cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ach.journal@unud.ac.id
Editorial Address
JL PB Sudirman Denpasar Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Archive of Community Health
Published by Universitas Udayana
ISSN : 2302139X     EISSN : 25273620     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Archive of Community Health menerbitkan hasil penelitian berhubungan dengan kesehatan masyarakat seperti kebijakan kesehatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, gizi kesehatan masyarakat, kesehatan kerja, promosi kesehatan, ekonomi kesehatan serta ilmu ilmu dasar yang berkaitan seperti bioteknologi kesehatan, biologi molekuler, bioinformatik dan genetik, tanaman, hewan, serta sel yang terkait dengan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
GAMBARAN PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT KELUARGA DAN TENAGA KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I DENPASAR BARAT Bella Riezka Aristianti Putri; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 1 (2018): Juni (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.967 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i01.p06

Abstract

ABSTRAKData Dinas Kesehatan Provinsi Bali menunjukkan bahwa jumlah kasus TB paru terbesar berada di Denpasar sebesar 1021 kasus pada tahun 2015. Tidak tercapainya angka kesembuhan pasien dan angka konversi TB serta lamanya proses pengobatan pasien mempengaruhi kepatuhan pasien sehingga memerlukan pengawasan menelan obat dalam menjamin keteraturan pengobatannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran peranan pengawas menelan obat keluarga dan dari tenaga kesehatan pada pasien tuberkulosis di Puskesmas I Denpasar Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling serta menggunakan azas kecukupan dan kesesuaian. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa peran PMO keluarga dalam mengawasi pasien menelan obat, yaitu mengawasi pasien menelan obat jika tidak bekerja, memberikan dorongan agar pasien berobat secara teratur dengan memberikan kalimat motivasi, mengingatkan pasien untuk periksa dahak ulang dari jadwal pemeriksaan yang telah diberitahukan oleh petugas kesehatan dan dicatat dalam kartu kuning yang digunakan dalam pemeriksaan, merujuk pasien jika efek samping semakin berat dan menganjurkan pemeriksaan tanpa memberikan informasi mengenai TB, peran PMO tenaga kesehatan dalam mengawasi pasien menelan obat hanya menanyakan bagaimana minum obatnya, memberi dorongan dengan pemberian KIE agar minum obat secara teratur, mengingatkan pasien untuk periksa dahak ulang dari jadwal pemeriksaan yang telah ditetapkan, mengenali efek samping obat dengan pemberian KIE diawal pengobatan, dan memberikan informasi serta mengajurkan pemerikasaan bagi keluarga yang mempunyai gejala TB. Tetapi menurut pasien PMO keluarga hanya mengingatkan untuk minum obat dan dalam tidak diberikannya informasi mengenai TB dikarenakan masih adanya stigma negatif di masyarakat serta pengetahuan PMO keluarga yang kurang mengenai perannya. Secara umum PMO telah menjalankan perannya tetapi masih terdapat beberapa peran yang masih belum dilakukan secara optimal sehingga upaya yang dapat dilakukan yaitu melakukan diskusi antara pasien, PMO keluarga dan tenaga kesehatan mengenai jadwal minum obat pasien dan memberikan informasi yang lebih terperinci mengenai perannya dalam proses pengobatan pasien TB.Kata Kunci: Peran, PMO Keluarga, PMO Petugas Kesehatan
ANALISIS AKSESIBILITAS PEMILIHAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA PADA PESERTA JKN MANDIRI DI KABUPATEN BADUNG TAHUN 2016 MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Ni Putu Sri Widhi Andayani; Ketut Hari Mulyawan; I Ketut Tangking Widarsa
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 4 No 2 (2017): Desember (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.591 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2017.v04.i02.p06

