cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
TAREKAT DAN KEMODERNAN: STUDI ATAS IKHWAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH YOGYAKARTA Robby Habiba Abror; Muhammad Arif
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.361 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.11873

Abstract

AbstractMostly researchers of Muslim society had predicted that tarekat will slowly become extinct in Modern era. Yet, there are still many tarekats that exist in Modern era. In fact, they are always adapting to modernity, like Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Yogyakarta. In the midst of modern society, TQN Yogyakarta is still exist and attract a lot of disciple. Examine the reality of the TQN's existence certainly interesting. Why TQN still exist in Modern society? What do tarekat members think about sufism and modernity? This article answers this question by interview TQN members and join some TQN activities and review some relevant literature. The result, TQN Yogyakarta is tarekat that live in the context of civilization. For TQN members, the relationship between sufism and modernity is not contradictory, but symbiotic mutualism, therefore a new religious style was created, that is the modern tarekat whose activities have a modern style.Keywords: TQN Yogyakarta, Tarekat, Modernity, and Sufism course AbstrakSebagian besar pengamat masyarakat Muslim meramalkan bahwa tarekat, akan sedikit demi sedikit punah dalam masyarakat modern. Namun, ternyata masih banyak tarekat-tarekat yang masih tetap eksis di era modern ini. Bahkan senantiasa beradabtasi dengan komodernan, seperti yang dilakukan oleh Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Yogyakarta. Di tengah masyarakat modern, ikhwan tarekat ini masih terus eksis dan cukup banyak menarik peminat. Realitas eksistensi TQN tersebut tentu menarik untuk dikaji lebih lanjut. Mengapa TQN tetap bertahan di tengah masyarakat modern Yogyakarta? Bagaimana pandangan ikhwan tarekat TQN Yogyakarta akan tasawuf dan kemodernan? Pertanyaan inilah yang diulas dalam artikel ini. Dalam menjawab pertanyaan tersebut penulis langsung menggali informasi lewat wawancara, ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan TQN, serta melakukan kajian literatur. Hasilnya, TQN Yogyakarta adalah tarekat yang hidup dalam historisitas kemanusiaan. Bagi para ikhawan TQN kolaborasi antara tarekat dan kemodernan bukanlah bersifat antagonis, melainkan simbiosis-mutualisme, sehingga tercipta suatu corak keagamaan baru, yaitu tarekat modern dengan kegiatan-kegiatan yang sarat nuasan kemodernan.Kata kunci: TQN Yogyakarta, Tarekat, Komedernan, Kursus Tasawuf.
Rekognisi Axel Honneth: Gramatika Moral Bagi Defisit Rasionalitas Beragama Diah Meitikasari; Oktarizal Drianus
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.159 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.11905

Abstract

This paper aims to explore Axel Honneth's thoughts on recognition. This is considered important that today, religious moderation is expected to be a mode of living together that able to reconstructs a just and rational moral grammar, instead of falling into a deficit of rationality. This paper uses a literature study approach with the main source of Honneth's work, The Struggle for Recognition: Moral Grammar for Social Conflict. Several points were learned, namely: 1) recognition for Honneth is a normative basis for recognition and social struggle that eliminates all forms of disrespect; 2) Honneth's Recognition manifests in three domains: love, rights, and solidarity; 3) Mutual relations in three domains which are basic self-confidence, self-respect, and self-esteem; 4) Honneth's recognition can be a moral grammar for religious moderation efforts in Indonesia.
KONSEP DIRI DALAM EKSISTENSIALISME ROLLO MAY Ucep - Hermawan
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.439 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i1.11669

Abstract

This reaserch focuses on self as a fundamental requirement for the philosophy of existentialism, the first step in trying to understand the self-concept according to Rollo May. Then look for teh root of the philosophical problem that makes man lose himself until finaly unable to exist in the world. Rollo May is one of the psychologist who brought the philosophical tradition of existensialism to America. In this reaserch, the wraiter places Rollo May as an existentialist philosopher, with depart from the problem of self-philosopy.
Politik Kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti Anthonius Panji Satrio; R.F. Bhanu Viktorahadi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.435 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.14072

