cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Formulasi dan Evaluasi Gel Topikal Antibakteri Fraksi Aktif Akar Kuning (Arcangelisia flava Merr.) Evi Mulyani; Suratno Suratno; Mohammad Rizki Fadhil Pratama
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8081

Abstract

ABSTRAK Akar kuning (Arcangelisia flava Merr.) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di Kalimantan Tengah dan secara turun temurun digunakan sebagai pilihan pengobatan beberapa penyakit kulit dan terbukti mempunyai aktivitas antibakteri. Pembuatan sediaan topikal antibakteri berbahan fraksi aktif A. flava sangat potensial dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan dalam pengobatan sekaligus meningkatkan nilai ekonomis dari A. flava. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan formula gel fraksi aktif A. flava sebagai antibakteri yang paling baik secara fisik.Formula gel dibuat dengan variasi jenis dan konsentrasi gelling agent.Gel fraksi aktif A. flava diuji secara fisika, kimia, dan biologi seperti organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, daya lekat, dan daya hambat terhadap Staphylococcus aureus. Hasil formulasi sediaan gel fraksi aktif A. flava dengan basis NaCMC memenuhi syarat sifat fisik dan zona hambatan 11,6 mm pada Formula 1 dan 13,4 mm pada Formula 2, sedangkan sediaan gel dengan basis Carbophol 943 pada Formula 1 dan 2 memenuhi syarat sifat fisik dan zona hambat 10,9 mm pada Formula 2.Formula gel yang memenuhi kriteria secara fisik adalah Formula 2 dengan Carbophol 1,5% sebagai gelling agent. Kata Kunci: Akar kuning, antibakteri, gel, Staphylococcus aureus  ABSTRACT Akar kuning (Arcangelisia flava Merr.) is a plant that grows in Central Kalimantan and has been used as a treatment option for several skin diseases and has been shown to have antibacterial activity. The making of topical antibacterial preparations made from the active fraction of A. flava is very potential to be done to optimize the use in treatment while increasing the economic value of A. flava. The purpose of this study was to obtain the active A. flava fraction gel formula as the best natural antibacterial. The gel formula was made with variations in the type and concentration of the gelling agent. Arcangelisia flava Merr. active fraction gel was tested physical, chemical, and biological, such as organoleptic, homogeneity, spreadability, pH, adhesion, and bacterial inhibitionagainst Staphylococcus aureus. The results of the formulation of the active gel of A. flava based on NaCMC base fulfills physical condition requirements and shows an inhibition zone of 11.6 mmin Formula 1 and 13.4 mm in Formula 2, while gel preparation based on Carbophol 943 Formula 1 and 2 fulfill the physical characteristic requirements and show the inhibition zone of 10.9 mm in Formula 2.Gel formula that meets the physical criteria is Formula 2, with 1.5% Carbophol as a gelling agent. Keywords: Akar kuning, antibacterial, gel, Staphylococcus aureus
Isolasi Jamur Endofitik Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa (L.) Lamk.) dan Analisis Potensi Sebagai Antimikroba Pratika Viogenta; Siti Nurjanah; Yuli Wahyu Tri Mulyani
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8076