Abstract

ABSTRAKPeningkatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Kabupaten Badung belum diiringi dengan distribusi yang merata, dimana masih terdapat 48,39% (30) desa tidak memiliki FKTP pada wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas pemilihan FKTP pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mandiri di Kabupaten Badung menggunakan sistem informasi geografis. Penelitian deskriptif cross sectional dilakukan melibatkan 385 data peserta JKN mandiri di Kabupaten Badung dengan alamat berupa nama jalan dan nomor rumah yang diambil secara systematic random sampling. Analisis aksesibilitas dilakukan menggunakan SIG. Variabel yang diteliti adalah jarak tempuh, akses berdasarkan jenis FKTP dan akses berdasarkan kelas perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 89,09% peserta JKN mandiri tidak memilih FKTP terdekat. Akan tetapi 54,52% FKTP pilihan peserta masih termasuk ke dalam kategori akses ideal dengan rata-rata jarak tempuh sebesar 4,71 km. Peserta dengan jenis FKTP klinik pratama (43,66%), praktik dokter (29,17%) dan puskesmas (33,96%) belum memiliki akses ideal ke FKTP pilihan. Berdasarkan kelas perawatan, peserta kelas I (45,08%), kelas II (32,82%) dan kelas III (30,00%) belum memiliki akses ideal ke FKTP pilihan. Dapat disimpulkan bahwa 40,52% peserta JKN mandiri belum memiliki akses yang ideal ke FKTP pilihan. Informasi terkait lokasi FKTP terdekat perlu diberikan kepada calon peserta JKN sebagai pertimbangan dalam pemilihan FKTP.Keywords: JKN Mandiri, FKTP, Jarak Tempuh, Aksesibilitas, Kelas Perawatan ABSTRACTImprovement of Primary Health Facilities (FKTP) in Badung Regency has not been accompanied by equitable distribution, where 48.39% (30) villages do not have yet FKTP in their area. This study aims to analyze the accessibility of FKTP selection for independent National Health Insurance (JKN) participants in Badung Regency. A cross-sectional descriptive study was conducted involving 385 independent JKN participants with street names and house numbers taken by systematic random sampling. Accessibility analysis is carried out using GIS. The variables studied were distance traveled, access by type of FKTP, and class of care. The results showed that 89.09% of JKN independent participants did not choose the closest FKTP. However, 54.52% of the selected FKTP participants are still in the ideal access category with an average distance of 4.71 km. Participants with the FKTP type pratama clinic (43.66%), general practice (29.17%) and puskesmas (33.96%) did not yet have ideal access. Similarly, participants in class I (45.08%), class II (32.82%) and class III (30.00%) did not have ideal access. In conclusion, 40.52% of samples do not have ideal access to FKTP. Information regarding the nearest FKTP location needs to be given to prospective JKN participants as consideration in the FKTP selection.Keywords : Health insurance, distance, accesbility
FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT WANITA PEKERJA SEKS (WPS) DI DENPASAR UNTUK MELAKUKAN PAP SMEAR/IVA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KANKER SERVIKS TAHUN 2017 Gusti Ayu Ikha Adyastuty Sanatha; Ni Wayan Septarini; Desak Putu Yuli Kurniati
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.769 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p01

