cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Ekstrak Etanol Kulit Manggis Meminimalkan Lesi Histopatologis pada Trakea dan Paru-Paru Mencit (Mus musculus) Husain, Anugrah Fitria; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.9 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pemberian kombinasi ekstrak etanol kulit manggis dalam meringankan lesi histopatologis pada organ trakea dan paru-paru mencit yang diberikan monosodium glutamate (MSG). Penelitian ini menggunakan 27 ekor mencit jantan yang diberi perlakuan 0 (kontrol/P0), perlakuan 1 diberikan MSG 1% dalam air minum (P1), dan perlakuan 2 diberikan air minum mengandung MSG 1% ditambah dengan ekstrak etanol kulit manggis 4,5% (P3). Pada hari ke-30 pasca perlakuan mencit dieuthanasia, organ trakea dan paru-paru diambil untuk pembuatan preparat histopatologi. Variabel yang diamati adalah lesi degenerasi, nekrosis dan peradangan pada trakea, bronkus, dan parenkim paru. Hasil analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian MSG melalui air minum terhadap lesi degenerasi, nekrosis, dan peradangan trakea dan paru-paru. Terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan P0 dengan P1 dan P2 berdasarkan perubahan degenerasi, nekrosis dan peradangan. Hasil pemeriksaan histopatologi adalah mencit yang diberi MSG pada jaringan trakea dan paru-paru ditemukan degenerasi, nekrosis, dan peradangan, sedangkan yang diberi perlakuan kombinasi antara MSG dan ekstrak etanol kulit manggis pada jaringan trakea dan paru-paru ditemukan degenerasi, nekrosis, dan peradangan dengan derajat lebih ringan.
Karakteristik Simpul Tali Telusuk Sapi Bali dan Tali Keluh Sapi FAKHIDATUL ILMI, FERDANIAR; BATAN, I WAYAN; SOMA, I GEDE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.887 KB)

Abstract

Penanganan ternak sapi membutuhkan keterampilan. Sapi adalah ternak bertubuh besar yang memiliki tenaga lebih kuat daripada manusia, memiliki tanduk yang bisa membahayakan bagi keselamatan orang yang menangani, mempunyai kemampuan menendang, serta memiliki tubuh yang berlipat ganda bobotnya dibandingkan dengan peternak. Penggunaan tali telusuk untuk merestrain sapi bali bagi masyarakat Bali bermata pencaharian sebagai peternak merupakan hal yang lumrah, begitu pula penggunaan tali keluh sapi di Jawa.
Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih yang Diberi Deksametason dan Vitamin E Rabiah, Erwanti Siti; Berata, I Ketut; Suri, Sam
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.226 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih yang terdiri dari: kelompok kontrol (K) tanpa diberi deksametason dan vitamin E, kelompok perlakuan 1 (P0) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB, kelompok perlakuan 2 (P1) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E 100 mg/kg BB, kelompok perlakuan 3 (P2) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E dosis 150 mg/kg BB, kelompok perlakuan 4 (P3) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E dosis 200 mg/kg BB. Setelah pemberian perlakuan selama 14 hari, tikus dikorbankan nyawanya/diterminasi dan diambil ginjal kanannya untuk dibuat preparat histopatologi dengan pewarnaan metode Harris Hematoxylin Eosin (HE). Variabel yang diperiksa adalah gambaran tubulus proksimalnya dengan mikroskop cahaya pembesaran 400x. Dari pemeriksaan preparat histopatologi ginjal terdapat kerusakan ginjal berupa penutupan lumen tubulus proksimal, dimana  rerata penutupan lumen tubulus paling rendah adalah pada kelompok kontrol negatif yaitu 3,52 dan paling tinggi adalah pada kelompok kontrol positif yaitu 24,68. Uji Kruskall Wallis menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p=0,01) pada rerata degenerasi tubulus ginjal  dari lima kelompok yang diuji. Kesimpulan dari penelitian ini adalah vitamin E dapat memberikan efek proteksi pada ginjal tikus putih yang terjadi akibat efek toksik deksametason.
Tingkat Deteksi Parvovirus Anjing di Organ Jantung dan Usus Halus pada Infeksi Lapangan Dewi, Putu Bulan Sasmita; Mahardika, I Gusti Ngurah Kade; Suartini, I Gusti Ayu Agung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (4) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.752 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat deteksi parvovirus anjing pada infeksi lapangan dari organ jantung dan usus halus yang dinilai berdasarkan pita hasil polymerase chain reaction (PCR). Obyek penelitian yang digunakan adalah spesimen jantung dan usus halus dari lima ekor anjing yang terinfeksi parvovirus alami. Isolasi DNA dilakukan dengan DNA isolation kit (Invitrogen) dan diamplifikasi menggunakan teknik PCR. Hasil PCR kemudian diskoring dan dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil PCR menunjukkan frekuensi infeksi pada usus halus (4/5) lebih tinggi dibandingkan jantung (3/5), akan tetapi, rerata skor pita PCR dari organ usus dan jantung masing-masing adalah (3,2 ± 0,97) dan (1,4 ± 0,75) yang secara statistik tidak berbeda nyata (p>0,05).
Efektivitas Ekstrak Daun Wudani (Quisqualis Indica Linn) Terhadap Telur Cacing Paramphistomum Spp. Pada Sapi Bali Secara In Vitro Astuti, Komang Tri; Ardana, Ida Bagus Komang; Anthara, Made Suma; Yustika, I Made Aris; Kusamadarma, Ida Bagus Agung Dimas
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.016 KB)

Abstract

Paramphistomiasis pada sapi di Indonesia disebabkan oleh cacing Paramphistomum spp. stadium dewasanya berpredileksi pada rumen dan retikulum sedangkan stadium belum dewasa/ muda pada duodenum. Infeksi berat cacing mengakibatkan enteritis, hemoragi, dan ulser. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ovisidal ekstrak daun wudani (Quisqualis Indica Linn) terhadap telur cacing Paramphistomum spp. Penelitian ini dilakukan secara in vitro menggunakan telur cacing Paramphistomum spp. yang kemudian direndam ekstrak daun wudani pada masing-masing cawan petri dengan dosis P1= 0,12 ml/40 ml, P2= 0,24 ml/40 ml dan P3= 0,48 ml/40 ml selama 24 jam. Ekstrak daun wudani dicuci, tambahkan NaCl Fisiologis dan diinkubasi selama 30 hari. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan menggunakan uji analisis One Way Anova atau sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan pada hari ke 10 konsentrasi ekstrak daun wudani pada masing-masing kelompok perlakuan memiliki efek ovisidal tetapi tidak berbeda nyata (P>0.05) satu dengan yang lainnya pada hari ke-10. Ovisidal ekstrak daun wudani hari ke-30 menunjukkan adanya perbedaan sangat nyata (P<0.01) terhadap daya hambat tetas telur cacing Paramphistomum spp. Efek ovisidal ekstrak daun wudani dosis 0,24 ml/40 ml NaCl Fisiologis dan 0,48 ml/40 ml NaCl Fisiologis memiliki daya hambat tetas telur cacing Paramphistomum spp. paling tinggi.
Daya Tahan Daging Kambing yang Diberikan Infusa Daun Salam (Syzygium polyanthum) pada Suhu Ruang Paramita, Ni Made Diana Pradnya; Suada, I Ketut; Budiasa, Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.717 KB)

Abstract

Daging kambing mengandung protein cukup tinggi dan terdapat pula kandungan asam amino esesensial yang lengkap dan seimbang. Akibat adanya komponen nutrisi yang terkandung dalam daging kambing, maka daging kambing juga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, sehingga mudah mengalami kerusakan dan pembusukan.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui daya tahan daging kambing yang diberikan infusa daun salam pada peletakan suhu ruang yang ditinjau dari bau, warna, pH, dan kadar air. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yaitu empat faktor konsentrasi 0%, 5%, 10%, dan 15% infusa daun salam dan dilakukan pengamatan waktu 0, 3, 6, dan 9 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman infusa daun salam dengan konsentrasi (0%, 5%, 10%, dan 15%) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bau dan pH pada lama peletakan, sedangkan warna daging berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsentrasi dan lama peletakan. Konsentrasi infusa daun salam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar air daging kambing. Pemberian daun salam sebagai pengawet alami berpengaruh baik terhadap daya tahan daging kambing.
Persebaran Spasial Rabies Sapi Bali dan Kerugian Ekonomi yang Ditimbulkannya di Ungasan, Kutuh, dan Peminge yanah, Rasdi; Batan, I Wayan; Suatha, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1061.008 KB)

Abstract

Di Desa Ungasan, Badung merupakan tempat awal terjadinya rabies pada manusia, empat warga dilaporankan meninggal, dua di antaranya positif rabies. Berdasarkan informasi dari masyarakat Desa Kutuh tentang sapi milik warga, banyak yang mati dengan tanda gejala rabies bersamaan dengan kejadian rabies pada anjing dan manusia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa banyak kerugian yang dialami peternak yang sapinya mati terkena penyakit yang diduga rabies, dan untuk mengetahui sebaran rabies di daerah Ungasan, kutuh, dan peminge. Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung ke tempat kejadian yaitu di Desa Ungasan, Desa Kutuh, dan Desa Peminge dengan menggunakan metode studi retrospektif. Data yang diambil dari para peternak sapi yang sapinya mati dengan gejala rabies periode 2008-2011. Data hasil questionaires open ended kemudian dicatat, ditabulasikan, dianalisis, dan didokumentasikan. Bersamaan dengan itu ditentukan 12 titik lokasi daerah tertular rabies di tiga Desa yakni Desa Ungasan, Desa Kutuh, dan Desa Peminge. Dengan menggunakan “Global Position System”. Wilayah tertular rabies di Semenanjung Badung, berdasarkan lokasi ditemukan sapi tertular rabies seluas 9,6 km². kemudian disesuaikan dengan skala peta. Simpulan yang dapat ditarik adalah sapi bali di daerah Ungasan, Kutuh, dan Peminge telah tertular rabies, serta kerugian yang di alami oleh peternak dari tiga desa tersebut cukup besar, dengan total kerugian (Rp 82.800.000) dari 36 ekor sapi bali yang mati diduga rabies
Studi Penampilan Reproduksi (Litter Size, Jumlah Sapih, Kematian) Induk Babi pada Peternakan Himalaya, Kupang PRASETYO, HILDA; KOTA BUDIASA, MADE; ARDANA, IDA BAGUS KOMANG
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.106 KB)

Abstract

Secara nasional terlihat bahwa kegiatan usaha peternakan babi dilakukan secara komersial (industri peternakan), dan sebagian besar masih merupakan peternakan rakyat. Selain sebagai cabang usaha utama, usaha peternakan babi dapat dijadikan sebagai usaha sampingan ataupun komplementer bagi masyarakat. Pada saat ini ternak babi merupakan jenis ternak paling penting bagi masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara tradisional ternak babi mempunyai peran yang penting di dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat NTT dan merupakan sumber protein utama bagi konsumsi domestik. Semakin meningkatnya konsumsi akan daging babi, maka peternak juga harus meningkatkan kualitas ternaknya sendiri sehingga dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kualitas ternak babi di Kupang, salah satunya dengan memperbaiki kualitas babi itu sendiri dari segi reproduksinya. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui jumlah kelahiran anak perinduk babi, untuk mengetahui jumlah kematian anak babi pra sapih, untuk mengetahui jumlah anak babi yang di Sapih di peternakan babi Himalaya di desa Noelbaki kabupaten Kupang. Hasil pengamatan dan pencatatan kinerja reproduksi dari 85 induk babi adalah Angka kelahiran 11,6 ekor sudah mencapai standart, Jumlah sapih 7,7 belum mencapai standart dan presentase kematian (mumifikasi dan kematian pra sapih) cukup tinggi yaitu 33,6%. Dengan rata – rata kelahiran yang telah dicapai, peternak di harapkan untuk mempertahankan angka kelahiran dengan cara memperhatikan nutrisi calon induk, maupun induk bunting, lebih memperhatikan kesehatan induk babi pada saat bunting. Tingginya jumlah kematian, diharapkan peternak bisa lebih memperhatikan kesehatan anak babi pra sapih, dan kebersihan kandang induk.
Pemberian Efective Microorganism (Em4®) terhadap Gambaran Histopatologi Hati Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Betina ENDRA KUSUMA, I GEDE; BERATA, I KETUT; GDE ARJANA, ANAK AGUNG
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.814 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang “Pengaruh Pemberian Effective Microorganism 4 (EM4®) Terhadap Gambaran Histopatologis Hati Tikus Putih (Rattus norvegicus) Betina” yang bertujuan untuk mengetahui efek farmakodinamik dari probiotik EM4® dengan dosis dan interval pemberian waktu tertentu serta dengan melihat pengaruhnya pada gambaran histopatologi hati tikus putih (Rattus norvegicus).Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL), dengan menggunakan sampel berupa 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) betina yang betumur tiga bulan dengan berat badan rata-rata 200 gram yang dibagi kedalam lima kelompok perlakuan (K1, K2, K3, K4, K5) dengan lima kali pengulangan dan interval waktu pemberian selama 21 hari. Sebelum diberikan perlakuan tikus putih (Rattus norvegicus) diadaptasikan selama 7 hari. Kelompok K1 tanpa perlakuan Effective Microorganism (EM4®), kelompok K2 diberikan perlakuan Effective Microorganism (EM4®) dengan dosis 0,25 ml/ekor/hari, kelompok K3 diberikan perlakuan Effective Microorganism (EM4®) dengan dosis 0,5 ml/ekor/hari, kelompok K4 diberikan perlakuan Effective Microorganism (EM4®) dengan dosis 1/ekor/hari, kelompok K5 diberikan perlakuan Effective Microorganism (EM4®) dengan dosis 2 ml/ekor/hari. Pemberian probiotik EM4® dilakukan peroral dengan sonde khusus yang dilakukan pada hari ke 8, setelah diberikan perlakuan selama 21 hari hewan dieuthanasia menggunakan dietil eter kemudain di nekropsi untuk diambil organ hati untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Harri Hematoxylin-Eosin, kemudian diperiksa dibawah mikroskop dnegan pembesaran 100x.Hasil pemeriksaan histopatologi hati dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis berasarkan data pengamatan didapat bahwa tidak ditemukannya degenerasi hidrofik, degenerasi melemak dan nekrosis pada kelompok ytang diberikan perlakuan probiotik
Identifikasi dan Prevalensi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Anak Babi di Bali Fendriyanto, Ady; Oka, Ida Bagus Made; Agustina, Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.333 KB)

Abstract

pencernaan pada anak babi yang dijual di pasar tradisional di wilayah Bali. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 250 sampel feses anak babi yang berasal dari pasar ternak di Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bangli, dan Kabupaten Gianyar. Sampel diperiksa dengan menggunakan metode sedimentasi formol ether dan diidentifikasi berdasarkan morfologi telur cacing. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa prevalensi infeksi cacing nematoda saluran pencernaan pada anak babi yang dijual dipasar tradisional adalah sebanyak 71,6% (179/250). Setelah dilakukan identifikasi diketahui ada empat jenis cacing nematoda saluran pencernaan yaitu, Ascaris suum, Trichuris suis, cacing tipe Strongyl dan Macrachantorynchus dengan prevalensi masing – masing sebesar 33,2%, 14,0%, 57,6% dan 2%.