cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
LEARNING MANAGEMENT BASED ON MULTICULTURAL AT ISLAMIC BOARDING SCHOOL DARUSY SYAHADAH SIMO BOYOLALI Deddy Ramdhani; Musa Asy’arie; Waston Waston; Muh. Nur Rochim Maksum; Meti Fatimah
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 23, No. 1, Juni 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v23i1.16789

Abstract

Islamic Boarding School has the main task to develop religious values in students. But on the other hand, boarding schools must develop social intelligence by actualizing multicultural education. This research aims to find out the planning, implementation, and evaluation of learning that contains multicultural values in Islamic boarding school Darusy Syahadah Simo Boyolali. This type of research is field research, with qualitative descriptive methods and using a phenomenological approach. Data collection techniques use interview, observation, and documentation methods. While the data analysis technique used is interpretive descriptive analysis. There are three results from this study. First, learning planning seen from the perspective of multicultural education has contained multicultural values such as the value of togetherness, and the value of democracy is seen in the learning planning process which involves many parties to conduct group discussions (musyawarah). While the value that contradicts multicultural values is born from the non-creation of products from the planning process in the form of learning tools such as syllabuses and documented learning implementation plans. Second, the implementation of his learning is seen from the strategies used that have contained multicultural values such as the values of democracy, tolerance, justice, togetherness, peace, solidarity. While the contradictory value of multicultural values there are values of injustice and the value of discrimination in interacting between students and teachers in the process of learning activities. Third, the evaluation of learning contains multicultural values in terms of processes and products such as democratic values, values of justice, diversity, tolerance, peace. At the same time, there is also a contradictory value characterized by the value of a conflict, hegemony, and dominance among the students in interacting daily in the environment of Islamic boarding school Darusy Syahadah. 
HUBUNGAN PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP KEMAJUAN BANGSA: DITINJAU DARI PERKEMBANGAN BUDAYA Nofa Nur Rahmah Susilawati
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 2, Desember 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v20i2.9955

Abstract

Abstract: The progress of a nation dependent to the human resources quality, and the quality of human resources influence by culture of the nation that formed individual character. Social condition of society in a region will appear from education reality. Virtue value and morality that instilling at that very early stage, from family education until formal education or non formal education is the first step to implant a local culture as an Indonesian identity. The individual character that believe in themselves and be own master in every aspect of life, and never feel inferior with the Western civilization is a hope going to nation progress. This paper aims to describe the influence of education as a filter to foreign culture that comes together with the globalization  The result from this role relationship in this case is a man with virtual value and morality to the progress of nation, such as economic independent, political justice, and the social wisdom. That is held by the root of aqidah. Overall, the citizens sovereign that reached by the people is truely  a progress of civilitation.Abstrak: Kemajuan sebuah bangsa bergantung dari Sumber Daya Manusia (SDM) di dalamnya, dan kualitas dari SDM itu sendiri  dipengaruhi oleh budaya yang membentuk karakter individunya.  Bagaimana kondisi generasi masyarakat dalam sebuah daerah tertentu akan tampak dari gambaran pendidikannya. Nilai dan moral yang ditumbuhkan sejak dini, baik dari pendidikan keluarga (utama) maupun pendidikan formal serta nonformal merupakan langkah awal penanaman budaya lokal sebagai identitas sebuah negri. Karakter individu yang percaya diri dan tertanam mental kemandirian dalam jiwanya serta tidak silau akan kemajuan asing hanya pada satu sisi dan mengingkari sisi lainnya (hingga membuat diri lupa terhadap tanah air yang memiliki budi perkerti) merupakan salah satu titik terang menuju kemajuan bangsa. Makalah sederhana ini akan membahas bagaimana hubungan pendidikan dapat menjadi filter dengan tingkat sensitif lebih peka terhadap budaya asing yang masuk bersamaan dengan derasnya arus globalisasi. Hasil dari peranan pendidikan dalam masalah ini adalah manusia yang bernilai dan bermoral menuju kemajuan bangsa, baik dalam kemandirian ekonomi,  keadilan berpolitik, serta kebijaksanaan sosial yang dibangun dari akar akidah yang kokoh. Sehingga kedaulatan rakyat yang dicapai adalah sebuah bentuk kemajuan peradaban.
PEMIKIRAN MOHAMMAD ILYAS TENTANG PENYATUAN KALENDER ISLAM INTERNASIONAL Rupi’i Amri
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2096