Abstract

ABSTRAK Jamur endofit merupakan jamur yang hidup di dalam jaringan atau organ tanaman yang tidak bersifat patogen. Jamur ini dapat menghasilkan beberapa zat yang sama seperti tanamannya.  Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa (L.) Lamk)  merupakan jenis rumput liar yang biasa hidup di tanah lembab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman mikroba endofit rumput mutiara. Metode dari penelitian ini meliputi isolasi jamur endofit dari batang, daun, akar, bunga rumput mutiara,  identifikasi jamur yang berhasil diisolasi, pengukuran diameter laju pertumbuhan jamur endofit dan uji daya hambat antimikroba dari jamur endofit. Hasil penelitian didapatkan tujuh jenis jamur endofit yang berhasil diisolasi dari rumput mutiara (batang, daun, akar dan bunga). Setelah diindentifikasi ketujuh jenis kapang, yaitu 2 jenis dari genus Aspergillus yaitu A. niger dan A. parasiticus yang berhasil diisolasi dari akar, batang, daun rumput mutiara, Penicillium berasal dari akar rumput mutiara, Geotrchihum dari batang, Chrysosporium dari daun, Rhizoctonia  dan Phytophthora dari bunga. Pada ketujuh jamur endofit ini fase lag terjadi hari pertama dan fase eksponensial terlihat pada hari kedua sampai hari ketujuh. Aspergillus niger memiliki daya hambat terhadap E.coli, St. aureus, Sh. disentriae,dan P.aeruginosa masing-masing 9.95mm, 8.96mm, 10.51mm,  dan 9.26mm. Chrysosporium dan Phytophthora mengahambat C. albicans sebesar 11.3mm dan 3.63mm.  Kata Kunci: Rumput mutiara, jamur endofit, antimikroba. ABSTRACT Endophytic fungi are fungi that live in plant tissues or organs that are not pathogenic. This fungus can produce some of the same substances as the plant. Pearl grass (Hedyotis corymbosa (L.) Lamk) is a type of weed that normally lives in moist soil. The purpose of this study was to determine the diversity of endophytic pearl grass microbes. The methods of this study include the isolation of endophytic fungi from stems, leaves, roots, and flowers  of pearl grass, identification, measurement of the diameter of endophytic fungi growth rate and antimicrobial inhibition test of endophytic fungi. The results showed seven types of endophytic fungi that were isolated from pearl grass. After identifying the seven types of molds, namely 2 types of the genus Aspergillus namely A.niger and A.parasiticus which were successfully isolated from roots, stems, pearl grass leaves, Penicillium derived from pearl grass roots, Geotrchihum from the stems, Chrysosporium from leaves, Rhizoctonia and Phytophthora from flowers. In these seven endophytic fungi the lag phase occurs the first day and the exponential phase is seen on the second day to the seventh day. Aspergillus niger has inhibitory properties against E.coli, St.aureus, Sh.disentriae, and P.aeruginosa 9.95mm, 8.96mm, 10.51mm and 9.26mm, respectively. Chrysosporium and Phytophthora inhibit C. albicans by 11.3mm and 3.63mm. Keywords: Pearl grass, endophytic fungus, antimicrobial
Stabilitas Fisik Sediaan Emulgel Ekstrak Etanol Daging Buah Limpasu (Baccaurea lanceolata (Miq.) Müll. Arg.) Prima Happy Ratnapuri; Fajrina Haitami; Mia Fitriana
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i2.7345

Abstract

ABSTRAK Ekstrak etanol daging buah limpasu (Baccaurea lanceolata (Miq.). Müll. Arg.) telah teruji memiliki aktivitas tabir surya secara in vitro, sehingga diformulasikan dalam bentuk sediaan emulgel dengan variasi konsentrasi (% b/b) ekstrak etanol daging B.lanceolata FI (4%), FII (5%) dan FIII (6%). Sediaan emulgel yang telah dibuat selanjutnya perlu dilakukan uji stabilitas fisik saat penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan stabilitas fisik sediaan emulgel ekstrak etanol daging buah B. lanceolata selama penyimpanan. Uji stabilitas fisik dilakukan selama 28 hari pada suhu tinggi 40°±2°C dan suhu ruang 28°C±2°C dengan evaluasi meliputi uji organoleptis, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat dan uji viskositas pada hari ke-0, 7, 14, 21 dan 28. Analisis secara statistik dilakukan dengan software SPSS 21 pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian pada formula I, II, dan III dengan variasi konsentrasi ekstrak menunjukkan bahwa penyimpanan selama 28 hari pada suhu tinggi 40°±2°C dan ruang 28°C±2°C tidak mempengaruhi kestabilan pH, viskositas, daya sebar dan daya lekat gel (p>0,050). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan emulgel ekstrak etanol daging B. lanceolata stabil secara fisik selama 28 hari pada suhu tinggi 40°±2°C dan suhu ruang 28°C±2°C. Kata Kunci: Baccaurea lanceolata, ekstrak etanol, emulgel, stabilitas fisik.  ABSTRACT Limpasu (Baccaurea lanceolata (Miq.). Müll. Arg.) fructus ethanol extract has been reported as sunscreen activity by in vitro test, so that it could be formulated in sunscreen product with their concentration variances FI (4%), FII (5%) and FIII (6%) (% b/b). The further this preparation needs to be tested for physical stability during storage. This study aimed to determine the emulgel stability physically of B.lanceolata fructus ethanol extract during storage. Physical stability test was performed at high temperature 40°±2°C and room temperature of 28°±2oC during 28 days with evaluation including organoleptic, pH, dispersive, adhesion power and viscosity test on days 0, 7, 14, 21 and 28. Statistical analysis, SPSS 21 software at 95% confidence level. This study results, formula I, II, and III with their concentration variances showed that storage for 28 days at high temperature 40°±2°C and 28°±2° C didn’t affect the pH, viscosity, dispersive, adhesion power stability (p>0,050). The conclusion of this study showed that the emulgel preparation of B. lanceolata fructus ethanol extract were physically stable for 28 days at high temperature of 40°±2°C and room temperature of 28°C±2°C. Keywords: Baccaurea lanceolata, ethanol extract, emulgel, physical stability
Formulasi Salep Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Kombinasi Zeolit Alam Lampung (Zal) Sebagai Penstabil Sediaan Antibakteri Staphylococcus aureus Laila Susanti; Lilik Koernia Wahidah; Pratika Viogenta
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8086

