cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Korelasi antara Skor Apgar dengan Derajat Keparahan Enterokolitis Nekrotikans pada Neonatus Kurang Bulan Kecil Masa Kehamilan Via Dewinta Sari; Novina Andriana; Sri Endah Rahayuningsih; Reni Ghrahani; Mia Milanti Dewi; Fiva Aprilia Kadi
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.264-70

Abstract

Latar belakang. Enterokolitis nekrotikans merupakan penyakit yang dapat terjadi pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan. Prevalensi neonatus kecil masa kehamilan di Indonesia tahun 2012 mencapai 18% dengan neonatus kurang bulan sejumlah 8800. Penelitian sebelumnya menyatakan insidensi enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan sebesar 3,2%. Hipoksia kronis menyebabkan hipoksia perinatal sehingga didapatkan Skor Apgar yang rendah saat lahir. Skor Apgar rendah diduga dapat menyebabkan hipoperfusi splanknik yang memicu peningkatan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans.Tujuan. Mengetahui korelasi antara Skor Apgar dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan.Metode. Studi potong lintang ini melibatkan neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan yang terdiagnosis enterokolitis nekrotikans dan tidak enterokolitis nekrotikans. Data berasal dari rekam medis pasien yang dirawat pada tahun 2018-2022 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Hasil. Terdapat 55 neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan yang terdiagnosis enterokolitis nekrotikans dan 55 neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan tidak enterokolitis nekrotikans. Hasil riset didapatkan korelasi yang signifikan antara Skor Apgar menit ke-1 (p<0,001, r -0,873) dan ke-5 (p<0,001, r -0,876) dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan. Variabel lain, seperti usia gestasi (p<0,001, r -0,930) dan berat badan lahir (p<0,001, r -0,636) juga memiliki korelasi yang signifkan dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan. Tidak terdapat pengaruh usia gestasi (p=0,590), berat lahir (p=0,211), dan skor Apgar (p=0,058) terhadap kejadian enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan.Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara Skor Apgar dengan derajat keparahan enterokolitis nekrotikans pada neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan.
Penerimaan Orangtua terhadap Pemberian Vaksin Rotavirus pada Anak Usia di Bawah Lima Tahun Shahab, Muhammad Rayyan Faher; Karyanti, Mulya Rahma
Sari Pediatri Vol 25, No 6 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.6.2024.385-92

Abstract

Latar belakang. Rotavirus adalah penyebab utama gastroenteritis pada anak di bawah usia lima tahun dan dapat dicegah melalui vaksinasi. Namun, penerimaan vaksinasi rotavirus masih menjadi perhatian utama dalam upaya pengendalian penyakit ini. Tujuan. Mengevaluasi penerimaan orangtua terhadap vaksinasi rotavirus bagi anak berusia di bawah lima tahun.Metode. Sampel penelitian merupakan orangtua yang dipilih secara consecutive sampling. Uji yang digunakan adalah metode uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden, pengetahuan, sikap, perilaku terhadap rotavirus, dan penerimaan vaksinasi rotavirus. Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Departemen Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Taman Pengembangan Anak Makara Universitas Indonesia pada bulan Oktober sampai November 2020. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner kertas atau e-questionnaire yang diisi oleh orangtua.Hasil. Dari 108 responden, 13 (12%) menolak pemberian vaksinasi rotavirus. Persebaran data menunjukkan 54 responden dengan usia < 30 tahun (50%), 96 berpendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (89%), 51 responden bekerja (53%), 77 dengan pengetahuan terhadap rotavirus baik (71%), 93 dengan sikap terhadap rotavirus baik (86%), dan 100 dengan perilaku terhadap rotavirus baik (93%). Didapatkan hubungan yang signifikan antara sikap orangtua terhadap vaksinasi dengan penerimaan orangtua terhadap vaksinasi rotavirus (p=0,000) dengan rincian 87 responden (93,5%) memiliki sikap positif terhadap vaksinasi dan 6 (6,5%) negatif terhadap vaksinasi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0,375), pendidikan (p=0,636), pekerjaan (p=0,500), penghasilan (p=0,290), pengetahuan (p=1,000), sikap (p=0,689), dan perilaku terhadap rotavirus (p=0,592) dengan penerimaan vaksinasi rotavirus. Kesimpulan. Mayoritas responden memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku baik terhadap infeksi rotavirus dan vaksinasi rotavirus. Meskipun demikian, tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor sosiodemografi orangtua dengan penerimaan vaksinasi rotavirus, kecuali pada sikap orangtua terhadap vaksinasi.
Analisis Kritis Terkait Manajemen dan Luaran Pasien Anak di Unit Perawatan Intensif Anak Level Sekunder Angelina, Angelina; Aviana, Ruthie; Ardelia, Yolanda; Dewi, Arfianti Chandra
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.109-15

Abstract

Latar belakang. Setiap unit perawatan intensif anak (UPIA) memiliki karakteristik berbeda. Evaluasi terhadap manajemen dan luaran pasien penting untuk memperbaiki kualitas pelayanan. Data publikasi penelitian terkait UPIA umumnya dikerjakan pada level tersier.Tujuan. Melakukan tinjauan terhadap manajemen yang diberikan kepada pasien UPIA level sekunder, dan hubungannya dengan luaran pasien.Metode. Penelitian potong lintang retrospektif menggunakan data rekam medis pasien yang dirawat di UPIA Rumah Sakit Umum Daerah Balaraja selama tahun 2022. Data yang diambil mencakup data demografis (usia, jenis kelamin, berat badan), diagnosis utama, komorbiditas, terapi selama perawatan, dan parameter laboratorium. Hasil uji statistik disajikan dalam nilai p serta interval kepercayaan 95%, besarnya hubungan dinyatakan dengan nilai Odds ratio. Hasil. Seratus satu pasien masuk dalam penelitian. Sebagian besar berusia di bawah 1 tahun, dengan pneumonia dan infeksi sistem saraf pusat merupakan diagnosis terbanyak. Terdapat 32 pasien (31,6 %) meninggal dunia, penggunaan ventilator mekanik (OR36,75; IK95%:8,014-168,519; p<0,001) dan pemberian obat vasoaktif (OR11; IK95%:4,137-29,295; p<0,001) berhubungan bermakna dengan tingkat mortalitas. Kesimpulan. Sebagian besar pasien adalah bayi yang didominasi dengan masalah medis akibat infeksi. Tingkat mortalitas cukup tinggi, berhubungan bermakna dengan penggunaan ventilator mekanik invasif serta obat vasoaktif.
Pengaruh Terapi Oksigen Hiperbarik terhadap Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme Nugraheni, Pramita Anindya; Untari, Ni Komang Sri Dewi; Agustin, Renny; Oktavia, Reza Mardiana Ayu; Rantika, Rheina Hasna; Hadi, Rifqi Athaya Vinanta; Utami, Rina Mega
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.316-21

Abstract

Latar belakang. Gangguan Spektrum Autisme merupakan kelainan perkembangan saraf dengan ciri-ciri gangguan komunikasi sosial, interaksi sosial yang terbatas, dan pola perilaku yang berulang, sesuai dengan klasifikasi DSM V. Terapi yang umum digunakan adalah Applied Behaviour Analysis, tetapi Terapi Oksigen Hiperbarik menjadi fokus studi terkini yang melibatkan pemberian oksigen 100% pada tekanan atmosfer yang lebih tinggi, menjadi opsi non-invasif yang dapat menyediakan oksigen optimal untuk organ tubuh.Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh TOHB pada anak ASD melalui Childhood Autism Rating Scale.Metode. Studi analitik dilakukan dengan desain pra-eksperimental one group pretest-posttest, melibatkan 15 pasien ASD dari Lakesla Drs. Med. R. Rijadi S.,Phys. Data dikumpulkan dari Januari hingga Agustus 2023.Hasil. Analisis data pre-test dan post-test menunjukkan signifikansi (p=0.001). Evaluasi aspek hubungan dengan orang lain (p=0.004), imitasi (p=0.011), respon emosional (p=0.001), penggunaan objek (p=0.008), adaptasi (p=0.007), respon mendengar (p=0.014), rasa, bau, sentuh (p=0.034), ketakutan atau gugup (p=0.009), komunikasi verbal (p=0.059 dan p=0.157), tingkat aktivitas (p=0.004), level dan konsistensi respon intelektual (p=0.025), serta kesan umum (p=0.025).Kesimpulan. Pemberian TOHB pada anak ASD dapat meningkatkan berbagai aspek fungsi sosial dan menurunkan tingkat aktivitas, rasa takut, serta gugup. Penelitian ini memberikan dasar untuk lebih memahami peran TOHB dalam manajemen ASD.
Kejadian Respiratory Distress Syndrome pada Bayi Lahir Prematur di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Kadi, Fiva Aprilia; Paramita, Ajeng Anggia; Rakhmilla, Lulu Eva
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.9-15

Abstract

Latar belakang. Respiratory Distress Syndrome adalah masalah serius yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada bayi prematur. Beberapa faktor risiko, antara lain, jenis kelamin laki-laki, ibu dengan diabetes melitus, ketuban pecah dini, hipertensi, usia ibu <20 tahun, persalinan sesar, berat lahir <2500 gram, dan paritas.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian Respiratory Distress Syndrome pada bayi prematur.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek dipilih secara consecutive sampling dari data rekam medis. Kriteria inklusi adalah bayi berusia kurang dari 37 minggu dan kriteria eksklusi bayi kembar, bayi dengan sepsis, serta data rekam medis yang tidak lengkap. Dari 872 data didapatkan sampel 361 bayi yang memenuhi kriteria. Analisis data menggunakan uji univariat, bivariat (Chi-square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia ibu ?20 tahun, usia kehamilan <28 minggu, berat lahir <2500 gram, dan jenis kelamin laki-laki memiliki hubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan dua faktor risiko signifikan: (1) Usia ibu <20 tahun memiliki pengaruh lebih besar dalam pencegahan dibandingkan dengan usia ibu ?20 tahun (p=0,000; OR IK95%: 0,089-0,402), dan (2) Berat lahir bayi <2500 gram meningkatkan risiko lebih dari tiga kali lipat untuk mengalami Respiratory Distress Syndrome dibandingkan dengan berat lahir ?2500 gram (p=0,024; OR IK95%: 1,162-8,872).Kesimpulan. Faktor risiko kejadian Respiratory Distress Syndrome pada bayi prematur sangat erat kaitannya dengan kondisi ibu dan bayi, seperti usia ibu, berat lahir, usia kehamilan, dan jenis kelamin. Dalam penelitian ini tidak ditunjukkan hubungan signifikan akibat faktor lain, seperti Diabetes Melitus, hipertensi, PROM, paritas, dan jenis persalinan.
Perbedaan Kadar C-Reactive Protein Pasien Tuberkulosis Paru dan Ekstra Paru pada Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Kariadi Semarang Moh Syarofil Anam; Maria Mexitalia
Sari Pediatri Vol 25, No 4 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.4.2023.215-20

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis pada anak dapat mengenai paru dan di luar paru. C-Reactive protein merupakan penanda inflamasi yang digunakan dalam klinis dan telah diketahui kadarnya meningkat pada pasien tuberkulosis anak.Tujuan. Menganalisis perbedaan kadar C-Reactive protein pada pasien tuberkulosis paru dan ekstra paru anak.Metode. Penelitian belah lintang menggunakan data rekam medis pasien tuberkulosis anak usia 0-18 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang periode Januari 2019 – Desember 2020. Data yang dikumpulkan usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, kadar C-Reactive protein, penyakit komorbid dan kualitas penegakan diagnosis. Kriteria inklusi pasien tuberkulosis anak usia 0-18 tahun, kriteria eksklusi data tidak lengkap. Analisis data menggunakan komputer.Hasil. Dari 221 kasus tuberkulosis, 50 subyek dilakukan analisis dengan distribusi tuberkulosis paru 21/50 dan tuberkulosis ekstra paru 29/50 kasus. Terdapat perbedaan usia (p=0,019), berat badan (p=0,008), tinggi badan (p=0,011), penyakit komorbid (0,001) antar kelompok. Tidak didapatkan perbedaan pada Jenis kelamin, status gizi, tes tuberkulin, bakteriologis, dan kualitas penegakan diagnosis. Median kadar C-Reactive protein pasien TB paru 0,23 (0,01-12,91) mg/L dan tuberkulosis ekstra paru 2,6 (0,05-32,15) (p=0,006). Kesimpulan. Kadar C-Reactive protein pasien tuberkulosis ekstra paru lebih tinggi dibandingkan dengan tuberkulosis paru pada anak.
Perbandingan Lingkar Leher dan Indeks Massa Tubuh terhadap Body Fat pada Siswa Sekolah Dasar Pamungkas, Rafli Yuda; Sekarhandini, Pitra; Moelyo, Annang Giri
Sari Pediatri Vol 25, No 6 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.6.2024.393-7

Abstract

Latar belakang. Pengukuran antropometri yang umum digunakan untuk menilai obesitas adalah Indeks Massa Tubuh Namun, pengukuran menggunakan Indeks Massa Tubuh masih memiliki beberapa kekurangan, yakni tidak mampu menunjukkan perbedaan antara massa otot dan lemak. Pengukuran juga tidak bisa memberikan informasi mengenai distribusi lemak tubuh. Metode pengukuran alternatif yakni lingkar leher. Hasil pengukuran lingkar leher dapat menjadi indikator terhadap penumpukan lemak subkutaneus tubuh bagian atas sehingga berguna dalam mengidentifikasi anak dengan obesitas. Tujuan. Mengetahui perbandingan lingkar leher dan indeks massa tubuh terhadap body fat pada siswa sekolah dasar.Metode. Penelitian ini menggunakan studi analitik cross-sectional dengan sampel siswa tingkat sekolah dasar kelas 4-6 Sekolah Dasar Al-Islam 2 Jamsaren Surakarta. Data didapatkan dari hasil pengukuran lingkar leher, berat badan, tinggi badan, dan persentase body fat. Teknik analisis dengan uji analisis Spearman dan uji multivariat regresi linier berganda.Hasil. Hasil uji bivariat yang signifikan (p<0,005) didapatkan pada uji Spearman baik lingkar leher dengan body fat, maupun Indeks Massa Tubuh dengan body fat.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara lingkar leher dan body fat, maupun Indeks Massa Tubuh dengan body fat. Secara simultan Indeks Massa Tubuh berpengaruh lebih besar terhadap peningkatan body fat dibandingkan lingkar leher.
Hubungan Jenis, Jumlah, dan Lama Pemberian Obat Anti Epilepsi dengan Kadar 25-Hidroksi Vitamin D pada Anak Epilepsi Wijaya, Aji Kristianto; Salendu, Praevilia Margareth; Mandei, Jose Meky
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.328-32

Abstract

Latar belakang. Penggunaan obat anti epilepsi diduga dapat menyebabkan defisiensi vitamin D.Tujuan. Mengetahui adanya hubungan jenis, jumlah, dan lama pemberian obat anti epilepsi terhadap kadar 25-hidroksi vitamin D pada anak epilepsi.Metode. Penelitian observasional analitik secara potong lintang pada anak epilepsi usia 7 bulan-18 tahun di poli neurologi anak RSUP Prof. R. D. Kandou Manado antara 1 Agustus 2022 - 31 Desember 2022. Hasil. Dari total 66 anak epilepsi ditemukan 19 anak defisiensi vitamin D (28,8%), 20 anak insufisiensi (30,3%), dan 27 anak status vitamin D normal (40,9%). Anak yang mendapat obat asam valproat, fenitoin, dan karbamazepin memiliki kadar 25(OH)D sebesar 27,66 (15,45 – 58,10), 25,17 (21,44 – 33,50), dan 29,49 (17,89 – 41,10) dengan nilai p = 0,991. Anak yang mendapat pengobatan monoterapi memiliki kadar 25(OH)D lebih tinggi yaitu 28,09 (16,20 – 58,10) dibandingkan pengobatan politerapi yaitu 18,94 (15,45 – 35,10) dengan nilai p=0,036. Lama pemberian obat monoterapi dan politerapi dengan kadar 25(OH)D diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (sig < 0.05) dengan koefisien korelasi sebesar -0,528 (0,41 – 0,60). Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara jenis OAE dengan kadar vitamin D. Terdapat hubungan antara jumlah OAE dan lama pemberian OAE dengan kadar vitamin D.
Perbedaan Perubahan Kadar Hormon Tiroid pada Bayi Kurang Bulan melalui Pemeriksaan Fungsi Tiroid Serial Al Khusna, Nandia Permata Rahma; Hidayah, Dwi; Giri Moelyo, Annang
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.85-90

Abstract

Latar belakang. Hipotiroid kongenital merupakan gangguan hormon yang terjadi pada bayi baru lahir dimana ditemukan kadar hormon tiroid yang rendah. Pada bayi kurang bulan dan berat lahir rendah dapat mengalami hipotiroksinemia tanpa disertai peningkatan thyroid stimulating hormone. Hal ini bersifat sementara dan akan meningkat seiring pertambahan usia. Tujuan. Menilai perbedaan perubahan kadar hormon tiroid pada bayi kurang bulan melalui pemeriksaan fungsi tiroid serial serta faktor risiko yang berhubungan dengan hal tersebut.Metode. Kohort prospektif dengan melakukan pemeriksaan TSH dan FT4 serial pada BKB di NICU dan HCU Neonatus RSUD Dr. Moewardi bulan Oktober 2022 hingga Januari 2023. Pengambilan sampel dilakukan pada BKB dengan usia kehamilan < 32 minggu dan 32 s/d <37 minggu pada usia 48-72 jam dan 2 minggu. Hasil pengamatan dideskripsikan dengan mean±SD, analisis data dengan SPSS 22 dan dinyatakan signifikan apabila uji menghasilkan p?0,05.Hasil. Didapatkan nilai TSH dan FT4 yang semakin turun pada usia 48-72 jam dan 2 minggu pada kelompok usia kehamilan <32 minggu (TSH p= 0,221; FT4 p=0,008) dan 32 s/d < 37 minggu (TSH p=0,037; FT4 p=0,013). Faktor yang berpengaruh adalah berat badan lahir bayi dimana ditemukan perbedaan signifikan pada berat bayi lahir sangat rendah (p=0,021).Kesimpulan. Bayi prematur, terutama dengan berat lahir sangat rendah, cenderung mengalami hipotiroksemia prematur. Pemeriksaan fungsi tiroid secara berkala sangat penting untuk memantau perkembangan bayi dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kematian Neonatus: Studi Retrospektif di Rumah Sakit Wangaya Denpasar Predani, Ni Luh Putu Diaswari; Bikin Suryawan, I Wayan; Suryaningsih, Putu Siska
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.322-7

Abstract

Latar belakang. Kematian pada masa neonatal masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada bayi dan balita di Indonesia pada tahun 2021 dengan angka kematian bayi di Indonesia 12 dari 1000 bayi lahir hidup. Upaya untuk menurunkan angka kematian neonatus di Indonesia terus dilakukan dengan target 9 per 1000 kelahiran pada tahun 2025. Berat badan lahir rendah, asfiksia, prematuritas, kelainan kongenital serta sepsis menjadi faktor risiko tertinggi kejadian kematian neonatus. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatus di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya, Denpasar.Metode. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional cross-sectional dengan data sekunder menggunakan rekam medis. Teknik pengambilan sampel adalah dengan consecutive sampling dengan total sampel 114 neonatus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti adalah berat badan lahir rendah, asfiksia, prematuritas, kelainan kongenital dan infeksi. Data dianalisis dengan SPSS versi 23 mengunakan uji Chi-square. Hubungan antar variabel dikatakan signifikan apabila nilai p<0,05 dengan interval kepercayaan 95%.Hasil. Faktor yang berhubungan dengan kematian neonatus adalah berat badan lahir rendah (p=0,001 dan RP 2,02 dengan IK 95%: 1,18-3,07), asfiksia (p=0,000 dan RP 2,56 dengan IK 95%: 1,7-3,85) dan usia kehamilan kurang bulan (p=0,000 dan RP 2,52 dengan IK 95%: 1,68-3,89). Sedangkan kelainan kongenital dan infeksi tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian kematian neonatus (p=0,1 RP 1,6; 95%; IK 95%: 1,09-2,44 dan p=0,5 RP 1,14; IK 95%: 0,7-1,68)Kesimpulan. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara berat badan lahir rendah, asfiksia dan usia kehamilan kurang bulan dengan kematian neonatus di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya, Denpasar.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue