cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Formulasi Tablet Paracetamol dengan Bahan Pengikat Pati Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L) Elya Zulfa; Malinda Prihantini
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i2.7351

Abstract

ABSTRAK Pati umbi gembili (PUG) memiliki kandungan utama amilopektin sebesar 75,7%. Amilopektin bersifat lekat dan dapat membentuk gel bila disuspensikan dengan air, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengikat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sifat fisik tablet paracetamol dengan penambahan PUG sebagai bahan pengikat.  Proses pembuatan pati dari umbi gembili dilakukan dengan cara basah. Tablet Parasetamol dibuat dengan metode granulasi basah dengan variasi kadar mucilago PUG FI 5%, FII 10%, FIII 15%. Tablet yang dibuat, diuji sifat fisik (keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur) dan dianalisis secara deskriptif. Hasil uji sifat fisik tablet menunjukkan bahwa seluruh formula yang dibuat memenuhi syarat yang ditetapkan dalam kompendial. Kata Kunci :  Parasetamol, pati umbi gembili, bahan pengikat, granulasi basah  ABSTRACT Gembili tuber (PUG) starch has a major component of amylopectin of 75.7%. Amylopectin is sticky and can form a gel when suspended with water, so that it can be used as a tablet binding agent in the form of PUG mucilago. The purpose of this study was to determine the physical characteristics in paracetamol tablets of adding PUG mucilago (Dioscorea esculenta) as a binder. The process of making starch from gembili tuber is done by wet. Paracetamol tablets are made by wet granulation method with variations in levels of FI PUG mucilago 5%, FII 10%, FIII15%. Tablets were made, tested for physical properties (weight uniformity, hardness, friability and disintegration time) with descriptive analysis. The test results of the physical properties of tablets indicate that all formulas made meet the requirements set out in the literature Keywords: Paracetamol, gembili tuber starch, binder, wet granulation
Analisis Cost of Illness Stevens Johnson Syndrome (SJS)/Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) Qarriy Aina Urfiyya; Dyah Aryani Perwitasari; Sri Awalia Febriana
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8077

Abstract

ABSTRAK SJS/TEN merupakan reaksi yang melibatkan kulit dan mukosa yang berat dan mengancam jiwa. SJS dan TEN merupakan kejadian yang jarang terjadi, yaitu 1,4 – 12,7 kasus per 1 juta orang per tahun mengalami SJS dan TEN, dengan angka mortalitas 5% pada SJS dan 30-35% pada TEN. Obat merupakan penyebab utama SJS (50-80% dari kasus) dan TEN (80%). Tujuan: Mengetahui median total biaya per hari pasien SJS/TEN, serta pengaruh lama rawat inap terhadap total biaya SJS/TEN. Penelitian observasional analitik dengan sudut pandang masyarakat. Pengambilan data secara retrospektif menggunakan total sampling pasien rawat inap SJS dan TEN di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2014-2018. Analisis data dengan menghitung median (range) dan regresi linear pada SPSS IBM versi 22.0 untuk mengetahui pengaruh lama rawat inap terhadap biaya SJS/TEN. Terdapat 29 pasien yang dianalisis. Median total biaya per hari pasien SJS/TEN Rp 1.139.963 (Rp 665.294-Rp 8.776.895), dengan Rp 1.139.963 (Rp 740.267-Rp 8.776.895) pada SJS dan Rp 1.166.084 (Rp 665.294-Rp 1.514.607) pada TEN. Hasil signifikansi uji regresi linear lama rawat inap terhadap total biaya SJS/TEN adalah 0,093 (p>0,05). Median biaya per hari SJS/TEN adalah Rp 1.139.963 (Rp 665.294-Rp 8.776.895), dan lama rawat inap tidak mempengaruhi total biaya SJS/TEN.  Kata Kunci—Stevens Johnson Syndrome, Toxic Epidermal Necrolysis, analisis biaya, cost of illness  ABSTRACT SJS/TEN is a reaction that involves heavy and life-threatening skin and mucosa. SJS and TEN are rare events, 1,4 – 12,7 cases per 1 million people per year experiencing SJS and TEN, with a mortality rate of 5% in SJS and 30-35% in TEN. Drugs are the main cause of SJS (50-80% of cases) and TEN (80%). Objective: To determine the median total cost per day of SJS and TEN patients, and the effect of length of stay on the total cost of SJS/TEN. This study used an observational analytic with cross sectional design and societal perspective. The data was collected retrospectively using total sampling of SJS and TEN inpatients at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta in 2014-1018. The data was analyzed by calculating the median (range) and linear regression in IBM SPSS version 22.0, to determine the effect of length of stay on SJS/TEN costs . There were 29 patients analysed. The median total cost per SJS/TEN patient was IDR 1.139.963 (IDR 665.294-8.776.895), with IDR 1.139.963 (IDR 740.267-8.776.895) on SJS and IDR 1.166.084 (IDR 665.294-1.514.607) on TEN patients. The significance linear regression of the length of stay in SJS/TEN was 0,093 (p> 0,05). The median cost per SJS/TEN day was IDR 1.139.963 (665.294-8.776.895), and the length of stay does not affect the total cost of SJS/TEN. Keywords— Stevens Johnson Syndrome, Toxic Epidermal Necrolysis, cost analysis, cost of illness
Analisis Cost Of Illness Drug Reaction With Eosinophilia Systemic Symptoms Di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Vicryanto Halid; Dyah Aryani Perwitasari; Sri Awalia Febriana
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8073

