cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,549 Documents
Efektivitas Target Saturasi Oksigen Konservatif dibandingkan Liberal pada Bayi Sakit Kritis dengan Pneumonia Berat yang Menjalani Ventilasi Mekanik Invasif Irene Yuniar; Alima Mawar Tasnima; Subhika Laksmi; Cristal Audrey; Muhammad Miqbel
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.64-72

Abstract

Latar belakang. Terapi oksigen merupakan salah satu terapi yang paling sering diberikan pada perawatan intensif anak. Namun, target saturasi oksigen perifer (SpO?) yang optimal pada anak dengan ventilasi mekanik invasif masih belum pasti. Hipoksemia berisiko penghantaran oksigen yang inadekuat, sedangkan hiperoksia dapat menimbulkan stres oksidatif, disfungsi endotel, dan vasokonstriksi. Kami melaporkan seorang bayi sakit kritis dengan pneumonia berat yang memerlukan ventilasi mekanik invasif serta menggunakan telaah bukti terstruktur untuk menentukan target SpO?.Tujuan. Mengetahui durasi organ support, durasi penggunaan ventilasi mekanik invasif, dan mortalitas pada penggunaan target SpO? konservatif (SpO? 88–92%) dibandingkan dengan target SpO? liberal (SpO? >94%).Metode. Penulusuran literatur menggunakan Cochrane Library®, PubMed®, EBSCOhost®, Google Schoolar®, dan ClinicalKey®. Kata kunci yang digunakan adalah “children”, “oxygen saturation”, “critically ill OR mechanical ventilation” dan “mortality OR organ support duration OR mechanical ventilation duration”.Hasil. Dua studi memenuhi kriteria eligibilitas dan valid. Penelitian pertama yang dilakukan pada 2040 subyek di Inggris melaporkan penggunaan ventilasi mekanik invasif pada anak sakit kritis dengan target SpO2 konservatif menunjukkan durasi organ support atau kematian dalam 30 hari pertama yang lebih rendah dibandingkan dengan target SpO2 liberal dengan probability index 0,53 (IK95% 0,5–0,55; p=0,04). Penelitian kedua yang dilakukan pada 119 subyek menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan durasi penggunaan ventilasi mekanik invasif (median difference=0,10, IK95% -1,64–1,64, p=1,0), durasi subyek tidak menggunakan ventilator dalam 30 hari (median difference=0,10, IK95% -1,6–1,6, p=1,0), durasi perawatan di PICU (median difference=1,0, IK95% -0,8–2,9, p=0,29), durasi cardiovascular support (median difference=0, IK95% -0,5–0,5, p=1,0), mortalitas di PICU (risk ratio/RR=0,98, IK95% 0,26–3,72, p=0,97) antara kelompok dengan target SpO2 konservatif dan liberal.Kesimpulan. Pada anak sakit kritis, penggunaan ventilasi mekanik invasif dengan target SpO2 konservatif menunjukkan luaran yang lebih baik dalam parameter durasi organ support hingga 30 hari atau kematian serta durasi penggunaan ventilasi mekanik, dibandingkan dengan target oksigenasi liberal (SpO2 >94%).
Hubungan Red Cell Distribution Width dan N-Terminal Pro BNP dengan Hipertensi Pulmonal pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Nur Alfiani; Sri Lilijanti Widjaja; Annang Giri Moelyo
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.19-26

Abstract

Latar belakang. Hipertensi pulmonal merupakan komplikasi serius pada anak dengan penyakit jantung bawaan yang memerlukan deteksi dini untuk mencegah progresivitas dan gagal jantung kanan. Namun, keterbatasan akses terhadap pemeriksaan invasif seperti kateterisasi jantung di berbagai daerah mendorong kebutuhan akan biomarker non-invasif yang mudah dan tersedia luas.Tujuan. Menganalisis hubungan antara Red Cell Distribution Width (RDW) dan N-Terminal Pro B-type Natriuretic Peptide (NT-proBNP) dengan kejadian hipertensi pulmonal pada anak dengan PJB.Metode. Penelitian analitik potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta periode Agustus 2023–Juni 2024, melibatkan 30 anak dengan PJB asianotik (rerata usia 6,4 ± 4,8 tahun; 56,7% perempuan). Defek intrakardiak (DSA/DSV) merupakan jenis PJB terbanyak (66,7%), dan 63,3% subjek memiliki ukuran defek besar. Diagnosis HP ditegakkan melalui kateterisasi jantung (mPAP ?20 mmHg). Analisis statistik menggunakan uji Chi-square/Fisher exact, korelasi Spearman, dan regresi logistik.Hasil. Peningkatan kadar NT-proBNP berhubungan secara bermakna dengan kejadian HP (OR=5,50; IK95% 1,15–26,41; p=0,028) serta menunjukkan korelasi positif sedang dengan tekanan arteri pulmonalis (?=0,444; p=0,014). Analisis regresi logistik menunjukkan kecenderungan hubungan yang mendekati bermakna (p=0,052) dengan akurasi klasifikasi 73,3%. RDW tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan HP (OR=1,75; p=0,456).Kesimpulan. NT-proBNP berhubungan signifikan dengan hipertensi pulmonal dan berpotensi menjadi biomarker non-invasif untuk skrining awal pada anak dengan PJB. Dalam penelitian ini, RDW tidak terbukti berhubungan secara bermakna dengan kejadian HP. Penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini.
Analisis Kadar Vitamin D pada Anak dengan Autism Spectrum Disorder: Studi Potong Lintang Zukmianty Suaib; Martira Maddeppungeng; Idham Jaya Ganda
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.1-7

