cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
ISSN : 25284576     EISSN : 26157411     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran. Diterbitkan Atas Kerjasama Program Studi Agribisnis dan Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad Dengan PERHEPI Komisariat Bandung Raya.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
DAMPAK IMPOR GULA TERHADAP PRODUKSI TEBU DAN HARGA GULA DOMESTIK DI INDONESIA Safrida Safrida; Sofyan Sofyan; Adawiya Taufani
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.24850

Abstract

Gula merupakan salah satu produksi dari subsektor perkebunan yang berasal dari tanaman tebu. Selama tahun 2005-2016, produksi tebu Indonesia cenderung menurun, sementara konsumsi gula semakin meningkat. Untuk memenuhi konsumsi tersebut, Indonesia melakukan impor gula dengan harga yang lebih rendah dari harga gula dalam negeri. Namun dampaknya adalah terjadinya penurunan produksi tebu di Indonesia.   Kondisi ini tidak sesuai dengan tujuan dari kegiatan impor. Secara teori,  impor hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak mempengaruhi produksi. Ketika impor meningkat, produksi gula dalam negeri seharusnya juga meningkat untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak impor gula terhadap produksi tebu dan harga gula domestik di Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk data time series tahun 1997-2016. Penelitian ini menggunakan model regresi persamaan simultan dengan 7 persamaan yang terdiri dari 6 persamaan struktural dan 1 persamaan identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) trend dan proyeksi impor gula, produksi tebu dan harga gula pada lima tahun yang akan datang terus meningkat, (2) impor gula berdampak pada turunnya produksi tebu di Indonesia, (3) impor gula juga berdampak pada peningkatan harga gula domestik.Kata Kunci: gula, tebu, produksi, impor, hargaABSTRACTSugar is one of the production from the plantation sub-sector derived from sugar cane. During 2005-2016, Indonesian sugarcane production tended to decrease, while sugar consumption increased. To fulfill this consumption, Indonesia imports sugar at prices lower than domestic sugar prices. However, the impact of sugar imports  is the decline in sugarcane production in Indonesia. This condition is not accordance with the objectives of the import activity. In theory, imports are only to meet domestic needs and do not affect production. When imports increase, domestic sugar production should also increase to reduce dependence on imports. This study aims to determine the impact of sugar imports on sugarcane production and domestic sugar prices in Indonesia. The data used in this study are secondary data in the form of time series data for 1997-2016. This study uses a simultaneous equation regression model with 7 equations consisting of 6 structural equations and 1 identity equation. The results showed that: (1) the trend and projection of sugar imports, sugarcane production and sugar prices in the coming five years continues to increase, (2) sugar imports have an impact on the decline in sugarcane production in Indonesia, (3) sugar imports also have an impact on increasing domestic sugar prices. Keywords: sugar, sugarcane, production, import, price
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN INDUSTRI HILIR DOMESTIK TERHADAP BIJI KAKAO Faris Maulana Satria; Adi Nugraha; Eka Purna Yudha; Ernah Ernah
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.30800

