cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
SEX EDUCATION PERSPEKTIF AL-QUR’AN TINJAUAN HERMENEUTIS MA’NA CUM MAGHZA QS. AN-NUR: 30-31 Faridatun Nisa; Isarotul Imamah; Ahmad Fahrur Rozi; M Safwan Mabrur
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.9999

Abstract

Based on the fact that there are many sexual deviations nowadays, this paper tries to describe sexual education in Islam, starting from QS. al-Nur: 30-31. The interpretation of the two verses, if viewed only from the perspective of the nakedness, cannot fully contain the significance or the main message, so that further studies are needed with an analysis of contemporary interpretations to find the main message and contextualize it at the present time. As a result, the two verses have the main message to guard and maintain any gaps or opportunities that will lead to badness and crime, with the main word farj which is always juxtaposed with the words ahfaza and ahsana, meaning to guard and maintain. Which gap or opportunity is also included in the realm of sexual relations. The message of care is included in the value of safety and justice that applies to both women and men. This study is expected to be able to answer the problem of sexual deviation that often occurs recently. The author uses a hermeneutical ma'na cum maghza approach to examine the two verses. This paper uses a ma'na cum maghza hermeneutical approach to examine these two verses. As a result, the two verses have the main message to guard and maintain any gaps or opportunities that will lead to badness and crime, with the main word farj which is always juxtaposed with the words ah}faz}a and ah}s}ana, meaning to guard and maintain. Which gap or opportunity is also included in the realm of sexual relations. The message of care is included in the value of safety and justice that applies to both women and men. This study is expected to be able to answer the problem of sexual deviation that often occurs in recent times.Pembahasan mengenai seksualitas masih ramai dikaji dari berbagai segi bidang keilmuan. Terutama mengenai pendidikan seksual. Sayangnya, yang memperhatikan pendidikan seksual mayoritas adalah peneliti, civitas akademika. Orang tua yang masih mempertahankan adat nenek moyang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan seksual bagi anak-anak mereka. Mereka bahkan menganggap pembahasan yang terkait dengan seksualitas adalah suatu hal yang tabu. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab masih maraknya penyimpangan seksual. Berdasar pada suatu kenyataan mengenai banyaknya penyimpangan seksual pada masa kini, tulisan ini mencoba menjabarkan pendidikan seksual dalam Islam, berangkat dari QS. al-Nur: 30-31. Tulisan ini menggunakan pendekatan hermeneutis ma’na cum maghza untuk mengkaji kedua ayat tersebut. Hasilnya, kedua ayat tersebut memiliki pesan utama untuk menjaga dan memelihara segala celah atau kesempatan yang akan membawa pada keburukan dan tindak kejahatan, dengan kata utamanya farj yang selalu disandingkan dengan kata ahfaza dan ahsana, artinya menjaga dan memelihara. Yang mana celah atau kesempatan tersebut juga masuk dalam ranah hubungan seksual. Pesan penjagaan tersebut masuk ke dalam nilai keselamatan dan juga keadilan yang berlaku bagi perempuan maupun laki-laki. Kajian ini diharapkan dapat menjawab problem penyimpangan seksual yang sering terjadi belakangan ini.
ISLAM SEBAGAI DOKTRIN PROGRESIF: TAFSIR KONTEKSTUAL MAKNA “ISLAM” DALAM Al-QUR’AN Didi Junaedi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.12294

Abstract

This article examines the meaning of Islam in the perspective of contextual interpretation. This research is a literature research using historical and hermeneutic approaches. From the results of the study, it was concluded that Islam, which has been often misunderstood as a religion that is final, standard and allows its adherents to commit acts of violence against different faiths (the others; lian), turns out to have a much more essential meaning and is in accordance with the current context. The meaning that the author is referring to is that Islam is a progressive doctrine. Islam can be interpreted according to the times. Artikel ini mengkaji tentang makna Islam dalam perspektif tafsir kontekstual. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan sejarah dan hermeneutik. Dari hasil kajian disimpulkan bahwa Islam yang selama ini sering disalahpahami sebagai agama yang bersifat final, baku dan memperkenankan pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan melawan yang berbeda keyakinan (the others; lian), ternyata memiliki makna yang jauh lebih esensial dan sesuai dengan konteks kekinian. Makna yang penulis maksud adalah bahwa Islam adalah sebuah doktrin progresif. Islam bisa dimaknai sesuai dengan perkembangan zaman. 
STUDI KRITIS ATAS PEMIKIRAN HADIS MAHMUD ABU RAYYAH: Riwayat bi al-Ma’na, Kredibiltas Abu Hurayrah Tentang Kolektor Hadis Terbanyak Engkus Kusnandar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.10707

Abstract

The following article examines the thought of the hadith of Mahmud Abu Rayyah. His thoughts and views on the sunnah of the Prophet SAW are listed in two of his works, Adwa ’ala al-Sunah al-Muhammadiyah, and Shaykh al-Mudhirah: Abu Hurayrah al-Dawsi. This paper examines his thoughts on hadith, as well as critiques the number of negative views of the prophet's hadith regarding the bi al-ma’na history, and the credibility of Abu Hurayrah as the largest hadith collector. This study aims to criticize the negative views of Abu Hurayrah and those who believe in it, and want to show that there has been confusion in Abu Hurayrah's thinking in criticizing Abu Hurayrah. This research is library research. The method is qualitative as data analysis. The results show that there are errors and defects in thinking, how can a hadith that looks odd and unreasonable, as well as a narration error, immediately justifies and asks for accountability and accuses Abu Hurayrah. Whereas in a hadith there is a series of narrators which it is possible for each narrator to make mistakes. So it is very unfair if all the blame and accusations are directed at this cat lover. This research also shows that it is reasonable, scientific and possible, for Abu Hurayrah to be the largest collector of hadith compared to other companions.   
BREAST REJECTION PADA PROSESI LAKTASI MUSA DALAM AL-QUR’AN: Studi Tafsir QS. al-Qasas Ayat 7 dan 12 Bannan Naelin Najihah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.9953

Abstract

The low success rate of breastfeeding for up to 2 years and the high rate of stunting in Indonesia are in the world's spotlight. This has an impact on the poor quality of human resources in terms of health. The imbalance between the study of breastfeeding motivation and the study of the introduction of lactation constraints in the Qur'an is one of the causes of the early termination of the lactation process. This study aims to examine breast rejection in the story of the lactation procession of Musa ‘alayh al-salam in the Qur'an by studying QS. Al-Qasas verses 7 and 12. This research method uses a qualitative method. Baby Musa's refusal behavior towards other breastfeeding mothers was due to the chronology of breastfeeding baby Musa with his biological mother in accordance with the management of lactation, baby Musa had recognized the scent of his mother's body and he had reached the indiscriminate attachment phase.Rendahnya angka keberhasilan menyusui hingga 2 tahun dan tingginya angka stunting di Indonesia menjadi sorotan dunia. Hal ini berdampak pada buruknya kualitas sumber daya manusia ditinjau dari aspek kesehatan. Tidak seimbangnya kajian motivasi menyusui dengan kajian pengenalan kendala laktasi dalam al-Qur’an menjadi salah satu penyebab prosesi laktasi berhenti lebih dini. Penelitian ini bertujuan mengkaji tentang breast rejection pada kisah prosesi laktasi Musa as. dalam al-Qur’an dengan mendalami QS. Al-Qasas ayat 7 dan 12. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Perilaku penolakan bayi Musa as. terhadap ibu susu lain disebabkan karena kronologi penyusuan bayi Musa dengan ibu kandungnya telah sesuai dengan tata laksana manajemen laktasi, pengenalan bayi Musa terhadap Ibu kandungnya memalui aroma tubuh dan ia telah mencapai fase indiscriminate attachment.
TRACER STUDY ALUMNI JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR (IAT) IAIN SYEKH NURJATI CIREBON DAN RESPON STAKEHOLDER TERHADAP KOMPETENSI DAN KINERJA LULUSAN TAHUN 2018-2019 Nurkholidah Nurkholidah; Muhamad Zaenal Muttaqin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 10, No.1 (2022): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i1.12713

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk menelusuri rekam jejak alumni Jurusan IAT IAIN Syekh Nurjati lulusan tahun 2018-2019 serta respon stakeholder terhadap kinerja dan kompetensi alumni di tempat kerja mereka. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan survei. Terdapat dua sumber data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, yaitu primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari penyebaran kuesioner secara online melalui email, facebook, mailing list dan juga disebarkan secara langsung kepada alumni yang diketahui dengan jelas alamatnya. Teknik pengisian koesioner dilakukan juga dengan cara snow balling. Sedangkan data sekunder didapat dari penelusuran catatan-catatan dan dokumen yang memiliki relevansi dan mendukung terhadap penelitian yang diangkat. Secara umum, dari total 68 alumni IAT lulusan 2018-2019, terdapat 40 orang alumni yang memberikan tanggapan, alumni perempuan sejumlah 16 orang (40%) dan alumni laki-laki sejumlah 24 orang (60%). Untuk menggali kompetensi dan daya saing alumni IAT lulusan 2018-2019 dalam dunia kerja, peneliti mengajukan 13 aspek kepada para alumni, di antaranya lama waktu tunggu untuk para alumni mendapatkan pekerjaan pertama; informasi pekerjaan pertama yang sudah didapat; kesesuaian pekerjaan dengan bidang studi yang diambil, dan lain sebaginya. Secara umum, alumni IAT memiliki kompetensi dan daya saing tinggi dalam dunia pekerjaan mereka. Hal ini terlihat dari 40 orang yang memberikan tanggapan, sebanyak 39 sudah bekerja dan 1 orang melanjutkan kuliah. Selain itu, sebanyak 21 (54%) orang sudah bekerja sebelum mereka lulus kuliah. Terakhir, penelitian ini juga mengungkap respon stakeholder terhadap kinerja Alumni IAT (Lulusan 2018-2019) di instansi mereka bekerja. Untuk mengetahui hal itu, peneliti menanyakan 15 aspek kepada para stakeholder, di antaranya adalah integritas (etika dan moral); keahlian berdasarkan bidang ilmu (profesionalisme); kedisiplinan saat bekerja; kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja; dan lain sebagainya. Dari 39 alumni yang sudah bekerja, terdapat 17 stakeholder yang memberikan tanggapan terdapat kinerja mereka. Mayoritas stakeholder puas dengan kinerja para alumni IAT lulusan 2018-2019 yang bekerja di instansi mereka.
DERADIKALISASI PEMAHAMAN AL-QUR’AN: Analisis Semantik dan Konteks Historis Surah al-Fath Ayat 29 Afrizal El Adzim Syahputra; Heru Susanto
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11601

Abstract

Misunderstanding several verses of the Qur'an is motivated by the generalization of the understanding of the verses of the Qur'an, especially the verses related to war and jiha>d. Based on this, the writer is interested in studying Surah Al-Fath verse 29 by using semantic analysis and historical context. Based on this study, the term “al-shadid” which is based on the term "ka>fir" is not always interpreted as acts of violence against non-Muslims.This study is expected to be able to provide a moderate understanding, which can eliminate radicalism. This type of research is library research supported by various reference sources, especially from the thoughts of the mufassir. Then based on the historical context, this verse tells about the condition of Muslims who are dealing with the enemy. So, the two terms above are an explanation that Muslims must be firm when dealing with enemies. Firmness here is not directly interpreted with things that smell of violence. Firmness is defined as the potential for courage to prevent injustice. Not in the sense of fighting blindly. This study is expected to provide a moderate understanding, which can eliminate radical values. This type of research is library research which is supported by various reference sources, especially from the thoughts of the mufassir. Kesalahpahaman tersebut dilatarbelakangi oleh generalisasi pemahaman memahami ayat-ayat al-Qur’an, khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan perang dan jihad. Diantaranya adalah surah al-Fath ayat 29. Ayat ini sering dipahami secara dhahir saja sehingga memunculkan pemahaman radikal dalam menyikapi ayat ini. Berdasarkan hal ini, penulis tertarik untuk mengkaji surah Al-Fath ayat 29 dengan menggunakan analisis semantik dan konteks historis. Berdasarkan kajian ini, term al-shadid yang disandarkan kepada term “ka>fir” tidak selalu dimaknai dengan tindakan kekerasan kepada non muslim. Kemudian berdasarkan konteks historis, ayat ini menceritakan tentang kondisi umat Islam yang sedang berhadapan dengan musuh. Maka kedua term diatas merupakan penjelasan bahwa umat Islam harus tegas ketika berhadapan dengan musuh. Tegas di sini tidak langsung dimaknai dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Tegas diartikan sebagai potensi keberanian untuk mencegah kedzaliman. Bukan dalam arti memerangi secara membabi buta. Kajian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang moderat, yang dapat menghilangkan nilai-nilai radikal. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka yang didukung dengan berbagai sumber rujukan, khususnya dari pemikiran para mufasir. 
Interpretasi Makna Hidayah Dalam al-Quran (Telaah Pemikiran Al-Rāgib al-Aṣfahānī) Wali Ramadhani
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11401

Abstract

This article explains the meaning of hidayah in the Qur’an from the perspective of al-Rāgib al-Aṣfahānī. Verses about hidayah are presented in the Qur'an in various ways. In some places, they seem contradictory. Through of descriptive-analytical, the author tries to explain about hidayah in the Qur’an from al-Rāgib's presentation recorded in his magnum-opus Mufradāt alfaẓ al-Qurān. He was one of the commentators in the 5th century H. The verses about hidayah described in the Qur’an are classified by al-Rāgib into four stages; the first stage is hidayah obtained by all living things on this earth (garizah, natural nature and thinking power), the second stage is hidayah given to humans in the form of preaching from the prophets and apostles, the third stage is hidayah given special by Allah to those who ask and want guidance (taufiq), the fourth stage is hidayah obtained by humans in the hereafter, namely the guidance of Allah in the beauty and pleasures of heaven.
I'jaz Adadi: Keistimewaan dan Fenomena Angka 9 dalam Al-Qur'an Asfira Zakiatun Nisa; Abdussakir Abdussakir; Muhammad Muhammad; Yusiana Rismatika Slawantya; Lisa Lisa
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11649

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji keistimewaan dan fenomena angka 9 di dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Data diperoleh dengan melakukan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keistimewaan dan fenomena angka 9 di dalam Al-Qur’an. Di antara fenomena tersebut adalah pada ayat yang terkait dengan Asma’ul Husna, ketepatan bulan Ramadhan sebagai bulan ke-9 dalam Islam, serta reflexivity sholat. Kehadiran angka 9 tersebut membawa pesan, di antaranya adalah tentang ketauhidan dan banyak sekali konsep maupun perhitungan matematis dalam Al-Qur’an, hanya saja masih banyak yang belum mengkaji hal tersebut secara detil dan menyeluruh. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan melalui integrasi matematika Al-Quran, berarti manusia telah mempelajari agama.
Konstruks ilmiah Tafsir Secangkir Tafsir dalam Juz Terakhir Karya Salman Harun umaiyatus syarifah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.11433

Abstract

  Secangkir Tafsir dalam Juz Terakhir  is an interpretation that written by academics as well as professor of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta in the field of language and Tafseer.The scientific background, the life view of the mufassir, and the purpose of interpretationare very influential on the epistemology of interpretation. This article seeks to reveal the scientific construction of the interpretation of Salman Harun's work. The method used is descriptive analytical. This interpretation is a contemporary interpretation that combines historical and ra'yi interpretations using thematic methods, as well as a very dominant style of adab ijtima'i, using a contextual approach. This interpretation has a different nuance than the Indonesian interpretations in general. The presentation of language analysis, discussion that swoops in on social problems, plus the breadth of the exegetes' insight gives rise to moral messages related to current social-social problems which are presented briefly and concisely while still using the Quran and hadith as references in interpretation.
KONTEKSTUALISASI AYAT MAYSIR DAN RELEVANSINYA TERHADAP LOOTBOX (PENDEKATAN TAFSIR KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED) Didin Baharuddin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 10, No. 02 (2022): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v10i02.13886

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kontekstualisasi ayat maysir dan relevansinya dengan Loot Box. Adapun Loot Box merupakan fitur dalam game online yang dibeli oleh pemain tanpa mengetahui isi dari Loot Box pembeliannya. Pembelian Loot Box mengandalkan keberuntungan, karena itu dapat menyerupai maysir. Dalam Al-Quran kata maysir ditafsirkan dengan praktek muhkatarah (taruhan). Penafisran ini sebagaimana praktek yang dilakukan pada masa jahiliyah. Adanya perkembangan teknologi membuat praktek maysir turut berkembang, hal ini menuntut kontektualisasi penafsiran terhadap ayat maysir agar Al-Quran solihun li kulli zaman wa makan. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan tafsir kontekstual Abdullah Saeed, pendekatan ini dilakukan dengan cara melihat konteks pertama ketika wahyu diturunkan dan konteks masa sekarang dengan menjadikan karya-karya tafsir tiap generasi menjadi penghubung antar konteks. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna maysir dapat mencakup Loot Box, hal ini disebabkan Loot Box menggunakan sistem acak, mengandalkan keberuntungan dan membuat kecanduan.