cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) Terhadap Ekstrak Etanol Kulit Buah Durian (Durio zibethinnus L.) dari Desa Alasmalang Kabupaten Banyumas Eko Prasetyo; Naelaz Zukhruf Wakhidatul Kiromah; Titi Pudji Rahayu
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9200

Abstract

Kulit durian merupakan bagian tanaman yang pernah diteliti sebelumnya dan mempunyai aktivitas farmakologi sebagai antioksidan. Kulit durian mengandung metabolit sekunder yaitu flavonoid, tanin dan alkaloid. Kulit durian diekstrak menggunakan pelarut etanol 70% dengan metode sokletasi.  Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode pengukuran penangkapan radikal bebas oleh 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif dengan nilai IC50 5,63 ppm dan ekstrak etanol sebesar 204,33 ppm. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit durian tidak memiliki aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Kata Kunci: Durian, Sokletasi, DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil), antioksidan, IC50  Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) have  been studied previously and reported to have phramacological activity that has the potential to be antioxidant. The durian fruits peels, contained secondary metabolite, namely flavonoids, tannin and alkaloid. Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) were extracted with ethanol 70% with soxletation method. The antioxidant activity of extracts were evaluated by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) free radical scavenging activity assay. Vitamin C was used as standard with IC50 5,63 ppm and the ethanol eztracts showed IC50 204,33 ppm. This study provided that Durian fruit peels (Durion zibethinus Murr.) cannot inhibit free radical usimg the DPPH method. 
Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Implementasinya oleh Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Kota Banjarmasin-Banjarbaru Tahun 2019 Baharuddin Yusuf; Christina Avanti
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8992

Abstract

Rantai distribusi obat di Indonesia tidak lepas dari keterlibatan Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan telah diatur kualitasnya dalam Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Saat ini, BPOM menetapkan aturan kepada PBF untuk menerapkan standar aturan CDOB dengan mengeluarkan surat edaran No. B-HK 06.3.341.12.18.7023 pada tahun 2018 tentang percepatan pengajuan aplikasi untuk sertifikasi CDOB. Semua PBF di Indonesia harus mematuhi surat edaran tersebut untuk menjamin kualitas dan keamanan rantai distribusi obat, termasuk di kota Banjarmasin-Banjarbaru. Telah dilakukan penelitian untuk mendapatkan informasi terkait implementasi aturan CDOB oleh PBF di Banjarmasin-Banjarbaru pada tahun 2019. Data penelitian diambil pada bulan Januari-Februari 2020. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara dengan 30 responden dari 30 PBF. Dari hasil penelitian didapatkan informasi bahwa 26 PBF (86,7%) telah menerapkan lebih dari 80% aspek CDOB. 3 PBF (10%) menerapkan 65%-80% aspek CDOB dan 1 PBF (3,3%) menerapkan 50%-64% aspek CDOB. Dapat disimpulkan bahwa PBF Banjarmasin-Banjarbaru telah menerapkan aspek CDOB pada kegiatan distribusi produk. Implementasi CDOB pada PBF perlu senantiasa dimonitor, beberapa PBF masih perlu meningkatkan kualitas implementasi CDOB untuk menjamin mutu produk farmasi.ABSTRACTThe drug distribution chain in Indonesia cannot be separated from the involvement of Pharmaceutical Wholesalers (PWS) and its quality has been regulated in Good Distribution Practice (GDP). National Drug and Food Act (NDFA) sets rules for pharmaceutical wholesaler to apply the standard of GDP by issuing a circular letter No. B-HK 06.3.341.12.18.7023 in 2018 concerning the acceleration of submission for GDP certification. Pharmaceutical wholesaler in Indonesia must comply with the circular to guarantee the quality and safety of the drug distribution chain, including in the city of Banjarmasin-Banjarbaru. Research has been conducted to obtain information related to the implementation of GDP rules by pharmaceutical wholesalers in Banjarmasin-Banjarbaru in 2019. The data were taken in January-February 2020 and collected using questionnaires and interviews to 30 respondents from 30 PWS. From the research results it is known that 26 PWS (86.7%) have applied more than 80% of GDP aspects. 3 PWS (10%) applied 65%-80% of GDP aspects and 1 PWS (3,3%) applied 65%-80% of GDP aspects. It can be concluded that the Banjarmasin-Banjarbaru PWS has implemented the GDP aspect in product distribution activities, however GDP implementation in PWS needs to be monitored continuously. Some PWSs still need to improve the quality of GDP implementation to ensure the quality of pharmaceutical products.Keywords: CDOB, Pharmaceutical Wholesalers, Banjarmasin, Banjarbaru
Pola Pemberian Obat Antihipertensi pada Pasien Geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB Tahun 2017 Mia Cahya Lestari; Raisya Hasina; Ni Made Amelia Ratnata Dewi
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9444

