cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Optimasi Duplex PCR untuk Deteksi Simultan Gen Penyandi Faktor Virulensi ompW dan ctxA Vibrio cholerae Praja, Rian Ka; Sukrama, I Dewa Made; Fatmawati, Ni Nengah Dwi; Hidayati, Wahyu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (5) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.156 KB)

Abstract

Vibrio cholerae merupakan salah satu agen foodborne disease yang dapat ditularkan melalui seafood. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi gen penyandi faktor virulensi outer membrane protein W (ompW) dan cholerae toxin subunit A (ctxA) menggunakan teknik Duplex Polymerase Chain Reaction (dPCR). Dua bakteri V. cholerae O1 serotipe Ogawa dan Inaba digunakan pada penelitian ini. Proses isolasi DNA dilakukan menggunakan metode Boil Cell Extraction (BCE). dPCR dilakukan menggunakan dua pasang primer (forward dan reverse) ompW-F, ompW-R dan ctxA-F, ctxA-R dengan panjang produk masing-masing 588 bp dan 302 bp. Tahap optimasi yang dilakukan dalam proses dPCR ini meliputi variasi suhu annealing, variasi konsentrasi primer serta variasi volume DNA template kemudian deteksi produk dPCR dilakukan dengan elektroforesis pada gel agarosa 1,5% dan divisualisasi menggunakan alat Gel DocTM XR (Bio-Rad). Hasil penelitian menunjukkan komposisi reaksi dPCR yang terbaik untuk mendeteksi gen ompW dan ctxA secara simultan terdiri dari PCR mix (Promega) 12,5 ?L, primer ompW-F, ompW-R 0,5 ?M, primer ctxA-F, ctxA-R 0,3 ?M, nuclease free water 6,5 ?L dan DNA template 2 ?L sehingga volume total menjadi 25 ?L. Kondisi mesin PCR terdiri dari pre-denaturasi 95oC selama 2 menit (1 siklus) diikuti oleh denaturasi 95oC selama 1 menit, annealing 53oC selama 1 menit, extension 72oC selama 1 menit (35 siklus), dan post-extension 72oC selama 5 menit (1 siklus). Dapat disimpulkan bahwa dPCR dapat digunakan untuk deteksi simultan gen penyandi faktor virulensi ompW dan ctxA V. cholerae.
Pola Pertumbuhan Panjang Bagian-Bagian Kaki Depan dan Kaki Belakang Babi Bali Sembiring, Ade Vindha Mebrina br; Suatha, I Ketut; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.134 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.59

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan ukuran panjang bagian-bagian kaki depan dan kaki belakang saat mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. 56 ekor babi bali (umur 0 sampai 26 minggu) digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan model analisis regresi sigmoid, dengan menentukan ukuran maksimum panjang bagian-bagian kaki depan dan kaki belakang saat lahir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang bagian-bagian kaki depan dan kaki belakang babi bali mengikuti pola sigmoid. Anak babi pada saat lahir memiliki ukuran panjang kaki yang sama, sedangkan untuk ukuran maksimum, panjang bagian-bagian kaki depan dan belakang terdapat perbedaan antara jantan dan betina. Titik infleksi yang paling cepat dicapai oleh panjang kaki belakang bawah babi jantan pada umur 5 minggu, sedangkan ukuran dewasa tercepat dicapai oleh panjang kaki depan atas babi betina pada umur 58 minggu.
Penambahan Tepung Temulawak dalam Pakan Meningkatkan Respon Imun Ayam Pedaging Pascavaksinasi Flu Burung Pratiwi, Ni Made Diah Kusuma; Ardana, Ida Bagus Komang; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.841 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.72

Abstract

Flu burung merupakan penyakit viral pada unggas yang bersifat zoonosis, akut, dan mematikan yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Masalah yang sering terjadi saat vaksinasi, tidak semua vaksin akan menghasilkan titer antibodi yang tinggi akibat berbagai sebab. Oleh karena itu diperlukan penggertak sistem imun (immunomodulator) tambahan. Salah satu senyawa dalam tanaman yang bersifat immunomodulator adalah kurkuminoid yang banyak terkandung pada temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.). Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging umur 14 hari yang dibagi menjadi 4-empat kelompok, yaitu kelompok kontrol (P0), kelompok yang diberikan penambahan tepung temulawak 10 g/kg pakan (P1), penambahan tepung temulawak 20 g/kg pakan (P2), penambahan tepung temulawak 30 g/kg pakan (P3). Pengambilan sampel darah dilakukan satu kali yaitu pada umur 25 hari. Pemeriksaan titer antibodi AI dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Titer antibodi selanjutnya dianalisis menggunakan uji sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian didapatkan titer antibodi 5,6 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 10 g/kg pakan), 5,8 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 20 g/kg pakan) dan titer antibodi tertinggi yaitu 6 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 30 g/kg pakan), hal ini menunjukkan bahwa penambahan tepung temulawak pada pakan dapat meningkatkan titer antibodi pascavaksinasi (P<0,05).
Jenis Ular dan Sebarannya di Kecamatan Kuta Selatan Badung Bali HERBERT, -; BATAN, I WAYAN; ROMPIS, AIDA LOUISE TENDEN
Indonesia Medicus Veterinus Vol.1 (1) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.15 KB)