Abstract

ABSTRAK Sediaan salep esktrak buah mengkudu telah terbukti sebagai antibakteri, namun esktrak tanaman pada umumnya sangat mudah terdegradasi oleh pH, cahaya dan suhu, oleh karena itu pemanfaatan Zeolit Alam Lampung (ZAL) dengan keistimewaan struktur morfologinya diharapkan mampu mempertahankan kestabilan sediaan salep hingga suhu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ZAL sebagai penstabil sediaan salep dengan menghitung perubahan prosentase zona hambat bakteri pada sediaan salep sebelum dan sesudah dilakukan penyimpanan pada suhu 40oC. Penelitian ini meliputi tiga tahap utama yakni pertama formulasi salep ekstrak buah mengkudu kombinasi Zeolit Alam Lampung (ZAL) dengan variasi konsentrasi ekstrak 10%+ZAL, 15%+ZAL, 30%+ZAL, KZ (Kontrol Zeolit tanpa esktrak) dan KE (Kontrol Ekstrak tanpa zeolit) yang kemudian dilakukan evaluasi sediaan salep. Tahap kedua seluruh sampel dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada sediaan salep, dan tahap ketiga seluruh sampel disimpan pada suhu 40oC selama 24 jam, kemudian diuji aktivitas antibakteri kembali terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel sebelum dilakukan penyimpanan pada suhu 40oC menunjukkan respon zona hambat bakteri yang kuat kecuali KZ. Setelah dilakukan penyimpanan pada suhu 40oC, terjadi penurunan zona hambat pada KE dan Ekstrak 10%+ZAL sebesar 100% dan 36,81%. Hal yang menarik terjadi pada Esktrak 15%+ZAL dan 30%+ZAL, yakni terjadi kenaikan zona hambat sebesar 35,20 % dan 31,32%. Hasil uji statistik menunjukkan nilai Asymp. Sig (0,016) <  nilai p (0,01) maka H0 ditolak sehingga dilakukan uji lanjut Tukey yang menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan antar kelompok uji. Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ZAL mampu meningkatkan kinerja sediaan salep ekstrak buah mengkudu terutama pada konsentrasi 15% dan 30% dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus sehingga sediaan salep esktrak buah mengkudu kombinasi ZAL dapat digunakan sebagai alternatif obat pengganti obat sintetik kimiawi.  Kata kunci : Zeolit, Salep, M.citrifolia L, Staphylococcus aureus ABSTRACT             Noni extract ointment has been proven to be antibacterial, but plant extracts are generally very easily degraded by pH, light and temperature, therefore the use of Lampung Natural Zeolite (ZAL) with its special morphological structure is expected to be able to maintain the stability of ointment preparations to high temperatures. This study aims to determine the potential of ZAL as a stabilizer for ointment preparations by calculating the change in the percentage of bacterial inhibition zones in ointment preparations before and after storage at 40oC. This study includes three main stages, namely the first formulation of noni extracts from Lampung Natural Zeolite extract (ZAL) with variations in extract concentration of 10% + ZAL, 15% + ZAL, 30% + ZAL, KZ (Zeolite control without extract) and KE (Control Extract without zeolite) which then evaluated the ointment preparation. The second stage of all samples was tested for antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria in ointment preparations, and the third stage all samples were stored at 40oC for 24 hours, then tested for antibacterial activity against Staphylococcus aureus. The results showed that all samples before storage at 40oC showed a strong inhibitory zone response except KZ. After storage at 40oC, there was a decrease in inhibition zones at KE and Extract 10% + ZAL by 100% and 36.81%. An interesting thing happened at the Extract 15% + ZAL and 30% + ZAL, namely an increase in inhibition zones of 35.20% and 31.32%. Statistical test results indicate the Asymp value. Sig (0.016) >p value (0.01) then H0 is accepted, so Tukey's further tests show that there are significant differences between the test groups. From this explanation it can be concluded that ZAL can improve the performance of noni fruit extract ointment especially at concentrations of 15% and 30% in inhibiting Staphylococcus aureus bacteria so that the ZAL noni extract extract can be used as an alternative drug for chemical synthetic drugs. Keywords : Zeolite, Ointment, M.citrifolia L, Staphylococcus aureus
Uji Aktivitas Ekstrak Etanolik Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitr Novia Ariani; Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8080

