cover
Contact Name
-
Contact Email
biospecies@unja.ac.id
Phone
+6282234478333
Journal Mail Official
biospecies@unja.ac.id
Editorial Address
Biology Education Program, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Jambi, Jl. Jambi-Ma.Bulian Km 15 Mendalo Darat, Jambi, Indonesia
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Biospecies
Published by Universitas Jambi
ISSN : 19790902     EISSN : 25030426     DOI : 10.22437
The journal specializes in tropical biology research with a multidisciplinary scope encompassing zoology, botany, microbiology, ecology, environmental science, biotechnology, bioinformatics, and evolutionary biology. Distinct from conventional biology journals, BIOSPECIES emphasizes the integration of biodiversity research with indigenous knowledge systems and innovative approaches rooted in tropical ecosystems.
Articles 258 Documents
Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Ikan Seriding Ambassis gymnocephalus (Lacepede, 1802) Perairan Mangrove di Kawasan Konservasi Gema Wahyudewantoro
Biospecies Vol. 9 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i2.3155

Abstract

Abstrak. Telah dilakukan penelitian tentang pertumbuhan ikan seriding Ambassis gymnocephalus di perairan TN. Ujung Kulon dan SM. Muara Angke. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan panjang berat dan faktor kondisi. Ikan ditangkap dengan jaring insang (diameter mata jaring = ¾ inch, 1 inch, 1,5 inch dan 2 inch) dan jala (diameter mata jaring = 1 cm dan 2 cm). Hasil yang diperoleh hubungan panjang berat yaitu nilai R untuk jantan 97,9% dan betina 99,0% di TN. Ujung Kulon dan di SM. Muara Angke nilai R 87,8% untuk jantan dan betina 88,4%. Pola pertumbuhan alometrik positif terjadi di TN. Ujung Kulon, sedangkan alometrik negatif di SM. Muara Angke. Nilai faktor kondisi pada 2 lokasi relatif mendukung. Kata kunci: mangrove, panjang-berat, faktor kondisi, seriding, TN. Ujung Kulon, SM. Muara Angke
Identifikasi dan Tipe Habitat Ikan Gelodok (Famili: Gobiidae) di Pantai Bali Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara Ahmad Muhtadi; Sabilah fi Ramadhani; YUNASFI YUNASFI
Biospecies Vol. 9 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i2.3156

Abstract

Abstrak. Ikan gelodok atau Mudskipper merupakan ikan yang hidup di daerah pasang-surut. Ikan ini mampu berjalan di atas lumpur, bahkan mampu memanjat akar-akar mangrove. Informasi tentang kajian mengenai ikan gelodok di Indonesia masih sedikit. Untuk itu diperlukan informasi lebih lanjut tentang jenis-jenis ikan dan tipe habitat yang paling sering ditemukan ikan gelodok. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2014 sampai dengan April 2014. Pengambilan contoh ikan gelodok pada 3 daerah yaitu, pantai, mangrove dan sungai/saluran. Identifikasi jenis ikan gelodok mengacu pada Kottelat et al., (1993). Selanjutnya dihitung kepadatan ikan sesuai titik pengamatan. Hasil penelitian ditemukan 4 jenis ikan gelodok yaitu: Boleophthalmus boddarti, Periophthalmus chrysospilos, Periophthalmus gracilis dan Periophthalmonodon schlosseri. Rata-rata kepadatan ikan gelodok selama masa penelitian adalah 9 ind/m2 untuk di wilayah pantai, 1 ind/m2 di wilayah mangrove dan 6 ind/m2 pada saat kondisi air laut pasang. Pada saat kondisi air laut surut, kepadatan ikan gelodok adalah 4 ind/m2 untuk daerah pantai, 2 ind/m2 untuk daerah mangrove dan 7 ind/m2 untuk daerah sungai. Pada daerah pantai umumnya di jumpai jenis Periophthalmus chrysospilos. Pada daerah mangrove lebih sering dijumpai jenis Periophthalmus gracilis. Pada daerah sungai lebih dominan jenis Boleophthalmus boddarti dan Periophthalmonodon schlosseri. Kata kunci: ikan gelodok, identifikasi, tipe habitat.
Pengaruh Pupuk Organik Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap Pertumbuhan Bibit Jelutung Rawa (Dyera lowii HOOK.f.) Winda Septiyeni; Upik Yelianti; Pinta Murni
Biospecies Vol. 9 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i2.3157

