cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
METAMORFOSA Journal of Biological Sciences
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23025697     EISSN : 26558122     DOI : -
METAMORFOSA is an electronic scientific journal published periodically by the Master of Biology Udayana University, which includes scientific works in the field of Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 316 Documents
STUDI PENDAHULUAN KADAR TIMBAL DAN KADMIUM DALAM AIR DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus, Linn.) SEBAGAI KAJIAN KUALITAS AIR DI BENDUNGAN TELAGA TUNJUNG, BALI Made Octiya Arimardewi; I Wayan Restu; Suprabadevi Ayumayasari Saraswati
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 5 No 1 (2018)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2018.v05.i01.p13

Abstract

Bendungan Telaga Tunjung terletak di Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Dalam perkembangannya, wilayah sekitar bendungan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, industri serta pemukiman yang memungkinkan terdapatnya masukan bahan pencemar seperti logam berat. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai kualitas perairan ditinjau dari kandungan logam berat, mengingat fungsi bendungan yang dimanfaatkan untuk masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsentrasi kandungan logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada kolom air dan ikan nila (Oreochromis niloticus, Linn.) di Bendungan Telaga Tunjung, yang dilakukan pada bulan Februari 2016. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling, dengan teknik pengambilan sampel air dilakukan secara komposit pada 5 stasiun berdasarkan perwakilan perairan bendungan. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak 3 kali setiap 2 minggu, dan pengambilan sampel ikan dilakukan secara acak sebanyak 1 ekor setiap 2 minggu. Kandungan logam berat dianalisis menggunakan alat Plasma Atomic Emission Spectrometer ICPE-9000. Kosentrasi logam berat Timbal (Pb) di badan air yang diperoleh berkisar 0 – 0,009 mg/l, dan Kadmium (Cd) berkisar 0,135 – 0,310 mg/l. Pada ikan nila, konsentrasi timbal tidak dapat terdeteksi, dan konsentrasi kadmium yang di dapat berkisar 0,330 – 0,728 mg/kg. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perairan di Bendungan Telaga Tunjung telah tercemar oleh logam berat Kadmium (Cd), karena telah melebihi ambang baku yang ditetapkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 8 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup Kelas II yaitu sebesar 0,03 mg/l, dan melebihi ambang baku yang ditetapkan SNI (Standar Nasional Indonesia) 7387:2009 sebesar 0,1 mg/kg untuk ikan dan hasil olahannya.
STRUKTUR KOMUNITAS EPIFAUNA DI AREAL PASCA BUDIDAYA RUMPUT LAUT PERAIRAN KUTUH KECAMATAN KUTA SELATAN KABUPATEN BADUNG BALI Ida Bagus Lampita Prabawa; I Wayan Arthana; Endang Wulandari Suryaningtyas
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2017.v04.i02.p06

Abstract

Kawasan budidaya rumput laut merupakan salah satu habitat organisme laut seperti epifauna karena dapat dimanfaatkan sebagai tempat mencari makan, berlindung, dan reproduksi. Pada awal tahun 2015 budidaya rumput laut Perairan Kutuh tidak beroperasi karena terserang virus dan termakan ikan, namun tali ris dan patok tali ditinggalkan begitu saja sehingga ditumbuhi oleh makroalga. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui struktur komunitas epifauna yang terdapat di areal pasca budidaya rumput laut di Perairan Kutuh Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung Bali melalui kelimpahan epifauna, indeks dominasi, indeks keanekaragaman dan indeks keseragamaN Pengambilan dan pengamatan data di bagi menjadi 2 bagian yaitu pengamatan epifauna dan pengukuran parameter kualitas perairan, secara insitu pada lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan kualitas perairan normal dan mendukung kehidupan epifauna dengan kisaran pH 8,06-8,31, salinitas 31,67 - 32,33 ppt, suhu 29,83 oC, dan kecepatan arus berkisar 0,0 - 0,11 m/s2. Hanya nilai DO yang masuk dalam kategori rendah untuk mendukung kehidupan epifauna. Kisaran nilai DO hasil pengamatan berkisar antara 4,2-4,8 mg/L. Epifauna yang didapatkan sebanyak 31 spesies dari 6 kelas yang berbeda yaitu Gastropoda, Bivalvia, Asteroidea, Echinoidea, Stelleroidea dan Ophiuroidea. Kelimpahan tertinggi pada lokasi penelitian yaitu spesies Ophiomastix janualis sebesar 6,76 individu/m2. Indeks keanekaragaman (H’) menunjukkan nilai sebesar 1,9375, Indeks dominansi (C) sebesar 0.3509, dan nilai Indeks keseragaman (E) sebesar 0.5642.
Morfologi, Kandungan Minyak Serta Potensi Biodiesel Minyak Nyamplung (Callophylum inophylum Andy Agustina Lande; Ni Luh Arpiwi; Anak Agung Ketut Darmadi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 6 No 2 (2019)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2019.v06.i02.p06

