cover
Contact Name
Ni Luh Gde Sumardani
Contact Email
-
Phone
+6281338996609
Journal Mail Official
fapetmip@gmail.com
Editorial Address
Gd. Agrokompleks Lt.1 Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Jl. PB. Sudirman Denpasar, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Majalah Ilmiah Peternakan
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08538999     EISSN : 26568373     DOI : https://doi.org/10.24843/MIP
Majalah Ilmiah Peternakan (MIP) diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Udayana. MIP terbit secara berkala, tiga kali dalam setahun, pada bulan Februari, Juni dan Oktober. MIP merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan tekhnologi) serta sosial ekonomi bidang peternakan. Manuskrip terbuka untuk para dosen dan peneliti yang berkaitan dengan bidang peternakan, serta terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan S3, dengan mengikuti kaidah yang telah ditetapkan oleh MIP.
Articles 374 Documents
DINAMIKA FOLIKEL OVARIUM DOMBA PASCATRANSPLANTASI INTRAUTERIN PADA KELINCI PSEUDOPREGNANST Sumarmin, Ramadhan; Winarto, Adi; Yusuf, Tutty Laswardi; Boediono, Arief
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.248 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dinamika folikel pada ovarium domba pascatransplantasi secara intrauterin pada kelinci pseudopregnansi. Transplantasi dilakukan pada kelinci pseudopregnant hari ke 1 atau ke 7. Ovarium kembali diambil pada hari ke 5, 7, atau 9 setelah transplantasi. Untuk menentukan dinamika folikel pada ovarium domba pascatransplantasi dan menghitung jumlah folikel pada berbagai tahap perkembangan, ovarium domba pascatransplantasi dijadikan preparat histologis dengan metode parafin dan pewarnaan HE. Hasilnya masih ditemukan semua tahapan perkembangan folikel (folikel primordial, primer, preantral, dan antral) pada semua kelompok perlakuan. Jumlah folikel pada 5, 7 atau 9 hari pascatransplantasi menurun nyata (p<0,05) kecuali jumlah folikel primordial pada kelompok 5 hari pascatransplantasi (634,7±56,88) tidak berbeda nyata dengan kontrol (683,7±61,55). Dapat disimpulkan bahwa dinamika folikel ovarium domba pascatransplantasi pada kelinci pseudopregnansi masih dapat ditemukan pada semua kelompok perlakuan. THE FOLLICLE DYNAMICS OF EWE OVARIAN POST-INTRAUTERINE TRANSPLANTATION TO PSEUDOPREGNANCY RABBIT ABSTRACT The objective of this study was to evaluate the follicle dynamics of ewe ovarium post-intrauterine transplantation to pseudopregnanty rabbit. The experiment was concerned with the 1st or 7th days of pseudopregnancy to receive the ewe ovarium. After 5, 7, and 9 days transplantation the ewe ovarium were recollected. In order to determine the follicle dynamics of ewe ovari post-intrauterin transplantation and to count the number of each stage, the ewe ovari was prepared using the paraffin methods and staining with HE. The results showed all stages of the follicle dynamics (Primordial, Primary, Preantral and Antral follicle stages) were still found in all groups of treatment. The number of follicles decreased significantly (p<0.05) except the number of Primordial follicles of the 5 days post transplantation (634.7±56.88) was not significantly different (p<0.05) compared to the control group (683.7±61.55). It could be concluded that the follicle dynamics of ewe ovarium post-intrauterine transplantation in pseudopregnancy rabbit still found in all groups of the treatment.
