cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
KONSEP NAMA-NAMA INDAH ALLAH MENURUT AL-GHAZALI (Sebuah tinjauan semiotik) Sakim Sujatna
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.002 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i1.9556

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas konsep nama-nama menurut pemikiran Al-Ghazali ditinjau dari sisi ilmu semiotika yang terkait dengan nama-nama Allah. Peneliti di sini akan mencoba mendalami jauh ke dalam pemikiran Al-Ghazali tentang konsep nama-nama ini. Adapun penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk library research. Al-Ghazali melihat fenomena ini dari berbagai macam golongan yang telah menceburkan diri ke dalam pergulatan pemikiran tentang konsep nama-nama dengan aneka ragam paham-pahamnya. Di sini, Al-Ghazali melakukan tanggapan berupa kritikan terhadap golongan-golongan tersebut, dengan cara menguraikankan terlebih dahulu pandangan-pandangan mereka dengan rinci. Dan Al-Ghazali sendiri pun memberikan pandangannya terhadap konsep nama-nama ini setelah ia memberikan komentarnya terhadap golongan-golongan yang telah terlebih dahulu menceburkan diri ke dalam masalah tentang nama-nama ini.
MANIFESTASI KEIMANAN AKAN MAKHLUK GHAIB (JIN) DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA UMAT ISLAM (Studi Kasus ekspresi beragama Ormas Nahdlatul ‘Ulama dan Persatuan Islam di Kota Bandung) Rismawati Hikmawati; Muhammad Saputra
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.251 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9466

Abstract

AbstrakPenelitian  ini didasarkan pada penelitian mengenai  keimanan terhadap makhluk ghaib (Jin) yang mempunyai perbedaan penyikapan dan manifestasi tersendiri dalam yang dapat dilihat dari ekspresi keberagamaan warga NU (Nahdlatul Ulama) serta warga Ormas Persis (Persatuan Islam) di Kota Bandung, Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan teologis.  Berdasarkan hasil penelitian kemudian diketahui bahwa pertama, kedua ormas memiliki pemahaman bahwa jin juga memiliki kehidupan sendiri seperti manusia dan bisa berinteraksi dengan manusia. Kedua, ormas NU seara umum melaksanakan  tradisi-tradisi keagamaan Islam dengan memelihara tradisi lokalnya sebagai ekspresi keimanan terhadap mahluk gaib. Sedangkan ekspresi keberagamaan dan budaya pemikiran ormas Persis manifestasi ritualnya meliputi bentuk ibadah yang sebagaimana yang tertera dalam rukun Islam, demikian juga dengan gaya kehidupan Spiritualistik lainnya, seperti tawasul yang tata caranya terdapat didalam nsh, melakukan tradisi meminta perlindungan dengan kepada Allah melaui doa-doa dalam nash dan rukyah yang menggunakan landasan formal nash.
KONSEP MANUSIA SEMPURNA MENURUT MUHAMMAD TAQÎ MISBÂH YAZDÎ Saeful Anwar
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.007 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i1.9330

Abstract

AbstrakIlmu pengetahuan dengan pelbagai metodenya, telah menempatkan manusia pada jurang keterasingan yang dalam nan gelap. Tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang mulanya dipahami sebagai ikhtiar bagi pemuliaan hakikat manusia, malah bergerak mendekati tubir-getir krisis kemanusiaaan multi dimensi. Manusia menjadi teralienasi akan dirinya. Berangkat dari kegagalan manusia kontemporer dalam memahami makna eksistensi manusia dalam proses menuju kesempurnaan diri.  Faktor paling besar penyebab kesalahan  perjalanan manusia saat ini dalam pandangan Misbâh Yazdî karena, ketidakjelasan dan ketiadaan perhatian terhadap hakikat manusia,  manusia lupa akan kemengadaannya. Sehingga manusia alpa bahwa ia punya potensi  untuk menjadi manusia sempurna.Persoalan fundamental ini telah menyebabkan manusia meninggalkan fitrah yang benar dan terjerumus ke lembah kesesatan.  visi manusia hari ini merupakan sesuatu yang tidak alamiah sekaligus menyimpang dari alur penciptaan sang Khaliq. Oleh karena itu, Misbâh Yazdî berusaha memfokuskan diri dalam merenungi secara mendalam sejumlah hasrat-hasrat fitri dan tendensi-tendensi (kecendrungan) alamiah yang berperan penting yang dalam pandangan Misbâh Yazdî bersifat mendasar dan prinsipil dan terdapat pada manusia. Pada terang ini, Misbâh Yazdî mengembangkan suatu skema konseptual yang menarik. Hal itu dapat ditahbiskan dengan usahanya menelusuri hakikat manusia melalui filsafat wûjud  kemudian bergerak melalui analisis epistemology. Ziarah menyusuri apa yang direnungkan Misbâh Yazdî, penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan heuristika, dengan penelitian ‘studi kepustakaan’ (library reseach), guna melingkupi persoalan: a) Bagaimanakah konsep Manusia Sempurna dalam diskursus Filsafat Islam?;  b). Konsep Manusia sempurna seperti apakah yang dimaksud oleh Misbâh Yazdî?. Adapun sumber rujukan dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya Misbâh Yazdî, beserta berbagai sumber lainnya yang dapat mendukung dalam pembahasan. Berbekal pada konsep ontology Mullâ Shadrâ tentang harakah jawhariyyah, Misbâh Yazdî, menyimpulkan kesempurnaan manusia sebagai evolusi dan gerak menyempurna (harakah istikmâliyah). Melalui prinsip hudûrî sebagai induk semua pengetahuan,  namun pengetahuan burhânî yang di dasarkan pada silogisme-demonstratif dan pengetahuan hushûlli . Akhirnya, apa yang ditelusuri Misbâh Yazdî, merupakan bagian penting dari perjalanan ikhtiar manusia dalam menggapai kesempurnaannya yakni untuk memahami asal dan tujuan manusia. Melalui ilmu dan iman, dan  iman mesti diikuti oleh amal perbuatan. Jika seseorang dapat menyaksikan hakikat kediriannya, maka ia akan menyadari bahwa kediriannya  ditopang oleh Illah-nya.
Pendidikan Multikulturalisme Gus Dur Yaser Burhani; Giswah Yasminul Jinan; M. Iman Saepulloh; Raja Cahaya Islam
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 5, No 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.85 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.10464

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang memiliki beragam identitas, mulai dari etnis, adat, agama dan kebudayaan. Keberagaman itu sendiri bisa dianggap sebagai suatu kekayaan, namun tak jarang malah jadi petaka, karena bisa menimbulkan konflik. Pencegahan dan penyelesaian atas konflik itu bisa diupayakan, salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan pun mesti dicari bentuknya agar sesuai dengan kenyataan plural masyarakat Indonesia. Pada titik inilah Gus Dur hadir sebagai figur yang mengusung pendidikan multikultural. Penelitian ini akan fokus pada pembahasan pendidikan multikulturalisme Gus Dur. Adapun metode yang digunakan adalah studi pustaka, yang mana data diambil dari suber-sumber yang relevan. Hasil penelitian ini adalah: pertama, pendidikan multikultural ala Gus Dur, menekankan keragaman budaya sebagai latar dari pendidikan; kedua, pendidikan multikultural didasarkan pada keterbukaan yang dialogis, menimbang keberagaman latar peserta didik; ketiga, pendidikan multikultural adalah jenis pendidikan yang didasarkan pada keadilan, yang mana berbasiskan HAM dan nilai-nilai demokratis, dengan demikian tiap latar belakang yang beragam akan dipandang secara “sama” di dalam ruang demokratis.
KRITIK KORELASIONISME (Materialisme Spekulatif Quentin Meillassoux) Muhammad Satria Abdulkarim
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.13 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i1.9547

Abstract

AbstrakSyarat minimal dari filsafat kontinental, yang terdiri dari idealisme Jerman, fenomenologi, strukturalisme, Nietzscheanisme, posmodernisme, posstrukturalisme dan lain-lain, adalah kantianisme, khusunya filsafat transendental milik Kant. Quentin Meillassoux menamai filsafat tersebut sebagai korelasionisme. Namun demikian, filsafat, bagi Meillassoux, tidak bisa dipertahankan ketika berhadapan dengan ansestralitas, sebuah realitas sebelum kemunculan kesadaram, yang membuat korelasionisme berkontradiksi dengan dirinya. Lantas, dengan memperhitungkan ketakmungkinan untuk kembali kepada filsafat dogatis yang disuarakan oleh Descartes, Meilassoux memproyeksikan sebuah filsafat baru yang meladndaskan diri lewat korelasionsime tetapi menghilangkan sepenuhnya aspek transedental. Materialisme spekulatif, yang merupakan nama dari filsafat Meillassoux, mengkonsepsikan bahwa kontingensi hanyalah satu-satunya basis filsafat karena ia merupakan konsekuensi dari korelasionisme kuat yang ditandai dengan faktisitas. Untuk membutkikan itu, dia menambahakan matematika himpunan transfinit George Cantor. Intinya, tujuan utamaMeillassoux adalah mengolah filsafat yang mampu mengembalikan legitimasi filsafat terhadap sains.
EKSISTENSI MANUSIA DALAM REPRESI PERADABAN MODERN (Studi Kritis Terhadap Pemikiran Herbert Marcuse) Ai Rosmiati
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.681 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v4i2.9371

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi seharusnya menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi manusia. Sehingga manusia mempunyai waktu yang banyak untuk mendapatkan kebebasannya. Namun kenyataan itu hanya terlahir dalam mimpi. Ketika teknologi secara terang-terangan mengawinkan kekuasaannya dengan sistem politik, secara sah telah melahirkan penindasan yang tak terkendalikan terhadap kebebasan manusia. Manusia digiring masuk dalam dunia ‘entah berantah’ yang terjauh dari dunia eksistensinya, dan seketika menegaskan dirinya sebagai ‘mayat-mayat’ hidup yang harus berkerumun dalam sebuah sistem penindasan. Pada posisi ini, Herbert Marcuse sebagai seorang pemikir yang mencoba membedah problem eksistensi manusia dalam sebuah analisis yang lebih mendalam, memulai pembongkaran sistem penindasan ini dengan beranjak dari dunia alam bawah sadar manusia yang telah terepresi. Marcuse menempatkan problem represi manusia dalam kacamata yang berbeda. Marcuse melihat bahwa represi pada batasnya, dibutuhkan dalam menyokong terbentuknya sebuah peradaban yang sehat. Namun, ketika represi dipergunakan sebagai sebuah situasi yang melebih-lebihkan represi (surplus respesi) demi suatu kepentingan kelompok, maka akan menimbulkan sebuah penindasan manusia. Kenyataan tersebut, telah melahirkan sebuah ketertarikan yang mendalam terhadap pemikiran Herbert Marcuse dan menggiring penulis untuk melacak kembali problem eksistensi manusia dalam peradaban modern yang telah melahirkan sebuah sistem penindasan. Dalam analisisnya yang membedah persoalan represi manusia dengan beranjak dari alam bawah sadar manusia, Marcuse menyimpulkan bahwa manusia mampu membebaskan dirinya hanya melalui perubahan yang mendalam terhadap sifat represi teknologi dan industri modern, sehingga sifat represifnya tidak lagi memperbudak manusia. Terlepas dari karakter utopis yang terlihat dalam pemikirannya, secara umum pemikirannya telah memberikan analisis yang tajam yang bisa dibaca ulang sebagai dasar kerangka yang lebih kokoh dalam usaha mewujudkan pergerakan peradaban yang lebih baik.
Relasi Tubuh dan Kekuasaan: Kritik Sandra Lee Bartky Terhadap Pemikiran Michel Foucault Yuris Fahman Zaidan
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 5, No 2 (2020): METAFISIKA DAN LEKSIKON POLITIK
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.081 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v5i2.9054

Abstract

AbstractThe body in Foucault's conception is often juxtaposed with the discourse of power. In this context, gestures are regulated by the power of modern institutions such as hospitals, prisons, schools, and other institutions. In Foucault's conception, there is no separation between the body of men and the body of women amid control carried out by the institution. This raises strong criticism from Bartky that it treats different disciplines attached between the bodies of men and women. This criticism from Bartky aims to dispute the concept of the relation of the body and power. According to him, because there are different disciplines on the bodies of men and women, the problem is no longer about the power of institutions but patriarchy. In modern society, according to Bartky patriarchy has changed and practiced through institutions. In this paper, the debate about femininity also formed through consumerism is also outlined as a critique of Bartky's view.Keywords: power; body; patriarchy; consumption. Abstrak Tubuh dalam konsepsi Foucault kerap disandingkan dengan wacana kekuasaan. Dalam konteks ini, gerak tubuh diatur oleh kuasa institusi-institusi modern seperti rumah sakit, penjara, sekolah, dan institusi lainnya. Dalam konsepsi Foucault tidak ada pemisahan antara tubuh laki-laki dan tubuh perempuan di tengah kontrol yang dilakukan oleh institusi. Hal tersebut memunculkan kritik yang keras dari Bartky bahwa memerlakukan secara berbeda disiplin yang dilekatkan antara tubuh laki-laki dan perempuan. Kritik dari Bartky ini bertujuan untuk mempermasalahkan konsep relasi tubuh dan kekuasaan. Menurutnya, karena terdapat disiplin yang berbeda terhadap tubuh laki-laki dan perempuan, maka yang menjadi persoalannya bukan lagi tentang kuasa institusi melainkan patriarki. Dalam masyarakat modern, patriaki menurut Bartky  telah berubah dan dipraktikan lewat institusi. Dalam tulisan ini diuraikan pula perdebatan tentang femininitas yang terbentuk juga lewat konsumerisme sebagai kritik dari pandangan Bartky.Kata Kunci: kuasa; tubuh; patriarki; konsumsi.
MAKNA TEOLOGI DALAM NOVEL TUHAN MAHA ASYIK SUDJIWO TEDJO DAN DR. MN. KAMBA Rahmat Firdaus
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.047 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v3i2.9570