Abstract

The object of this study is Mohammad Ilyas’s concept of the unification of InternationalIslamic calendar. The Method of analysis is descriptif-analysis. The results of this researchshow that Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic Calendarbased on the hisab of the crescent visibility and the International Lunar Date Line (ILDL).The Ilyas’s criteria of the crescent visibility use two parameter, i.e. geocentric relative altitudeand relatif azimut. The application of Mohammad Ilyas’s concept of the crescent visibility asthe unification of International Islamic calendar can’t accepted by Indonesia Moslem. Thisproblem is caused by the difference criteria between Indonesia Moslem (Indonesia ReligiousAffair) of the crescent visibility and Ilyas. Ilyas’s concept of International Lunar Date Line isalways change every month. This condition is cause the difference in the beginning of the dayon the first month in the region of the country.Keyword: unification, International Islamic calendar, crescent visibility.Abstrak: Umat Islam sampai saat ini masih berbeda-beda dalam menentukan awal bulankamariah. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan pula dalam memulai peribadatan-peribadatantertentu, yang paling menonjol ialah perbedaan dalam memulai puasa Ramadan, IdulFitri, dan Idul Adha. Perbedaan penetapan awal bulan tersebut membuat para tokoh falakdan astronomi bekerja keras untuk memikirkan upaya penyatuan kalender Islam, baik tingkatnasional maupun internasional. Salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan upaya penyatuankalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Penelitian ini menunjukkanbahwa konsep pemikiran Mohammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional bertumpupada hisab imkan ar-rukyah (crescent visibiliy/visibilitas hilal) dan Garis Tanggal KamariahAntar Bangsa (International Lunar Date Line). Kriteria visibilitas hilal Ilyas menggunakankombinasi dua parameter, yaitu parameter ketinggian relatif geosentrik (geocentric relativealtitude) dan azimut relatif (relative azimut). Kriteria visibilitas hilal yang digunakan olehIlyas adalah: (1) Beda tinggi Bulan-Matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4°jika beda azimut Bulan-Matahari lebih dari 45°. Jika beda azimutnya 0°, maka beda tinggi Bulan-Matahari harus lebih dari 10.5°, (2) Terbenamnya Bulan sekurang-kurangnya 41 menitlebih lambat daripada terbenamnya Matahari dan memerlukan beda waktu yang lebih besaruntuk daerah yang lintangnya tinggi, (3) Hilal harus berumur lebih dari 16.5 jam bagi pengamatdi daerah tropis dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di daerah yang lintangnya lebihtinggi. Aplikabilitas pemikiran Mohammad Ilyas tentang kriteria visibilitas hilal (crescentvisibility) sebagai upaya penyatuan kalender Islam Internasional sampai saat ini belum dapatditerima oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria visibilitashilal yang dipakai oleh umat Islam di Indonesia (Kementerian Agama RI) dengan kriteriaIlyas. Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang digagasIlyas juga selalu berubah-ubah setiap bulan sehingga seringkali menimbulkan perbedaan haridalam memulai bulan baru di suatu daerah atau negara.Kata Kunci: penyatuan; kalender Islam Internasional; visibilitas hilal.
IMPLEMENTASI MAQASID SYARIAH PADA ANNUAL REPORT BANK UMUM SYARIAH SEBAGAI MITRA UNIVERSITAS ISLAMI (STUDI KASUS PADA BANK SYARIAH MANDIRI) Frisztina Anisa; Veni Soraya Dewi; Ade Vira Agustina
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 1, Special Issue 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i1.11648

Abstract

Islam has arranged all matters relating to human life in the world, including economic activities. In carrying out economic activities must be in accordance with the purpose of life of a Muslim with its implementation is mashlahah on the activities of maqasid syaria. Maqashid sharia has five factors, namely guarding religion, guarding the soul, guarding reason, guarding offspring, and protecting property. Sharia Commercial Bank as a supporter of the community's economy in carrying out all its activities must be based on sharia provisions. Annual Report reflects the activities of Sharia Commercial Banks both financial and non-financial. Maqasid Sharia as an indicator of the implementation of sharia principles must be reflected in the Sharia Commercial Bank Annual Report. This study aims to determine the implementation of the Maqasid Syaria in the Sharia Commercial Bank annual report. The sample in this study is Bank Syariah Mandiri Annual Report. The research method used in this study is qualitative research that is descriptive research and analysis based on theories and other supporting sources. The results of the study are Bank Syariah Mandiri has implemented all aspects of the maqasid syaria as reflected in the Annual Report.Islam sudah mengatur segala urusan yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia, termasuk aktifitas ekonomi. Dalam melakukan aktivitas ekonomi harus sesuai dengan tujuan hidup seorang muslim dengan implementasinya adalah mashlahah pada aktivitas maqasid syariah. Maqashid syariah memiliki lima faktor, yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Bank Umum Syariah sebagai salah satu pendukung perekonomian masyarakat dalam menjalankan segala aktivitasnya harus berdasarkan ketentuan syariah. Annual Report mencerminkan dari aktifitas Bank Umum Syariah baik keuangan maupun non keuangan. Maqasid Syariah sebagai indikator terlaksananya prinsip syariah harus tercermin dalam Annual Report Bank Umum Syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi maqasid syariah pada annual report Bank Umum Syariah. Sampel pada penelitian ini adalah Annual Report Bank Syariah Mandiri. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bersifat deskriptif dan analisis berdasarkan teori dan sumber-sumber lain yang mendukung. Hasil dari penelitian adalah Bank Syariah Mandiri telah mengimlementasikan seluruh aspek maqasid syariah yang tercermin pada Annual Report.
PENDIDIKAN ANAK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM (STUDI PEMIKIRAN PROF. DR. ZAKIYAH DARADJAT) Waston Waston; Miftahudin Rois
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6298

Abstract

The background of this research is the discovery of educators often less understood aspects of child psychology in education. Komnas PA via Media Center, noted that the majority of child abuse occurs in the immediate environment such as home and school, 62 percent of child abuse occur in the immediate environment of family and school environment, the remaining 38 percent in the public space, coupled with the state of Islamic education that was not based on the psychology of Islam. The purpose of this study is to describe the rationale Zakiyah about children's education, and invented the concept of children's education in psychology perspective of Islam, and its implications for Islamic education. This type of research library research, data collection techniques using the documentation, after the data is collected and analyzed by descriptive analysis and content analysis. The first results of this study: Zakiyah have a view of the basic concepts of human has three main dimensions, namely, physical, psychological, spiritual. Zakiyah refer to mankind as a pedagogic, then the pedagogical process Zakiyah grounded on the theory of convergence. Parenting education in children should be in accordance with the child's psychological condition, namely the authoritative style. Second: to educate the perspective piskologi Islam, will make children more healthy soul to those who have a peak physical condition, mental aptitude intellectual (IQ) is high, the health condition of the soul / kepibadian mature and stable in mental emosinalnya (EQ), integrity high personality (mental-social), and has the firmness of faith and Islam. Third, the psychological concepts of Islam which has four dimensions, it will have implications for the study of Islam, namely to create a balanced growth of the human personality as a whole, by training the soul, a mind, physical, ruhaniahnya, because basically the entire education should pursue the growth of human potential.Latar belakang penelitian ini adalah sering ditemukannya para pendidik yang kurang memahami aspek-aspek psikologi anak dalam pendidikan. Komnas PA melalui Pusdatin, mencatat, sebagian besar kekerasan anak terjadi di lingkungan terdekat seperti rumah dan sekolah, 62 persen kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan terdekat keluarga dan lingkungan sekolah, selebihnya 38 persen di ruang publik, ditambah lagi dengan  keadaan pendidikan Islam  yang ternyata tidak dilandasi dengan psikologi Islam. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dasar pemikiran Zakiyah tentang pendidikan anak, dan menemukan konsep pendidikan anak dalam perspektif psikologi Islam, serta implikasinya terhadap pendidikan Islam. Jenis penelitian ini library research, teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif dan content analysis. Hasil penelitian ini yang pertama: Zakiyah memiliki pandangan terhadap konsep dasar manusia yang memiliki tiga dimensi utama yaitu, fisik, psikis, spiritual. Zakiyah menyebut manusia sebagai makhluk pedagogik, kemudian pada proses pedagogiknya Zakiyah melandaskan pada teori konvergensi. Pola asuh pendidikan pada anak harus sesuai dengan kondisi psikologis anak, yaitu dengan gaya autoritatif.  Kedua: mendidik dengan persepektif piskologi Islam, akan menjadikan anak lebih sehat jiwanya yaitu mereka yang memiliki kondisi fisik yang prima, kecerdasan mental intelektual (IQ) yang tinggi, kondisi kesehatan jiwa/kepibadian yang matang dan stabil dalam mental emosinalnya (EQ), mempunyai integritas kepribadian yang tinggi (mental-sosial), dan mempunyai keteguhan iman dan Islam. Ketiga, konsep psikologi Islam yang memiliki empat dimensi itu, akan berimplikasi pada pendidikan Islam, yaitu menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal pikiran, fisik, ruhaniahnya, karena pada dasarnya pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia.
ترجيحات الإمام أبي عبيد القاسم بن سلاّم بن عبد الله الهروي في الزكاة من كتاب الأموال M Muthoifin; Sudarno Humaidi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.8084