KARAKTERISTIK ASAM AMINO PADA GELATIN KULIT KAKI TERNAK DAN KAJIAN POTENSI ANTIBAKTERINYA Miwada I N. S.; I K. Sukada
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.999 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2017.v20.i01.p08

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi karakter asam amino pada kulit kaki ternak jenis ayam broiler (G1),sapi (G2) dan kambing (G3) yang telah dihidrolisis menjadi gelatin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baikpada gelatin (G1); (G2) dan (G3) didominasi oleh asam amino esensial jenis histidin dan arginin. Jenis asam aminonon esensial didominasi oleh glutamat dan serin. Analisis morfologi permukaan gelatin dengan pendekatan SEMbahwa permukaan struktur molekul gelatin dari ekstraksi kulit kaki ayam lebih halus dan rata. Sementara padahasil ekstraksi kulit kaki sapi dan kambing masih banyak terdeteksi bundelan ikatan protein kolagen yang tidakterekstrak sempurna. Potensi gelatin dari aneka kulit kaki ternak ini dilakukan pengujian terhadap potensi antibakterinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelatin (G1), (G2) dan (G3) tidak memiliki kemampuan sebagaiantibakteri patogen baik terhadap jenis Salmonella typhii, Escherichia coli, dan staphylococcus aureus. Kesimpulanpenelitian bahwa profil asam amino gelatin dominan yang terdeteksi yakni asam amino esensial jenis histidin danarginin serta asam amino non esensial jenis glutamat dan serin. Analisis morfologi gelatin dengan pendekatan SEMadalah terjadi permukaan yang halus pada G1. Sedangkan gelatin dari G2 terlihat belum terekstrak sempurna danbahkan G3 lebih padat. Hasil uji gelatin terhadap kemampuan penghambatan bakteri patogen menunjukkan hasilyang negative. Kata kunci: kulit kaki ternak, gelatin, asam amino, SEM
PENGARUH TINGKAT PENGGANTIAN RANSUM KOMERSIAL DENGAN JAGUNG TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER YANG DIPELIHARA PADA KETINGGIAN TEMPAT ( ALTITUDE ) YANG BERBEDA PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; CANDRAWATI, DSK.P.M.A.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.315 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat yaitu di banjar Pande Desa Dajan Peken Tabanan dengan ketinggiantempat 50 m dari permukaan laut (dpl) merupakan dataran rendah dan di Stasiun Penelitian Fapet Unud, di DesaSobangan yang merupakan dataran sedang, dengan ketinggian tempat 300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui tingkat penggantian ransum komersial dengan jagung, yang paling sesuai pada ketinggian tempatpemeliharaan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola split-splot 2×3 dengan 3 kali ulangan.Sebagai main plot adalah Altitude atau ketinggian tempat pemeliharaan (A) yang terdiri dari daerah dataranrendah (A1) dan daerah dataran sedang (A2). Sebagai petak tambahan sub plot adalah tingkat penggantian ransumkomersial (R) yang terdiri dari (R0) 100% ransum komersial, tingkat penggantian ransum komersial dengan 10%jagung (R1) dan tingkat penggantian ransum komersial dengan 20% jagung (R2). Peubah yang diamati adalahberat hidup, berat karkas, prosentase karkas, prosentase komposisi fisik karkas (tulang, daging, lemak), serta datapenunjang yaitu suhu udara, kelembaban udara, megap-megap, konsumsi ransum, konsumsi energi, konsumsiprotein dan FCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan ayam pedaging pada perlakuan (A2) menghasilkanberat hidup, berat karkas, prosentase daging karkas nyata lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan (A1). Ayampedaging yang mendapat perlakuan R0 menghasilkan berat hidup, prosentase karkas dan prosentase lemak yangnyata lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan (R2). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidakterjadi interaksi yang nyata antara ketinggian tempat pemeliharaan dengan tingkat penggantian ransum komersialdengan jagung terhadap komposisi fisik karkas ayam pedaging.