Abstract

ABSTRAKKakao merupakan salah satu komoditas yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Indonesia. Kakao memiliki potensi hilirisasasi yang sangat baik, dimana produk hilir kakao sangat beragam dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pemerintah menetapkan bubuk kakao dan lemak kakao sebagai produk hilir utama yang dihasilkan Indonesia. Perkembangan dapat dilihat pada perubahan jenis produk kakao yang diekspor. Ekspor biji kakao terus mengalami penurunan, sementara ekspor bubuk kakao dan lemak kakao terus mengalami peningkatan. Perkembangan pada industri juga dapat dilihat pada peningkatan impor biji kakao oleh Indonesia yang mengindikasikan peningkatan pada konsumsi biji kakao oleh industri hilir domestik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis trend perubahan produksi biji kakao, konsumsi biji kakao oleh industri, dan produksi produk hilir dengan menggunakan analisis trend dan grafik, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan industri hilir domestik terhadap biji kakao menggunakan analisis regresi linier berganda metode Ordinary Least Square (OLS) dengan bantuan software SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan volume ekspor biji kakao mengalami penurunan, sementara produksi produk hilir dan konsumsi biji kakao oleh industri meningkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan industri hilir terhadap biji kakao secara signifikan adalah harga biji kakao, harga lemak kakao, harga bubuk kakao, dan produksi bubuk kakao.Kata Kunci: Bubuk Kakao, Lemak Kakao, Trend Perubahan, Permintaan Industri, Ordinary Least SquareABSTRACTCocoa has one of the highest contribution towards Indonesian economy among other agricultural commodities. Cocoa has huge potential in the downstream sector, reflected by the many variations of cocoa-based products with high economic value. Government of Indonesia declared cocoa powder and cocoa butter as the main product of downstream cocoa industry. Development of the cocoa industry downstream sector is indicated in the shift of cocoa based-products exported to various countries around the world, from raw cocoa seeds to cocoa powder and cocoa butter. Increase in Indonesian import of cocoa beans shows that there is an increase in the industry’s consumption of raw cocoa beans. The purpose of this research is to analyze the trend and dynamics of Indonesia’s cocoa bean production, cocoa bean export, downstream sector’s production, and downstream sector’s cocoa bean consumption, and to identify factors that affect downstream cocoa industry’s demand of cocoa beans using Ordinary Least Squares regression analysis. The result of this research shows that Indonesia’s cocoa bean export and production is trending downward, while downstream production and consumption shows a positive developing trend. Factors that affect the cocoa downstream industry’s demand are prices of cocoa bean, cocoa butter, cocoa powder, and the amount of cocoa powder produced by the industry.Keywords: Cocoa Powder, Cocoa Butter, Trend, Dowsntream Industry’s Demand, Ordinary Least Square
MODAL SOSIAL DALAM KEBERLANJUTAN PERTANIAN DI TENGAH ALIH FUNGSI LAHAN DI KELURAHAN BINTORO KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER Trio Pendi Setiawan; Elok Ebrilyani; Erina Nur Azilla
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.27464

Abstract

Sektor pertanian merupakan sektor terpenting dalam menghasilkan perekonomian, namun bahwasanya sektor pertanian setiap tahunnya telah mengalami alih fungsi lahan menjadi non pertanian. Kelurahan Bintoro Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang telah mengalami perubahan di dalam penggunaan lahan. Lahan yang menjadi kunci di dalam kegiatan pertanian telah mengalami penyempitan akibat pengalihfungsian lahan. Pengalihfungsian lahan ini menjadikan banyak para petani yang mengami keresahan berupa munculnya beberapa kesulitan di dalam menjalani kehidupannya. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian bahwa Modal sosial dalam keberlanjutan pertanian di tengah alih fungsi lahan di Kelurahan Bintoro terdiri dari beberapa kategori, yaitu kepercayaan (trust), norma (norm), dan jaringan (network). Kepercayaan sangat dibutuhkan untuk memberikan dorongan untuk saling memperkuat. Norma memberikan aturan di dalam kehidupan masyarakat. Jaringan menandakan kekuatan di dalam membangun sutau relasi. Bentuk konkrit dukungan modal sosial seperti terjalinnya hubungan harmonis di dalam kehidupan pertanian, tercipta rasa saling tolong menolong, berjalannya kegiatan pertanian, kemudahan di dalam memperoleh input atau fasilitas pertanian, dan beberapa bentuk lainnya. Berdasar kondisi tersebut kegiatan pertanian masih terus dapat berjalan karena dasar kehidupan masyarakat petani yang masih kokoh di dalam mempertahankan usaha pertanian mereka.Kata Kunci: alih fungsi lahan, modal sosial, pertanianAbstractLand use change is a problem of the agricultural sector, one of which occurred in Bintoro Village, Patrang District, Jember Regency. Land conversion has led to the concern of the farming community in Bintoro. Social capital is something that can support the sustainability of agriculture in the midst of land conversion. The purpose of this research is to study how social capital can support the sustainability of agriculture in the midst of land conversion in the Bintoro Village.This research method uses descriptive qualitative method with a case study approach with the technique of determining informants using purposive sampling. The results of the study that social capital in the sustainability of agriculture in the middle of land use change in Kelurahan Bintoro consists of several categories, namely trusts, norms, and networks. Trust is needed to provide encouragement to strengthen each other. Norms provide rules in people's lives. Networks signify strength in building relationships. Concrete forms of social capital support such as establishing harmonious relationships in agricultural life, creating mutual assistance to help, the running of agricultural activities, ease in obtaining agricultural inputs or facilities, and several other forms. Based on these conditions agricultural activities can continue to run because the basic community life of farmers who are still strong in maintaining their agricultural business.Keywords: Agricilture, Conversion of land, Social Capital.
DINAMIKA AGROINDUSTRI GULA INDONESIA: TINJAUAN ANALISIS SISTEM Mahra Arari Heryanto; Eddy Renaldi Suryatmana
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.32100