Abstract

ABSTRAK Kanker serviks menempati urutan kedua di dunia setelah kanker payudara. Pada tahun 2016, kasus baru kanker serviks terbanyak di Bali ditemukan di Kota Denpasar sebanyak 834 kasus dan meninggal sebanyak 12 orang. Wanita Pekerja Seks berisiko untuk menderita kanker serviks karena sering berganti-ganti pasangan seksual dan berhubungan seksual pada usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor pendorong dan penghambat Wanita Pekerja Seks (WPS) di Denpasar untuk melakukan Pap Smear/IVA sebagai upaya pencegahan kanker serviks tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 82 wanita pekerja seks langsung dengan menggunakan teknik quota sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan data dianalisis secara univariat dan bivariat. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar wanita pekerja seks langsung di Kota Denpasar berumur < 35 tahun (74,4%), berpendidikan rendah (92,7%), dan berasal dari luar Bali (98,8%). Faktor pendorong wanita pekerja seks langsung untuk melakukan Pap Smear/IVA adalah faktor biaya Pap Smear terjangkau (64,6%) dan biaya IVA terjangkau (100%), serta akses ke fasilitas kesehatan dekat (68,3%). Faktor penghambat untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear/IVA adalah pengetahuan kurang (79,3%), bersikap negatif (81,7%), tidak pernah mendapat sumber informasi (72%), fasilitas dan sarana kesehatan tidak tersedia (76,8%), tidak mendapat dukungan teman (85,4%) dan petugas kesehatan (73,2%). Penyebaran informasi tentang pencegahan kanker serviks yang lebih intensif dengan meningkatkan peran serta tenaga kesehatan diharapkan mampu menurunkan kejadian kanker serviks dan meningkatkan kemauan Wanita Pekerja Seks untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear/IVA. Kata Kunci: Faktor Pendorong, Faktor Penghambat, Wanita Pekerja Seks, Pap Smear, IVA ABSTRACT Cervical cancer is second in the world after breast cancer. In 2016, the most new cases of cervical cancer in Bali were found in Denpasar City with 834 cases and 12 people died. Female Sex Workers who are at risk for cervical cancer due to frequent changing of sex partners and having sex at an early age. The purpose of this study was to know the factors driving and inhibiting female sex workers (WPS) in Denpasar to conduct Pap Smear / IVA as an effort to prevent cervical cancer in 2017. This research is a descriptive study using cross-sectional methods. The number of samples in this study were 82 direct female sex workers using the quota sampling technique. Data collection was performed using a questionnaire and data were analyzed univariately and bivariately. From the results of the study it was found that most direct sex workers in the City of Denpasar were <35 years (74.4%), had low education (92.7%), and came from outside Bali (98.8%). The driving factors for direct female sex workers to have Pap Smear / IVA are the affordable Pap Smear cost (64.6%) and the affordable IVA cost (100%), as well as access to close health facilities (68.3%). The inhibiting factors for Pap Smear / IVA test are lack of knowledge (79.3%), negative thinking (81.7%), never getting information sources (72%), health facilities and facilities not available (76.8%), did not have the support of friends (85.4%) and health workers (73.2%). Dissemination of information about increasing cervical cancer more intensively by increasing the role and improvement of health related to increased cervical cancer and increasing the willingness of Female Sex Workers to do Pap Smear / IVA. Keywords: Encourage Factors, Inhibiting Factors, Female Sex Workers, Pap Smear, IVA
KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIAL DEMOGRAFI DI PUSKESMAS II DENPASAR UTARA TAHUN 2014-2016 Kadek Yulita Dewi Lestari; Desak Nyoman Widyanthini; I Ketut Tangking Widarsa
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.866 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Di Indonesia, jumlah kasus IMS pada tahun 2014 terjadi sebanyak 5608 kasus. Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat jumlah pasien IMS yang ditemukan pada tahun 2013 sebanyak 9.202 orang. Jumlah ini meningkat sebanyak 62,17% pada tahun 2014 dan mengalami penurunan sebanyak 61,82% pada tahun 2015. Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar menunjukkan bahwa dari keseluruhan kasus di Kota Denpasar pada tahun 2016, kasus IMS tertinggi berada di wilayah Puskesmas II Denpasar Utara yaitu sebanyak 36,94 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian IMS berdasarkan karakteristik sosial demografi meliputi jenis penyakit, umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status perkawinan, pekerjaan, kelompok risiko, pemakaian kondom dan jumlah pasangan seksual pada bagian IMS di Puskesmas II Denpasar Utara tahun 2014-2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional retrospektif. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Klinik IMS Puskesmas II Denpasar Utara periode tahun 2014-2016 yang diperoleh secara total sampling. Data sekunder yang diperoleh selanjutnya diolah secara statistik dengan menggunakan stata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian IMS lebih tinggi pada kelompok umur 41-50 sebanyak 25%, subjek laki-laki sebanyak 26,4%, tidak pernah sekolah sebanyak 12,5%, subjek dengan status kawin sebanyak 37,6%, pekerjaan berisiko sebanyak 25,5%, kelompok WPS sebanyak 60%, subjek yang kadang-kadang memakai kondom sebanyak 18,2% dan jumlah pasangan seksual >1 sebanyak 39,4%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kejadian IMS di Puskesmas II Denpasar Utara tahun 2014-2016 yaitu 7,4%-13%. Kejadian IMS lebih tinggi pada kelompok umur 41-50 dengan pekerjaan berisiko, kelompok WPS dan jumlah pasangan seksual >1. Tiga jenis IMS yang paling sering terjadi di Puskesmas II Denpasar Utara dalam 3 tahun terakhir yaitu Urethritis Non-GO disusul Servisitis dan Kandidiasis. Diharapkan sasaran dalam pelaksanaan program IMS tidak hanya bagi penderita namun juga bagi pasangannya dan tidak hanya menyasar kelompok risiko seperti WPS namun juga pelanggan PS. Kata Kunci: Kejadian, IMS, karakteristik, cross sectional retrospektif ABSTRACT Sexually transmitted infections (STIs) are transmitted infections mainly through sexual contact. In Indonesia, the number of STI cases in 2014 reached 5608 cases. The Bali Provincial Health Service recorded 9,202 STI patients found in 2013. This number increased by 62.17% in 2014 and decreased by 61.82% in 2015. Data obtained from the Denpasar City Health Office showed that of all cases in Denpasar City in 2016, the highest STI cases were in the Puskesmas area II North Denpasar as much as 36.94%. The purpose of this study was to determine the incidence of STIs based on socio-demographic characteristics including the type of disease, age, sex, recent education, marital status, occupation, risk group, condom use and number of sexual partners in the STI section at Puskesmas II Denpasar Utara in 2014-2016 . This research is a descriptive study with a retrospective cross sectional research design. The population and sample in this study were all patients who visited the IMS Clinic II North Denpasar Health Center for the period 2014-2016 obtained in total sampling. The secondary data obtained are then processed statistically using stata. The results showed that the incidence of STIs was higher in the 41-50 age group by 25%, male subjects by 26.4%, never attending school by 12.5%, subjects with marital status by 37.6%, occupations at risk as much as 25.5%, FSW group as much as 60%, subjects who sometimes used condoms as much as 18.2% and the number of sexual partners> 1 were 39.4%. The conclusion of this study is the incidence of STIs in Puskesmas II Denpasar Utara in 2014-2016, namely 7.4% -13%. The incidence of STIs was higher in the 41-50 age group with risk jobs, FSW groups and number of sexual partners> 1. Three types of STIs that most often occur in Puskesmas II Denpasar Utara in the last 3 years, namely Non-GO Urethritis followed by Cervicitis and Candidiasis. It is expected that the target in the implementation of the IMS program is not only for sufferers but also for their partners and not only targeting risk groups such as WPS but also PS customers. Keywords: Occurrence, STI, characteristic, retrospective cross sectional
ANALISIS KETERSEDIAAN INPUT UNTUK MENYELENGGARAKAN PONEK DI RUMAH SAKIT UMUM SWASTA DI KOTA DENPASAR Ni Wayan Purnama Dewi; Ni Made Sri Nopiyani
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 1 (2018): Juni (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.539 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i01.p02

