cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,559 Documents
Perbandingan Efektivitas Melatonin dan Kloral Hidrat untuk Sedasi pada Anak yang Menjalani Pemeriksaan Elektroensefalografi Achmad Rafli; Silvana Saputri; Selvi Puspa Sari; Ummu Aiman
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.145-54

Abstract

Latar belakang. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) pada anak seringkali memerlukan kondisi tidur untuk meningkatkan kualitas rekaman dan hasil diagnostik. Namun, ketidakkooperatifan pasien anak menjadi kendala utama sehingga diperlukan sedasi. Kloral hidrat merupakan agen yang sering digunakan, tetapi memiliki potensi efek samping dan waktu pemulihan yang lebih lama. Melatonin muncul sebagai alternatif dengan profil keamanan yang lebih baik. Tujuan. Menilai efektivitas dan keamanan melatonin dibandingkan kloral hidrat sebagai agen sedasi pada pemeriksaan EEG pada anak. Metode. Studi kasus berbasis bukti ini menggunakan penelusuran literatur melalui PubMed, Cochrane, dan Scopus dengan kata kunci “melatonin”, “chloral hydrate”, “electroencephalography”, dan “children” pada publikasi 5 tahun terakhir. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi berupa uji klinis acak dan tinjauan sistematis dianalisis secara kritis berdasarkan prinsip evidence-based medicine. Hasil. Empat studi yang relevan (dua uji klinis acak dan dua tinjauan sistematis) menunjukkan bahwa melatonin memiliki efektivitas yang sebanding dengan kloral hidrat dalam keberhasilan induksi tidur dan penyelesaian pemeriksaan EEG (RR 0,97; 95% CI 0,89–1,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada onset dan durasi sedasi. Namun, melatonin menunjukkan profil keamanan yang lebih baik dengan efek samping minimal serta waktu pemulihan yang lebih singkat. Sebaliknya, kloral hidrat memiliki keunggulan dalam mencapai fase tidur yang lebih dalam dan mengurangi artefak EEG, tetapi dengan risiko efek samping yang lebih tinggi.Kesimpulan. Melatonin merupakan alternatif yang efektif dan lebih aman dibandingkan kloral hidrat sebagai agen sedasi pada pemeriksaan EEG anak. Melatonin dapat direkomendasikan sebagai pilihan lini pertama, terutama pada pasien dengan risiko respirasi atau ketika pemulihan cepat menjadi prioritas klinis.
Pemberian Melatonin Terhadap Mean Platelet Volume, Red-Cell Distribution Width, dan Rasio Immatur Total pada Bayi Kurang Bulan dengan Sepsis Neonatorum di Rumah Sakit Dr. Moewardi Dwi Hidayah; Abdul Aziz; Septin Widiretnani
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.120-9

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan (BKB) atau bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Pada BKB rentan terjadi sepsis karena sistem kekebalan tubuh yang belum matur dan komplikasi tindakan invasif. Melatonin sebagai hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal berperan melawan radikal bebas, anti-inflamasi, antioksidan, dan anti-apoptosis, tetapi melatonin ditemukan dalam jumlah sedikit pada BBL terutama pada BKB.Tujuan. Menganalisis dan membuktikan efek pemberian melatonin terhadap perubahan MPV, RDW, dan rasio I/T pada BKB dengan sepsis.Metode. Penelitian pre-post experimental dengan rancangan randomized control trial (RCT) double blind dilakukan pada BKB dengan diagnosis sepsis neonatorum yang dirawat April - Oktober 2023 yang dipilih secara purposive sampling sesuai dengan kriteria restriksi di NICU RSUD Dr. Moewardi. Variabel bebas adalah pemberian melatonin, sedangkan variabel terikat meliputi kadar MPV, kadar RDW, dan rasio IT. Subjek penelitian dibagi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan diberi melatonin 20 mg dosis tunggal dan kelompok kontrol diberi plasebo. Kedua kelompok juga mendapatkan terapi standar. Data diolah dengan menggunakan SPSS 23.0 dinyatakan signifikan pada interval kepercayaan sebesar 95%, dengan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 42 subjek yang memenuhi kriteria (21 kelompok melatonin, 21 kelompok plasebo). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar MPV sebelum dan setelah perlakuan pada kelompok plasebo (p = 0,132) maupun melatonin (p = 0,348), serta tidak ada perbedaan signifikan pada nilai delta MPV antar kelompok (p = 0,483; r = 0,114). Kadar RDW menunjukkan peningkatan signifikan setelah pemberian melatonin (p = 0,022), namun tidak pada kelompok plasebo (p = 0,248). Meskipun demikian, nilai delta RDW antara kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,307; r = 0,158). Kadar rasio I/T tidak mengalami perubahan signifikan baik pada kelompok plasebo (p = 0,092) maupun melatonin (p = 0,383), serta delta rasio I/T tidak berbeda antar kelompok (p = 0,596; r = 0,082).Kesimpulan. Terdapat efek pemberian melatonin terhadap kadar RDW dan tidak terdapat efek pemberian melatonin terhadap rasio I/T serta kadar MPV pada BKB dengan sepsis.
Faktor Bifidogenik dalam Menjaga Integritas Barier Saluran Cerna : Tinjauan Komprehensif Badriul Hegar; Andy Darma
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.155-62