Abstract

AbstrakAgroindustri gula memiliki peran yang penting dan strategis bagi ekonomi masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda sampai dengan saat ini. Produksi gula mengalami stagnasi sejak tahun 1994, ditandai dengan produksi yang menurun sementara permintaan terus bergerak naik. Sementara itu, impor gula terus dilakukan dan cenderung meningkat seiring dengan permintaan yang terus bertambah. Artikel ini menganalisis kompleksitas persoalan yang mengakibatkan berbagai dinamika dalam agroindustri gula terutama stagnasi produksi gula nasional. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan analisis sistem berdasarkan data sekunder dan literatur mengenai berbagai indikator yang terkait dengan agroindustri gula. Hasil pembahasan menunjukan bahwa dinamika agroindustri gula Indonesia yang cenderung mengalami kemunduran diakibatkan oleh inefisensi usahatani tebu, inefisiensi usaha pabrik gula/PG, dan distorsi oleh pasar gula internasional. Inefisiensi usahatani tebu berdampak langsung kepada inefisiensi PG dalam rantai agroindustri gula. Sementara itu, persoalan kompetisi penggunaan lahan antara tanaman padi dan tebu secara tidak langsung berimplikasi kepada inefisiensi PG. Inefisiensi agroindustri gula kemudian menjadi lebih kompleks dengan adanya distorsi harga gula di pasar internasional yang menjatuhkan harga gula dunia. Guna mengatasi dinamika persoalan di atasm pengembangan industri tebu sebaiknya dilakukan oleh pihak swasta dengan mengoptimalkan lahan pertanian di luar Jawa.Kata Kunci: tebu, analisis sistem, impor gula, usahatani, hargaAbstractSugar agroindustry has an important and strategic role for Indonesia since from the Dutch colonial era until present. Sugar production has been stagnating since 1994, indicated by decreasing production while demand continues to rise. Meanwhile, sugar import continues and tended increasing in line with growing demand. This article analyses the problems complexity of that have resulted various dynamics in sugar agroindustry, especially the stagnation of national sugar production. The method used is a systems analysis approach which based on secondary data and literature review on various indicators related to sugar agroindustry. The result show that the dynamics of Indonesia's sugar agroindustry which tends to decline caused by inefficiency in sugarcane farming, inefficiency of sugar factories/PG, and distortion by the international sugar market. Inefficiency in sugarcane farming has a direct impact on the inefficiency of PG in the sugar agroindustry chain. Meanwhile, the issue of land use competition between rice and sugar cane, indirectly has implications for PG inefficiency. Sugar agroindustry inefficiency then became more complex with the distortion of sugar prices on the international market which dropped international sugar prices. In order to overcome the problems, the development of sugarcane industry should be carried out by private sector by optimizing agricultural land outside Java.Keywords: sugarcane, system analysis, imported sugar, farming, price
RESPON PETANI DALAM PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK SAYUR SEBAGAI PUPUK KOMPOS PADA KOMODITAS SAYURAN DI DESA CIKIDANG KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Riyyan Insani; Dwiwanti Sulistyowati; Wida Pradiana
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.28656

Abstract

AbstrakJawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil sayuran dan buah-buahan semusim. Salah satu daerah penghasil komoditas sayuran terbesar di Jawa Barat adalah Kabupaten Bandung Barat, khususnya di Desa Cikidang Kecamatan Lembang. Produksi sayuran yang tinggi akan menghasilkan limbah yang tinggi. Biasanya limbah tersebut dibiarkan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya respon petani untuk memanfaatkan limbah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan, menganalisis indikator yang berhubungan, dan menganalisis indikator apa yang harus ditingkatkan untuk memacu respon petani dalam pemanfaatan limbah organik sayur sebagai pupuk kompos. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Juli 2020 di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sampel penelitian ini berjumlah 30 orang menggunakan quota sampling. Variabel penelitian terdiri dari karakteristik individu, faktor eksternal dan respon petani. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, korelasi rank spearman, dan Kendall’s W. Hasil penelitian menunjukan bahwa respon petani termasuk kedalam kategori sedang. Indikator yang berhubungan nyata adalah adalah tingkat pendidikan formal, lama berusahatani, dan kegiatan penyuluhan. Indikator yang harus ditingkatkan adalah keterampilan petani. Pada penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mengkaji variabel dan indikator baru agar lebih baik dari penelitian ini.AbstractWest Java is one of the producing areas of annual vegetables and fruits. One of the biggest vegetable commodity producing regions in West Java is West Bandung Regency, especially in Cikidang Village, Lembang District. High vegetable production will produce high waste. Usually the waste is left. This is caused by the low response of farmers to utilize the waste. This study aims to describe, analyze related indicators, and analyze what indicators should be improved to stimulate the response of farmers in the utilization of vegetable organic waste as compost. This research was conducted from March to July 2020 in Cikidang Village, Lembang District, West Bandung Regency. The research sample consisted of 30 people using quota sampling. The research variables consisted of individual characteristics, external factors and farmers' responses. Data analysis techniques used were descriptive analysis, Spearman rank correlation, and Kendall's W. The results showed that the response of farmers included in the medium category. Significantly related indicators are the level of formal education, length of work, and extension activities. Indicators that need to be improved are farmers' skills. In the next research, it is expected to be able to study new variables and indicators to be better than this research.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANOMALI PASAR CABAI RAWIT DI KOTA CIREBON Wachdijono Chasanah Dasuki; Akhmad Jaeroni
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.23681

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anomali pasar cabai rawit di Kota Cirebon.   Metode penelitian yang digunakan  adalah kuantitatif dengan menggunakan teknik pendekatan survei.  Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja yaitu di Pasar Rakyat  Jagasatru, Pasar Kalitanjung dan Pasar Kanoman  Kota Cirebon. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Agustus  2019. Adapun populasinya yaitu pedagang cabai rawit, tomat, terasi, garam dan  bawang merah, serta petani cabai rawit di sentra produksi.  Penentuan besar sampel dilakukan secara sengaja sehingga penarikan sampel berdasarkan quota sampling, yaitu  masing-masing sebesar 30 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan instrumen analisis regresi linier berganda dan pengujian hipotesisnya menggunaan  program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan faktor jumlah produk, harga bawang merah, harga tomat, harga terasi, harga garam, musim dan harga input berpengaruh terhadap anomali pasar cabai rawit di pasar kota Cirebon, sedangkan secara parsial faktor jumlah produk dan harga input yang berpengaruh.  Untuk itu disarankan adanya kebijakan percabaian yang dirumuskan oleh pemerintah Kota Cirebon berdasarkan faktor yang berpengaruh secara parsial tersebut. Kata kunci: anomali, cabai rawit, kebijakan.AbstractThis study aims to determine the factors that influence the anomaly of chili market in Cirebon City. The research method used is quantitative using survey approach techniques. The research location was determined intentionally, namely the Jagasatru People's Market, Kalitanjung Market and Kanoman Market. The study was conducted in January to August 2019. The population was traders of chili, tomatoes, shrimp paste, salt and shallots, as well as farmers of chili in the production center. Determination of the size of the sample is done deliberately so that the withdrawal of the sample is based on a quota sampling, which is 30 people each. Data analysis was performed using multiple linear regression analysis instruments, data processing using the SPSS program application and hypothesis testing using the F test and T test. The results showed that the simultaneous factor of the number of products, the price of shallot, the price of tomatoes, the price of shrimp paste, the price of salt, season and input prices affect the anomaly of the chili market in the Cirebon City market, while partially the number of products and input price factors influence. For this reason, it is suggested that a policy of divorce be formulated by the Cirebon city government based on the factors that partially influence it.Keywords: anomaly, chili, policy, price 
ANALISIS USAHA HIDROPONIK DI KOTA MAKASSAR (STUDI KASUS DELTA FARM) Citra Ayni Kamaruddin; Muhammad Imam Ma'ruf; Marhawati .; Amar Basra; Dewi Rahmawati
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.30920