Abstract

ABSTRAK Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom (DRESS) adalah reaksi alergi kulit dengan demam, kenaikan eosinofil darah dan komplikasi organ. Sulitnya diagnosa dan lama terapi serta berpotensi kekambuhan membuat DRESS menjadi masalah karena mempengaruhi ekonomi. Cost of illness (COI) merupakan analisis menentukan beban ekonomi penyakit yang terdiri dari beberapa perspektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui total COI dari perspektif Rumah sakit berdasarkan jenis DRESS, jenis obat, dan jumlah obat penyebab DRESS. Penelitian non-experimental dengan desain cross-sectional retrospektif. Subyek penelitian 21 pasien. Parameter biaya komponen biaya medis langsung yaitu biaya instalasi gawat darurat, pengobatan, monitoring, penunjang dan rawat jalan. Hasil analisis data berupa median (range). Median total COI DRESS dengan komplikasi organ adalah Rp.13.194.963 dan Rp.10.123.495 untuk pasien DRESS tanpa komplikasi organ. Antibiotik menjadi obat penyebab DRESS terbanyak (55,55%) dengan range total biaya tertingginya Rp.53.576.350. Kesimpulan: Total COI DRESS di RSUP Dr.Sardjito tahun 2014-2018 satu pasien adalah Rp.13.546.700.Kata Kunci: Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom, Cost OF illness, biaya medis langsung, komplikasi organ, perspektif Rumah sakit.  ABSTRACT Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom (DRESS) are allergic skin reactions with fever, elevated blood eosinophils and organ complications. Difficult diagnosis and duration of therapy and potential recurrence make DRESS a problem because it affects the economy. Cost of illness (COI) is an analysis determining the economic burden of a disease consisting of several perspectives. This study aims to determine the total COI from the perspective of the hospital based on the type of DRESS, the amount and type of causative drug of DRESS. Non-experimental research with a retrospective cross-sectional design. Study subjects 21 patients. The cost parameters of the direct medical component costs are the costs of the emergency department, treatment, monitoring, support and outpatient care. The results of data analysis are in the form of a median (range). Results: The total median of COI DRESS with organ complications was Rp.13,194,963 and Rp.10,123,495 for DRESS patients without organ complications. Antibiotics became the most common drug causing DRESS (55.55%) with the highest total cost range of Rp.53,576,350. Conclusion: Total COI DRESS at Dr.Sardjito General Hospital in 2014-2018 one patient was Rp.13,546,700. Keywords: Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptom, Cost of Illness, direct medical costs, organ complications, perspective of the hospital.
Karakteristik Fisika Sediaan Suspensi Ekstrak Etanol Daun Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) dengan Variasi Carboxymethyl Cellulose Sodium (CMC-Na) Mia Fitriana; Wawan Halwany; Khoerul Anwar; Liling Triyasmono; Beny Rahmanto; Susy Andriani; Nur Ainah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8087

