cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Psikologi Perseptual
ISSN : 25281895     EISSN : 25809520     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Psikologi Perseptual adalah jurnal ilmiah yang mengkaji penelitian empiris dari berbagai bidang serta sebagai media publikasi ilmiah dalam disiplin ilmu psikologi. Diterbitkan dua kali dalam setahun, setiap bulan Juli dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 145 Documents
Kemandirian dan Minat Berwirausaha pada Mahasiswa Aktif Angkatan 2020 Nanda, Nabela Febika Areta; Pratitis, Niken Titi; Arifiana, Isrida Yul
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v9i2.13544

Abstract

The decreasing number of jobs and the increasing number of students who are more oriented towards finding work have the potential to increase unemployment rates in the future. Students as people who will enter the world of work need an interest in entrepreneurship as a basis for opening new jobs. This study aims to see whether student independence is related to their interest in entrepreneurship. The design of this study is quantitative correlational with the Spearman's Rho analysis method. A total of 247 students were involved in this study, collected using quota sampling techniques taken from 2686 students of the 2020 intake of the Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya with the calculation of the Isaac and Michael table. The measuring instruments used were the independence scale (α:0.932) and the entrepreneurial interest scale (α:0.944). The results of the study showed a positive correlation between the level of independence and students' entrepreneurial interest (r:0.993; p 0.001). A high level of independence makes students believe in their own abilities and not depend on external factors so that they can overcome thoughts about the risk of failure so that students become more interested in becoming entrepreneurs.Semakin berkurangnya lapangan pekerjaan serta semakin banyaknya mahasiswa yang lebih berorientasi mencari kerja menjadi potensi semakin tingginya angka pengangguran di masa mendatang. Mahasiswa sebagai insan yang akan terjun pada dunia kerja memerlukan minat untuk berwirausaha sebagai dasar membuka lapangan pekerjaan yang baru. Tujuan dari penelitian adalah untuk melihat ada tidaknya korelasi antara tingkat kemandirian dengan minat berwirausaha mahasiswa. Desain penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan metode analisa Spearman’s Rho. Sebanyak 247 mahasiswa terlibat dalam penelitian ini yang dihimpun menggunakan teknik quota sampling yang diambil dari 2686 mahasiswa angkatan 2020 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan perhitungan tabel Isaac dan Michael. Alat ukur yang digunakan adalah skala kemandirian (α:0,932) dan skala minat berwirausaha (α:0,944). Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkat kemandirian dengan minat berwirausaha mahasiswa (r=0,993; p0,001). Tingkat kemandirian yang tinggi menjadikan mahasiswa meyakini kemampuan dirinya dan tidak tergantung pada faktor eksternal sehingga dapat mengatasi pemikiran akan resiko kegagalan sehingga mahasiswa menjadi lebih berminat untuk berwirausaha.
Apakah Technostress Berpeluang Memicu Burnout? Studi pada Guru Honorer Usia Dewasa Madya Patricia, Cherenita Fonda; Wibowo, Doddy Hendro
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v9i2.12553

Abstract

Honorary teachers are expected to adapt to hone their knowledge and skills in the use of technology, but not all honorary teachers are able to use of technology in schools especially in the middle age range. This study aims to answer the relationship between technostress and burnout tendencies in middle-aged honorary teachers. Researchers used quota sampling technique with a total of 70 participants. The data analysis method uses Pearson's product moment correlation. There are two scales used in this study, namely the technostress scale and the burnout scale. The results showed a correlation of r = 0.534 with p = 0.000 (p 0.01), which means there is a significant positive relationship between technostress and burnout in middle-aged honorary teachers. This means that the higher the level of technostress, the higher the level of burnout. Conversely, the lower the level of technostress, the lower the level of burnout. The results of this study can be a reference for middle-aged honorary teachers to be more adaptive to the use of technology by having the willingness to learn.Guru honorer diharapkan dapat beradaptasi mengasah pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan teknologi yang semakin pesat, namun belum semua guru honorer mampu menguasai penggunaan teknologi di sekolah terutama pada rentang usia dewasa madya. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab adanya hubungan antara technostress dengan kecenderungan burnout pada guru honorer usia dewasa madya. Peneliti menggunakan teknik quota sampling dengan total partisipan sebanyak 70 orang. Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Ada dua skala yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu skala technostress dan skala burnout. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi sebesar r = 0,534 dengan p = 0,000 (p0,01), yang berarti ada hubungan positif signifikan antara technostress dan burnout pada guru honorer usia dewasa madya. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat technostress, maka akan semakin tinggi tingkat burnout. Sebaliknya, semakin rendah tingkat technostress, maka akan semakin rendah pula tingkat burnout. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para guru honorer usia dewasa madya untuk untuk dapat lebih adaptif terhadap penggunaan teknologi dengan memiliki kemauan untuk belajar.
Dukungan Sosial dan Religiusitas Dalam Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantau Supriyadi, Tugimin; Widyastuti, Mega; Salsabilla, Aulia Yasmin; Widjanarko, Mochamad
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v9i2.13607

Abstract

This study aims to determine whether there is an influence of the variables Social support and Religiosity on Self Adjustment in students who migrate to Bekasi. Based on the phenomenon that migrant students will always meet, interact, and communicate with fellow migrants and the native community, it will cause cultural diversity and changes in students so that the demands to adjust themselves increase. In order to be able to carry out good Self Adjustment in a migrant state, Social support and Religiosity may have an influence. This study has three hypotheses, namely there is an influence between Social support and Self Adjustment in students who migrate (H1); there is an influence between Religiosity on the relationship between Self Adjustment in students who migrate (H2); and there is a relationship between Social support and Religiosity on Self Adjustment in students who migrate (H3). The research method used is quantitative with a descriptive approach. Based on the results of this study, it can be concluded that there is an influence between Social support and Self Adjustment; there is no influence between Religiosity and Self Adjustment; and there is an influence between Social support and Religiosity on Self Adjustment in migrant students in Bekasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pada variable social support dan religiosity terhadap self adjustment pada mahasiswa yang merantau di Bekasi. Berdasarkan fenomena bahwa mahasiswa perantau akan selalu bertemu, berinteraksi, dan menjalin komunikasi dengan sesama perantau dan masyarakat asli sehingga akan menimbulkan keanekaragaman budaya dan perubahan pada diri mahasiswa sehingga tuntutan untuk menyesuaikan diri semakin meningkat. Untuk dapat melakukan self adjustment yang baik di perantauan, social support dan religiosity mungkin mempunyai pengaruh. Penelitian ini memiliki tiga hipotesis, yaitu terdapat pengaruh antara social support dengan self adjustment pada mahasiswa yang merantau (H1); terdapat pengaruh antara religiosity terhadap hubungan self adjustment pada mahasiswa yang merantau (H2); dan terdapat hubungan antara social support dan religiosity terhadap self adjustment pada mahasiswa yang merantau (H3). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara social support terhadap self adjustment; tidak terdapat pengaruh antara religiosity terhadap self adjustment; dan terdapat pengaruh antara social support and religiosity terhadap self adjustment pada mahasiswa perantau di Bekasi.
Studi Literatur: Penurunan Intensitas Halusinasi Pendengaran dengan Terapi Musik pada Pasien Skizofrenia Pramudia, Made Ambari; Fridari, I Gusti Ayu Diah
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v9i2.13138

Abstract

Schizophrenia is a type of mental disorder characterized by deviations in the individual's thoughts, perceptions, emotions, movements, and behavior. Auditory hallucinations are one of the positive symptoms that between 60 and 80 percent of people with schizophrenia experience. Patients with auditory hallucinations might experience instructions to harm oneself or others, threats, insults, or mutually exclusive voices or sound. Music therapy is one form of therapy that can given. This study aims to examine and identify how the administration of nonpharmacological therapy in the form of music therapy can decrease the symptoms and signs of auditory hallucinations. The research method used literature review with the search terms “Music Therapy” and “Auditory Hallucinations” on the Garuda Portal and Google Scholar database. The outcomes of 10 studies showed that there was a gradual decrease in both their symptomps and signs of auditory hallucinations after schizophrenia patients received music therapy. Thus, it can be stated that music therapy can reduce the intensity of auditory hallucinations in schizophrenia patients, provide a feeling of relaxation, and make patients more comfortable.Skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental dengan karakteristik adanya penyimpangan pada pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan tingkah laku individu. Salah satu gejala positif yang dialami hampir 60-80% oleh pasien skizofrenia adalah halusinasi pendengaran. Pasien dengan halusinasi pendengaran mungkin mengalami instruksi untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, ancaman, penghinaan, atau suara yang saling sahut menyahut. Terapi musik merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengidentifikasi bagaimana pemberian terapi nonfarmakologi berupa terapi musik dapat menurunkan gejala dan tanda halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. Metode penelitian menggunakan literature review dengan istilah pencarian “Terapi Musik” dan “Halusinasi Pendengaran” pada database Garuda Portal dan Google Scholar. Hasil pengkajian dari 10 studi menunjukkan bahwa terdapat penurunan secara bertahap pada gejala dan tanda halusinasi pendengaran setelah pasien skizofrenia diberikan terapi musik. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa terapi musik dapat mengurangi intensitas halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia, memberikan perasaan rileks, dan membuat pasien lebih nyaman.
Keterkaitan Personal Growth Initiative dan Harapan dengan Adaptabilitas Karir pada Mahasiswa Vokasi Pertiwi, Hartawati Indah; Pramono, Ridwan Budi
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v9i2.13850

Abstract

This study aims determine the relationship between personal growth initiative and hope with career adaptability in vocational students in Indonesia. The participants in this study are vocational students in Indonesia. The data collection technique used in this study is a simple random sampling technique with data collection instruments including career adaptability scales, personal growth initiative scales, and hope scales The result of this study showed a correlation coefficient of 0.769 with a p of 0.000 (p0.01) which showed a very significant relationship between personal growth initiative and hope with career adaptability in vocational students, with an effective contribution of 59.1%, thus the major hypothesis in this study was accepted. The result of the correlation coefficient between personal growth initiative and career adaptability were obtained 0.734 with a p of 0.000 (p0.01), which shows that there is a very significant positive relationship between personal growth initiative and career adaptability, thus the first minor hypothesis proposed in this study accepted. While the correlation coefficient between hope and career adaptability shows an r value of 0.581 with a p of 0.000 (p0.01), this shows that there is a very significant positive relationship between hope and career adaptability, thus the second minor hypothesis in this study accepted.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal growth initiative dan harapan dengan adaptabilitas karir pada mahasiswa vokasi di Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini merupakan mahasiswa vokasi di Indonesia. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling dengan instrumen pengumpulan data meliputi skala adaptabilitas karir, personal growth initiative, dan juga harapan. Hasil penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,769 dengan p sebesar 0,000 (p 0,01) yang menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara personal growth initaitive dan harapan dengan adaptabilitas karir pada mahasiswa vokasi, dengan sumbangan efektif 59,1%, dengan demikian hipotesis mayor dalam penelitian ini diterima. Hasil koefisien korelasi antara personal growth initiative dengan adaptabilitas karir diperoleh sebesar 0,734 dengan p sebesar 0,000 (p 0,01), hal ini menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara personal growth initiative dengan adaptabilitas karir, dengan demikian hipotesis minor pertama yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Sementara itu koefisien korelasi antara harapan dengan adaptabilitas karir menunjukkan nilai r sebesar 0,581 dengan p sebesar 0,000 (p 0,01), hal ini menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara harapan dengan adaptabilitas karir, dengan demikian hipotesis minor kedua dalam penelitian ini diterima.
The Measurement of the Medical Personnel Emotional Condition In Relation to Service Performance Widhiastuti, Hardani; Kurniawan, Andi; Nurhayati, Titik; Kurniawan, Yudi
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v9i2.13398