Abstract

AbstrakAlih fungsi lahan menyebabkan semakin berkurangnya luas areal tanam sehingga dibutuhkan solusi mengenai hal ini. Salah satu solusi permasalahan tersebut adalah sistem budidaya dengan hidroponik, namun diperlukan analisis terkait keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan sistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha hidroponik Delta Farm dengan pendekatan titik impas atau Break Even Point (BEP). Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha pertanian yang menggunakan sistem hidroponik dalam membudidayakan tanaman, yakni Delta Farm. Pemilihan lokasi ini didasarkan secara purposive sampling dilihat lama usaha yang dijalankan karena Delta Farm merupakan perintis usahatani sayuran secara hidroponik di Kota Makassar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 di Makassar, Sulawesi Selatan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah penelusuran pustaka, observasi dan wawancara. Data yang digunakan merupakan data primer hasil wawancara dengan Ibu Fenny, S.T., S.Pd. selaku pemilik Delta Farm. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa usaha Delta Farm dalam budidaya sayuran hidroponik Nutrient Film Technique (NFT) skala kecil menguntungkan. Hal ini dapat terlihat dari jumlah produksi yang melebihi BEP produksi sebanyak 7,75 kg, tingkat harga yang melebihi BEP harga sebesar Rp 6.039,02/kg, dan penerimaan yang melebihi BEP penerimaan senilai Rp 542.680,09.Kata kunci: hidroponik, titik impasAbstractThe conversion of land functions causes a reduction in the planted area, so a solution is needed. One solution to this problem is a hydroponic cultivation system, but an analysis is needed regarding the benefits obtained by using this system. This study aims to determine Delta Farm's hydroponic business's feasibility using the break-even point (BEP) approach. This study's population was agricultural entrepreneurs who use hydroponic systems in cultivating plants, namely Delta Farm. The location selection is based on purposive sampling based on the length of time the business has been running because Delta Farm is a hydroponic vegetable farming pioneer in Makassar City. This research was conducted in October 2020 in Makassar, South Sulawesi. This study used a literature search, observation, and interviews for data collection. Primary data from interviews with Ms. Fenny, S.T., S.Pd. as the Delta Farm owner are used in this study. This study's findings indicate that Delta Farm's efforts in small-scale Nutrient Film Technique (NFT) hydroponic vegetable cultivation are profitable. It can be seen from the production amount that exceeds the production BEP of 7.75 kg, the price level that exceeds the BEP price of IDR 6,039.02 / kg, and the revenue that exceeds the BEP of IDR 542,680.09.Keywords: hydroponic, break-even point  
PEMBUATAN TEPUNG UBI UNGU DALAM UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA UKM GRIYA KETELAQU DI KELURAHAN PLALANGAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Ali Umar Dhani
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.27701

