cover
Contact Name
AHMAD SYAUQI
Contact Email
syauqiberbakti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.empati@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95, (Gedung Fak. Dakwah dan Ilmu Komunikasi Lt. III), Cempaka Putih, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten 1541
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
EMPATI : JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ISSN : 23014261     EISSN : 26216418     DOI : 10.15408/empati
Core Subject : Social,
Empati: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial is a peer-reviewed journal on social welfare and social work, offering access to a better understanding of social welfare in Indonesia and developments through the publication of articles and research reports. EMPATI emphasizes on social welfare and social work practice in Indonesia, and intended to communicate original researches and current issues on various subjects such as on human service organizations, children, elderly, disability, economy, policy, health, gender, age, class, mental health, etc. The Journal provides an interdisciplinary forum to which academics and professionals working in the fields of social welfare.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PEMANFAATAN POTENSI BUDAYA LOKAL Rani, Madania Cahya; Ratnasari, WG. Pramita
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 10 No. 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i1.21505

Abstract

Abstract. Betawi batik in the Terogong area has existed since the 1960s constitutes craftsmen mostly women. However, with the development of modernization, this culture has begun to disappear since the 1970s. The founders of Terogong Betawi Batik, Mrs Siti Laila and Mrs Hafidzoh saw this as a potential to empower local women and revive the culture of their ancestors. This study aims to understand the empowerment process carried out by Terogong Betawi Batik craftsmen, and to see the results obtained by these female craftsmen during their involvement in this home industry. This research was conducted using a descriptive qualitative research type with observation, interviews, and documentation studies data collection techniques. The theory employed in this research is the stage theory proposed by Teguh Sulistiyani, and the theory of believing empowerment to see the results put forward by Schuler, Hashemi and Riley as quoted by Edi Suharto. The results of this study indicate that the empowerment process within the Terogong Betawi Batik female craftsman could positively increase their capacities such as freedom of mobility, acquaintance ability, well-coordinated capability, the augmented involvement in household decisions, and economic family security. These craftswomen who succeeded in the empowerment process carried out by Terogong Betawi Batik management achieved benefits both in material and intellectual. Abstrak. Batik Betawi di wilayah Terogong sudah ada sejak tahun 1960-an dengan pengrajin yang mayoritas perempuan. Namun seiring berkembangnya zaman yang semakin modern, budaya tersebut sudah mulai hilang sejak tahun 1970-an. Pendiri Batik Betawi Terogong, Ibu Siti Laila dan Ibu Hafidzoh melihat hal tersebut sebagai potensi yang mereka punya untuk memberdayakan perempuan sekitar dan membangkitkan kembali budaya yang dimiliki nenek moyangnya terdahulu. Tujuan dari penelitian ini untuk lebih mengetahui proses pemberdayaan yang dilakukan oleh para perempuan yang berlatar belakang budaya Betawi sebagai pembatik batik Betawi Terogong, dan mengetahui hasil yang diperoleh pengrajin perempuan selama bergabung dalam industri rumahan tersebut. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori tahapan pemberdayaan yang dikemukakan oleh Teguh Sulistiyani, dan teori keberhasilan pemberdayaan untuk melihat hasil yang dikemukakan oleh Schuler, Hashemi dan Riley dalam Edi Suharto. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya usaha Batik Betawi Terogong tersebut proses pemberdayaan yang dilakukan pengrajin perempuan dapat meningkatkan kapasitas diri mereka seperti: kebebasan mobilitas, kemampuan membeli kebutuhan rumah tangga, dan ikut terlibat dalam keputusan-keputusan rumah tangga, dan jaminan ekonomi keluarga. Para perempuan pengrajin batik Betawi Terogong sudah berhasil dalam proses pemberdayaan yang dilakukan oleh pengelola Batik Betawi karena banyak manfaat yang didapat dari materiil maupun intelektual mereka dari proses tersebut.
HOW DOES JAKARTA’S MILLENNIALS PERCEIVE THE FEAR OF COVID-19 OUTBREAK’S BEGINNING? Suhendra, Suhendra
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i2.21897

