cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 144 Documents
DASAR-DASAR BELAJAR REBAB SUNDA Rian Permana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.159 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.855

Abstract

Rebab adalah sebuah alat musik tradisional Sunda yang yang dimainkan dengan cara digesek. Peranan rebab sangatlah penting karena salah satu fungsinya adalah sebagai pembawa melodi. Orang yang memainkan rebab disebut dengan juru rebab. Pada garap pertunjukan kesenian Sunda, keberadaan seorang juru rebab sangatlah penting, kehadirannya hampir diperlukan disemua jenis pertunjukan kesenian Sunda, misalnya: Wayang Golek, Kiliningan, Ketuk Tilu, Tembang Sunda Cianjuran, Jaipongan dan lain-lain. Akan tetapi jumlah juru rebab yang ada, tidak sebanding dengan banyaknya kebutuhan permintaan pertunjukan kesenian. Jumlah juru rebab lebih sedikit dibanding dengan juru wiyaga yang lainnya. Salah satu faktor penyebab kurangnya juru rebab dibanding dengan juru wiyaga lainnya yaitu masalah sulitnya rebab untuk dipelajari. Oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana cara mempelajari rebab atau sistem pembelajaran rebab sangatlah penting demi kelangsungan perkembangan juru rebab muda di masa yang akan datang. Ditambah pada kenyataan yang ada, sumber referensi mengenai rebab sangat kurang sekali. Tulisan ini berkaitan langsung untuk membahas waditra rebab, bagaimana teknik dasar-dasar memainkan rebab Sunda gaya Priangan. Selain penulis sebagai akademisi pendidik, juga sebagai pelaku seni yang berkecimpung langsung pada waditra rebab. Sesuai dengan permasalahan yang ada dan dari hasil pengalaman pribadi, diperolehlah metode pembelajaran rebab yang dirasa dapat menjadi bahan atau acuan bagi para generasi muda yang ingin mempelajari waditra rebab. Metode pembelajaran rebab tersebut meliputi teknik dasar tengkepan, dan teknik dasar gesekan. 
PERGESERAN FUNGSI INSTRUMEN KARINDING DI JAWA BARAT Hinhin Agung Daryana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.623 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i2.1028

Abstract

Karinding merupakan instrumen yang mempunyai banyak keunikan. Pada tahun 2008, terjadi sebuah momen di mana terjadi persinggungan antara instrumen karinding dan komunitas metal di Bandung yang kemudian menjadikan karinding sebagai kesenian populer di Kota Bandung. Kajian penelitian ini difokuskan pada pergeseran fungsi karinding di Jawa Barat, untuk mendapat pemahaman tentang pergeseran fungsi tersebut, maka tulisan ini akan memaparkan dinamika perkembangan kesenian karinding di beberapa daerah di Jawa Barat yang meliputi fungsi, perkembangan bentuk, dan musik karinding di Jawa Barat. Dalam perkembangannya, instrumen karinding kini mempunyai beragam fungsi. Pada awalnya karinding hanya sebuah instrumen musik yang berfungsi sebagai kalangenan (hiburan pribadi) dan alat musik pergaulan. Akan tetapi, perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat pengguna karinding di Jawa Barat menyebabkan terjadinya sebuah pergeseran menjadi instrumen yang difungsikan untuk hiburan, pendidikan, ritual, dan komoditas. Pada kenyataanya sekarang, pergeseran fungsi karinding yang terjadi pada masyarakat Jawa Barat baik pedesaan maupun Urban semakin mengontruksi kekuatan jaringan yang lebih luas. 
PEMBELAJARAN TARI KREATIF UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN CINTA LINGKUNGAN PADA ANAK USIA DINI Ratna Yulianti
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.17 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.851

