cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 53 Documents
PERENCANAAN PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KECAMATAN TANGERANG, KOTA TANGERANG ., Ratnaningsih; Purwaningrum, Pramiati; Pusparani, Amelia
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 5, No 6 (2011)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Tangerang mempunyai luas wilayah sekitar 1.578,5 Ha, dengan jumlah penduduk sebesar 148.771 jiwa, Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang, total timbulan sampah di Kecamatan Tangerang pada tahun 2010 sebesar 333,25 m 3 /hari dan yang terangkut sebesar 239,94 m 3 /hari, sehingga tingkat pelayanan di Kecamatan Tangerang sebesar 72%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan suatu sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah yang lebih efektif dan efisien dengan mencari alternatif dari sistem pengelolaan sampah. Terdapat 2 alternatif yang direncanakan untuk pengelolaan sampah. Alternatif I, yaitu dengan menghitung dump truck sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Sedangkan, alternatif II dengan perubahan jalur angkut dan pembangunan TPST. Periode perencanaan direncanakan untuk 10 tahun mendatang hingga tahun 2020 yang dibagi dalam 2 (dua) tahap, yaitu Tahap I (Tahun 2014) tingkat pelayanan 76% dan Tahap II (Tahun 2019) tingkat pelayanan menjadi 83%. Pemilahan direncanakan dilakukan di sumber dengan membedakan sampah organik dan anorganik. Pola pengumpulan sampah untuk permukiman dengan rumah permanen kategori A menggunakan pola individual langsung dan pola individual tidak langsung. Untuk permukiman dengan rumah permanen kategori B dan permanen kategori C menggunakan pola komunal tidak langsung dan pola individual tidak langsung. Untuk non permukiman menggunakan pola individual langsung. Pengangkutan sampah berdasarkan jalur jalan armada yang sudah ditentukan. Sampah yang telah terkumpul dari pola individual langsung maupun pola individual tidak langsung dibawa ke TPA Rawa Kucing. Pada perencanaan ini direncanakan pembangunan TPST untuk pengolahan sampah. Pembangunan TPST tersebut berlokasi di Kelurahan Cikokol, dikarenakan masih adanya lahan kosong untuk tempat pengolahan. Sampah yang akan diolah di TPST sebesar 40% dari total timbulan sampah. Tujuan Pembangunan TPST ini juga berupaya mengurangi sampah yang dibuang ke TPA Rawa Kucing di Kecamatan Tangerang.Keywords:  waste, collection, transportation, TPST
KAJIAN KUALITAS AIR WADUK KEBON MELATI, JAKARTA PUSAT Marisi, Kartika; Hendrawan, Diana; Astono, Widyo
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk Kebon Melati di Jakarta Pusat memiliki luas 4,9 Ha dan berfungsi sebagai pengendali banjir. Pembangunan dan pertumbuhan penduduk di sekitar waduk memberikan tekanan pada kondisi waduk Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis kualitas air dan status mutu air Waduk Kebon Melati dan(2) Menganalisis pengaruh dari aktivitas sekitar waduk terhadap kualitas airnya. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Agustus 2016 dengan melakukan pengambilan sampel pada 11 titik sampel.Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak 6 kali. Data kualitas air yang didapat dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 82 Tahun 2001. Sedangkan status mutu air dihitung dengan menggunakan Indeks Kualitas Air (IKA-NSF). Untuk mengetahui pengaruh aktivitas sekitarnya, dilakukan survey identifikasi kegiatan dan data sekunder. Hasil memperlihatkan bahwa parameter yang melebihi baku mutu di Waduk Kebon Melati adalah BOD, COD, deterjen, minyak dan lemak, dan E. coli.Konsentrasi BOD di Waduk Kebon Melati berkisar antara 5,64-83,39 mg/l sedangkan baku mutu 6 mg/l, COD antara 28,35 mg/l-283,5 mg/l sedangkan baku mutu 50 mg/l, deterjen antara 0,07 mg/l sampai 0,67mg/l, minyak dan lemak antara 0,16 sampai 9,54 mg/l sedangkan baku mutu 1 mg/l dan E.coli antara 2200 MPN/100 ml sampai 5100 MPN/100 ml sedangkan baku mutu 2000 MPN/100 ml. Indeks Kualitas Air (IKA) Waduk Kebon Melati sebesar 41,27 yang berarti kondisi waduk termasuk dalam kondisi buruk(tercemar). Kegiatan di sekitar Waduk Kebon Melati memberikan kontribusi yang cukup besar padapencemaran yang terjadi. Sedangkan masukan dari Kali Cideng membawa pencemar dari tempat-tempat yang dilewatinya. Sumber pencemar umumnya adalah non point source yang berasal dari permukiman, rumah makan, pusat perbelanjaan, perkantoran, usaha madiri (warung makan, laundry, salon danbengkel). Karakteristik air limbah yang dihasilkan berupa limbah organik, anorganik dan B3.