Abstract

Abstract. This article discusses emotional expression and experience of Jakarta millennials in perceiving fear at the beginning of the Covid-19 outbreak in Indonesia. This research was conducted through a case study method which was narrated descriptively. The initial concept led this research in finding data was the Extended Parallel Process Model theory proposed by Kim Witte and several supporting concepts in emotional communication. The results show that Jakarta millennials perceive fear as internal anxiety created by threats as an external danger. They consider Covid-19 as a frightening threat with a high level of vulnerability and severity that has an impact on health, economic and social aspects. They also have a high level of efficacy by having the understanding of Covid-19 and health protocols and efforts to implement them. Individual differences through media literacy and direct experience of Covid-19 are important aspects that encourage efficacy to achieve danger control from fear that change beliefs, intentions, attitudes and behaviors of Jakarta millennials in fighting the transmission of Covid-19 through the application of health protocols.Keyword: Fear; Covid-19; Millennial; Media; ExperienceAbstrak. Artikel ini membahas mengenai ekspresi dan pengalaman emosi milenial Jakarta dalam mempersepsi rasa takut pada awal wabah Covid-19 di Indonesia. Penelitian ini dilakukan melalui metode studi kasus yang dinarasikan secara deskriptif. Konsep awal yang mengantarkan penelitian ini dalam menemukan data adalah teori Extended Parallel Process Model yang diajukan Kim Witte dan beberapa konsep pendukung dalam komunikasi emosional. Hasil penelitian menunjukan bahwa milenial Jakarta mempersepsi takut sebagai kekhawatiran yang bersifat internal yang diciptakan oleh ancaman sebagai bahaya yang bersifat eksternal. Mereka menganggap Covid-19 sebagai ancaman yang menakutkan dengan tingkat kerentanan dan keseriusan yang tinggi yang berdampak pada aspek kesehatan, ekonomi dan sosial. Mereka juga memiliki tingkat efikasi yang tinggi dengan adanya pemahaman tentang Covid-19 dan protokol kesehatan serta upaya penerapannya. Perbedaan individu melalui literasi media dan pengalaman langsung terhadap Covid-19 merupakan aspek penting yang mendorong efikasi untu mencapai pengendalian bahaya dari ketakutan yang mengubah kepercayaan, intensi, sikap dan perilaku milenial Jakarta dalam melawan penularan Covid-19 melalui penerapan protokol kesehatan.Kata Kunci: Rasa Takut; Covid-19; Milenial; Media; Pengalaman
IMPLEMENTING FAMILY HOPE PROGRAM IN INCREASING HEALTH AND EDUCATION FOR THE VERY POOR HOUSEHOLD Putri, Depi; Lessy, Zulkipli; Thadi, Robeet
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i1.22457

Abstract

Abstract. The Indonesian Family Hope Program (PKH) is both a Conditional Cash Transfer program (BTB) and a Social Protection Program, and is among the first cluster of modern poverty alleviation strategies implemented in Indonesia. The PKH has been able to meet some of the needs of the poor for access to health care and for education. Such services in Indonesia are difficult to obtain, especially by Very Poor Households (RTSM/KSM) in Umbulharjo District, Yogyakarta City. This study examines implementation of PKH for RTSM/KSM families and assesses effectiveness of PKH toward improving maternal health and children’s education. Qualitative descriptive research collected in-depth information about, and from, seven PKH participants living in the Umbulharjo District of Yogyakarta City. These informants were selected by purposive sampling as representative of health care needs, educational issues, and reliability of information about services. Using their documented observations, the subsequent analysis consisted of data reduction, data presentation, and data inference techniques. Results documented characteristics of the program and experiences of the participants, as follows. (1) These seven PKH recipients were of productive age, but had a poor quality of formal education; were part of an extended family structure, but also had poor housing conditions; and were living amid overall poor economic conditions, while having very low income. (2) All of the participants were in the RTSM/KSM sector. (3) They were among the 42.86%of recipients having family conditions below Regency Minimum Wage (UMK) in 2018, and the 57.14% of recipients having women supporting the family. (4) Implementation of the Family Hope Program effectively improved marital health and medical health for these RTSM/KSM families, with a reduction of burdens and an increase in education. Keywords: Family Hope Program, health, education, poverty. Abstrak. PKH merupakan program Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) dan perlindungan sosial yang termasuk dalam klaster pertama strategi penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Program ini sudah mampu menjawab kebutuhan dan akses masyarakat miskin terhadap kesehatan dan pendidikan yang masih sulit diperoleh, khususnya oleh RTSM/KSM di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui pelaksanaan PKH bagi keluarga RTSM/KSM di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta (2) mengetahui efektivitas PKH ini dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil dan pendidikan anak. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang dirancang untuk mengumpulkan data dan informasi secara mendalam tentang peserta PKH di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta DIY. Informan dipilih secara purposive dan bukan pada jumlah yang banyak atau acak melainkan lebih pada keterwakilan masalah dan keterandalan informasi dan observasi terhadap tujuh peserta PKH sebagai informan. Teknik Analisis Data menggunakan (1) Reduksi data (2) Penyajian data (3) Penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) karakteristik peserta PKH berusia produktif, kualitas pendidikan formal rendah, menganut sistem keluarga besar, dengan kondisi hunian rumah kurang layak, kondisi ekonomi kurang yang ditandai penghasilan rendah; (2) 100% peserta PKH di Kecamatan Umbulharjo adalah RTSM/KSM. (3) 42,86% kondisi keluarga peserta PKH di Kecamatan Umbulharjo berada di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) DIY tahun 2018 sebab dalam keluarga RTSM/KSM yang menjadi tulang punggung keluarga adalah perempuan (57.14%); (4) pelaksanaan program keluarga harapan (PKH) di Kecamatan Umbulharjo merupakan salah satu program yang efektif dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil, kesehatan keluarga RTSM/KSM, mengurangi beban hidup, dan meningkatkan pendidikan. Kata kunci: Program Keluarga Harapan, kesehatan, pendidikan, kemiskinan.
EVALUASI FORMATIF PROGRAM BANTUAN SEMBAKO PANGAN DI KECAMATAN CILINCING KOTA JAKARTA UTARA Nisa, Ayi Fakhrotun; Fawzi, Indra Lestari
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i1.22862

