cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Psikologi Perseptual
ISSN : 25281895     EISSN : 25809520     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Psikologi Perseptual adalah jurnal ilmiah yang mengkaji penelitian empiris dari berbagai bidang serta sebagai media publikasi ilmiah dalam disiplin ilmu psikologi. Diterbitkan dua kali dalam setahun, setiap bulan Juli dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Pengalaman Subjektif Kualitas Hidup Orang Tua Tunggal Berstatus Cerai Tazhkiroh, Nafi'ul; Purwandari, Eny; Taufik
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.14889

Abstract

Single parenthood is a situation where only the father or mother is solely responsible for the family's well-being after a divorce. The change from a couple to a single parent often has psychological impacts that, if not properly managed, can reduce quality of life. Quality of life is understood as how an individual interprets their life satisfaction based on their actual circumstances and the ideal standards prevailing in their environment. This study used qualitative methods, with participant selection using thepurposive sampling.The participants consisted of seven people, consisting of three single fathers and four single mothers with varying numbers of children, varying levels of education, aged under 60, having been single parents for more than a year, and not yet remarried. Single parent status included divorced and divorced. Data analysis used Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to explore the subjective meaning of participants' life experiences. The results indicate that the quality of life of single parents after divorce is influenced by emotional conditions, psychological challenges, coping strategies, social support, and gratitude practices. This research is expected to contribute to the development of psychology and serve as a reference to encourage single parents to improve their quality of life. Orang tua tunggal merupakan keadaan sepenuhnya ayah atau ibu saja bertanggungjawab atas keadaan keluarga setelah mengalami perceraian. Perubahan status dari berpasangan menjadi orang tua tunggal kerap menimbulkan dampak psikologis yang jika tidak tertangani dengan baik dapat menurunkan kualitas hidup. Kualitas hidup dipahami sebagai cara individu memaknai kepuasan hidupnya berdasarkan kondisi aktual yang ia jalani serta standar ideal yang berlaku dalam lingkungannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penentuan partisipan menggunakan teknik purposive sampling. Partisipan berjumlah tujuh orang, terdiri dari tiga ayah tunggal dan empat ibu tunggal dengan jumlah anak bervariasi, tingkat pendidikan berbeda, berusia di bawah 60 tahun, telah menjadi orang tua tunggal lebih dari satu tahun, serta belum menikah kembali. Status orang tua tunggal mencakup cerai hidup dan cerai mati. Analisis data menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk menggali makna subjektif pengalaman hidup partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup orang tua tunggal setelah perceraian dipengaruhi oleh kondisi emosional, tantangan psikologis serta strategi bertahan, dukungan sosial, dan praktik rasa syukur dalam menjalani hidup. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu psikologi serta menjadi referensi yang mendorong orang tua tunggal untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Penerimaan Diri Ibu yang Tidak Memiliki Keturunan Natalie, Anugrah Thesalonika; Murti, Heru Astikasari Setya
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.14968

Abstract

The pronatalist perspective in Indonesia society regards having children as a measure of marital success, which may lead to psychological pressure for women who are unable to conceive. Moreover, psychological support for addressing this issue remains very limited. This study aims to explore the process of self-acceptance among women without offspring. The research employed a qualitative method using an in-depth case study approach to comprehensively examine the participants’ background, conditions, and interactions with their environment. Participants were selected through purposive sampling. The findings revealed that all four participants were able to achieve full self-acceptance after undergoing the five stages of acceptance: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. The study highlights that family support, religious community, and spiritual beliefs have substantial impact on the process of self-acceptance. Strong social support and faith enabled participants to adapt, recover from emotional distress, and find meaning in life despite their inability to have children. The process of self-acceptance was found to have a positive impact on improving participants’ quality of life and inner peace. Pandangan masyarakat Indonesia yang pronatalis membuat keberadaan keturunan menjadi tolak ukur keberhasilan dalam pernikahan. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis pada ibu yang tidak memiliki keturunan. Selain itu, dukungan psikologis untuk mengatasi kasus ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses penerimaan diri pada ibu yang tidak memiliki keturunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus mendalam (in depth study) yang bertujuan untuk mempelajari secara menyeluruh mengenai latar belakang, status, dan interaksi lingkungan partisipan. Partisipan dalam penelitian ini dipilih melalui purposive sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa keempat partisipan pada penelitian ini mampu menerima diri secara utuh dan mereka berhasil melewati lima fase penerimaan diri. Fase yang dilalui oleh keempat partisipan antara lain denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan keluarga, komunitas rohani, serta keyakinan spiritualitas memiliki dampak besar dalam proses penerimaan diri. Dukungan sosial dan keimanan yang kuat membuat partisipan mampu beradaptasi, bangkit dari keterpurukan, serta menemukan makna hidup meskipun tanpa keturunan. Proses penerimaan diri ini berdampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup dan ketenangan batin partisipan.
Krisis Figur Ayah: Dampak Fatherless pada Perkembangan Individu Maharani, Ni Komang Putri Bintang
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.15226