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik TKKS dan inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) serta memperoleh dosis yang optimum terhadap pertumbuhan bibit jelutung rawa secara optimal. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk organik TKKS (0,145; 290 dan 580 g/tanaman) dan faktor kedua dosis FMA Mycofer® (0,5; 10 dan 15 g/tanaman), ulangan sebanyak tiga kali. Parameter penelitian berupa tinggi batang, diameter batang, jumlah daun, luas daun, rasio pucuk akar dan persentase akar terkolonisasi. Data dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multi Range Test (DMRT) pada taraf α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh nyata pupuk organik TKKS terhadap pertambahan diameter batang dan rasio pucuk akar. Pemberian dosis FMA menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase kolonisasi akar. Pemberian kombinasi keduanya juga menunjukkan pengaruh interaksi yang nyata terhadap tinggi batang dan luas daun. Dosis optimum diperoleh pada perlakuan pupuk organik TKKS 145 g dan inokulasi FMA 5 g. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menggunakan pupuk organik TKKS dengan dosis 145 g yang dikombinasikan dengan dosis FMA 5 g/tanaman. Kata Kunci : TKKS, pertumbuhan, jelutung rawa, FMA.
Jumlah Sulur sebagai Penanda Diabetes Mellitus Tipe-2 Etnis Minangkabau Syamsurizal Syamsurizal
Biospecies Vol. 9 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i2.3158

Abstract

Abstrak. DMT-2 merupakan penyakit degeneratif yang sulit disembuhkan. Prevalensi diabetes di Indonesia menduduki peringkat ketujuh di dunia. Oleh karena itu upaya yang diperlukan untuk mencegah DMT-2 dengan mencari penanda genetik. Jumlah sulur ujung jari tangan dapat digunakan sebagai penanda genetik DMT2. Tujuan penelitian menemukan hubungan jumlah sulur  sebagai penanda genetik DMT-2. Metode penelitian case control dengan model cross sectional study dengan 66 DMT-2 dan 66 kontrol. Hasil penelitian jumlah sulur ujung  jari tangan DMT2 adalah 104,85 dengan SD ±30,02, pada kontrol 122,06 dengan SD ±29,54. Hasil uji-t dengan nilai p<0,05. Jumlah  sulur ujung  jari tangan kanan   DMT2 adalah 53,3 dengan SD ±15,4, sedangkan pada kontrol  63,2  dengan SD ±15,9. Jumlah  sulur ujung  jari tangan kiri DMT2 adalah 51,6 dengan SD ±15,9, pada kontrol 58,9  dengan SD ±15,5. Hasil uji anava didapatkan p<0,05. Hasil uji anava jumlah sulur setiap jari diperoleh p<0,05, kecuali jari V/kelingking. Dengan demikian terdapat hubungan jumlah sulur total sidik jari(TRC), jumlah sulur tangan kanan dan kiri serta   jumlah sulur setiap sidik jari dengan penderita DMT2 etnis Minangkabau, kecuali kelingking.   Kata kunci: jumlah sulur, DMT2 dan etnis Minangkabau
Keanekaragaman Jenis Burung pada Areal Tambak Intensif di Sumatera Selatan dan Lampung Jani Master; Nuning Nurcahyani; Suci Natalia; Henny Indah Pertiwi
Biospecies Vol. 9 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i2.3159

Abstract

Abstrak. Areal pertambakan merupakan salah satu habitat yang disukai oleh jenis burung, khususnya burung air. Penelitian ini ini bertujuan untuk indentifikasi keanekaragaman jenis-jenis burung yang terdapat pada areal pertambakan udang intensif. Penelitian dilakukan pada dua areal tambak intensif terbesar di Sumatera Selatan dan Lampung pada bulan Juni – Agustus 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode jelajah dengan stasiun pengamatan yang ditempatkan secara purposive. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman burung pada dua areal tambak intensif berkisar antara sedang hingga tinggi yaitu 2,90 untuk tambak intesif di Sumatera Selatan  dan 3.55 untuk tambak intensif di Lampung. Areal tambak menjadi salah satu lokasi penting bagi burung, selain karena memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, areal tambak juga menjadi salah satu habitat pilihan lokasi singgah mencari makan burung-burung migran.   Kata Kunci: keanekaragaman jenis, burung air, tambak udang
Keanekaragaman dan Kelimpahan Jenis Kupu-kupu (Lepidoptera; Rhopalocera) di Sekitar Kampus Pinang Masak Universitas Jambi Bestia Dewi; Afreni Hamidah; Jodion Siburian
Biospecies Vol. 9 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i2.3160