Abstract

Menindaklanjuti perjumpaannya dengan Sultan Malik al-Kamil di Abu Dhabi awal 2019 sekaligus mengajak semua saudara membangun tata kelola dunia yang lebih baik pasca Pandemi Covid-19, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik ‘Fratelli Tutti’ on Fraternity and Social Friendship pada Oktober 2020. Secara khusus, dengan ensiklik ini Paus Fransiskus juga mengajukan proposal tentang ‘Politik Kemanusiaan’. Menurutnya, ‘Politik Kemanusiaan’ adalah politik berbasiskan amal kasih. Politik ini merangkul semua pihak untuk mempromosikan kemanusiaan. Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, mendeskripsikan politik kemanusiaan dalam Ensiklik Fratelli Tutti. Kedua, mendeskripsikan relevansi politik kemanusiaan tersebut. Untuk sampai pada tujuan itu, penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis teks. Penelitian menyimpulan bahwa politik kemanusiaan ini relevan untuk diterapkan pada zaman ini. Akan tetapi, Gereja Katolik Indonesia masih harus berjuang untuk benar-benar mewujudkan politik kemanusiaan ini.
HEIDEGGER DAN BAHAYA TEKNOLOGI A. Setyo Wibowo
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.648 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.15841

Abstract

AbstrakTeknologi adalah keniscayaan. Kita membutuhkan teknologi untuk hidup, namun teknologi juga menunjukkan wajahnya yang seram: krisis ekologi, perang nuklir dan disrupsi. Bagi Heidegger, teknologi bukan sekedar pengetahuan teknis dan kumpulan perangkat (instrumentum) untuk mempermudah kerja. Inti teknologi adalah Gestell yang membingkai segala sesuatu, termasuk manusia, sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Heidegger menengarai bahwa inti teknologi berasal dari Metafisika Barat yang berciri ontoteologis. Manusia mesti berpikir secara lain, bukan lagi kalkulatif melainkan meditatif supaya ia memiliki relasi lebih baik dengan physis (alam). Kata Kunci: teknologi, ontoteologi, Gestell (Enframing), pikiran kalkulatif dan meditatif AbstractIn this age, technology is an imperative. Though we need it, technology has its own dangers: ecological crisis, nuclear war and technological disruption. Heidegger thought that technology was not merely a technical knowledge, nor a set of instruments to make work easier. The essence of technology is Gestell, Enframing, a stand point to consider everything, including man, as a standing reserve ready to be exploited. For Heidegger, the essence of technology comes from Western Metaphysics, characterized by its ontotheological structure. Man should look for another kind of thinking, meditative one, to have a better relationship with nature. Key words: technology, ontotheology, Gestell (Enframing), calculative and meditative thinking.
PROBLEM GENDER DALAM FEMINISME EKSISTENSIALIS SIMONE DE BEAUVOIR Siti Rohmah; Restu Prana Ilahi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.784 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.13394