Abstract

ABSTRAK Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) merupakan salah satu hasil hutan yang memiliki aktivitas antioksidan. Ekstrak etanol daun A. microcarpa terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sangat aktif. Ekstrak etanol daun A. microcarpa kemudian dibuat menjadi sediaan suspensi dengan variasi CMC-Na sebagai agen pengsuspensi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi CMC-Na terhadap karakteristik fisik suspensi ekstrak etanol daun A.microcarpa. Suspensi dibuat dengan variasi CMC-Na pada F1 (0,5% CMC-Na), F2 (1% CMC-Na) dan F3 (1,5% CMC-Na). Evaluasi sediaan suspensi meliputi organoleptis, uji viskositas, uji pH, uji homogenitas serta uji berat jenis suspensi. Nilai evaluasi suspensi dianalisis secara statistik dengan software SPSS 21. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa penambahan  konsentrasi CMC-Na akan meningkatkan nilai viskositas dan berat jenis sediaan. Kesimpulan dari pengujian ini adalah variasi konsentrasi CMC-Na mempengaruhi hasil viskositas, serta berat jenis suspensi (p<0,05) dan tidak mempengaruhi hasil organoleptis, homogenitas dan pH suspensi.  Kata kunci: Gaharu, suspensi, CMC-Na  ABSTRACT Gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) is one of the Borneo’s forest products that has antioxidant activity. Ethanol extract of A. microcarpa folium has been shown to have antioxidant activity that is classified as very active. The ethanol extract of A. microcarpa folium was then made into a suspension preparation with variations of sodium CMC as a suspending agent. This study aimed to determine the effect of sodium CMC concentration on the physical characteristics of the ethanol extract of A.microcarpa folium. Suspension was made with variations of sodium CMC in F1 (0.5% sodium CMC), F2 (1% sodium CMC) and F3 (1.5% sodium CMC). Evaluation of suspension preparations included organoleptic, viscosity test, pH test, homogeneity test and suspension specific gravity test. The suspension evaluation data were analyzed statistically with SPSS 21 Software.  The physical evaluation results showed that the addition of sodium CMC concentration would increase the viscosity and specific gravity of the preparation. The conclusion of this test was that variations in the concentration of sodium CMC affected the results of viscosity and suspension specific gravity (p <0.05) and did not affect the organoleptic yield, homogeneity and pH of the suspension. Keywords: Gaharu, suspension, 
Aktivitas Anti-Inflamasi Eupatorium inulifolium dan Kalsium Karbonat Pada Tikus Jantan Dwi Rizki Febrianti; Siska Musiam
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8078

