cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
Al-Qur’an dan Tradisi Togo Motonu (Kampung Tenggelam): Studi Living Qur’an Pada Masyarakat Ambuau, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton Muhaemin Muhaemin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 9, No 02 (2021): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v9i02.9200

Abstract

Interaksi umat Muslim terhadap al-Qur’an terus mengalami perkembangan. Sebagian masyarakat menjadikan al-Qur’an tidak hanya teks yang dibaca ketika hendak beribadah di masjid, rumah, dan acara pengajian atau tausiyah, tetapi al-Qur’an juga dibaca ketika melakukan ritual-ritual keagamaan yang berbau mistik. Tulisan ini bertujuan untuk meneliti interaksi masyarakat muslim yang berada di Desa Ambuau Togo, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dengan al-Qur’an dalam bentuk ritual Togo Motonu (kampung Tenggelam). Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode kualitatif, dengan analisis deskriptif, serta menggunakan pendekatan fenomenologis. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa, walaupun ritual Togo Motonu mengandung unsur-unsur mistik, namun tata cara dalam mempraktekkan ritual tersebut tidak lepas dari bacaan-bacaan yang bersumber dari ayat-ayat al-Qur’an seperti bacaan terhadap QS. Al-Ikhlas, QS. Al-Falaq, dan QS. An-Nas. Ayat-ayat ini dibacakan pada saat ritual Togo Motonu berlangsung, tepatnya ketika tetuah adat selesai menancapkan bendera disamping danau keramat. Masyarakat Ambuau Kabupaten Buton juga mempercayai bahwa ayat-ayat yang dibacakan ketika prosesi ritual Togo Motonu berlangsung dapat melindungi mereka dari segala macam musibah, baik musibah yang menimpah anggota tubuh, ataupuan musibah yang menimpah alam sekitar mereka.
Penggunaan Al-Qur’an untuk Terapi Ibu Melahirkan: Studi Living Qur’an di PMB Nina Yunita, Mlarak-Ponorogo Mahmud Rifaannudin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 9, No 02 (2021): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v9i02.8988

Abstract

Permasalahan yang sering dialami oleh ibu melahirkan adalah rasa cemas dan takut akan rasa sakit, sehingga melahirkan anak menjadi momok menakutkan karenaraguakan keselamatan bayi dan dirinya. Untuk meredakan kecemasan tersebut bisadengan cara farmologidan non farmakologi atau terapi. Salah satu caraterapinyayaitudenganmurattal al-Qur’an, sebagai bentuk Living Quran untuk mengiringi persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman yang dibawa oleh ibu melahirkan ketika diperdengarkan lantunan al-Qur’an dalam mengiringi proses persalinan. Ini merupakan jenis penelitian lapangan dengan Pendekatan penelitian kualitatif, berlokasi di PMB Nina Yunita di Desa Gandu, Kec. Mlarak, Kab Ponorogo. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi, wawancara dan Dokumentasi. Hasil dari peneltian ini adalah adanya pengaruh pemahaman tentang al-Qur’an oleh seorang pelaku living Qur’an, yaitu berpendapat bahwa al-Qur’an merupakan kitab pedoman, kitab petunjuk, dengannya dapat terlihat yang haq dan yang batil, juga untuk mengatur perbuatan manusia terhadap penciptanya, sehingga dengan pemahaman yang baik akan al-Qur’an mebawa perasaan rileks dan nyaman ketika diperdengarkan, kemudian memberikan kemudahan dalam proses persalinan dan menjadi kunci keselamatan untuk ibu dan bayi saat proses persalinan.
Pembacaan Filosofis-Rasionalis Ibn Rushd Terhadap Alquran Fiqih Kurniawan
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 9, No 02 (2021): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v9i02.9194

Abstract

Studi ini bertujuan untuk memaparkan pemikiran Ibn Rushd, terutama menyangkut pembacaannya terhadap Alquran. Menilik kembali pada masanya—abad pertengahan, telah memunculkan diskursus yang tajam antara filosof dan teolog Muslim. Kontradiksi seputar wahyu-akal dan pentakwilan menyangkut hakikat wujud Tuhan adalah salah satu pembahasan yang dikaji. Tentunya, diskursus itu melibatkan beberapa pemikir Muslim yang hidup pada era itu. Di antara pemikir Muslim yang namanya menyeruak dan masyhur dalam diskursus tersebut adalah Ibn Rushd. Salah satu kontribusi pembacaan rasionalis-filosofis Ibn Rushd terhadap Alquran ia tuangkan dalam konsep dalīl al-‘ināyah. Ada beberapa penemuan yang dihasilkan dari penelitian ini di antaranya: Ibn Rushd memadukan antara penemuan yang didasarkan pada nalar burhani (mudrikah bi al-burhāni) dan empirisme (mudrikah bi al-ḥissi); metode nalar burhani diunggulkan soal takwil dibandingkan metode dialektika; redaksi Alquran ihwal relasi alam dan manusia harus dipahami sebagai sarana untuk mengetahui hakikat keberadaan sang pencipta, yaitu, Allah SWT.
ANALISIS PEMIKIRAN SULAIMAN AL-ASYQAR TENTANG SIFAT ALLAH DALAM KITAB ZUBDAH AT-TAFSIR Rizal Samsul Mutaqin; Siti Urbah Ashiroh
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 9, No 02 (2021): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v9i02.8461

Abstract

This study aims to find understanding and thought Sulaiman Al-Asyqar behind the interpretation of the verses of the nature of Allah 20 in the kitab Zubdah At-Tafsir. Sulaiman Al-Asyqar is a great scholar and as one of the prophet’s sunnah flags one of them’s a dark thought. Zubdah At-Tafsir is one of the kitab interpretation who used of interpretation Riwayah and Dirayah. This interpretation was also mentioned taking on kalam features Ahlu Sunnah. Research methods that could facilitate conducting this analysis are qualitative research methods. This research data-retrieval technique uses observation and documentation, the point of observation and documentation here is kitab Zubdah At-Tafsir. As for this research data analysis technique using text maudhu’i (thematic) which deals with the Al-Quran according to a fixed theme or title. The result research shows that: (1) Sulaiman Al-Asyqar in interpreting verses of the nature of Allah 20 using the interpretation method ijmali (global) and and use features i’tiqady (theology). (2) Understanding and thinking Sulaiman Al-Asyqar the interpretation of passages in Allah 20 nature differs from streams of islamic theology adjoining: Asy’ariyah, Mu’tazilah, and Maturidiyah. (3) Sulaiman Al-Asyqar in interpreting verses of the nature of Allah 20 using insight and thinking that tend to lead to Ahlu Sunnah Wa Al-Jama’ah.
إعجاز القرآن الكريم و العلوم Sumanta Sumanta
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.11017

Abstract

هذه المقالة تبحث عن إعجاز القرآن والعلوم، الطرق المستخدمة يعني الطريقة الاستقرائية لأخذ المواد من الكتب المقروءة التي اشتملتها مناسبة والطريقة الاستنباطية لأخذ النتائج و الطريقة المقارنة لمقرانةالنتائج ونقابل بينها والعلـوم وقد تقارن بين مذهب المفسرين المتقدمين مع رجال العـلم العصرى و اعتبار التطور في اللغـة. أظهرت نتائج التحليل على أربعة أشياء. الأول، أن القرآن هو كلام الله الذي نزل به الروح الأمين على قلب رسول الله صلى الله عليه وسلم. الثاني، القـرآن الكريم هو المعجزة الخالدة على مـر الأزمـان لنبينا محمد صلى الله عليه وسلم. الثالث، قد أعجـز القرآن الناس اثبت عجـزهم عن أن ياتى بمثله من جميع نواحي أو نواح متعددة لفظية ومعنوية وروحية، اتفقت كلمة العلماء على أن العقول لم تصل حتى الآن. الرابع، جاءت بعض آيات القرآن الكريم فيها لمحات من إعجاز الخلق وكلام الله تعالى موجه إلى البشر جميعا على اختلاف طراء فهم وتفاهم المستمرة في العقول و الصفات.
NUANSA DAKWAH HAMKA DALAM TAFSIR QS. AL-‘ASR: Dari Historisitas Narasi, Linguistik Persuasi dan Aspek Kontekstualisasi Hepni Putra
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10640

Abstract

Research on Hamka has been carried out by many researchers, but research on the da'wah linguistic in QS. Al-'Asr has never been done. Thus, this research is important to be conducted. The focus of this study is: 1) to examine the historical aspects of the formation of Hamka's da'wah narrative; 2) Describe Hamka's dakwah narrative in the interpretation of Qs. Al-'Asr, and 3) Explaining the relevance of Hamka's da'wah narrative in Qs. Al-’Asr with Indonesian reality. The type of this research is library research, using a narrative-analytical method and using archaeological knowledge theory by Michel Foucault. The conclusions from this article are: First, the history of the formation of Hamka's da'wah thought is from his father's upbringing and from his life experiences, such as teachers, organizations, and so on. Second, Hamka's da'wah narrative in Qs. Al-’Asr emphasizes four main aspects, namely 1) using time professionally and proportionately; 2) strengthen the faith in the heart, verbally and in deed; 3) Advise each other about the truth, and 4) Advise each other about patience. Third, Hamka's interpretation of Qs. Al-’Asr is quite relevant to the reality of Indonesia today. Moreover, with various activities, work, and so on, people often forget and neglect, so they cannot make the best use of their time.
PERILAKU BODY SHAMING DALAM TINJAUAN HADIS NABI: Upaya Spritual sebagai Langkah Preventif atas Tindakan Body Shaming M. Fahmi Azhar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.9927

Abstract

This article examines one of the social problems in society which is currently a global issue, namely body shaming behavior. Body shaming behavior is an act of commenting, criticizing or bullying someone's physical (body condition) with the aim of humiliating, because the physical condition of the individual is considered not in accordance with the applicable body image standards and deserves to be commented on. This study examines the behavior of body shaming from the perspective of the hadith. This study seeks to find a correlation between body shaming behavior and hadith, and explores the preventive actions offered by the Rasulullah. The method used is qualitative-descriptive through library research. The results of this study, 1). Hadith narrated by Tirmi>dhi> : 2502 in general explains how the prophet's view of body shaming behavior is. 2). The meaning of the hadith content in it is an invitation to stay away from body shaming behavior. 3). Impact on victims of body shaming behavior in a psychological perspective. 4). Preventive actions offered by the Rasulullah to prevent body shaming behavior.Artikel ini mengkaji salah satu permasalahan sosial di tengah masyarakat yang saat ini menjadi isu global, yaitu perilaku body shaming. Perilaku body shaming merupakan tindakan mengomentari, mencela, mengkritik atau merundung fisik (kondisi tubuh) seseorang dengan tujuan untuk mempermalukan, hal ini disebabkan kondisi fisik yang dimiliki individu tersebut dinilai tidak sesuai dengan standar citra tubuh yang berlaku dan layak untuk dipermalukan. Penelitian ini mengkaji perilaku body shaming perspektif hadis Nabi. Tulisan ini bertujuan untuk  menemukan korelasi antara perilaku body shaming dan hadis, serta mengeksplorasi tindakan preventif yang ditawarkan oleh Rasulullah. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research). Hasil atas kajian ini, 1). Hadis riwayat Tirmi>dhi>: 2502 secara umum menjelaskan bagaimana pandangan nabi terhadap perilaku body shaming. 2). Pemaknaan kandungan hadis di dalamnya ajakan untuk menjauhi perilaku body shaming. 3). Dampak bagi korban perilaku body shaming dalam sudut pandang psikologi. 4. Tindakan preventif yang ditawarkan untuk mencegah perilaku body shaming.
HADIS LARANGAN BERBICARA (AL-LAGHW) SAAT KHOTBAH JUMAT PERSPEKTIF TAKHRIJ DAN LEKSIKOLOGI ARAB Iskandar, Amin; Mahdi, Rijal
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10216

