cover
Contact Name
Mochammad Maola
Contact Email
maola@walisongo.ac.id
Phone
+6285848304064
Journal Mail Official
jish@walisongo.ac.id
Editorial Address
Jalan Walisongo No. 3-5 Semarang Jawa Tengah, Indonesia Phone/Fax. +6224 7614454 Email: jish@walisongo.ac.id
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Islamic Studies and Humanities
ISSN : 25278401     EISSN : 2527838X     DOI : https://doi.org/10.21580/jish
Journal of Islamic Studies and Humanities (JISH) intends to publish a high-standard of theoretical or empirical research articles within the scope of Islamic studies and humanities, which include but are not limited to theology, mysticism, cultural studies, philology, law, philosophy, literature, archaeology, history, sociology, anthropology, and art. All accepted manuscripts will be published both online and in printed forms.
Articles 186 Documents
REPRESENTASI KOMODIFIKASI AGAMA PADA IKLAN WEBSERIES MIRACLE OF HIJRAH OLEH PRIMALAND Hafidhoh Ma'rufah
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 8, No 2 (2023): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v8i2.18081

Abstract

Developments in technology and information bring changes to the pattern of product marketing. Marketing advertisements undergo various transformations, from print advertisements to ads in the form of videos, from short videos to videos in the form of web series. In its development, too, sharia-based products are increasingly familiar to the public. One form of Sharia product is Sharia-based housing. This residence offers religious facilities such as a prayer room and an archery field. In addition, Sharia housing also uses non-usury payments using an in-house scheme. It is undeniable that the commodification of religion accompanies the advertisements being promoted. Through residential advertisements in the form of web series, Primaland markets its various Sharia residential products. Various commodifications of faith are found in this advertisement. Three forms of commodification were found: Islamic iconography (description of identity), the use of figures with Muslim influencer backgrounds, and the existence of advertising texts or religious messages conveyed through dialogues in web series.
REVIEW OF PURCHASING AND SELLING NFTS IN ISTIHSAN Mohammad Farid Fad
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 8, No 2 (2023): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v8i2.17245

Abstract

AbstractSo far, NFTs have been defined as digital tokens that are shaped like ownership certificates for virtual and physical assets. These NFTs are usually traded online and are often paid for using cryptocurrencies, especially Ethereum. However, the problem is that in 2021 the MUI issued a fatwa that cryptocurrency is illegal. This is because it there are elements of qimar, dharar, and gharar. For this reason, it is necessary to study the methodology of Islamic law regarding Non-Fungible Tokens (NFT) through istihsan (juristic preference). This study uses a qualitative approach. The data were collected from library study, documentation and observation. In analyzing  the data used descriptive-analytic analysis with the approach used is ushuliyah. This study revealed that from istihsan point of view, transactions using Non-Fungible Tokens are permitted. This is because, from Qiyas Khafi perspective, NFT is known as the underlying assets of the transaction. Up to the operational level, if qiyas khafi is of greater benefit, then qiyas jali may be abandoned. What is used is qiyas khafi to maintain the principles of maqasid shari'a. Therefore, within the istihsan framework, Non-Fungible Token transactions are allowed through qiyas khafi due to an element of greater benefit.Keywords: Non-Fungible Token Transaction; Istihsan; Maqasid Shari’a, AbstrakSelama ini NFT didefinisikan sebagai token digital yang berbentuk seperti sertifikat kepemilikan untuk aset virtual dan fisik. NFT ini adalah biasanya diperdagangkan secara online dan sering dibayar untuk menggunakan cryptocurrency, khususnya Ethereum. Namun yang menjadi persoalan ialah pada tahun 2021 MUI pernah memfatwakan haram penggunaan cryptocurrency karena mengandung unsur gharar, dharar, dan qimar. Untuk itu, diperlukan kajian metodologi hukum Islam tentang Non-Fungible Token (NFT) melalui istihsan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sementara metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode literatur, dokumentasi dan observasi. Dalam menganalisis data yang telah dikumpulkan, peneliti menggunakan analisis deskriptif-analitis dengan pendekatan ushuliyah. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dalam tinjauan istihsan, transaksi dengan menggunakan Non-Fungible Token diperbolehkan. Hal ini dikarenakan dalam tinjauan qiyas khafi, NFT dikenal asset yang mendasari transaksi tersebut (underlying assets). Hingga dalam tataran operasionalnya, bila qiyas khafy lebih besar manfaatnya, maka qiyas jaly itu boleh ditinggalkan dan yang dipakai adalah qiyas khafy demi terpeliharanya prinsip-prinsip maqasid syari’ah. Oleh karena itu, dalam kerangka istihsan, transaksi Non-Fungible Token diperbolehkan melalui qiyas khafi dikarenakan adanya unsur maslahat yang lebih besar.Keywords: Non-Fungible Token; Istihsan; Maqashid Syari’ah.
AL-QUR’AN SEBAGAI OBJEK KAJIAN STUDI AGAMA ISLAM M. Ihsan Fauzi
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 8, No 2 (2023): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v8i2.12580

Abstract

Agama berperan penting sebagai pencetak watak dan moral dalam kehidupan manusia, juga sebagai pencetus sebuah pemikiran masyarakat. Agama hadir sebagai alat penghubung antara manusia dengan penciptanya dan al-Qur’an sebagai dasar landasannya. Artikel ini mengkaji tentang al-Qur’an sebagai objek kajian studi agama Islam dengan beberapa metode pendekatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Berdasar penelitian ditemukan bahwa dalam pendekatan normatif, agama merupakan dasar yang murni berasal dari Tuhan yang belum tercampur dengan  nalar pikiran manusia. Di dalamnya mengkaji tekstual al-Qur’an yang menjelaskan arti norma dan pokok penting yang terkandung di dalamnya. Adapun pendekatan sosiologi itu lebih condong kepada kajian tentang kehidupan masyarakat, baik itu hubungan antar individu maupun hubungan secara berkelompok. Dalam pendekatan ini yang menjadi fokus utama adalah hubungan sosial masyarakat. Adapun untuk pendekatan antropologi itu merupakan kajian yang membahas tentang sejarah perkembangan manusia. Dimana budaya, ras dan bahasa menjadi titik berat kajian dalam pendekatan tersebut. Pendekatan sosiologi dan antropologi memiliki relasi pada kajian living Qur’an. Keduanya memiliki hubungan dalam konteks budaya dan sosial dalam melihat bagaimana masyarakat menyikapi dan merespon al-Qur’an dikehidupan mereka sehari-hari.
SISTEM WARIS ADAT BILATERAL HAZAIRIN: ANALISIS DALAM LENSA MAQᾹṢID SYARῙ’AH YŪSUF QARAḌᾹWῙ Istifadah, Nur; Khoirin, Nur
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i1.20901

