cover
Contact Name
Sisca Mayang Phuspa
Contact Email
siscamayang@unida.gontor.ac.id
Phone
+6285736935463
Journal Mail Official
jihoh@unida.gontor.ac.id
Editorial Address
Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lt. 2 Gedung Utama Universitas Darussalam Gontor Jalan Raya Siman Km. 6, Siman, Kec. Siman Kabupaten Ponorogo 63471JAWA TIMUR, INDONESIA
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health (JIHOH)
ISSN : 25274686     EISSN : 25415727     DOI : https://doi.org/10.21111/jihoh.v9i1.12212
The journal primarily publishes original research articles but also welcomes review papers, short communications, commentaries on pressing issues, and case studies. Topics of high priority include: Occupational health and safety Industrial hygiene Ergonomics Fire protection systems Accident investigation methods Epidemiological surveys related to workplace safety JIHOH aims to improve workplace health and safety, prevent occupational accidents and diseases, and foster safer, more comfortable working environments.
Articles 134 Documents
Kecelakaan Kerja Berdasarkan Loss Causation Model Pada Industri Informal Pengelasan Suherdin Suherdin; Agung Sutriyawan
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 7 No. 2 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v7i2.8747

Abstract

Angka kecelakaan kerja masih tinggi, tidak hanya pada sektor formal tapi juga pada sektor informal, salah satunya pada industri informal pengelasan. Penyebab kecelakaan berupa faktor lack of control, basic cause, dan immediate cause. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja berdasarkan Loss Causation Model. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis observasional dengan rancang bangun cross sectional. Penilitian dilakukan di 15 tempat pengelasan di Bandung Raya. Populasi pada penelitian ini adalah pekerja sektor informal pengelasan (juru las) di wilayah Bandung Raya. Didapatkan 75 sampel dengan teknik total sampling Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner penelitian, dan pedoman wawancara. Analsis data dengan uji chi-square, regresi logistik sederhana dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pogram K3, peran dan tanggung jawab, pengetahun, motivasi, pelatihan pengelasan, standar kerja, penggunaan APD, dan kepatuhan terhadap IK dengan kecelakaan kerja. Variabel paling berpengaruh terhadap kecelakaan kerja adalah motivasi keselamatan (B = 4,605). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lack of control, basic cause, dan immediate cause berhubungan dengan kecelakaan kerja. Pemilik kios pengelasan perlu bekerjasama dengan Pos UKK setempat untuk mengelola K3 di tempat kerja.
KUALITAS UDARA DALAM RUANG BERDASARKAN FAKTOR FISIK DAN KIMIA DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA MAJU Nur Najmi Laila
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 7 No. 2 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v7i2.8994

Abstract

Di masa pandemi saat ini, Kualitas udara dalam ruangan atau KUDR dapat mempengaruhi kesehatan pengguna perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran KUDR di Perpustakaan UIMA yang baru mengalami renovasi sesuai dengan Permenkes No. 48 Tahun 2016. Jenis Penelitian menggunakan kuantitatif deskriptif dengan desain studi cross sectional. Seluruh rangkaian penelitian dilakukan pada bulan November tahun 2022. Pengukuran menggunakan beberapa alat yaitu IAQ meter, Particulate Counter, Hygrothermometer, Lux Meter, Anemometer Digital, UV Light Meter dan SLM. Unit analisis dari penelitian ini adalah semua ruangan yang ada di perpustakaan yang berjumlah 4 ruangan. Hasil pengukuran faktor fisik dalam ruang dengan parameter, kelembaban, sinar UV, radiasi elektromagnetik, partikel debu, kebisingan masih memenuhi standar sedangkan kecepatan angin tidak terukur, kemudian parameter pengukuran intensitas penerangan semua ruangan tidak memenuhi standar, pengukuran suhu terdapat 2 ruangan tidak memenuhi suhu nyaman. Pengukuran faktor kimia dengan parameter O2, CO, CO2, HCHO dan TVOC semua lokasi masih memenuhi standar. Saran dari penelitian ini adalah meningkatkan kualitas penerangan dengan memanfaatkan cahaya alami yang dapat diatur melalui membuka gorden, memantau suhu ruangan staf dan ruang skripsi dengan cara mengatur sirkulasi udara ventilasi dan pemasangan Hygrothermometer. Tidak mematikan AC di ruang skripsi jika masih dalam jam operasional dikarenakan ruangan tersebut tertutup, dikhawatirkan tidak ada pertukaran udara di dalam. Jika mematikan AC dalam ruangan, bisa diganti dengan ventilasi alami seperti dengan membuka jendela ventilasi secara berkala terakhir, bersihkan pendingin udara secara berkala, dan menggunakan alat pengukur kecepatan angin yang lebih sensitif.
Pengaruh Tekanan Panas Terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Shaping Folding Aurina Firda Kusuma Wardani; Seviana Rinawati; Anggreini Beta Citra Dewi; Fathoni Firmansyah; Endah Marlina; Siti Rachmawati
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 7 No. 2 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v7i2.9136

Abstract

Industri makanan dengan proses produksinya menyebabkan KAK dan PAK seperti di PT. X. Hasil pengukuran tekanan panas rata-rata pada bagian shaping folding adalah 36,7 ⁰C, dan hasil pengukuran kelelahan kerja mengalami kelelahan kerja sedang. Kondisi panas yang berlebihan akan menyebabkan kelelahan dan kantuk, mengurangi stabilitas dan menyebabkan kelelahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh tekanan panas terhadap kelelahan kerja pada tenaga kerja shaping folding di Unit 2 PT. X. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Unit 2 PT.WXY pada tahun 2017. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan hasil sampel sebanyak 50 orang. Instrumen penelitian untuk mengukur tekanan panas menggunakan Area Heat Stress Monitor dan kelelahan menggunakan Reaction Timer. Tekanan panas di tempat kerja dan kelelahan kerja dengan uji data statistik Pearson Product Moment. Hasil tekanan panas tertinggi 37,4 ⁰C dan kelelahan tertinggi dengan waktu reaksi 628 mili detik. Dari hasil pengukuran diketahui 34 orang mengalami kelelahan kerja sedang. Hasil analisis dengan uji Pearson Product Moment, terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan panas dengan kelelahan kerja (p = 0,000). Sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh tekanan panas terhadap kelelahan kerja pada tenaga kerja bagian shaping folding di Unit 2 PT. X. Kata Kunci: Tekanan Panas, Kelelahan Kerja
Faktor Yang Berhubungan dengan Gejala Penyakit Dekompresi pada Nelayan Penyelam Ikan Rizky Maharja; Nur Ikhsan
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 7 No. 2 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v7i2.9827

Abstract

Penyelaman memiliki beberapa risiko, salah satunya adalah penyakit dekompresi atau biasa disebut Caisson Sickness atau the Bends. Akibat dari penyakit ini bisa berupa gejala ringan hingga berat dimana gejala ini disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan gejala penyakit dekompresi pada nelayan penyelam ikan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Adapun teknik penarikan sampel menggunakan total populasi yang berjulah 45 orang. Instrument yang digunakan untuk memperoleh data adalah kuisioner dan obervasi. Hasil menunjukkan bahwa 38 responden (84,4%) nelayan penyelam ikan mengalami gejala penyakit dekompresi. Selain itu, hasil menunjukkan bahwa lama penyelaman (p-value=0,003), kedalaman penyelaman (p-value=0,016), frekuensi penyelaman (p-value=0,010), dan penggunaan APD (p-value=0,000) berhubungan dengan gejala penyakit dekompresi pada nelayan penyelam ikan. Sedangkan, masa kerja (p-value=0,661), dan cara naik ke permukaan (p-value=0,629), tidak berhubungan dengan gejala penyakit dekompresi pada nelayan penyelam ikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan gejala penyakit dekompresi adalah lama penyelaman, kedalaman penyelaman, frekuensi penyelaman, dan penggunaan APD. Kata Kunci: nelayan, penyakit dekompresi, penyelaman
PEMETAAN DAN ANALISIS KEBISINGAN LALU LINTAS BERDASARKAN JUMLAH KENDARAAN DI PERSIMPANGAN TABEK GADANG, KOTA PEKANBARU Aryo Sasmita; Muhammad Reza; Wahyu Akmal
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.7238

Abstract

Tingginya mobilitas penduduk menyebabkan keramaian lalu lintas yang berdampak berdampak ke lingkungan di sepanjang jalan yang dilewati kendaraan. Salah satunya adalah peningkatan intensitas kebisingan lalu lintas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur intensitas kebisingan, memetakan intensitas kebisingan, dan menganalisis pengaruh antara volume lalu lintas terhadap kebisingan transportasi pada Simpang Tabek Gadang Kota Pekanbaru. Pengumpulan data berupa tingkat kebisingan dan volume kendaraan. Pengambilan nilai kebisingan menggunakan Sound Level Meter (SLM) selama 2 hari, yaitu pada hari Senin pukul 5 hingga 6 sore yang mewakili jam puncak dan pada hari Minggu pukul 6 hingga 7 pagi yang mewakili jam sepi kendaraan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebisingan pada jam puncak didapatkan sebesar 78,17 dBA – 94,60 dBA. Sedangkan pengukuran kebisingan pada jam sepi kendaraan yaitu sebesar 76,53 dBA – 86,67 dBA. Pola penyebaran kebisingan pada area kebisingan tertinggi yang ditandai dengan warna merah yang memiki rentang kebisingan >90 berada pada titik 2 dan 13. Pengaruh volume lalu lintas pada tingkat kebisingan adalah berbanding lurus, yaitu dengan dengan meningkatnya volume kendaraan akan meningkatkan tingkat kebisingan, Pada jam puncak volume kendaraan terdapat 10.535 unit menghasilkan kebisingan 86,04 dbA, sedangkan pada jam sepi kendaraan dengan jumlah kendaraan 3.246 unit menghasilkan kebisingan 79,96 dbA.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRES KERJA PADA PEKERJA FABRIKASI DI PT X TAHUN 2022 Farhan Hakiki; Ira Marti Ayu; Ade Heryana; Cut Alia Keumala; Desyawati Utami
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.8608

Abstract

Ada banyak bahaya di tempat kerja yang berdampak ke kesehatan pekerja. Salah satu bahaya yang terabaikan yaitu gangguan psikis yang bisa memicu stres pekerja. Hasil survei pendahuluan menunjukkan sebesar 27,3% pekerja fabrikasi di PT X mengalami stres berat dan sebesar 45,4% mengalami stres sedang. Pekerjaan fabrikasi memiliki target pekerjaan yang tinggi namun dengan tenggat waktu yang sedikit dan tetap dituntut untuk menjaga kualitas pekerjaan. Penelitian ini bertujuan ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja fabrikasi di PT X Tahun 2022. Desain penelitian yaitu cross-sectional dengan besar sampel 50 pekerja bagian fabrikasi PT X. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling. Data penelitian akan dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat dengan Uji Chi Square dan Fisher’s Exact. Hasil univariat menunjukkan proporsi tertinggi yaitu pekerja mengalami stress tinggi sebanyak 36 pekerja (72,0%), merasakan tuntutan tugas tinggi sebanyak 31 pekerja (62,0%), memiliki umur berisiko sebanyak 39 pekerja (78,0%), memiliki masa kerja baru sebanyak 38  pekerja (76,0%), dan sudah kawin sebanyak 44 pekerja (88,0%). Hasil bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara tuntutan tugas (PR=1,84, CI 95% (1,12 – 3,01), dan umur (PR=3,10, CI 95% (1,17 – 8,22) terhadap stres kerja. Selain itu juga ditemukan tidak adanya hubungan antara masa kerja (PR=1,38 CI 95% (0,88 – 2,85) dan status perkawinan (PR=1,50 CI 95% (0,66 – 3,40) terhadap stres kerja. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu pekerja di PT ini stres disebabkan oleh adanya tuntutan tugas dan umur. Oleh karena itu Perusahaan perlu memperhatikan tuntutan tugas yang diterima setiap pekerja, diharapkan tuntutan tugas yang diterima oleh pekerja tidak melebihi kapasitasnya.
FAKTOR PENYEBAB KELUHAN KELELAHAN MATA PADA PEGAWAI PENGGUNA KOMPUTER DI PT BANK X BATAM TAHUN 2022 Hazirah Syafiqah; Trisna Dewita; Chandra Rizal
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.8733

Abstract

Pencahayaan adalah segala sesuatu yang memberikan terang (sinar) atau penerangan, baik Pencahayaan alami maupun Pencahayaan Buatan. Otot-otot mata bisa menjadi lelah (fatigue) jika melakukan aktivitas yang berat, dalam hal ini adalah menatap perangkat atau layar komputer dalam waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas cahaya, durasi penggunaan komputer dan jenis pekerjaan dengan keluhan kelelahan mata pada pegawai pengguna komputer. Metodologi Penelitian ini adalah kuantitatif. Analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Populasi sebanyak 61 pegawai pengguna komputer di PT Bank X Cabang Batam. Sampel penelitian menggunakan Teknik Total Sampling yaitu 61 pegawai pengguna komputer. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan alat ukur Lux meter. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara intensitas cahaya dengan keluhan kelelahan mata dengan nilai P value = 0,048, ada hubungan antara durasi penggunaan komputer dengan kelelahan mata dengan nilai P value = 0,000, ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan keluhan kelelahan mata dengan nilai P value = 0,0033. Disimpulkan bahwa variabel intensitas cahaya, durasi penggunaan komputer dan jenis pekerjaan berhubungan dengan keluhan kelelahan mata dimana < α = 0,005 yang berarti Ho di tolak. Disarankan bagi pegawai pengguna komputer lebih memperhatikan durasi penggunaan komputer untuk mencegah kelelahan pada mata.
HUBUNGAN SHIFT KERJA DAN FAKTOR INDIVIDU DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA AREA PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR Ambar Trimala; Ratih Damayanti; Indah Lutfiya; Nima Eka Nur Rahmania
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.9247

Abstract

Kelelahan kerja adalah suatu kondisi yang dialami pekerja dimana pekerja mulai merasakan penurunan kondisi fisik dan mental sehingga berdampak terhadap penurunan kesehatan, produkvitas kerja, konsentrasi, dan kesiapsiagaan. Proses produksi pada perusahaan pembuatan beton pra cetak memiliki potensi bahaya tinggi dan melibatkan banyak aktivitas fisik yang berisiko menjadi peyebab kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara shift kerja dan faktor individu dengan kelelahan kerja pada pekerja unit produksi putar PT APB. Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian observasional deskriptif melalui pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini adalah pekerja unit produksi putar Industri Manufaktur di Jawa Timur dengan jumlah sampel 48 orang pekerja. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Subjective Self Rating Test dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Variabel pada penelitian ini adalah shift kerja dan faktor individu meliputi masa kerja, usia, status gizi, dan riwayat kesehatan. Analisis hubungan menggunakan Uji Rank-Spearmen dan Uji Koefisien Kontingensi untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil pada penelitian ini menunjukkan tingkat kelelahan kerja yang paling banyak dialami adalah kelelahan tingkat sedang. Hubungan antara kelelahan dengan shift kerja (p=0,016) dan status gizi (p=0,009) menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap terjadinya kelelahan pada pekerja unit produksi putar PT APB. Rekomendasi yang dapat diberikan kepada perusahaan antara lain menyediakan tempat istirahat yang memadai di area produksi putar dan memperhatikan pengaturan menu makanan pekerja.
PENGARUH BEBAN KERJA MENTAL TERHADAP STRESS KERJA PADA PEKERJA WANITA BAGIAN WEAVING Anggreini Beta Citra Dewi; Siti Rachmawati; Aurina Firda Kusuma Wardani
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.9721

Abstract

PT Dan Liris bergerak dalam industri tekstil terpadu. PT Dan Liris memiliki beberapa divisi, salah satunya adalah divisi penenunan (weaving). Operator weaving banyak mendapat tekanan yang tinggi dikarenakan barang yang dihasilkan harus sesuai dengan persyaratan klien. Stres adalah akibat dari ketidaksesuaian antara seseorang dan lingkungannya, yang mengakibatkan ketidakmampuan mereka untuk mengatasi berbagai tuntutan yang dibebankan pada mereka, menurut gejala dan tanda fisiologis, perilaku, psikologis, dan somatik. Beban kerja berlebih merupakan salah satu penyebab stres pekerjaan. Hal ini juga yang memicu stress kerja terutama pada pekerja wanita. Studi ini memanfaatkan metode observasi analitis dan pendekatan cross-sectional. Sampling purposive dipilih untuk mengambil sampel. Pada studi ini, alat yang dipakai meliputi formulir NASA-Task Load Index (TLX) berfungsi menilai beban kerja secara mental yang dialami pekerja, sedangkan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) berfungsi mengukur stres yang dialami pekerja. Uji korelasi spearman digunakan untuk menganalisis bivariat. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara stres kerja dan beban kerja mental.  Dimana P-value memiliki nilai 0,052 dan nilai r sebesar 0,226. Koefisien korelasi positif, yang berarti bahwa peningkatan beban kerja mental akan diikuti dengan peningkatan stres kerja, dan penurunan beban kerja mental akan diikuti dengan penurunan stres kerja. Temuan studi ini menegaskan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara stress kerja dan beban kerja mental.
the EVALUATION OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY (K3) TRAINING PROGRAM IN INCREASING OHS AWARENESS IN COMPANIES Eka Cempaka Putri; Decy Situngkir
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.9907

Abstract

Pelatihan internal yang dilakukan memerlukan evaluasi untuk melihat apakah pelatihan yang dilakukan sudah efektif untuk meningkatkan kewaspadaan karyawan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau pelaksanaan pelatihan K3 internal dan mengetahui kekurangan dalam setiap tahapan pelatihan sehingga perusahaan dapat membuat pelatihan internal dengan lebih efektif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain study cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan yang mengikuti pelatihan internal di perusahaan dengan jumlah 72 orang dan metode penarikan sampel adalah total sampling. Hasil penelitian pada dimensi reaksi memiliki skor 79%, hasil ini menunjukan reaksi yang baik dari peserta pelatihan. Dimensi belajar mengalami peningkatan pengetahuan sebesar 18%. Dimensi perubahan tingkah laku mengalami peningkatan sebesar 77%. Hasil penelitian pada dimensi hasil menunjukan masih terjadi peningkatan insiden, penurunan pencapaian program HSE dan peningkatan ketidaksesuaian hasil audit di tahun 2022. Hasil ini menunjukan pelatihan internal sudah berjalan dengan baik dibuktikan pada dimensi reaksi, belajar dan perubahan tingkah laku memiliki hasil yang baik namun pelatihan internal belum efektif hal ini dibuktikan dengan masih terdapat kenaikan angka kecelakaan, peningkatan jumlah ketidaksesuaian audit eksternal dan penurunan pencapaian program K3 oleh karena itu pelatihan yang baik dan efektif dapat dilakukan jika Perusahaan menyusun modul sesuai dengan SKKNI. Penyelenggaraan pelatihan dilakukan secara profesional jika dinilai dari segi waktu dan jadwal belajar. Pelatihan internal harus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang baik dan berkualitas. Terakhir, pelatih harus dibekali dengan pelatihan TOT (Training of Trainer). Saran untuk penelitian selanjutnya melihat pengaruh hasil evaluasi pelatihan dengan tingkat budaya keselamatan di perusahaan.

Page 11 of 14 | Total Record : 134