Abstract

إن أداء فرائض الجمعة وشعائر دينية في يوم العيد الأسبوعي للمسلمين من المناسبات المهمة التي يهتم بها المسلمون في العالم الإسلامي عموما وفي إندونيسيا خصوصا. ولقد كثرت الشعائر التي يقوم بها المسلمون في المساجد الإندونيسية قبل صعود الإمام المنبر أو بعدها من ذكر الأذكار والأحاديث النبوية والصلاة والسلام على رسوله الأمين بأصوات جماعية جوهرية. وتهدف هذه الدراسة إلى تخريج الأحاديث النبوية التي تعني بمنع الكلام والحديث أثناء الخطبة يوم الجمعة. وكما أن الدراسة أيضا تحاول تسليط الضوء على معاني اللغو المنهي عنه أثناء الخطبة من منظور المعاني الواردة في المعاجم اللغوية. ولقد توصلت نتائج البحث إلى أن تذكير المصلين والحاضرين بالأحاديث المعنية بمنع الحديث والكلام أثناء الخطبة قبل صعود الإمام المنبر لا ينهى المصلين بالضرورة عن كف الأذى من إصدار الأصوات التي قد تزعج المصلين والحاضرين وبمن حولهم. وكما أشارت نتائج البحث بأن من يفقه معاني هذا الحديث فقط 69،4 % من المصلين ويصل عدد من لم يفقه هذا الحديث إلى 30،6 % من عدد عينات البحث رغم التكرار المتواصل. ولقد تبين من الاستطلاع بأن الأسباب تكمن في أن المصلين والحاضرين لا يفهمون معاني هذه الأحاديث النبوية التي تنهى المصلين من الحديث والكلام أثناء الخطبة، بالرغم من أن التذكير قد أصبح عادة متبعة منذ السنين الطويلة في معظم مساجد إندونيسياIbadah shalat Jumat dan segala ritual Jumatan merupakan hal yang krusial dalam masyarakat muslim Indonesia. Hal ini ditandai dengan banyaknya ritual Jumat yang diselenggarakan di berbagai masjid di Indonesia. Kajian ini bertujan untuk men-takhrij Hadis-Hadis Nabi yang berkaitan dengan larangan berbicara saat khutbah Jumat dilaksanakan. Selain itu, kajian juga bertujuan untuk menyingkap makna kata al-Laghw yang ada dalam Hadis-Hadis larangan dimaksud. Kajian ini menggunakan metode analisis deskriptif terhadap para perawi Hadis larangan berbicara saat khutbah Jumat dan analisis makna kata al-Laghw dalam leksikologi Arab. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual pembacaan Hadis-Hadis larangan sebelum khutbah Jumat dilaksanakan tidak serta merta dapat membendung suara yang kerap terjadi saat khutbah Jumat dilaksanakan. Terdapat 30,6 % dari jumlah responden yang belum memahami maksud Hadis dimaksud. Hanya sekitar 69.4% saja dari jumlah responden yang telah memahami Hadis larangan berbicara ini. Hal ini disebebkan oleh beberapa hal penting diantaranya adalah bahwa para jemaah dan mereka yang menghadiri shalat Jumat tidak semuanya mengerti terhadap larangan berbicara dalam hadis-Hadis yang dibacakan oleh bilal sebelum khatib menaiki mimbar.  
NILAI-NILAI MODERASI ISLAM PERSPEKTIF WAHBAH AL-ZUHAYLI DALAM TAFSIR AL-MUNIR Theguh Saumantri
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10032

Abstract

Al-Qur'an as a guide for man has a function for all human beings, both in human relationship with God, man with man and man with nature. Al-Qur'an describes the life of society, which in social life must have complex problems. Therefore, Al-Qur'an always requires humans to think about finding solutions to all problems including problems related to social relations. One of the discussions about social relations in society is moderation. Tafsir Al-Munir has an interpretation that has a fiqh pattern, but besides that, this interpretation is also classified as an interpretation with a literary and culture community (al-adab al-ijtima’i), a pattern that discusses the polemics of social life where the answers and solutions are contained in the verses of Al-Qur’an.This study used two methods. In terms of literature studies, research uses literature research methods (library research). Meanwhile, in terms of interpretation, this study uses thematic interpretation method. The results of the study obtained from this study explain that Wahbah al-Zuhayli one of the great scholars in the field of tafsir gave his view that moderation is a belief, attitude, behavior of order, muamalah and balanced morality. Islam is a moderate religion, not excessive in everything, not excessive in terms of religion, not extreme beliefs and not extreme behavior, not arrogant and always meek to others.Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia memiliki fungsi bagi seluruh manusia, baik dalam hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam raya. Al-Qur’an juga menjelaskan tentang kehidupan bermasyarakat, yang mana dalam kehidupan sosial pastilah mempunyai problem yang kompleks. Oleh  karena itu Al-Qur’an selalu menuntut manusia untuk berpikir mencari solusi dari segala masalah termasuk masalah yang menyangkut hubungan bersosial. Salah satu pembahasan tentang hubungan sosial dalam bermasyarakat yaitu moderasi. Tafsir Al-Munir memiliki tafsir yang bercorak fiqih, tapi selain itu tafsir ini juga tergolong tafsir yang bercorak sastra dan budaya kemasyarakatan (al-adab al-ijtima’i), corak yang membahas tentang polemik-polemik kehidupan bersosial yang mana jawaban dan solusinya terdapat dalam ayat Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan dua metode. Dari segi kajian literature, penelitian menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan dari segi penafsiran, penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik. Hasil penelitian yang didapat dari kajian ini menjelaskan bahwa Wahbah al-Zuhayli salah satu ulama tokoh ulama besar dalam bidang tafsir memberikan pandangannya bahwa moderasi merupakan keyakinan, sikap, perilaku tatanan, muamalah serta moralitas yang seimbang. Islam adalah agama yang moderat, tidak berlebihan dalam segala hal, tidak berlebihan dalam hal agama, tidak ekstrim keyakinan dan tidak ekstrim perilaku, tidak angkuh dan selalu lemah lembut kepada sesama.
ANALISIS HADIS TAHNIK DENGAN PENDEKATAN SIMULTAN DAN SAINS MODERN Muchamad Saiful Muluk
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10299

Abstract

Tahnik tradition for the baby which had done by our prophet Muhammad pbuh, sahabat and oldest ulama is more forgotable and doubtful its hujjah. This research ordered to answer about hujjah problematical of tahnik based on hadith sources and modern sciences. The hadith object is from Abu Musa ra, which issued by al-Bukhari. This hadith have five transmitters, they are Ishaq ibn Nasr, Abu Usamah, Burayd, Abi Burdah and Abu Musa ra. This research method is qualitative descriptive with library research simultanly. The result in parcial research show that the status of hadith tahnik is weak (hadith da’if) based on sanad. The results of simultaneous research show that the status of hadith is sahih li ghayrihi in the quality and ahad masyhur in quantity. The content of hadith support the modern sciences theory, expecially in medical theoretical and oral phase in development psychology based psychosexual’s Sigmund Freud. The conclusion of this research order Muslim society to do tahnik for their babies without any hesitation.Tradisi tahnik bayi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat dan ulama terdahulu kini semakin diragukan kesahihannya dan cenderung ditinggalkan. Penelitian ini menjawab masalah ke-hujjah-an tahnik bayi berdasarkan sumber-sumber hadis dan sains modern. Hadith yang diteliti adalah riwayat Abu Musa ra. yang dikeluarkan oleh al-Bukhari. Hadis ini memiliki 5 orang periwayat, yakni Ishaq ibn Nas, Abu Usamah, Burayd, Abi Burdah dan Abu Musa ra. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan telaah kepustakaan (library research) secara simultan. Hasil penelitian secara parsial menunjukan bahwa hadith tahnik berderajat hadith da’if al-isnad. Sedangkan penelitian simultan menunjukan bahwa hadith tahnik berderajat sahih li gayrihi secara kualitas dan berstatus ahad masyhur secara kuantitas. Kandungan makna hadith mendukung teori sains modern, khususnya dalam dunia kedokteran dan fase oral dalam psikologi perkembangan berdasarkan psikoseksual Sigmund Freud. Sehingga, tahnik bayi sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh umat Islam tanpa keraguan.