Abstract

AbstractOne of Hazairin's thoughts regarding bilateral inheritance law is that the Koran has regulated a system of equality between two different genders. This is what underlies his thinking regarding the distribution of inheritance, where for communities with father-mother clans or a bilateral system, assets to heirs are distributed fairly and according to their rights. Yūsuf al-Qaraḍāwī's maqāṣhid al-syarī'ah thinking is very moderate and adapts to changing times and conditions so that it can be accepted by all groups. The qualitative research method with this type of literature takes data sources from several primary data such as books by Hazairin and books by Yūsuf al-Qaraḍāwī. The data analysis process uses descriptive-analytical analysis, with a maqāṣhid al-syarī'ah approach, in which the writer-researcher will examine Hazairin's thoughts regarding bilateral customary inheritance in the view of maqāṣhid al-syarī'ah Yūsuf al-Qaraḍāwī. The results of this paper show that the inheritance law that has been regulated by Islamic Sharia certainly contains benefits for its creatures, benefits that do not look at gender differences, especially in terms of Islamic inheritance. As expressed by Yūsuf al-Qaraḍāwī, humans need to know and understand religion, not just know religion without understanding it, because with this the meaning and intentions of the Shari'ah can be achieved by humans.Keywords:   Hazairin's Bilateral Heir, Maqāṣhid al-Syarī'ah, Yūsuf al-QaraḍāwīAbstrakSalah satu pemikiran Hazairin mengeni hukum waris secara bilateral yakni bahwasannya al-Qur’an telah mengatur sistem kesetaraan antara dua gender yang berbeda. Hal tersebut yang melandasi pemikirannya terkait pembagian waris, yang mana bagi masyarakat dengan clan/marga ayah-ibu atau disebut  dengan  sistem bilateral, membagikan harta kepada ahli waris dibagikan secara adil dan sesuai dengan haknya. Pemikiran maqāṣhid al-syarī'ah Yūsuf al-Qaraḍāwī sangat moderat serta menyesuaikan dengan perubahan masa dan kondisi, sehingga dapat diterima oleh semua kalangan. Metode penelitian kualitati dengan jenis kepustakaan ini mengambil sumber data dari beberapa data primer seperti buku karya Hazairin dan kitab karya Yūsuf al-Qaraḍāwī. Proses analisis data menggunakan analisis deskriptif-analitis, dengan pendekatan maqāṣhid al-syarī'ah, yang mana penulis-peneliti akan menelaah pemikiran Hazairin terkait dengan waris adat bilateral dalam pandangan maqāṣhid al-syarī'ah Yūsuf al-Qaraḍāwī. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwasannya, hukum waris yang telah diatur oleh syari’at Islam sudah tentu mengandung kemashlahatan bagi makhluknya, kemashlahatan yang tidak memandang perbedaan gender khususnya dalam hal waris Islam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Yūsuf al-Qaraḍāwī bahwa pentingnya manusia mengetahui dan memahami agama, bukan hanya mengetahui agama tanpa memahaminya, sebab dengan hal tersebut makna dan maksud-maksud syari’at dapat digapai oleh manusia.Kata kunci:         Waris Bilateral Hazairin, Maqāṣhid al-Syarī'ah, Yūsuf al-Qaraḍāwī
TONO SAKSONO DALAM PENENTUAN AKHIR MEGA MERAH DI PANTAI TRISIK, KULON PROGO Aryani, Dian Ika; Aswindana, Ibanez Sofadella Agil
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i1.22041

Abstract

Hilangnya mega merah umumnya digunakan sebagai acuan penentuan awal waktu Isya kerap menimbulkan kontroversi pendapat yang berbeda oleh para ahli. Perbedaan ini yang mendasari penggunaan metode blink comparator dalam teknik analisa citra astrofotografi. Penelitian ini menggunakan teori sudut pandang dari tokoh ahli falak, Tono Saksono. Sebagai parameter perhitungan, penelitian ini menggunakan perspektif Kementrian Agama RI sebagai parameter validasinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dimana observasi lapangan (field research) dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian ini. Data primer berasal dari hasil akusisi data di lapangan yang dilakukan di Pantai Trisik, Kulon Progo. Data sekunder diunduh dari online data; weather spark dan light pollution map. Senja atau syafaq belum hilang secara sempurna atau bahkan hilang lebih cepat sebelum ketinggian Matahari mencapai -18°. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor alam yaitu cuaca, kondisi awan dan hujan serta factor dari lingkungan sekitar seperti polusi cahaya. Dari perspektif Kementerian Agama RI dalam situs website Bimas Islam, awal waktu salat di Pantai Trisik dinilai tidak sesuai. Ditinjau dari situs peta kecerlangan langit (light pollution maps) daerah ini memiliki indeks skala bortle level 3 dinilai ideal untuk dilakukan pengamatan syafaq al-ahmar. Dalam penelitian ini secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwa kriteria Tono Saksono tidak sesuai dalam penentuan waktu akhir mega merah di Pantai Trisik, Kulon Progo, dan kriteria Kementerian Agama RI lebih sesuai untuk lokasi tersebut.
ECONOMIC GROWTH AND PROSPERITY: ARABIC AND ISLAMIC STUDIES PERSPECTIVE Busari, Kehinde Kamorudeen
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i1.19599