Abstract

ABSTRAKRumah sakit Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif(PONEK) 24 Jam merupakan bagian dari sistem rujukan pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal yang sangat berperan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Rumah Sakit Umum Swasta di Kota Denpasar telah terlatih PONEK sejak tahun 2015, namun belum pernah dilakukan evaluasi sehingga belum diketahui ketersediaan input untuk penyelenggaraan PONEK di RSU Swasta di Kota Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan input PONEK di RSU Swasta di Kota Denpasar. Penelitan ini merupakan studi evaluatif terhadap Rumah Sakit Swasta terlatih PONEK di Kota Denpasar. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, studi dokumentasi dan wawancara mendalam di RSU Puri Raharja dan RSU Prima Medika. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan metode purposive sampling.Observasi dilakukan di area cuci tangan dan pemrosesan alat di unit maternal dan neonatal, area resusitasi dan stabilisasi di ruang obstetri dan neonatus di UGD, ruang bersalin, kamar operasi, unit perawatan intensif, area laktasi dan area pencucian inkubator. Wawancara mendalam dilakukan kepada 4 orang informan kedua rumah sakit yang terdiri dari 1 orang kepala bidang pelayanan medik dan 1 orang ketua tim PONEK. Hasil penelitian menunjukkan ketersediaan SDM di RSU Swasta di Kota Denpasar masih kurang. Di rumah sakit baru tersedia Tim PONEK sesuai standar Tim PONEK esensial. Dana penyelenggaraan PONEK telah tersedia yang digunakan untuk penyediaan sarana, prasarana dan peningkatan kapasitas SDM. Untuk ketersediaan sarana dan prasarana masih kurang. Terdapat 2 kendala penyediaan sarana dan prasarana yakni terkait keterbatasan tempat dan dana. Pedoman penyelenggaraan PONEK 24 jam di rumah sakit dan SPO terkait pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal terdapat di rumah sakit dan telah disosialisasikan. Kebijakan pendukung pelayanan PONEK di rumah sakit telah ada dalam bentuk SK Direktur RS tentang Pembentukan Tim PONEK RS dan pemberlakukan Pedoman Pelayanan PONEK di Rumah Sakit. Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan input dalam penyelenggaraan PONEK di RSU Swasta di Kota Denpasar belum optimal. Diperlukan adanya peningkatanSDM, sarana dan prasarana serta peninjauan kembali standar prosesdur operasional.Kata kunci: Ketersediaan Input, Penyelenggaraan PONEK, RSU Swasta
UJI KERENTANAN NYAMUK AEDES SP. TERHADAP FOGGING INSEKTISIDA MELATHION 5% DI WILAYAH KOTA DENPASAR TAHUN 2016 I Wayan Darma Kusuma; Sang Gede Purnama
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 4 No 2 (2017): Desember (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.016 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2017.v04.i02.p02

Abstract

ABSTRAKNyamuk Aedes sp. adalah vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Salah satu pengendalian vektor DBD adalah dengan melakukan fogging menggunakan insektisida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerentanan nyamuk Aedes sp. terhadap fogging insektisida melathion 5% di wilayah kota Denpasar sebagai daerah endemis DBD. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian post-test only with control group design. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 ekor nyamuk dewasa yang dibagi ke dalam kerangka besi masing-masing 25 ekor. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa nyamuk Aedes sp. masih rentan terhadap insektisida melathion dengan konsentrasi 5% dengan kematian 100% dalam waktu 60 menit di dalam maupun di luar ruangan rumah. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa daya bunuh fogging insektisida melathion 5% terhadap nyamuk Aedes sp. di wilayah Kota Denpasar secara umum masih efektif dan tidak terdapat perbedaan daya bunuh fogging insektisida melathion 5% terhadap nyamuk Aedes sp. di dalam rumah dengan di luar rumah.Keywords: Aedes sp, Melathion, Resistensi. ABSTRACTAedes Sp. Is a vector of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Indonesia. Among many ways to control DHF, fogging technique using Insecticides is commonly used. The purpose is this study was to determine susceptibility of the Aedes sp. against fogging of 5% malathion insecticide in the Denpasar city area as a DHF endemic area. This research is a pure experimental research with post-test only with control group design. The number of samples used in this study were 200 adult mosquitoes which were divided into an iron frame of 25 individuals each. The study showed that the Aedes sp. still susceptible to malathion insecticide with a concentration of 5% with 100% death within 60 minutes inside and outside the home. Based on the study it can be concluded that fogging technique using 5% Malathion is effective to kill Aedes Sp. The study also found that there is no difference result of killing power by applying 5% Malathion inside and outside the house.Keywords: Aedes Sp., Malathion, Resistance
PERSEPSI PESERTA BPJS KESEHATAN TERHADAP PROGLAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS DI PUSKESMAS I DENPASAR BARAT DAN PUSKESMAS II DENPASAR TIMUR Putu Inok Puspaeni; Desak Putu Yuli Kurniati; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.855 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i01.p04

Abstract

ABSTRAK Pada era Jaminan Kesehatan Nasional salah satu upaya yang dilaksanakan untuk menanggulangi penyakit kronis adalah Prolanis. Puskesmas se-Kota Denpasar telah melaksanakan program prolanis tetapi terdapat perbedaan rasio kunjungan peserta prolanis tertinggi dan terendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran persepsi peserta BPJS Kesehatan terhadap program pengelolaan penyakit kronis di Puskesmas I Denpasar Barat dan Puskesmas II Denpasar Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan purposive sampling menggunakan metode wawancara mendalam dan focus group discusion. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas I Denpasar Barat dan Puskesmas II Denpasar Timur dari bulan Mei-Juni 2017. Informan penelitian berjumlah sembilan belas orang yang terdiri dari kepala puskesmas, pemegang program prolanis dan peserta BPJS Kesehatan yang tergabung dalam kelompok prolanis. Hasil penelitian menunjukkan peserta prolanis di Puskesmas I Denpasar Barat merasa rentan terkena penyakit diabetes/ hipertensi dan dampak penyakit tersebut menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada peserta karena efek keseriusan penyakit sudah dilihat/ dirasakan. Besarnya manfaat yang dirasakan mampu menutupi hambatan yang dialami, selain itu dukungan teman dan rasa kekeluargaan meningkatkan partisipasi peserta prolanis. Maka dari itu puskesmas yang rasio kunjungan prolanis rendah perlu mengundang keluarga yang menderita diabetes/ hipertensi untuk memberikan testimoni. Kata Kunci : Prolanis, Persepsi, Puskesmas ABSTRACT In the era of National Health Insurance, one of the efforts undertaken to tackle chronic illness is Prolanis. Health centers throughout Denpasar have implemented prolanis programs but there are differences in the ratio of visits of the highest and lowest prolanis participants. The purpose of this study was to determine the description of BPJS Health participants' perceptions of chronic disease management programs in Puskesmas I Denpasar Barat and Puskesmas II Denpasar Timur. This research is a qualitative descriptive study with purposive sampling using in-depth interviews and focus group discussion methods. The research was conducted at the Health Center I of West Denpasar and Health Center II of East Denpasar from May-June 2017. The informants of the study consisted of nineteen people consisting of the head of the puskesmas, the prolanist program holder and BPJS Health participants who were members of the prolanist group. The results showed prolanis participants in Puskesmas I Denpasar Barat felt vulnerable to diabetes / hypertension and the impact of the disease caused fear and anxiety in participants because the seriousness of the disease had been seen / felt. The amount of benefits felt is able to cover the obstacles experienced, in addition to the support of friends and a sense of family to increase participation of prolanist participants. Therefore a puskesmas with a low prolanis visit ratio needs to invite families suffering from diabetes / hypertension to provide testimonials. Keywords: Prolanis, Perception, Puskesmas
HUBUNGAN PENGAWASAN DENGAN PERILAKU AMAN BURUH BANGUNAN DI KABUPATEN BADUNG TAHUN 2019 Kezia Leditia Supardi; Partha Muliawan
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.151 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Pengawasan merupakan faktor penting yang menguatkan timbulnya perilaku seseorang dalam bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan pengawasan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dengan perilaku aman (safety behavior) dalam mencegah kecelakaan kerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian analitik menggunakan rancangan cross-sectional. Responden pada penelitian ini berjumlah 213 orang yang dipilih dengan metode systematic random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berperilaku tidak aman (51,64%). Terdapat hubungan antara pengawasan K3 (OR=3,21; 95% CI=1,809-5,681; p=0,000) dan pengetahuan keselamatan kerja (OR=1,88; 95% CI=1,049-3,368; p=0,034). Faktor yang paling bermakna dalam mempengaruhi perilaku aman adalah pengawasan K3. Selain itu, responden yang memiliki persepsi pengawasan K3 yang baik maka 3,2 kali akan berperilaku lebih aman dibandingkan responden yang memiliki persepsi pengawasan K3 yang kurang baik. Peneliti menyarankan bagi pekerja untuk selalu menaati peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan, pengawas perlu meningkatkan pengawasan dan melakukan monitoring evaluasi terhadap perilaku pekerja supaya terjadi perubahan perilaku. Kata Kunci : Perilaku Aman, Pengawasan, Konstruksi
KARAKTERISTIK PENGELOLA PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT PNEUMONIA BALITA DI PUSKESMAS SE-KABUPATEN GIANYAR Ni Kadek Ayu Srinadi; I Made Sutarga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 7 No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.717 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2020.v07.i01.p02

Abstract

ABSTRAK Pneumonia merupakan bentuk terparah ISPA yang secara khusus menyerang paru-paru dan dapat menular dengan cepat. Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan kuman pneumococcus, staphylococcus, streptococcus dan virus. Cakupan penemuan pneumonia di Kabupaten Gianyar 28,8% sehingga masih dibawah target nasional sebesar 80% dengan permasalahan yang dihadapi yaitu deteksi kasus yang masih rendah karena belum adanya pelatihan untuk pengelola program pengendalian penyakit pneumonia dan perilaku pengelola program pneumonia dalam praktik penemuan kasus pneumonia memiliki peranan yang sangat penting sehingga perlu digambarkan karakteristik pengelola program pengendalian penyakit pneumonia di puskesmas se-Kabupaten Gianyar. Desain crossectional bersifat deskriptif yang dilakukan untuk menggambarkan karakteristik pengelola program pengendalian penyakit pneumonia balita di 65 puskesmas pembantu yang ada di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berumur <40 tahun (60,0%) dengan seluruh responden berjenis kelamin perempuan yang berpendidikan terakhir D3 (100,0%). Selain itu, sebagian besar responden dalam penelitian tidak pernah mendapatkan pelatihan sebanyak (96,9%) akan tetapi sebagian besar responden memiliki pengetahuan, sikap dan praktik yang baik atau sesuai standar. Diperlukan pelatihan yang serta keaktifan dalam mengikuti pelatihan tersebut. Kata Kunci: Karakteristik pengelola program, pneumonia, Gianyar ABSTRACT Pneumonia is the worst form of ISPA that specifically attack the lungs and can spread quickly. Pneumonia is a disease which are caused by microbe pneumococcus, staphylococcus, streptococcus and virus. The scope of pneumonia detection in Gianyar regency still below national target of 28,8% with the problem is faced which are case detection that is still low because there is no training for the worker of pneumonia control program and the behavior of the worker of pneumonia control program in practice of case pneumonia detection has an important role that make it is necessary to describe the characteristics of worker of pneumonia control program at health center in Gianyar regency. The study design in this study is descriptive crossectional design that done to describe the characteristics worker of toddler pneumonia control program at 65 auxiliary health center in Gianyar Regency. The results showed that the majority of respondents were <40 years old (60,0%) with a history of D3 education of 65 people (100,0%). In addition, most of the respondents in the study never received training as many as people (96,9%) but most of the respondents had good or standard knowledge, attitudes and practices.Training is needed as well as active in participating in the training. Key Word : Characteristics of managers program, pneumonia, Gianyar
PERSEPSI SISWA TERHADAP MEDITASI TRANSCENDENTAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL SISWA SMA NEGERI BALI MANDARA Putu Sathyani Parmita; Ni Komang Ekawati; Ni Made Dian Kurniasari
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.902 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i01.p09

Abstract

ABSTRAK SMA Bali Mandara adalah sekolah yang menerapkan pendidikan berasrama dengan aktivitas yang sangat padat dimulai dari pukul 04.45 sampai dengan pukul 22.00 WITA, banyak siswa yang mengalami kelelahan bakhan tertidur saat kegiatan belajar mengajar, untuk mengatasi hal itu disekolah ini menerapkan program non akademik Meditasi Transcendental, namun dalam melaksanakan meditasi ini ada beberapa siswa yang tidak bisa melakukan meditasi bersama di sore hari karena masih ada kegiatan belajar mengajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa terhadap program Meditasi Transcendental sebagai upaya meningkatkan kesehatan mental siswa SMA Negeri Bali Mandara. Rancangan penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 8 orang informan dan 3 informan kunci. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tekhnik purposive sampling. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Meditasi Transcendental mampu memberikan istirahat yang sangat dalam, sehingga siswa merasa lebih segar dan bugar dalam menjalani aktivitas yang padat. Selain dapat menghilangkan rasa cemas, khawatir, kelelahan dan stres, meditasi ini juga mampu meningkatkan konsentrasi siswa dalam mengikuti pelajaran. Pengetahuan siswa terhadap meditasi ini cukup baik, persepsi siswa secara umum positif menerima kegiatan meditasi Transcendental. Bagi siswa yang mengambil SKS lebih disarankan untuk meditasi sore secara bersama. Kata kunci : SMA Bali Mandara, Meditasi Transcendental ABSTRACT Bali Mandara High School is a school that implements boarding education with very dense activities starting from 04:45 to 22:00 WITA, many students who experience fatigue will fall asleep during teaching and learning activities, to overcome this in the school implement non-academic programs Transcendental Meditation, but in carrying out this meditation there are some students who cannot do meditation together in the afternoon because there are still teaching and learning activities. The purpose of this study was to determine students' perceptions of the Transcendental Meditation program as an effort to improve the mental health of Bali Mandara High School students. The design of this research is descriptive qualitative with a phenomenological design. The number of informants in this study were 8 informants and 3 key informants. The sampling technique in this study uses purposive sampling technique. The method used is in-depth interviews and observation. The results of this study indicate that Transcendental Meditation is able to provide very deep rest, so students feel fresher and fitter in undergoing solid activities. Besides being able to eliminate anxiety, worry, fatigue and stress, this meditation is also able to increase the concentration of students in following the lesson. Students 'knowledge of meditation is quite good, students' perceptions are generally positive about receiving Transcendental meditation activities. For students who take SKS it is recommended to have afternoon meditation together. Keywords: Bali Mandara High School, Transcendental Meditation

Page 9 of 28 | Total Record : 278