cover
Contact Name
Astrid Veranita Indah
Contact Email
astrid.veranita@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
darmawati.h@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin No. 63, Jl. St alauddin no.36 Gowa-Samata
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sulesana
Core Subject : Religion,
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles 164 Documents
Pendidikan Islam Sebagai Ilmu (Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi) Rahmat Rahmat
Sulesana Vol 6 No 2 (2011)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v6i2.1409

Abstract

Pendidikan Islam dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena memenuhi persyaratan sebagai ilmu pengetahuan, baik menyangkut objek, metode maupun tujuan. Dalam terminologi filsafat, ketiga persyaratan itu disebut ontologi, epistimologi dan aksiologi.Dalam ajaran Islam realitas tidak hanya terbatas pada yang lahiriah dalam bentuk alam nyata, melainkan menyangkut realitas yang gaib. Realitas yang lahiriyah dan yang gaib itu berawal dari yang tunggal, yaitu Tuhan. Dalam pemahaman seperti ini maka dapat dikatakan obyek pendidikan Islam itu tidak hanya terbatas pada alam fisik (alam dan manusia), melainkan menyangkut Tuhan. Berbicara seputar Tuhan, alam dan manusia dalam keterkaitan  dengan  filsafat pendidikan Islam tidak telepas dengan kajian teologi, kosmologi dan antropologi. Dalam konsep epistimologi Islam yang berdemensi tauhid, tercermin pada pandangan bahwa ilmu-ilmu pada hakekatnya merupakan perpanjangan dari ayat-ayat Allah yang terkandung dalam semua ciptaan-Nya, serta ayat-ayat Allah yang tersurat dalam Al-Qur’an. Ilmu dibangun atas dasar kemampuan membaca dan mengenal ayat-ayat, baik ayat kauniyah (alam dan manusia) maupun ayat qauliyah. Ketika seseorang ingin menyingkap rahasia Tuhan lewat ayat-ayat kauniyah maka lahirlah berbagai disiplin ilmu eksakta dan ilmu sosial. Ketika seseorang ingin menyingkap rahasia Tuhan lewat ayat-ayat qauliyah maka lahirlah ilmu-ilmu agama. Tujuan pendidikan termasuk masalah sentral dalam pendidikan, sebab tanpa perumusan tujuan pendidikan yang baik, maka perbuatan mendidik bisa menjadi tidak jelas tanpa arah dan bahkan bisa tersesat atau salah langkah. Semakin jelas bahwa tujuan pendidikan Islam bukan saja diarahkan menjadi manusia dalam bentuk mengamalkan ajaran beragama dan berakhlak mulia, melainkan juga mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya terutama aspek fisik, psikis, intelektual, kepribadian dan sosial sesuai dengan tuntutan kehidupan, perkembangan masyarakat serta harapan ajaran Islam itu sendiri, terutama dalam menjadikannya mampu menunaikan tugas sebagai khalifah, dan insan yang mengabdi kepada Allah Swt.
Insan Kamil Perspektif Ibnu Arabi Mahmud, Akilah
Sulesana Vol 9 No 2
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v9i2.1297

Abstract

Insan kamil ialah manusia yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh. Al-Jili membagi insan kamil atas tiga tingkatan. Tingkat pertama disebutnya sebagai tingkat permulaan (al-bidayah). Pada tingkat ini insan kamil mulai dapat merealisasikan asma dan sifat-sifat Ilahi pada dirinya. Tingkat kedua adalah tingkat menengah (at-tawasut). Pada tingkat ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan yang terkait dengan realitas kasih Tuhan (al-haqaiq ar-rahmaniyah). Dan Tingkat ketiga ialah tingkat terakhir (al-khitam). Pada tingkat ini insan kamil telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh.Insan kamil jika dilihat dari segi fisik biologisnya tidak berbeda dengan manusia lainnya. Namun dari segi mental spiritual ia memiliki kualitas-kualitas yang jauh lebih tinggi dan sempurna dibanding manusia lain. Karena kualitas dan kesempurnaan itulah Tuhan menjadikan insan kamil sebagai khalifah-Nya.
Western and Islamic Cultures on The Use of Non-Verbal Polite Expressions (A Cross-Cultural Understanding) Muzdalifah Sahib
Sulesana Vol 6 No 2 (2011)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v6i2.1400

Abstract

Tulisan ini membahas tentang penggunaan bahasa non verbal dalam ekspresi bahasa dan budaya, khususnya budaya Barat dalam hal ini budaya Inggris dan Islam yang bertujuan agar dapat mengetahui perbedaan yang terjadi di antara penutur atau pelaku bahasa. Tulisan ini menyimpulkan adanya kesamaan antara keduanya, minimal budaya Islam dapat menerima beberapa budaya luar sebagai sebuah ungkapan sopan seperti salam, kontak pandang selama bicara, memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan lawan bicara. Namun di sisi lain, perbedaan juga tidak dapat dihindari, ketika terjadi interaksi sosial antara pemberi dan penerima, di mana dalam Islam baik pemberi dan penerima sebaiknya menggunakan tangan kanan bukan tangan kiri, sementara budaya Barat keduanya sama saja. Demikian pula terjadinya komunikasi, terutama persoalan jarak antara kedua pasang manusia yang sedang bercinta, bersentuhan dan segala sesuatu yang menjurus kepada sensitifitas seksual. Dalam kaitan ini, Islam memiliki aturan yang ketat menjaga manusia agar terhindar dari pola komunikasi yang tidak diijinkan oleh Allah.
HADIS-HADIS TA`ARUD : TENTANG WAJIB DAN TIDAK WAJIBNYA MANDI JANABAH KARENA SANGGAMA TANPA MENGELUARKAN SPERMA ( Suatu Analisis Kritik Dengan Pendekatan Holistik) Tasmin Tangngareng
Sulesana Vol 11 No 1 (2017)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v11i1.3549

Abstract

Tulisan ini mengkaji  hadis-hadis kontroversial tentang wajib dan tidak wajibnya mandi janabah karena sanggama tanpa mengeluarkan sperma. Mukhtalaf al-hadis adalah hadis sahih atau hadis hasan yang secara lahiriah tampak saling bertentangan dengan hadis sahih atau hadis hasan lainnya. Namun, makna yang sebenarnya atau maksud yang dituju oleh hadis-hadis tersebut tidaklah bertentangan karena satu dengan lainnya pada hakekatnya dapat dikompromikan atau dicari penyelesaiannya baik dalam bentuk al-Jam`u , nasakh ataupun tarjih. Hadis yang pertama menyatakan bahwa mandi janabah menjadi wajib bila kegiatan jima` atau sanggama berhasil memancarkan sperma, sedang bila tidak sampai memancarkan sperma, maka mandi janabah tidak wajib. Kata الماء pertama bermakna air biasa, dan yang kedua adalah sperma. Selanjutnya hadis kedua menyatakan bahwa mandi janabah adalah wajib bagi setiap orang yang melakukan kegiatan jima` atau sanggama, baik kegiatan itu berhasil memancarkan sperma maupun tidak.  Kata شعب adalah bentuk jamak dari  شعبةyang berarti bagian anggota badan. Oleh karenaya secara tekstual petunjuk hadis tersebut tampak bertentangan. Menurut penelitian ulama hadis, petunjuk kedua hadis tersebut tidak bertentangan (mukhtalif), sebab hadis yang pertama terjadi pada masa awal Islam, kemudian datang petunjuk hadis yang kedua yang petunjuknya (isinya) menghapus (al-nasikh) hukum hadis yang pertama Dalam menanggapi kedua hadis tersebut, para ulama terbagi dua kelompok ada yang berpegang pada nash yang mansukh dan tidak mewajibkan mandi kalau tidak sampai mengeluarkan sperma. Kelompok kedua jumhur ulama yang berpegang kepada nash yang nasikh., yang mewajibkan mandi, sebab melakukan jima`walaupun tanpa mengeluarkan sperma. Dari kedua pendapat tersebut, penulis sependapat dengan pendapat yang kedua dengan statemen bahwa pernyataan yang menyatakan tidak wajib mandi hanya berdasarkan mafhum. Sedangkan hadis yang mewajibkan mandi adalah manthuq. Jadi, selama masih ada lafaz manthuq lafaz mafhum tidak digunakan sebab lafaz manthuq lebih kuat dari lafaz mafhum. Dengan demikian ayat tersebut diatas  menguatkan manthuq (matan hadis tersebut) dan pada ayat tersebut tidak dikemukakan apakah junub mengeluarkan sperma atau tidak, keduanya wajib mandi.
Implementasi Pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi Tentang Tauhid Sebagai Prinsip Keluarga Pendidikan Akhlak Damis Damis
Sulesana Vol 8 No 2 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v8i2.1287

Abstract

Pemikiran Ismail Raji al-Faruqi tentang tauhid sebagai prinsip keluarga merupakan penerjemahan al-Faruqi atas makna tauhid. Tauhid sebagai inti ajaran Islam mesti dijadikan prinsip hidup. Tauhid sebagai prinsip hidup berarti esensi tauhid melandasi setiap aktivitas muslim. Makna tauhid itu sendiri yang masih sangat basic (keyakinan dan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah) perlu untuk diterjemahkan dan disosialisasikan melalui media. Dan keluarga sebagai salah satu media itu. Jadi tauhid sebagai prinsip keluarga menurut al-Faruqi berarti keluarga sebagai sarana pemenuhan tujuan Ilahi  (penghambaan).  Sebagai  prinsip  keluarga,  tauhid  menjadi  landasan untuk setiap aktivitas dalam keluarga. Bentuk implementasi pemikiran Ismail Raji al-Faruqi tentang tauhid sebagai prinsip keluarga dalam pendidikan akhlak ini dapat dijelaskan bahwa gagasan al-Faruqi tersebut dijadikan sebagai pijakan pelaksanaan pendidikan akhlak dalam keluarga. Artinya aspek-aspek yang ada pada tauhid sebagai prinsip keluarga sebagaimana dijelaskan oleh al-Faruqi tersebut diposisikan sebagai landasan membentuk dan membangun keluarga; yakni keluarga yang setiap interaksinya akan selalu bernilai bahkan sebagai sebuah media pendidikan akhlak.  Bahwa  keluarga  sebagai  media  pendidikan  pertama  memerlukan tauhid sebagai pijakan dalam setiap aktivitasnya terlebih untuk melandasi pendidikan akhlaknya.
KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT KAJANG wahyuni wahyuni
Sulesana Vol 7 No 2 (2012)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v7i2.1389

Abstract

Masyarakat Kajang  masih sepenuhnya berpegang teguh kepada adat Ammatowa. Mereka mempraktekkan cara hidup sangat sederhana dengan menolak segala sesuatu yang berbau teknologi. Bagi mereka, benda-benda teknologi dapat membawa dampak negatif  bagi kehidupan mereka, karena bersifat merusak kelestarian sumber daya alam. Komunitas yang selalu mengenakan pakaian serba hitam inilah yang kemudian disebut sebagai masyarakat adat Ammatowa. Masyarakat  Ammatowa mempraktekkan suatu agama adat yang disebut dengan Patuntung.  kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “mencari sumber kebenaran”(to inquiri into or to investigate the truth). Ajaran Patuntung mengajarkan bahwa jika manusia ingin mendapatkan sumber kebenaran tersebut, maka ia harus menyandarkan diri pada tiga pilar utama, yaitu menghormati Turiek Ara’na (Tuhan), tanah yang diberikan Turiek Ara’na, dan nenek moyang. 
DEMOKRASI DAN PROBLEMATIKANYA DI INDONESIA Nihaya M
Sulesana Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v10i2.2932

Abstract

Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama adalah demokrasi liberal dimasa kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika Presiden Soekarno membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga adalah demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Keempat adalah demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi. Kelebihan dan kekurangan pada masing-masing masa demokrasi tersebut pada dasarnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita. Demokrasi liberal ternyata pada saat itu belum bisa memberikan perubahan yang berarti bagi Indonesia. Namun demikian,berbagai kabinet yang jatuh-bangun pada masa itu telah memperlihatkan berbagai ragam pribadi beserta pemikiran mereka yang cemerlang dalam memimpin namun mudah dijatuhkan oleh parlemen dengan mosi tidak percaya. Sementara demokrasi terpimpin yang dideklarasikan oleh Soekarno (setelah melihat terlalu lamanya konstituante mengeluarkan undang-undang dasar baru) telah memperkuat posisi Soekarno secara absolut.
SINERGITAS FILSAFAT DAN TEOLOGI MURTHADHA MUTHAHHARI Nihaya Nihaya
Sulesana Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v8i1.1291

Abstract

Spiritual (yang selanjutnya disebut ‘irfan) adalah kecenderungan dalam menguak rahasia dan mengenal pengetahuan-pengetahuan bathiniah melalui keyakinan terhadap wilayah dan ajaran-ajaran Ahlul Bayt. Pengertian dan ciri-ciri seperti ini secara umum telah menghubungkan teosofi dengan makna tasawuf (‘irfan). Dari satu sisi penjelasan ini mengungkapkan bahwa hahekat Tasyayyu’ (Tasyayyu’bid-dzat) sebagai suatu jalan untuk mengenal rahasia-rahasia. Syi’ah memberi ruang lingkup yang tidak terbatas terhadap ajaran-ajaran yang mengenalkan pada rahasia dan pengetahuan-pengetahuan bathin. Syi’ah dengan keyakinan terhadap para Imam Suci yang merupakan ciri khasnya, telah mempersiapkan diri untuk menerima ajaran-ajaran tersebut dari para Imam Suci mereka Pada mulanya dalam dunia Islam hanya ada aliran besar dalam filsafat, yaitu: aliran iluminasi (mazhab al-Isyraqi) dan aliran paripatetik (mazhab al-Masysya’iy). Keduanya secara historis dan konseptual berkaitan dengan filsafat Yunani kuno.[i] Kemudian dalam perkembangan berikutnya muncul sebuah aliran baru dalam filsafat yaitu aliran Hikmah al-Muta’alliyah.[i]Ibid.,
NASIONALISME DAN PEMBENTUKAN NEGARA ISLAM DI PAKISTAN Aisyah A Aisyah A
Sulesana Vol 7 No 2 (2012)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v7i2.1378

Abstract

This article explores the issue of the establishment of Pakistan as an Islamic state. Its political process was initiated after the independence of India when the Indian governmental system was based on constitution which ignored the multi-ethnic and muti-religious community in India. Muslims as minority group in India at that time felt ignored and did not play significant role in the state government. After the world war I, political consolidation and movement to establish an Islamic state had been initiated by uniting support from Muslim leaders to form Indial Muslim League. The struggle to establish a new Islamic state was not in vain. Pakistan was a name to the new state with Islamic concepts as the main reference in governing its society. This new Islamic state, later on, dismissed the word ‘Islam’ and needed further rational and liberal redefinition on what the country should be led to.
Perubahan Sistem Nilai dan Budaya dalam Pembangunan wahyuni wahyuni
Sulesana Vol 6 No 2 (2011)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v6i2.1417

Abstract

Nilai-nilai di dalam masyarakat diperlukan untuk menentukan tindakan atau sikap yang dianggap baik. untuk dapat mengerti tentang sistem nilai maka diketahui tentang fungsi nilai dalam kehidupan masyarakat. berdasarkan atas nilai-nilai maka di susun norma-norma yang menyatakan mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap kurang baik. Demikian pula berdasarkan nilai-nilai timbul kepercayaan-kepercayaan. Dalam pelaksanaan pembangunan banyak terjadi perubahan-perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk perubahan sistem nilai dan budaya. Perubahan masyarakat adalah suatu proses diferensiasi dan integrasi yang berlangsung terus-menerus melalui tahap tertentu. Faktor individu sebagai penyebab perubahan sosial yakni berupa nilai-nilai yang dimiliki oleh warga masyarakat.

Page 9 of 17 | Total Record : 164