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang diderita oleh pasien usia lanjut (geriatri) dengan persentase kejadian terbanyak yaitu sebesar 57,6%. Hipertensi pada pasien geriatri dapat disebabkan karena penurunan fungsi organ, sehingga akan lebih rentan terkena penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pola pemberian antihipertensi serta kesesuaian pengobatan hipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB tahun 2017. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan metode pendekatan observasional secara retrospektif terhadap pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap RSUD Provinsi NTB. Pengambilan data dilakukan dengan metode Total sampling terhadap 97 pasien geriatri. Data yang diperoleh dari bagian rekam medik dan resep ditabulasi dengan software microsoft excel. Setelah dilakukan penelitian didapatkan bahwa terapi untuk hipertensi didominasi oleh obat dengan dua kombinasi yaitu amlodipin dan valsartan (88%). Obat tunggal didominasi oleh amlodipin (75%). Kesesuaian peresepan dilihat dari dosis dan frekuensi terapi antihipertensi telah sesuai 100% dengan pedoman pengobatan, namun jenis obat yang digunakan hanya mencapai 99% dilihat dari pemberian kombinasi 3 antihipertensi dengan kombinasi golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (captopril) dan golongan Angiotensin Receptor Blocker (candesartan) yang menimbulkan potensi interaksi mayor dan efek samping (1%). Kata Kunci: Hipertensi, Geriatri, Pola Pemberian Obat.  Hypertension is a disease that affects geriatric with the highest percentage of incidence was 57.6%. Hypertension in geriatric patients can be caused by decreased organ function, so they are more susceptible to disease. The purpose of this study was to describe the pattern of antihypertensive drugs also the appropriateness of hypertension therapy in geriatric patients. This study was held in the inpatient Installation of the NTB Provincial Hospital in 2017. The design of this study was descriptive by collecting data retrospectively on 97 geriatric patients. The data obtained from the medical record and prescription sections were processed using Microsoft Excel software. The result showed that the therapy for hypertension was dominated by combination drugs which consist of amlodipine and valsartan (88%) and single drugs were dominated by amlodipine (75%). The appropriateness of prescription was seen from the dosage and frequency in the main therapy (hypertension) was 100% according to the treatment guidelines, but the type of drug that used was only 99% which seen from the giving combination of 3 antihypertensive drugs of Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (captopril) and Angiotensin Receptor Blocker (candesartan) groups which caused interactions major and side effects (1%).
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Muntingia calabura dengan Variasi Laju Pengadukan Menggunakan Macerator-Magnetic Stirrer (M-MS) Muhammad Zaini; Hajrah Hidriya; Japeri Japeri
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.9037