Abstract

The Islamic world has a rich history of economic thought that has evolved over centuries, and the unique perspective of Arabic and Islamic studies provides valuable insights into contemporary economic challenges. Islamic economics, rooted in the teachings of the Qur'an and Hadith, emphasizes ethical and moral principles in economic activities. Central to this perspective is the concept of "Barakah", which signifies blessings and divine favour in economic endeavours. Arabic and Islamic scholars have long argued that true prosperity can only be achieved when economic growth is accompanied by social justice and the equitable distribution of wealth. This view underscores the importance of wealth redistribution mechanisms such as Zakāt (obligatory almsgiving) and the prohibition of usury (Ribā) to ensure economic fairness. Also, Islamic finance principles have gained global recognition for their ethical framework. Concepts like Mudārabah (profit-sharing) and Mushārakah (joint venture) promote risk-sharing and discourage exploitative practices. Those principles have led to the development of Islamic banking and finance systems, which have demonstrated resilience even in times of economic crises. Moreover, Arabic and Islamic studies emphasize the role of entrepreneurship and innovation in fostering economic growth. Historically, Islamic civilization was a central part of scientific and technological advancement, contributing to prosperity in various fields. This perspective encourages investment in education, research and development as vital drives of economic progress. Furthermore, the Arabic and Islamic worldview promotes sustainable economic practices, emphasizing the stewardship of natural resources and the avoidance of wasteful consumption. This perspective aligns with contemporary global efforts to address environmental challenges and achieve sustainable development. The Arabic and Islamic studies perspective on economic growth and prosperity offers a holistic approach that prioritizes ethical considerations, equitable distribution of wealth, innovation and sustainability. It serves as a valuable source of inspiration for policy makers, economists and scholars seeking to build inclusive and ethical economic systems that benefit society as a whole. The study employs exegetical and qualitative research approaches from the Qur'an, Hadith and other relevant textbooks, journals and online materials respectively. 
DISPARITAS PUTUSAN HAKIM DALAM PEMBERIAN HADHANAH PADA IBU MURTAD PERSPEKTIF MAQĀSĪD AL-SYARĪAH (Studi Putusan Nomor 2800/Pdt.G/2018/PA.Jb dan Putusan Nomor 0679/Pdt.G/2020/PA.Klt) Husniati, Siti Ida; Kamarusdiana, Kamarusdiana; Yassardin, Yassardin
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i1.20082

Abstract

Purpose of this Study Researchers will examine the provision of child custody due to mothers who have apostatized. from 2 different religious court decisions, both of which have different considerations and rulings. This research is a normative juridical research using statute approach and case approach. Primary data sources are Decision Number 2800/Pdt.G/2018/PA.JB and Decision Number 0679/Pdt.G/2020/PA.Klt, Law Number 1 of 1974 concerning marriage, and the Compilation of Islamic Law (KHI). Secondary data sources are books, journals, articles and related literature. Based on the results of this study, it was found that a mother who apostatized could also not get custody of the child. his is in accordance with the book, hadith, fiqh rules, Supreme Court Jurisprudence No. 210/K/AG/1996, 110 K/Ag/2007, and viewed from the perspective of Maqasid al-Syari'ah can be seen in giving custody of the child to his father solely to maintain the element of hifz ad-din of the child. In the aspect of hifz ad-din, it is included in the ad-dharuriyat needs because the granting of child custody to an apostate mother can threaten the child's religion, such as the transition of the child's religion. In giving custody of children to their mothers, it is included in the needs of al-hājiyāt, namely hifz an-nafs.
INKONSISTENSI BATAS USIA ANAK DALAM PERKARA PERWALIAN DI PENGADILAN AGAMA PERSPEKTIF KEPASTIAN HUKUM Maharani, Vanya Faby; Kamarusdiana, Kamarusdiana; Yassardin, Yassardin
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i1.20084