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan jenis kupu-kupu (Lepidoptera; Rhopalocera) di sekitar Kampus Pinang Masak Universitas Jambi. Sampel  diambil dari 5 stasiun yang ditentukan secara purposif. Pada Masing-masing stasiun dibuat transek sepanjang 140 m, lalu dibuat 10 plot dengan ukuran 5x5 m dengan jarak antar plot yang sama (10 m). Parameter pengamatan meliputi keanekaragaman dan kelimpahan jenis. Selain itu diamati pula kondisi lingkungan yang meliputi intensitas cahaya, suhu udara dan kelembaban udara. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 143 individu dari 5 famili yaitu famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae dan Hesperiidae dengan indeks keanekaragaman jenis yaitu 2,153. Hasil perhitungan kelimpahan jenis menunjukkan banyak jenis yang ditemukan dengan kelimpahan yang rendah yaitu dengan nilai kelimpahan jenis 0,006 (1 individu). Adapun jenis kupu-kupu yang ditemukan melimpah adalah jenis Junonia orithya dengan nilai kelimpahan jenis 0,160  (23 individu), diikuti oleh Acraea terpsicore dengan nilai kelimpahan jenis 0,132(19 individu) dan Eurema hecabe dengan nilai kelimpahan jenis 0,118 (17 individu). Kondisi lingkungan yaitu intensitas cahaya (16780-92170 Lux), suhu udara (31,6-34,2 oC) dan kelembaban udara (63,8-80,8%). Dari hasil penelitian, keanekaragaman jenis kupu-kupu (Lepidoptera; Rhopalocera) di sekitar Kampus Pinang Masak Universitas Jambi menunjukkan tingkat yang sedang dengan nilai berkisar antara 1,5-3,5. Disarankan untuk dapat dilakukan penelitian sejenis dengan lokasi yang lebih luas, dan dengan berbagai kondisi musim sehingga mendapatkan hasil yang lebih luas.   Kata kunci: kupu-kupu, keanekaragaman, kelimpahan, Universitas Jambi.
Isolasi Bertahap Bakteri Pendegradasi Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit di PT. Erasakti Wira Forestama Muaro Jambi Retni S BUDIARTI; Winda Dwi KARTIKA
Biospecies Vol. 9 No. 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v9i1.3161

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri yang mampu mengurai limbah tandan kosong kelapa sawit secara bertahap. Skrining tahap pertama pada Nutrient Broth dan Tandan Kosong Kelapa sawit yang dishaker 150 rpm selama 3 hari,dan diperoleh 18 isolat bakteri. Sedangkan pada skrining  tahap kedua  menggunakan Nutrient Broth ditambah Tandan Kosong Kelapa Sawit dan diperkaya dengan sisa medium tahap 1 (Nutrient Broth ditambah Tandan Kosong Kelapa Sawit yang telah didegradasi oleh 18 isolat)  dishaker  selama 3 hari dengan kecepatan 150 rpm, didapatkan 6 buah isolat bakteri. Menurut buku Bergey Manual of Determinative Bacteriology Isolat 1, isolat 2, isolat 3, isolat 5 dan isolat 6 termasuk kelompok ke 7 yaitu bakteri gram negatif aerobik bentuk kokus dan batang. Sedangkan isolat 4 termasuk ke dalam  kelompok ke 14 yaitu bakteri gram positif berbentuk kokus.   Kata Kunci : Isolasi, Limbah, Tandan Kosong Sawit
PERILAKU HARIAN BURUNG KAKATUA KOKI (cacatua galerita) DI AREA EX-SITU TAMAN RIMBA ZOO JAMBI: The Daily Behavior Of The Chef Cockatoo (Cacatua galerita) In Ex-Situ Area Of The Jambi Zoo Jungle Park Arba, Risqi Mutia; Sukmono, Tedjo; Prima Nugraha, Anggit
Biospecies Vol. 15 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v15i2.12241