Abstract

Usia dini merupakan masa terpenting dan potensial dalam pertumbuhan anak-anak untuk mendapatkan pengalaman eksplorasi dari segala aspek baik motorik, maupun psikomotorik. TK Bukit Dago Bandung telah 47 tahun menjadi salah satu penyelenggara pendidikan anak usia dini. Sebelumnya, di sekolah ini pembelajaran seni tari masih menjadi kegiatan yang insidental, sehingga siswa memiliki keterbatasan untuk mengekspresikan dirinya melalui gerak. Pembelajaran yang dilakukan menggunakan metode yang terpusat pada guru sebagai model, sehingga anak hanya menirukan dan menghafalkan gerak baku yang dilakukan oleh guru. Dalam proses ini ruang imajinasi dan kreativitas siswa dikesampingkan. Pandangan demikian tentu berbeda jauh apabila memposisikan seni tari sebagai salah satu wadah yang efektif untuk mengantarkan anak-anak melewati dunianya.Gerak sebagai media tari mengajarkan anak-anak untuk berimajinasi, berkreasi dan bereskpresi. Sesuai dengan teori belajar humanistik, pembelajaran tari kreatif merupakan proses aktivitas individu yang perkembangannya ditentukan oleh individu itu sendiri. Melalui perubahan paradigma tersebut, kini di TK Bukit Dago diterapkan pembelajaran tari kreatif (creative dance) bertema lingkungan yang melibatkan siswa secara aktif dalam eksplorasi dan penemuan gerak. Lingkungan hidup dipilih untuk tema tari kreatif karena kesadaran cinta lingkungan harus diajarkan sejak usia dini. Guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang membantu mengarahkan dan membimbing siswa dalam mengoptimalkan kreativitasnya. Melalui tari kreatif bertema lingkungan siswa mendapatkan pengalaman secara konstruktif dan kreatif. Siswa mendapatkan ruang imajinasi dan ekspresi. Pemilihan peran disesuaikan minat siswa. Menjadi bunga, kupu-kupu, pohon, orang hutan, burung, atau objek lingkungan yang lain merupakan bentuk kebebasan yang dapat dipilih oleh setiap siswa. Peneliti menggunakan metode tindakan kelas (actions research) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran siswa. Dari penerapan tari kreatif ini didapatkan materi pembelajaran, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran di TK Bukit Dago. Dilengkapi kostum dan properti penuh warna serta diiringi irama musik yang selaras, siswa bergerak penuh semangat dan mengalami pengalaman menyenangkan sesuai kebutuhan anak usia dini. Di sisi lain, kebersamaan, kedisiplinan, kemandirian, tanggungjawab siswa yang terjalin di dalam proses tari kreatif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap cinta lingkungan.
MENYOAL KEHADIRAN KEINDAHAN DAN SENI Hadiyatno Hadiyatno
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.674 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i2.1023

Abstract

Sebuah pertanyaan klise sering kita dengar, indah itu yang bagaimana? Apakah yang indah itu harus selalu menampilkan yang cantik, menyenangkan, menyejukan dan memberi ketentraman serta kenyamanan dalam kebahagiaan bathin?. Apakah kehadiran keindahan  dalam karya seni, sebuah jaminan bahwa, itulah karya yang berkualitas dan memiliki  nilai?. lalu bagaimana dengan indah yang secara kasat mata kurang memenuhi kualitas tangkapan inderawi, dalam artian indahnya, perlu pemahaman akan seni. Tetapi sebenarnya muncul pada objek tersebut, dan itu membutuhkan pemahaman seni untuk dapat melihatnya. Indah yang mempunyai nilai atau sebaliknya, mengapa kesimpulan akhir dari sebuah karya seni, harus selalu menghadirkan keindahan?Seni itu bukan melulu berbicara pada masalah pemahaman, tetapi ada kecenderungan kepada proses penghayatan dan penikmatan. Meskipun sejatinya, seni juga membutuhkan proses pemahaman, untuk calon seniman maupun apresiator. Seni tidak membahas dan membicarakan penemuan, akan tetapi lebih ke prosesi penciptaan. Melalui pemahaman tentang ilmu-ilmu seni, maka kita dapat menikmati sebuah karya seni.  Kemudian hadir apa yang disebut dengan Filsafat Seni, yang merupakan bagian dari estetika modern. Materi kajiannya mengupas tentang keindahan, yang dihadirkan pada karya seni.
KEDUDUKAN TARI MACANAN DALAM MASYARAKAT BLORA Slamet Slamet; Elinta Budy
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.413 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v2i2.2529

Abstract

Tari Macanan merupakan bagian dalam pertunjukan Barongan Blora yang menggunakan topeng besar berbentuk harimau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan tari Macanan dalam masyarakat Blora. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Tari Macanan merupakan simbol totemisme dari masyarakat Blora. Tari Macanan berfungsi sebagai sarana masuk dan keluarnya roh yang diyakini masyarakat sebagai pelindung. 
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TARI JAIPONG BAGI SISWA TUNAGRAHITA RINGAN DI SEKOLAH KHUSUS NEGERI 02 KOTA SERANG BANTEN Toni Yudha Pratama; Suhaya Suhaya; Yuni Tanjung Utami
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.02 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v2i1.2509