Abstract

Abstract. This research study the program of the Non Cash Food Assistance Program (BSP) in Cilincing District, North Jakarta Administration City. This research is a formative evaluation study with an approach that aims to describe the implementation process of the Non Cash Food Assistance Program (BSP) in Cilincing District, Central Jakarta City. The results of this study indicate that in general, the implementation of the Non Cash Food Assistance Program (BSP) in Cilincing District, North Jakarta is exceptional, this is shown by collecting data on potential beneficiaries through surveys, implementing education and outreach to all stakeholders, implementing Prosperous Family Cards (KKS) through the door to door method, assistance provided through e-warong as well as the use of assistance provided by Beneficiary Families (KPM) such as processing basic necessities to meet daily needs. Meanwhile, there are some problems that need to adressed by the authorities such as deception from e-warong in the transaction of the BSP which sell item to KPM outside the guidelines book. In addition, there is time delay on the fund transfer to the KPM and also "Zero Balance" problem that haunted KPM. This is caused by the assitant program who update data KPM behind time every month. Based on these results, the implementation of the BSP program in Cilincing District is good, five steps of program have been carried out according to the guidelines but one step namely the provision of assistance has not been carried out according to the general guidelines of the existing BSP program properly. The researcher suggests that the Ministry of Social Affairs and BNI should coordinate intensively and structured. Keywords: Formative Evaluation, Non Cash Food Assistance Program (BSP), Beneficiary Families (KPM) Abstrak. Penelitian ini membahas tentang evaluasi Program Bantuan Sembako Pangan (BSP) di Kecamatan Cilincing Kota Administrasi Jakarta Utara, yang secara umum bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Program BSP di Kecamatan Cilincing Kota Jakarta Utara. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi formatif dengan pendekatan kualitatif yang difokuskan untuk menggambarkan proses implementasi Program BSP di Kecamatan Cilincing Kota Jakarta Pusat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya, pelaksanaan Program BSP di Kecamatan Cilincing Kota Jakarta Utara sudah baik, hal tersebut ditunjukkan dengan pendataan calon penerima manfaat melalui survei, pelaksanaan edukasi dan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan, pelaksanaan penyaluran Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) melalui metode door to door,  penyaluran bantuan yang dilakukan melalui e-warong serta pemanfaatan bantuan yang dilakukan oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) seperti mengolah sembako untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam pelaksanaannya, masih ditemukan e-warong yang melakukan kecurangan pada saat transaksi pemanfaatan dana bantuan program dengan memberikan komoditas kepada KPM yang tidak sesuai dengan pedoman umum program BSP. Selain itu, adanya keterlambatan waktu penyaluran dana bantuan (tidak tepat waktu) dan masih ditemukan KPM yang saldonya Rp0,- pada saat pencairan dana tiba. Hal tersebut disebabkan oleh pendamping yang tidak melakukan pembaruan data KPM setiap bulannya. Atas hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program BSP di Kecamatan Cilincing sudah baik, yang mana 5 tahapan sudah dilaksanakan sesuai pedoman dan 1 tahapan yaitu penyaluran bantuan belum dilakukan sesuai pedoman umum program BSP yang ditunjukkan dengan adanya keterlambatan. Peneliti menyarankan agar Kementerian Sosial dan pihak BNI melakukan koordinasi secara intens dan terstruktur.    Kata kunci: Evaluasi Formatif, Program Bantuan Sembako Pangan (BSP), Keluarga Penerima Manfaat.
EKSPLOITASI PEKERJA PADA INDUSTRI BATIK RUMAHAN Habib, Muhammad Alhada Fuadilah; Usrah, Cut Rizka Al; Fatkhullah, Mukhammad; Nisa, Kanita Khoirun; Budita, Ayla Karina
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i2.23541

