cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
ISSN : 25284576     EISSN : 26157411     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran. Diterbitkan Atas Kerjasama Program Studi Agribisnis dan Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad Dengan PERHEPI Komisariat Bandung Raya.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Persepsi Konsumen Terhadap Sayuran Terubuk Di Pasar Modern Syahrul - Siddiq; Reny Sukmawani; Ema Hilma Meilani
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.23778

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi konsumen terhadap sayuran terubuk di pasar modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Jumlah responden yang diteliti sebanyak 54 orang, dengan menggunakan insidental sampling. Rancangan analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa secara keseluruhan persepsi konsumen terhadap sayuran terubuk di pasar modern berdasarkan dimensi kinerja produk, ketahanan produk dan karakteristik produk memperoleh skor rata-rata sebesar 149 dengan interval skor rata-rata sebesar 2,75. Hal tersebut menunjukkan bahwa persepsi konsumen sebanyak 92% menyatakan “menarik” terhadap sayuran terubuk di pasar modern. Simpulan ini dapat menjadi informasi dalam peluang pasar untuk pemasaran terubuk di pasar modern. Kata kunci : persepsi, konsumen, terubuk, pasar modern AbstractThis study aims to determine how consumers' perceptions of terubuk vegetables in the modern market. The method used in this study is a survey method. The number of respondents studied was 54 people, using incidental sampling. The analysis design used is descriptive analysis. The results of the study revealed that overall consumer perceptions of terubuk vegetables in the modern market based on the dimensions of product performance, product endurance and product characteristics obtained an average score of 149 with an average score interval of 2.75. This shows that 92% of consumers' perceptions say they are "attractive" to terubuk vegetables in the modern market. This conclusion can be information on market opportunities for marketing at the modern markets.Keywords: perception, consumer, terubuk, modern market
WUJUD INTEGRASI SOSIAL DALAM SISTEM BAGI HASIL TANAMAN JERUK SIAM DESA TEGALSARI, KECAMATAN TEGALSARI, KABUPATEN BANYUWANGI. Mochamad Rafi Chuluqy
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.31092

Abstract

AbstrakPenelitian ini memiliki tujuan untuk menggambarkan mekanisme sistem bagi hasil yang ada pada sektor pertanian khususnya pada tanaman jeruk siam (Citrus nobilis), dan juga manfaat mekanisme ini bagi masyarakat. Kerjasama dengan menggunakan sistem bagi hasil sudah dilakukan masyarakat daerah pedesaan sejak dulu. Dalam sistem bagi hasil, ada berbagai mekanisme kerjasama antara pemilik lahan, dan penggarap, mekanisme kerjasama itu antara lain Maro, Mertelu, dan Merpat. Penelitian dalam artikel ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan di Desa Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi. Teknik observasi serta wawancara digunkan untuk memperoleh data di penelitian ini. Dalam penelitian ini diperoleh hasil yang menyatakan bahwa sistem bagi hasil juga dapat menumbuhkan solidaritas dan integrasi sosial, selain menunjukan peningkatan perekonomian yang menjadi tujuan utama sistem ini. Hal itu dibuktikan dengan adanya rasa peduli, saling percaya, saling membantu antara pemilik lahan dan penggarap jika mengalami kesulitan. Meskipun demikian, peran serta pihak lain seperti pemerintah juga tetap diperlukan agar hubungan baik antara kedua belah pihak dapat tetap terjaga.Kata kunci: Pertanian, Sistem Bagi Hasil, Solidaritas, Integrasi Sosial.AbstractThis study aims to describe the production sharing system in agriculture, especially in the Citrus nobilis plant, and its benefits in community life. The profit-sharing system is a form of cooperation that has existed and been carried out by the village community for a long time. In the profit-sharing system, there are various cooperation mechanisms between landowners and tenants. The cooperation mechanisms include Maro, Mertelu, and Merpat. The research in this article is a qualitative research conducted in Tegalsari Village, Tegalsari District, Banyuwangi Regency. Data collection was carried out by interview and observation techniques. The results of this study indicate that the implementation of the cooperation agreement with the profit-sharing system not only improves the economy, but also fosters solidarity and social integration in society. This is evidenced by a sense of care, mutual trust, and mutual assistance between landowners and tenants when experiencing difficulties. Even so, the participation of other parties such as the government is still needed so that good relations between the two parties can be maintained.Keywords: Agriculture, Profit Sharing, Solidarity, Social Integration.
PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum annuum L. ) DI DESA SUKALAKSANA KECAMATAN BANYURESMI JAWA BARAT Kuswarini Kusno; Sauma Hanuuf; Pandi Pardian; Eti Suminartika
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.28662