Abstract

Latar belakang. Perkembangan saluran cerna pada awal kehidupan berlangsung sangat dinamis, kolonisasi awal mikrobiota usus didominasi oleh genus Bifidobacterium sebagai penanda ekosistem yang sehat. Namun, keseimbangan ini rentan mengalami disbiosis yang dapat mengganggu kematangan fungsi mukosa dan pertahanan lokal usus.Tujuan. Tinjauan komprehensif ini bertujuan untuk mengulas peran serta mekanisme molekuler faktor bifidogenik dalam mempertahankan integritas barier saluran cerna.Pembahasan. Faktor bifidogenik, baik alami seperti Human Milk Oligosaccharides maupun prebiotik tambahan Galakto-Oligosakarida (GOS), Frukto-Oligo Sakarida (FOS), Inulin atau protein bioaktif laktoferin, bekerja sebagai substrat selektif untuk memicu proliferasi Bifidobacterium. Secara fungsional, stimulasi ini mempertahankan barier usus melalui empat jalur biologis utama: peningkatan sekresi mukus pelindung melalui produksi Short-Chain Fatty Acids (SCFA), penguatan protein kerapatan dinding usus (tight junctions seperti Occludin), pematangan sel enterosit, serta stimulasi antibodi Secretory IgA. Bukti ilmiah mengonfirmasi keberhasilan komponen ini dalam menurunkan derajat keasaman (pH) luminal, menghambat adhesi bakteri patogen, dan mendukung maturasi imun secara aman.Kesimpulan. Pemanfaatan faktor bifidogenik merupakan strategi nutrisi yang kuat dan fisiologis untuk mendukung perkembangan serta kekuatan barier pencernaan anak. Paradigma ini membuka peluang besar bagi implementasi nutrisi personalisasi berbasis teknologi omics di masa depan.
Hubungan antara HbA1c dan Urine Creatinine Ratio pada Pasien dengan Diabetes Melitus Tipe 1 Harjoedi Adji Tjahjono; Angela Permera Tubuq; Satrio Wibowo
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.98-104

Abstract

Latar belakang. Diabetes melitus (DM) telah menjadi beban kesehatan global. Komplikasi mikrovaskular ginjal umumnya terjadi dalam 5-10 tahun perjalanan penyakit. Biopsi ginjal sebagai standar emas diagnosis bersifat invasif, sehingga pemeriksaan urin menjadi alternatif non-invasif yang mudah dan cepat untuk deteksi dini gangguan ginjal. Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan urine albumin Creatinine ratio pasien Diabetes Mellitus Tipe 1 di Poli Endokrin anak Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Metode. Menggunakan rancangan cross-sectional. Sampel diambil dengan purposive sampling. Kriteria inklusi Diabetes Melitus Tipe 1, responden diambil saat pasien kontrol. Uji normalitas data menunjukkan distribusi tidak normal, sehingga analisis korelasi antar variabel dilakukan dengan uji Spearman. Hasil. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara HbA1c dan UACR (r=0,378; p=0,001) dengan kekuatan korelasi lemah (R²=0,143). Hubungan signifikan juga ditemukan pada subkelompok perempuan (p=0,025), usia 6-12 tahun (p=0,017), dan durasi sakit <5 tahun (p=0,009).Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,378 dengan nilai signifikansi p = 0,001. Kesimpulan. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara HbA1c dengan UACR pada pasien DMT1.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Lama Rawat pada Pasien Anak Infeksi Susunan Saraf Pusat dengan Desain Case-Control di Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Tahun 2019-2024 Indah Purnama Sari; Roro Rukmi Windi Perdani; Diana Mayasari; Intanri Kurniati
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.105-12