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi daun Kumpai Mahung (Eupatorium inulifolium) dan kalsium karbonat sebagai anti-inflamasi, berdasarkan obat tradisional di pegunungan Dayak Meratus Indonesia. Metode yang digunakan untuk mendapatkan ekstrak adalah maserasi menggunakan pelarut metanol dengan rasio 1:10. Uji kualitatif Penapisan fitokimia fenolik dengan senyawa FeCl3 dan kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis dengan kuersetin sebagai standar, panjang gelombang 418 nm konsentrasi 10-50 ppm. Ekstrak Eupatorium inulifolium dan calcium carbonat diformulasikan menjadi salep sederhana dengan penambahan vaselin album (1:3). tes anti-inflamasi menggunakan tikus jantan yang telah diinduksi oleh karagenin 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengujian kualitatif dan kualitatif, adalah positif senyawa fenolik, Mengandung 3,68% flavonoid. Ekstrak Eupatorium inulifolium dan kalsium karbonat dalam salep dapat secara signifikan mengurangi edema pada kaki tikus dibandingkan dengan kontrol negatif (14,1%). Kata kunci: Edema, Salep, Anti Inflamasi  ABSTRACT The purpose of this research was to study the potential Kumpai Mahung leaf (Eupatorium inulifolium) and calcium carbonate as an anti-inflammation, based on folk medicine in Dayak meratus mountains of Indonesia. The methods used to obtain the extract is maceration using methanol solvent with the ratio of 1:10.  Qualitative test Phytochemical Screening of phenolic with FeCl3 and quantitative flavonoids compounds with spectrophotometry UV-vis with quercetin as standard, wavelength 418 nm concentration 10-50 ppm. Eupatorium inulifolium extracts and calcium carbonate are formulated into simple ointments with the addition of vaseline album (1: 3) anti-inflammation test using male mice that had been inducted by carrageenan 3%. The result showed that on qualitative and qualitative testing, is positive phenolic compounds, contains 3,68% of flavonoids. Eupatorium inulifolium extract and calcium carbonate in the ointment can significantly alleviate the edema on mice’s paw compared to a negative control (14,1%).Keywords: Rat Paw Edema, Ointment, Anti-Inflammation I.       PENDAHULUAN   Peradangan adalah salah satu tema yang paling menarik untuk dipelajari karena mencakup banyak mediator, dan ini menyebabkan banyak agen peradangan seperti antibodi monoklonal dan antagonis peradangan mulai dikembangkan dan dilaporkan ada obat lain seperti asam askorbat monosiklik, garam kalsium dan kalsium karbonat juga memiliki aspek anti-inflamasi terutama yang disebabkan sengatan serangga (Karnad, Patil dan Majagi, 2006). Peradangan memiliki beberapa respons berdasarkan penyebabnya; salah satu respons peradangan yang biasa terjadi adalah edema. Edema terjadi karena meningkatnya aliran darah lokal ke area luka, dan itu menyebabkan lebih banyak mediator kimia dan histamin dilepaskan sehingga permeabilitas kapiler meningkat (Sousa, Vieira dan Pinho, 2010). Efek dari pembengkakan ini termasuk ketidaknyamanan, rasa sakit, dan ruam (Isrofah, Sagiran, dan Afandi, 2011). Obat antiinflamasi sebagian besar bekerja dengan menurunkan permeabilitas kapiler dengan menurunkan jumlah histamin yang dilepaskan oleh basofil, menghambat fungsi fagositosis leukosit dan makrofag sehingga pembengkakan dapat mereda.Penggunaan sumber daya alam di Kalimantan Indonesia, belum dilakukan secara maksimal karena keanekaragaman
Validasi Kuesioner Pengetahuan Anemia dan Suplemen Zat Besi Pada Ibu Hamil Susan Fitria Candradewi; Ginanjar Zukhruf Saputri; Adnan Adnan
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8069

Abstract