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan megabiodiversitas yang memiliki banyak jenis tanaman sebagai sumber biodiesel salah satunya adalah nyamplung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi, kandungan minyak, hubungan kekerabatan dan kualitas biodiesel dari tanaman nyamplung di Denpasar Selatan. Hasil analisis oneway ANOVA menunjukkan bahwa lingkar batang, panjang daun dan kandungan minyak berbeda nyata (P< 0,05) antar lokasi, sedangkan lebar daun, ukuran buah dan biji tidak berbeda nyata (P > 0,05). Hasil penelitian ini dari yaitu Morfologi lingkar batang terbesar di Denpasar Selatan 3,65 m di Desa Tuban 4. Daun terpanjang ditemukan di Kelurahan Tuban dengan panjang 14,98 cm, sedangkan daun terpendek ditemukan di Kelurahan Serangan dengan panjang 11,02 cm. Panjang buah nyamplung berkisar antara 15,00 – 25,33 mm, lebar 16,67 – 27,67 mm, dan berat 3,03 - 6,20 g dan biji berkisar antara panjang 12,67 - 18,33 mm, lebar 10,67 - 14,00 mm, dan berat 2,07 - 3,57 g. Kandungan minyak biji nyamplung tertinggi di Denpasar Selatan adalah 42,97%. Kualitas biodiesel dari nyamplung yang tumbuh di Denpasar Selatan meliputi angka asam, angka iodin, angka penyabunan, angka setana, kadar air memenuhi syarat SNI 2015 kecuali viskositas yang masih tinggi. Analisis hubungan kekerabatan antara nyamplung yang tumbuh di Denpasar Selatan terbagi menjadi 3 kelompok dengan indeks similaritas 0,99%.
MORFOMETRI DAN KEMATANGAN GONAD BELUT LAUT (Macrotema caligans) DI PANTAI SANUR Ni Made Sekarmini; Ni Luh Watiniasih; I Wayan Kasa
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2016.v03.i02.p05

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of habitat on the morphometric and gonadal development and to know the range of index values ??gonad maturity sea eel (Macrotema caligans). The results showed that habitat mainly the population of seagrass is related to morphometry sea eel. At five sites studied showed an average size morphometry highest in the sea eel living in Semawang Beach, which is the average size body length of 24.96 ± 0.95 cm. This study also shows morphometry females sea eel larger than males. Gonadal development of eel female is formed through the five stages. The first stage, characterized by underdeveloped oogonia,  the second stage, a massive increase gonads up to three times the original size. The third stage, lipid vacuoles are formed inside the egg with an increase in cell volume. The fourth stage, marked by the maturation of oocytes and the fifth stage, oocytes undergo atresi. Values ??range of gonad maturation index sea eel (Macrotema calligans) on the entire study was 0.16% to 9.75%.
Indikator Kesehatan Ikan Kerapu Cantik (Epinephelus sp.) Yang Terdapat Pada Budidaya Keramba Pantai Timur Pangandaran Kartiawati Alipin; Tresna Aulia Sari
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2020.v07.i02.p18

Abstract

Physiological changes caused by environmental stress and associated health status can be detected by haematological levels. This study aims to determine the health status of groupers (Epinephelus sp.) in the East Coast cage Pangandaran. The method used is observation method which includes the observation of location, sampling of fish, and interview with keramba owner and direct observation in the laboratory which includes identification of fish species, visual observation of fish, blood sampling, calculation of erythrocyte count, leucocytes, and measurement of hemoglobin . The data obtained were analyzed descriptively qualitatively presented in the form of tables and drawings. Observations showed that beautiful groupers (Epinephelus sp.) were the most cultivated fish and one of the most popular fish. This grouper has an erythrocyte count of 2.31 x 106 ± 1.79 cells / mm3, a leukocyte count of 226,325 x 103 ± 0.23 cells / mm3, and hemoglobin levels of 9.8 ± 2.8 gram%. Based on these data, it can be concluded that there is the beautiful grouper fish as unhealthy which cultivated in East Coast cages Pangandaran because the number of leukocytes that exceed the normal range and low hemoglobin levels. Keywords: Hematology, Grouper, East Coast Pangandaran
Tumbuhan Paku Epifit Famili Polypodiaceae pada Hutan Konservasi Soemitro Djojohadikusumo PT. Tidar Kerinci Agung (TKA), Sumatera Barat Khairani Harva Dita; Ardinis Arbain; Mildawati Mildawati
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2018.v05.i02.p16

Abstract

Taxonomical study about the ephiphytic ferns on conservation forest Soemitro Djojohadikusumo PT. Tidar Kerinci Agung (TKA) West Sumatera was conducted from May to July 2016 used survey and observation method, and then the samples were processed and identified at Herbarium ANDA, Biology Department. The result of this study have found nine species, six genera family Polypodiaceae of ephiphytic ferns. Each species could be distinguished by some specific morphological characters such as rhizome, frond, stipes, sorus and spora.
Pemantauan Jenis Burung Pemangsa Pada Migrasi Arus Datang Di Gunung Sega, Karangasem Bali Santi Ayuning Tyas; L.P.E.K Yuni; F.X Sudaryanto
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2020.v07.i01.p02