Abstract

ABSTRAK Tanaman kemangi banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan infeksi khususnya bagian daun. Hal ini dikarenakan daun kemangi memiliki senyawa aktif seperti minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, triterpenoid, steroid, tannin dan fenol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas, mengetahui diameter zona hambat dan mengetahui klasifikasi kekuatan aktivitas daya hambat antibakteri ekstrak etanol daun kemangi. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode difusi lubang sumuran dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling.  Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu konsentrasi 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, sedangkan untuk kontrol positif digunakan klindamisin 30µg, dan kontrol negatif yang digunakan etanol 96%. Hasil diameter zona hambat yang terbentuk diukur dengan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kemangi memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter rata-rata yang didapat dari setiap perlakuan yaitu 100% (10,08 mm), 80% (8,10 mm), 60% (6,49 mm), 40% (4,29 mm), 20% (2,26 mm), dan sebagai klasifikasi kekuatan aktivitas daya hambat antibakteri yaitu pada konsentrasi 100% kuat, 80%-60% sedang dan 40%-20% lemah. Kata Kunci : Daun kemangi, Ekstrak, Difusi, Staphylooccus aureus  ABSTRACT Part of the basil plant (Ocimum sanctum L.) that widely used by people for treatment of infections is basil leaves. This is because basil leaves have active compounds such as essential oils, alkaloids, saponins, flavonoids, triterpenoids, steroids, tannins and phenols which can inhibit bacterial growth. This research aimed to find out the presence or absence of activity, to determine the diameter of the inhibitory zone and the classification of antibacterial mention against what the name of bacterial is activity of ethanol extract of basil leaves. The type of this research is experimental research with a well diffusion method with sampling technique is purposive sampling. The concentration of extracts used were concentrations of 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, while as positive control is  clindamycin 30µg, and the negative control used 96% ethanol. The resulting diameter of the inhibition zone is measured by the calipers.  The results showed that the ethanol extract of basil leaves had an activity in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria with an average diameter obtained from each treatment that was 100% (10,08mm); 80% (8,10mm); 60% (6,49mm); 40% (4,29mm); 20% (2,26mm), and as the antibacterial activity classification, that were strong in 100% of extract concentration, medium in 60-80% of extract concentration, and weak in 20-40% of extract concentration. Keywords : Basil leaf, Extract, Diffusion, Staphylooccus aureus
Potensi Ekstrak Akar Kalakai (Stenochlaena palutris Bedd) Sebagai Antihiperlipidemia Yang Diuji Secara In Vivo Rabiatul Adawiyah; Fera Sartika; Fahruddin Arfianto
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8075