Abstract

Abstract: The needs of low income families hasn't been fulfilled as it should be. Even poverty issues hasn't been solved yet. Therefore, the writer willing to involve in solving the issue by presenting the results of Tarjih from Ulama who's mastered in so many religious disciplines. He lives in Imam Syafi'ie and imam Ahmad's era. He is famous with his ability in Arabic language. He is Qasim bin Salaam, which commonly known as Abu Ubaid. He states on his book (Kitabul Amwal) Varieties of sources of public wealth managed by the government. Some of them are taxes, Ghanimah, Fa'i, Zakat and so many more. Meanwhile the writer only picks Zakat as his research object. This is because all Muslims have the ability and freewill to manage it at the maximum level. The writer limits his research into two points: first: what is the results of Abu Ubaid's Tarjih. Second: what is the method of Abu Ubaid in his Tarjih. The main purpose of this research is to know his tarjeh and the basis of it. While providing benefits to Amil zakat, fatwa institutions, and alike. So that the result of this research serve as a reference in regulating the wealth allocation on Zakat and in issuing fatwa. The conclusions of the research is: That in general Abu ubaid uses the method (manhaj) of the majority of ulama in interact with Dalils that looks contradictive. First, he tried to colaborate (jam'u) two Dalils that contradictive. Then if it can't be collaborated, he chooses (tarjih) one of the two Dalils without using the others. He wasn't do Naskh because he was able to Tarjih the whole problem of zakat in his book. If there is two Dalils that contradictive, he'll choose the Shohih one. He put Dalil first rather than Atsar and Qiyas. However if the Dalil is Dhoif he will choose Atsar and Qiyas. He put Atsar of the shohabat first rather than the words of ulama after them. If there is two Qiyas that contradictive, he'll choose Qiyas that supported with Dalils or in accordance with the general rules of the religions. Abstrak: Kebutuhan orang-orang yang berkekurangan belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Bahkan kefakiran dan kemiskinan juga belum teratasi. penelitian ini sebagai wujud dari andil kami dalam menuntaskan masalah tersebut dengan cara mempersembahkan hasil Tarjih seorang ulama yang menguasai banyak disiplin ilmu Agama, hidup di masa imam Syafi’i dan imam Ahmad dan terkenal sebagai ahli bahasa Arab. Dia adalah Qosim bin Sallam yang biasa disebut Abu Ubaid. Dalam bukunya (Kitabul Amwal) ia menulis bermacam-macam sumber kekayaan umum yang dikelola olah Negara. Seperti pajak, Ghonimah, Fa’i’, Zakat dan lain sebagainya. Permasalahan Zakatlah yang kami pilih sebagai obyek penelitian karena umat Islam memiliki kemampuan dan kebebasan untuk mengelolanya secara maksimal. Penelitihan ini kami batasi pada dua point saja: Pertama : Apa saja hasil Tarjeh Abu Ubaid. Kedua : Sebab atau landasan beliau dalam mentarjih. Tujuan utama dari penelitihan ini adalah mengetahui hasil Tarjeh Abu Ubaid serta landasannya dan memberikannya kepada lembaga-lembaga amil Zakat, lembaga-lembaga fatwa, dan yang serupa dengan itu. Agar hasil penelitihan ini dijadikan sebagai bahan rujukan dan pertimbangan dalam mengatur harta Zakat dan mengeluarkan fatwa. Kesimpulan dari penelitihan ini bahwa secara umum Abu Ubaid menggunakan methode (Manhaj) mayoritas Ulama dalam berinteraksi dengan dalil-dalil yang kelihatannya bertentangan. Yaitu pertama-tama ia berusaha mengkolaborasi (Jam’u) dalil-dalil yang bertentangan. Jika tidak dapat dikolaborasikan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu dari dalil-dalil tersebut. Ia tidak melakukan Naskh karena sanggup mentarjih seluruh permasalahan Zakat dalam bukunya. Jika ada dalil-dalil yang bertentangan, maka ia memilih (mentarjih) salah satu yang ia anggap Shohih. Jika ada Hadits, Atsar dan Qiyas saling bertentangan, maka ia mendahulukan Hadits dari pada Atsar dan Qiyas, jika Hadits tersebut Shohih. Jika Haditsnya Dhoif, ia lebih memilih Atsar dan Qiyas. Jika hanya terdapat satu Hadits dalam suatu masalah, jika Hadits tersebut dikuatkan oleh Atsar atau Qiyas, maka ia tetap mengambilnya meskipun Dhoif. Ia mengutamakan Atsar Sabahat dari pada perkataan ulama setelah mereka. Jika ada dua Qiyas yang bertentangan beliau memilih Qiyas yang didukung oleh dalil atau sesuai dengan kaidah-kaidah umum Agama.  الملخص: إن مما يدفع الباحث إلى اختيار هذا الموضوع ما يجري في واقع الحياة بمحتمعنا أن حوائج المحتاجين لم تسد على الوجه المطلوب والفقر والحرمان لم يمحا من الوجود . فأراد الباحث إسهام ما استطاع لأجل المشاركة في حل هذه القضية بتقديم ترجيحات أبي عبيد القاسم بن سلاّم الهروي في مسائل الزكاة . لأنه عالم متقن في كثير من الفنون الإسلامية ومن معاصري الإمامين الشافعي وأحمد وممن يقبله الناس. اختار الباحث مسائل الزكاة من كتابه لتكون موضوعا لبحثه لأن المسلمين لايزالون في سعة وقدرة في تنفيذها بخلاف المسائل الأخرى . وحدد الباحث نقطتين لبحثه . الأولى ترجيحاته والثانية أسباب ترجيحاته وتعليلاتها . مستهدفا معرفة ترجيحات أبي عبيد وأسبابها ، لتكون مرجعا للقائمين بجمع الزكاة وصرفها في مواضعها ، وليسترشدوا بها في تطبيقاتهم لأحكام الزكاة . كما استهدف إبراز جانب الفقه في شخصية أبي عبيد . والمنهج الذي أسير عليه في كتابة هذا البحث هو ذكر أقوال الفقهاء التي ذكرها أبو عبيد وأدلة كل قول بإيجاز ، ثم أذكر ترجيحاته مع بيان أسبابها وتعليلاتها . ثم أذكر موقفي من ترجيحاته موافقة أو مخالفة مع بيان أسباب ذلك. وقد توصل الباحث إلى التنيجة التي تتلخص فيما يلي : إن أبا عبيد قد نهج منهج الجمهور في التعامل بين النصوص الشرعية التي ظاهرها التعارض . حيث إنه حاول الجمع بينها أولا ، وإذا لم يمكنه ذلك قام بترجيحها . ولم يدخل أبو عبيد في النسخ لأنه استطاع ترجيح جميع مسائل الزكاة في كتابه . وعند التعارض بين النصوص قام بترجيح النص الصحيح . وعند التعارض بين النص والآثار والقياس فإنه رجح النص عليها إن كان صحيحا ، وإذا كان ضعيفا فإنه رجح الآثار والقياس عليه . وإذا لم يوجد في المسألة إلا حديث واحد فإنه أخذه بشرط أن تكون هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده ، وإن لم تكن هناك آثار وقياس تشهد له وتؤيده فإنه لا يأخذه . قدم أبو عبيد آثار الصحابة على أقوال من بعدهم . وعند التعارض بين الأقيسة رجح أبو عبيد قياسا صحيحا مؤيَّدا بالنص أو بالقواعد العامة في الدين على قياس فاسد عير معتبر . وقد يرجح بين أقوال الفقهاء بناء على مهارته في تفسير ألفاظ النصوص الشرعية.الكلمات الرئيسة: ترجيح، أبو عبيد، الزكاة، كتاب الأموال.
PERSPEKTIF TEOLOGIS A COMMON WORD SEBAGAI TITIK TEMU ANTARA ISLAM DAN KRISTEN: TELAAH PEMIKIRAN IBRAHIM KALIN Agus Miswanto
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16670

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran Ibrahim kalin tentang teologis A Common Word sebagai basis hubungan relasional islam-Kristen. Ibrahim kalin merupakan salah seorang intelektual Turkey kontemporer yang cukup berpengaruh. Dengan pendekatan historis dan filsafat kontemporer, Ibrahim Kalin menemukan basis teologis A Common Word hubungan Islam dan Kristen yang kuat dalam praktek Islam pada zaman Nabi SAW. Dan ini dapat menjadi landasan pengembangan hubungan Islam-Kristen yang positif dan harmonis. Dan hubungan Islam-Kristen yang adem panas selama ini, sesungguhnya berangkat dari polemic teologis paska Nabi SAW sebagai respon terhadap persoalan geopolitik zaman itu, sehingga berdampak pada hubungan Islam-kristen yang bersifat fluktuatif, dan cenderung kurang harmonis. Lebih lanjut, perubahan politik dan social dunia barat, juga tidak memberikan kontribusi dalam pengembangan hubungan relasional Islam Kristen. Karena paradigam hubungan unipolar yang dikembangan dunia barat, justru semakin merusak ragam peradaban yang berbeda dengan dunia barat. Oleh karena pengembangan hubungan Islam-Kristen kedepan harus mengedepankan pola multipolar, keragaman dunia dan kesetaraan. 
وليمة الزواج في العرف البوغيسي في منظور الفقه الإسلامي (دراسة حول الهدية في الوليمة) Imron Rosyadi; Dewi Indriani
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v0i0.8953