Abstract

Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi yang digunakan untuk menarik kandungan kimia dari bahan alam. Macerator Magnetic Stirrer (M-MS) merupakan alat yang dikembangkan untuk memaksimalkan proses maserasi melalui pengadukan secara berkesinambungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan M-MS dalam proses ekstraksi senyawa bahan alam. Parameter yang digunakan yaitu persentase zat terekstraksi (% rendemen) dan aktivitas antioksidan (IC50) ekstrak etanol Muntingia calabura (EEMC) menggunakan metode DPPH (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazil). Pengujian dilakukan terhadap simplisia daun Muntingia calabura yang  dimaserasi selama 24 jam menggunakan etanol 95% dengan maserator konvensional, M-MS dengan laju pengadukan 200 rpm dan 300 rpm. Pengadukan dengan maserator konvensional dilakukan sebanyak 3 kali setiap 8 jam, sedangkan dengan M-MS dilakukan secara kontinyu selama 24 jam. Nilai % rendemen EEMC dari maserator konevnsional, M-MS 200 rpm dan 300 rpm secara berturut-turut adalah 7,6 %, 8,4 % dan 10,2 %. Hasil uji aktivitas antioksidan menghasilkan nilai IC50 EEMC dengan maserator konvensional sebesar 18,19 ppm, M-MS 200 rpm adalah 14,35 ppm dan 300 rpm adalah 7,85 ppm. Nilai IC50 untuk masing-masing uji menunjukan < 50 ppm yang termasuk dalam kategori sangat kuat. Ekstraksi EEMC paling efektif adalah menggunakan M-MS dengan laju pengadukan 300 rpm. The maceration is one of the extraction methods used to extract chemical content from natural compounds. Macerator Magnetic Stirrer (M-MS) is a tool developed to maximize the maceration process through continuous stirring. The purpose of this study was to determine the effectiveness of using M-MS in the process of extracting natural compounds. The parameters used were the percentage of extracted substance (% yield) and antioxidant activity (IC50) of ethanol extract of Muntingia calabura (EEMC) using the DPPH method (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazil). Tests were carried out on the simplicia of Muntingia calabura leaves which were macerated for 24 hours using 95% ethanol with a conventional macerator, M-MS with a stirring rate of 200 rpm and 300 rpm. Stirring with a conventional macerator was carried out 3 times every 8 hours, while with M-MS it was done continuously for 24 hours. EEMC yield value respectively of conventional macerator, M-MS at 200 rpm and 300 rpm showed 7.6 %, 8.4% and 10.2 %. The results of the antioxidant activity test resulted in the IC50 EEMC value with a conventional macerator is 18.19 ppm, M-MS 200 rpm is 14.35 ppm and 300 rpm is 7.85 ppm. The IC50 value for each test shows <50 ppm which is included in the very strong category. The most effective EEMC extraction is using M-MS with a stirring rate of 300 rpm.Keywords: maceration, M-MS, EEMC, antioxidant
Pemanfaatan Penawar Sampai (Tinospora crispa L.) sebagai Tanaman Obat Tradisional oleh Suku Dayak Ngaju Natalia Sri Martani; Fatmaria Fatmaria
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8799

