cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
TANDA TASHIH DAN INDUSTRIALISASI MUSHAF AL-QUR’AN Moh. Abdul Kholiq Hasan; Hikmatul Jazila Daroini
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 2, Desember 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i2.13086

Abstract

This paper attempt to answer how a Mushaf publisher obtained the letter "Tanda Tashih"? And how is the influence of the letter "Tanda Tashih" Mushaf on consumer confidence in the industrialization of the Mushaf al-Qur'an ?. This field research used a qualitative descriptive method with a phenomenological approach. The results showed that the "Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ)" Ministry of Religion of the Republic of Indonesia has established strict procedures and accountability in issuing the letter "Tanda Tashih" as a legal permit for the circulation of Mushaf in Indonesia. The letter "Tanda Tashih"  or Circular Permit can minimize various errors in publishing the Mushaf al-Qur ʻan. All companies publishing al-Qur'an in  Indonesian is obliged to comply with and follow the procedures and regulations for publishing al-Qur'an that have been established by the LPMA. The aim is to guarantee the correctness of the Al-Quran manuscripts and to give consumers a sense of trust. Surat Tanda Tashih has a far-reaching and profound influence on consumers' confidence in buying the Mushaf of the Qur'an. The existence of the Surat Tashih letter has become one of the most important factors in the development of the industrialization of the Mushaf al-Qur ʻan in Indonesia.
IMPLEMENTASI THE HIDDEN CURRICULUM DALAM MENUMBUHKAN KARAKTER ISLAMI Anjani Wira Murti
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7749

Abstract

This study aims to describe the implications of co-curriculer improving the student's Islamic character and to know the supporting and inhibiting factors of implementing co-curiculer at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri. This type of research is qualitative research. The subjects of this study were headmasters, Islamic teachers, and students at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri. The objects of this study are Islamic habituation activities that exist in MTs Negeri I and II Wonogiri. The techniques of collecting the data through observation, interviews, and documentation. The data analysis techniques used descriptive qualitative. The results of the research show that (1) the implications of co-curriculer in improving the student's Islamic character at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri are: (a) the implication to the students are: through habituation which is conducted in the schools, the student will be discipline in doing his obligations such as prayer. The students also become more polite and noble. This shows that the student's attitude change be better is because of the application of co-curriculer in the school, (b) implications for schools: through co-curriculer, schools can achieve vision and mission. Co-curriculer also gives great benefits for schools, because with the existence of Islamic activities can make the name of the school more superior in the community. Besides that, by implementation of Islamic habituation activities and the existence of special program classes can also affect the school is superior.(2) The supporting factors of co-curriculer at the eighth grade of MTs Negeri I and II Wonogiri are: (a) The existence of Islamic teachers, (b) The closeness between teachers and students through communication, (c) the holding of ESQ activities, (d) Facilities and infrastructure are complete, and (e) Supportive school environments.(3) The inhibiting factors of implementing co-curriculer in improving the student's Islamic character are: (a) Awareness of students who are still less obedient in worship, (b) less of attention from parents, (c) Many of the students left by their parents go abroad, and (d) student living environment that is still less obedient in worship.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implikasi ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan ko-kurikuler dalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru pembina keagamaan, dan siswa kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri.Objek dalam penelitian ini adalah kegiatan pembiasaan keagamaan yang ada di MTs Negeri I dan II Wonogiri.Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) implikasi dari ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri yaitu: (a) implikasi terhadap siswa: melalui pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah, siswa akan menjadi disiplin dalam melaksanakan kewajibannya seperti shalat. Siswa juga menjadi lebih santun dan berakhlak mulia. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan sikap siswa menjadi lebih baik karena diterapkannya ko-kulikulerdi sekolah, (b) implikasi terhadap sekolah: melalui ko-kurikuler, sekolah dapat mencapai visi dan misi. Ko-kulikulerjuga memberikan manfaat besar bagi sekolah, karena dengan adanya kegiatan keagamaan dapat menjadikan nama sekolah semakin unggul di masyarakat. Selain itu dengan diterapkannya kegiatan pembiasaan keagamaan dan adanya kelas program khusus juga dapat mempengaruhi sekolah lebih unggul.(2) faktor pendukung ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa pada kelas VIII di MTs Negeri I dan II Wonogiri yaitu: (a) Adanya guru pembina keagamaan, (b) Kedekatan antara guru dengan siswa melalui komunikasi, (c) diadakannya kegiatan ESQ, (d) Sarana dan prasarana yang lengkap, dan (e) Lingkungan sekolah yang mendukung.(3) Faktor penghambat pelaksanakan ko-kulikulerdalam menumbuhkan karakter Islami siswa yaitu: (a) Kesadaran siswa yang masih kurang taat dalam beribadah, (b) kurangnya perhatian dari orang tua, (c) Banyak siswa yang ditinggalkan orang tuannya pergi merantau, dan (d) lingkungan tempat tinggal siswa yang masih kurang taat dalam beribadah.
KUNTOWIJOYO DAN KEBUDAYAAN PROFETIK Zuly Qodir
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 1, Juni 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i1.1837

Abstract

Kuntowijoyo as a historian, Muslim scholar, and author, is undeniable about his abilities. The most phenomenal from Kuntowijoyo's literary work, as a cultural work is his idea on prophetic literature. Prophetic literature is Kuntowijoyo's original work based on three edicts, they are: structural transendental epistemology, humanization and interrelation among awareness ended in liberation. His formulation on the three edicts of prophetic literature that made Kuntowijoyo to be an author, not only an author who created literary and cultural works as culture, but also as worship. All cultural activities are worships, because they are forms of subjecting to the Creator and faith to Allah. In Kuntowijoyo's view, in order to be in advance, Muslim community must leave the myth and ideology world toward the knowledge world, therefore, Islamic knowledge is necessary, not Islamization of knowledge.
MODEL PENGEMBANGAN PARADIGMA INTEGRASI ILMU DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA DAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Arbi Arbi; Imam Hanafi; Munzir Hitami; Helmiati Helmiati
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v20i1.8943

Abstract

Mencuatnya perbincangan persoalan integrasi ilmu ke permukaan, sebenarnya merupakan suatu upaya untuk mencermati dinamika kehidupan dan keilmuan yang dikotomik di dunia Islam. Upaya untuk mengintegrasikan dan menginterkoneksikan berbagai keilmuan Islam dengan sains adalah daya upaya dan sekaligus sebagai jawaban mendesak atas kelemahan dan kekurangan di kalangan umat Islam dibandingkan paradigma ilmu Barat. Telah berabad-abad kaum muslimin terpenjara dalam pemahaman keagamaan yang sempit dan tidak rasional. Seakan-akan mengkaji alam semesta bukan merupakan perbuatan agama. Terjadi pemisahan secara tegas antara urusan dunia dengan akhirat, antara sains dengan agama, antara ilmuwan dengan ulama. Konsekuensinya, dunia Islam tertinggal jauh dari kemajuan sains Barat. Sadar akan keterbatasan dari terpaan dan tamparan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, PTAI Se-Indonesia berbenah diri, melakukan perombakan dan perubahan serius. Perubahan STAIN menjadi IAIN dan konversi IAIN menjadi UIN masih menyisakan problema besar, rumit dan pelik, terutama terletak pada persoalan pengembangan paradigma integrasi ilmu, pilar spritualitas dan model implementasinya. Model pengembangan paradigma integrasi ilmu yang dikembangkan di UIN Suka Yogyakarta terkonsentrasi pada simbol jaring laba-laba dan UIN Maliki Malang bersimbolkan pohon ilmu.
MOHAMMAD NATSIR DALAM DINAMIKA HUBUNGAN ANTARAGAMA DI INDONESIA Mutohharun Jinan
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i02.1999

Abstract

This article discusses about the position of Mohammad Natsir in the dynamicof inter-religions relationship in Indonesia. Natsiris well-known as the public figure havinga great attention to the efforts for developing the life of peaceful religions in Indonesia.The efforts can be seen from his works and ideas. Natsir asks all people and leaders to usethe different religions as the potency to develop the peaceful life by having different religions.The religion Missionaries that break down the rules or government’s regulation becomesthe cause of the stress and inter-religions conflict. To create the peaceful life among thepeople with different religions, Natsir proposes the vivendimodus that consists of: thedifferent religious-people in Indonesia should live together harmonically, tolerance andappreciative each other, having priority on national development, avoiding the religionwar, and stressing on justice and religion diversity.Key Words: Mohammad Natsir; inter-religions relationship; religion diversity.Makalah ini membahas tentang posisi Mohammad Natsir dalam dinamikahubungan antaragama di Indonesia. Natsir dikenal sebagai tokoh yang memilikiperhatian besar dalam upaya membangun kehidupan keagamaan yang damai diIndonesia. Berbagai usahanya dapat dilihat dari pemikiran dan karya-karyanya. Natsirmengajak segenap pemimpin dan umat beragama memanfaatkan keragaman agamasebagai potensi untuk membangun kehidupan keagamaan yang damai. Misionarisagama-agama yang melanggar ketentuan atau peraturan pemerintah menjadi penyebabketegangan dan konflik antaragama. Untuk menciptakan kehidupan umat antaragamayang damai Natsir mengusulkan adanya modus vivendi yang meliputi: antara pemelukberagama di Indonesia supaya hidup berdampingan secara baik, saling menghargaidan toleransi, mengutamakan kepentingan pembangunan nasional, menghindariterjadinya perang agama, dan menekankan keadilan dalam keragaman beragama.Kata Kunci: Mohammad Natsir; hubungan agama-agama; Indonesia.
ISLAM DAN PRODUK HALAL: MUSLIMAH, KOMODIFIKASI AGAMA DAN KONSOLIDASI IDENTITAS KEAGAMAAN DI INDONESIA Suhadi, Muhammad; Muslim, Azis
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v1i1.16806

Abstract

This article discusses Islam and Halal products. Specifically, this article highlights a number of commercial advertisements for halal products that use religious norms as branding in Indonesia. The advertisement is seen as a commodification of religion and consolidation of religious identity, as well as showing the lifestyle of middle class Muslims. This article also explores the perceptions of young rural Muslim women who are members of the Parit Baru Village Mosque Youth Association regarding Islamic phenomena and halal products. Methodologically, this article is a descriptive qualitative research. The data in this study were obtained from the field through direct interviews with a number of Muslim women at the Parit Baru Village Mosque, and also from searching data through various literatures, books, magazines and data available on the internet related to this research. The results of the study show that Islam is a broad religion, marked by Islamic attention and regulations regarding halal products for consumption by Muslims in their daily lives. This article also concludes that advertisements for halal products in Indonesia use religious norms as branding to gain profit on the one hand, and indirectly educate middle class Muslims, especially women, to maintain the use of the hijab as a form of representation of religious identity on the other hand. This can be seen as a form of consolidation of religious identity on the one hand and the commodification of religion on the other.Artikel ini membahas tentang Islam dan produk Halal. Secara spesifik, artikel ini menyoroti sejumlah iklan komersial produk halal yang menggunakan norma agama sebagai branding di Indonesia. Iklan tersebut dilihat sebagai sebuah komodifikasi agama dan konsolidasi identitas keagamaan, serta menampilkan gaya hidup Muslim kelas menengah. Artikel ini juga menelusuri persepsi anak muda muslimah pedesaan yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid Desa Parit Baru terkait fenomena Islam dan produk halal. Secara metodologi, artikel ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh dari lapangan melalui wawancara langsung dengan sejumlah Muslimah Remaja Masjid Desa Parit Baru, dan juga berasal dari penelusuran data melalui berbagai literatur, buku-buku, majalah dan data-data yang tersedia di internet yang berhubungan dengan penelitian ini. Hasil studi menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang luas, ditandai dengan perhatian dan peraturan Islam terkait produk halal untuk dikonsumsi kalangan Muslim dalam kesehariannya. Artikel ini juga menyimpulkan bahwa iklan-iklan produk halal di Indonesia menggunakan norma agama sebagai branding untuk mendapatkan keuntungan disatu sisi, dan secara tidak langsung mengedukasi Muslim kelas menengah khususnya perempuan untuk tetap mempertahankan penggunaan jilbab sebagai bentuk representasi identitas keagamaan di sisi lain. Hal ini dapat dipandang sebagai bentuk konsolidasi identitas keagamaan disatu sisi dan komodifikasi agama di sisi lain.
أثر الأوضاع الاجتماعية في فهم السنة النبوية واستنباط الأحكام الشرعية Fajar Rachmadhani
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 1, Juni 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i1.11063

Abstract

 يهدف هذا البحث إلى الكشف عن أهمية فهم السنة النبوية واستنباط الأحكام الشرعية منها في ضوء أسبابها وملابساتها ومقاصدها والأوضاع الاجتماعية التي تتعلق بها، وذكر بعض النماذج التطبيقية في فهم السنة في ضوء أوضاعها الاجتماعية. يرجو الباحث أن تأتي هذه الدراسة بفوائد عظيمة وأهمية كبيرة نظرية كانت أو تطبيقية تسهم به إسهاما فكريا عمليا في التقدم الديني والتطرر الفقهي والحديث. هذا البحث هو البحث النوعي الاستقرائي، مصادره الأساسية هي كتب الحديث الستة، كما أن مصادرها الثانوية هي كتب أصول الفقه ومقاصد الشريعة والمعلومات الواردة في المجلات والمواقع الإلكترونية وغيرها. يستخدم هذا البحث المنهج التحليلي، بحيث أنه يستخدم لإبراز خصائص الرسائل التي يتم تنفيذها بشكل موضوعي ومنهجي. الكلمات المفتاحية: الأوضاع الاجتماعية، فهم السنة، استنباط الأحكام الشرعية The purpose this study is to discuss and uncover the urgency of understanding the hadith based on sociological conditions and the conclusion of Islamic law from it and show some examples related to it. The researcher hopes that this study will bring great benefits and great importance whether theoretical or applied contribute to it in a practical intellectual contribution to religious progress and the modern jurisprudence. This research is a qualitative inductive research, its main sources are the six Hadith books, and secondary sources are books of the principles of jurisprudence and the purposes of Sharia and information contained in magazines and websites and others. This research uses the analytical approach, so that it is used to highlight the characteristics of messages that are implemented objectively and systematically.
STUDI SEJARAH ISLAM DAN PROSES PENGEMBANGANNYA Rodhi Mustofa Anshori
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 2, Desember 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i2.13076

Abstract

Sejarah islam merupakan salah satu bidang study islam yang sangat menarik untuk di bahas karena banyak manfaat yang bisa di peroleh dari penelitian tersebut. Bagi umat islam dalam mendalami tentang sejarah akan memberikan rasa kebanggaan tersendiri. Selaim itu juga, banyak kisah yang di pelajari seperti study pra islam, masuknya, dan periode pengembangan. Study islam ini ternyata menarik para ilmuan dari dunia barat untuk melakukan sebuah penelitian, tanpa di sadari selama ini informasi yang didapatkan tentang sejarah study islam banyak berasal dari dunia barat karena kepribadian etos keilmuan yang tinggi di dukung oleh finansial dan kemampuam berpolitik. Akan tetapi ada juga para ilmuan muslim tapi di karenakan kurangnya etos keilmuan dan kemampuan berpolitik menjadi para peneliti muslim masih tertinggal dari dunia barat.
نقل الحضانة من الأم في منظور الفقه الإسلامي عند المذهب الشافعي والقانون الأندونيسي Riska Binti Nashrun; M. Muinudinillah Basri
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 2 Desember 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i2.7436

Abstract

Mother is the person most entitled to the care of her children as stated in Islamic laws and shari'ah, and this is in line with the nature of a mother who is very fond of their children and mother is the most patient person with their children but there is quite a worrying problem happening in the midst of our society, where there are many cases of mistreatment of children coming from their mothers, not even a few that lead to death. Found in marriage law No. 1 of 1974 and Presidential Decree on Compilation of Islamic law number 1 of 1999 the articles regulating the causes of a mother not getting custody of her child, the author tries to analyze the articles and compare it with the view of mazhab syafi 'i. And the results of the author's analysis shows the similarities between the articles that regulate the transfer of custody of the child from the mother contained in the two laws above with the view of mazhab syafi'i if compared to the eyes of maqasid syari'ah where the articles aimed at maintaining the safety children of hifzu nafs and hifzul aql. But there is a fundamental difference between mazhab syafi'i school and the law that is: in syafi'i school set some conditions for the mother as child custody holder while in the law there is no article that regulates about it. And in syafi'i madhhab mentioned some things that cause the move custody of the child from mother whose purpose is to keep aqidah children to keep straight hifzu addin, keep safety of mother hifzu nafsil ummi and keep honor father hifzu 'irdil abi where purpose of cause - because the intended is not contained in the articles contained in the law.And the authors conclude that the Articles contained in the law that regulate the move of custody of the child from the mother need addition to be more effective in overcoming the problems that occur in the community, especially cases of mistreatment of mothers against their children.Ibu adalah orang yang paling berhak terhadap pangasuhan anak-anaknya sebagaimana tertuang dalam undang-undang dan syari’at islam, dan hal ini sejalan dengan fitrah seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anak dan ibu adalah sosok yang paling sabar menghadapi anak-anak dibandingkan orang lain, akan tetapi ada permaslahan  yang cukup menghawatirkan terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, dimana didapati banyaknya kasus penganiayaan terhadap anak-anak yang datang dari ibu mereka, bahkan tidak sedikit yang berujung pada kematian. Didapati dalam undang-undang  Perkawinan nomor 1 tahun 1974 dan Keputusan presiden tentang Kompilasi  hukum islam nomor 1 tahun 1999 pasal-pasal yang mengatur sebab-sebab seorang ibu tidak mendapatkan hak asuh anaknya, penulis mencoba menganalisa pasal-pasal tersebut dan membandingkanya dengan pandangan mazhab syafi’i. Dan hasil analisa penulis menunjukan adanya kesamaan antara pasal-pasal yang mengatur tentang pindahnya hak asuh anak dari ibu yang terdapat pada kedua undang-undang diatas dengan pandangan mazhab syafi’I, jika  keduanya dibandingkan menurut kacamata maqasid syari’ah dimana didapati pasal-pasal yang mengatur pindahnya hak asuh ibu terhadap seorang anak dan pendapat para ahli fiqhi dalam mazhab syafi’i sama-sama bertujuan untuk menjaga keselamatan anak atau hifzu nafs dan hifzul aql. Namun terdapat  Perbedaan antara  mazhab syafi’i dan undang-undang  yaitu: dalam mazhab syafi’i ditetapkan beberapa syarat bagi ibu sebagai pemegang hak asuh anak sedangkan dalam undang-undang tidak ada pasal yang mengatur tentang hal tersebut. Dan  dalam mazhab syafi’i disebutkan beberapa hal  yang menyebabkan pindahnya hak asuh anak dari ibu  yang tujuan nya untuk menjaga aqidah anak-anak agar tetap lurus hifzu addin, menjaga keselamatan ibu hifzu nafsil ummi dan menjaga kehormatan ayah hifzu ‘irdil abi dimana tujuan dari sebab-sebab yang dimaksudkan tidak terkandung dalam pasal-pasal yang terdapat  dalam undang-undang. Sekalipun terdapat beberapa perbedaan antara mazhab syafi’i dan  kedua undang-undang diatas, tetapi pasal-pasal yang mengatur tentang pindahnya hak asuh anak dari ibu tidak menyelisihi dalil-dalil yang sharih dalam Al-qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah SAW, dan walaupun demikian menurut penulis Pasal-pasal yang dimaksud tetap memerlukan penambahan agar lebih  jelas dan efektif dijadikan sebagai landasan hukum dalam memutuskan perkara di pengadilan agama. إن أولى الناس في حضانة الولد المحضون أم لشفقتها وصبرها على أعباء الرعاية والتربية ولكن ومن الوقائع المؤسفة التي تناقض فطرة الأم قد حدثت بمجتمعنا اليوم, أن وجد واعتداء واعدام نحو الأولاد من الأم. ولحل المشكلة وضع في القانون مواد تنص على أسباب نقل الحضانة من الأم وذالك في القانون  الوضعي الأندونيسي  الرقم الأول سنة 1974 عن الزواج وفي قرار رئيس الجمهور  الرقم 1 عام 1991 عن  أحكام الأحوال الشخصية,  وقارن الباحث تلك الأسباب المنصوصة في القانونين بنظرة المذهب الشافعي. وينتج من البحث أن  مضمون الأسباب المنصوصة في القانون متفقة بالأسباب المنصوصة من المذهب الشافعي نظرا إلى تحقق مصلحة  حفظ نفس المحضون وحفظ عقله وراء هذه الأسباب. واتفق القانون بالمذهب بأن المحضون المميز يخير بين أمه وأبيه. وورد الخلاف بين القانون والمذهب أبرزها الخلاف في شروط الحاضن ومواد القانون عامة بينما نصوص المذهب مقيدة وأن فقهاء المذهب يراعي تحقق مصلحة حفظ دين المحضون وحفظ نفس الأم وحفظ عرض الأب بينما مادة القانون تغفل عنها, ولكن مع هذا لم يكن الخلاف بينهما خلافا حقيقيا لأن مادة القانون لم تكن تخالف الأدلة الصريحة من الكتاب ولا من السنة حيث أنها مستمدة من الشريعة الإسلامية كذالك, إلا أن المواد التي تبين أسباب نقل الحضانة من الأم ناقصة تحتاج إلى زيادة من البيان أو زيادة في بعض المواد لتكون أوضح كونها مصدرا في القضاء بالمحكمة الدينية.
THE ROLE OF THE PRINCIPAL IN DEVELOPING A RELIGIOUS CULTURE AT SMPN 4 BOYOLALI Meti Fatimah; Muh Nur Rochim Maksum; Deddy Ramdhani
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16663

Abstract

This study aims to determine the importance of the role of the principal in developing a religious culture in schools. This study uses a qualitative approach aimed at describing and analyzing natural phenomena, events, social activities regarding the development of religious culture through the internalization of moral and religious values at SMPN 4 Boyolali. Documentation, observation and interviews are the methods used to collect data.  Meanwhile, the technique of analyzing and analyzing the data is using data reduction, categorizing the checking of the validity of the data and interpreting the data. The results of this study indicate that developing a religious culture in schools requires systematic policies and concepts.