Abstract

Fatherlessness is the absence of the father's role both physically and psychologically. The claim that Indonesia ranks third as a fatherless country yet to be scientifically substantiated. However, based on the data collected, topic of fatherless deserves attention. Some of the reasons are 1) The high divorce rate in Indonesia, 2) Rigid division of parenting roles, so the dominance of care is held by mothers, 3) The high number of early marriages so young men are not ready to carry out father’s role. This study aims to examine the impact of fatherlessness on individual development in Indonesia. The research method used literature review with the search terms “Fatherless” and “Father-Absence” on Google Scholar and Garuda search engines from August – December 2024. The results of the assessment show that there is an impact of fatherless from children to adults. The impact of fatherlessness on children includes: 1) Low self-control, 2) Low subjective well-being. The impact of fatherless on adolescents includes: 1) Avoidant attachment style, 2) Behavioral problems, 3) Depression. Finally, the impact of fatherless on adult individuals are: 1) Low emotional well-being, 2) Behavioral disturbance, 3) Romantic relationship problems. Further in-depth research is needed to understand the cultural implications of fatherless. Fatherless merupakan kondisi ketiadaan peran ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun secara psikologis. Klaim bahwa Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara fatherless belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Akan tetapi, berdasarkan data, topik mengenai krisis figur ayah dalam keluarga patut menjadi perhatian. Beberapa alasan yang melatarbelakangi kondisi ini adalah 1) Tingginya angka perceraian di Indonesia, 2) Adanya pembagian peran yang kaku antara ibu dan ayah sehingga dominansi pengasuhan dipegang oleh ibu, 3) Tingginya angka pernikahan dini sehingga remaja laki-laki belum siap menjalankan peran sebagai ayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak dari fatherless terhadap perkembangan individu dari anak-anak hingga dewasa di Indonesia. Metode penelitian menggunakan literature review dengan kata kunci “Fatherless” dan “Father-Absence” pada mesin pencari Google Scholar dan Garuda selama Agustus – Desember 2024. Hasil pengkajian yang dilakukan menunjukkan bahwa fatherless memiliki dampak bagi individu dari usia anak-anak hingga dewasa. Adapun dampak dari fatherless terhadap anak-anak meliputi: 1) Low self-control, 2) Low subjective well-being. Dampak fatherless terhadap remaja meliputi: 1) Avoidant attachment style, 2) Behavioral Problem, 3) Depression. Terakhir, dampak dari fatherless terhadap individu dewasa yaitu: 1) Low emotional well-being, 2) Behavioral disturbance, 3) Romantic relationship problem. Perlu adanya kajian yang lebih mendalam mengenai implikasi budaya pada dampak fatherless.
Peran Parenting Self-efficacy Terhadap Parental Burnout pada Ibu Tunggal Bekerja Apriliani, Sela; Farisandy, Ellyana Dwi
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.15489

Abstract

This study aims to examine the effect of parenting self-efficacy on parental burnout among working single mothers. Parental burnout is a condition that working single mothers are particularly vulnerable to, as they must simultaneously fulfill dual roles. The pressure from job demands and parenting responsibilities can trigger emotional exhaustion, feelings of detachment, and a decline in effectiveness in their parenting role. Parenting self-efficacy is known to be one of the factors that can help single mothers cope with parenting challenges. This study is a non-experimental quantitative research that involves two variables: Parental Burnout and Parenting Self-Efficacy. A total of 389 participants were involved in this study, with the following criteria: a) working single mothers, b) having children aged 5 to 12 years, and c) living in the same household as the child. Logistic regression analysis showed a significant negative effect of parenting self-efficacy on parental burnout among working single mothers, with an influence of 67.9%. This indicates that the higher the level of parenting self-efficacy in working single mothers, the lower the likelihood of experiencing parental burnout. Practically, the results suggest the importance of interventions and programs aimed at strengthening parenting self-efficacy to reduce parental burnout in working single mothers. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh parenting self-efficacy terhadap parental burnout pada ibu tunggal bekerja. Parental burnout merupakan kondisi yang rentan dialami oleh ibu tunggal yang bekerja karena harus menjalankan peran ganda secara bersamaan. Tekanan dari tuntutan pekerjaan serta tanggung jawab pengasuhan anak dapat memicu kelelahan emosional, kejenuhan, dan penurunan efektivitas dalam peran sebagai orang tua. Parenting self-efficacy diketahui dapat menjadi salah satu faktor yang membantu ibu tunggal dalam menghadapi tantangan pengasuhan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimen, dengan menggunakan dua variabel yaitu variabel Parental Burnout dan Parenting Self-efficacy. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 389 partisipan dengan kriteria; a) Ibu tunggal bekerja, b) memiliki anak usia 5 -12 tahun, c) tinggal dirumah yang sama dengan anak. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan terdapat pengaruh negatif dan signifikan parenting self-efficacy terhadap parental burnout pada ibu tunggal bekerja sebesar 67,9%. Artinya, semakin tinggi parenting self-efficacy pada ibu tunggal yang bekerja, maka kemungkinan mengalami parental burnout akan semakin rendah. Secara praktis, hasil penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi dan program penguatan parenting self-efficacy untuk menekan risiko parental burnout pada ibu tunggal bekerja.
Attitudes and Behavior of Occupational Health and Safety in Mina MSME Widhiastuti, Hardani; IW, Mulya Virgonita; Dewi, Rusmalia; Gabronino, Rosalia T; Maquilling, Rebecca
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.15533

Abstract

This research was conducted in order to participate in resolving the problem of Occupational Health and Safety (OHS) Attitudes and Behavior, which occurred in Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME) Processed Mina in Banjarsari village, Sayung coastal area, Central Java. Many fish processing businesses in the area only pursue profits to help the household economy, considering that their business productivity has not developed/increased, which is likely due to a lack of attention to conscious efforts to carry out or comply with Occupational Health and Safety, such as using personal protective equipment such as gloves, boots, or in processing fish related to stoves, there are no manual extinguishers for home businesses. This research is a population study with 38 respondents who are average fish processors and fishermen. The research method is quantitative with SPSS statistical analysis obtained results that the Attitude variable has a t value = 7.685 with Sig. = 0.000 (<0.05), indicating that Attitude has a positive and significant effect on Behavior (OHS). The regression coefficient value of 0.824 indicates that every one-unit increase in OHS Attitude will increase OHS Behavior by 0.824 units. Thus, it can be concluded that the more positive a person's attitude toward OHS implementation, the better their OHS behavior.
Post-Traumatic Growth Pada Mahasiswa Penyintas Kekerasan Fisik dan Emosional Dari Orang Tua Di Masa Kecil Aghnarizqa, Elfa Naila; Setyawati, Rr.; Wibowo, Ugung Dwi Ario; Rusmono, Danny Ontario
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.15591

Abstract

This study aims to describe post-traumatic growth in university students who experienced physical and emotional abuse by their parents during childhood. The research employed a qualitative approach with a phenomenological method. Four early adult participants were selected through purposive and snowball sampling techniques. Data were collected using in-depth interviews and documentation, then analyzed using content analysis. The four participants demonstrated that the concrete psychological impacts they experienced included fear, low self-esteem, social withdrawal, and difficulty trusting others. However, through a process of self-reflection and social support, the survivors were able to transform their past wounds into newfound strength. The findings revealed that all participants experienced positive changes, including increased appreciation of life, closer interpersonal relationships, enhanced personal strength, openness to new opportunities, and spiritual development. These changes were influenced by self-reflection, the meaning constructed from past experiences, and social support. The findings indicate that despite the deep psychological impact of childhood abuse, individuals still possess the capacity to grow into more resilient psychological beings. This study contributes to the understanding of post-traumatic growth dynamics and provides a foundation for psychological interventions for survivors of childhood abuse. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan post-traumatic growth pada mahasiswa penyintas kekerasan fisik dan emosional dari orang tua di masa kecil. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan terdiri dari empat individu dewasa awal yang dipilih melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik analisis isi. Keempat partisipan memperlihatkan bahwa dampak psikologis konkrit yang dialami para partisipan meliputi rasa takut, rendah diri, penarikan diri sosial, dan kesulitan mempercayai orang lain. Namun, seiring proses refleksi dan dukungan sosial, para penyintas mampu mengubah luka masa lalu menjadi kekuatan baru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh partisipan mengalami perubahan positif berupa peningkatan penghargaan terhadap hidup, relasi interpersonal yang lebih erat, penguatan kekuatan dalam diri, keterbukaan terhadap peluang baru, serta perkembangan spiritualitas. Proses pertumbuhan ini dipengaruhi oleh refleksi diri, makna yang dibentuk dari pengalaman masa lalu, serta dukungan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pengalaman kekerasan pada masa kecil memberikan dampak psikologis yang mendalam, individu tetap memiliki kapasitas untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh secara psikologis. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai dinamika pertumbuhan pascatrauma dan dapat menjadi dasar intervensi psikologis bagi penyintas kekerasan masa kecil.
Makna Pendampingan Doula Bagi Ibu Hamil, Sebuah Tinjauan Psikologis Rachmah, Eva Nur; Suryanto
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.15698