ABSTRAK Anemia pada kehamilan merupakan salah satu masalah dalam kehamilan. Data WHO pada tahun 2001 menunjukkan bahwa lebih dari 50 % wanita hamil mengalami anemia. Anemia pada kehamilan merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin kurang dari 11 mg/dL. Prevalensi anemia di Indoensia cukup tinggi yaitu sebesar 50-63%, sedangkan prevalensi di DI Yogyakarta adalah 14,32%.  Penelitian mengenai pengetahuan ibu hamil terkait kondisi kehamilannya di Selangor  diperoleh bahwa pengetahuan ibu hamil pada kategori baik, namun sebagian besar dari subyek memiliki penegtahuan yang rendah terkait suplemen zat besi. Instrumen penelitian mengenai pengetahuan dan suplemen zat besi yang tervalidasi di Indonesia masih belum ada, sehingga data pengetahuan ibu hamil mengenai kehamilan dan suplemen zat besi masih sangat kurang. Metode dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengembangan instrumen penelitian (kuesioner) yang dilakukan validasi oleh tiga orang ahli di bidangnya masing-masing (validasi konten). Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan pilot test untuk mengetahui masukan maupun umpan balik dari subyek terkait kesalahan dan item pertanyaan yang membingungkan. Pilot test juga digunakan untuk mengukur waktu pengisian kuesioner. Langkah terakhir adalah melakukan validasi construct yang dilakukan pada 49 subyek penelitian. Analisis statistik menggunakan pearson correlation  dan cronbach alpha digunakan untuk mengukur validitas dan reliabilitas kuesioner. Subyek penelitian dalam validasi ini adalah sebanyak 49 pasien hamil yang mendapatkan suplemen zat besi dan atau asam folat di RS PKU Muhammadiyah Gamping pada periode Agustus sampai dengan September 2019. Berdasarkan hasil Uji validitas terhadap 15 item pertanyaan diperoleh 2 item pertanyaan yang tidak valid, selanjutnya item pertanyaan dihapus dan dilakukan validasi ulang dan diperoleh hasil valid dengan nilai koefisien pearson correlation ditasa nilai r tabel. Hasil uji reliabilitas menggunakan cronbach alpa diperoleh semua item pertanyaan memiliki nilai cronbach alpa diatas 0,6 sehingga dinyatakan reliabel. Kata Kunci: Validasi, pengetahuan, ibu hamil, suplemen zat besi     ABSTRACT Anemia in pregnancy is one of the problems in pregnancy. WHO data in 2001 showed that more than 50% of pregnant women had anemia. Anemia in pregnancy is a condition where the hemoglobin level is less than 11 mg / dL. The prevalence of anemia in Indonesia is quite high at 50-63%, while the prevalence in DI Yogyakarta is 14.32%. Research on the knowledge of pregnant women regarding their pregnancy conditions in Selangor shows that the knowledge of pregnant women is in the good category, but most of the subjects have low knowledge regarding iron supplementation. Research instruments on validated knowledge and supplementation of iron in Indonesia still do not exist, so data on knowledge of pregnant women regarding pregnancy and iron supplements is still lacking. The method in this study was to develop a research instrument (questionnaire) which was validated by three experts in their respective fields (content validation). The next step is to conduct a pilot test to find out input and feedback from subjects related to errors and confusing question items. Pilot tests are also used to measure the time to fill out the questionnaire. The final step is to construct validation conducted on 49 research subjects. Statistical analysis using Pearson correlation and Cronbach alpha was used to measure the validity and reliability of the questionnaire. Research subjects in this validation were 49 pregnant patients who received iron supplements and / or folic acid at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital in the period of August to September 2019. Based on the results of the validity test of 15 question items, there were 2 items that were invalid, further items questions were deleted and re-validated and valid results obtained with the Pearson correlation coefficient ditasa r table values. The reliability test results using Cronbach Alpha are obtained all questions items have a Cronbach Alpha value above 0.6 so that it is declared reliable. Keywords:validation, knowledge, pregnant women, iron suplements
Study of Utilization of Antiplatelet Agents in Coronary Heart Disease Patients in Private Hospital in Surabaya Ike Dhiah Rochmawati; Zakiah Rizka Rachmadania Arifin
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8079

