cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin | Universitas Ialam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Jl. AH Nasution No 105, Cibiru Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 27149420     EISSN : 2541352X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 220 Documents
TINJAUAN TEOLOGI ISLAM ATAS KOMUNIKASI PEMIMPIN LEMBAGA PENDIDIKAN (Signifikansi sifat Nabi Muhammad saw., atas kepemimpinan dan komunikasi) Unang Sudarma; Asep Mulyana; Sofyan Sauri; Faiz Karim Fatkhullah; Iu Rusliana
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.379 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v6i2.15077

Abstract

AbstrakDalam suatu struktur lembaga pendidikan, fungsi komunikasi sangat vital. Fungsi komunikasi harus berjalan dengan baik karena di dalam lembaga yang diisi oleh pelbagai pos dengan posisi berbeda, harus terjadi kesepahaman. Selama ini, dalam sistem komunikasi, banyak terjadi disrupsi kesepahaman antara pelbagai posisi yang ada di dalam struktur pendidikan, terutama disebabkan oleh komunikasi dari pemimpin sebagai ketua kepada anggota yang bersifat asimetris. Sejumlah penelitian menunjukkan pentingnya peran komunikasi pemimpin kepada anggota. Penelitian ini akan meninjau sejauh mana pengaruh teologi Islam dalam menentukan karakter dan pada gilirannya penyampaian komunikasi dari ketua ke anggota, sebagai bagian yang bersifat a priori secara filosofis dan teologis. Melalui pendekatan literatur—teologi Islam, komunikasi, dan pendidikan—dengan deskripsi analitik, penelitian ini akan melihat keterkaitan langsung antara teologi Islam dengan sifat komunikasi dari ketua ke anggota. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pengaruh sejumlah poin ajaran teologi Islam sangat mempengaruhi komunikasi; terutama bagi pemimpin pada anggota dalam lembaga pendidikan. Penekanan paling mencolok muncul dari pemahaman sifat Amanah (jujur) dan tabligh (menyampaikan) melalui imitasi sifat Nabi agung Muhammad saw. Kata Kunci: kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, teologi Islam,  AbstractIn an educational institution structure, the function of communication is very vital. The communication function must work well because within the institution, which is filled by various posts with different positions, there must be an understanding. So far, in the communication system, there has been a lot of disruption of understanding between various positions in the educational structure, mainly due to asymmetrical communication from the leader as chairman to members. A number of studies show the important role of leader-to-member communication. This study will review the extent of the influence of Islamic theology in determining the character and in turn the delivery of communication from the chairman to members, as part of a philosophical and theological a priori. Through a literature approach—Islamic theology, communication, and education—with analytic descriptions, this study will look at the direct relationship between Islamic theology and the nature of communication from chairman to members. In this study it was found that the influence of a number of points of Islamic theological teachings greatly affects communication; especially for leaders in members in educational institutions. The most striking emphasis comes from understanding the nature of Amanah (honest) and tabligh (delivering) through imitation of the nature of the great Prophet Muhammad. Keywords: leadership, communication, education, Islamic theology,
JALAN MENUJU METAFISIKA YANG INTEGRAL: Syarah Al-Isyarat wa at-Tanbihat: Al-Ilahiyah Syihabul Furqon; Budhy Munawar Rachman; Mochamad Ziaul Haq
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.836 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16277