Abstract

This study emphasizes on the service performance of medical personnel in hospitals, one of which is due to the emotional condition of the services of the medical personnel. The research method used is quantitative method related to the emotional condition of the medical personnel measured using Vital Sign. The research subjects consisted of 67 medical personnel, but only 50 returned the google forms. While the relationship between the two used SPSS version 22. The validity test showed that the service performance variable was appropriate or valid variable.The result of the statistical analysis of Non Parametric correlation shows that there is relationship with the result of the normality test of p (sig) 0.01. It is proven that the Service Performance variable is not normal, so the test must use the non-parametric correlation test with Spearman-Rho with the correlation coefficient result of 0.562 with p (sig) 0.000. This means that there is significant relationship between the Emotional Condition variable and the Service Performance variable of the medical personnel. The results of this study prove that when the emotional condition of medical personnel increases, the service performance will decrease, which means that the responsibility for service quality decreases somewhat, dares to take risks for services that are slightly neglected, has service goal that is somewhat less attention, less planning for services, less thinking about feedback from the services provided, and the possibility of less thinking about getting the opportunity to realize services.Penelitian ini menekankan pada kinerja pelayanan tenaga medis di rumah sakit yang salah satunya disebabkan oleh kondisi emosional terhadap pelayanan tenaga medis tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif yang berkaitan dengan kondisi emosional tenaga medis yang diukur dengan menggunakan Vital Sign. Subjek penelitian terdiri dari 67 tenaga medis, namun yang mengembalikan google form hanya 50 orang. Sedangkan untuk hubungan keduanya menggunakan SPSS versi 22. Uji validitas menunjukkan bahwa variabel kinerja pelayanan merupakan variabel yang tepat atau valid. Hasil analisis statistik korelasi Non Parametrik menunjukkan adanya hubungan dengan hasil uji normalitas p (sig) 0,01. Hal ini terbukti bahwa variabel Kinerja Pelayanan tidak normal, sehingga pengujian harus menggunakan uji korelasi non parametrik dengan Spearman-Rho dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,562 dengan p (sig) 0,000. Hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel Kondisi Emosional dengan variabel Kinerja Pelayanan Tenaga Medis. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ketika kondisi emosional tenaga medis meningkat maka kinerja pelayanannya akan menurun yang berarti tanggung jawab terhadap mutu pelayanan agak menurun, keberanian mengambil risiko terhadap pelayanan agak kurang diperhatikan, tujuan pelayanan yang agak kurang diperhatikan, kurang merencanakan pelayanan, kurang memikirkan umpan balik dari pelayanan yang diberikan, dan kemungkinan kurang memikirkan untuk mendapatkan kesempatan dalam merealisasikan pelayanan.
Tahapan Penerimaan Diri Disabilitas Sensorik Netra Bukan Bawaan Lahir Dani, Wulan Rahma; Ruby, Arcivid Chorynia
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i1.14962

Abstract

Visual sensory disability is a term that refers to a person's condition who has problems or difficulties in seeing. Self-acceptance is the ability to accept everything about oneself. This study aims to analyze the stages of self-acceptance in non-congenital visual sensory disabilities. The research subjects were selected based on the criteria of informants with non-congenital visual sensory disabilities. The data collection method for this study used a phenomenological approach with observation and interview techniques. The data analysis method used was coding and triangulation source credibility testing. The results showed that each informant experienced different stages of self-acceptance. Informant A went through stages of denial, anger, bargaining, depression and finally reached acceptance. A had felt hopeless, isolated himself, and thought about ending his life, but support from his family helped him to accept the situation. Informant S went through all stages, from denial, anger, bargaining, depression, to acceptance. S showed a high spirit to recover even though he had damaged things and thought about committing suicide. Meanwhile, Informant M only went through three stages, namely denial, anger, and acceptance. Family support and sports activities really helped him to get motivation for the future, even though M felt tired and pessimistic. Disabilitas sensorik netra adalah istilah yang merujuk pada kondisi seseorang yang mengalami masalah atau kesulitan dalam penglihatan. Penerimaan diri adalah kemampuan untuk menerima segala sesuatu tentang diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tahapan penerimaan diri pada disabilitas sensorik netra bukan bawaan lahir. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria informan dengan penyandang disabilitas sensorik netra bukan bawaan lahir. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan teknik observasi dan wawancara. Metode analisis data yang digunakan adalah coding dan uji kredibilitas triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap informan mengalami tahapan penerimaan diri yang berbeda-beda. Informan A melewati tahapan penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi dan akhirnya mencapai penerimaan. A pernah merasa putus asa, mengisolasi diri,dan berpikir untuk mengakhiri hidup,tetapi dukungan dari keluarganya membantunya untuk menerima keadaan. Informan S mengalami semua tahapan,mulai dari penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, hingga penerimaan. S menunjukkan semangat yang tinggi untuk sembuh meskipun sempat merusak barang dan berpikir untuk bunuh diri. Sementara itu, Informan M hanya melalui tiga tahapan, yaitu penyangkalan, kemarahan, dan penerimaan. Dukungan keluarga dan aktivitas olahraga sangat membantunya untuk mendapatkan motivasi untuk masa depan, meskipun M sempat merasa lelah dan pesimis.
Organizational Citizenship Behavior pada Karyawan: Peranan Quality of Work Life dan Komitmen Organisasi Prasetyo, Yanto; Farhanindya, Hikmah Husniyah; Mawaddah, Nadhifa Avriel
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i1.14244