Abstract

ABSTRAK Tumbuhan kalakai atau sering disebut paku haruan atau pakis  merupakan tumbuhan khas Kalimanatan yang banyak digunakan sebagai tumbuhan obat. Kalakai mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, alkaloid dan keluarga terpenoid yang efektif sebagai antioksidan.  Tujuan penelitian ini untuk menentukan aktivitas antihiperlipidemia dar i ekstrak akar kalakai yang diuji secara in vivo pada tikus wistar. Metode yang digunakan adalah melakukan uji aktivitas antihiperlipidemia dengan cara memberi perlakuan hewan coba dan melakukan pengukuran kadar trigliserida dan kolesterol total dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. Hasil penelitian diketahui bahwa peningkatan dosis dapat meningkatkan aktivitas dari ekstrak akar  kalakai. Semakin meningkatnya dosis,  maka terjadi peningkatan pertemuan antara flavonoid dengan reseptor di permukaan sel, sehingga terjadi peningkatan aktivitas. Aktivitas dari pemberian dosis ke-3 dari kadar trigliserida sebesar 49,8 mg/dl sedangkan untuk kadar kolesterolnya sebesar 41,8 mg/dl pada hasil yang didapat dari ekstrak akar kalakai  mendekati pemberian dari kadar  simvastatin. Berdasarkan hal tersebut, maka ekstrak dengan dosis 400 mg/KgBB memiliki potensi untuk teliti lebih lanjut dan dapat digunakansebagai obat alternatif pada pengobatan hiperlipidemia. Keadaan hiperlipidemia tidak hanya terkait kolesterol, tetapi mencakup kadar trigliserida di dalam darah. Kemampuan suatu obat dalam menurunkan kadar kolesterol sekaligus kadar trigliserida, akan memberikan keuntungan terhadap pengobatan pasien hiperlipidemia. Penggunaan akar kalakai tidak hanya terbatas pada pengobatan karena bahan alam dapat digunakan sebagai pencegah timbulnya penyakit terutama hiperlipidemia yang terjadi pada pasien degeneratif. Kata kunci : Ektrak akar kalakai, In Vivo, Kolesterol, SpektrofotometerUV-VIS, Trigliserida  ABSTRACT Kalakai plants or often called haruan nails or ferns are typical Kalimanatan plants which are widely used as medicinal plants. Kalakai contains several bioactive compounds such as phenolic, flavonoid, alkaloid and terpenoid family which are effective as antioxidants. The purpose of this study was to determine the antihyperlipidemic activity of kalakai root extract which was tested in vivo in Wistar rats. The method used is to test the activity of antihyperlipidemia by giving treatment of experimental animal and to measure levels of triglycerides and total cholesterol using a UV-VIS spectrophotometer. the results of the study note that increasing the dose can increase the activity of the kalakai root extract. As the dose incr eases, there is an increase in the linkage between the flavonoids and receptors on the cell surface, resulting in increased activity . The activity of administering the 3rd dose of triglyceride levels was 49.8 mg/dl whereas for cholesterol levels it was 41.8 mg/dl in the result obtained from the extract of kalakai root approaching the administration of simvastatin levels. Based on this, the extract at a dose of 400mg/kg has the potensial for further scrutiny and can be used as an alternative drug in the treatment of hyperlipidemia. The state of hyperlipidemia is not only related to cholesterol, but includes the level of triglycerides in the blood. The ability of a drug to reduce cholesterol levels as well as triglyceride levels, will provide benefits to the treatm ent of hyperlipidemia patients. The use of kalakai root is not only limited to treatment because natural ingredients can be use d as a prevention of disease, especially hyperlipidemia that occurs in degenerative patients. Keywords: Kalakai root extract, In Vivo, Cholesterol, Triglyceride, UV-VIS Spectrophotometer
Gambaran Pasien yang Menggunakan Suplemen Kalsium di Poliklinik Sub Spesialis Bedah Onkologi RSUD Ulin Banjarmasin Adella Adella; Noor Cahaya; Siti Rahmah
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.8598