Abstract

Latar belakang. Defisiensi vitamin D diduga berhubungan dengan peningkatan risiko Gangguan Spektrum Autisme (ASD) pada anak.Tujuan. Membandingkan kadar vitamin D antara anak dengan ASD dan tanpa ASD.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, pada September–November 2021. Subjek adalah anak usia 18 bulan–18 tahun yang terbagi dalam dua kelompok: 37 anak dengan ASD (diagnosis berdasarkan kriteria DSM-V, tingkat keparahan dinilai dengan CARS) dan 37 anak tanpa ASD. Kadar 25-hidroksivitamin D (25(OH)D) serum diukur. Analisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Chi-square.Hasil. Kadar median vitamin D pada kelompok ASD (13,93 ng/mL; rentang 0,33–72,26) secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok non-ASD (49,00 ng/mL; rentang 0,27–132) (p<0,001). Proporsi defisiensi vitamin D lebih tinggi pada kelompok ASD (59,5%) dibandingkan non-ASD (10,8%) (p<0,001; OR=13,5; IK95%=3,771–48,329). Anak dengan ASD berat memiliki proporsi defisiensi lebih tinggi (82,6%) dibandingkan ASD ringan-sedang (21,4%) (p<0,001).Kesimpulan. Terdapat asosiasi antara kadar vitamin D yang lebih rendah dengan kejadian ASD pada anak, serta dengan tingkat keparahan ASD. Penelitian ini mendukung pertimbangan pemberian suplementasi vitamin D, tetapi diperlukan studi longitudinal untuk membuktikan hubungan kausal.
Hubungan Adiksi Gawai dan Aktivitas Fisik dengan Masalah Psikososial pada Remaja Yunita Desy Wulansari; Harsono Salimo; Muhammad Riza
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.50-5

Abstract

Latar belakang. Adiksi gawai dan kurangnya aktivitas fisik pada remaja telah menjadi masalah kesehatan yang semakin mengkhawatirkan, terutama terkait dampaknya terhadap masalah psikososial. Tujuan. Menganalisis hubungan antara adiksi gawai dan aktivitas fisik dengan masalah psikososial pada remaja. Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 122 remaja di SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta. Data menggunakan kuesioner Smartphone Addiction Scale-Short Version (SAS-SV), Physical Activity Questionnaire for Adolescents (PAQ-A), dan Pediatric Symptom Checklist-17 (PSC-17) untuk masalah psikososial. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square. Hasil. Sebanyak 32% remaja mengalami adiksi gawai, dan 70,5% memiliki masalah psikososial. Adiksi gawai secara signifikan berhubungan dengan gangguan psikososial dengan peluang risiko 4,05 kali (OR = 4,05; p = 0,006). Adiksi gawai berhubungan dengan gangguan internalisasi (OR = 3,50; p = 0,006), gangguan eksternalisasi (OR = 4,39; p < 0,001), dan gangguan perhatian (OR = 5,41; p < 0,001). Namun, aktivitas fisik tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan masalah psikososial. Kesimpulan. Adiksi gawai merupakan faktor yang berhubungan signifikan terhadap masalah psikososial pada remaja, baik gangguan internalisasi, gangguan eksternalisasi dan gangguan perhatian. Sedangkan aktivitas fisik tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna. Edukasi dan intervensi untuk mengurangi adiksi gawai perlu ditingkatkan guna mencegah gangguan psikososial pada remaja.
Validitas dan Reliabilitas Patient Health Questionnaire-4 (PHQ-4) Versi Bahasa Indonesia sebagai Kuesioner Deteksi Dini Gejala Cemas dan Depresi pada Anak dan Remaja Tjhin Wiguna; Kusuma Minayati; Osi Kusuma Sari; Yunita Arihandayani; Imran Pambudi; Wafa Sofia Fitri
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.8-18

Abstract

Latar belakang. Gangguan kecemasan dan depresi pada anak dan remaja dilaporkan meningkat terutama dalam beberapa tahun terakhir ini, sementara instrumen deteksi dini yang singkat dan tervalidasi dalam Bahasa Indonesia masih terbatas. PHQ-4 merupakan suatu kuesioner deteksi dini singkat sehingga berpotensi untuk digunakan luas di masyarakat.Tujuan. Mengevaluasi validitas dan reliabilitas PHQ-4 versi Bahasa Indonesia pada anak dan remaja usia 7–18 tahun.Metode. Studi potong lintang ini melibatkan 1846 anak dan remaja di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Serang; yang terdiri dari 440 anak usia 7–10 tahun dan 1406 remaja usia 11–18 tahun. Validitas konten dinilai dengan CVI, reliabilitas dengan Cronbach’s alpha, construct validity dengan Exploratory Factor Analysis (EFA), dan validitas kriteria dengan ROC menggunakan The Mini International Neuropsychiatric Interview for Children and Adolescents (MINI-KID). Semua analisis dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 29.Hasil. Seluruh butir PHQ-4 versi Bahasa Indonesia untuk anak usia 7 – 10 tahun menunjukkan I-CVI ?0,83 setelah dilakukan modifikasi menjadi kalimat tanya, dan I-CVI=1,00 untuk PHQ-4 bagi anak usia 11–18 tahun. Reliabilitas PHQ-4 untuk anak usia 7–10 tahun adalah Cronbach’s ?=0,644, sedangkan untuk anak usia 11–18 tahun Cronbach’s ?=0,693. Analisis EFA untuk PHQ-4 untuk anak usia 7–10 tahun maupun 11–18 tahun menunjukkan KMO 0,712 dan 0,664, dengan loading factor seluruh butir >0,5 dan varians dijelaskan 52,3% dan 51,4%. Analisis ROC menunjukkan AUC untuk anak usia 7–10 tahun 54% dengan nilai ambang abatas adalah 5. Untuk anak usia 11–18 tahun, AUC ditemukan 69.9% nilai ambang batas 6. Kesimpulan. PHQ-4 versi Bahasa Indonesia adalah kuesioner unidimensiaonal yang valid dan reliabel sebagai kuesioner deteksi dini gejala cemas dan depresi pada populasi anak dan remaja, meskipun studi selanjutnya masih diperlukan.
Faktor Risiko Kejadian Masalah Perilaku Emosional pada Anak Prasekolah Usia 36 – 72 Bulan di Kampung Melayu Vella Ananda; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.42-9

Abstract

Latar belakang. Masalah perilaku emosional pada anak dapat berlanjut menjadi gangguan kejiwaan saat dewasa. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya faktor risiko internal (jenis kelamin, riwayat kelahiran prematur, dan status perkembangan) dan faktor eksternal (pola asuh, tingkat pendidikan ibu, serta sosioekonomi).Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko internal dan eksternal dengan kejadian masalah perilaku emosional pada Anak Prasekolah Usia 36 – 72 Bulan di Kampung Melayu.Metode. Desain penelitian ini adalah studi potong lintang dengan 71 sampel anak prasekolah di kelurahan Kampung Melayu. Instrumen yang digunakan meliputi KMPE, PSDQ, dan KPSP. Hasil. Prevalensi masalah perilaku emosional didapatkan 70,4% (n=50) dan 29,6% (n=21) yang termasuk kategori normal menggunakan Kuesioner Masalah Perilaku Emosional (KMPE). Ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara masalah perilaku emosional dengan jenis kelamin (p = 0,623), riwayat prematur (p = 0,163), tingkat pendidikan ibu (p = 0,450), status sosioekonomi (p = 0,469), dan pola asuh orang tua (p = 0,884). Status perkembangan memiliki hubungan terhadap masalah perilaku emosional sebanyak 93,8% anak berkategori kemungkinan menyimpang atau meragukan memiliki masalah perilaku emosional (OR = 8.57; p = 0.020).Kesimpulan. Anak prasekolah dengan gangguan perkembangan memiliki risiko sembilan kali lebih tinggi mengalami masalah perilaku emosional sehingga perlu pemantauan rutin dan skrining berkala masalah perilaku emosional anak prasekolah setiap tiga sampai enam bulan sekali.
Hubungan Level Trombosit dengan Lama Rawat Inap dan Luaran Klinis pada Anak dengan Pneumonia di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2020-2024 Putri Laura Effendi; Eka Airlangga
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.27-32