Abstract

This study aims to examine the influence of Quality of Work Life (QWL) and Organizational Commitment on Organizational Citizenship Behavior (OCB) among employees. OCB is an extra-role behavior that supports organizational effectiveness and enhances business sustainability by encouraging employees to contribute beyond their formal duties. This study employs a quantitative approach with a correlational design and involves 104 employees of PT. Kerta Rajasa Raya (51 males, 53 females, average age = 34 years). Data were collected through questionnaires measuring QWL (α = 0.949), Organizational Commitment (α = 0.900), and OCB (α = 0.887). Multiple linear regression analysis indicates that QWL and Organizational Commitment collectively contribute 50.3% to OCB (R² = 0.503, p 0.01). Partially, QWL (t = 3.901, p 0.01) and Organizational Commitment (t = 3.253, p = 0.002) significantly influence OCB. The findings suggest that higher QWL and Organizational Commitment increase employees’ tendency to engage in OCB. Therefore, organizations should enhance QWL through employee welfare programs, a supportive work environment, and work-life balance. Additionally, fostering commitment through supportive leadership, effective communication, and fair reward systems can strengthen employee engagement, boost work motivation, and optimize organizational productivity in a sustainable manner. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Quality of Work Life (QWL) dan Komitmen Organisasi terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan. OCB merupakan perilaku ekstra peran yang mendukung efektivitas organisasi dan meningkatkan keberlanjutan perusahaan dengan mendorong karyawan untuk berkontribusi di luar tugas formal mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 104 karyawan PT. Kerta Rajasa Raya (51 laki-laki, 53 perempuan, rerata usia = 36 tahun). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur QWL (α = 0.949), Komitmen Organisasi (α = 0.900), dan OCB (α = 0.887). Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa QWL dan Komitmen Organisasi secara simultan berkontribusi sebesar 50.3% terhadap OCB (R² = 0.503, p 0.01). Secara parsial, QWL (t = 3.901, p 0.01) dan Komitmen Organisasi (t = 3.253, p = 0.002) memiliki pengaruh signifikan terhadap OCB. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin baik QWL dan semakin tinggi Komitmen Organisasi, semakin besar kecenderungan karyawan untuk menunjukkan OCB. Oleh karena itu, organisasi perlu meningkatkan QWL melalui kesejahteraan, lingkungan kerja yang mendukung, serta keseimbangan kerja-hidup. Selain itu, membangun komitmen melalui kepemimpinan yang suportif, komunikasi efektif, serta sistem penghargaan yang adil dapat memperkuat keterikatan karyawan, meningkatkan motivasi kerja, dan mengoptimalkan produktivitas organisasi secara berkelanjutan.
Systematic Literature Review: Dukungan Sosial sebagai Pilar Kesejahteraan Psikologis Lansia Fathiyah, Amya Bunga; Seniati, Ali Nina Liche
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i1.14231