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan upaya diversifikasi pangan ubi ungu mulai dari proses produksi tepung ubi ungu dari proses persiapan bahan baku, proses pembutan tepung ubi ungu, penanganan produk akhir meliputi pengemasan, penyimpanan, analisis usaha dan pemasaran, kondisi sarana dan prasarana yang digunakan. Kegiatan dilaksanakan di Industri Rumah Tangga UKM Griya Ketelaqu di Kelurahan Plalangan Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Metode yang penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif  dengan melakukan observasi secara langsung, interview (wawancara)  dan studi pustaka yang berkaitan dengan tepung ubi ungu.  Hasil penelitian menyimpulkan bahwa UKM Griya Ketelaqu memiliki kemampuan mengolah ubi ungu menjadi produk tepung ubi ungu.  Selain olahan tepung ubi ungu UKM Griya Ketelaqu juga mengolah berbagai macam jenis tepung-tepungan seperti tepung umbi-umbian, tepung sayur-sayuran, tepung buah-buahan serta mengolah olahan dari ubi lainnya seperti timus, nugget, peyek tumpi dan singkong keju. Dalam setiap produksi UKM Griya Ketelaqu membutuhkan rata-rata 50 kg ubi ungu dan menghasilkan tepung ubi ungu 20 kg. Dengan demikian nilai rendemen tepung ubi ungu sebesar 40%. Keuntungan per bulan dari usaha produksi tepung ubi ungu oleh UKM Griya Ketelaqu  adalah   Rp. 905.000,- perbulan.. Tepung Ubi Ungu dapat menjadi alternatif diversifikasi pangan karena memiliki kemampuan menghasilkan beberapa produk pangan yang disukai oleh masyarakatKata Kunci: ubi ungu, diversifikasi, tepung, usaha kecil menengahAbstractThis paper aims to highlight the effort of purple sweet potatoes flour diversification beginning from the process of producing sweet potatoes flour from the preparation of raw  material, the process of making sweet potatoes  flour, the handling of the final product including packaging, storage, business analysis and marketing, the condition of the facilities and infrastructure used. The activity was carried out at the UKM (Small Medium Enterprise) Griya Ketelaqu Home Industry in Plalangan Village, Gunungpati District, Semarang. The method used is descriptive exploratory research by direct observation, interviews with the owner and literature studies relating to purple sweet potato flour. The results of the study concluded that UKM Griya Ketelaqu  had the ability to process purple sweet potatoes into purple sweet potato flour products. In addition to processed purple sweet potatoes flour UKM Griya Ketelaqu also processes various types of flour such as tuber flour, vegetable flour, fruit flour as well as processing processed from other sweet potatoes such as timus, nuggets, tofu and cassava cheese. Thus the yield of purple sweet potato flour by 40%. The profit per month from the purple sweet potato flour production business by Griya Ketelaqu UKM is Rp.605,000 per month.  Purple sweet poatoes flour can be an alternative food diversification because it has the ability to produce some food products that are preferred by the community.Keywords: purple sweet potatoes, diversified, flour, small and medium enterprise
KAJIAN RANTAI PASOK DAN NILAI TAMBAH KOMODITI CABAI RAWIT DI KABUPATEN KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Gregorius Gehi Batafor; Yason Edison Benu
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.31255

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisa rantai nilai dan mengkaji nilai tambah komoditi cabai rawit. Metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif, sedangkan teknik analisis data menggunakan metode hayami dan analisis biaya pokok. Hasil analisis rantai nilai menunjukkan bahwa tingkat keuntungan pada pedagang pengumpul sebesar Rp. 5.306 per kg, dan pada pedagang pengecer mencapai Rp. 10.806 per kg, sedangkan keuntungan petani Rp. 1.806 per kg. RC rasio yang dihasilkan yaitu 1,14 pada tingkat petani, 1,31 pada tingkat pedagang pengumpul dan 1,45 pada tingkat pedagang pengecer. Hasil analisis biaya pokok, penyimpanan dingin selama 3 bulan membutuhkan biaya sebesar Rp. 708,146 per kg. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penyimpanan konvensional sebesar Rp. 1.372  per kg. Berdasarkan wawancara mengenai prediksi harga 3 bulan ke depan dan nilai susut terdapat perbedaan signifikan antara penyimpanan konvensional dengan penyimpanan dingin. Keuntungan penyimpanan dingin lebih besar dari pada penyimpanan konvensional, yaitu Rp. 13.417 per kg selama penyimpanan 3 bulan sedangkan penyimpanan konvensional Rp. 3000 per kg. Peningkatan tersebut diperoleh dengan asumsi harga sebelum disimpan Rp. 22.250 per kg, dan  harga jual setelah disimpan Rp. 35.000 per kg.Kata Kunci: Rantai Nilai, Teknologi Penyimpanan Dingin AbstractThis study aims to analyze the value chain and assess the added value Soe tangerine products. The results of the value chain analysis show that the level of profit for the trader is IDR 5,306 per kg, and retailers reach IDR 10,806 per kg, while the farmers' profit is IDR 1,806 per kg. The resulting RC ratio is 1.14 at the farmer level, 1.31 at the collector trader level and 1.45 at the retailer trader level. The results of the analysis of basic costs, cold storage for 3 months requires a fee of IDR 708,146 per kg. This value is lower compared to conventional storage of IDR 1,372 per kg. Based on interviews regarding price predictions for the next 3 months and shrinkage values there is a significant difference between conventional storage and cold storage. The advantage of cold storage is greater than conventional storage, which is IDR 13,417 per kg for 3 months storage while conventional storage is IDR 3,000 per kg. The increase was obtained assuming the price before being saved IDR 22,250 per kg, and the sale price after saving is IDR 35,000 per kg.Keywords: Value Chain, Cold Storage Technology  
CURAHAN WAKTU KERJA WANITA BURUH PENYADAP KARET (Studi Kasus PT Citra Putra Kebun Asri di Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut) Ijah Ijah; Suslinawati Suslinawati; Gusti Khairun Ni'mah
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 6, No 1 (2021): Volume 6 Nomor 1
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v6i1.29922