Abstract

Fenomena migrasi burung pemangsa merupakan fenomena yang terjadi dua kali setiap tahun, yaitu migrasi musim gugur (autumn migration) dan migrasi musim semi (spring migration). Di Indonesia, migrasi musim gugur dikenal juga dengan istilah migrasi arus datang, sedangkan migrasi musim semi dikenal dengan istilah migrasi arus balik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis burung pemangsa yang melintas di Gunung Sega, Karangasem Bali pada migrasi arus datang tahun 2018. Penelitian dilakukan pada tanggal 1 Oktober – 30 November 2018 di Gunung Sega Karangasem Bali dengan menggunakan metode dari Hume (1993). Jenis burung pemangsa yang tercatat adalah 7 jenis, yang terdiri dari 5 jenis migran dan 2 jenis penetap. Jenis migran yaitu elang-alap cina (Accipiter soloensis), elang-alap nipon (Accipiter gularis), elang sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus), alap-alap kawah (Falco perigrinus) dan elang ular jari pendek (Circaetus gallicus). Burung pemangsa jenis penetap yang tercatat yaitu elang ular bido (Spilornis cheela) dan alap-alap sapi (Falco moluccensis). Kata kunci: Accipiter, burung pemangsa, Gunung Sega, migrasi
POLA AKTIVITAS TAPIR (Tapirus indicus Desmarest 1819) DI HUTAN KALAWEIT SUPAYANG, KABUPATEN SOLOK, PROVINSI SUMATERA BARAT Erik Marlius; Wilson Novarino; Rizaldi Rizaldi; Asferi Ardiyanto
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 5 No 1 (2018)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2018.v05.i01.p03

Abstract

Penelitian mengenai pola aktivitas tapir dilakukan di Hutan Supayang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat dari bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 dengan menggunakan teknik kamera jebak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola aktivitas tapir di Hutan Kalaweit Supayang. Selama 129 hari aktif kamera, didapatkan 18 gambar tapir yang terdiri dari 2 foto dan 16 video. Semua gambar tapir juga mencatat waktu terekam tapir oleh kamera. Tapir terekam antara pukul 06.00-08.00 (pagi), 18.00-20.00 (petang), dan 20.00-06.00 (malam). Tidak ada gambar tapir yang terekam antara pukul 08.00-18.00 (siang). Berdasarkan waktu terekam oleh kamera, tapir beraktivitas nocturnal dan crepuscular.
STUDI ANATOMI DAUN CANTIGI (Vaccinium korinchense Ridl.) PADA ALTITUD BERBEDA DI GUNUNG TALANG Alponsin Alponsin; Tesri Maideliza; Zozy Aneloi Noli
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2017.v04.i01.p17

Abstract

The study about leaf anatomy of Bilberry (Vaccinium korinchense RILD.) at altitude gradient on the Talang Mountain has been carried out in October to December 2015. The goal research is to compared that leaf thick tissues Bilbellry at altitude gradient. The sample were collected at Talang Mountain. The research used survey method and purpossive sampling with five altitude gradient (2200-2529 meter above sea level). Leaf section was maked at the Plant Structures developments Laboratory, Department Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Andalas University. Data analysis used Kruskal-Wallis test. The results showed that leaf thickness, palisade and spongy thickness various between altitudes is sequentially 434-685 ?m, 183-322 ?m and 175-283 ?m . While epidermis thickness and cuticle thickness did not differ significantly between altitudes.
Kelimpahan Ikan Herbivora pada Fish Apartment di Perairan Pantai Pulau Tangah Kota Pariaman, Sumatera Barat Suci Frimanozi; Indra Junaidi Zakaria; Jabang Nurdin
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2019.v06.i01.p15

Abstract

Herbivorous fish have an influence on habitat quality and a major factor in determining coral reef community. This herbivorous fish used as indicator of monitoring refers to reef resilience since of its ability to retain and restore the coral reef condition after disturbance. The presence of herbivores is important in influencing succession of algae, it can reduce and control algae on coral reefs. It’s causes in the availability of space or substrate for corals to recruit. So the research conducted that aims to know the abundance of herbivorous fish in fish apartment as one indicator of monitoring based on endurance. This study had conducted after six months of fish apartment placed in the coastal waters of Tangah Island, Pariaman City, West Sumatra. Then, the observation had done every month for six months in July 2015 - January 2016 at the location of the fish apartment. Observation abundance of herbivorous fish had done by visual census method at fish apartment location. From the results of observations for six months found 10 species of herbivorous fish with total as many as 289 individuals. Zebrasoma scopas is a species with the most individuals than 97 individu. However, to see the effect of herbivorous fish on coral recruitment in fish apartment needs to do further research. Keywords: abundance, herbivorous fish, fish apartment