Abstract

ABSTRACT Antiplatelet is the most commonly drug used as secondary prevention for Coronary Heart Disease (CHD). The aim of this study was to determine the profile of the use of antiplatelet related with its efficacy and side effects. Observational methods with cross sectional approach for 3 months follow up was used,  a descriptive analysis carried out at the private hospital in Surabaya.  Results from this study: aspirin 80 mg was the most prescribed antiplatelet in patients with the incidence of ischemic events 9%. Higher ischemic events also seen in patients with hypertension, dyslipidemia, and Diabetes Mellitus. Bleeding and gastrointestinal disturbance as side effects occurred in 4 patients who used aspirin as antiplatelet, and based for Naranjo scale can be concluded as possible adverse drug reaction.  Keywords: Coronary Heart Disease, Antiplatelet , Ischemic events, Bleeding 
Analysis of Antibiotics on Patients Surgery, before and after Used Guidelines for Antibiotics (PPAB) Lisa Narulita; Riefkah Bilal; Mohammad Akram; Suharjono Suharjono
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8074

Abstract

ABSTRAK Sejak    tahun    2011    World   Health    Organisasi   (WHO)   dan    Komite Pengedalian Resisten Antimikroba  (KPRA) sejak 2015, untuk  menetapkan kebijakan penggunaan antibiotik  dengan menyusun formularium dan  Pedoman Penggunaan Antibiotik (PPAB). Penggunaan antibiotik  berlebihan berkontribusi pada resistensi maka  penelitian ini bertujuan, menganalisis besarnya perbedaan penggunaan antibiotik  pada pasien rawat  inap bedah sebelum digunakan PPAB (Periode  Mei 2018)  dan  setelah  digunakan  PPAB (Periode  Mei 2019)  dengan ATC  / DDD (Defined   Daily  Dose).  Jenis  dan   rancangan  penelitian  adalah deskriptif cross-sectional dengan data retrospektif. Data  yang  diambil  meliputi peresepan antibiotik  di ruang  bedah. Data dianalisis dengan uji tanda (sign test) dan  uji wilcoxon  dengan hasil sign test yang  bertanda negatif sebanyak 9 dan bertanda positif sebanyak 2 dan  uji wilcoxon  menyatakan Sig.(2-tailed 0,062) (α=0,05) artinya   penggunaan  antibiotik   sebelum  dan setelah digunakan PPAB tidak berbeda atau  sama berdasarkan statistik. Tetapi dari  persentasi  penggunaan  antibiotik   terdapat 9  antibiotik   yang penggunaannya  menurun setelah digunakan PPAB  seperti sefoperason 50%, seftriaxon  52%,  sefuroxime  87%,  sepirom  90%,  siproflosasin  17%,  gentamisin 99%, levofloxasin 60%, metronidazol 79% dan  moxifloksasin 86%. Disimpulkan PPAB  perlu ditingkatkan dalam penggunaan antibiotik  di RSUD dr.H.Slamet Martodirdjo dan  penggunaa seftriakson  dapat meningkatkan  multi drug resistant. Dengan  demikian perlu  adanya evaluasi dan  monitoring dalam menerapkan PPAB. Kata kunci: ATC/DDD; Pasien Bedah; PPAB  ABSTRACT Since  2011  the  World Health  Organization (WHO) and  the  National Antimicrobial  Resistant Control  Committee (KPRA) in indonesia since 2015, to establish antibiotic use policies by developing formularies and  Antibiotic  Use Guidelines (PPAB). Excessive use of antibiotics contributing to resistance, this study aims, analyzing the  magnitude of  differences in antibiotic use patients surgery before PPAB (May 2018  period)  and after  PPAB (May 2019  period)  with ATC / DDD (Defined  Daily Dose). Type and  design  of the  study is  descriptive cross-sectional with retrospective. Data  taken  included prescribing antibiotics. Data  were  analyzed by sign test and  Wilcoxon test with 9 negative sign and  2 positive sign results and  Wilcoxon  test stated Sig. (2-tailed 0.062)>  (α = 0.05), meaning that  use of antibiotics before and  after  PPAB is not different or the same based on statistics. But from the percentage of antibiotic 9   decreased  after    PPAB,   such  as   cefoperazone  50%,   cefriaxone   52%, cefuroxime  87%,  cefpirome  90%,  ciprofloxacin  17%,  gentamicin  99%, levofloxacin 60%, metronidazole 79% and  moxifloxacin 86%.  Concluded that PPAB needs to be improved in the use of antibiotics in RSUD dr.H. Islamet Martodirdjo and the use of ceftriaxone can increase multi drug resistant. Thus the need for evaluation and monitoring in implementing PPAB. Keywords:  ATC/DDD; Surgical Patients; PPAB
Sand Granules Ekstrak Etanol Daun Kirinyuh (Eupatorium inulifolium Kunth.) sebagai Larvasida Alami Pemberantas Demam Berdarah Dengue Puji Hartati; Yance Anas; Ririn Lispita Wulandari
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8067