Abstract

Latar belakang. Pneumonia menjadi penyebab utama kematian pada anak di seluruh dunia. Selama infeksi, trombosit berperan penting dalam respons imun dan peradangan sistemik. Ketidakseimbangan kadar trombosit diduga berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit yang memengaruhi lama rawat inap dan luaran klinis pasien. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan level trombosit dengan lama rawat inap dan luaran klinis pada anak dengan pneumonia di Rumah Sakit Haji MedanMetode. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian terdiri dari 268 anak penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Haji Medan periode 2020-2024, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square.Hasil. Mayoritas subjek adalah usia <5 tahun (67,9%) dan berjenis kelamin laki-laki (59,7%). Sebagian besar pasien memiliki level trombosit normal (77,6%), durasi rawat inap cepat ?5 hari (79,1%), dan luaran klinis Non-ICU (94,4%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara level trombosit dengan lama rawat inap (p=0,000) dan luaran klinis (p=0,000). Pasien dengan trombositopenia dan trombositosis cenderung memiliki durasi perawatan yang lebih lama dan risiko perawatan ICU yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan trombosit normal.Kesimpulan. Level trombosit berfungsi sebagai indikator prognostik yang sensitif pada pneumonia anak. Gangguan pada kadar trombosit, baik penurunan maupun peningkatan, secara signifikan memperpanjang masa perawatan dan memperburuk luaran klinis pasien.
Gangguan Belajar Spesifik dalam Praktik Pediatri: Deteksi Dini, Diagnosis hingga Intervensi Komprehensif Bernie Endyarni Medise
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.73-80

Abstract

Gangguan belajar spesifik (specific learning disability/disorder atau SLD) merupakan salah satu gangguan perkembangan yang menetap dan sering ditemukan pada anak usia sekolah. Anak dengan SLD umumnya tidak memiliki masalah baik sensori maupun fisik yang menjadi penyebabnya, memiliki tingkat kecerdasan atau nilai tes IQ yang normal atau di atas normal, tetapi memiliki prestasi akademik yang tidak sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Bentuk utama gangguan belajar spesifik meliputi disleksia, diskalkulia, dan disgrafia. Kondisi ini dapat memengaruhi prestasi akademik, perkembangan sosial, emosional, serta kualitas hidup anak apabila tidak dikenali dan ditangani secara dini. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, observasi klinis, laporan dari sekolah, serta pemeriksaan menyeluruh untuk menilai tingkat keparahan dan menentukan intervensi yang sesuai. Penatalaksanaan melibatkan pendekatan multidisiplin melalui akomodasi, modifikasi, dan remediasi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas definisi, faktor risiko, manifestasi klinis, diagnosis, serta penatalaksanaan gangguan belajar spesifik pada anak, khususnya disleksia, diskalkulia, dan disgrafia. Pemahaman yang baik mengenai kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan deteksi dini dan intervensi yang tepat sehingga anak dapat mencapai potensi akademik dan sosialnya secara optimal.
Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dan Prematuritas dengan Derajat Ikterus Neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Salsadilla Amira Safitri; Sulaiman Yusuf; Zakiaturrahmi Zakiaturrahmi; Herlina Dimiati; Desi Maghfirah
Sari Pediatri Vol 28, No 1 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.1.2026.33-41

Abstract

Latar belakang. Ikterus neonatorum merupakan kondisi yang sering dialami bayi baru lahir dan berpotensi menimbulkan komplikasi neurologis apabila tidak ditangani secara adekuat. Bayi dengan berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur memiliki fungsi hati yang belum matang sehingga diduga lebih berisiko mengalami hiperbilirubinemia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan klasifikasi berat badan lahir rendah dan prematuritas dengan derajat ikterus neonatorum. Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional menggunakan data rekam medis. Sampel penelitian adalah neonatus dengan berat badan lahir rendah dan prematuritas yang mengalami ikterus neonatorum di RSUDZA Banda Aceh selama periode Januari-Desember 2024. Sampel terdiri dari 44 rekam medis neonatus yang dipilih dengan teknik total sampling menggunakan kriteria iknklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil. Hasil penelitian menunjukkan derajat ikterus terbanyak adalah derajat sedang (61,4%), klasifikasi berat badan lahir rendah terbanyak adalah berat badan lahir rendah 1500-2499 gram (84,1%), dan klasifikasi prematuritas terbanyak adalah prematuritas sedang hingga lanjut (81,8%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa klasifikasi berat badan lahir rendah tidak berhubungan signifikan dengan derajat ikterus neonatorum (p=0,191; r=-0,201). Hasil yang sama juga ditemukan pada klasifikasi prematuritas yang tidak berhubungan signifikan dengan derajat ikterus neonatorum (p=0,813; r=0,037). Kesimpulan. Klasifikasi berat badan lahir rendah dan prematuritas tidak berhubungan signifikan dengan derajat ikterus neonatorum.

Filter by Year

2000 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 28, No 1 (2026) Vol 27, No 6 (2026) Vol 27, No 5 (2026) Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue