cover
Contact Name
Ni Luh Gde Sumardani
Contact Email
-
Phone
+6281338996609
Journal Mail Official
fapetmip@gmail.com
Editorial Address
Gd. Agrokompleks Lt.1 Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Majalah Ilmiah Peternakan
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08538999     EISSN : 26568373     DOI : https://doi.org/10.24843/MIP
Majalah Ilmiah Peternakan (MIP) diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Udayana. MIP terbit secara berkala, tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni dan Oktober. MIP merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan tekhnologi) serta sosial ekonomi bidang peternakan. Manuskrip terbuka untuk para dosen dan peneliti yang berkaitan dengan bidang peternakan, serta terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan S3, dengan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan oleh MIP.
Articles 374 Documents
PENGGUNAAN NITROGEN PADA SAPI BALI PENGGEMUKAN YANG DIBERI RANSUM BERBASIS JERAMI PADI DENGAN AMONIASI UREA DAN SUPLEMENTASI MINERAL GDE OKA SUSILA IDA BAGUS GAGA PART, TJOK.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 8 No 1 (2005)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.307 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan nitrogen pada sapi Bali penggemukan yang diberi ransum berbasis jerami padi dengan amoniasi urea dan suplementasi mineral. Penelitian dilaksanakan di Banjar Siut, Desa Tulikup, Kabupaten Gianyar dan di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat kali ulangan sehingga terdapat 12 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri atas satu ekor sapi Bali jantan umur 1,5 ? 2 tahun dengan rata-rata berat badan awal 225,8 12,4 kg. Adapun ketiga perlakuan tersebut adalah ransum (A) terdiri atas 23% jerami padi amoniasi urea dan 77% konsentrat, ransum (B) adalah ransum (A) ditambahi amonium sulfat 0,05%, dan ransum (C) adalah ransum (B) ditambahi pignox 0,03%. Ransum disusun isokalori (66,68% TDN) dan isoprotein (13,16% CP). Ransum dan air minum diberikan secara Ad libitum Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi N pada perlakuan B adalah 3,68% lebih rendah (P>0,05) dan perlakuan C 6,27% nyata lebih tinggi (P<0,05) jika dibandingkan dengan ransum A. Produksi N feses pada perlakuan B adalah 3,93% nyata lebih rendah (P<0,05) dan perlakuan C, 2,47% nyata lebih tinggi (P<0,05) jika dibandingkan dengan perlakuan A. N urin yang dihasilkan pada perlakuan B dan C masing-masing 15,53 dan 6,60% nyata lebih rendah (P>0,05) jika dibandingkan dengan perlakuan A. N tercerna pada sapi yang mendapat perlakuan B dan C 3,73% lebih rendah (P>0,05) dan 7,92% nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan N tercerna pada perlakuan A. N teretensi pada perlakuan B 3,44% lebih tinggi (P>0,05) dan perlakuan C 16,79% nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A. N NU pada perlakuan B dan C masing-masing 7,14 dan 9,25% lebih tinggi (P>0,05) jika dibandingkan dengan perlakuan A. BV pada sapi yang mendapat perlakuan B dan C masing-masing 7,43 dan 8,20% lebih tinggi jika dibandingkan dengan BV pada sapi A (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa suplementasi mineral S dan Zn dalam ransum berbasis jerami padi amoniasi urea dapat meningkatkan konsumsi, kecernaan, dan retensi nitrogen pada sapi Bali penggemukan. Namun nilai biologis (BV) dan pemanfaatan nitrogen bersih (NNU) mengalami peningkatan secara tidak nyata.
PROFIL DARAH DAN TINGKAT KERUSAKAN HATI PADA SAPI BALI YANG DIGEMBALAKAN DI TEMPAT PEMEROSESAN AKHIR SUWUNG DENPASAR T I A S, Ardani; W S, Yupardhi; I N T, Ariana
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.918 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2016.v19.i01.p03