Abstract

Abstrak:Metafisika, sebagai filsafat pertama dicetuskan Aristoteles untuk menerangkan serangkaian genealogi realitas dari Yang Niscaya ke yang mungkin, dari Yang Universal ke yang partikular. Sehingga metafisika dalam duduk ini dipahami sebagai bagian penting dari filsafat spekulatif. Perspektif ini berubah saat peripatetisme memasuki dunia Islam. Perubahan ini ditandai dengan orientasi ulang isi metafisika dan pensejajarannya sebagai doktrin. Dalam perspektif filsafat perennial (philosophia perennis/al-hikmah al-khalidah) metafisika pada gilirannya dibaca berbeda dari filsafat sendiri. Bahkan ia dibedakan dari filsafat sejak dari isinya. Dalam telaah ini kami menemukan bahwa corak ini muncul semakin intens dalam filsafat Ibn Sina. Bahkan metafisikannya dalam Isyarat wa At-Tanbihat: Fi Al-Ilahiyyat (Isyarat dan Perhatian: Metafisika) menunjukkan tendensi atas metafisika yang integral. Bahkan pada doktrin mistisisme filosofis. Dalam batas-batas metode analisis isi (dengan interpretasi fenomenologi teks) melalui perspektif perennialisme inilah penelitian bertolak. Konklusinya bersifat afirmatif sejauh interpretasi dimungkinkan.
Pemikiran Teodisi Ibn Arabi Tentang Keburukan Yoshy Hendra Hardiyan Syah
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.421 KB)

Abstract

This article discusses Ibn Arabi's theodic thoughts on evil in studying, understanding, and exploring more deeply the case of the Covid-19 virus as the implications of evil. Theodicy is a philosophical problem based on a number of arguments and is accompanied by the arguments of philosophical thought so that it can explain and solve a case proportionally and theodicy is a theme that is often the subject of debate, namely more questions about justice over God's omnipotence. In this research, it is sourced from the literature or literature review as research material and a descriptive study and analysis of Ibn Arabi's theodic thought about evil. Ibn Arabi thoroughly discusses the theodic discussion of evil in his book entitled Futuhat al-Makkiyah and Fushush al-Hikam. The problem of good and bad seems to be consistent with the Wahdat al-Wujud theory, he says in the book Futuhat al-Makkiyah that "God is an Absolute Being who is not limited by anything, and He is actually Pure Goodness, in which there is no evil in Him at all. As He is balanced by absolute absence that is pure goodness in which there is no evil in it." On the status of ugliness in Ibn Arabi's theodicy, that everything that has been willed by God cannot be separated from what is called destiny, such as the outbreak of the Covid-19 Virus. In his book Fusush al-Hikam Ibn Arabi says that, the secret of destiny can only be known precisely by Allah, although living beings may be given some kind of vision of their own destiny, which knowledge itself depends on the inclination to know it.
Framework Richard Walzer Terhadap Filsafat Islam Dalam Bukunya; Greek Into Arabic Essay On Islamic Philosophy Mohamad Mohamad Latief; Cep Gilang fikri Ash-Shufi; Sofyan Atstsauri; Amir Reza Kusuma; Fajrin Dzul Fadhlil
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.484 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.12095

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan untuk melihat eksistensi Filsafat Islam dalam pandangan seorang orientalis, Richard Rudolf Walzer. Ia mengemukakan bahwa terlalu dini untuk mengakui keberadaan Filsafat Islam. Banyak fakta dan karya yang masih belum diketahui. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa tidak ada kesepakan di antara para sarjana tentang pendekatan terbaik dalam memahami filsafat Islam. Kajian bagaimana melihat framework Walzer terhadap Filsafat Islam ini dilakukan dengan metode pustaka, dengan menganalisis karyanya yaitu, Greek Into Arabic; Essay On Islamic Philosophy. Hasil dari kajian ini yaitu bahwa Walzer memandang Filsafat Islam secara Historis Filologis, dan bukan secara analisis-definitif. Asumsinya, Filsafat Islam hanyalah kelanjutan Yunani yang tidak ada kebaruannya. Karenanya, pendekatan memahami Filsafat Islam menurut Walzer mesti dengan menelusuri sumber-sumber Yunani, Kristen dan Yahudi. Namun hal itu tidak sejalan dengan pandangan Oliver Leaman dan Abdul Raziq bahwa Filsafat Islam, meski menerima Ide-ide Yunani, namun telah diasimilasi dan berwajah Islam.
Gen Zers’ Stances on The Religion Role in Human Salvation Bernardus Ario Tejo Sugiarto; Dadang Kahmad; Yeni Huriani
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.895 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16819

Abstract

Each generation has its character because of the differences in era context. The Z Generation (Gen Zers) also has distinctive features that are different from the previous generation. Gen Zers is a generation that lives in the context of the world that is strongly influenced by scientific and digital technological advances in all fields, especially in communication and information fields. In Western countries, there are serious symptoms of a decline in the number of Gen Zers who are affiliated with a religion or who attended Church. They think that being affiliated with a religion or attending Church isn’t something very important. Yet, it doesn’t mean that they disregard the values of spirituality and morality. On the contrary, they are deeply concerned with universal spiritual and moral values. For them, spirituality and morality are “yes”, but religion is “no”. The study’s purpose is to investigate the role of religion according to Gen Zers’ opinions in Bandung. The study method is a quantitative method that makes use of an e-questionnaire as a data collection tool. All respondents are students who are studying at a certain private university in Bandung. The main finding is almost all respondents opine that affiliating with religion isn’t determining factor for human salvation even though they are affiliated with a religion. The conclusion is that there are at least five ambiguous stances of Gen Zers on the role of religion in human salvation. They are religious formalism, agnosticism, religious indifferentism, practical atheism, and religionism.
Konsep Kebebasan di Mata Generasi Muda Muslim di Daerah Bandung dan Jakarta: Sebuah Studi Fenomenologi Irianti Usman; Riyanda Utari; Firdaus Dwi Suwandi; Isman Rahmani Yusron
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.868 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.17549

Abstract

This phenomenological study investigated the way three authentic Indonesian Muslims who live in Bandung and Jakarta gave meaning to the word freedom. Three informants were purposively selected to participate in the study: a 34-year-old Muslim businesswoman; married; and lives in Jakarta; a Muslim man, 36 years old, single, a lawyer who lives in Bandung; and a 21-year-old single man who is a sophomore at a private university in Bandung. In-depth interview was administered to obtain detailed and more comprehensive information about the participants’ thoughts and experiences.  IPA (Interpretative Phenomenological Analysis) and Domain Analyses were utilized to analyze the data gathered. The study found that birth order, parenting styles, exposure to collectivist or individualistic value systems as well as Western concept of freedom, repentance or “Tawbah”, and increased knowledge about Islam were strongly related to their meaning construction of the word freedom.
PERILAKU ANOMALI KOMUNITAS DRIVER GOJEK KELINCI: STUDI ANALISIS TEORI UTILITARISME JOHN STUART MILL Jamhari Ari Ari
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.419 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.13134

Abstract

Saat ini ojek online ini memang menjadi pekerjaan yang menjanjikan bagi banyak masyarakat, baik pria maupun wanita. Dengan berkembangnya ojek ini menjadi penunjang dari segi ekonomi. Terkadang keadaan di satu sisi mengakibatkan peta persingan yang mendapatkan orderan semakin ketat, otomatis untuk mencapai target bonus. Ada beberapa kalangan driver gojek yang mencari cara lain untuk mempertahankan eksistensinya di dunia driver gojek yaitu dengan cara menggunakan cara aplikasi illegal yang di larang oleh PT.Gojek, sehingga dengan keadan seperti ini membuat untuk mencari jalan pintas dengan memasang fake GPS atau Tuyul. Dari perilaku fake GPS ini ditinjau dari filsafat Utilitarisme fake GPS yang menyimpang dan merugikan banyak pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku anomali komunitas driver gojek kelinci dilihat dari teori utilitarisme John Stuart Mill. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Teknik pengumpulan datanya adalah melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.  Analisis datanya menggunakan metode deskriptif kualitatif. Artikel ini menghasilkan, bahwa dalam teori Utilitarisme John Stuart Mill perilaku Anomali penyimpangan aplikasi ini disebut perilaku menyimpang, sekalipun driver gojek mendapatkan uang yang ditransfer oleh perusahaan, tetapi perilaku ini justru merugikan perusahaan. Tidak hanya itu saja perilaku-perilaku lainnya yang merugikan konsumen dan warga sekitar pangkalanpun merasa terganggu. Dari perilaku utilitarisme ini John Struart Mill berpendapat ada alternatif dalam setiap tindakan yang akan dilakukan oleh manusia.
Manusia, Alam dan Tuhan dalam Ekosufisme Al-Ghazali Uup Gufron; Radea Yuli A. Hambali
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3007.616 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16275

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menggali pemikiran Al-Ghazali tentang relasi manusia, alam dan Tuhan. Dari sini dibangun suatu problem utama bahwa kerusakan alam disebabkan karena ketidakharmonisan antara manusia, alam dan Tuhan, sehingga menghadirkan berbagai bencana seperti kebakaran, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, erosi, dan lain sebagainya. Pandangan manusia modern yang menjadikan alam sebagai objek menjadi problem yang hendak digali dalam artikel ini. Dari problem ini diharapkan dapat ditemukan formulasi primer tentang gagasan Al-Ghazali tentang ekosufisme sebagai solusi alternatif atas krisis lingkungan. Data riset bersumber dari karya-karya Al-Ghazali yang berisi tentang etika manusia kepada Tuhan dan etika manusia kepada alam, serta relasi timbal balik antara keduanya. Artikel ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan metode analisis konten dari beberapa karya Al-Ghazali yang berbicara tentang alam dan lingkungan hidup. Dari berbagai karya Al-Ghazali yang telah digali diketahui bahwa sumber ketidakharmonisan hubungan antara alam, manusia dan Tuhan disebabkan karena faktor konsumtif manusia atas kebutuhan hidupnya sehingga memacu manusia untuk berbuat serakah sehingga menjadikan alam sebagai objek pemenuhan kebutuhan hidupnya. Padahal alam adalah manifestasi cinta Tuhan di bumi, sehingga untuk mencintai Tuhan harus melalui cintanya kepada alam. Untuk itu diperlukan etika uzlah, mahabbah, wara’, zuhud, dan syukur agar terbentuk relasi etis antara manusia, alam dan Tuhan.
MEMAHAMI HAKIKAT CINTA PADA HUBUNGAN MANUSIA: BERDASARKAN PERBANDINGAN SUDUT PANDANG FILSAFAT CINTA DAN PSIKOLOGI ROBERT STERNBERG Alfian Tri Laksono
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.098 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.17332