Abstract

Abstract. Batik industry is one of the leading industries in Indonesia. Since UNESCO declared batik as one of the cultural treasures and identity of the Indonesian nation, batik production has increased in line with increasing market demand. One of the rapidly growing batik industries in Indonesia is the batik industry located in Lawean Village, Solo, Central Java. The industry uses a putting out system where batik workers do their work in their respective house production. Through this system, business owners no longer need to compile an environmental impact analysis, provide social security for workers, pay overtime, work space, and work equipment. However, this putting out system creates many problems, from environmental pollution, deprivation of social rights for workers, to exploitation of workers by business owners. This study aims to reveal forms of injustice to workers in the home batik industry, Lawean, Solo, Central Java through a constructivism (critical) approach. Primary data obtained through in-depth interviews on 14 research subjects and also supported by secondary data from previous studies. Determination of informants is done by using the snowball technique. The theory used in this study is the theory of power relations by Michael Foucault. The dominance of power that leads to injustice (exploitation), cannot be separated from the presence of persuasive power (the owner of the batik business who controls the workers) in the midst of the Lawean Batik Industry. This dominance of power occurs because of the inequality of intelligence and mastery of information technology between batik business owners and workers. Batik business owners have access/network to sell batik products both domestically and abroad, while workers do not have access/network to sell batik they produce directly. On the other hand, the "ewuh-pakewuh" culture that is embraced by the Lewean community further exacerbates this domination.Keywords: batik, home industry, exploitation, power relationAbstrak. Industri batik menjadi salah satu industri unggulan dalam perekonomian Indonesia. Sejak diakuinya batik sebagai salah satu kekayaan budaya dan identitas Bangsa Indonesia oleh UNESCO, produksi batik terus mengalami peningkatan seiring dengan semakin meningkatnya permintaan batik. Salah satu industri batik yang berkembang pesat di Indonesia adalah industri batik yang berada di Desa Lawean, Solo, Jawa Tengah. Industri batik di lokasi tersebut, secara umum menggunakan sistem putting out di mana para pekerja batik mengerjakan pekerjaannya di rumah masing-masing. Dengan penerapan sistem ini, para pengusaha batik tidak perlu lagi menyiapkan amdal, jaminan sosial bagi para pekerja, uang lembur, ruang untuk bekerja, serta peralatan untuk bekerja. Penerapan sistem putting out ini, ternyata menimbulkan banyak sekali masalah, mulai dari pencemaran lingkungan, terampasnya hak-hak sosial bagi para pekerja sampai pada eksploitasi para pekerja oleh pengusaha batik.Studi ini merupakan studi konstruktivisme (kritis) untuk mengungkap bentuk-bentuk ketidakadilan yang dialami oleh para pekerja di industri batik rumahan, Lawean, Solo, Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara mendalam (indepth interview) terhadap 14 orang subyek penelitian dan didukung pula oleh data skunder dari penelitian terdahulu. Teknik penentuan informan menggunakan teknik snowball. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori relasi kekuasaan dari Michael Foucault. Terjadinya prakter dominasi kekuasaan yang berujung pada terjadinya ketidakadilan (eksploitasi), tidak terlepas dari hadirnya kekuasaan yang bersifat persuatif (juragan batik menguasai pembatik) di tengah-tengah Industri Batik Lawean. Praktek dominasi kekuasaan ini terjadi karena adanya ketimpangan intelegensi (kecerdasan) dan ketimpangan penguasaan teknologi informasi antara juragan batik dengan pembatik. Juragan batik memiliki akses/jaringan untuk menjual produk batik ke konsumen dalam negeri maupun luar negeri, sedangkan para pekerja pembatik merasa tidak mampu menjual barang hasil produksi ke pasar. Budaya sungkan/ewuh-pakewuh yang dianut oleh masyarakat Lewean semakin memperparah praktek dominasi kekuasaan ini.Kata Kunci: Batik, Industri Rumahan, Eksploitasi, Relasi Kuasa
POTENTIAL AND CHALLENGES FOR PRIVATE SECTOR TO LEAD WARUNG DIGITALIZATION IN INDONESIA Paradizsa, Irlandi; Rahayu, Ety
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i1.23673