Abstract

Produktivitas cabai merah yang rendah menandakan terdapat masalah cukup serius pada aspek budidayanya. Perubahan iklim yang ekstrim juga menyebabkan tanaman cabai merah mengalami kerusakan. Akibatnya, produksi menurun sehingga harga produksi meningkat dan pendapatan petani menurun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keragaan usahatani cabai merah dan menganalisis pendapatan petaninya. Desain penelitian adalah metode kuantitatif dengan teknik survey terhadap 77 responden yang ditarik secara simple random sampling. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan analisis pendapatan serta rasio Revenue Cost (RC). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas petani di Desa Sukalaksana adalah petani gurem (berlahan sempit) yang berstatus pemilik.Rata-rata luas lahan garapan adalah 0,32 hektar. Budidaya cabai merah yang dilakukan petani berlahan sempit, sedang maupun luas melalui tahapan kegiatan yang sama dan menggunakan alat-alat pertanian yang sederhana. Tenaga kerja menggunakan buruh tani. Cabai dijual ke bandar dalam keadaan masih berwarna hijau dengan harga yang berfluktuasi setiap bulannya. Pendapatan petani berlahan sempit, sedang, dan luas per hektar per musim tanam masing-masing adalah Rp 15.750.817, Rp 43.092.359, Rp 49.091.756. Jadi, makin tinggi luas lahan, makin tinggi tingkat pendapatan petaninya. Berdasarkan analisis rasio RC, usahatani di semua kategori luas lahan adalah menguntungkan. Nilai R/C tertinggi dicapai oleh usahatani di lahan sedang yakni 2,4.Kata kunci: cabai merah, keragaan, usahatani, analisis pendapatanAbstractThe low productivity of red chili indicates that there is a serious problem in the cultivation aspect. In addition, extreme climate change also causes red chili plants to be damaged. As a result, production decreases so that the price of production increases and farmers' income decreases. This research was conducted to determine the performance of red chilli farming and analyze farmers' income. The research design was a quantitative method with a survey technique of 77 respondents drawn by simple random sampling. Data were analyzed using frequency distribution, income analysis and Revenue Cost (RC) ratios. The results showed the majority of farmers in Sukalaksana Village were smallholders (narrow land) who were the owners. The average area of land under cultivation was 0.32 hectares. Red chilli cultivation was carried out by farmers with narrow, medium and wide land through the same stages of activity using traditional tools. The labor used was laborers. Chili was sold to the wholesaler (‘bandar”) in green conditions with prices that fluctuate each month. The income of farmers who have narrow, medium and wide land per hectare per planting season was Rp. 15,750,817, Rp. 43,092,359, Rp. 49,091,756, respectively. So, the higher the area of land, the higher the level of farmer income. Based on the RC ratio, farming in all of categories of land area is profitable. The highest R / C value was achieved by farming on medium land, which is 2.4.Keywords: red chili, performance, farming, income analysis
ANALISIS BISNIS MODEL KANVAS PADA UMKM PENGOLAHAN MELINJO DI KECAMATAN LIMPUNG KABUPATEN BATANG Sunendar Sunendar; Rifki Andi Novia; Luthfi Zulkifli
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.29907

Abstract

AbstrakPengembangan ekonomi rakyat perlu diarahkan untuk mendorong perubahan nasional melalui pengembangan UMKM.  UMKM emping melinjo merupakan sentra unit usaha terbanyak di Kabupaten Batang. Maka perlu  analisa bisnis yang bisa diterapkan oleh wirausaha pengolahan melinjo salah satunya yaitu bisnis model kanvas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui analisa bisnis model yang  tepat dan analisa orientasi kewirausahaan. Jenis penelitian menggunakan analisa deskriptif dengan pendekatan orientasi kewirausahaan dan model bisnis kanvas. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan teknik wawancara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - Desember 2019. Respondennya yaitu pengusaha pengolahan emping melinjo sebanyak 30 Orang. Analisa menggunakan metode deskripsi dan model bisnis kanvas. Hasil peneltian menunjukan bahwa bisnis pengolahan melinjo memiliki sementasi konsumen yaitu konsumen luas. Preposisi nilai yaitu berdasarkan kinerja dengan mengutamakan kualitas agar tetap eksis dari tahun ke tahun. Saluran menggunakan pemasaran langsung dan tidak langsung. Hubungan konsumen dengan cara berkomunikasi langsung antara konsumer dengan pengusaha. Aliran uang bisnis pengolahan melinjo dari penjualan produk. Aktivitas utama dengan melalukan aktivitas produksi dan pemasaran. Sumberdaya utama yaitu bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran. Mitra utama dengan pengrajin, pengusaha kemasan dan distibutor. Struktur biaya meliputi biaya variabel dan tetap.Kata kunci: bisnis model kanvas, usaha kecil menengah, orientasi wirausahaAbstractThe development of the people's economy needs to be directed to encourage national change through the development of MSMEs. MSMEs melinjo chips is the center of the largest business unit in Batang Regency. So the business analysis that can be applied by entrepreneurs processing melinjo one of them is the canvas business model. The purpose of this research is to know the right business model analysis and analysis of entrepreneurial orientation. This type of research uses descriptive analysis with an entrepreneurial orientation approach and canvas business model. The research method used is quantitative using interview and discussion techniques. The research was conducted in August-December 2019. The respondent was 30 people. Analysis using canvas description methods and business models.  The results of the study show that melinjo processing business has customer segments namely mass customer. The value propositions are based on performance by prioritizing quality to remain exist from year to year. Channels use direct and indirect marketing. Customer relationship by communicating directly between consumers and entrepreneurs. Revenue streams the processing business from the sale of the product. Key activities by going through production and marketing activities. Key resources are raw materials, labor and marketing. Key partnership with craftsmen, packaging entrepreneurs and distibutors. Cost structure includes variable and fixed costs.Keyword: business model canvas, MSMEs, entrepreneurial orientation
Tingkat Adopsi Tanam Jajar Legowo 2:1 Pada Petani Padi di Kabupaten Purwakarta BAMBANG SUNANDAR
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 4, No 2 (2019): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v4i2.26525

Abstract

Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan inovasi pada tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi melalui peningkatan populasi tanaman dengan pengaturan jarak tanam. Penyebarluasan inovasi tersebut telah banyak dilakukan melalui program-program pemerintah, tetapi dalam lima tahun terakhir produktivitas padi di Kabupaten Purwakarta masih rendah dan penerapan inovasi tanam jajar legowo 2:1 masih rendah. Penelitian in bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi inovasi tanam jajar legowo 2:1 di Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menggunakan design kuantitatif dengan metode survei. Jumlah responden 130 orang diambil melalui teknik pengambilan sampel yang dilakukan pada populasi yang heterogen dan berstrata dengan mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anggota dari masing-masing sub populasi secara acak. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Tingkat adopsi petani terhadap inovasi tanam jajar legowo 2:1 di Kabupaten Purwakarta pada tahap pengetahuan adalah 63,1% (tinggi), tahap pembujukan 58.8% (sedang), tahap pengambilan keputusan 85,4% (sangat tinggi), tahap implementasi 43,8% (sedang), dan tahap konfirmasi 64,1% (tinggi). Tingkat adopsi pada setiap tahapan tersebut menggambarkan bahwa petani padi di Kabupaten Purwakarta berada pada kategori adopsi early majority artinya mereka akan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi tanam jajar legowo 2:1.
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS KELOMPOK TANI DI KECAMATAN MOJOLABAN, KABUPATEN SUKOHARJO Mutik Permatasari; Suminah Suminah; Sugihardjo Sugihardjo
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.31700

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani, menganalisis efektivitas kelompok tani, dan menganalisis pengaruh antara faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kelompok tani dengan efektivitas kelompok tani. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik survei. Pengambilan sampel dengan metode cluster random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden. Analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas yaitu faktor ciri kelompok, faktor fungsi tugas, dan faktor luar kelompok. Efektivitas kelompok tani di Kecamatan Mojolaban termasuk dalam kategori tinggi. Secara simultan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani. Secara parsial variabel faktor ciri kelompok dan faktor fungsi tugas berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani, sedangkan variabel faktor luar kelompok tidak berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelompok tani.Kata kunci: Efektivitas, Kelompok Tani, ProduktivitasAbstractThis study aims to analyze the factors that influence the effectiveness of farmer groups, analyze the effectiveness of farmer groups, and analyze the influence between factors that affect the effectiveness of farmer groups with the effectiveness of farmer groups. Research using quantitative research method with survey technique. Sampling by cluster random sampling method with the number of samples as many as 67 respondents. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results showed that factors that influence effectiveness are group characteristics factors, task function factors, and factors outside the group. The effectiveness of farmer groups in Mojolaban sub-district is in a high category. Simultaneously the factors that influence the effectiveness have a significant effect on the effectiveness of farmer groups. Partially variable group character factors and task function factors have a significant effect on the effectiveness of farmer groups, while factor variables outside the group have no significant effect on the effectiveness of farmer groups.Keywords: Effectiveness; Farmer Group; Productivity 
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pergerakan Indeks Harga Saham Sektoral Pertanian di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2018 Chikal Galih; Lies Sulistyowati
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.28739

Abstract

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah salah satu indikator perkembangan investasi saham di Indonesia, di mana ada indeks sektor yang mewakili perusahaan publik, salah satu indeks sektoral adalah Indeks Harga Saham Sektoral (IHSS) Pertanian. Fenomena yang terjadi pada periode 2014-2018 adalah tingkat pengembalian investasi di IHSS Pertanian menjadi yang terburuk dibandingkan dengan IHSG dan sektor lainnya sebesar -33,47%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSS Pertanian periode 2014 hingga 2018 secara bulanan. Analisis yang digunakan adalah analisis Ordinary Least Square (OLS) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSS Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi, nilai tukar USD/IDR, suku bunga bank sentral, IHSG, harga minyak kelapa sawit, dan harga emas berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSS Pertanian dengan nilai pengaruh 88,6%.Kata Kunci: Indeks Harga Saham Sektoral Pertanian, Return Saham, Makroekonomi, Ordinary Least Square (OLS)AbstractJakarta Composite Index (IHSG) is an indicator of the development of stock investment in Indonesia, where there are indices of sectors that represent public companies, one of the sectoral indices is the Sectoral Stock Price Index (IHSS) of Agriculture. The phenomenon that occurred in the 2014-2018 period was the level of investment return in the IHSS of Agriculture being the worst compared to the IHSG and other sectors by -33.47%. The purpose of this study is to identify the factors that influence the movement of IHSS of Agriculture for the period of 2014 up to 2018 on monthly base. The analysis used is Ordinary Least Square (OLS) analysis to identify the factors that influence the movement of IHSS of Agriculture. The results showed that inflation, USD/IDR exchange rate, central bank interest rate, IHSG, palm oil prices, and gold prices significantly influence the movement of IHSS of Agriculture with an influence value of 88.6%. Keywords: Agricultural Sectoral Stock Price Index, Stock Return, Macroeconomics, Ordinary Least Square (OLS).
DAMPAK USAHATANI KOMODITAS PORANG TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI DESA KLANGON, KECAMATAN SARADAN, KABUPATEN MADIUN Risky Al Hamdhan
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.30614

Abstract

AbstrakPorang menjadi komoditi ekspor unggulan Desa Klangon Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun. Tanaman porang  memiliki harga jual yang tinggi dan merupakan komoditi utama sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, serta kemakmuran masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak usahatani komoditas porang terhadap kesejahteraan masyarakat yang dilihat dari kelembagaan dan biaya produksi, pemasaran dan penerimaan serta pendapatan petani. Objek lokasi penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan bahwasannya Desa Klangon merupakan sentral produsen porang di Kabupaten Madiun dan sekaligus endemik porang Indonesia yang diberi dengan Madiun-1. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, ditinjau dari tingkat kesejahteraan rakyat di Desa Klangon ini mayoritas pada tingkat level sedang, dengan persentase 40,9% atau sebanyak 738 KK yang dalam kriteria menengah keatas. Dengan menggunakan analisis data deskriptif kualitatif melalui proses reduksi data dan perhitungan, maka produksi awal (investasi awal) usahatani porang dengan luas lahan satu hektar dengan biaya Rp.87.660.000, rata-rata pendapatan pertahun yang diperoleh petani ialah Rp.260.340.000. Melihat potensi dan besarnya keuntungan dalam budidaya porang terhadap kesejahteraan masyarakat desa, untuk itu perlu adanya campur tangan Pemerintah Kabupaten Madiun guna melakukan pemilihan lokasi baru untuk budidaya porang. Serta perlu adanya peningkatan investasi pada komoditas tersebut karena mengingat masih sangat mungkin untuk ditingkatkan.Kata kunci: porang, klangon, kesejahteraan masyarakat, analisis usahataniAbstractPorang is the leading export commodity in Klangon Village, Saradan District, Madiun Regency. The porang plant has a high selling price and is the main commodity as a source of regional income, as well as the people's welfare. This study aims to describe the impact of porang commodity farming on community welfare as seen from the institutional and production costs, marketing and income and farmer income. The object of the research location was chosen based on the consideration that Klangon Village is the central producer of porang in Madiun Regency and at the same time is endemic to Indonesian porang given Madiun-1. The results of the study reveal that, in terms of the welfare level of the people in Klangon Village, the majority are at the medium level, with a percentage of 40, 9% or as many as 738 households in the upper middle criteria. By using qualitative descriptive data analysis through the process of data reduction and calculation, the initial production (initial investment) of porang farming with a land area of one hectare at a cost of Rp. 87,660,000, the average annual income earned by farmers is Rp. 260,340,000. Seeing the potential and the magnitude of the benefits in cultivating porang for the welfare of the village community, it is necessary for the Madiun Regency Government to intervene in selecting a new location for porang cultivation. And there needs to be an increase in investment in these commodities because it is still possible to increase it.Keywords: porang, klangon, community walfare, economic analysis of farming
Karakteristik Petani dan Kelayakan Usahatani Cabai Besar (Capsiccum Annum L) dan Cabai Rawit (Capsiccum Frutescens L) di Sumatera Utara Arifah Astining Cahya; Rita Herawaty Br Bangun
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 1 (2020): Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i1.27139