Abstract

AbstrakPenelitian memiliki tujuan untuk mengetahui besaran waktu yang dicurahkan atau dialokasikan wanita yang bekerja di PT Citra Putra Kebun Asri sebagai buruh penyadap karet untuk melakukan aktivitas, baik aktivitas produktif, aktivitas domestik rumah tangga, ataupun aktivitas sosial. Penelitian mulai pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2020. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling dengan kriteria wanita penyadap karet aktif dengan sistem target. Hasil penelitian menunjukkan curahan waktu kerja wanita untuk yang tidak memiliki pekerjaan sampingan selain menyadap karet di PT CPKA rata-rata menghabiskan waktu 5,69 jam/hari (23,73%), aktivitas domestik rumah tangga 17,62 jam/hari (73,38%), dan aktivitas sosial 0,65 jam/hari (2,72%). Wanita yang memiliki pekerjaan sampingan menghabiskan waktu untuk kegiatan produktif rata-rata 7,37 jam/hari dengan persentase 30,70%, aktivitas domestik rumah tangga 65,63%, dan aktivitas sosial 0,88 jam/hari dengan persentase 3,67%. Kontribusi pendapatan wanita terhadap keluarganya rata-rata sebesar Rp 2.330.645.16/bulan dengan persentase 61,18% yang berarti berkontribusi tinggi. Alasan wanita bekerja sebagai penyadap di PT CPKA didominasi alasan ekonomi yang diantaranya membantu suami mencari nafkah, mengisi waktu luang, menabung, dan mendapat  pembagian beras.Kata Kunci: Wanita Penyadap Karet, Curahan Waktu, Kontribusi Pendapatan AbstractThis study aims to determine the amount of time spent by women who work at PT Citra Putra Kebun Asri as rubber tappers to carry out activities, both productive activities, domestic household activities, or social activities. The research started from June to July 2020. The method used was purposive sampling method with criteria of active rubber tapping women with target system. The results showed that time spent working for women who didn’t have a side job apart from tapping rubber at PT CPKA spent an average of 5.69 hours/day (23.73%), while domestic household activities were 17.62 hours/day (73,38%), and social activities, 65 hours/day (2.72%). Women who have side jobs spend an average of 7.37 hours/day for productive activities with percentage of 30.70%, 65.63% for domestic activities, and 0.88 hours for social activities with percentage of 3.67%. The contribution of women's income to their families is an average of Rp. 2,330,645.16/month with percentage of 61.18% which means that they have a high contribution. The reasons for women working as tappers at PT CPKA are dominated by economic reasons, which include helping their husbands earn a living, fill the free time, saving money, and receiving rice distribution.Keywords: Women Rubber Tappers; Time Spent; Income Contribution