Abstract

AbstractGod, with its various mysteries, has given man the element that the search for Him for a search which - apart from being a continuous and unending activity - also gives pleasure. That is why God is most fun: either as an object of study, or as the goal of the entire axis of human activity. The author's understanding of God is very interesting to know, because this book of God is Most Fun is very different from other Theology books. The thinking method used is hermeneutics. The results of research on the novel Tuhan Maha Asik written by Sudjiwo Tedjo and DR. M N. Kamba, shows a direction in unique stories, starting from the discussion of wayang, marhain, worms, self and so on, which is presented with analogies in the style of children. The theological meaning contained in this book is theology of authentic self. Where we can know God through each human being, the self that is meant here is a natural self, not a self that has been entered by concepts formed from society or from outside.
Pluralisme Sebagai Basis Kerukunan Beragama Perspektif John Hick Raja Cahaya Islam; Dadang Kuswana; Roro Sri Rejeki Waluyajati
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.873 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.12719

Abstract

AbstrakPluralitas agama memiliki sebuah potensi konflik yang bisa mengaktual, sehingga pada kondisi tersebut, dibutuhkan sebuah pola agar konflik tersebut setidaknya dapat dicegah atau diminimalisir. John Hick adalah seorang pemikir agama yang menawarkan jalan pada kondisi tersebut dengan konsepnya mengenai pluralisme agama. Berangkat dari situlah penelitian ini ditulis. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, yang mana sumber data akan diambil dari buku dan jurnal yang relevan dengan tema ini. Adapun hasil penelitian ini adalah: John Hick menawarkan revolusi Kopernikan dalam agama, yakni mengalihkan keterpustan-diri kepada keterpusatan-Realitas dalam beragama. Lalu Hick mengadopsi distingsi noumena (Yang-Riil) dan fenomena (Yang-Riil sebagaimana dipersepsi) ala Kant yang ditariknya pada ranah agama untuk membangun basis konsepsi pluralisme. Dari pluralisme inilah Hick menegaskan, bahwa pengalaman manusia ketika berkoneksi dengan Yang-Riil bersifat plural, dan karenanya monopoli klaim agama menjadi tidak relevan; dan dari situlah pluralisme sebagai basis kerukunan beragama menjadi mungkin.Kata Kunci:Pluralisme, Revolusi Kopernikan, KeselamatanAbstractReligious plurality has a potential for conflict that can be actualized, so that under these conditions, a pattern is needed so that the conflict can at least be prevented or minimized. John Hick is a religious thinker who offers a way to this condition with his concept of religious pluralism. From there this research was written. The method used is literature study, in which data sources will be taken from books and journals relevant to this theme. The results of this study are: John Hick offers a Copernican revolution in religion, namely shifting self-liberty to Reality-centeredness in religion. Then Hick adopted the Kantian distinction of noumena (Real-Real) and phenomena (The Real as perceived) which he drew on the realm of religion to build a basis for the conception of pluralism. It is from this pluralism that Hick emphasizes that human experience when connecting with the Real is plural, and therefore the monopoly of religious claims is irrelevant; and from there pluralism as a basis for religious harmony becomes possible.Keywords:Copernican Revolution, Pluralism, Salvation
Ulama methods in understanding verses mutasyabih (Study of the Tafwid and Ta'wil Methods Verses About the Attributes of Allah) ade jamarudin; Nelvawita .
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.66 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.12236

Abstract

In the realm of Islam, there is a recognized group that has a respectable place in the Muslim community. This group is the salaf group. Often every debate about the understanding of Islam is returned and a reference is sought which leads to that group. Knowing the application of the method of tafwid, taslim and ta'wil tafsili of salaf scholars in understanding the mutasyabihat verses about the nature of Allah SWT The understanding of the salaf ulama on the mutasyabihat verses in the future has an urgent relationship in the formation of the understanding of the firqah-firqah mentioned above. The great contradiction between the Musyabbihah and Ahlussunnah,. This research is in the form of literary research, meaning that this research will be directly based on written data in the form of books, especially classical works, as well as related books. From the development of the study of the Qur’an from the salaf period to the present day, it can be concluded that the study of the Qur’an has experienced rapid and dynamic developments and has passed through various eras, places and generations of thought. Although the description of the historical development of the Qur’an above is very limited and specialized in the scope of the early generation of intellectuals and that is not enough for all existing developments, this is sufficient to prove that the study of the Qur’an is never "dead" and obsolete. in the times

Page 6 of 22 | Total Record : 220