Abstract

Latar belakang. Infeksi SSP pada anak dapat menyebabkan berbagai perburukan masalah kesehatan baik jangka pendek seperti sepsis dan abses otak serta masalah kesehatan jangka panjang seperti gangguan neurologis. Permasalahan tersebut dapat memengaruhi masa pengobatan atau durasi rawat inap pasien anak dengan infeksi SSP di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H.Abdul Moeloek.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat inap pasien anak yang terdiagnosis infeksi SSP di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahun 2019-2024.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan desain case-control dan menggunakan data sekunder yaitu rekam medis. Sampel pada penelitian ini sebanyak 74 anak dengan perbandingan kasus dengan kontrol yaitu 1:2, power 80%, dan 1-alpha 95% dan didapatkan 25 anak kasus dan 49 anak kontrol. Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk analisis multivariat.Hasil. Ditemukan bahwa pasien anak infeksi SSP yang dirawat sebagian besar berusia >5 tahun sebanyak 54,1%, anak terdiagnosis ensefalitis sebanyak 44,6%, anak berstatus gizi normal sebanyak 52,7%, setengah dari sampel mengalami penurunan kesadaran sedang (50%), dan anak yang dirawat ?12 hari. Hasil analisis bivariat didapatkan bahwa terdapat hubungan antara lokasi infeksi (p<0,001; OR= 18), status gizi (p= 0,021; OR= 3,660), dan tingkat kesadaran (p<0,001; OR= 38,63) dengan lama rawat, sedangkan usia tidak berhubungan dengan lama rawat (p= 0,995). Hasil analisis multivariat didapatkan bahwa tingkat kesadaran merupakan faktor dominan dengan peluang 3,69 kali lebih besar untuk memengaruhi lama rawat.Kesimpulan. Lama rawat inap pasien anak dengan infeksi SSP dipengaruhi oleh lokasi infeksi, status gizi, dan tingkat kesadaran. Tingkat kesadaran merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi lama rawat.
Hubungan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, dan Pekerjaan dengan Tingkat Pengetahuan Wali Murid terhadap Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik pada Anak Vallerie Ksanti Gautama; Oke Rina Ramayani; Alfansuri Kadri; Evita Mayasari
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.113-9

Abstract

Latar belakang. Penyakit ginjal kronik (PGK) pada anak sering tidak terdeteksi dini karena gejala muncul setelah fungsi ginjal menurun berat. Kurangnya pengetahuan wali murid berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis.Tujuan. Menganalisis hubungan umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan dengan tingkat pengetahuan wali murid terhadap faktor risiko PGK pada anak.Metode. Penelitian deskriptif analitik dengan desain cross-sectional pada 108 wali murid di UPT SD Negeri 060885 Medan yang dipilih secara total sampling. Kuesioner terstruktur dengan 14 pernyataan (Cronbach’s Alpha=0,736) digunakan untuk mengukur pengetahuan, dikategorikan menjadi baik (76–100%), cukup (50–75%), dan kurang (<50%). Analisis bivariat menggunakan uji Fisher’s exact test.Hasil. Mayoritas responden berusia <45 tahun (64,8%), wanita (55,6%), berpendidikan SMA (47,2%), dan tidak bekerja (60,1%). Tingkat pengetahuan baik (28,7%) dan cukup (71,3%), tidak ada responden berpengetahuan kurang. Pendidikan berhubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan (p=0,030), sedangkan umur (p=0,078), jenis kelamin (p=0,832), dan pekerjaan (p=1,000) tidak.Kesimpulan. Pendidikan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan wali murid terhadap faktor risiko PGK pada anak. Program edukasi di sekolah perlu mempertimbangkan tingkat pendidikan wali murid untuk mendukung pencegahan dan deteksi dini.
Defisiensi Vitamin D sebagai Faktor Risiko Sepsis Neonatorum Awitan Dini pada Neonatus Cukup Bulan di Manado: Studi Kasus-Kontrol Claresta Claresta; Jeanette Manoppo; Johnny Lambert Rompis
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.81-7