STUDI PENGOLAHAN LUMPUR INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM TAMAN KOTA - JAKARTA BARAT Alfa Julian, Dedi; Lindu, Muhammad; ., Winarni
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Instalasi pengolahan air minum (IPA) Taman Kota, Jakarta Barat, memiliki kapasitas disain 200 liter/detik, dan air baku berasal dari Cengkareng Drain dan terdapat unit prasedimentasi sebelum air baku masuk ke IPA. Digunakan IPA konvensional yang dilengkapi dengan unit bio filter untuk mengabsorbsi zat organik di air baku. Lumpur berasal dari unit sedimentasi yang dibuang secara rutin setiap 10 menit dengan volume lumpur rerata 144,93 m3/hari dan pada kondisi maksimum 628,30 m3/hari, unit biofilter yang dibuang secara berkala saat dilakukan pengurasan bak yaitu 150,10 m3/hari, serta unit saringan pasir cepat yang membuang air bekas backwash filter secara berkala dan dalam waktu yang singkat sebesar 468,86 m3/hari. Mempertimbangkan perbedaan karakteristik lumpur yang dihasilkan, direncanakan 2 unit tanki penampung (ekualisasi) terpisah yaitu tanki pertama menerima lumpur sedimentasi serta tanki kedua menerima lumpur pengurasan bio filter dan air bekas backwash filter. Memperhatikan luas lahan yang tersedia, maka lumpur sedimentasi yang terkumpul di tanki penampung dipompa menuju ke unit thickener dan selanjutnya ke unit dewatering mekanik. Studi perbandingan dilakukan terhadap 3 opsi peralatan dewatering mekanik dengan mempertimbangkan volume lumpur yang dapat direduksi, biaya investasi, serta biaya operasional dan energi.   Peralatan dewatering mekanik terpilih adalah belt filter press yang mereduksi lumpur sedimentasi menjadi 4,20 m3/hari, dan pada kondisi maksimum menjadi 18,20 m3/hari. Keywords: water treatment plant, sludges, backwashed water, dewatering
PERANAN TEKNOLOGI DALAM UPAYA MENINGKATKAN POTENSI NILAI EKONOMI SAMPAH DALAM SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK TERPADU DI INDONESIA ., Suprapto
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 5, No 4 (2010)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Environmental life cycle assessment ( LCA) terutama dikembangkan untuk menganalisis produk tetapi dapat juga diterapkan untuk treatment limbah padat dalam jumlah tertentu. Makalah ini membahas metodologi ketika LCA diterapkan untuk system manajement limbah padat. Isu yang dibahas adalah (1) daur ulang system terbuka yaitu perlakuan daurulang menjadi produk lain yang juga dapat menghasilkan energi. Dua hal penting yang jika harus membuat fungsi yang berbeda atau jika suatu system harus diperluas agar dapat mencakup beberapa fungsi. (2) Multi input allocataion: dalam proses pengolahan limbah, material yang berbeda sering tercampur. Dalam banyak aplikasi harus mempertimbangkan intervensi lingkungan dari proses perlakuan ke input material yang berbeda. (3) Waktu: emisi dari tempat pembuangan sampah akan berlangsung lama. Skema efektif diperlukan untuk desain, adaptasi dang mengoperasikan sistem yang terbak secara sosial, ekonomi dan lingkungan dengan mempertimbangkan factor geografi. Perlu konsistensi dalam hal kualitas dan kuantitas bahan daur ulang, kompos atau energi, untuk mendukung pilihan model pembuangan dan keuntungan secara ekonomis, ini untuk menunjukan bahwa pengelolaan sampah terpadu harus diatur dalam skala besar berbasis regional. Skema menggabungkan daur ulang, pengomposan atau limbah untuk teknologi harus berorientasi pasar. Harus ada pasar untuk produk dan energi.Keywords:LCA, integrated waste management, recycling
ANALISIS PENYEBARAN MINYAK DAN LEMAK SERTA EVALUASI UNIT PROSES AIR TERPRODUKSI DI PLATFORM KF STAR ENERGY (KAKAP) LTD Astono, Widyo; Suswantoro, Endro; ., Winda
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 6, No 5 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air terproduksi adalah air tanah yang terdapat bersama dengan hidrokarbon di dalam formasi batuan minyak dan gas bumi di bawah tanah. Pada saat minyak dan gas dialirkan ke atas permukaan tanah, bersamaan itu pula air tanah tersebut ikut terangkat sehingga disebut sebagai air terproduksi. Salah satu industri penghasil air terproduksi adalah industri minyak dan gas bumi. Star Energy (Kakap) Ltd terletak di Laut Natuna, Indonesia tepatnya di Blok Kakap yang memproduksi minyak dan gas bumi sekitar ± 4.000 BOPD, ± 50 MMSCFD gas, dan Air Terproduksi 36.000 BWPD. Produksi minyak dan gas bumi di Blok Kakap ini juga melibatkan sebuah Floating Production Storage and Offloading (FPSO) atau Floating Storage and Offloading (FSO). Air terproduksi yang dihasilkan oleh proses produksi minyak dan gas di Star Energy (Kakap) Ltd, mengandung senyawa pencemar utama, yaitu minyak dan lemak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pola penyebaran parameter minyak dan lemak buangan air terproduksi di sekitar lokasi outfall Platform KF di laut lepas Natuna, memprediksi kemungkinan pola penyebaran parameter minyak dan lemak air terproduksi tersebut terhadap sensitif area di wilayah tersebut, dan mengevaluasi efisiensi proses pengolahan air terproduksi terhadap effluent buangan. Pola penyebaran parameter minyak dan lemak diolah dengan menggunakan software mathematic modelling (pemodelan matematik) yang mencakup model hidrodinamika dan model penyebaran parameter minyak dan lemak di laut. Variabel penujang program pemodelan ini mencakup data kontur dasar laut, arus laut, pasang surut, arah angin, dan besar konsentrasi parameter minyak dan lemak selama 6 bulan (Juni-November 2012). Verifikasi hasil pemodelan dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel pada titik-titik tambahan disekitar lokasi outfall kemudian hasilnya dibandingkan dengan output dari model. Dari hasil verifikasi data pemodelan dengan data di lapangan kemudian dianalisis terhadap daerah sensitif di sekitar lokasi studi yang meliputi kawasan mangrove, terumbu karang, perairan laut, dan mamalia laut. Hasil simulasi pemodelan dan verifikasi menyimpulkan bahwa penyebaran parameter minyak dan lemak dari air terproduksi di platform KF terhadap Laut Natuna masih dibawah baku mutu yaitu antara 0 – 0,56 ppm dengan jarak sebaran terjauh sebesar 102,75 km ke arah timur. Hal ini diperkuat dengan hasil verifikasi model yang menunjukkan bahwa pengukuran di lapangan dengan hasil simulasi cukup akurat. Penyebaran parameter minyak dan lemak terhadap daerah sensitif dianggap aman, karena jarak daerah studi dengan daerah sensitif disekitarnya yaitu sejauh ± 190 km dari Kepulauan Anambas dan ± 250 km dari Kepulauan Natuna Besar. Untuk menjaga kondisi perairan laut akibat pembuangan air terproduksi diperlukan evaluasi terhadap efisiensi proses pengolahan air terproduksi agar effluent hasil pengolahan air terproduksi pada platform KF lebih efektif dengan penambahan unit hydrocyclone yang mampu menurunkan konsentrasi effluent dari parameter minyak dan lemak hingga 50%.Kata kunci : air terproduksi, kandungan minyak, model matematik, area sensitif, hydrocyclone
PENGOLAHAN AIR LIMBAH EMULSI MINYAK-DETERJEN DENGANPROSES ELEKTROKOAGULASI MENGGUNAKAN ELEKTRODA ALUMINIUM Iswanto, Bambang; DS Silalahi, Mawar; Dwinarizki Purnama, Fiqqy