Abstract

Abstract. The purpose of this study is to understand the potential and challenges for the private sector to lead the process of warung digitalization to improve their business. MSMEs such as warung in Indonesia have been a tool for income generation for many people. Though, the number of warung that has leveled up is still minimum—most of their business are stagnant. This has resulted to the no change of their welfare situation. The approach used in this study is qualitative with the method of literature review. This study finds that there are potential for the private sector to be the trailblazer for the digitalization process because of their characteristics and traits, the other actors’ situation, and the profit to be gained. Though, there are some challenges to be addressed such as the lack of supporting infrastructure, minimal regulatory framework, and also the need for training the warung owner. Keywords: Digitalization; warung; private sector; potential; challenges; empowerment Abstrak. Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami potensi dan tantangan bagi sektor swasta untuk memelopori proses dari digitalisasi warung untuk meningkatkan bisnis mereka. UMKM seperti warung di Indonesia telah menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan bagi banyak orang. Pun demikian, jumlah warung yang bisa berkembang jumlahnya masih minimal—kebanyakan bisnis mereka stagnan. Hal ini menyebabkan tidak terjadi perubahan terhadap tingkat kesejahteraan mereka. Pendekatan yang dilakukan dalam studi ini adalah secara kualitatif dengan metode kajian literatur. Studi ini menemukan bahwa ada beberapa potensi bagi sektor swasta untuk menjadi pemrakarsa untuk proses digitalisasi yang disebabkan oleh karakteristik dan sifatnya, situasi dari pihak-pihak lainnya, dan keuntungan yang dapat diraih oleh sektor swasta. Walaupun begitu, ada beberapa tantangan yang perlu diselesaikan seperti kurangnya infrastruktur pendukung, kerangka kerja peraturan yang masih minimal, serta kebutuhan untuk melatih para pemilik warung terlebih dahulu. Kata kunci: Digitalisasi; warung; sektor swasta; potensi; tantangan; pemberdayaan.
PERAN LEMBAGA ADAT DALAM PENYELESAIAN PERKARA ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM Jaya, Gandi Indah; Darubekti, Nurhayati; Yunilisiah, Yunilisiah
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i2.24721

Abstract

Abstract. Rejang custom is the legal basis and order in the life of the Rejang people, passed down from generation to generation both orally and in writing, has its own mechanism in disputes, contains values, mutual cooperation, deliberation, consensus, propriety, magical, religious, wise and wise. It aims to create balance and encourage people to obey the rules and sanctions. This study aims to determine Rejang Customs in resolving cases of children violating customary law, and Rejang Customary Institutions in resolving cases of Children in Conflict with the Law in Diversion Mediation. Children in Conflict with the Law are children aged 12-18 years who violate the law, the norms of values in and children are prone to committing criminal acts, whether or not they have undergone a legal process and have been through a penal mediation process in society. recognition of customary institutions for their traditional rights in UU 1945 article 18B paragraph 2, as well as the benefits provided by Permendagri No. 5 of 2007, is expected to help resolve cases of Children in Conflict with the Law, through a set of norms and rules that are owned. This study uses a qualitative method with simultaneous data collection at each stage. The results show that the customary Rejang in resolving cases of children violating customary law is comprehensive, fast and simple, in line with the restorative justice paradigm, but the results show that the role of the Rejang institution is not yet fully active in terms of prevention, diversion, and reintegration, as mandated by UU SPPA No. 11 of 2012. Theoretically, the research is expected to be able to contribute to the Juvenile Criminal Justice System, as well as to contribute to the study of Social Work Practices in a multicultural society in dealing with cases of children in conflict with the law. as well as support for the ravitalization of local culture as a force in the framework of child protection.Keywords: children in conflict with the law, customary institutions, rejang customs, roles settlement of cases. Abstrak. Adat Rejang merupakan dasar hukum dan tata tertib kehidupan masyarakat suku Rejang, disampaikan secara turun temurun baik lisan dan tulisan, memiliki mekanismenya sendiri dalam penyelesaian sengketa, mengandung nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, musyawarah, mufakat, kepatutan, magis, religius, arif dan bijaksana, bertujuan menciptakan keseimbangan dan mendorong masyarakat tunduk pada aturan dan sanksinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui: adat Rejang dalam penyelesaian perkara anak yang melanggar hukum adat, serta Lembaga adat Rejang dalam penyelesaian perkara anak berkonflik dengan hukum dalam mediasi diversi. Anak berkonflik dengan hukum adalah anak berusia 12-18 tahun yang melanggar hukum, nilai-nilai norma di masyarakat maupun anak rawan untuk melakukan tindakan kriminal, baik pernah atau belum menjalani proses hukum dan proses mediasi penal di masyarakat. Pengakuan lembaga adat terhadap hak-hak tradisionalnya dalam UU 1945 pasal 18B ayat 2, serta fungsinya menurut Permendagri No. 5 Tahun 2007, diharapkan berperan menyelesaikan perkara anak berkonflik dengan hukum, melalui seperangkat norma dan aturan yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data secara simultan setiap tahapannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat Rejang dalam penyelesaian perkara anak yang melanggar hukum adat bersifat menyeluruh, cepat dan sederhana, selaras dengan paradigma restorative justice. Namun hasil penelitian menunjukkan peran lembaga adat Rejang belum sepenuhnya terlibat baik pencegahan, diversi, maupun reintegrasi, seperti amanat UU SPPA No. 11 Tahun 2012. Secara teoritis penelitian diharapkan dapat berkontribusi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak, sekaligus sebagai sumbangsih terhadap kajian Praktek Pekerjaan Sosial dalam masyarakat multikultural menangani perkara anak berkonflik dengan hukum, serta dukungan terhadap ravitalisasi budaya lokal sebagai kekuatan dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak.Kata kunci: adat rejang, anak berkonflik dengan hukum, lembaga adat, penyelesaian perkara, peran.
THE REINTEGRATION PROCESS OF PEOPLE WITH SCHIZOPHRENIA WHO REPEATED RELAPSE RETURN INTO THE COMMUNITY Prasetyo, Franciscus Adi; Mufanti, Restu
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i1.24861

Abstract

Abstract. The reintegration of people with schizophrenia to return to society often has to experience obstacles due to repeated relapses caused by multiple factors such as non-adherence to medication or certain social pressures that trigger the emergence of schizophrenia symptoms. The implications of recurrence are closely related to the decrease in the ability to carry out social functions, so they have the potential to lose their jobs, cannot continue their education, and have estranged social relations. There is a phenomenon that several people with schizophrenia who have had recurrent experiences can reintegrate into their social environment. Therefore, this study aims to describe the process of reintegration of people with schizophrenia who experience repeated relapses into society. The research method used is qualitative, with a case study approach on four people with schizophrenia living in four locations in Jakarta. The results of this study indicate that the two elements are operational and interrelated with each other. First, the main element is the individualistic internal process of people with schizophrenia which includes aspects of spirituality, cognition, and mental and social. Second, the enabling element, namely friends/friends and family who work to increase the chances of people with schizophrenia regaining self-stability to reintegrate into their social environment. Success in the social reintegration process allows people with schizophrenia to carry out their social functions as members of society, such as working, having a family, interacting naturally, and overcoming the fear of stigma and discrimination. Keywords: Relapse, Reintegration, People with Schizophrenia. Abstrak. Reintegrasi orang dengan skizofrenia untuk kembali ke masyarakat seringkali harus mengalami hambatan akibat kekambuhan berulang yang disebabkan oleh multifaktor seperti ketidakpatuhan minum obat atau tekanan sosial tertentu sehingga memicu munculnya gejala skizofrenia. Implikasi kekambuhan sangat erat kaitannya dengan penurunan kemampuan melaksanakan fungsi sosialnya sehingga berpotensi kehilangan pekerjaan, tidak dapat melanjutkan sekolah, dan kerenggangan hubungan sosial. Terdapat  fenomena sejumlah orang dengan skizofrenia yang memiliki pengalaman kambuhan, ternyata mampu terintegrasi kembali dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang proses reintegrasi orang dengan skizofrenia yang mengalami kekambuhan berulang ke masyarakat. Metode penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada empat orang dengan skizofrenia yang berdomisili di empat lokasi berbeda di Jakarta. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat dua elemen yang beroperasional serta saling berkaitan satu sama lain. Pertama, elemen utama yaitu proses internal orang dengan skizofrenia yang bersifat individualistik yang meliputi aspek spiritualitas, kognisi dan mental, serta sosial. Kedua, elemen pemungkin yaitu teman/sahabat dan keluarga yang bekerja untuk memperbesar peluang orang dengan skizofrenia meraih kembali stabilitas diri agar mampu terintegrasi kembali dengan lingkungan sosialnya. Keberhasilan dalam proses reintegrasi sosial memungkinkan orang dengan skizofrenia mampu melaksanakan kembali fungsi sosialnya sebagai anggota masyarakat seperti bekerja, berkeluarga, berinteraksi secara wajar dan mampu mengatasi ketakutan stigma dan diskriminasi.  Kata kunci: Kekambuhan, Reintegrasi, Orang Dengan Skizofrenia.
PROSES KERJA TIM DIVISI HEALTH CARE DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI TEVIS FOUNDATION Putri, Risya Ananda
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i2.25123