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus di negara berkembang. Defisiensi vitamin D diduga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berat, namun penelitian terkait di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Menilai hubungan kadar vitamin D serum dengan kejadian dan luaran SNAD pada neonatus cukup bulan.Metode. Studi kasus-kontrol di NICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (Agustus 2024–Januari 2025) melibatkan 41 neonatus cukup bulan usia 0–3 hari (21 SNAD, 20 kontrol). Kadar vitamin D diukur dengan ELISA. Analisis menggunakan uji t, chi-kuadrat, dan regresi logistik multivariat (konvensional dan Bayesian MCMC).Hasil. Rerata kadar vitamin D lebih rendah pada kelompok SNAD dibandingkan kontrol (16,0±6,0 vs 27,3±6,5 ng/mL; p<0,001). Defisiensi vitamin D (<20 ng/mL) ditemukan pada 81% kasus. Regresi logistik menunjukkan setiap kenaikan 1 ng/mL vitamin D menurunkan odds SNAD sebesar 26% (aOR 0,74; IK95% 0,56–0,98; p=0,034), dikonfirmasi MCMC (aOR 0,85; IK95% 0,83–0,86; p=0,016). Defisiensi vitamin D meningkatkan risiko SNAD secara bermakna. Tidak ditemukan hubungan dengan mortalitas (p=0,074).Kesimpulan. Kadar vitamin D rendah berhubungan dengan peningkatan kejadian SNAD, namun tidak dengan mortalitas. Penelitian prospektif dengan sampel lebih besar dan pengendalian faktor perancu diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan ini.
Masalah Psikososial dan Praktik Transfusi Darah pada Remaja dengan Talasemia Mayor di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Masa Pandemi COVID-19 Ayu Sasmita Rany; Rini Sekartini; Hanifah Oswari; Fitri Primacakti; Hardiono D Pusponegoro; Haryanti Fauzia Wulandari
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.130-7

Abstract

Latar belakang. Pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan masalah psikososial dan mengganggu praktik transfusi pada remaja dengan talasemia mayor. Gambaran keduanya di Indonesia selama pandemi belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran masalah psikososial dan dampak pandemi COVID-19 terhadap praktik transfusi pada remaja talasemia mayor di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.Metode. Studi potong lintang pada 121 pasien talasemia mayor usia 10–<18 tahun. Penilaian psikososial menggunakan SDQ dan CDI. Analisis komparatif berpasangan dilakukan untuk menilai perbedaan frekuensi transfusi dan rerata Hb pretransfusi sebelum dan selama pandemi.Hasil. Sebanyak 11,6% subjek memiliki total skor SDQ abnormal, dengan masalah emosi (18,2%) dan conduct (9,9%) sebagai temuan terbanyak. Suspek depresi ditemukan pada 19% subjek. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada frekuensi transfusi sebelum dan selama pandemi, tetapi terdapat perbedaan bermakna pada pola interval transfusi (p=0,017), rerata Hb pretransfusi (p=0,043), dan volume darah yang didapatkan lebih rendah daripada kebutuhan (p<0,001).Kesimpulan. Masalah emosi dan conduct merupakan masalah psikososial paling umum pada remaja talasemia mayor selama pandemi. Pandemi berdampak pada pola interval transfusi, rerata Hb pretransfusi, dan volume darah yang didapatkan pasien.
Manifestasi Klinis dan Keputusan Tata Laksana Awal pada Wheezing Anak Prasekolah di Layanan Primer Fadhilah Apriliandri; Suciati Jandraningrum; Danny Yovita Maharani; Amelina Ratih Listyaningrum
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.88-97

Abstract

Latar belakang. Wheezing merupakan keluhan respiratori tersering pada anak prasekolah di layanan primer, namun bukti mengenai hubungan manifestasi klinis dengan keputusan tata laksana awal di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Menganalisis hubungan manifestasi klinis (frekuensi napas, retraksi dinding dada, derajat wheezing, dan saturasi oksigen) dengan pemberian terapi awal dan keputusan rujukan pada anak prasekolah dengan wheezing di layanan primer Magetan dan Maospati.Metode. Studi potong lintang prospektif multicenter pada 130 anak usia 12–59 bulan dengan wheezing di empat Puskesmas. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton exact test, multivariat dengan regresi logistik Firth.Hasil. Retraksi dinding dada ringan (adjusted OR 8,73; IK95% 1,23–62,19; p=0,031) dan derajat wheezing pada auskultasi (adjusted OR 61,07–73,68; p=0,017; p=0,020) berhubungan dengan peningkatan pemberian terapi awal, sementara takipnea justru menurunkan pemberian terapi (adjusted OR 0,07; IK95% 0,01–0,92; p=0,043). Untuk keputusan rujukan, takipnea (adjusted OR 45,45; IK95% 7,83–263,79; p<0,001) dan hipoksia berat (adjusted OR 16,98; IK95% 1,80–160,56; p=0,013) merupakan prediktor terkuat, sedangkan wheezing dengan stetoskop justru menurunkan kemungkinan rujukan (adjusted OR 0,01–0,06; p=0,004; p=0,032).Kesimpulan. Determinan klinis pemberian terapi awal berbeda dengan determinan keputusan rujukan pada anak prasekolah dengan wheezing di layanan primer.

Filter by Year

2000 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 28, No 2 (2026) Vol 28, No 1 (2026) Vol 27, No 6 (2026) Vol 27, No 5 (2026) Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue