cover
Contact Name
Sisca Mayang Phuspa
Contact Email
siscamayang@unida.gontor.ac.id
Phone
+6285736935463
Journal Mail Official
jihoh@unida.gontor.ac.id
Editorial Address
Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lt. 2 Gedung Utama Universitas Darussalam Gontor Jalan Raya Siman Km. 6, Siman, Kec. Siman Kabupaten Ponorogo 63471JAWA TIMUR, INDONESIA
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health (JIHOH)
ISSN : 25274686     EISSN : 25415727     DOI : https://doi.org/10.21111/jihoh.v9i1.12212
The journal primarily publishes original research articles but also welcomes review papers, short communications, commentaries on pressing issues, and case studies. Topics of high priority include: Occupational health and safety Industrial hygiene Ergonomics Fire protection systems Accident investigation methods Epidemiological surveys related to workplace safety JIHOH aims to improve workplace health and safety, prevent occupational accidents and diseases, and foster safer, more comfortable working environments.
Articles 134 Documents
ANALISIS INTENSITAS CAHAYA PADA AREA KERJA MACHINING BERDASARKAN STANDAR PENCAHAYAAN Anggi Alung Prasasti; Meirina Ernawati; Mohammad Zainal Fatah
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.10116

Abstract

Salah satu dari faktor fisik yang dapat mengganggu jalannya pekerjaan adalah pencahayaan. Pencahayaan yang sesuai sangat penting untuk peningkatan kualitas dan produktivitas. Kurangnya pencahayaan dapat memicu ketidaknyamanan pada saat bekerja sehingga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan, kecelakaan kerja dan penurunan dalam produktivitas kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis intensitas pencahayaan pada area machining berdasarkan standar pencahayaan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional karena pengumpulan data penelitian hanya dilakukan dalam satu periode waktu tertentu. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Oktober 2022 di salah satu perusahaan konstruksi yang terletak di Karang Pilang, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia tepatnya di area kerja machining.  Intensitas pencahayaan ini diukur menggunakan Lux meter yang diakses menggunakan smartphone dengan 2 macam titik pengukuran yaitu pengukuran pencahayaan lokal/setempat dan pengukuran pencahayaan umum. Berdasarkan hasil penelitian pengukuran intensitas pencahayaan sesuai dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, hasil pengukuran lokal/setempat sebanyak 3 mesin yang tidak memenuhi standar yaitu area kerja machining pada mesin 1 (188,3 Lux), mesin 2 (166,6 Lux) dan mesin 6 (188,3 Lux) sedangkan hasil pengukuran yang memenuhi standar pada mesin 3 (487,6 Lux), mesin 4 (495 Lux), mesin 5 (591 Lux). Pada pengukuran pencahayaan umum telah memenuhi standar yaitu >200 Lux dengan hasil pengukuran 207 Lux. Terdapat perbedaan intensitas pencahayaan pada area kerja machining disetiap mesin yang intensitas pencahayaannya tidak memenuhi syarat <200 Lux dan area kerja machining yang intensitas pencahayaannya memenuhi syarat ≥200 Lux. Sebaiknya penerapan hierarchy of control secara berkelanjutan dapat dilakukan untuk mengontrol tempat pekerja bagian machining yang ada di salah satu perusahaan konstruksi yang terletak di Karang Pilang Surabaya agar pekerja dapat terjamin kesehatan dan kebugarannya.
HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK TERHADAP KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA BAGIAN ADMINISTRASI Fathoni Firmansyah; Anggreini Beta Citra Dewi; Sofia Nabila; Siti Rachmawati
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 1 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i1.10436

Abstract

Sakit punggung bawah adalah rasa sakit dapat berupa nyeri yang terasa pada punggung bagian bawah atau biasa disebut juga dengan istilah low back pain (LBP). Keluhan sakit punggung bagian bawah disebabkan oleh perilaku bekerja dalam postur duduk yang tidak ergonomis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan perilaku kerja duduk terhadap keluhan sakit punggung bawah pada tenaga kerja administrasi di pabrik Madurasa Unggulan Nusantara. Penelitian ini adalah observasional analitik melalui pendekatan cross sectional. Responden berasal dari tenaga kerja administrasi berjumlah 30 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Lembar kerja REBA digunakan untuk menilai perilaku bekerja dalam postur duduk, sedangkan kuesioner Oswestry Low Back Pain Disability digunakan guna menilai tingkat keluhan sakit punggung bawah. Analisis data menggunakan uji Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor perilaku kerja duduk adalah 5,94 dan rata-rata nilai keluhan sakit punggung bawah adalah 9,85%. Hasil uji Pearson Product Moment antara perilaku kerja duduk terhadap keluhan sakit punggung bawah dihasilkan nilai p=0,00 (p<0,05) yang artinya terdapat korelasi bermakna antara perilaku kerja duduk terhadap keluhan sakit punggung bawah.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PEKERJA DAN IKLIM KESELAMATAN KERJA DENGAN PERILAKU TIDAK AMAN PEKERJA OPERASIONAL PT. BINTAN RESORT CAKRAWALA Ruri Sukmawati Dewi; David Kusmawan; Rumita Ena Sari
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 2 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i2.8178

Abstract

Iklim keselamatan kerja dan karakteristik individu berupa umur, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman pelatihan, masa kerja dan status perkawinan memiliki pengaruh terhadap perilaku tidak aman. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran iklim keselamatan kerja, perilaku tidak aman, serta hubungan antara karakteristik dan iklim keselamatan kerja terhadap perilaku tidak aman. Desain penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penghitungan sampel menggunakan metode simple random sampling dengan jumlah 194 sampel. Kesimpulan dalam penelitian ini Mayoritas pekerja memiliki tingkat pendidikan tinggi namun sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan dengan status masa kerja diatas lima tahun. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan (PR 1,971, 95%CI 0,721-5,393), pelatihan (PR 2,618, 95%CI 1,185-5,784), masa kerja (PR 2,197, 95%CI 1,165-4,413), status perkawinan (PR 1,509, 95%CI 0,493-4,621) dengan perilaku tidak aman. Proporsi perilaku tidak aman sebesar 16% dan kondisi iklim keselamatan yang tidak baik dengan skor mean <2,70.  Terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi iklim keselamatan terhadap perilaku tidak aman.
PENGARUH PAPARAN PM10 DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU TERHADAP KELUHAN SUBJEKTIF ISPA PADA PEKERJA INDUSTRI KAPAL PHINISI DI KAB. BULUKUMBA Kahfi, Muh; Sudarmin, Ria Rezeki
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 2 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i2.8652

Abstract

Particulate Matter 10 (PM10) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron. Kelurahan Tanah Lemo, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu industri kayu terbesar dan terkenal di dunia. Pekerja pembuat kapal pinisi dengan jam kerja kurang lebih 7 jam setiap hari dalam seminggu, dengan durasi pembuatan kapal paling cepat 3 bulan, sangat berpotensi terpapar langsung debu PM10 sangat tinggi sehingga memiliki risiko terkena gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan PM10 dan karakteristik individu dengan keluhan subyektif ISPA. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 41 responden. Instrumen penelitian yakni menggunakan Hazard-Dust EPAM 5000, kuesioner, dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar PM10 yang berada di area kerja industri pinisi tidak memenuhi syarat karena melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang harusnya <0,015 mg/m3. Karateristik individu berupa variabel usia tidak berhubungan signifikan dengan gejala ISPA, namun untuk variabel lain seperti perilaku merokok, usia, masa kerja, lama kerja, penggunaan masker memiliki hubungan yang signifikan dengan p-value <0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan keluhan subyektif ISPA, dan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan Particulate Matter 10 (PM10)  dengan keluhan subyektif Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menunjukan korelasi positif, hal tersebut berarti semakin tinggi konsentrasi paparan Particulate Matter 10 (PM10) maka semakin berisiko terkena gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
English VALIDITY AND RELIABLITY TEST OF WORK STRESS DIAGNOSIS SURVEY Akhmad Abul A'la Al Maududi; Nur Ani; Syefira Ayudia J; Bima Pusaka Semedhi
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 2 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i2.11738

Abstract

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mengeluarkan skala survei diagnosis stress kerja sebagai alat ukur stress kerja disetting industry namun penelitian yang menunjukkan validitas dan rliabilitasnya masih terbatas. Penelitian ini menggunakan seluruh karyawan PT. X sebagai sampel penilitian dengan menggunakan Pearson Correlation Analysis untuk uji validitas dan Cronbach alpha untuk uji reliabilitas. Dari hasil analisis pearson correlation seluruh katogeri dalam survei diagnosis stress kerja memiliki validitas alat ukur yang baik (> R Tabel) dan memiliki reliabilitas alat ukur yang baik (p = 0.963>0.05). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu skala survei diagnosis stress kerja yang dikeluarkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan valid dan reliabel untuk digunakan disetting industri.
ANALISIS PERBEDAAN TINGKAT KEMATANGAN BUDAYA KESELAMATAN PADA PEKERJAAN KONSTRUKSI GEDUNG BERTINGKAT DAN BENDUNGAN PT X Diana Aulya; Bernard Hasibuan; Sugiarto Sugiarto
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 2 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i2.11745

Abstract

Pekerjaan konstruksi PT X bervariasi karena faktor-faktor seperti jenis pekerjaan, metode yang digunakan, nilai kontrak, lokasi pekerjaan, dan leadership, pemimpin proyek, sehingga menghasilkan sistem manajemen ketahanan dan kesehatan yang terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik budaya keselamatan dan variasi penerapannya pada Proyek Gedung dan Bendungan PT X. Pengumpulan data dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) kualitatif, observasi, dan wawancara mendalam. Kemudian dianalisis menggunakan metodologi kuantitatif dan dilakukan analisis terperinci. Sampel dipilih dengan cara stratified random sampling, yaitu berdasarkan keterwakilan dalam populasi. Hasil pada Proyek Gedung nilai pelatihan dan kompetensi dinilai paling rendah hal ini diartikan bahwa pelaksanaan training K3 dinilai masih kurang optimal sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kebutuhan pelatihan K3 yang tepat dibutuhkan agar dalam pelaksanaan pekerjaan dapat dipahami dan dilaksanakan sesuai dengan kompetensi K3 yang diharapkan. Sedangkan pada Proyek Bendungan untuk nilai prosedur objective rerata terendah elemen ini sangat penting yang berkaitan dengan membangun pemenuhan prosedur dan standar dalam operasional PT X. Dari hasil wawancara dan observasi terlihat bahwa perusahaan berusaha untuk selalu memenuhi syarat-syarat K3 yang berlaku baik pemerintah maupun internal perusahaan. Kesimpulan gambaran tingkat kematangan budaya K3 di PT X pada proyek Gedung sebesar 4,28 sedangkan di Proyek Bendungan sebesar 4,32 artinya perusahaan sudah memiliki tingkat kematangan budaya K3 dengan kategori proaktif, yaitu K3 telah menjadi bagian dari fungsi lini di perusahaan serta memiliki kesiapan baik engineering dan sistem untuk menjadikan K3 sebagai budaya perusahaan.
SOCIOLOGY OF SAFETY: PREVENTIVE MEASURES IN INSURANCE AS AN OBJECT OF ANALYSIS Diana Kazbekova; Anel Yensebayeva; Elmira Otar; Kuralay Mukhambetova
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 8 No. 2 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v8i2.11810

Abstract

Modern sociology actively examines issues related to occupational safety and preventive measures in the field of insurance, with a specific focus on safeguarding the well-being and health of workers. This article presents a sociological analysis of preventive programs in insurance, paying close attention to their sociological dimensions. The study investigates the experiences and future prospects of countries belonging to both the Organization for Economic Co-operation and Development and the Eurasian Economic Union that have implemented preventive measures within their social insurance systems. The article discusses the key components of preventive programs, their role in guaranteeing worker safety and health, and the effectiveness of investments made in preventive measures. Furthermore, it presents data regarding the allocation of resources for preventive measures in different countries and evaluates the return on investment in preventive programs. In conclusion, the article highlights the significance of further developing and enhancing preventive programs in insurance to ensure the safety and well-being of workers in their respective work environments.
ANALISIS KUALITAS UDARA PADA RUANGAN UPT PLTS DAN LABORATORIUM TEKNIK SISTEM ENERGI Khoirun Naimah; Arya Mahastra Darmawan; Muhammad Irfandi; Putri Pradini; Stefi Graf Sinaga
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 9 No. 1 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v9i1.9390

Abstract

Kualitas udara dalam suatu ruangan merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi produktivitas seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Kualitas udara yang buruk dapat disebabkan oleh adanya polusi udara. Polusi udara atau pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam udara oleh kegiatan manusia. Sehingga, pengukuran kualitas udara penting dilakukan untuk mengetahui dan menganalisa kualitas udara yang ada di ruangan 1 (UPT PLTS) dan ruangan 2 (Laboratorium Teknik Sistem Energi) Gedung Laboratorium Teknik 2 ITERA. Metode yang digunakan adalah observasi dan pengukuran langsung terhadap beberapa parameter kualitas udara yang meliputi PM1.0, PM2.5, PM10, TVOC, HCHO, Temperature, Relative Humidity, dan Air Quality Index (AQI) pada November 2022.  Adapun pengukuran dilakukan dengan menggunakan Air Quality Monitor, yaitu alat yang dapat mengukur parameter- parameter yang menentukan kualitas udara dalam ruangan (indoor Air Quality). Berdasarkan hasil penelitian, pada ruangan 1 diperoleh AQI very good dan seluruh parameter telah memenuhi standar kecuali parameter Relative Humidity, sedangkan pada ruangan 2 diperoleh AQI fine dan Danger dengan ada 3 parameter yang belum memenuhi standar yaitu PM1.0, PM2.5, dan PM10.
ANALISIS PENYEBAB KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJA KONSTRUKSI Ica Yuniar Sari
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 9 No. 1 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v9i1.11185

Abstract

Pembangunan infrastruktur di Indonesia terus meningkat setiap tahun, mengingat wilayah kepulauan yang memerlukan manajemen dan pengembangan untuk mendukung ekonomi berkelanjutan. Artikel ini membahas kompleksitas kegiatan konstruksi, dengan fokus pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai aspek kritis. Penelitian menggunakan metode studi literatur untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan kerja di sektor konstruksi. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa jenis kecelakaan yang sering dialami oleh pekerja konstruksi melibatkan tertimpa benda, tertumbuk, terjepit, gerakan melebihi kemampuan, suhu tinggi, terkena arus listrik, dan kontak dengan bahan berbahaya. Penyebab utama kecelakaan termasuk bekerja dalam kondisi tidak sehat, perbuatan pekerja yang berisiko, keengganan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), dan kurangnya pengetahuan K3.Metode pencegahan kecelakaan termasuk pemeriksaan kesehatan, pelatihan K3, penggunaan APD, isolasi operasi berbahaya, dan pengaturan ventilasi. Pembahasan menyoroti faktor yang memengaruhi keputusan pekerja untuk tidak menggunakan APD, seperti tekanan fisik, kurangnya penjelasan risiko pekerjaan, dan kurangnya perencanaan keselamatan kerja. Pelatihan dan penggunaan APD terbukti berpengaruh negatif terhadap kecelakaan, sementara kesehatan pekerja juga memainkan peran penting. Kesimpulan menunjukkan pentingnya peningkatan pengetahuan K3, implementasi sistem manajemen K3, dan perhatian terhadap faktor kesehatan, pelatihan, dan penggunaan APD. Rekomendasi termasuk perhatian lebih besar terhadap faktor-faktor tersebut, peningkatan program K3, dan sosialisasi yang lebih efektif di perusahaan konstruksi.
Indonesia HUBUNGAN WORK CAPASITY DAN TASK DEMAND DENGAN KELUHAN MUSKUSKLETAL DISORDER PEKERJA PT.XYZ Afan Alfayad; Endang Dwiyanti; Jayanti Dian Eka Sari
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 9 No. 1 (2024): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v9i1.11647

Abstract

Perkembangan revolusi industri 4.0 meningkatkan akumulasi persebaran perusahaan di Indonesia mencapai 300.099 perusahaan. Perusahaan tersebut salah satunya adalah manufaktur yang menyerap 5.902.367 tenaga kerja pada tahun 2020. Penyerapan tenaga kerja yang besar mengharuskan perusahaan menyediakan lingkungan kerja aman guna mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan observasi awal menunjukkan adanya kegiatan manual handling yang memengaruhi penyakit akibat kerja yaitu muskuloskletal disorder. Tujuan penelitin ini adalah menganalisis aspek keseimbangan ergonomi berupa work capacity dan task demand dengan keluhan MSDs pada pekerja Departemen MPC (Material Preparation Colouring) PT. X Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi. Responden pada penelitian ini adalah 30 pekerja Departemen MPC PT. X Surabaya. Variabel yang diteliti adalah keluhan MSDs, status gizi, kebiasaan olahraga, postur kerja, dan lama kerja. Analisis hubungan dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan chi-square dan nilai koefisien kontigensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja Departemen MPC PT. X Surabaya sebesar 53,3% mengalami keluhan muskuloskletal disorder. Hal ini menunjukkan adanya hubungan kuat antara postur kerja dengan keluhan MSDs (c=0,654; p-value=0,00), adanya hubungan sedang antara lama kerja dengan keluhan MSDs (c=0,407; p-value=0,04), adanya hubungan sedang antara kebiasaan olahraga dengan keluhan MSDs (c=0,441; p-value=0,04), dan adanya hubungan sedang antara status gizi dengan keluhan MSDs (c=0,484; p-value=0,04). Berdasarkan hasil penelitian, maka rekomendasi yang dapat diselenggarakan diantaranya penyediaan stasiun dan alat kerja berupa conveyor, melakukan re-desain stasiun kerja sesuai dengan rata-rata antropometri pekerja Departemen MPC PT. X Surabaya, pengadaan senam atau olahraga, dan sosialisasi aktivitas manual handling, gerakan repetitif, serta posisi statis dalam bekerja.