Abstract

The increasing number and proportion of the elderly population in Indonesia, reaching one in 10 Indonesians, has led to various challenges, including economic slowdown, demographic imbalance, limited adoption of healthy lifestyles, and a higher risk of depression. Additionally, older adults must cope with physical, social, and emotional changes associated with aging. This phenomenon is a global concern, as their psychological well-being is strongly influenced by the quality of social support they receive. This study integrates previous findings to provide a comprehensive understanding of the role of social support in enhancing elderly psychological well-being. Using a systematic literature review, the selection process from JSTOR and Scopus databases resulted in 10 relevant articles. The synthesis identified three key themes: (1) the function of social support in psychological well-being, (2) mechanisms for improving psychological well-being, and (3) sources of social support influencing psychological well-being. By integrating insights from multiple sources, this review highlights the impact of social support in mitigating the negative effects of aging and improving elderly well-being. These findings are expected to serve as a foundation for more effective interventions and policies to enhance the psychological well-being of older adults, particularly in addressing the challenges posed by an aging population. Peningkatan jumlah dan proporsi penduduk berusia lanjut di Indonesia yang berada pada angka satu dari 10 orang penduduk Indonesia menimbulkan berbagai masalah, seperti perlambatan ekonomi, ketidakseimbangan demografi, hingga meningkatnya risiko depresi. Selain itu, mereka juga harus menghadapi perubahan fisik, sosial, dan emosional akibat penuaan. Fenomena ini menjadi perhatian global, terutama karena kesejahteraan psikologis lansia sangat dipengaruhi oleh kualitas dukungan sosial yang mereka terima dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan temuan terdahulu untuk memberikan gambaran holistik mengenai peranan dukungan sosial dalam mendukung kesejahteraan psikologis lansia. Dengan menggunakan metode systematic literature review, proses seleksi berbagai artikel dari database JSTOR dan Scopus menghasilkan 10 artikel yang memenuhi kriteria relevansi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa terdapat tiga tema utama mengenai bagaimana dukungan sosial berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan psikologis lansia, yaitu: (1) fungsi dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis; (2) mekanisme peningkatan kesejahteraan psikologis; dan (3) sumber dukungan sosial yang memengaruhi kesejahteraan psikologis. Dengan mengintegrasikan wawasan dari berbagai sumber, hasil tinjauan literatur ini berdampak pada peningkatan kesadaran akan pentingnya memperkuat jaringan sosial lansia guna meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka di hari tua. Temuan ini diharapkan menjadi acuan bagi intervensi yang lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia di masa depan, khususnya dalam menghadapi fenomena penuaan penduduk.
Dampak Orang Tua Pilih Kasih Terhadap Tekanan Emosional: Andil Relasi Saudara Kandung Kristiana, Dessy; Sahrani, Riana
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i1.14147

Abstract

Statistical data on mental health has been raising awareness of the need for attention to this issue. One of the factors that can affect a person's mental health is emotional distress, which can have various causes. The experience of individuals who receive different treatment from their parents (parental differential treatment) while growing up with their siblings can be a cause of emotional distress, even when the individual is already grown up. This study examined the role of Sibling Relationships as a moderator in the relationship between parental differential treatment and emotional distress in adults. Participants were 216 individuals aged 20 years and over, had siblings who lived and grew up together with the same parents before living independently. Using quantitative methods, with data collection employing non-probability sampling techniques using the Sibling Relationship Questionnaire (SRQ), Sibling Inventory of Differential Treatment (SIDE), and the Depression Anxiety Stress Scale. (DASS). The research findings indicate there is a role of Sibling Relationship as a moderator in the relationship between Parental Differential Treatment and Emotional Distress in adults. The implication is that Sibling Relationship can act as a factor that weakens or strengthens the impact of Parental Differential Treatment on the Emotional Distress in adulthood. Data statistik mengenai kesehatan mental telah menimbulkan kesadaran perlunya perhatian akan hal tersebut. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang adalah tekanan emosional yang dialami, dengan penyebab beragam. Pengalaman individu yang mendapatkan perlakuan berbeda dari orang tua (parental differential treatment) semasa bertumbuh bersama saudara kandungnya dapat menjadi penyebab dari tekanan emosional (emotional distress), bahkan ketika individu yang bersangkutan sudah dewasa. Penelitian ini menguji peranan Relasi Saudara Kandung sebagai moderator dalam hubungan antara perlakuan berbeda dari orang tua dan tekanan emosional pada orang dewasa.  Partisipan berjumlah 216 individu berusia 20 tahun ke atas, memiliki saudara kandung yang tinggal dan bertumbuh bersama dengan orang tua yang sama sebelum hidup mandiri. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif, pengambilan data menggunakan teknik pengambilan data non-probability sampling menggunakan alat ukur Sibling Relationship Questionnaire (SRQ), Sibling Inventory of Differential Treatment (SIDE), dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Hasil penelitian menunjukkan adanya peran relasi saudara kandung sebagai moderator dalam hubungan antara perlakuan berbeda dari orang tua dan tekanan emosional pada orang dewasa. Implikasinya, relasi saudara kandung dapat berperan sebagai faktor yang memperlemah atau memperkuat dampak dari Perlakuan Berbeda dari Orang Tua terhadap Tekanan Emosional yang pada orang dewasa.