Abstract

Suplemen kalsium banyak digunakan oleh pasien yang menderita kanker dengan terapi hormonal di poliklinik sub spesialis bedah onkologi RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik berupa umur dan jenis kelamin pasien yang menerima suplemen kalsium, jenis kanker, obat lain yang diberikan bersama pemberian kalsium, jenis suplemen kalsium, frekuensi pemberian kalsium, lama pemberian kalsium dan penggunaan suplemen kalsium dari lama pemberian kalsium dan obat terapi hormonal yang digunakan di poliklinik sub spesialis bedah onkologi RSUD Ulin Banjarmasin. eksperimental deskriptif  adalah jenis penelitiannya serta pengambilan datanya dengan retrospektif menggunakan sumber cacatan medik pada tahun 2018. Data Populasi digunakan dengan kriteria inklusi adalah pasien kanker usia >18 tahun, menerima suplemen kalsium dan kriteria eksklusi yaitu penderita kanker dengan informasi catatan medik yang kurang lengkap/tak ditemukan. Total jumlah populasi yang digunakan adalah 55 pasien. Hasil dan kesimpulan penelitian didapatkan karakteristik berdasarkan usia pada rentang 26-35 tahun (1,81%), 36-45 tahun (10,91%), 46-65 tahun (43,64%), 56-65 tahun (40,00%) dan >65 tahun (3,64%); jenis kelamin perempuan (100%); jenis kanker berupa kanker payudara (98,18%) dan kanker tiroid (1,82%); obat lain yang diberikan bersama pemberian kalsium adalah obat golongan hormonal, kemoterapi sitotoksik, analgesik, H2 Blocker, ACE Inhibitor, Antihistamin, Bifosfonat, Analog vitamin D serta multivitamin lainnya; jenis suplemen kalsium yang didapat yaitu kalsium karbonat (100%); frekuensi pemberian kalsium 1x sehari 500 mg (100%); lama pemberian kalsium selama 7 hari (1,82%), 15 hari (1,82%), 20 hari (1,82%), 21 hari (1,82%), 30 hari (92,72%) dan penggunaan suplemen kalsium dari lama pemberian kalsium dan obat terapi hormonal yang digunakan adalah 7, 15, 20 dan 21 hari dengan jumlah pasien masing-masing 1 pasien terapi hormonal yang digunakan yaitu letrozole dan 30 hari dengan jumlah pasien 51 terapi hormonal yang digunakan yaitu letrozole, anasrozole, tamoxifen, goserelin acetate, megestrol acetate, dan levothyroxine. Kata Kunci: Suplemen, Kalsium, Onkologi, Hormonal, Kanker Calcium supplements are widely used by patients who suffer cancer with hormonal therapy at oncology surgery sub specialist polyclinic at Ulin Regional Public Hospital Banjarmasin. The research aims to describe the characteristics of the age and gender of patiens who receive calcium supplements, types of cancer, other drugs given with calcium, types of calcium supplements, frequency of calcium administration, duration of calcium administration and the use of calcium supplements from the duration of calcium administration and hormonal therapy drugs used at oncology surgery sub specialist polyclinic at Ulin Regional Public Hospital Banjarmasin. The research type is non-experimental descriptive and the data retrieval is taken restropective by using medical record as the source in 2018. The population data used with inclusion criteria are patients who suffer cancer with the age of > 18 years old, consumed calcium supplements and the exclusion criteria are patients with incomplete / not found medical record. The total population used are 55 patients. The research result and conclusion shows that the characteristics based on age is between 26-35 years old (1,81%), 36-45 years old (10,91%), 46-65 years old (43,64%), 56-65 years old (40,00%) and > 65 years old (3,64%); female (100%); types of cancer in the form of breast cancer (98,18%) and thyroid cancer (1,82%); other drugs given with calcium are hormonal medicine groups, cytotoxic chemotherapy, analgesic, H2 Blocker, ACE Inhibitor, Antihistamine, Bisphosphonates, Vitamin analogues D and other multivitamins; types of calcium supplements obtained is calcium carbonate (100%); frequency of calcium administration is 1 x 500 mg (100%) each day and duration of calcium administration is 7 days (1,82%), 15 days (1,82%), 20 days (1,82%), 21 days (1,82%), 30 days (92,72%) and the use of calcium supplements from the duration of calcium administration and hormonal therapy drugs used were 7,15,20 and 21 days with 1 patient each of hormonal therapy used letrozole and 30 days with 51 patients using hormonal therapy letrozole, anasrozole, tamoxifen, goserelin acetate, megestrol acetate, dan levothyroxine.
Potensi Tanaman Lokal sebagai Tanaman Obat dalam Menghambat Penyebaran COVID-19 Yuli Kusuma Dewi; Baiq Amelia Riyandari
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8793

Abstract

COVID-19 (Corona Virus Disease of 2019) merupakan wabah penyakit yang menginfeksi saluran pernafasan pada manusia. Wabah ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi hampir di seluruh negara di Dunia. COVID-19 ini menjadi wabah yang meresahkan karena penyebarannya terjadi dengan sangat cepat melalui kontak antara manusia dengan manusia dan hingga saat ini belum tersedianya vaksin terhadap virus SARS-CoV-2 yang telah diuji klinis untuk mengatasi penyebaran virus ini. Salah satu upaya untuk mencegah penyebaran COVID-19 adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh (sistem imunitas) melalui asupan makanan yang kaya akan kandungan senyawa antioksidan maupun imun booster. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, beberapa tanaman lokal Indonesia diprediksi dapat menjadi kandidat penghambat COVID-19. Tanaman yang memiliki potensi sebagai antiviral yang dapat menghambat COVID-19 antara lain: jahe merah (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa L.), temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb), teh hijau (Camelia sinensis), meniran (Phyllantus niruri L.), salam (Syzygium polyanthum), jambu biji (Psidium guajava), cengkeh (Sygizium aromaticum), dan bawang putih (Allium Sativum). COVID-19 (Corona Virus Disease of 2019) is one of disease infecting human respiratory system. This pandemic spreads out not only in Indonesia, but also in all countries around the world. In nowdays, COVID-19 become a terrible disease because the virus can infect very fast through human to human transmission and there is no clinically published vaccine against the SARS-CoV-2 virus to prevent the transmission. One of prevention methods of COVID-19 is by enhancing immune system. Consuming of some food which contain antioxidant agent or immune booster is known as one of method to enhance the immune system. Based on literature studies, there are some Indonesian local plants predicted as the inhibitor against COVID-19. Those plants which are potential as the antiviral to inhibit COVID-19 including red ginger (Zingiber officinale), turmeric (Curcuma longa L.), temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb), green tea (Camelia sinensis), meniran (Phyllantus niruri L.), salam (Syzygium polyanthum), guava (Psidium guajava), clove (Sygizium aromaticum), dan garlic (Allium Sativum).Keywords: COVID-19, SARS-CoV-2, medicinal plants, antiviral
Analisis Pengaruh Penggunaan Depot Medroxyprogesterone Acetate Terhadap Kenaikan Berat Badan Akseptor di Puskesmas Perumnas II Pontianak Nurmainah Nurmainah; Sri Wahdaningsih; Syaazaratul Qamelia Innas
Jurnal Pharmascience Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i2.8400

Abstract

Kontrasepsi suntik merupakan salah satu kontrasepsi hormonal yang masih menjadi pilihan akseptor dalam mengatur kehamilan. Namun demikian, penggunaan kontrasepsi suntik Depot Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) diketahui dapat meningkatkan berat badan selama pemakaian enam (6) bulan atau lebih. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan DMPA terhadap kenaikan berat badan akseptor. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional) yang bersifat analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor baru suntik DMPA di Puskesmas Perumnas II Pontianak pada bulan Januari 2018 hingga Maret 2019. Variabel dari penelitian ialah usia, pekerjaan, paritas, dan kenaikan berat badan. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis paired t-test. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah purposive sampling. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 81 akseptor. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa sebagian besar akseptor berusia 20-35 tahun (71,6%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (97,5%), mempunyai 2 anak atau lebih (77,8%), dan memiliki kenaikan berat badan 0-2 kg (44,4%). Berdasarkan hasil analisis paired t-test bahwa penggunaan suntik KB 3 bulan (DMPA) memiliki pengaruh terhadap kenaikan berat badan akseptor dengan nilai p=0,001. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh penggunaan DMPA terhadap kenaikan berat badan akseptor. Injectable contraception is a hormonal contraceptive used by acceptors in regulating pregnancy. However, the use of Depot Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) is known to increase body weight after six months of use or more.. The purpose of this study was to analysis the effect of using DMPA on weight gain. This study was an observational study with cross sectional analytic study design. The population in this study were all new acceptors who used DMPA at the Perumnas II Pontianak Public Health Care in January 2018 to March 2019. Variables from the study were age, occupation, parity, and weight gain. Analysis was performed using paired t-test analysis. The sampling technique used was purposive sampling, where the number samples that met the inclusion and exclusion criteria were 81 acceptors. The results showed that most of the acceptors were aged 20-35 years (71,6%), work as housewives (97,5%), had 2 or more children (77,8%), and gained weight 0-2  kg (44,4%). Based on the results of paired t-test analysis, the use of DMPA has an effect on the acceptor’s weight gain with a value of p = 0.001. The conclusion of this study is that there is an effect of the use of DMPA on acceptor weight gain.Keywords: Acceptors, DMPA, weigt gain 
Standardisasi Simplisia dan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata J.R Forst & G. Forst) Asal Kalimantan Selatan Sutomo Sutomo; Norijatil Hasanah; Arnida Arnida; Agung Sriyono
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i1.10275