Abstract

The perfection of Islam as a guideline of human being appears in the instructions that cover all aspects of human life both personal and social; one of them is wedding ceremony and its procedure. However, the implementation of wedding ceremony is influenced by custom and culture of the local community which has been done from generation to generation. Bugis people have a habit of giving wedding gift to the bride or the bride's family which is called passolo. That habit is intended to share happiness and help to the bride's family in carrying out the wedding ceremony, which as time passed, that habit is develop like debt with recording and replying passolo to each other. Therefore, this paper aims to find out the essence of this habit according to the Bugis community, and then examine this habit from the side of the Sharia, so that the law can be concluded. To obtain the legal conclusions of this problem, the author uses a qualitative method with an inductive analysis approach. The results of the study show that the habit of Bugis people in giving passolo to the bride is not a debt agreement but more like unexpected gift, the law is permissible and not prohibited. Abstrak: Kesempurnaan Islam sebagai pedoman hidup manusia nampak dalam petunjuknya yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia baik yang sifatnya pribadi maupun yang bersifat sosial,salah satu diantaranya adalah pernikahan dan tata caranya.Namun hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan pernikahan tidak lepas dari kebiasaan dan adat masyarakat setempat yang telah dilakukan secara turun temurun.Masyarakt suku Bugis memiliki kebiasaan memberikan hadiah pernikahan kepada mempelai atau keluarga mempelai yang mereka sebut dengan istilah passolo.Kebiasaan yang dimaksudkan untuk berbagi kebahagian dan membantu keluarga mempelai dalam pelaksanaan pesta pernikahan seiring waktu kemudian berkembang menjadi seperti layaknya hutang piutang dengan adanya pencatatan dan kebiasaan saling membalas passolo.Karena itu,makalah ini bertujuan untuk mengetahui hakikat kebiasaan ini menurut masyarakat Bugis untuk kemudian mengkaji kebiasaan ini dari sisi syariat sehingga dapat disimpulkan hukummya. Untuk memperoleh kesimpulan hukum masalah ini,penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis induktif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat bugis memberikan passolo kepada mempelai bukan sebuah aqad hutang piutang melainkan hadiah yang tidak diharapkan balasannya,maka secara syariat hukumnya boleh dan tidak terlarang.الملخص: إن من دلائل كمال دين الإسلام هي شموليته لجميع نواحي حياة الإنسان إما متعلق بنفسه كالفرد أو متعلق بغيره لكونه كائن اجتماعي، ومن هذه الناحية هي الزواج وما يتعلق به من الأحكام.والقضية التي لا ننكرها أن هناك ثمة العادات والتقاليد حول الزواج وكيفية تنفيذه يتقيّد بها المجتمع جيلا بعد جيل.جرى العرف عند المجتمع البوغيسي في الزواج بتقديم الهدية للعرسين أو صاحب الوليمة ما يُسمونها بهدية الوليمة بسولو(passolo). وكان هذا العرف يهدف إلى إعانة أهل العروسين في سداد حوائج وتكاليف الزواج والوليمة، هذا بالإضافة إلى إدخال السّرور عليهم.وقد تحوّل الحال في الوقت الحاضر حيث صار الأمر كالدَين حيث يسجل اسم كل من قدم هدية الوليمة بسولو (passolo) في دفتر خاص يتم العودة إليه عند دعوة أهل العريس لمناسبة مماثلة لدى من قدّمها.لوجود تلك الظاهرة،فهذه المقالة تهدف إلى معرفة حقيقة هذا العرف عند المجتمع البوغيسي للحصول على حكمه في الشرع. كان البحث كيفي المنهج باستخدم الطريقة الاستقرائية في حلّ البيانات، وينتج النتائج، منها: أن المجتمع البوغيسي يعتبرون هدية الوليمة بسولو(passolo) هي هدية مجردة وليست دينا يجب سداده بالمثل،وقد يتوفر في هذا العرف شروط اعتباره محكما ولا يخالف أصلا قطعيا في الشرع فيكون حكمه جائز شرعا لأن العادة محكمة والمعروف عرفا كامشروط شرطا.
PEMIKIRAN ASY-SYÂTIBÎ TENTANG MASLAHAH MURSALAH Imron Rosyadi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 1, Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i1.2009