Abstract

Pembelajaran tari jaipong di sekolah dasar lebih ditujukan pada kegiatan belajar menari, bukan pengenalan dan pemahaman tentang teori-teori tari. Kegiatan praktik ini diarahkan pada kegiatan belajar bagaimana ia bergerak, memanfaatkan gerak dalam ruang dan waktu serta menemukan kekuatannya sebagai alat komunikasi. Hal itu akan memberikan siswa pengalaman penguasaan gerak dan perbendaharaan gerak sebelum mempelajari sebuah tarian jadi. Latihan penguasaan gerak ini mutlak diperlukan setiap anak. Anak berkebutuhan khusus terutama tunagrahita ringan merupakan individu yang perlu diberikan kesempatan dan pelayanan terhadap pembelajaran seni tari jaipong, hal ini dapat dijadikan media untuk anak tunagrahita ringan agar dapat melatih dan mengembangkan kemampuan motorik dan konsentrasi pada anak tunagrahita ringan walaupun mereka memiliki keterbatasan. Menari jaipong menampilkan gerakan-gerakan pada kepala, tangan dan kaki yang akan melatih motorik anak tunagrahita, serta konsentrasi dan ingatan yang kuat dalam mengingat setiap gerakan demi gerakannya. Keinginan belajar tari jaipong yang dimiliki oleh mereka dapat dijadikan orientasi oleh guru dalam pembelajaran seni tari untuk membuat stimulus-stimulus yang dapat merangsang munculnya perkembangan motorik dalam gerak-gerak tari yang mereka temukan secara kreatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti mengamati pelaksanaan pembelajaran tari jaipong dan menyajikan data berupa deskripsi, menganalisis dan menginterpretasi data. Dalam kemampuan gerakan, siswa masih kaku dan hanya gerakan-gerakan sederhana saja yang dapat dilakukan siswa. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dikemukakan rekomendasi, yaitu diharapkan pihak sekolah agar lebih memperhatikan pelayanan dengan memfasilitasi sarana dan prasarana dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tari jaipong agar lebih baik lagi. Serta hendaknya pihak guru mempelajari pelaksanaan asesmen keterampilan menari jaipong secara tertulis. 
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM PERTUNJUKAN “DEMI MASA”: SEBUAH KAJIAN TARI KARYA ALFIYANTO Ratna Komala Sari
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.628 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v2i2.2530

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang identitas femininitas yang direpresentasikan oleh penari dengan menunjukan keberagaman ekspresi dari sisi maskulin-femininnya pada pertunjukan Demi Masa: Bongkar Kandang karya Alfiyanto. Pertunjukan ini menjadi hal penting bagi penulis, sehingga mesti diungkapkan karena di dalam pertunjukan tari kontemporer ini dibentuk oleh beragam wacana dan isu yang terkandung di dalamnya. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas performatifitas para penari kontemporer sebagai perempuan di kampung pada umumnya, isu budaya, gender, keperkasaan perempuan, simbol-simbol yang ditampilkan oleh penari perempuan dalam sebuah karya tari. Tulisan ini menggunakan perspektif kajian gender dan teori semiotika untuk menyoroti sejauh mana citra sosial perempuan dalam pertunjukan tari sebagai sosok yang ‘maskulin’, dan yang ‘feminin’, juga sejauh mana kemungkinan resepsi para apresiator dalam melihat penggunaan penari perempuan yang ‘maskulin’ dan ‘feminin’ tersebut berimplikasi pada wacana dalam konteks budaya kapitalis dan patriarki.  
KOMUNITAS MUSIK HARDCORE STRAIGHT EDGE DI KABUPATEN BATANG (Kajian Tentang Analisis Bentuk Musik dan Aktivitasnya) Dadang Dwi Septiyan
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.486 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v2i1.2510