Abstract

Daging dapat terkontaminasi oleh parasit melalui pencemaran primer dan pencemaran sekunder. Salah satukontaminasi yang sering dijumpai pada sapi bali adalah penyakit cacing hati atau Fascioliasis. TPA Suwung yangberfungsi sebagai tempat pemerosesan akhir sampah dari seluruh daerah di kota Denpasar kini dialihfungsikanoleh masyarakat sebagai tempat memelihara ternak. Makanan pokoknya hanya dari sampah-sampah di areal TPAyang secara fisik hampir tidak dapat dibedakan lagi jenisnya, semua bercampur dan membusuk. Sering kali sesuaipermintaan, ternak dari TPA dijual Pasar Hewan atau langsung ke tukang potong yang akhirnya dikonsumsi olehmasyarakat. Hasil penelitian menunjukkan, semakin kecil rasio albumin:globulin maka semakin besar jumlah telurcacing yang terdapat dalam feses sapi bali yang dipelihara di TPA dan dan sapi kontrol dalam satuan telur per gram(tpg). Sebaliknya semakin sedikit jumlah telur semakin tinggi rasio albumin:globulin. Dapat disimpulkan bahwatidak terdapat hubungan antara rasio albumin:globulin dalam serum darah, namun terdapat hubungan yang nyataantara jumlah telur cacing dalam feses dengan persentase kerusakan hati sebagai pendugaan kerusakan hati akibatFascioliasis. Densitas telur cacing parasit usus pada hewan ternak sapi yang dipelihara di TPA bernilai <500 tpg,menunjukkan bahwa hewan ternak sapi tersebut tergolong mengalami infeksi ringan cacing parasit sehingga dagingmasih aman untuk dikonsumsi.
IDENTIFIKASI VARIASI FENOTIPIK AYAM KAMPUNG CARU DI BALI Sarini N. P.; I W. Wijana; N. M. A. Rasna; I N. Ardika
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.971 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i02.p04

Abstract

This study aimed to identify phenotypic variation of kampung chicken caru. This study was held at farmers,collectors and vendors kampung chikens in animal market in Bali. Phenotypic factors identified were comb types,feather, beak, and shank colors. The quantitative characters that were body mass and dimential. The qualitativedata collected was grouped the variation and the quantitative data then analyzed using descriptive quantitative andthe coefficient of variation was calculated. Black caru chicken had single and rose combs with beak and shank colorwere black and yellow. Whereas, red caru chicken had single, pea and rose combs with beak and shank color wereblack, white and yellow. For yellow caru chicken the comb was single and pea with the beak and shank were yellow.White caru chicken had single and pea combs with the color of the beak and shank were white. Similar to blackcaru, brumbun also chicken had single and pea comb with the color of beak and shank were black, white and yellow.Tibia length of brumbun caru chicken was vary (CV>15%) whereas wing length of red caru chicken was uniform(CV<15%). In conclusion, kampung caru chiken had vary of penothipic variation.
PENGGUNAAN BAGAS TEBU TERAMONIASI DAN TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERNAK DOMBA PRAYUWIDAYATI, MUCHAROMAH; WIDODO, YUSUF
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.879 KB)

Abstract

ABSTRAK Amoniasi dan fermentasi terhadap bagas tebu sebelum diberikan pada ternak ruminansia dapat meningkatkan kualitas nutrisi bagas tebu. Penggunaan di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan bagas teramoniasi dapat mempengaruhi penampilan ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai level bagas tebu teramoniasi dan terfermentasi dalam ransum terhadap kecernaan protein kasar, retensi nitrogen dan parameter metabolisme rumen pada ternak domba. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Data peubah hasil pernelitian dianalisis sidik ragam dan uji lanjut beda nyata terkecil (BNT). Bagas tebu terolah (diamoniasi dan difermentasi) digunakan sebagai perlakuan dalam ransum domba dengan empat (4) level : 0, 5, 10, dan 15% ransum (dalam bahan kering). Ransum penelitian ini disusun dengan kadar protein kasar (PK) 13-14% dan kandungan energi metabolis (ME) sebesar 2,6 Mkal/kg. Penelitian dilakukan secara in vivo terhadap 12 ekor domba lokal jantan. Peubah yang diukur adalah retensi nitrogen dan parameter metabolisme rumen (produksi amonia dan produksi volatile fatty acid (VFA)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai level bagas tebu terolah tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan protein (P>0,05) dan retensi nitrogen (P>0,05), tetapi berpengaruh nyata terhadap produksi amonia (P<0,05) dan produksi VFA (P<0,05).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT ADOPSI PETERNAK TERHADAP POLA KEMITRAAN AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN TABANAN Sugiantara I M.; I N. Suparta; N. W. T. Inggriati
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.253 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i01.p06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat adopsi peternak pola kemitraan ayam ras pedaging danfaktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu pengetahuan, persepsi, ketrampilan, intensitas komunikasi, sikap,dan motivasi. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tabanan. Jumlah responden dari penelitian adalah sebanyak120 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei menggunakan instrumentpenelitian berupa kuisioner. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur menggunakan metodeStructural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat pengetahuan, persepsi,ketrampilan, sikap, intensitas komunikasi, dan motivasi peternak kemitraan ayam ras pedaging di KabupatenTabanan berada pada tingkat sangat tinggi kecuali pada tingkat persepsi dan intensitas komunikasi yang beradapada tingkat tinggi; (2) Pengetahuan, persepsi, ketrampilan, dan intensitas komunikasi berpengaruh positif nyatadengan sikap peternak kemitraan ayam pedaging di Kabupaten Tabanan; (3) Pengetahuan, persepsi, keterampilan,dan intensitas komunikasi berpengaruh positif nyata dengan motivasi peternak kemitraan ayam ras pedagingdi Kabupaten Tabanan; (4) Pengetahuan, persepsi, ketrampilan, intensitas komunikasi, sikap, dan motivasiberpengaruh positif nyata dengan tingkat adopsi pola kemitraan ayam pedaging di Kabupaten Tabanan.Kata kunci: tingkat adopsi, pola kemitraan, usaha kemitraan ayam ras pedaging
IKLIM MIKRO DAN RESPON HEMATOLOGI KELINCI LOKAL (Lepus nigricollis) PADA JENIS KANDANG BERBEDA NURIYASA, I M.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.33 KB) | DOI: 10.24843/mip.2012.v15.i01.p02