Abstract

AbstrakCinta menjadi instrumen kehidupan yang sangat penting untuk selalu dimaknai kehadirannya. Bahkan cinta merupakan hal yang identik dengan eksistensi sejak penciptaan umat manusia, Adam dan Hawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan ilmu psikologi dan filsafat terhadap paradigma cinta yang umumnya terjadi pada manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data yang didapatkan dari laporan tertulis yang bersifat ilmiah dan sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini. Pada penelitian ini didapati bahwa secara psikologi, cinta diartikan sebagai bentuk tanggung jawab seseorang yang telah memasuki masa dewasa awal untuk dapat menentukan calon pendamping hidupnya. Baik yang berkenaan dengan hubungan nikah maupun pranikah atau biasa disebut sebagai bentuk perkenalan secara lebih mendalam dengan sang pasangan. Selain itu, psikologi menemukan sedikit kemungkinan kecil bahwa cinta pada dasarnya bisa dipahami secara ilmiah dengan melakukan riset-riset yang objektif. Sementara itu, Plato mewakili bagian filsafat menjelaskan bahwa cinta merupakan sebuah entitas maha dahsyat yang darinya sumber kekuatan dan energi tercipta. Sifat cinta adalah mulia dan cinta pada dasarnya merupakan sebuah penghapus alami dari sebuah kebencian dan kejahatan. Plato pun mengungkapkan penjelasan mengenai hakikat cinta yang diterimanya dari Socrates, bahwasannya cinta akan sangat indah ketika cinta tersebut belum ditemukan dan didapatkan beriringan dengannya proses pencarian dan penilaian akan terus berlangsung hingga pada titik akhir dimana ruang hampalah yang didapatkan. Oleh karena itu, golongan filosof menyepakati secara general bahwa kemustahilan adalah hal yang akan didapat ketika cinta mulai dimengerti. Kata Kunci: Cinta, Filsafat, Psikologi AbstractLove is a living instrument that is very important to always be interpreted by its presence. Even love is identical to existence since the creation of mankind, Adam and Hawa. This study aims to determine the review of psychology and philosophy on the love paradigm that generally occurs in humans. This study uses qualitative methods with data sources obtained from scientific written reports and literature resources related to this study. In this study, it was found that psychologically, love was interpreted as a form of responsibility of a person who had entered the initial adulthood to be able to determine the prospective companion of his life. Good relating to marriage and premarital relationships or commonly referred to as dating. In addition, psychology finds it a little less likely that love can be understood scientifically by conducting objective research. Meanwhile, Plato represents the philosophical section explaining that love is a great awesome entity from the source of strength and energy is created. The nature of love is noble and love is a natural eraser of hatred and crime. Plato also decreased the explanation of the nature of the love he received from Socrates, the love would be very beautiful when love had not been found and obtained together with him the search and assessment process would continue until at the end of where the room was obtained. Therefore, the philosophical group agreed in general that impossibility is something that will be obtained when love starts to understand.Keywords: Love, Philosophy, Psychology
Teologi Pembebasan Hassan Hanafi Terhadap Penindasan Perempuan Dalam Pandangan Angela Davis Pada Buku Women, Race, and Class Shofa Agniya Nur Azizah; Munir munir; Yogi Supriyadi
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.336 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.17910

Abstract

Fenomena penindasan terhadap manusia seringkali disebabkan oleh faktor asal keturunan, ras, jenis kelamin, warna kulit, kekayaan, dan kekuasaan. Teologi pembebasan Hanafi membawa cara pandang baru terhadap realitas kehidupan manusia yang lebih humanis. Hassan Hanafi ingin membawa Islam kembali pada hakekat yang sebenarnya yaitu sebagai agama pembebasan yang peduli dan responsif terhadap permasalahan-permasalahan yang menyangkut tentang kemanusiaan. Pemikiran Hassan Hanafi mengenai teologi pembebasan berlandaskan pada ajaran Tauhid yang merupakan ajaran paling inti dalam Islam. Ajaran Tauhid menempatkan manusia pada derajat yang sama, ia menolak segala bentuk diskriminasi terhadap manusia berdasarkan asal keturunan, ras, warna kulit, jenis kelamin, kekayaan, dan kekuasaan. Akan tetapi pada tatanan realitas kehidupan nyatanya berbeda, masih saja seringkali terjadi penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan yang diiringi diskriminasi berdasarkan asal keturunan, ras, jenis kelamin, kekayaan, dan kekuasaan. Sehingga perlu adanya perjuangan sosial yang dapat membebaskan manusia dari penindasan-penindasan tersebut. Dan pandangan teologi pembebasan memiliki corak yang humanis karena penuh empati kemanusiaan. Sebagaimana ajaran yang dibawa oleh Islam merupakan rahmatan lil ‘alamin dimana Allah mengutus manusia untuk membawa rahmat, keselamatan, kasih sayang bagi seluruh alam. Sehingga ajaran atau teologi pembebasan memiliki tujuan atau visi yang sama dengan Al-Qur’an dan cita-cita kemanusiaan untuk keadilan dan menyelamatkan manusia dari segala bentuk penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan yang terjadi di dunia ini. Tulisan ini menggunakan teknik Library Research atau studi kepustakaan untuk memperoleh sumber-sumber datanya.

Page 8 of 22 | Total Record : 220