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan menganalisis kelayakan usahatani cabai besar dan cabai rawit di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Karakteristik rumah tangga usaha tani cabai besar dan cabai rawit menunjukkan bahwa umur petani cabai besar dan cabai rawit sebagian besar berada di usia yang produktif, sebagian besar pendidikan petani masih rendah, pembiayaan modal berasal dari modal sendiri dan sebagian besar usahatani cabai besar dan cabai rawit tidak mendapatkan bimbingan atau penyuluhan. Analisis data dilakukan untuk melihat kelayakan usahatani cabai besar dan cabai rawit menggunakan analisis R/C (Return Cost Ratio) dan B/C (Benefit Cost Ratio). Berdasar hasil penghitungan pada usahatani cabai besar diperoleh nilai R/C>1 sebesar 1,56 dan B/C>0 sebesar 0,56. Penghitungan pada usahatani cabai rawit diperoleh nilai R/C>1 sebesar 1,93 dan B/C>0 sebesar 0,93. Dari hasil analisis usahatani cabai besar dan cabai rawit dapat disimpulkan bahwa usahatani ini layak dan menguntungkan secara ekonomi untuk diusahakan.Kata kunci: cabai, karakteristik, kelayakan usahataniAbstract This study aims to determine characteristics  and analyze the feasibility of chili pepper (Capsicum annuum L) and cayenne pepper (Capsicum frutescent L) farming in Sumatera Utara . This research uses descriptive analysis. The data used in this study is secondary data. Household characteristics of chili pepper and cayenne pepper farming show that the age of farmers of chili pepper and cayenne pepper are mostly in productive age; most of the farmers' education is still low; capital financing comes from their capital and most of the chili pepper and cayenne pepper farming is not get guidance or counseling. Data analysis was carried out to see the feasibility of chili pepper and cayenne pepper farming using R / C (Revenue Cost Ratio) and B / C (Benefit Cost Ratio) analysis. Based on the results of calculations on chili pepper farming obtained R/C value 1,56 and B/C value 0,56. Calculation of the cayenne farming obtained R/C value 1,93 and B/C value 0,93. From the results of the analysis of chili pepper and cayenne pepper farming, it can be concluded that this farming is feasible and economically profitable to be cultivated..Keywords: business feasibility, characteristics, chili  
PERSEPSI ANGGOTA TERHADAP UNIT USAHA SUSU KOPERASI UNIT DESA (KUD) CEPOGO KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI Ziva Arsiatul Isna; Sugihardjo Sugihardjo; Eny Lestari
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 5, No 2 (2020): Volume 5 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v5i2.31702

Abstract

Abstrak Kabupaten Boyolali merupakan pusat populasi sapi perah tertinggi di Jawa Tengah. Wilayah yang memiliki populasi sapi perah berada di Kecamatan Cepogo. Berdasarkan mutasi anggota KUD Cepogo tidak semua anggota KUD aktif dalam unit usaha susu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo, menganalisis faktor-faktor pembentuk persepsi terhadap unit usaha susu KUD Cepogo, dan menganalisis pengaruh antara faktor-faktor pembentuk persepsi terhadap unit usaha susu KUD Cepogo. Analisis data menggunakan Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67% anggota memiliki persepsi yang baik terhadap unit usaha KUD Cepogo. Faktor-faktor pembentuk persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo meliputi: pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman, pendapatan, dan motivasi. Faktor-faktor pembentuk persepsi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota unit usaha susu KUD Cepogo. Secara parsial variabel pengalaman, pendapatan, dan motivasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota, sedangkan variabel pendidikan formal dan pendidikan non formal tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi anggota terhadap unit usaha susu KUD Cepogo.Kata kunci: Unit Usaha Susu, KUD Cepogo, PersepsiAbstract Boyolali Regency is the highest dairy population center in Central Java. The area that has a dairy population is in Cepogo Subdistrict. Based on cepogo kud member mutation, not all kud members are active in milk business unit. This study aims to analyze the perception of members of the cepogo kud milk business unit, analyze the factors that shape the perception of the cepogo kud milk business unit, and analyze the influence between the factors that shape the perception of the cepogo kud milk business unit. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results showed that 67% of members have a good perception of cepogo kud business unit. Factors that shape members' perception of Cepogo's dairy business unit include: formal education, non-formal education, experience, income, and motivation. The perception-forming factors simultaneously have a significant effect on the perception of members of the Cepogo KUD dairy business unit. Partial variables of experience, income, and motivation have a significant effect on members' perceptions, while the variables of formal education and non-formal education have no significant effect on members' perception of cepogo's dairy business unit.Keywords: Dairy Business Unit, Kud Cepogo, Perception