cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Psikologi Perseptual
ISSN : 25281895     EISSN : 25809520     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Psikologi Perseptual adalah jurnal ilmiah yang mengkaji penelitian empiris dari berbagai bidang serta sebagai media publikasi ilmiah dalam disiplin ilmu psikologi. Diterbitkan dua kali dalam setahun, setiap bulan Juli dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 169 Documents
Menguji Ulang Peran Sinisme Lingkungan Terhadap Perilaku pro-Lingkungan Pada Mahasiswa di Indonesia Muhammad Niam Makhali; Retno Hanggarani Ninin; Zainal Abidin; Rahmad Muliadi Damanik
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pro-environmental behavior (PEB) is essential for addressing the environmental crisis but is often hindered by various psychological barriers. One identified barrier is environmental cynicism, characterized by distrust in collective efforts and a belief in the futility of individual actions. Although cynicism is generally considered to impede PEB, research in the Indonesian context has shown conflicting findings. This study aimed to clarify the role of cynicism by examining its specific influence on the dimensions of private and public behavior. This quantitative study involved 376 university students (N = 376) from various universities in Indonesia, recruited using a convenience sampling technique. Data analysis using Structural Equation Modeling (SEM) indicated a good model fit (CFI = .991, RMSEA = .016). Hypothesis testing confirmed that environmental cynicism significantly negatively predicted private behavior (β = -0.250, p = .006) and also negatively predicted public behavior (β = -0.168, p = .020). These findings provide strong evidence that environmental cynicism is a consistent barrier to both forms of PEB in Indonesia, operating by undermining self-efficacy (private) and eroding social trust (public).   Perilaku pro-lingkungan (PEB) penting untuk mengatasi krisis lingkungan, namun sering terhambat oleh berbagai penghalang psikologis. Salah satu penghalang yang teridentifikasi adalah sinisme lingkungan, yakni ketidakpercayaan pada upaya kolektif dan keyakinan akan kesia-siaan tindakan individu. Meskipun sinisme umumnya dianggap menghambat PEB, penelitian di konteks Indonesia menunjukkan temuan yang bertentangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengklarifikasi peran sinisme dengan menguji pengaruhnya secara spesifik pada dimensi perilaku privat dan perilaku publik. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 376 mahasiswa (N = 376) di berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang direkrut menggunakan teknik convenience sampling. Analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) menunjukkan kecocokan model yang baik (CFI = .991, RMSEA = .016). Hasil pengujian hipotesis mengonfirmasi bahwa sinisme lingkungan secara signifikan memprediksi perilaku privat ke arah negatif (β = -.250, p = .006) dan juga memprediksi perilaku publik ke arah negatif (β = -.168, p = .020). Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa sinisme lingkungan adalah penghalang yang konsisten untuk kedua bentuk PEB di Indonesia, yang bekerja dengan cara merusak efikasi diri (privat) dan mengikis kepercayaan sosial (publik).