Abstract

Problematika gender di masyarakat masih menjadi pembicaraan yang hangat mengingat banyak factor yang mempengaruhi diantaranya adalah masih terjadinya tumpang tindih gender dan ketimpangan sosial. Problem gender semakin ramai dibicarakan terlebih oleh para aktifis feminisme yang menuntut kesetaraan dan keadilan gender. Gender merupakan jenis kelamin sosial yang direkontruksi oleh masyarakat baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan. Akan tetapi akibat stereotype perbedaan gender ini melahirkan ketidakadilan gender yang banyak merugikan kaum perempuan. Kehadiran Simone De Beauvoir menjadi cahaya dalam dunia filsafat eksistensialisme dan feminisme.Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan data yang bersumber dari buku, jurnal dan data pendukung lainnya. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa dalam pandangan Simone De Beauvoir perempuan yang dianggap lemah, dijadikan objek dan dianggap tidak berdaya tidak bisa disingkirkan atau diabaikan. Dalam bukunya Second Sex( Fakta dan Mitos), Fakta sejarah filsafat dapat mengikuti pemahaman atau mitos klasik yang menganggap laki-laki adalah manusia yang berpikir secara rasional dan perempuan adalah manusia yang mengutamakan perasaan. Mitos tersebut menjadi kutukan kuat yang membuat perempuan kurang mendapat tempat dalam filsafat. Padahal dalam sejarah awal filsafat terdapat tokoh perempuan yang bernama Hypatia yang mana ia telah berkontibusi dalam pemikiran filsafat Neoplatonis. 
TRANSFORMASI MAHABBAH MENJADI CINTA ABADI DALAM KONSEP TASAWUF BADIUZZAMAN SAID NURSI Nur Hadi Ihsan; Ridani Faulika Permana; Muhamad Fawwaz Rizaka
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.699 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.13962

Abstract

Abstract Mahabbah or mahabbah Allah (the love of Allah) is the highest spiritual attaintment that Sufis aim for in their spiritual journey. This mahabbah is a form of human love for The Creator which then manifests into love for every beauty and whatever they love. This study will expose Nursi's view of love and how to make human love for everything become eternal. This paper is a library research applying a Sufism approach. The documentary techniques is used to collect the data of this study and the collected data will be analyzed utilizing descriptive-analysis method. This study identifies that according to Nursi, true love is human love for the Creator. This kind of love can only be obtained with ma'rifatullah. If this love for Allah underlies human love for all other than Allah, then he will make all his love eternal. Love for friends, love for wife and children, love for delicious food, love for beauty, and all human love for other than Allah will be eternal if all of them are based and for the sake of Allah.AbstrakMaḥabbah atau lebih tepatnya mahabbah Allah (cinta Allah), merupakan puncak pencapaian spiritual yang hendak dituju  oleh para sufi dalam perjalanan spiritual mereka. Mahabbah ini adalah suatu bentuk kecintaan manusia kepada Sang Pencipta yang kemudian manifestasinya menjadi cinta kepada setiap keindahan dan apa saja yang mereka cintai. Kajian ini akan mengungkap pandangan Nursi terhadap cinta dan bagaimana menjadikan cinta manusia kepada segala sesuatu itu menjadi cinta yang abadi. Tulisan ini kajian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan tasawuf. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik dokumenter dan data yuang terkumpul akan dianalisis menggunakan metode analisis-deskriptif. Kajian ini mendapati bahwa menurut Nursi, cinta sejati itu adalah cinta manusia kepada Sang Pencipta. Cinta semacam ini hanya dapat dicapai dengan ma'rifatullah. Jika cinta kepada Allah ini mendasari cinta manusia kepada semua selain Allah, maka ia akan menjadikan semua cinta itu abadi. Cinta kepada sahabat, cinta kepada istri dan anak, cinta kepada makanan lezat, cinta kepada keindahan, dan semua cinta manusia kepada selain Allah itu akan menjadi abadi jika semua itu didasari oleh karena cinta kepada, untuk, dan demi Allah.
Spiritualitas Agama bagi Bencana Kemanusiaan dalam Filsafat Perenial: Tinjauan Pemikiran Filsafat Seyyed Hossein Nasr Arip Budiman; Putri Anditasari
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.343 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.12890