Abstract

 Kehidupan sub rumpun Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah sangat bergantung pada hutan dan alam. Masyarakatnya menggunakan berbagai obat-obatan tradisional yang bermanfaat, salah satunya adalah tanaman penawar sampai (Tinospora crispa L.). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tanaman T. crispa sebagai obat tradisional Suku Dayak Ngaju. Metode yang digunakan ialah penelitian eksploratif dari Basir, para ahli pengobatan tradisional Suku Dayak Ngaju. Pemilihan Basir menggunakan metode snowball sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa T. crispa yang digunakan oleh masyarakat Suku Dayak Ngaju secara empiris digunakan sebagai antihipertensi; menunjang diabetes agar terkontrol; pengobatan penyakit kulit; melawan alergi; meningkatkan selera makan; penyembuhan luka; sakit kuning (hepatitis); penyembuhan rematik; antimalaria; menstimulasi saraf; dan antidiare. Kesimpulan penelitian ini bahwa T. crispa merupakan tanaman obat tradisional yang memiliki banyak manfaat. The life of the sub ethnic of Dayak Ngaju Tribe in Central Kalimantan is very dependent on the forest and nature. People use a variety of traditional medicines are beneficial, one of which is the penawar sampai (Tinospora crispa L.). The research objective to explore the utilization of the T. crispa as a medicinal plant traditional Dayak Ngaju Tribe. The method used is exploratory research of Basir, the traditional healers from Dayak Ngaju Tribe. The selection of Basir using the method of snowball sampling. The results of this study indicate that the antidote to that used by the people of Dayak Ngaju Tribe empirically used as an antihypertensive; support to controlled diabetes; a skin disease that can be treated; fight allergies; improves appetite; wound healing; yellow fever (hepatitis); the healing of rheumatism; antimalaria; stimulates the nerves and anti diarrhea. The conclusion of this study that the antidote to is a traditional medicinal plant that has many benefits.Keywords: Penawar Sampai, Tinospora crispa L., Medicinal Plants, Dayak Ngaju Tribe
Evaluasi Edukasi Personal Dalam Pemahaman, HBA1c dan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 di Sidoarjo Khurin In Wahyuni; Martina Kurnia Rohmah; Herni Setyawati
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9720

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif tertinggi ke-enam di dunia, dimana prevalensi diabetes semakin meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung konsumtif dan minim aktifitas fisik. Diabetes Mellitus ditandai dengan kenaikan gula darah karena kelainan insulin, resistensi insulin atau bisa juga keduanya. Salah satu upaya untuk penanganan dan pencegahan timbulnya peningkatan DM tipe 2 adalah dengan pemberian edukasi menggunakan media booklet. Edukasi merupakan penyampaian pesan kesehatan kepada kelompok atau individu dengan tujuan memperoleh pemahaman dan peningkatan kualitas hidup yang ditandai dengan penurunan HBA1c yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman, kualitas hidup dan perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah pemberian edukasi dengan media booklet terhadap pasien DM tipe 2 di Sidoarjo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Random Control Trial Design. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni sampai Oktober 2020 dengan sampel 60 pasien. Pengukuran pemahaman menggunakan kuesioner DKQ Quessioner, perubahan perilaku menggunakan kuesioner DQOL sedangkan penetapan kadar HBA1c dengan alat tes gula darah. Hasil analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan uji Mann Whitney dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara, pemahaman, kualitas hidup serta kadar gula darah HBA1c sebelum dan sesudah edukasi.  Pada hasil uji Spearman’Rank’s kelompok intervensi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,586 dengan signifikansi 0,001 untuk pemahaman dengan HBA1c, hasil pemahaman dengan kualitas hidup diperoleh korelasi dengan nilai 0,552 dan p= 0,002. Pada uji korelasi antara HBA1c dengan kualitas hidup diperoleh nilai -0,434, sedangkan signifikansi diperoleh p=0,017, Hal ini menunjukan hubungan antara variable didapat korelasi sedang. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulan bahwa terdapat efektivitas edukasi terhadap pemahaman, A1c dan kualitas hidup. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Edukasi, Pemahaman, Kualitas Hidup, Kadar HBA1C, Kualitas Hidup  Diabetes Mellitus (DM) is one of the sixth highest degenerative diseases in the world, the prevalence of diabetes is increasing in line with changes in people's lifestyles that tend to be consuming and minimal physical activity. DM is characterized by an increase in blood sugar due to insulin disorders, insulin resistance or both. One of the efforts to handle and prevent an increase in type 2 diabetes is trough education using booklet media. Education is the delivery of health messages to groups or individuals to gain understanding and improve the quality of life, marked by a better decrease in HBA1c. This study used a Random Control Trial Design. This study aims to determine the understanding, quality of life and differences in blood sugar levels before and after giving education with booklet media to type 2 DM patients in Sidoarjo. This study was conducted from June-October 2020 with a sample of 60 patients. Measurement of understanding using the DKQ Quessioner questionnaire, behavior change using the DQOL questionnaire while HBA1c levels using a blood sugar test kit. The results of quantitative analysis were carried out using the Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann Whitney test, from these results there were significant differences between, understanding, quality of life and blood sugar levels of HBA1c before and after education. While the results of the Spearman 'Ranks test for the intervention group obtained a correlation coefficient of -0.586 with a significance of 0.001 for understanding with HBA1c, the results of understanding with quality of life obtained a correlation with a value of 0.552 and p = 0.002. In the correlation test between HBA1c and quality of life, the value -0.434, while the significance was p = 0.017, and this shows the relationship between variables obtained moderate correlation. From this research, there is educational effectiveness on understanding, A1c and quality of life.
Analisis Glukosa Ikan Gelodok (Periopthalmodon schlosseri) di Perairan Desa Tanipah dan Desa Kuala Lupak, Barito Kuala Kalimantan Selatan Dewita Rinowati; Hidayaturrahmah Hidayaturrahmah
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.8468

Abstract

Sumber energi dan biomarker terhadap kondisi fisiologis ikan dipengaruhi oleh faktor kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil glukosa pada ikan gelodok (Periopthalmodon schlosseri) di Desa Tanipah dan Desa Kuala Lupak, Kabupaten Barito Kuala sebagai sumber pengetahuan. Metode yang digunakan adalah  GOD-PAP yaitu penetapan glukosa darah dari sampel serum dan plasma secara enzimatik menggunakan Glukosa Oksidase Para Amino Phenazone menghasilkan warna merah yang diukur dengan fotometer. Hasil yang didapatkan kadar glukosa rata-rata ikan gelodok dari pengambilan Desa Tanipah didapatkan 45,87 ± 13,6 mg/dL Pengambilan di Desa Kuala Lupak rata-rata kadar glukosa sebesar 49,75 ± 27,6 mg/dL. Glukosa ikan gelodok yang didapatkan dari kedua desa tersebut berada dibatas normal kadar glukosa darah pada ikan. Kata Kunci: Glukosa, darah, ikan gelodok, GOD-PAP, glikogen  Energy sources and biomarkers of fish physiological conditions are influenced by blood glucose levels. This study aimed to determine the glucose profile of the jellyfish (Periopthalmodon schlosseri) in Tanipah Village and Kuala Lupak Village, Barito Kuala Regency as a source of knowledge. The method used is GOD-PAP namely the determination of blood glucose from serum and plasma samples enzymatically using Glucose Oxidase The Amino Phenazone produces a red color as measured by a photometer. The results obtained by the average level of glucose in Mudskipper from the taking of Tanipah Village were 45.87 ± 13.6. Taking in the village of Kuala Lupak the average glucose level was 49.75 ± 27.6 mg / dL. Mudskipper fish glucose obtained from the two villages is within the normal limits of blood glucose levels in fish.
Evaluasi Penyimpanan Obat di Gudang Farmasi RSUD Ratu Zalecha Martapura Octa Linda Lestari; Nani Kartinah; Noor Hafizah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.7926

Abstract

Penyimpanan adalah kegiatan untuk menghindari obat dari kerusakan baik fisik dan kimia serta memastikan kualitas obat tetap terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penyimpanan obat di Instalasi Gudang Farmasi RSUD Ratu Zalecha Martapura berdasarkan indikator USAID. Penelitian bersifat deskriptif non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional dan pengambilan data dilakukan secara prospektif. Indikator yang dievaluasi yaitu tingkat akurasi persediaan obat, tingkat akurasi penempatan obat, tingkat akurasi pengambilan obat, waktu pemrosesan permintaan obat, pemanfaatan ruang penyimpanan, serta tingkat keamanan di lokasi penyimpanan menurut USAID. Hasil penelitian menunjukkan persentase tingkat akurasi persediaan obat 100%, persentase tingkat akurasi penempatan obat sebesar 85%, dan persentase tingkat akurasi pengambilan obat 97%. Waktu yang diperlukan oleh petugas gudang dalam pemrosesan permintaan obat yaitu 3 - 66 menit, persentase pemanfaatan gudang untuk menyimpan obat sebesar 43%, dan terdapat Standar Prosedur Operasional terkait tingkat keamanan obat di gudang penyimpanan obat. Dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi berdasarkan indikator USAID menunjukkan penyimpanan obat di Gudang Farmasi RSUD Ratu Zalecha Martapura masih belum efisien karena masih terdapat indikator yang belum memenuhi standar yaitu indikator tingkat akurasi penempatan obat dan tingkat akurasi pengambilan obat. Storage of medicine is an activity to prevent drugs from physical and chemical damage and to guarantee the quality of drugs. This study aims to evaluate the drug storage at the Installation of Pharmacy in Ratu Zalecha Martapura Hospital based on USAID indicators. This research is a descriptive non-experimental study with a cross-sectional study and prospectively data. The indicators evaluated are the accuracy of drug supplies, the accuracy of drug placement, the accuracy of drug collection, the processing time for drug requests, the utilization of storage space, and the level of security at storage locations according to USAID. The results showed an accurate rate of drug supplies was 100%, percent of the accuracy rate of drug placement was 85%, and percent of the accuracy of drug-taking was 97%. The time required by warehouse officers in processing drug requests is 3 - 66 minutes, the percentage of warehouse used to store drugs is 43%, and there are Standard Operating Procedures related to the safety level of drugs in drug storage warehouses. The conclusion of this research is the evaluation based on USAID indicators show that drug storage in the Pharmacy Warehouse of the Ratu Zalecha Martapura Hospital is still inefficient because there are still indicators that do not meet the standards, namely indicators of the accuracy of drug placement and the accuracy of drug-taking.Keywords :   Drug Storage, Warehouse, USAID Indicator, Pharmaceutical Managemen
Review: Telaah Kandungan Senyawa Katekin dan Epigalokatekin Galat (EGCG) sebagai Antioksidan pada Berbagai Jenis Teh Zahra Hasna Fadhilah; Farid Perdana; Raden Aldizal Mahendra Rizkio Syamsudin
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.9122

Abstract

Katekin merupakan senyawa bioaktif dengan kerangka flavan-3-ol dan menjadi senyawa utama penentu mutu serta dapat memberikan rasa pahit yang khas pada teh. Senyawa turunan katekin yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan paling kuat dan melimpah yaitu epigalokatekin galat. Tujuan dari review artikel ini yaitu untuk mengetahui kandungan senyawa katekin dan epigalokatekin galat sebagai antioksidan pada berbagai jenis teh berdasarkan nilai IC50.Metode penulisan review artikel ini dilakukan dengan mencari serta menganalisis studi pustaka dari beberapa jurnal yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan pada berbagai jenis teh dengan penelusuran terhadap senyawa katekin, khususnya epigalokatekin galat. Hasil review menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada pengolahan jenis teh seperti teh hijau, teh oolong, dan teh hitam memiliki perbedaan yang cukup signifikan yang dapat dilihat dari kandungan senyawa katekin dan EGCG dimana semakin besar kandungan senyawa tersebut, maka aktivitas antioksidannya semakin tinggi. Selain itu, tingginya aktivitas antioksidan dapat dilihat dari nilai IC50. Semakin rendah nilai IC50, maka aktifitas antioksidan akan semakin tinggi. Teh hijau terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi diantara teh lainnya dengan kandungan katekin sebesar 10,04% dan epigalokatekin galat sebesar 3,28% serta nilai IC50 yang paling rendah yaitu 58,61 µg/mL. Kata Kunci: Katekin, Teh Hijau, Teh Oolong, Teh Hitam, Antioksidan Catechins are bioactive compounds with a flavan-3-ol structure and become a major determinant of quality compounds and can give a distinctive bitter taste of tea. Catechin derivative compounds that have the antioxidant activity as the strongest and abundant are epigallocatechin gallate. The purpose of this article review was to determine the content of catechins and epigallocatechin gallate compounds as an antioxidant in various types of tea based on the IC50 value. The method of writing of this article review was carried out by searching and analyzing literature studies from several journals related to antioxidant activity in various types of tea by tracing catechin compounds, especially the epigallocatechin gallate. The results of the review showed that the antioxidant activity in the processing of types of tea such as green tea, oolong tea, and black tea has significant differences which could be seen from the content of catechins and EGCG compounds where the greater the content of the compounds, the higher the antioxidant activity. Also, the high antioxidant activity can be seen from the IC50 value. The lower the IC50 value, the higher the antioxidant activity. Green tea shows to have the highest antioxidant activity among other teas with a catechin content of 10.04% and an epigallocatechin gallate of 3.28% and the lowest IC50 value of 58.61 µg/mL.
Penambatan Molekul Kandungan Eurycoma longifolia Jack. (Pasak bumi) terhadap Human Phosphodiesterase 5 Samsul Hadi; Khoerul Anwar; Amalia Khairunnisa; Noer Komari
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8731

Abstract

Pasak bumi sebagai obat tradisional pria telah digunakan oleh masyarakat melayu, khususnya orang Sumatra dan kalimantan, akan tetapi mekanisme secara molekuler belum dikatahui dengan jelas. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui mekanisme pasak bumi sebagai obat tradisional yang bermanfaat mengatasi disfungsi ereksi adalah penambatan molekul. Penambatan melekul dilakukan dengan cara melihat interaksi ligand dengan reseptor. Ligand yang berasal dari pasak bumi adalah 5-methoxycanthin-6-one, 9-methoxycanthin-6-one, eurycomalactone, eurycomalide A, eurycomanone, eurycomaoside, laurycolactone A, longilactone, niloticin, picrasidine O. Sehingga kesepuluh ligand ini didocking menggunakan salah satu aplikasi docking yaitu PLANTS 1.1 untuk melihat ikatan dengan PDE5. Sebelum dilakukan docking terhadap ligand pasak bumi, terlebih dahulu dilakukan docking terhadap ligand Sildenafil untuk melhat nilai RMSD. RMSD ini diperlukan sebagai alat validasi metode, berdasarkan percobaan, nilai RMSD dari Sildenafil adalah 1,2517 A0. Hasil terbaik dari penambatan molekul pasak bumi adalah niloticin dengan skor doking -97,8802, sehingga nilai interaksinya terhadap reseptor sebesar 93,71% dari Sildenafil.Pasak bumi as traditional male medicine has been used by Malay people, especially Sumatra and Borneo people, but the molecular mechanism is not yet known clearly. One approach that can be used to determine the mechanism of the Pasak Bumi as a traditional medicine that is useful to overcome erectile dysfunction is docking molecules. Molecular docking is done by looking at the interaction of ligands with receptors. Ligands originating from the Pasak Bumi are 5-methoxycanthin-6-one, 9-methoxycanthin-6-one, eurycomalactone, eurycomalide A, eurycomanone, eurycomaoside, laurycolactone A, longilactone, niloticin, picrasidine O. docking application namely PLANTS 1.1 to see the bond with PDE5. Before docking Pasak Bumi ligand, it is first docking Sildenafil ligand to see the RMSD value. The RMSD is needed as a method validation method, based on experiments, the RMSD value of Sildenafil is 1.2517 A0. The best results from docking of the Pasak bumi molecule is niloticin with a doctor score of -97.8802, so interaction skor to the receptor is 93.71% of Sildenafil.Keywords: Pasak Bumi, PDE5, PLANTS