Gaya Kelekatan sebagai Moderator antara Stres Akademik dengan Alexithymia pada Mahasiswa Kedokteran I Gusti Ayu Agung Mirah Pradnyadewi; Putu Nugrahaeni Widiasavitri; Putu Yoga Sukma Pratama
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the role of academic stress on alexithymia, while simultaneously exploring how attachment styles moderate this relationship. High academic stressors increasingly hinder medical students'ability to recognize and express their emotions. The impact of academic stress on alexithymia is also linked to the attachment styles students develop with their parents, which assist them in coping with stressors. A probability sampling technique was employed to recruit 136 subjects meeting the research criteria. Data were analyzed using the PROCESS Macro Hayes analysis technique. The results demonstrate that academic stress has a significant positive effect on alexithymia (b = 1.421; p < 0.05; 95%CI[0.047-2.796]). Furthermore, attachment style significantly moderates the relationship between academic stress and alexithymia among medical students (△R2 = 0.062; F(3,128) = 4.560; p < 0.05). Consequently, Medical Educational Programs are expected to optimize the role of counselors regarding students’attachment patterns and emotional regulation, while parents should reassess their approaches to enable students to utilize their personal resources in overcoming academic and personal hurdles during university.   Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran stres akademik dengan alexithymia, sekaligus mengeksplorasi bagaimana gaya kelekatan memoderasi hubungan keduanya. Tingginya stresor akademis menyebabkan mahasiswa kedokteran semakin sulit mengenali dan mengekspresikan emosinya. Dampak stres akademik dengan alexithymia, juga berkaitan dengan gaya kelekatan yang dimiliki oleh mahasiswa dengan orang tuanya untuk membantunya menghadapi stresor. Teknik probability sampling digunakan untuk mengumpulkan subjek yang sesuai dengan kriteria penelitian, dengan total subjek sebanyak 136 orang dan dianalisis menggunakan teknik analisis PROCESS Macro Hayes. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa stres akademik berperan secara positif dan signifikan dengan alexithymia (b = 1.421; p < 0.05; 95%CI[0.047-2.796]) dan secara signifikan gaya kelekatan dapat memoderasi peran stres akademik dengan alexithymia pada mahasiswa kedokteran di Universitas Udayana (△R2 = 0.062; F(3,128) = 4.560; p < 0.05). Oleh sebab itu, institusi Program Studi Pendidikan Kedokteran diharapkan dapat mengoptimalisasi peran konselor terkait pola kelekatan dan regulasi emosi mahasiswa, serta bagi orang tua diharapkan mampu mengevaluasi pendekatan kepada anaknya, agar mereka dapat memanfaatkan sumber daya pribadi untuk menghadapi tantangan di perkuliahan.
Big Five Personality Traits as Predictors of Social Media Addiction in Young Adult Men Febian Satrio Nugraha; Ayunda Ramadhani; Aulia Suhesty; Aulia Ramdani
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intensive social media use among young adults often develops into addictive behavior that disrupts daily functioning. However, susceptibility to this addiction varies between individuals, strongly suspected to be influenced by differences in personality characteristics. This study aims to examine the correlation between Big Five personality traits and social media addiction tendencies in young adult men (18–25 years old). The research method used a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of young adult men selected via purposive sampling. The results showed a significant negative correlation between conscientiousness and social media addiction (r = -0.216; p = .031). Furthermore, there was also a significant negative correlation between agreeableness and social media addiction (r = -0.203; p = .043). Finally, a significant positive correlation was found between neuroticism and social media addiction (r = 0.234; p = .019). These findings indicate that conscientiousness and agreeableness traits can be protective factors, while neuroticism can be a risk factor for social media addiction. This study confirms that the Big Five personality dimensions play an important role in explaining vulnerability and resilience to social media addiction in young adult men. Penggunaan media sosial yang intensif di kalangan dewasa muda sering kali berkembang menjadi perilaku adiktif yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun, kerentanan terhadap kecanduan ini bervariasi antarindividu, yang diduga kuat dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik kepribadian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara lima dimensi kepribadian (Big Five) dan kecenderungan kecanduan media sosial pada pria dewasa muda (usia 18–25 tahun). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Sampel terdiri dari pria dewasa muda yang dipilih melalui sampling purposif. Hasil menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara conscientiousness dan kecanduan media sosial (r = -0,216; p = 0,031). Selain itu, terdapat pula korelasi negatif yang signifikan antara agreeableness dan kecanduan media sosial (r = -0,203; p = 0,043). Terakhir, ditemukan korelasi positif yang signifikan antara neuroticism dan kecanduan media sosial (r = 0,234; p = 0,019). Temuan ini menunjukkan bahwa sifat-sifat kesadaran diri dan keramahan dapat menjadi faktor pelindung, sedangkan neurotisisme dapat menjadi faktor risiko kecanduan media sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa dimensi kepribadian Big Five memainkan peran penting dalam menjelaskan kerentanan dan ketahanan terhadap kecanduan media sosial pada pria dewasa muda.
Gaya Pengasuhan Orang Tua dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa: Tinjauan Literatur Elly Ermawati; Itsna Iftayani; Patria Jati Kusuma
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The high levels of academic procrastination among students today pose a serious challenge to the quality of graduates and the education system, making it crucial to evaluate the role of parenting styles as a determining factor. This procrastination has a negative impact on academic performance and is significantly influenced by parental parenting styles. This literature review aims to explore the relationship between parenting styles and procrastination through an analysis of studies from 2020–2025. Following the PRISMA guidelines, articles were selected from the Scopus, Web of Science, Semantic Scholar, and Google Scholar databases using the Rayyan platform with strict criteria. Eight articles were selected for in-depth analysis. The findings indicate that democratic parenting reduces procrastination through open dialogue, independence, and self-discipline. Conversely, permissive and authoritarian parenting styles trigger increased procrastination due to weak self-control or psychological pressure. These findings provide scientific insights into the specific influence of parenting styles as a foundation for self-regulation interventions among students in the digital age. Parents are advised to adopt a parenting style that balances warmth and responsibility. Further research is needed to examine the effectiveness of modern parenting models, such as digital and mindful parenting, in reducing procrastination. Tingginya prokrastinasi akademik mahasiswa saat ini menjadi tantangan serius bagi kualitas lulusan dan sistem pendidikan, sehingga evaluasi peran pola asuh sebagai faktor penentu sangat penting dilakukan. Penundaan ini berdampak negatif pada prestasi belajar dan dipengaruhi secara signifikan oleh gaya pengasuhan orang tua. Tinjauan literatur ini bertujuan mengeksplorasi hubungan pola asuh dan prokrastinasi melalui analisis studi tahun 2020–2025. Mengikuti pedoman PRISMA, artikel diseleksi melalui basis data Scopus, Web of Science, Semantic Scholar, dan Google Scholar menggunakan platform Rayyan dengan kriteria ketat. Delapan artikel dipilih untuk analisis mendalam. Temuan menunjukkan bahwa pola asuh demokratis mengurangi prokrastinasi melalui dialog terbuka, kemandirian, dan disiplin diri. Sebaliknya, pola asuh permisif dan otoriter memicu peningkatan prokrastinasi akibat lemahnya kontrol diri atau tekanan psikologis. Temuan ini memberikan kontribusi ilmiah mengenai pengaruh spesifik gaya pengasuhan sebagai landasan intervensi regulasi diri mahasiswa di era digital. Orang tua disarankan menerapkan pola asuh yang seimbang antara kehangatan dan tanggung jawab. Peneliti selanjutnya perlu mengkaji efektivitas model pengasuhan modern, seperti digital dan mindful parenting dalam mengurangi prokrastinasi.
Hope-Based Intervention for Career Adaptability Among Final-Year Students Ade Putri Juliati; Yulia Ayriza; Komang Tri Meika; Angelina Ekadiana Wera Marle; Nur Aini Triska Kiranti; Resdryan Sutriana
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Final-year university students are in a transitional stage toward entering the workforce, characterized by academic demands and career uncertainty, which necessitates a high level of career adaptability. This study aimed to examine the effectiveness of a hope-based intervention in enhancing career adaptability among final-year students. A quasi-experimental design with a non-equivalent control group pretest–posttest design was employed. The study population consisted of final-year university students, with a sample of 12 participants selected through purposive sampling based on predetermined criteria. Participants were assigned to either an experimental group (n = 6) or a control group (n = 6). The experimental group received a hope-based intervention, while the control group did not receive any treatment. Data were collected using the Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) and analyzed using paired-samples t-tests and independent-samples t-tests. The results indicated that the mean career adaptability score of the experimental group increased from 101.00 to 113.00, whereas the mean score of the control group decreased from 94.00 to 92.00. Statistical analyses revealed a significant improvement in career adaptability within the experimental group (t = −3.098, p= .027) and a significant difference between the experimental and control groups following the intervention (t = 4.916, p= .001). These findings suggest that the Brief Hope Intervention is effective in enhancing the career adaptability of final-year university students. The study concludes that hope-based interventions can serve as a valuable approach for fostering career adaptability and strengthening career development services in higher education settings. Mahasiswa tingkat akhir berada pada fase transisi menuju dunia kerja yang ditandai oleh tuntutan akademik dan ketidakpastian karier, sehingga memerlukan kemampuan adaptabilitas karier yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas intervensi hope dalam meningkatkan career adaptability pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan non-equivalent control group pretest–posttest design. Populasi penelitian adalah mahasiswa tingkat akhir, dengan sampel sebanyak 12 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Partisipan dibagi ke dalam kelompok eksperimen (n = 6) dan kelompok kontrol (n = 6). Kelompok eksperimen diberikan intervensi hope, sedangkan kelompok kontrol tidak memperoleh perlakuan. Data dikumpulkan menggunakan Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) dan dianalisis dengan paired sample t-test serta independent sample t-test. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor career adaptability pada kelompok eksperimen meningkat dari 101,00 menjadi 113,00, sedangkan kelompok kontrol menurun dari 94,00 menjadi 92,00. Uji statistik menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kelompok eksperimen (t = −3,098; p= 0,027) dan perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah intervensi (t = 4,916; p= 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa Brief Hope Intervention efektif dalam meningkatkan career adaptability mahasiswa tingkat akhir. Temuan ini menyimpulkan bahwa intervensi hope efektif dalam mengembangkan adaptabilitas karier mahasiswa tingkat akhir dan berkontribusi pada penguatan pendekatan intervensi psikologis berbasis hope dalam layanan pengembangan karier di perguruan tinggi.
Prediksi Thin Ideal Internalization terhadap Body Dissatisfaction Remaja Akhir Perempuan Penggemar K-Pop Ashley Bianca Burhan; Laurentius Sandi Witarso
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The K-pop phenomenon has become a popular culture in Indonesia, shaping adolescent girls’ perceptions of beauty standards. The representation of female K-pop idols with thin bodies may encourage the internalization of ideal body standards (thin ideal internalization). Discrepancies between these standards and actual body conditions may trigger body dissatisfaction, defined as negative thoughts and feelings regarding body shape and size. This study aimed to examine the contribution of thin ideal internalization in predicting body dissatisfaction among late-adolescent female K-pop fans. A quantitative approach was used with a questionnaire method and purposive sampling technique. Participants consisted of 130 females aged 18–24 years who were fans of K-pop girl groups and actively consumed related content. The instruments used were the Thin Ideal Internalization Assessment (THIINA) and the Body Dissatisfaction Scale for Women (BDS-W). Data were analyzed using simple linear regression and produced the equation Y = a + 1.250X, indicating that every one-unit increase in thin ideal internalization was followed by a 1.25-point increase in body dissatisfaction scores (p < .001), contributing 58% to body dissatisfaction variance (adjusted R² = 0.580).   Fenomena K-pop telah berkembang menjadi budaya populer yang berpengaruh di Indonesia, termasuk dalam membentuk persepsi remaja perempuan mengenai standar kecantikan. Representasi idola K-pop perempuan yang bertubuh kurus dan proporsional berpotensi mendorong internalisasi standar tubuh ideal (thin ideal internalization). Ketidaksesuaian antara standar tersebut dan kondisi tubuh nyata dapat memicu body dissatisfaction, yaitu pikiran dan perasaan negatif terhadap bentuk dan ukuran tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi thin ideal internalization dalam memprediksi body dissatisfaction pada remaja akhir perempuan penggemar K-pop. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuesioner dan teknik purposive sampling. Partisipan terdiri dari 130 perempuan berusia 18–24 tahun yang merupakan penggemar girl group K-pop dan aktif mengonsumsi konten terkait. Instrumen yang digunakan adalah Thin Ideal Internalization Assessment (THIINA) dan Body Dissatisfaction Scale for Women (BDS-W). Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil analisis regresi menghasilkan persamaan Y = a + 1.250X, yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan thin ideal internalization diikuti oleh peningkatan skor body dissatisfaction sebesar 1.25 poin (p < .001), dengan kontribusi sebesar 58% terhadap variansi body dissatisfaction (adjusted R² = 0.580).
Deception and Emotional Manipulation in Online Romance Scams: A Systematic Literature Review Himmatul Husna; Setyadi Ari Murtopo; Charanjit Kaur; Myrtati Dyah Artaria
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Online romance scams are one of the most common crimes that have emerged alongside the development of technology. Romantic fraud is not merely a financial crime but also an exploitation of the victim's emotional vulnerability. This crime is facilitated by anonymity and the ability to interact without having to meet in person. Scammers deliberately build false identities and gradually develop emotional bonding to obtain financial gain without appearing to be deceitful. This study uses a systematic literature review methods with reference to the PRISMA protocol to filter studies published between 2010-2025 related to psychological characteristics commonly found in romance scammers. The findings state that scammers present themselves with traits that are recognized by the public as a good standards. They carefully construct stories in a difficult settings to attract victim sympathy, so the victims willingly send them money. The actions continue over a long period of time because the scammers do not feel guilty. Instead, they defend themselves with various manipulative statement and moral rationalizations. These results emphasize the need for collaborative prevention efforts across jurisdictions, considering that this crime is a part of transnational crime.   Penipuan asmara daring merupakan salah satu kejahatan paling umum yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi. Penipuan asmara bukan hanya kejahatan finansial, tetapi juga eksploitasi kerentanan emosional korban. Kejahatan ini difasilitasi oleh anonimitas dan kemampuan untuk berinteraksi tanpa harus bertemu langsung. Penipu sengaja membangun identitas palsu dan secara bertahap mengembangkan ikatan emosional untuk mendapatkan keuntungan finansial tanpa terlihat menipu. Studi ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis dengan mengacu pada protokol PRISMA untuk menyaring studi yang diterbitkan antara tahun 2010-2025 yang berkaitan dengan karakteristik psikologis yang umum ditemukan pada penipu asmara. Temuan menunjukkan bahwa penipu menampilkan diri dengan sifat-sifat yang diakui oleh publik sebagai standar yang baik. Mereka dengan cermat menyusun cerita dalam situasi yang sulit untuk menarik simpati korban, sehingga korban dengan rela mengirimkan uang kepada mereka. Tindakan tersebut berlanjut dalam jangka waktu yang lama karena penipu tidak merasa bersalah. Sebaliknya, mereka justru membela diri dengan berbagai pernyataan manipulatif dan rasionalisasi moral. Hasil ini menekankan perlunya upaya pencegahan kolaboratif lintas yurisdiksi, mengingat kejahatan ini merupakan bentuk dari kejahatan transnasional.
Organizational Justice, Psychological Empowerment, dan Organizational Commitment: Mediasi Person-Organization Fit Agustina Inesia Emasintia Sutoro Sutoro; Retno Dwiyanti; Ugung Dwi Ario Wibowo; Hazalizah binti Hamzah
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The retail industry has become one of the business sectors that has experienced remarkable progress in the last five years. However, retail companies still face challenges related to organizational commitment, as reflected in relatively high employee turnover rates. This study aims to analyze the effects of organizational justice and psychological empowerment on organizational commitment through the mediating role of person–organization fit among retail employees. The participants were 318 store crew members from a retail company located in Cilacap Regency, Central Java, Indonesia. A purposive sampling technique was used. This study employed a quantitative survey approach, and data were analyzed using SEM-PLS with SmartPLS 4.0. The results show that organizational justice has a positive and significant effect on organizational commitment, both directly and indirectly through person–organization fit. Organizational justice also significantly influences person–organization fit, and person–organization fit significantly affects organizational commitment. In contrast, psychological empowerment does not significantly influence organizational commitment or person–organization fit, and person–organization fit does not mediate the relationship between psychological empowerment and organizational commitment. These findings suggest that organizations should prioritize justice in policies and practices and strengthen value alignment between employees and the organization to enhance organizational commitment.   Industri ritel menjadi salah satu sektor bisnis yang mengalami kemajuan signifikan dalam lima tahun terakhir. Namun, dalam praktiknya, perusahaan ritel masih memiliki sedikit masalah dalam hal komitmen organisasi dilihat dari tingkat turnover karyawan yang terbilang masih cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh organizational justice serta psychological empowerment terhadap organizational commitment melalui peran mediasi person–organization fit pada karyawan ritel. Subjek penelitian adalah 318 crew store dari salah satu perusahaan ritel di Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dipilih dengan teknik purposive sampling. Penelitian memanfaatkan pendekatan kuantitatif dengan metode survei serta analisis data dengan SEM-PLS melalui SmartPLS 4.0. Hasil analisis memperlihatkan bahwa organizational justice secara positif serta signifikan memengaruhi organizational commitment, baik secara langsung serta melalui mediasi person–organization fit. organizational justice juga berpengaruh signifikan terhadap person–organization fit, serta person–organization fit berpengaruh signifikan terhadap organizational commitment. Sebaliknya, psychological empowerment tidak signifikan memengaruhi organizational commitment maupun person–organization fit, dan person–organization fit tidak memediasi hubungan antara psychological empowerment dan organizational commitment. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bahwa organisasi perlu lebih memfokuskan strategi pengelolaan karyawan mereka pada penguatan keadilan dalam kebijakan dan praktik organisasi serta membangun keselarasan nilai antara karyawan dan organisasi.
Antara Kasih Sayang dan Tekanan: Peran Compromise dan Submission Memprediksi Perilaku Sexting Fadhiil Yuniar; Miftahun Najah
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sexting, beyond being the act of sending sexual photos or videos, also represents a relational dynamic within romantic relationships. This study aimed to examine the influence of multidimensional romantic competence, which includes compromise, avoidance, interactional reactivity, separation, domination, and submission, on adolescents’ engagement in sexting behavior. A quantitative approach was employed, involving 244 participants selected through purposive sampling. All respondents were adolescents and young adults aged 18 to 25 years who were currently involved in romantic relationships. Data were collected using the Sexting Motivation Scale and the Romantic Partner Conflict Scale. Multiple linear regression analysis was conducted to examine the relationships among variables. The results indicated that the six dimensions of romantic competence jointly predicted sexting behavior (p < .001), with an R value of 0.751 and an F value of 51.2, F (6, 237) = 51.2. These findings explained 56.4% of the variance in sexting behavior (R² = 0.564), while the remaining 43.6% was accounted for by factors outside the research model. However, partial regression analysis revealed that only compromise and submission significantly influenced sexting. Overall, the findings highlight submission as a risk factor and compromise as a protective factor in adolescents’ involvement in sexting.   Sexting selain merupakan aktivitas mengirimkan foto atau video seksual, juga bagian dari aspek relasional yang terjadi dalam hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konstruk multidimensi kompetensi romantis, meliputi compromise, avoidance, interactional reactivity, separation, domination, dan submission, terhadap perilaku sexting yang dilakukan oleh remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 244 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Seluruh responden dalam penelitian ini merupakan remaja berusia 18-25 tahun yang sedang menjalani hubungan romantis. Data dikumpulkan dengan menggunakan Sexting Motivation Scale dan the Romantic Partner Conflict Scale. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan keenam dimensi kompetensi romantis secara bersama-sama mempengaruhi sexting (p < .001), dengan nilai R sebesar 0.751 dan F (6, 237) sebesar 51.2. Temuan ini dapat menjelaskan variabilitas perilaku sexting sebesar 56.4% (R² = 0.564), sementara 43.6% sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Sementara itu, hasil analisis regresi parsial menunjukkan dimensi compromise dan submission berpengaruh signifikan terhadap sexting. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman mengenai faktor risiko (submission) dan protektif (compromise) atas keterlibatan sexting remaja.