Abstract

Abstract. Teamship or teamwork is one part of the administration, which together with leadership can bring the organization to life and bring the results desired by the organization. If understood and put into practice, leadership and teamwork can make significant changes in the delivery of social services. The provision of services in the Health Care division is complex and has more and more challenges, especially during the Covid-19 pandemic, therefore efforts are needed to improve teamwork so that the organization becomes more effective and efficient. The efforts of the team and its leaders in social work practices have an impact on the performance of the social services provided and the performance of the institution, so an analysis of the teamwork process is needed to determine the extent to which health service delivery at the Tevis Foundation can be effective and efficient in providing its services to the community. The purpose of this study was to explore the work process of the Tevis Foundation team that puts forward management roles, where the management roles that are implemented emphasize the teamship element proposed by Skidmore (1995), including communication, compromise, cooperation, coordination, and consumption. This type of research uses a qualitative research approach with research instruments used in data collection, namely interview guidelines, observation guidelines, and field studies. The technique used is in-depth interviews, non-participant observation. The informant of this research is the Health Care division of the Tevis Foundation which is in direct contact with the beneficiaries. The findings of this study are that the role of teamwork process plays an important role in an organization to provide health services to the community starting from communication to program consumption to minimize errors that exist in an organization. The team's ability to adapt to adversity, and to be able to place themselves with the challenges that exist is one of the keys to the success of humanitarian service organizations in the health sector. Keywords: Teamwork process, Health Services, Management Roles, Covid-19 Abstrak. Teamship atau kerja tim merupakan salah satu bagian dari administrasi,  yang bersama dengan kepemimpinan dapat menghidupkan organisasi dan membawa hasil yang diinginkan oleh organisasi. Kepemimpinan dan kerjasama tim jika dipahami dan dipraktikkan maka dapat membuat perubahan yang signifikan dalam penyampaian layanan sosial. Pemberian layanan di divisi Health Care yang kompleks dan semakin banyak tantangan terutama di masa pandemi Covid-19, oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan teamwork agar organisasi menjadi lebih efektif dan efisien. Upaya tim dan pimpinannya dalam praktik pekerjaan sosial memberikan dampak terhadap kinerja dari layanan sosial yang diberikan maupun kinerja dari lembaga tersebut, sehingga analisa terhadap proses kerja tim diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pemberian layanan kesehatan di Tevis Foundation dapat efektif dan efisien dalam memberikan layanannya kepada masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi proses kerja tim Tevis Foundation yang  mengedepankan management roles, dimana management roles yang dilaksanakan menekankan kepada elemen teamship yang dikemukakan Skidmore (1995), meliputi komunikasi, kompromi, kooperasi, koordinasi, dan konsumasi. Jenis penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu pedoman wawancara, pedoman observasi, dan studi lapangan. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi non-partisipan. Informan dari penelitian ini adalah divisi Health Care dari Tevis Foundation yang berhubungan langsung dengan penerima manfaat. Temuan dari penelitian ini yaitu peran dari proses kerja tim memegang peranan penting dalam sebuah organisasi untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat dimulai dari komunikasi hingga konsumasi program agar dapat meminimalisir kesalahan yang ada dalam sebuah organisasi. Kemampuan tim dalam menyesuaikan diri dengan kesulitan, dan mampu menempatkan diri dengan tantangan yang ada adalah salah satu kunci keberhasilan organisasi pelayanan kemanusiaan dalam bidang kesehatanKata kunci: Proses kerja tim, Layanan Kesehatan, Management Roles, Covid-19
PENERAPAN PLAY THERAPY PADA KORBAN KEKERASAN SEKSUAL ANAK: STUDI PADA BALAI REHABILITASI SOSIAL ANAK MEMERLUKAN PERLINDUNGAN KHUSUS HANDAYANI Apriliani, Farah Tri
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i2.25650

Abstract

Abstract. Sexual incidents in Indonesia reported by the Data Information Center of the National Child Protection Commission (KPAI) from 2010 to 2014 resulted in 21,869,797 violations against children spread over 34 regions. The uniqueness of child sexual abuse in Indonesia is that it often occurs in places that should provide a sense of security and comfort for teenagers, such as the climate at home, schools and welfare. Sexual crimes against Indonesian teenagers certainly have an impact on the condition of children. For example, a sense of responsibility, self-blame, sexual wilderness images, nightmares, sexual failure, mental problems. The use of play treatment for sexual abuse survivors is one of the tools used to help children alleviate their worries. This survey uses an activity survey approach. The information classification procedure was carried out through the provision of treatment to two victims of juvenile sexual abuse, joint meetings with social experts, awareness of members of the provision of treatment, and changes in the behavior of rice field children. The results showed that the use of play therapy for sexual wilderness survivors with the trash can and storytelling methods could replace the adolescent's language in communicating their emotions. The point is that every child has a different injury experience, each child has a different number of games, and the treatment strategies and game media used adapt to what the child is experiencing, so that with each child it is not the same.Keywords: Play therapy, Child sexual abuse, Garbage bag, Story telling. Abstrak. Kasus kekerasan seksual di Indonesia menurut Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari tahun 2010-2014 memperoleh hasil bahwa sebanyak 21.869.797 kasus pelanggaran hak anak yang tersebar di 34 provinsi. Fenomena kekerasan seksual anak di Indonesia sering terjadi di tempat-tempat yang seharusnya memberikan keamanan dan kenyamanan bagi seorang anak, misalnya lingkungan keluarga, sekolah, kesehatan, dll. Kekerasan seksual pada anak di Indonesia tentunya akan berdampak pada kondisi sang anak. Misalnya, perasaan bersalah atau menyalahkan dirinya sendiri, bayangan kejadian kekerasan seksual, mimpi buruk, disfungsi seksual hingga gangguan psikologis. Penggunaan play therapy untuk korban kekerasan seksual ini menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk membantu anak dalam mengatasi masalahnya.  Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian action research. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pelaksanaan terapi kepada kedua korban kekerasan seksual anak, wawancara bersama dengan pekerja sosial, observasi partisipan terhadap pelaksanaan terapi dan perubahan perilaku anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan play therapy pada korban kekerasan seksual bisa digunakan menggunakan teknik garbage bag dan story telling sebagai pengganti bahasa anak dalam mengekspresikan perasaan yang dimilikinya. Kesimpulannya adalah setiap anak memiliki pengalaman trauma yang berbeda, begitu juga penanganannya sehingga masing-masing anak memiliki jumlah sesi yang berbeda, dan teknik play therapy serta media yang digunakan akan berbeda dari masing-masing anak karena menyesuaikan dengan kasus yang dialami oleh anak.Kata kunci: Play therapy, Kekerasan seksual anak, Garbage bag, Story telling.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2025): Empati Edisi Juni 2025 Vol 13, No 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024 Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024 Vol. 12 No. 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 2 (2023): Empati Edisi Desember 2023 Vol 12, No 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Empati Edisi Juni 2023 Vol 11, No 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 11, No 1 (2022): Empati Edisi Juni 2022 Vol 10, No 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021 Vol 10, No 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Empati Edisi Juni 2021 Vol 9, No 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Empati Edisi Desember 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 9, No 1 (2020): Empati Edisi Juni 2020 Vol 8, No 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Empati Edisi Desember 2019 Vol 8, No 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019 Vol 7, No 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Empati Edisi Desember 2018 Vol 7, No 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Empati Edisi Juni 2018 Vol 6, No 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Empati Edisi Juni 2017 Vol. 5 No. 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 5, No 1 (2016): Empati Edisi Juni 2016 Vol 4, No 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Empati Edisi Juni 2015 Vol. 3 No. 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol 3, No 1 (2014): Empati Edisi Juni 2014 Vol. 2 No. 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 2, No 1 (2013): Empati Edisi Juni 2013 Vol 1, No 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Empati Edisi Juni 2012 More Issue