Abstract

Matoa (Pometia pinnata) merupakan salah satu  tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik di Kalimatan dan diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai obat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan standardisasi berdasarkan parameter spesifik dan nonspesifik dari simplisia dan ekstrak. Pengambilan sampel daun P. pinnata dilakukan pada tiga tempat tumbuh yaitu Desa Pemuda, Kebun Raya Banua, dan Tahura Sultan Adam. Metode standardisasi yang digunakan mengacu pada Farmakope Herbal Indonesia dan Parameter Standar Umum Ekstrak. Pengamatan organoleptik simplisia yaitu berwarna hijau muda, rasa pahit, berbau khas. Pengamatan mikroskopik menunjukkan adanya dinding sel, floem, xilem, stomata, dan inti sel. Kadar sari larut etanol (19,07-19,27)%; kadar sari larut air (20,93-21,17)%; susut pengeringan (6,17-6,23)%; kadar abu total (4,63-4,73)%; kadar Pb (0,014-0,022) ppm; kadar Cd (0,014-0,015)ppm; dan kadar Hg <0,00004ppm. Pemerian ekstrak yaitu berwarna hijau kehitaman, berbau khas, rasa pahit. Ekstrak etanol daun P. pinnata mengandung alkaloid, flavonoid, steroid, tanin, glikosida, saponin, antrakuinon yang ditegaskan pada profil KLT menunjukkan kesamaan kandungan senyawa kimia pada tiap tempat tumbuh. Rendemen yang didapat (11,19-14,68)%; kadar air (5,57-5,97)%; kadar abu total (1,19-1,24)%; dan kadar abu tidak larut asam (0,41-0,44)%. Hasil uji parameter spesifik dan nonspesifik simplisia dan ekstrak daun P. pinnata dari tiga tempat tumbuh telah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh MMI dan BPOM RI. Kata Kunci :  Standardisasi; Matoa; Pometia pinnata, Simplisia; Ekstrak   Matoa (Pometia pinnata) is one of the plants that can grow well in Kalimantan and known to contain efficacious secondary metabolites. This study is aimed to determine the value of specific parameters and nonspecific parameters of simplicia and extract. The leaves of P. pinnata was carried out in three growing places, which are the Pemuda Village, Banua Botanical Garden, and Tahura Sultan Adam. The method of determining the standardization parameters refers to Indonesian Herbal Pharmacopoeia and the General Standard Parameters of Medicinal Plant Extracts. The result from organoleptic observations of simplicia showed that P. pinnata had a light green color, a bitter taste, and a distinctive smell. Microscopic observations showed phloem, xylem, stomata, cell nuclei, cell walls. The content of ethanol soluble extract was 19.07%-19.27%, water soluble extract content was 20.93%-21.17%, drying losses was 6.17%-6.23%, total ash content was 4.63%-4.73%, Pb levels was 0.014-0.022ppm, Cd levels was 0.014-0.015ppm, and Hg levels was <0.00004 ppm. The description of extracts was that P. pinnata had a blackish green color, a bitter taste, and a distinctive smell. Ethanol extracts of P. pinnata leaves contained alkaloids, flavonoids, steroids, tannins, glycosides, saponins, anthraquinones which were confirmed in the TLC profile  showing the similarity of chemical compounds in each growing place. The yield extract was 11.19%-14.68%, water content was 5.57%-5.97%, total ash content was 1.19%-1.24%, and acid insoluble ash content was 0.41%-0.44%. The results of specific and nonspecific parameters of simplicia and P. pinnata leaf extract from three growing sites have met the requirements set by MMI and BPOM RI.