cover
Contact Name
Zayra Zahra
Contact Email
zayra.zahra2004@gmail.com
Phone
+6285888706150
Journal Mail Official
zayra.zahra2004@gmail.com
Editorial Address
Jl. Setiabudhi No 229 Bandung Kodepos 40154 Kota Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial
ISSN : 08545251     EISSN : 25407694     DOI : -
JPIS (Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial) is the leading journal in Social Studies institutions concerning Social studies and education. The journal is multi-disciplinary, welcoming contributions that advance our understanding of education, science ,and technology as social activities. The journal promotes research and scholarly discussion concerning social studies and eduction in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about social sciences (Geography Education, Religion Educatioan, History Education, Economic Education, Sosiology Education, Tourism Education, Communication Science for Education Purposes Social Studies for Multicultural Education, and Social Studies in Developing Countries Education).
Articles 246 Documents
PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DAN SIKAP NASIONALISME DALAM ERA GLOBALISASI Bauto, Laode Monto
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 22, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v22i1.2196

Abstract

The incidence of individualist attitudes and reduced social kepedlian and others. It all becomes an indicator of the lunturnya attitude of nationalism, especially among the younger generation successor to relay the struggle of a nation. Through teaching history students capable of developing competence to think in chronological order and having knowledge about the past that can be used to understand and explain the developmental process and change people and diversity socio-culture in order find and cultivate identity nation in the society the world. Teaching history asked students realizes the diversity life experiences in each society and the way different viewpoint against its past to understand the present and build knowledge and understanding to face the future. Thus probate Soekarno “ jas red”  must remain we amalkan. As is expression philosopher mulan kundera stating that if will destroy a nation, then destory first its history should let us think about.Keywords :Pembelajaran, sikap, nasionalisme, globalisasi
BUKU TEKS SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH UNTUK MENUMBUHKAN BERPIKIR KRITIS DAN INTEGRATIF SISWA DI SMA Supriatna, Encep
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 22, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v22i2.2187

Abstract

Sumber belajar adalah salah satu komponen pembelajaran cukup penting menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran. Selama ini pengalaman menunjukkan bahwa para guru yang mengajar di sekolah masih banyak yang mengandalkan buku sebagai rujukan utama dalam proses mengajarnya. Hal ini tentu saja tidak dapat dikatakan salah, akan tetapi ini menjadikan buku teks sebagai satu-satunya buku rujukan akan mengakibatkan kreativitas guru dan siswa menjadi kurang berkembang. Hal ini terjadi pula dalam mata pelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas. Pelajaran sejarah di SMA yang objek studinya kebanyakan berkaitan dengan fakta-fakta dan peristiwa masa lalu, di mana daya ingat seseorang itu terbatas maka buku menjadi hal yang sangat diandalkan untuk mengingat kembali memory guru terhadap materi yang akan diajarkannya ke siswa. Begitu pula dengan siswa yang sering diberikan tugas-tugas oleh guru mata pelajarannya acapkali menjadikan buku teks sejarah dan atau mata pelajaran yang lain, mayoritas mereka menjadikan buku teks sebagai sumber belajar dan sumber atau bahan untuk mengerjakan tugas-tugas mata pelajarannya. Kata kunci: buku teks sejarah, berpikir kritif, integratif dan pembelajaran sejarah.
STUDI TENTANG UPAYA GURU IPS DALAM MENGEMBANGKAN PERILAKU PROSOSIAL DAN MENGURANGI PERILAKU BULLYING SISWA DI SMP (Studi Kasus pada Guru IPS SMP PGRI 1 Jatinangor Kab. Sumedang Jawa Barat) Fitriana Zakaria, Acep
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v25i1.3675

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena perilaku bullying, faktor-faktor penyebab, dan menganalisis berbagai upaya yang dilakukan guru IPS dalam mengembangkan perilaku prososial siswa meliputi : berbagi (sharing), kerja sama (cooperating), menolong (helping), memberi/menyumbang (donating), kejujuran (honesty) dan persahabatan (persahabatan), serta upaya dalam mengurangi perilaku bullying yang terjadi di kalangan siswa SMP. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan metode studi kasus (case study). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, studi dokumentasi dan triangulasi. Teknik validasi data menggunakan member-check, triangulasi dan expert opinion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perilaku bullying merupakan permasalahan yang telah menggejala dan sudah cukup lama terjadi di lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar pembelajaran; (2) Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya bullying berasal dari tiga komponen utama yakni, korban (victim), pelaku (bullied) dan saksi/pengamat (bystanders). Beberapa diantaranya yaitu : pelaku merasa dirinya berkuasa atas korban, menganggap perilaku bullying merupakan perilaku yang biasa dan wajar, terjadinya permasalahan dalam hubungan keluarga, tingginya konformitas teman sebaya, sikap enggan melapor korban, adanya sikap diam dan acuh tak acuh dari saksi pada saat terjadinya perilaku bullying; (3) upaya guru IPS dalam mengembangkan perilaku prososial meliputi dua kegiatan utama. Pertama, kegiatan pembelajaran di dalam kelas (menginternalisaikan perilaku prososial menggunakan model/metode pembelajaran, mengintegrasikan langsung pada materi-materi relevan, penugasan kelompok, penguatan langsung). Kedua, kegiatan pembelajaran di luar kelas (kegiatan ekstrakurikuler, menjadi wali kelas, study tour); (4) Beberapa upaya guru IPS dalam mengurangi perilaku bullying di kalangan siswa antara lain lewat pembelajaran di kelas serta kolaborasi bersama pihak lain (guruBK, wali kelas dan kesiswaan).   Kata kunci : guru IPS, perilaku prososial (prosocial behavior), perilaku bullying, siswa SMP.
TRANSFORMASI NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT ETNIS TIONGHOA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPS (Studi Kasus di Desa Sewan Kota Tangerang) Wulandari, Christina; Maftuh, Bunyamin
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v25i1.3666

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya dan menganalisis cara masyarakat masyarakat etnis Tionghoa di Desa Sewan Kota Tangerang mensosialisasikan nilai-nilai budaya itu kepada generasi berikutnya dan strategi transformasi nilai-nilai budaya masyarakat etnis Tionghoa sebagai sumber pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Adapun pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode studi kasus (case study). Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah wawancara, observasi, studi dokumentasi dan triangulasi. Teknik validasi data menggunakan member-check, triangulasi dan expert opinion. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Nilai-nilai budaya yang sangat menonjol pada masyarakat etnis Tionghoa adalah nilai-nilai wirausaha. Ada lima karakteristik para pelaku wirausaha  etnis Tionghoa di desa Sewan adalah: ciri percaya diri, berorientasikan tugas dan hasil, pengambil resiko, orisinalitas, berorientasi ke masa depan. Nilai budaya yang menonjol berikutnya adalah ketaatan terhadap tradisi atau adat istiadat (2) Proses sosialisasi nilai-nilai budaya masyarakat etnis Tionghoa di desa Sewan Kota Tangerang kepada generasi berikutnya melalui proses dengan tahap-tahap sebagai berikut: pertama, melalui fase pembentukan kebiasaan (habit forming). Kedua, fase pembentukan (formatif). Ketiga, fase embryonic. Keempat, fase productive. Fase terakhir adalah fase kemapanan / fase kematangan (maturation). (3) Nilai-nilai budaya masyarakat etnis Tionghoa di desa Sewan tersebut sangat memungkinkan ditransformasikan ke dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah, terutama di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), melalui pembelajaran kontekstual.
NILAI-NILAISOSIAL DALAM KELUARGA KECIL PADA MASYARAKAT KECAMATAN BUAH DUA KABUPATEN SUMEDANG Eridiana, Wahyu
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 22, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v22i2.2192

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Buah Dua Kabupaten Sumedang, dengan fokus kajian latar belakang yang membentuk keluarga kecil di kecamatan ini. Jumlah sampel sebanyak 52 responden dan teknik pengujiannya menggunakan teknik perhitungan prosentase. Dari hasil kajian yang difokuskan kepada faktor sosial dan ekonomi terutama terhadap pandangan masyarakat, maka keluarga kecil pada masyarakat Buah Dua ada kaitannya dengan pandangan bahwa anak sebagai beban ekonomi dalamkeluarga, dan mereka menginginkan kehidupan yang sehat dan mapan. Disamping itu suatu keluarga dianggap ideal jika memiliki 2-3 anak, jumlah anak di atas 3 yaitu 4-5 anak sudah dipandang keluarga yang anaknya banyak.  Kata kunci: nilai sosial, keluarga, masyarakat
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN KEWARGANEGARAAN (Studi Deskriptif Analitik Pada Masyarakat Talang Mamak Kec. Rakit Kulim, Kab. Indragiri Hulu Provinsi Riau) Ade, Verawati; Affandi, Idrus
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v25i1.3671

Abstract

This research is motivated impact of globalization so that the degradation of culture and local wisdom, lack of awareness in the preservation of the culture and values of local wisdom study aims to describe the cultural part of civic skills, behaviors that reflect civic skills, citizenship skills development, constraints and efforts in conservation. So it needs to assess the values of local wisdom as civic skills in Talang Mamak tribe culture. A qualitative approach with descriptive analytic method. The findings of this study were 1) Talang Mamak tribe has a culture of mutual trust are values, attitudes ability to work together, trust, responsibility, solidarity, consensus, unity, and mutual cooperation. 2) Talang Mamak have local knowledge as a guide to behaving that reflects the behavior of citizenship skills are value patriotism, the value of equality, caring, responsibility, independence and the value of educational value. 3) the development of citizenship skills is done by carrying out traditional ceremonies, instilling the values of culture and local wisdom, and follow the cultural events organized by the government and society. 4) constraints contained in the preservation of culture and values of local wisdom that economic factors, educational factors, factors of confidence, and transportation factors.Keywords: cultural Talang Mamak Ethnicity, local wisdom, civic skills.
PERAN PEMUDA DAN ORGANISASI KEPEMUDAAN DALAM MEREVITALISASI NILAI-NILAI PANCASILA PADA KEHIDUPAN MASYARAKAT Nurdiansyah, Edwin
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 22, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v22i2.2197

Abstract

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia harus selalu menjadi pedoman bagi semua warga negara Indonesia dalam setiap kehidupannya termasuk di dalamnya kehidupan  bermasyarakat. Namun kenyataannya sekarang nilai-nilai luhur Pancasila mulai ditinggalkan sehingga yang terjadi sekarang maraknya kejadian menyimpang seperti korupsi, tawuran dan lain sebagainya. Untuk mengembalikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat, diperlukan adanya upaya revitalisasi. Revitalisasi berarti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya. Melalui revitalisasi, diharapkan nilai-nilai Pancasila menjadi lebih terberdaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Semua pihak dapat berpartisipasi aktif dalam upaya merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat, salah satunya pemuda dan organisasi kepemudaan. Pemuda sebagai calon penerus kepemimpinan bangsa Indonesia wajib menjaga nilai-nilai Pancasila agar tetap hidup dalam masyarakat. Selain sebagai individu, pemuda pun dapat berserikat dalam sebuah organisasi kepemudaan agar upaya merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dapat terwujud dengan lebih optimal. Kata kunci: nilai pancasila, revitalisasi, pemuda, organisasi kepemudaan
PEWARISAN NILAI-NILAI KEARIFAN TRADISIONAL DALAM MASYARAKAT ADAT Wijarnako, Beny
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 22, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v22i1.2188

Abstract

This study investigates how the inheritance of traditional values by the head of customs in the society. The study also sought to answer the question, how the tradition of leadership in the Kampung Dukuh? What is the form of traditional wisdom in the face of socio-cultural change kuncen and environmental change? Kuncen leadership is seen as a routine form of authority, because it is oriented to keep the line in the existing rules. Routine addition, the stability of traditional authority can be achieved due to internalized values, or the value of a strong process of socialization of traditional leaders in instilling values outhority sacred to the community. Kuncen is the guardian of the estate in the form of sacred tombs, traditions, and rules established by the ancestors; Within fungctions as kuncen protector also has a rule of customary law as chief at the time as a decision maker in solving the problem of  Kampung Dukuh community life.Keywords: Nilai Kearifan Tradisional, Masyarakat Adat, Peranan Kepala Adat
STRATEGI MASYARAKAT ETNIS TIONGHOA DAN MELAYU BANGKA DALAM MEMBANGUN INTERAKSI SOSIAL UNTUK MEMPERKUAT KESATUAN BANGSA Satya, Melia Seti
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v25i1.3667

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi yang dilakukan masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu Bangka dalam membangun interaksi sosial untuk memperkuat kesatuan bangsa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data dalam menghimpun data dan informasi yakni wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini terdiri atas tokoh adat Melayu dan Tionghoa Bangka, tokoh pemerintahan Kabupaten Bangka, masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu Bangka, dan guru sosiologi di sekolah multietnis. Hasil penelitian mengungkapkan kesatuan masyarakat Kabupaten Bangka sebagai bagian dari bangsa Indonesia sudah terjadi sejak lama dan interaksi sosial masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu Bangka berjalan dengan alamiah dan tanpa paksaan. Strategi masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu Bangka dalam interaksi sosial yakni dengan mengakui kesetaraan antara kedua etnis, sesuai dengan semboyan fan ngin, to ngin jit jong, artinya semua etnis setara. Rekomendasi penelitian kepada pemerintah Kabupaten Bangka dan masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu untuk mempertahankan kerukunan dan mengantisipasi kendala dalam interaksi sosial masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu Bangka untuk memperkuat kesatuan bangsa.Kata kunci : interaksi sosial, Etnis Tionghoa, Etnis Melayu Bangka, kesatuan bangsa.
KONSEPSI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN MENURUT MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL Rehalat, Aminah
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 22, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpis.v22i2.2193

Abstract

Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan secara khas oleh guru. Model pembelajaran secara mendasar bukan semata-mata menyangkut kegiatan belajar guru, tetapi justru lebih menitikberatkan kepada aktivitas murid. Hakikat model pembelajaran adalah membantu para pelajar memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan diri, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Dengan demikian, aktivitas belajar mengajar benar-benar merupakan kegiatan yang bertujuan menghasilkan output berkualitas yang tertata secara sistematis. Model pembelajaran sosial (Sosial Family of Models), yaitu model pembelajaran yang menekankan pada usaha mengembangkan kemampuan siswa agar memiliki kecakapan untuk berhubungan dengan orang lain sebagai uasaha membangun sikap, etika, dan tingkah laku siswa yang demokratis dengan cara menghargai setiap perbedaan dalam realitas sosial yang berkembang di dalam kelas. Kata kunci: belajar dan pembelajaran, model pembelajaran sosial.

Page 5 of 25 | Total Record : 246