Abstract

ABSTRAK             Penelitian sebelumnya telah mengungkap efek larvasida ekstrak etanol daun kirinyuh (Eupatorium inulifolium Kunth.) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Ekstrak ini selanjutnya dapat dikembangkan dalam bentuk sediaan sand granules sehingga mudah digunakan sebagai larvasida alami. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula sand granules ekstrak etanol daun Eupatorium inulifolium Kunth (EEDE) yang memenuhi standar karakteristik fisik granul dan menguji efek larvasidanya pada larva nyamuk Aedes aegypti. Sand granules EEDE dibuat dengan metode  granulasi basah dengan variasi konsentrasi kollidon (1%-5%), explotab (1%-3%) dan sacharum lactis (78,44%-84,44%). Karakteristik fisik berbagai formula Sand granules EEDE yang diuji adalah kecepatan alir dan sudut diam. Uji efek larvasida dilakukan pada 25 ekor larva instar III nyamuk Aedes aegypti selama 24 jam dengan replikasi sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula Sand granules EEDE (F1-F5) memenuhi standar karakteristik fisik dengan kecepatan alir (16,69-19,35) g/detik dan sudut diam granul 32,94°-35,76°. F1-F5 juga memiliki efek larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti dengan persentase kematian larva dalam 24 jam sebesar (33,0-39,2) %. Akan tetapi, efek larvasida tersebut lebih kecil dibandingkan dengan EEDE 670 ppm (49,6%) dan Temefos® 0,01 ppm (100,0%). Hasil penelitian ini juga menyimpulkan bahwa proses pembuatan sand granules akan menyebabkan penurunan efek larvasida EEDE. Kata Kunci: Daun kirinyuh, efek larvasida, karakteristik fisik, sand granules  ABSTRACT Previous studies reported Eupatorium inulifolium Kunth. leaves ethanol extract (ELEE) have a larvicidal effect on Aedes aegypti larvae. This extract can be developed into sand granules formulation, making it easy to use as a natural larvicidal. This study means to obtain the ELEE sand granules formula that meets the granule's physical characteristics standard, and asses it's a larvicidal effect on Aedes aegypti larvae. Sand granules of ELEE produced with the wet granulation method. The differences between formulas are variations of Kollidon (1%-5%), Explotab (1%-3%), and Saccharum Lactis (78.44%-84.44%) concentration. The physical characteristics of the various KLEE sand granules formulas observed are flow rate and angle of repose. The assay of the ELEE larvicidal effect was carried out on twenty-five Aedes aegypti Instar III larvae for 24 hours with five replications. The results showed that all ELEE sand granules formulas (F1-F5) met the physical characteristics standard, with a flow rate (16.69-19.35) g/sec and an angle of repose 32.94 °-35.76°. F-F5 also had larvicidal effects on Aedes aegypti larvae, with larval mortality within 24 hours (33.0-39.2) %. However, their larvicidal effect is slight compared to ELEE 670 ppm (49.6%) and Temefos® 0.01 ppm (100.0%). This study also concludes that the process of sand granules preparation will diminish the larvicidal effects of ELEE. Keywords: Kirinyuh leaves, larvacidal effect, physical characteristics, sand granules
Sediaan Ekstrak Air Daun Gaharu (Aquilaria microcarpa) Memiliki Potensi Memperbaiki Kulit yang Terpapar Sinar Ultraviolet Destria Indah Sari; Dina Rahmawanty; Yunita Jultan; Siti Sumiati Naba
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8071

Abstract

ABSTRAK Sinar ultraviolet dapat memberikan dampak yang merugikan terhadap kulit. Meskipun sinar ultraviolet juga memberikan manfaat seperti memediasi sintesis vitamin D, namun paparan berlebih sinar ultraviolet dapat menyebabkan kelainan kulit dan dapat menimbulkan resiko kesehatan, seperti atropi, perubahan pigmen, keriput, dan malignancy (keganasan). Reaksi tersebut timbul karena pembentukan radikal bebas dan untuk mengatasinya diperlukan antioksidan. Ekstrak daun Aquilaria microcarpa diketahui mengandung flavanoid, yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Pemanfaatan ekstrak daun Aquilaria microcarpa dalam bentuk sediaan merupakan langkah untuk meningkatkan kenyamanan pemakaian dan memaksimalkan manfaat ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan sediaan ekstrak daun Aquilaria microcarpa dalam memperbaiki kulit yang terpapar sinar matahari. Kulit yang digunakan dalam penelitian adalah kulit mencit dewasa galur Balb/C yang telah diberi perlakuan selama 8 hari.  Pengamatan dilakukan terhadap lapisan epidermis dan dermis terhadap masing-masing ketebalan dan jumlah melanosit. Hasil penelitian menunjukkan sediaan ekstrak daun Aquilaria microcarpa memiliki potensi memperbaiki kulit yang terpapar sinar ultraviolet. Kata Kunci: paparan sinar ultraviolet, Aquilaria microcarpa,   ABSTRACT Ultraviolet rays could give negative effect to skin. Although ultraviolet rays also give benefit, for example, catalyzing vitamin D synthesis, but excessive exposure of ultraviolet rays may cause skin disorders, such as atropy, pigment changes, wrinkles, and malignancy. Those reactions caused by free radicals formation and need antioxidant to reduce them. Aquilaria microcarpa leaves extract were revealed to have flavanoid, which can be used as antioxidant. Its usage as dosage form was a step to increase acceptability and to maximize benefit of the extract. This research was aimed to determined Aquilaria microcarpa leaves extract ability to recover skin-previously exposed to ultraviolet rays. Skin used in this research were full grown mice Balb/C whom treated after 8 days. Epidermis thickness and melanocyte cell numbers were counted and compared with UV group and control group. The result showed Aquilaria microcarpa leaves extract as dosage form has potency to recover skin which exposure to ultraviolet rays. Keywords: ultraviolet rays exposure, Aquilaria microcarpa