Abstract

Kakatua koki (Cacatua galerita) merupakan burung yang dilindungi, karena termasuk dalam kategori Least Concern dan termasuk ke dalam Appendiks II, karena banyak diperdagangkan baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga memiliki populasi yang terus menurun. Salah satu konservasi ex-situ yaitu Taman Rimba Zoo Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas periaku harian, perilaku makan, dan pakan kesukaan, serta apa saja komposisi pakan kakatua koki (Cacatua galerita) di Taman Rimba Zoo Jambi.  Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12-25 September 2020. Penelitian ini menggunakan metode Focal Animal Sampling dengan metode pencatatan data secara Continuous Sampling. Data yang didapat berupa data primer, data sekunder, dan dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan rumus Altman, hasil berupa tabel dan diagram. Berdasarkan hasil pengamatan terdapat 14 perilaku yang teramati, perilaku yang paling dominan yaitu perilaku bertengger 26% atau 2900 menit, perilaku ingesti 18% atau 2026 menit, perilaku menelisi bulu 12% atau 1384 menit. Adapun pakan yang diberikan untuk kakatua terdiri dari sayur-sayuran [kangkung (Ipomea aquatica), tauge (Vigna radiata), dan wortel (Daucus carota)], biji-bijian [jagung (Zea mays)], buah-buahan [pepaya (Carica papaya) dan pisang (Musa paradisiaca)], serta air digunakan untuk minum. Pakan kesukaan kakatua yaitu jagung (Zea mays) dan pepaya (Carica papaya).
DAUN TEBU (Saccharum spontaneum L.) SEBAGAI PENYERAP ZAT WARNA TEKSTIL REACTIVE BLUE: Sugarcane Leaves (Saccarum Spontaneum L.) As Absorbent Reactive Blue Textile Dyes Yuliani, Dwi; Mayangsari, Reza
Biospecies Vol. 15 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v15i2.12646

Abstract

Perkembangan industri tekstil di Indonesia sangat cepat. Penggunaan pewarna tekstil dalam industri tersebut dapat mencemari lingkungan. Upaya penanggulangan pencemaran pewarna tekstil menggunakan daun tebu (Saccharum spontaneum L.) dilakukan pada skala laboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk memberikan informasi ilmiah tentang banyaknya biomassa daun S. spontaneum yang paling efektif untuk mendekolorisasi pewarna tekstil reactive blue. Percobaan dekolorisasi dilakukan dengan menambahkan biomassa daun S. spontaneum dalam tiga perlakuan yaitu 10 gram, 20 gram dan 30 gram. Efektivitas dekolorisasi diamati melalui perubahan warna larutan  reactive blue dalam waktu kontak 3 x 24 jam. Perubahan warna yang terjadi dilihat dengan menggunakan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang 586 nm. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan adanya perubahan warna, dimana warna yang paling jernih terlihat pada perlakuan 3 dengan biomassa daun S. spontaneum sebanyak 30 gram.
KARAKTERISTIK MORFOMETRIK IKAN BAUNG (Hemibagrus hoevenii, Bleeker 1846) DI DESA LANGGAM DAN TAMBAK, SUNGAI KAMPAR, PROVINSI RIAU: Morphometric Characteristics of Baung Fish (Hemibagrus hoevenii, Bleeker 1846) in Langgam and Tambak Village, Kampar River, Riau Province Firiola, Sezhianindi; Elvyra, Roza
Biospecies Vol. 15 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v15i2.12887

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan morfometrik ikan H. Hoevenii jantan dan betina di Desa Langgam dan Tambak Sungai Kampar menggunakan metode survei dengan jumlah sampel sebanyak 60 ekor ikan jantan dan 60 ekor ikan betina di masing-masing lokasi penelitian. Ikan H. hoevenii jantan di desa Langgam memiliki kisaran panjang total 118-214 mm dan betina 129-223 mm sedangan kisaran H. hoeveniii jantan pada Desa Tambak 140-231 mm dan betina 130-270 mm. Hasil uji t menunjukkan terdapat beberapa perbedaan antar karakter H. hoevenii jantan dan betina di Desa Langgam dan Tambak yaitu karakter panjang standar, panjang predorsalm panjang preanal, panjang prepelvic, panjang prepectoral, panjang sirip adiposa, panjang duri pectoral, jaral setelah adiposa, lebar kepala, kedalaman kepala, dan diameter mata.