Abstract

Childbirth support is a crucial aspect in maintaining the physical and psychological well-being of pregnant women. One form of support that is becoming increasingly recognized is the presence of a Doula, a non-medical companion who provides emotional, informational, and physical support throughout pregnancy and delivery. This study aims to examine the meaning of Doula support for pregnant women from a psychological perspective. The method used was a qualitative approach with a phenomenological design. The selection of informants in this study focused on pregnant women who had actually experienced or were directly involved in the phenomenon of Doula support, with purposive selection based on their relevance and experience. The review results indicate that the presence of a Doula can minimize anxiety, increase self-confidence, and help pregnant women feel calmer and more empowered in facing the labor process. Furthermore, Doula support contributes to strengthening the emotional bond between mother and fetus, and fosters a more positive birth experience. From a psychological perspective, Doula support is meaningful as a form of support system that provides a sense of security, connectedness, and mental empowerment for pregnant women. Thus, Doula support has been shown to facilitate more adaptive coping strategies and strengthen mothers' self-confidence in undergoing childbirth and emphasizes the importance of considering the presence of Doulas as part of maternal services, both through public education and the integration of non-medical support into the health care system, to improve the quality of the childbirth experience while preventing maternal psychological problems. Pendampingan persalinan merupakan aspek penting dalam menjaga kesejahteraan fisik dan psikologis ibu hamil. Salah satu bentuk dukungan yang mulai banyak dikenal adalah kehadiran Doula, yaitu pendamping non-medis yang memberikan dukungan emosional, informasional, dan fisik selama masa kehamilan hingga persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau makna pendampingan Doula bagi ibu hamil dari perspektif psikologis. Metode yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Penentuan informan dalam penelitian ini berfokus pada ibu hamil yang benar-benar mengalami atau terlibat langsung dalam fenomena pendampingan Doula, dengan pemilihan secara purposive sesuai relevansi dan pengalamannya. Hasil review menunjukkan bahwa kehadiran Doula dapat meminimalisir kecemasan, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu ibu hamil merasa lebih tenang dan berdaya dalam menghadapi proses persalinan. Selain itu, dukungan Doula berkontribusi dalam memperkuat ikatan emosional antara ibu dan janin, serta menumbuhkan pengalaman persalinan yang lebih positif. Dari perspektif psikologis, pendampingan Doula bermakna sebagai bentuk support system yang memberi rasa aman, keterhubungan, dan penguatan mental bagi ibu hamil. Dengan demikian, dukungan Doula terbukti memfasilitasi strategi coping yang lebih adaptif serta memperkuat keyakinan diri ibu dalam menjalani persalinan serta menekankan pentingnya mempertimbangkan kehadiran Doula sebagai bagian dari layanan maternal, baik melalui edukasi publik maupun integrasi pendampingan non-medis dalam sistem pelayanan kesehatan, guna meningkatkan kualitas pengalaman persalinan sekaligus mencegah masalah psikologis maternal.
Uji Korelasi dan Scoping Review dalam Mengkaji Boredom Proneness dengan Problematic Smartphone Use pada Dewasa Awal Generasi Z Muzakki, Saiful Niam; Ahyani, Latifah Nur; Pramono, Ridwan Budi
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.16216

Abstract

This study aims to analyze the relationship between boredom proneness and problematic smartphone use in early adulthood from Generation Z. As a generation that is highly connected to technology, smartphone use in this generation has become an important part of daily life, but it can also lead to dependency and other negative impacts. This study used a quantitative method with a correlational design, involving 300 student respondents from various universities in Indonesia. The results of the regression analysis showed that Boredom Proneness did not have a significant effect on Problematic Smartphone Use (p = 0.612, R² = 0.001). The very weak correlation (r = -0.029) also confirmed the absence of a statistically significant relationship. This indicates that only 0.1% of the variation in PSU is explained by boredom proneness. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecenderungan kebosanan (boredom proneness) dengan penggunaan smartphone yang bermasalah (problematic smartphone use) pada dewasa awal dari generasi Z. Sebagai generasi yang sangat terhubung dengan teknologi, penggunaan smartphone pada generasi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, namun juga dapat menyebabkan ketergantungan dan dampak negatif lainnya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 300 responden mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa Boredom Proneness tidak berpengaruh signifikan terhadap Problematic Smartphone Use (p = 0.612, R² = 0.001). Korelasi yang sangat lemah (r = -0.029) juga menegaskan tidak adanya hubungan yang signifikan secara statistik. Ini mengindikasikan bahwa hanya 0.1% variasi PSU yang dijelaskan oleh boredom proneness.