Abstract

This paper is a normative juridical research with a statutory approach and case approach. The primary data sources are Banjarbaru Religious Court Decision Number 0026/Pdt.P/2015/PA.Bjb and Cilegon Religious Court Decision Number 09/Pdt.P/2017/PA.Clg, the Marriage Law, and the Compilation of Islamic Law. The secondary data sources are articles, journals, and other sources related to the discussion in this paper. The results of this paper found that an application for legal guardianship is submitted to the Court in order to determine who is entitled to guardianship of a child who is still a minor and not yet legally competent. In reality, even parents who are directly entitled to underage children for certain cases still apply for custodial status to the Religious Court so that there is concrete evidence or documents on this matter.  There are many provisions governing children as well as guardianship, so that judges decide with different references, but still provide certainty to the case submitted because there is a law that regulates it clearly. In certain cases related to children's property or inheritance rights, the judge has other considerations related to this matter.
DARI JONG JAVA KE JONG ISLAMIETEN BOND: PERGESERAN IDENTITAS DAN POLITIK PEMUDA ISLAM INDONESIA (1924-1942) Fadillah, Alif Fikri Fajar; Subakti, Ganjar Eka
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i1.21613

Abstract

Pada periode sebelum tahun 1920, banyak berdiri organisasi organisasi-organisasi kepemudaan di Indonesia, berdirinya organisasi kepemudaan ini diawali oleh Tri Koro Dharmo pada 1915 yang kemudian akan merubah namanya menjadi Jong Java. Pendirian Jong Java akan menginspirasi berdirinya organisasi pemuda di daerah lain seperti Sumatera, Ambon, Minahasa, dan sebagainya. Organisasi kepemudaan pada masa itu masih bersifat kedaerahan, hingga pada 1924 Jong Islamieten Bond dibentuk atas gagasan dari Raden Sjamsoeridjal yang sebelumnya merupakan ketua Jong Java. Jong Islamieten Bond memberikan warna baru dalam pergerakan pemuda Indonesia. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, Metode ini melibatkan analisis naratif, penelusuran pola, dan interpretasi terhadap data yang diperoleh dari observasi dan bahan tertulis. Penelitian ini ditempuh dengan pengumpulan sumber sejarah yang akan digunakan, kemudian penulis menganalisis data yang terdapat dalam sumber dan mengumpulkan data yang selaras dengan judul penelitian yang penulis angkat, setelah data tersebut dikumpulkan penulis menuangkannya dalam bentuk deskriptif.
PENANAMAN NILAI-NILAI ASWAJA AN-NAHDLIYIN DAN TRADISI KEAGAMAAN MASYARAKAT (UPAYA UNTUK MELESTARIKAN PRAKTEK KEAGAMAAN MASYARAKAT DAN FILTERISASI TERHADAP GEJOLAK ALIRAN LAIN DI ERA MODERN) Ahmad, Nehru Millat; Sein, Lau Han
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol. 9 No. 2 (2024): Journal of Islamic Studies and Humanities
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.v9i2.21810

Abstract

Penelitian ini membahas terkait penanaman nilai-nilai aswaja an-Nahdliyin di era modern guna melestarikan dan memfilter akan gejolak aliran lain. Sebagaimana Maraknya aliran dan ajaran Islam dengan berbagai perbedaan, acapkali menimbulkan perbandingan bahkan perdebatan untuk berlomba-lomba untuk melegitimasi bahwa aliran yang dijalani merupakan ajaran yang sesuai dan merupakan ajaran Nabi Muhammad, sahabat maupun tabi’in. permasalahan yang akan di jawab pada penelitian ini adalah bagaimana praktek dan nilai-nilai aswaja an-Nahdliyin di era modern dan bagaimana cara memfilter masyarakat modern terhadap gejolak aliran lain dengan menggunakan nilai nilai aswaja an-Nahdliyin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka. Pada penelitian ini tergolong kepada penelitian basic research, yaitu penelitian dalam rangka memperluas dan memperdalam pengetahuan secara teoritis. Hasil dari penelitian ini adalah; Aswaja An-Nahdliyah memiliki sumbangsih yang cukup besar dalam upaya menanamkan sikap-sikap sesuai ajaran yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat. Salah satu aspek nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah dengan sikap tasamuh (toleran), mampu menjadi filter manusia di era modern dari tawaran-tawaran dan ajaran paham Islam radikal yang semakin marak bertebaran.