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 5, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air limbah rumah tangga sebagian besar terdiri dari minyak dan deterjen dan dapat berdampak buruk bagi lingkungan, karena sukar diuraikan oleh mikroorganisme. Dalam penelitian ini dilakukan pengolahan limbah dengan proses elektrokoagulasi secara kontinu dengan menggunakan reaktor elektrokoagulasi dalam skala laboratorium. Pada proses ini digunakan konsentrasi NaCl untuk memperbesar penguraian Aluminium terlarut dengan variasi deterjen 10 mg/L, 30 mg/L dan 50 mg/L dengan perbandingan minyak 1 ml,variasi konsentrasi NaCl yang digunakan adalah 0 gr/L, 0,5 gr/L, 1 gr/L dan variasi waktu tinggal 45 detik, 55 detik, 60 detik serta variasi kecepatan pengadukan 150 rpm, 180 rpm, 200 rpm. Kecepatan pengadukan di unit flokulasi adalah 2 rpm dengan waktu pengendapan selama 2 jam. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kondisi operasional optimum adalah dengan konsentrasi NaCl 0,5 gr/L, kecepatan pengadukan 150 rpm, waktu tinggal 45 detik, konsentrasi deterjen 10 mg/L akan menghasilkan % penyisihan COD 92.68%, BOD 83.60%, TSS 93.52%, Deterjen 99.29%, Minyak Lemak 94.55%, TKN 90.40%, VSS 93.49%, Total Phosphat 88.92%, Kekeruhan 98.43%, Aluminium terlarut 0.02 mg/L. Kondisi optimum ini dapat diterapkan dalam limbah rumah tangga.Keywords: Emulsion Oil-Detergent, Electro coagulation Treatment, Dissolved Aluminium
ANALISIS RISIKO KESEHATAN dan KESELAMATAN KERJA (K3) di PT. YUASA BATTERY TANGERANG, INDONESIA Maria Sintorini, Margaretha; Yulinawati, Hernani; Rachmawati, Cherry
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Risiko kecelakaan kerja tidak mungkin untuk dihilangkan sama sekali, beberapa jenis risiko hanya dapat dikurangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya dari setiap kegiatan, menentukan nilai variabel akibat kegiatan, menentukan nilai frekuensi kegiatan, menentukan nilai variabel peluang terjadinya gangguan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di PT. Yuasa Battery Tangerang, Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei 2011 pada empat lokasi yaitu di sebelah selatan pabrik, sebelah utara pabrik, assembling manufacturing area, dan plat manufacturing area. Metode penelitian risiko K3 yang digunakan dalam penelitian in adalah metode fine yang merupakan aplikasi penilaian secara semi-kuantitatif. Sampling udara ambien memberi hasil sebesar 0,82 µg/Nm 3 masih memenuhi baku mutu 2 µg/Nm 3 , sampling udara di lingkungan kerja didapatkan hasil sebesar 0,0027 mg/m 3 masih memenuhi baku mutu 0,05 mg/m 3 .Pengukuran kebisingan di 2 lokasi berbeda yaitu di sebelah selatan pabrik menunjukkan 58,8 dB(A) dan di sebelah utara pabrik sebesar 66,1 dB(A) masih memenuhi baku mutu 70 dB(A), sedangkan kebisingan terukur di dalam ruangan yaitu di ruangan Assembling Area adalah 78,8dB(A) dan di ruangan Plat Manufacturing Area adalah 76,5dB(A) masih memenuhi baku mutu 85 dB(A). Penilaian risiko terhadap keseluruhan faktor yang terkait dengan setiap kegiatan menunjukan bahwa dengan kontrol yang sudah ada terdapat 11 kegiatan yang berkategori risiko tinggi, empat kegiatan dengan risiko sedang dan empat kegiatan berisiko rendah. Hasil wawancara terhadap 100 karyawan menunjukkan sekitar 40% menyatakan kurangnya perhatian terhadap suhu dan udara di lingkungan kerja dapat menghambat proses kegiatan kerja, 25% menyatakan kurangnya penyediaan alat pelindung diri (APD), dan 35% menyatakan adanya keamanan dalam lingkungan kerja. Kata kerja : risk hazards, control, frekuensi, konsekuensi, kesempatan
Hubungan Kadar Debu Lingkungan Kerja Unit Pengepakan Semen terhadap Kesehatan serta Upaya Pengendaliannya di PT Holcim, Bogor Maria Sintorini, Margareta
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 5, No 5 (2011)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan karyawan dalam suatu perusahaan sangat penting karena berhubungan dengan kinerja perusahaan tersebut. Penelitian pada perusahaan ini untuk mengetahui kadar debu pada lingkungan kerja, mengetahui keluhan dan gangguan yang diderita pekerja, dan mengetahui peranan alat pengendali debu terhadap keluhan dan gangguan penyakit saluran pernapasan dan iritasi. Pengamatan dilakukan di bagian pembuatan kantong semen dan pengepakan semen. Metodologi yang dipakai adalah cross sectional dengan pengukuran kadar debu dan penelusuran kasus keluhan gangguan pernapasan pada pekerja. Kadar debu rata-rata PM10 pada ruang pengepakan semen 7752,78 µg/m3 dan pada ruang pembuatan kantong semen adalah 103,3 µg/m3. Hasil penelusuran keluhan gangguan pernapasan 75% responden pada unit pengepakan semen dan 35% pada pembuatan kantong mengalami gangguan saluran pernapasan dan iritasi. Pada bagian pengepakan resiko pekerja mengalami gangguan kesehatan adalah 4,9 kali lebih besar dibandingkan resiko pekerja yang ada di lokasi pembuatan kantong. Pada lokasi pengepakan rsiko pekerja mengalami gangguan saluran pernapasan 10 kali lebih besar disbanding dengan pekerja dibagian pembuatan kantong. Untuk gangguan iritasi mata dan kulit pada pekerja di pengepakan semen mempunyai resiko 14,5 kali lebih besar dibandingkan di bagian pembuatan kantong. Hasil analisis spirometer pada ruang pengepakan semen menunjukkan 5 pekerja yang diambil dari 5 pekerja dalam sampel dinyatakan restrictive, berarti telah terjadi pengecilan kapasitas total paru. Sedangkan pada ruang pembuatan kantong semen terdapat 3 pekerja yang diambil dari total 5 pekerja dinyatakan restrictive dan 2 dinyatakannormal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah resiko gangguan pernapasan dan iritasi pada pekerja di ruang dengan kadar debu tinggi lebih besar dibandingkan dengan yang bekerja di bagian kadar debu rendah. Karena itu tetapdisarankan semua pekerja menggunakan masker sebagai alat pelindung diri utama selain helm, sarung tangan dan sepatu kerja. Alat pengendali pencemaran udara yang ada sebaiknya dipelihara dan dibersihkan secara berkala sehingga kerusakan dapat diminimalisir dan alat dapat bekerja maksimal.Key words : kadar debu, gangguan kesehatan, odds ratio
PENGARUH PENAMBAHAN GLYCINE MAX PADA PENYISIHAN NITROGEN DALAM CONSTRUCTED WETLAND TIPE SUBSURFACE HORIZONTAL FLOW ., Tazkiaturrizki
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Constructed wetland merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah yang tepat guna mencapai kualitas air yang diinginkan sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Berdasarkan penelitian terdahulu, constructed wetland mampu mengolah efluen IPAL sehingga kualitas air yang dihasilkan lebih baik. Penggunaan Typha latifolia dapat menyisihkan COD dan BOD dengan efisiensi tertinggi dan dilengkapi dengan aerasi pada ketebalan media 40 cm dan waktu kontak 2 hari. Sedangkan untuk parameter ammonium, NTK, dan fosfat efisiensi penyisihannya lebih baik jika menggunakan Scirpus grossus dengan penambahan aerasi, ketebalan media 50 cm dan waktu kontak 2 hari. Penelitian lain, dengan mengkombinasikan tanaman leguminosa yaitu Glycine max (kedelai) diduga berpengaruh terhadap jumlah bakteri yang menjadi lebih banyak dan bersimbiosis mutualisme dengan akar kedelai sehingga dapat meningkatkan fiksasi nitrogen. Namun, untuk penyisihan nitrogen belum dapat disisihkan dengan baik. Pada penelitian ini, dilakukan modifikasi wetland  yaitu dengan membagi pengolahan menjadi dua tahap yaitu tahap I penyisihan BOD/COD dengan menggunakan tanaman Typha latifolia dan tahap II penyisihan nitrogen dengan menggunakan tanaman Scirpus grossus yang selanjutnya dilakukan penambahan tanaman Glycine max dengan total waktu detensi selama 5 hari. Dengan modifikasi wetland ini terjadi peningkatan efisiensi penyisihan nitrogen mencapai 95%.   Keywords : Constructed wetland, removal, Nitrogen, continue feeding 
ANALISIS RISIKO PAPARAN SO2 DAN KEBISINGAN TERHADAP PEKERJA PADA AREA KERJA COAL YARD DI PT. INDONESIA POWER, SURALAYA, PROVINSI BANTEN Akbar, Hadiyan; Susanto, Amir; Maria Sintorini, Margaretha
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Risiko paparan SO2, dan  Kebisingan Terhadap Kesehatan Pekerja Di PT Indonesia Power dilakukan pada area Coal Yard. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bahaya dan menganalisis risiko faktor lingkungan kerja yang mencakup pencemar udara, dan kebisingan. Identifikasi bahaya dilakukan dengan cara pengamatan di lapangan dan wawancara. Sedangkan dalam menganalisis risiko faktor lingkungan dilakukan menggunakan metode kuesioner dan selanjutnya dianalisis menggunakan metode regresi logistik dengan jumlah responden 140 karyawan dari populasi karyawan yang bekerja di area coal yard dan sekitar area coal yard. Hasil identifikasi bahaya yang dapat menimbulkan risiko tinggi di coal yard adalah paparan dri gas SO2  yang diakibatkan proses dari pembakaran batu bara pada unit pembakit dan, adanya area penyimpanan batu bara. Batu bara yang berada di area penyimpanan tersebut terbakar karena suhu yang panas dan menimbulkan gas SO2 di sekitar area tersebut. Selain paparan gas SO2 proses yang terjadi di unit pemangkit menimbulkan kebisingan di sekitar area kerja coal yard sehingga pekerja yang bekerja di area tersebut perlu memperhatikan kedua hal tersebut selama bekerja untuk menjaga kesehatan dan keselamatan selama bekerja. Dari hasil identifikasi potensi bahaya di area kerja coal yard dapat diamati faktor-fakor yang paling dominan berisiko terhadap gangguan kesehatan pekerja adalah paparan SO2 dan paparan kebisingan,yang ditunjukan dengan hasil analisis regresi logistik (P= 0,001) untuk pengaruh kebisingan, dan SO2, serta umur pekerja dan ketaatan penggunaan alat pelindung diri berhubungan dengan gangguan kesehatan. Ditunjukan dengan hasil analisis regresi logistik (p= 0,006) untuk variabel umur, dan (p=0,001) untuk variabel APD. Pada analisis hubungan pekerja terhadap paparan SO2 didapatkan bahwa faktor tingkat SO2 tidak berhubungan dengan keluhan pusing maupun sesak nafas pada pekerja. Faktor yang berhubungan spesifik adalah faktor lamanya masa kerja terhadap keluhan sesak nafas (OR =2,006), faktor tidak menggunakan APD terhadap keluhan pusing (OR =3,484). Pada analisis hubungan pekerja terhadap paparan kebisingan didapatkan bahwa faktor tingkat konsentrasi kebisingan tidak berhubungan dengan keluhan pusing, darah tinggi, dan cepat lelah namun berhubungan dengan keluhan kurang pendengaran pada pekerja (p=0,001). Faktor yang berhubungan berdasarkan hasil analisis regresi logistik adalah faktor kebisingan terhadap kurang pendengaran (OR = 3,136), faktor tidak menggunakan APD terhadap keluhan pusing (OR =3,484) dan kurang pendengaran (OR = 2,077)  Key word: SO2, Noise, Risk Analysis, Health Problem/IssueÂ