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan kajian analisis bentuk musik dan aktivitas komunitas musik hardcore straight edge di Kabupaten Batang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan fokus penelitian komunitas musik hardcore straight edge di Kabupaten Batang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara mereduksi, penyajian data dan menyimpulkan semua informasi secara benar. Hasil penelitian menunjukan bahwa musik hardcore straight edge tersusun atas komponen utama dan tambahan. Komponen utama musik hardcore straight edge umumnya berbentuk lagu tiga bagian. Apabila dilihat dari hasil analisis motifnya, musik hardcore straight edge mempunyai keseragaman motif, yaitu motif figurasi. Dalam lagu tersebut terdapat keseragaman pola harmoni yang dapat ditunjukkan bahwa kadens yang dipakai untuk frase pertanyaan berupa kadens otentik sempurna, dan kadens yang terdapat dalam frase jawaban berupa kadens setengah (dominan). Komunitas hardcore straight edge merupakan komunitas yang awalnya memiliki nilai negatif, namun sering berkembangnya komunitas hardcore straight edge nilai tersebut sedikit redam pada perspektif masyarakat. 
MODEL PEMBELAJARAN TARI UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN RITME GERAK DAN RASA MUSIKAL BAGI GURU SENI BUDAYA DI PROVINSI JAWA BARAT Asep Nugraha
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.906 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v2i1.2500

Abstract

Kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun dalam memberikan intruksi/aba-aba gerak tidak selalu konsisten dengan tempo dan ketukan gerak itu sendiri terjadi berulang hingga saat ini, dari pengajar sampai peserta didiknya. Secara tidak sadar mempengaruhi terhadap kemampuan musikal terhadap stimulus audio.  Melalui pemahaman ritme gerak terhadap pola hitungan/ketukan secara lisan dan tepakan tangan dengan menggunakan beberapa stimulus auditif, diharapkan dapat memperoleh hasil dari proses penerapan Model Pembelajaran tari untuk Meningkatkan Penguasaan Ritme Gerak dan Rasa Musikal bagi Guru Seni Budaya di Jawa barat. Penelitian ini, menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Davelopment (R&D)). Penelitian dilakukan untuk meningkatkan kepekaan musikal terhadap penguasaan ritme gerak dalam meningkatkan kemampuan kreasi tari. Penguasaan ritme dan harus dilatih melalui stimulus audio sebagai penguat dasar ketukan/hitungan sebagai dasar peningkatan kemampuan musiklitas terhadap kreasi tari.
PEMBELAJARAN SENI PENCAK SILAT TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI ANAK TUNAGRAHITA SEDANG Toni Yudha Pratama
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.183 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v2i2.2531

Abstract

Anak-anak dengan hambatan Intelektual, kondisi fisiknya hampir tidak berbeda dengan anak normal lainnya, begitu juga dengan perkembangan gerak dan kondisi kesehatan. Tapi untuk anak-anak tunagrahita moderat, banyak masalah kesehatan dan fisik dibatasi oleh Mosier, Grossman dan Dingman, 1965, Barlow, 1978, Patton; 1986 di Delphie (2005: 30) 'bahwa mereka mengalami gangguan gerak perkembangan, tingkat pertumbuhan abnormal, gangguan sensorik terutama pada persepsi penglihatan dan pendengaran'. Selain itu, menurut Martasuta (1983: 4), 'anak tunagrahita menunjukkan kurangnya citra diri dan konsep diri, dan menunjukkan angka di bawah normal dalam hal ukuran, kekuatan, koordinasi, keseimbangan, dan kecepatan'. Dengan demikian, tunagrahita anak sangat membutuhkan aktivitas gerak menumbuhkan dalam upaya meningkatkan kemampuan gerak serta kebugaran fisik. Metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data dan pengumpulan hasil penelitian dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penelitian eksperimental adalah penelitian yang sistematis, logis dan menyeluruh dalam mengendalikan kondisi. Diskusi, ada peningkatan tingkat kebugaran jasmani anak tunagrahita yang berusia 12 tahun ke atas setelah diberi pengobatan dalam bentuk pelatihan pencak silat selama 6 minggu dengan satu minggu tiga kali latihan selama 20-30 menit. Dari hasil perhitungan menggunakan uji rank Wilcoxon ditandai, diperoleh Thit = 0 dan T tabel 0 atau T hitung 0 ≤ T tabel 0. Hal ini mengindikasikan bahwa praktik pencak silat secara teratur dan terarah berpengaruh terhadap tingkat kebugaran fisik anak tunagrahita. berusia 12 tahun ke atas di SKh X Kota Serang. 

Page 2 of 15 | Total Record : 144