Abstract

This paper discusses the application of maslahahmursalahmethod inestablishing an Islamic law. The writerstudies AsySyatibi’s thought that defines maslahahmursalah.He writes thatmaslahahmursalahis a new case that has not beenstated in a certain argumentation (nash) but it has benefits which are in line with (almunâsib)Islamic law. The conformity in deed to the Islamic law (tasharrufât) doesnot have to be always supported by certain argumentation (nash) that underlies andrefers to the conformity but it can be a collection of argumentations that give certainbenefits (qat’i). The new cases that contain benefits and have not had their confirmationare decided by maslahahmursalah, whether accepted or refused. The cases are relatedto muamalat not to rituals. The use of maslahahmursalahas the argumentation todecide a law is just for the need that is dharûrî and hâjî. Deciding the benefits from anaction that will be used as argumentation on maslahahmursalah can use commonsensemaximallyKey words: Asy-Syatibi, maslahahmursalah, argumentationMakalah ini membahas penerapan metode maslahah mursalah dalampenetapan suatu hukum Islam. Penulis mengkaji pemikirana sy-Syâtibî, yang mendefinisikanmaslahah mursalah adalah maslahah yang ditemukan pada kasus baruyang tidak ditunjuk oleh nash tertentu tetapi ia mengandung kemaslahatan yang sejalan(al-munâsib) dengan tindakan syara.» Kesejalanan dengan tindakan (tasharrufât)syara» dalam hal ini tidak harus didukung dengan dalil tertentu yang berdiri sendiridan menunjuk pada maslahahtersebut tetapi dapat merupakan kumpulan dalil yangmemberikan faedah yang pasti (qat»î). Masalah-masalah baru yang belum adakonfirmasinya, baik dibenarkan maupun ditolak, dan mengandung kemaslahatan yangdiputuskan dengan maslahah mursalah adalah berkaitan dengan masalah-masalahmuamalat, bukan berkaitan dengan ibadah. Penggunaan maslahah mursalah sebagaidalil penetapan hukum hanya untuk kebutuhan yang sifatnya dharûrî dan hâjî.Menentukan kemaslahatan dari suatu tindakan yang nantinya akan dijadikan dasarpertimbangan dalam dalil maslahah mursalah dapat menggunakan akal secaramaksimal.Kata Kunci: Asy-Syatibi, masalahah mursalah, dalil hukum
TAFSIR QUR’AN INDONESIA TENTANG AGAMA-AGAMA: Telaah Kitab “Al-Quran dan Tafsirnya” dan Kitab “Tafsir al-Mishbah” Syamsul Hidayat
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5296

Abstract

This study departs from the questions of how the paradigm of the study of religions according to the Koran, which include: the vision of the Quran about the meaning and concept of religion, the Koran's vision about the meaning and scope of the study of religions, Quran vision methods and approach, and purpose in religious studies. Methodologically, this study focuses its study on the book of Tafsir al-Misbah M. Quraish Shihab's work, and al-Karim wa Quranul Tafsiruhu Ministry of Religious Affairs team works primarily related verses above problems, by using mawdû'i approach. After going through the process of data collection and analysis, some conclusions can be drawn se¬bagai the following: (1) The concept of religion in the sight of the Koran there are two meanings, as the revelation of God's religion is absolute and sacred, and aga¬ma as the process and outcome of human understanding the revelation of God, which is profane and relative, (2) Al-Quran shows that the study of religion, both in the sense and meaning ke¬dua first, the principle of plurality. The existence of truth claims, is at the basic ideas and the religious substance of the cored al-Islam or al-istislam, and tawhid. The study of religions in view of the Quran in addition to nature of science, as well as socio-ethical and theological. Kajian ini berangkat dari pertanyaan bagaimanakah paradigma studi aga­ma-agama menurut Al-Quran, yang meliputi: visi Al-Quran tentang makna dan konsep agama, visi Al-Quran tentang pengertian dan ruang lingkup studi agama-agama, visi Al-Quran tentang metode dan pendekatan, serta tujuan dalam studi agama. Secara metodologis, kajian ini memfokuskan kajiannya ke­pa­da kitab Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dan Al-Quranul Karim wa Tafsiruhu karya Tim Kementerian Agama RI terutama ayat-ayat yang berkaitan permasalahan di atas, dengan menggunakan pendekatan mawdû'i. Setelah melalui proses pengumpulan data dan analisis, dapat diambil beberapa kesimpulan se­bagai berikut: (1) Konsep agama dalam pandangan Al-Quran ada dua makna, agama sebagai wahyu Allah yang mutlak dan sakral,  dan aga­ma sebagai proses dan hasil pemahaman manusia terhadap wahyu Allah, yang bersifat profan dan relatif, (2) Al-Quran menunjukkan bahwa kajian ter­­­hadap agama, baik dalam arti  yang pertama maupun makna yang ke­dua, dengan prinsip pluralitas. Adanya klaim ke­benar­an, berada pada wilayah ide-ide dasar dan substansi keberagamaan yang berintikan pada al-islâm atau al-istislâm, dan tawhid. Studi aga­ma-agama dalam pandangan Al-Quran di­sam­ping bersifat keilmuan, juga sosial etis dan teologis.