PENGARUH SUPLEMENTASI KAPU - KAPU (PISTOIA STRATIOTES L) DALAM RANSUM TERHADAP KOLESTEROL PADA SERUM DAN DAGING AYAM KAMPUNG SUTAMA, I. N. SUTARPA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 8 No 2 (2005)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.515 KB)

Abstract

RINGKASAN Penelitian ini dilakukan di Denpasar, Bali dan bertujuan untuk mengetahui pemberian kapu - kapu (kayu apu)dalam ransum terhadap kolesterol pada serum dan daging ayam kampung. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat perlakuan (nol, 10, 20, dan 30% kapu ? kapu) dalam ransum dan tiga kali ulangan. Setiap ulangan menggunakan lima ekor ayam kampung dengan berat badan awal berkisar antara 149,99 ? 153,91g. Ransum yang digunakan berbentuk tepung (mash), disusun dengan kandungan energi metabolis 2600 kkal/kg dan protein 16,5%. Ransum dan air minum selama delapan minggu penelitian diberikan ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kapu ? kapu 10, 20, dan 30% dalam ransum nyata (P<0,05) menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) serum dan total kolesterol daging dan di sisi lain mampu meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) serum secara nyata (P<0,05). Pemberian kapu ? kapu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total kolesterol, trigliserida, dan VLDL (Very Low Density Lipoprotein) serum dibandingkan tanpa menggunakan kapu ? kapu (nol%). Dapat disimpulkan bahwa pemberian kapu ? kapu sampai 30% dalam ransum menurunkan LDL serum dan total kolesterol daging, di samping meningkatkan HDL serum.
PENAMBAHAN ENZIM FITASE KOMPLEKS DALAM RANSUM BERBAHAN DASAR DEDAK PADI TERHADAP PERFORMANS DAN LEMAK ABDOMEN ITIK A A P P, Wibawa; N M, Witariadi; I B G, Partama
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.997 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2016.v19.i01.p08

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim fitase kompleks (Phylazime) dalam ransumberbahan dasar dedak padi terhadap performans dan lemak abdomen itik bali umur 5-10 minggu. Rancangan yangdigunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan 6 ulangan, yaitu ransum basal dengan10% dedak padi sebagai kontrol (A), ransum dengan 20% dedak padi (B), dan ransum dengan 20% dedak padi dengansuplementasi 0,30% enzim Phylazime (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 20% dedak padi dalamransum ternyata tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, akan tetapi secara nyata (P<0,05)menurunkan pertambahan berat badan, efisiensi penggunaan ransum, dan lemak abdomen. Penambahan 0,30%enzim Phylazime dalam ransum yang mengandung 20% dedak padi nyata (P<0,05) meningkatkan pertumbuhandan efisiensi penggunaan ransum dibandingkan dengan tanpa penambahan enzim. Berdasarkan hasil penelitianini dapat disimpulkan bahwa penggunaan 20% dedak padi dalam ransum nyata menurunkan pertumbuhan danefisiensi penggunaan ransum dibandingkan dengan kontrol (10% dedak padi). Sebaliknya, dengan suplementasi0,30% enzim Phylazim dalam ransum yang menggunakan 20% dedak padi memberikan hasil yang sama dengankontrol (ransum dengan 10% dedak padi).
PENGARUH TIPE LANTAI KANDANG DAN KEPADATAN TERNAK TERHADAP TABIAT MAKAN AYAM PEDAGING UMUR 2-6 MINGGU PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; WIBAWA, AAP. PUTRA; CANDRAWATI, DPMA.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 11 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.291 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe lantai dan kepadatan ternak yang berbeda terhadap tabiat makan ayam pedaging telah dilaksanakan di Tabanan, Bali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial 3×3 dalam 3 blok. Faktor pertama adalah tipe lantai kandang yang terdiri dari litter sekam di tanah (L1), lantai slat bambu (L2) dan lantai litter panggung (L3). Faktor kedua adalah kepadatan ternak yang terdiri dari 10 ekor/m2 (P1), 12 ekor/m2 (P2), dan 14 ekor/m2 (P3). Hasil penelitian tabiat makan menunjukkan bahwa frekuensi makan, frekuensi minum, frekuensi istirahat pada L1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari L2. Lama makan pada L2 lebih lama dari L1 dan L3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama minum pada L3 nyata lebih lama (P<0,05) dari L1 dan L2. Lama istirahat pada L1 nyata lebih lama (P<0,05) dari L2. Lama panting pada L2 nyata lebih sedikit (P<0,05) dari L1 dan L3. Frekuensi makan pada P1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P2 dan P3. Frekuensi minum, frekuensi istirahat pada P1 lebih tinggi dari P2 dan P3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama makan pada P1 nyata lebih lama (P<0,05) dari P2 dan P3. Lama minum pada P2 nyata lebih lama (P<0,05) dari P1 dan P3. Lama istirahat dan lama panting pada P3 lebih lama dari P1 dan P2 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara tipe lantai dan kepadatan ternak terhadap tabiat makan, lantai slat bambu dan litter panggung menghasilkan tabiat makan yan lebih baik dibandingkan litter sekam di tanah. Kepadatan ternak 10 ekor/m2 menghasilkan tabiat makan lebih baik daripada 12 ekor/m2 dan 14 ekor/m2. THE EFFECT OF FLOOR TYPE AND BIRDS DENSITY ON FEEDING BEHAVIOUR OF BROILER AGED 2-6 WEEKS ABSTRACT The experiment aimed to study the effect of floor type and birds density on feeding behaviour of broilers. This experiment was carried out at Tabanan, Bali. The experiment used a completely randomized block design (CRBD) with factorial arrangement (3x3) in tree blocks. The first factor was floor type consisted of deep litter in the ground (L1), bamboo slat floor (L2) and litter podium floor (L3). The second factor was birds density consisted of 10 birds/m¬2 (P1), 12 birds/m2 (P2), and 14 birds/m2 (P3). The results of the experiment showed that the frequency of the eating, the drinking, and the resting at L1 were significantly higher (P<0.05) than L2. Time of feeding at L¬2 was longer than L1 and L3 but there were no significant differences (P>0.05). The time for drinking at L3 was significantly longer (P<0.05) than L1 and L¬2 and the time for resting at L1 was significantly longer (P<0.05) than L2 and also time for painting at L2 was significantly shorter (P<0.05) than L1 and L3. The frequencies of feeding at P1 was significantly higher (P<0.05) than P2 and P3. However, there were no significant differences on drinking and resting frequencies (P>0.05). The time feeding of P1 were significantly longer (P<0.05) than P2 and P3 and time for drinking at P2 were significantly longer than P1 and P3. Time for resting and panting at P3 were longer (P<0.05) than P1 and P2, but no significant differences (P>0.05). It was concluded that bamboo slat floor and litter podium make feeding behaviour better than chaff litter in the ground. There were no differences between density of 10 birds/m2, and 14 birds/m2 at bamboo slat floor and litter podium in feeding behaviour of broilers. Kata kunci : kepadatan kandang, tipe lantai kandang, tabiat makan, ayam pedaging
PENGARUH TRAY KARTON, KAYU DAN KAWAT TERHADAP KUALITAS TELUR AYAM ISA BROWN YANG DISIMPAN PADA SUHU KAMAR Wirapartha M.; K. A. Wiyana; G. A. M. Kristina Dewi; I W. Wijana
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.39 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i01.p01

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan tray karton,kayu, kawat untuk menyimpantelur ayam Isa Brown pada suhu kamar selama 28 hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahRancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (karton, kayu , kawat) dengan 6 ulangan dan setiap ulanganterdiri dari 10 butir. Variabel yang diamati baik eksterior dan interior telur, Haugh Unit dan kandungan nutrisitelur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan material tray karton, kayu, kawat tidak berpengaruh nyata(P> 0,05) terhadap kualitas eksterior telur, sedangkan perlakuan dengan kayu dan kawat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH, Haugh Unit dan kandungan protein dan lemak telur dibandingkan dengan tray karton. Darihasil penelitian dapat disimpulkan material tray karton, kayu , kawat tidak mempengaruhi kualitas eksterior telur,tetapi tray kayu dan kawat mempengaruhi kualitas interior pH, Haugh Unit, dan kandungan nutrisi protein danlemak telur ayam Isa Brown disimpan pada suhu kamar selama 28 hari.Kata kunci: karton, kualitas, kayu, kawat, telur
SUPLEMENTASI GAMAL SEBAGAI RUMEN DEGRADABLE PROTEIN (RDP) UNTUK MENINGKATKAN KECERNAAN (In Vitro) RANSUM TERNAK RUMINANSIA YANG MENGANDUNG JERAMI PADI SURYANI, NI NYOMAN; MANGKU BUDIASA, I KETUT; ARI ASTAWA, I PUTU
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.141 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2013.v16.i01.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan fermentatif bahan kering (KCFBK) dan bahan organik (KCFBO) serta hasil fermentasi ransum yang mengandung jerami padi dan disuplementasi dengan gamal sebagai RDP secara in vitro. Empat perlakuan ransum disusun berdasarkan BK adalah: (A) rumput gajah 45%+jerami padi 0%+gamal 15%+kaliandra 10%+konsentrat 30%; (B) rumput gajah 30%+jerami padi 10%+gamal 20%+kaliandra 10%+konsentrat 30%; (C) rumput gajah 15%+jerami padi 20%+gamal 25%+kaliandra 10%+konsentrat 30%, dan (D) rumput gajah 0%+jerami padi 30%+gamal 30%+kaliandra 10%+ konsentrat 30%. Fermentasi ransum secara in vitro pada pengamatan 4 dan 48 jam menggunakan metode Minson & Mc Leod Method (1972) yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan, pada fermentasi ransum secara in vitro baik pada inkubasi 4 jam maupun 48 jam, pH substrat ransum tetap berada dalam kisaran normal (6,54-,79). Meningkatnya jumlah gamal sebagai RDP dalam ransum meningkatkan konsentrasi N-NH3, KCFBK dan KCFBO. Konsentrasi N-NH3, KCFBK dan KCFBO meningkat pada inkubasi 48 jam dibandingkan inkubasi 4 jam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa potensi jerami padi sebagai komponen ransum ternak ruminansia terbaik ditunjukkan oleh perlakuan C dibanding semua perlakuan berdasarkan degradabilitas dan kecernaan BK dan BO ransum.
NITROGEN CONTENT AND DRY-MATTER DIGESTIBILITY OF GUINEA AND SABI GRASSES AS INFLUENCED BY TREE LEGUME CANOPY Amar, Andi Lagaligo
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 7 No 2 (2004)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.809 KB)

Abstract

A research study was undertaken to study the grass layer across a mini landscape dominated by tree legume Albizia lebbeck to explore the nutritional differences of two introduced grasses, guinea grass (Panicum maximum) and sabi grass (Urochloa mosambicensis), paying particular attention to the presence or absence of tree legume canopy of Albizia lebbeck. The two grass species showed a tendency to replace the native spear grass (Heteropogon contortus); their dominance was more or less complete under tree canopies but was increasing in open areas between trees. Nutritional differences were examined by nitrogen concentration and dry matter digestibility. For comparison, Heteropogon contortus, a native species only found in the open, was included in the nutritional determination using the same methods as the guinea and sabi grasses. The quality parameters of the pasture species were statistically compared (LSD, P=0.05). The quality of herbage was different between the species. Urochloa mosambicensis was better than Panicum maximum. In the open, sabi grass has higher N content (0.62%) than guinea grass (0.55%), but they were similar when grown under the canopy (0.69% and 0.72%, respectively). Sabi grass has consistently higher dry matter digestibility (41.39% and 36.83%, respectively under the canopy and in the open), than guinea grass (27.78% and 24.77%). These two species are much higher in both N concentration and dry matter digestibility than the native spear grass. The native species has contained 0.28% N, and 17.65% digestible dry matter. The feeding values of herbage were influenced by the canopy factor. Both guinea and sabi grasses have better quality when grown under the tree canopies than in between canopies. Nitrogen concentration and dry matter digestibility of the guinea grass under canopy were, 0.72% and 27.78%, respectively, significantly higher than those from the open area, 0.55% and 24.77%. Similarly, herbage of sabi grass under canopy has 0.69% and 41.39%, nitrogen content and digestible dry matter, respectively, which is significantly higher than herbage from the open sites, 0.62% and 36.83%.
PENGARUH PENYUNTIKAN PROSTAGLANDIN TERHADAP PERSENTASE BIRAHI DAN ANGKA KEBUNTINGAN SAPI BALI DAN PO DI KALIMANTAN SELATAN SUDARMAJI, SUDARMAJI; MALIK, ABD.; GUNAWAN, AAM
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.293 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon birahi dan angka kebuntingan pada sapi Bali dan PO di Kalimantan Selatan melalui gertak birahi dengan prostaglandin (PGF2? Jumlah sapi yang digunakan sebanyak 69 ekor yang terdiri atas 23 ekor sapi Bali dan 46 ekor sapi Peranakan Ongole (PO) yang tersebar di tiga desa. Semua sapi disuntik dengan PGF2?ebanyak dua kali dengan jarak penyuntikan 11 hari. Tiga hari setelah penyuntikan PGF2?ang kedua, dilakukan inseminasi buatan dan setelah tiga bulan dilakukan pengamatan terhadap angka kebuntingan. Data mengenai persentase estrus dan angka kebuntingan dianalisis dengan menggunakan uji ?Chi-Square?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penyuntikan pertama dengan PGF2?persentase birahi sapi PO (67,39%) lebih tinggi secara sangat nyata daripada sapi Bali (39,13%), dari semua sapi birahi setelah penyuntikan kedua. Angka kebuntingan sapi Bali (83,33%) lebih tinggi secara sangat nyata daripada sapi PO (47,37%).

Filter by Year

2004 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27 No 1 (2024): Vol. 27 No. 1 (2024) Vol 26 No 3 (2023): Vol. 26 No. 3 (2023) Vol 26 No 2 (2023): Vol. 26 No. 2 (2023) Vol 26 No 1 (2023): Vol. 26 No. 1 (2023) Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022) Vol 25 No 2 (2022): Vol. 25 No. 2 (2022) Vol 25 No 1 (2022): Vol 25, No 1 (2022) Vol 24 No 3 (2021): Vol. 24 No. 3 (2021) Vol 24 No 2 (2021): Vol. 24 No. 2 (2021) Vol 24 No 1 (2021): Vol. 24 No. 1 (2021) Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020) Vol 23 No 2 (2020): Vol. 23 No. 2 (2020) Vol 23 No 1 (2020): Vol. 23 No. 1 (2020) Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019) Vol 22 No 2 (2019): Vol. 22 No.2 (2019) Vol 22 No 1 (2019): Vol. 22 No.1 (2019) Vol 21 No 3 (2018): Vol 21, No 3 (2018) Vol 21 No 2 (2018): Vol 21, No 2 (2018) Vol 21 No 1 (2018): Vol 21, No 1 (2018) Vol 20 No 1 (2017): Vol 20, N0 1 (2017) Vol 20 No 3 (2017): Vol 20, No 3 (2017) Vol 20 No 2 (2017): Vol 20, No 2 (2017) Vol 19 No 3 (2016): Vol 19, No 3 (2016) Vol 19 No 2 (2016): Vol 19, No 2 (2016) Vol 19 No 1 (2016): Vol 19, No 1 (2016) Vol 18 No 3 (2015): Vol 18, No 3 (2015) Vol 18 No 2 (2015): Vol 18, No 2 (2015) Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015) Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014) Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014) Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014) Vol 16, No 1 (2013) Vol 15, No 1 (2012) Vol 14, No 1 (2011) Vol 13, No 3 (2010) Vol 13 No 1 (2010) Vol 12 No 3 (2009) Vol 11 No 1 (2008) Vol 10 No 3 (2007) Vol 10 No 2 (2007) Vol 10 No 1 (2007) Vol 9 No 3 (2006) Vol 9 No 2 (2006) Vol 9 No 1 (2006) Vol 8 No 3 (2005) Vol 8 No 2 (2005) Vol 8 No 1 (2005) Vol 7 No 2 (2004) More Issue