Abstract

This study aims to discuss the review of Seyyed Hossein Nasr's philosophical thoughts, regarding the spirituality of religion for humanitarian disasters. This research method applies a qualitative method through literature study and content analysis. The results and discussion found that the modern scientific paradigm that puts too much emphasis on the aspect ratio and ignores the spiritual aspect has an impact on human greed in managing natural resources which has an impact on the ecological crisis. The conclusion of this study is Nasr assume the religious spirituality for humanitarian disasters is a spiritual source of Islam. Al-Quran and Hadith become the spiritual basis to love and care to the universe, as a manifestation to get God’s love. Nasr assume that nature is a holy place that can be the manifestation of God’s light. Awareness of knowledge is not separate from Allah, becomes an important point for wise human spirituality.
KESADARAN TEOLOGI IRSHAD MANJI : STUDY ANALISA EKSISTENSIALIS JEAN PAUL SARTRE Umi Faridahh
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.001 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.12796

Abstract

This research examines the thoughts of Ershad Manji using the analysis knife of a philosophical figure, namely Jean Paul Sartre. The objectives of this study are the issues that are the subject of discussion: 1) Knowing the theological awareness of Ershad Manji; and 2) Knowing Jean Paul Sartre's analysis of the theological awareness of Irshad Manji. This research is a library search research and quantitative research. The findings in this research show that: First ,. Irshad Manji is a staunch muslim, provides constructive criticism, and is very supportive of the progress of Islam. The awareness possessed by Irshad Manji brings the concept of Ijtihad back to Islamic thought and avoids thinking in Islam by implementing wall street and moral change. Second, the theological awareness of Irshad Manji is an existentialist concept, the analysis knife of jean paul satre is used to dissect the thought of Irshad Manji. Examining the whole discussion of Irshad Manji brings existentialist values to life through theological awareness... 
MENGURAI DISRUPSI PAHAM KEISLAMAN INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TIPOLOGI EPISTIMOLOGI ABID AL-JABIRI Mohammad Muslih; Amir Reza Kusuma; Ryan Arief Rahman; Abdul Rohman; Adib Fattah Suntoro
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.151 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.14028

Abstract

Diskursus pemahaman keagamaan masyarakat Indonesia masa kini menjadi perhatian sebagian tokoh dan cendekiawan belahan dunia. Pemahaman dan perbuatan yang dilakukan oleh sebagian umat Muslim tidak mencerminkan universalitas dan “rahmatan” ajaran Islam. Ada sebagian kaum muslimin yang sangat tekstualis dalam memahami dan mengamalkan Islam, ada pula yang liberal sekuler dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Oleh karena itu dalam menghadapi problem tersebut. Peneliti ingin mengurainya berdasarkan tipologi epistimologi Abid al-Jabiri yaitu epistimologi bayani, burhani dan irfani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis. Ketiga tipologi epistimologi tersebut dapat dijadikan sebagai metode dan dasar dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan menjaga nilai Rahmatan dan Univeralitasnya. Penggunaan tipologi epistimologi Abid al-Jabiri dalam memahami dan mengamalkan Islam juga dapat menjadikan umat Islam sebagai umat yang berpegang teguh terhadap nushus (teks), antusias mencari kemaslahatan segala realitas, dan responsif terhadap segala tantangan/perubahan zaman. AbstractDiscourse of religious understanding in Indonesia today is a concern of some Indonesian figures and scholars and a wide part of the world. The understanding and deeds of some Muslims do not reflect the universality and "rahmatan" of Islamic teachings. There are some Muslims who are very textual and radical in understanding and practicing Islam, some are secular liberals in understanding and practicing the teachings of Islam. Therefore, in the face of this problem. Researchers wanted to parse it based on abid al-Jabiri's epistimology, namely epistimology bayani, burhani and irfani. This study uses the descriptive-analysis method. The three Epistimological Typologies can be used as a method and basis in maintaining the purity of Islamic teachings and maintaining the value of Rahmatan and its Univerality.The use of Abid al-Jabiri epistimology typology in understanding and practicing Islam can also make Muslims as a ummah who hold on to nusush (text), enthusiastically seek the benefit of all reality and responsive to all challenges/changes of the times. 

Page 7 of 22 | Total Record : 220