Abstract

Salah satu kendala dalam pengembangan ternak kelinci adalah ternak ini sensitif terhadap perubahan faktor lingkungan. Pergeseran kondisi lingkungan (iklim mikro ) dari kebutuhan optmimum menyebabkan penurunan produktivitas. Kandang yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan merupakan salah satu solusi untuk mengurangi cekaman panas di daerah dataran rendah tropis. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan pertama adalah: kandang under ground shelter (K0), Kandang alas semen (K1) dan perlakuan ketiga adalah: kandang battery (K2). Kelinci yang dipergunakan adalah kelinci jantan lokal lepas sapih dengan umur 4 – 5 minggu. Variabel yang diamati adalah iklim mikro kandang dan respon hematologi ternak kelinci jantan lokal. Kandang K0 menyebabkan temperatur dalam kandang lebih rendah (P<0,05) daripada kandang K2, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan K1. Kelembaban udara dalam kandang K2 lebih tinggi (P<0,05) daripada K1 dan K0. Tidak terjadi perbedaan yang nyata (P>0,05) pada variabel intensitas radiasi, suhu maksimum dan suhu minimum pada perlakuan kandang berbeda. Tidak terjadi perbedaan yang nyata pada kandungan hematokrit, glukosa, dan trigliserida darah ternak kelinci yang dipelihara pada kandang berbeda. Kelinci yang dipelihara pada kandang K0 dan K1 menghasilkan kandungan haemoglobin dan eritrosit lebih tinggi (P<0,05) daripada K2, sedangkan kandungan leukosit darah kelinci yang dipelihara pada kandang K2 lebih tinggi (P<0,05) daripada K0 dan K1 Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandang under ground shelter dan kandang alas semen menyebabkan iklim mikro dan respon hematologi lebih baik daripada kandang battery.
PENGARUH PEMBERIAN STARBIO DAN EFFECTIVE MICROORGANISM- 4 ( EM-4) SEBAGAI PROBIOTIK TERHADAP PENAMPILAN ITIK JANTAN UMUR 0 ? 8 MINGGU LAKSMIWATI, NI MADE
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 9 No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.509 KB)

Abstract

RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Starbio dan Effective Microorganism-4 sebagai probiotik terhadap penampilan itik jantan umur 0?8 minggu, dan dilaksanakan di Denpasar. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan tujuh perlakuan, yaitu penambahan Starbio 0,50 g / kg ransum (S1), 1 g Starbio/ kg ransum (S2), 1,5 g Starbio/ kg ransum (S3) , penambahan 1 ml EM-4/ l air minum ( E1), 2 ml EM-4/l air minum ( E2), 3 ml EM-4 / l air minum ( E3) dan kontrol ( K). Masing-masing perlakuan diulang 4 kali (4 kelompok). Ransum yang digunakan selama delapan minggu penelitian adalah ransum Starter (0 ? 4 minggu) mengandung protein kasar 20, 06 % dan energi metabolisme 2847 Kkal/ kg dan ransum Grower (4?8 minggu) mengandung protein kasar 17 % dan energi metabolisme 2807 kkal/ kg. Ransum dan air minum diberikan ad-libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan starbio pada pakan dan EM-4 pada air minum dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan ransum (P<0,05), tetapi tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan. Peningkatan dosis pemberian starbio dari 0,5 sampai 1,5 g/kg pakan dan EM-4 pada air minum dari 1 ml sampai 3 ml air minum tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan, konversi ransum, dan konsumsi ransum.
METODE CEKAMAN LURUH BULU YANG COCOK UNTUK KONDISI DI INDONESIA HAMZAH, RAZAK ACHMAD
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 13 No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.691 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mencari Program Cekaman Luruh Bulu yang cocok dan menguntungkan dengan kondisi lingkungan dan kondisi peternak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan180 ekor ayam tipe medium (Dekalb Warren), umur 84 minggu. Percobaan yang berfaktor 2×2×2, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima kali ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 4 ekor ayam. Faktor pertama yaitu pemberian minum dan puasa minum selang sehari. Faktor kedua ialah jangka waktu puasa makan 10 hari dan puasa makan 5 hari. Faktor ketiga ialah jumlah makanan yang diberikan pada masa pemulihan yaitu pakan dengan jumlah 50%, dan 25% dari komsumsi normal. Jadi ada 9 jenis perlakuan program cekaman luruh bulu yang dicobakan. Data hasil penelitian dianalisis sidik ragam (ANOVA), dan dlakukan uji perbandingan orthogonal. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perlakuan B (puasa makan 10 hari pertama, tidak puasa minum, hari ke 11 sampai dengan ke 30, diberi pakan 25% dari normal, dapat meningkatkan rataan produksi telur ayam tua menjadi 68,20%, memperbaiki konversi ransum, dan nilai Haugh Unit dengan sangat nyata. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa metode Cekaman Luruh Bulu yang dipakai dalam penelitian ini, kalau diterapkan pada ayam tua akan mendapatkan keuntungan Rp 2.500.000,- per 1000 ekor ayam; sebaliknya kalau ayam tua itu dibiarkan saja bertelur terus tanpa perlakuan, peternak akan merugi Rp 467.000,- per 1000 ekor ayam. STRESS METHODS FOR MOLTING SUITABLE FOR CONDITIONS IN INDONESIA ABSTRACT The objective of the research is to find out the appropriate and beneficial forced molting program that suitable with the environment and the condition of the farmer in Indonesia. The research used 180 medium type chickens, strain Dekalb Warren, aged 84 weeks old. The research applied 2×2×2 factors and used complete randomized design in (CRD) 5 times replications with 4 chickens for each repeat. The first factor was water supplying and without water supply. The second factor was the duration of no feeding for 10 and 5 days. The third factor was the amount of feed given during recovery period, that was 50% and 25% of the normal consumption. So, the total of the treatment of forced molting program applied were 9 treatments. Data obtained were analysed using analysis of variance (ANOVA), orthogonal comparison test. The result obtained showed that the treatment B (without feeding for the first 10 days, having water supply, day 11 to 30 were feed 25% of normal consumption) could be increasing the average of egg production of old chicken to 68.20%, improving feed convertion, egg quality: Haugh Unit value, yolk percentage, significantly and no differences were obsesrved among treatments versus control for egg weighth, albumen percentage, eggshell thickness. The result was also showed that the Forced Molting Stress Method used in this experiment, would be giving profit of Rp 2,500,000;- per 1,000 chickens if implemented; in the contrary, if the old chickens are allow to keep laying egg without treatment, the farmer would get deficit of Rp 467,000;- per 1,000 chickens.
THE EFFECT OF COFFEE SKIN WASTE FERMENTATION (ASPERGILLUS NIGER) WITH DIFFERENT LEVEL IN DIET TO THE GROWTH OF KAMPUNG CHICKEN N. M. INTAN W. Y. K.; I M. MASTIKA; I M. NURIYASA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.595 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2018.v21.i01.p02

Abstract

An experiment was carried out to study the effect of fermented and not fermented coffee skin waste to the growthof kampong chicken. A completely randomized design, with five treatments and five replications were used so thereare 25 experiment units and each unit consisted of 4 cockerels. The Treatments as of P0: diet without coffee skinwaste (diet control), P1: diet containing non fermented coffee skin waste 10%, P2: diet containing non fermentedcoffee skin waste 20%, P3: diet containing fermented coffee skin waste 10% and P4: diet containing fermentedcoffee skin waste 20%. The variables measured were performance including the final body weight, weight gain,feed consumption, feed conversion ratio, water consumption, and carcass characteristics. Based on result,it can beconcluded that kampong chicken given diet with additional fermented and non fermented coffee skin waste up to20% level has no effect on the growth of kampong chicken age 3-11 weeks, but there is a tendency that the best dietis10% fermented coffee skin.
PENAMBAHAN ENZIM FITASE KOMPLEKS DALAM RANSUM BERBASIS DEDAK PADI TERHADAP PRODUKSI KADAR KOLESTEROL TELUR AYAM LOHMANN BROWN N. M., Witari; N. G. K., Roni; I. A., Putri Utami
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.78 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i03.p06

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim Fitasekompleks (Phylazim) dalam ransum berbasis dedak padi terhadap produksi dan kadar kolesterol telur ayam Lohmann Brown umur 42-50 minggu. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x2 dengan enam kali ulangan. Tiap ulangan menggunakan dua ekor ayam petelur Lohmann Brown umur 42 minggu dengan berat badan homogen. Faktor pertama adalah level dedak padi (15% dan 30%) dalam ransum, sedangkan faktor kedua adalah level enzim Phylazim (0% dan 0,30%). Ransum disusun isokalori (ME: 2750 kkal/kg) dan isoprotein (CP: 17%). Ransum dan air minum selama periode penelitian diberikan secara ad libitum. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi: konsumsi ransum, berat telur, jumlah telur, hen-day production, feed conversion ratio (konsumsi/berat telur), dan kadar kolesterol serum darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata (P>0,05) antara level dedak padi dan enzim Phylazim dalam ransum terhadap semua variable yang diamati. Penggunaan 30% dedak padi dalam ransum secara nyata (P<0,05) menurunkan produksi dan efisiensi penggunaan ransum dibandingkan dengan ransum 15% dedak padi. Suplementasi enzim Phylazim dalam ransum secara nyata (P<0,05) meningkatkan produksi telur dan efisiensi penggunaan ransum. Akan tetapi secara nyata (P<0,05) menurunkan kadar kolesterol serum darah ayam.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan 30% dedak padi dalam ransum ternyata menurunkan produksi telur ayam. Sebaliknya, suplementasi 0,30% enzim Phylazim dalam ransum nyata meningkatkan produksi telur dan menurunkan kadar kolesterol serum darah ayam Lohmann Brown umur 42-50 minggu.

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 1 (2024): Vol. 27 No. 1 (2024) Vol 26 No 3 (2023): Vol. 26 No. 3 (2023) Vol 26 No 2 (2023): Vol. 26 No. 2 (2023) Vol 26 No 1 (2023): Vol. 26 No. 1 (2023) Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022) Vol 25 No 2 (2022): Vol. 25 No. 2 (2022) Vol 25 No 1 (2022): Vol 25, No 1 (2022) Vol 24 No 3 (2021): Vol. 24 No. 3 (2021) Vol 24 No 2 (2021): Vol. 24 No. 2 (2021) Vol 24 No 1 (2021): Vol. 24 No. 1 (2021) Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020) Vol 23 No 2 (2020): Vol. 23 No. 2 (2020) Vol 23 No 1 (2020): Vol. 23 No. 1 (2020) Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019) Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019) Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019) Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018) Vol 21 No 2 (2018): Vol 21, No 2 (2018) Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018) Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017) Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017) Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017) Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016) Vol 19 No 2 (2016): Vol 19, No 2 (2016) Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016) Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015) Vol 18 No 2 (2015): Vol 18, No 2 (2015) Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015) Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014) Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014) Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014) Vol 16, No 1 (2013) Vol 15, No 1 (2012) Vol 14, No 1 (2011) Vol 13, No 3 (2010) Vol 13 No 1 (2010) Vol 12 No 3 (2009) Vol 11 No 1 (2008) Vol 10 No 3 (2007) Vol 10 No 2 (2007) Vol 10 No 1 (2007) Vol 9 No 3 (2006) Vol 9 No 2 (2006) Vol 9 No 1 (2006) Vol 8 No 3 (2005) Vol 8 No 2 (2005) Vol 8 No 1 (2005) Vol 7 No 2 (2004) More Issue