahankan kebudayaan di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana. Penelitian menggunakan pendekatan strukturis, dengan menggunakan sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber visiual. Metode penelitaian menggunakan metode sejarah yang terdiri dari 1) pengumpulan sumber (Heuristik), 2) kritik sumber eksternal dan internal, 3) penulisan (historiografi). Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Budaya masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana adalah: mappalili, mappedendang, macceratasi, aqiqah, mabbarasani, mappaci, ammateang, marraga, maggasing, mallogo, majjeka, (2) Perkembangan budaya masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana makin menurun akibat perkembangan teknologi. (3) Strategi masyarakat suku bugis dalam mempertahankan kebudayaan di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana yakni dengan memberikan pemahaman tentang esensi nilai kearifan lokal, melaksanakan kegiatan budaya secara terus menerus dan berkesinambungan, menumbuhkan rasa percaya diri dan bangga pada masyarakat Boepinang tentang budaya dan adat istiadat bugis, membentuk lembaga adat Bugis di Poleang, memasukan kegiatan Budaya Bugis dalam kurikulum sekolah (Muatan Lokal). Kata Kunci: Sejarah, Budaya, Masyarakat Bugis  ABSTRACT: The main objectives of this study are: (1) To explain the cultural forms of the Bugis tribe in Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency, (2) To explain the cultural development of the Bugis tribe community in Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency, and (3) To explain the strategy of the Bugis people in maintaining culture in the Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency. Research uses a structuralist approach, using written sources, oral sources, and visionual sources. The research method uses the historical method which consists of 1) collection of sources (Heuristics), 2) criticism of external and internal sources, 3) writing (historiography). The results of this study are as follows: (1) The culture of the Bugis tribe community in Boepinang Village, Poleang District Bombana Regency are: mappalili, mappedendang, maceration, aqiqah, mabbarasani, mappaci, ammateang, marraga, maggasing, mallogo, majjeka, (2) cultural development Bugis tribe community in Boepinang Sub-District, Poleang District, Bombana Regency is decreasing due to technological developments. (3) The strategy of the Bugis tribe community in maintaining culture in Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency by providing an understanding of the essence of local wisdom values, carrying out cultural activities continuously and continuously, fostering self-confidence and pride in the Boepinang community about culture and customs. bugis, forming a traditional Bugis institution in Poleang, including Bugis Culture activities in the school curriculum (Local Content). Keywords: History, Culture, Bugis Society
TRADISI MEWUWUSOI PADA SUKU MORONENE DI KAMPUNG ADAT HUKAEA LAEA KECAMATAN LANTARI JAYA KABUPATEN BOMBANA (1985-2018) Safitri, Lusiana Dewi; Untarti, Dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i1.14090

Abstract

ABSTRACT: This study aims to explain the tradition of mewuwusoi in the Moronene tribe in Hukaea Laea Traditional Village, Lantari Jaya District, Bombana Regency. This study uses historical research methods with the following stages: (1) Heuristics, (2) source criticism, and (3) Historiography which consists of interpretation, explanation, presentation. The results showed that (1) the background of the emergence of the mewuwusoi tradition was that since the Moronene tribe knew the name of agriculture. They do not know for sure because initially the Moronene only knew hunting and gathering because of the development of the times they tried to carry out agriculture. The holding of this tradition is in order to give thanks to God Almighty for their sustenance in agriculture as well as to welcome the coming harvest year. (2) the process of implementing the tradition of mewuwusoi (1985-2018) consists of the stages of preparation, namely the stages of clearing land, Mehedoi / metotamai (self-healing) and Mea'e / meuri (sticky rice from the harvest that is put into the mouths of each group present) and the implementation of the mewuwusoi tradition, among others Mododo (pounding rice), filtering rice after the implementation of Mododo, Molonda (attraction of pounding rice using rhythm), kampiri (place of storing rice, then Lulo Trigger (final harvest party activity) (3) the values contained in the Wuuwusoi tradition, among others, religious values, communicative values and social care values.
FUNGSI KALOSARA PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA LALONGGASU KECAMATAN TINANGGEA KABUPATEN KONAWE SELATAN Dimanto, Dimanto; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i2.15456

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan (a) Untuk mendeskripsikan fungsi Kalosara dalam adat perkawinan dikalagan masyarakat Tolaki, (b) Untuk menganalisis fungsi Kalosara dalam menyelesaikan konflik sosial pada masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan, (c) Untuk mendeskripsikan fungsi Kalosara dalam menyelesaikan sengketa lahan pada masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Metode yang digunakan adalah metode kebudayaan yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan etografi yang meliputi: (a) pengumpulan data di lapagan berupa wawancara dan penelitian kepustakaan degan mengkaji literatur yang sudah ada, (b) Sumber data melalui data primer dan data sekunder, (c) Teknik analisis data, data dianalisis secara kualitatif Setelah itu dilanjutkan degan penyajian data secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (a) Fungsi Kalosara dalam adat perkawinan di kalagan masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Kalosara merupakan media pemersatu bagi masyarakat Tolaki dalam hal upcara adat. Kalosara merupakan alat legitimasi atau alat pengesah dalam sebuah perkawianan. Dalam sebuah upacara perkawinan adat Tolaki tanpa dihadirkannya adat Kalosara maka perkawinan tersebut tidak dapat dilanjutkan dan dianggap tidak sah. (b) Fungsi Kalosara dalam menyelesaikan konflik sosial pada masyarakat Tolaki Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Kehadiran Kalosara merupakan landasan pertama dalam penyelesaian konflik. Oleh karena itu Kalosara difungsikan sebagai media komunikasi yang bersifat saling keterbukaan. Kalosara degan berbagai nilai-nilai dan kearifan lokalnya juga meruapakan alat dalam pemberian pemahaman, nasehat-nasehat, pembekalan bagi kedua bela pihak yang telah bertikai agar tetep tunduk dan taat terhadap keputusan yang akan diambil menggunakan benda adat Kalosara. (c) Fungsi Kalosara Dalam Penyelesaian Sengketa Lahan di Desa Lalonggasu Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Kalosara merupakan simbol yang mengandung makna interaksi dan komunikasi dalam penyelesaian sengketa lahan degan melalui proses musyawarah dan pengambilan keputusan oleh tokoh adat melalui benda adat Kalosara yang tidak memberat sebelahkan salah satu pihak, serta disaksikan oleh pemerintah setempat, tokoh masyarakat yang hadir pada saat musyawarah. Dalam hal ini Kalosara berfungsi sebagai juru damai serta media pemersatu dalam peneyelesaian sengketa lahan pada masyarakat. Kata Kunci: Fungsi, Kalosara, Desa Lalonggasu

Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO More Issue