Abstract

Penelitian untuk mengetahui jenis ular dan sebarannya di wilayah Kecamatan Kuta Selatan Badung Bali telah dilakukan dengan metode observasi langsung (Visual Encounter Survey) dengan cara menjelajah dan mengidentifikasi ular pada habitat yang dikelompokkan menjadi enam: (i) semak belukar, (ii) jalan, (iii) hutan pantai, (iv) hutan bakau, (v) pekarangan dan (vi) dalam tanah; di 5 lokasi: (i) Kelurahan Benoa dan (ii) Kelurahan Jimbaran; (iii) Desa Kutuh, (iv) Desa Pecatu dan (v) Desa Ungasan. Observasi dilakukan selama 45 hari (21 Mei 2011 sampai dengan 5 Juli 2011) pada tiga waktu berbeda yaitu: (i) pukul 11.00-12.00 WITA; (ii) pukul 18.00-19.00 WITA; dan (iii) pukul 21.00-22.00 WITA.Sebelas spesies ular berhasil diidentifikasi yaitu: Ahaetulla prasina, Cerberus rynchops, Dendrelaphis pictus, Lycodon aulicus capucinus, Ptyas korros, Phyton reticulatus, Ramphotyphlops braminus, Trimeresurus albolabris insularis, Naja sputatrix, Laticauda colubrina, dan Laticauda laticaudata; dengan sebaran 7 spesies ditemukan di Kelurahan Benoa; 8 spesies di Kelurahan Jimbaran; sedangkan di Desa Kutuh, Desa Pecatu, dan Desa Ungasan masing-masing lokasi satu spesies ular. Selama penelitian telah berhasil dikumpulkan 134 data pengamatan; dari 134 pengamatan peluang ditemukannya ular di wilayah Kecamatan Kuta Selatan adalah 33.8% sementara 66.2% tidak ditemukannya ular. Berdasarkan habitatnya, 4 spesies ular (A. prasina, C. rynchops, P. reticulatus dan P. korros) ditemukan di hutan bakau dan di jalan (D. pictus, T. albolabris insularis, L. aulicus capucinus, dan P. korros); dua spesies ditemukan di semak belukar (A. prasina, dan D. pictus), pantai (L. colubrina dan L. laticaudata), dan pekarangan (D. pictus dan N. sputatrix); sedangkan dalam tanah satu spesies (R. braminus). Berdasarkan waktu observasi, sebagian besar (35.0%) spesies ular ditemukan pada pukul 11.00-12.00 WITA, kemudian malam hari pukul 21.00-22.00 WITA (19.0%), sedangkan pada pagi hari (11.00-12.00 WITA) peluang menemukan ular relatif sedikit (8.0%). Secara umum wilayah Kecamatan Kuta Selatan masih merupakan wilayah daya dukung bagi keberanekaragaman spesies ular dan merupakan indikator lingkungan ekologi yang baik.
Uji Efektivitas Ekstrak Akar Tuba (Derris Elliptica) Terhadap Caplak Anjing Secara In Vitro Hutasoit, Ika Hartini; wanto, Sis; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (2) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.176 KB)

Abstract

Ekstrak akar tuba (Derris elliptica) mengandung zat kimia yang disebut rotenon yang dapat membasmi serangga, larva, nyamuk, rayap tanah dan lain sebagainya. Belum adanya penelitian tentang pengaruh extrak akar tuba terhadap caplak anjing, maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak akar tuba sebagai anti ektoparasit terhadap caplak anjing. Sampel yang digunakan adalah caplak sebanyak 40 ekor yang dibagi dalam empat kelompok, masing-masing sepuluh ekor ditaruh dalam cawan petridis yang dialasi kapas. Kemudian dilakukan penyemprotan 0% aquades (kontrol), 1%, 2%, dan 3% ekstrak akar tuba. Pengamatan dilakukan terhadap caplak yang sudah mati. Pada konsentrasi 1% menunjukkan kematian caplak tiga ekor pada menit ke-20, lima ekor pada menit ke-30, dan kematian 100% pada menit ke-64. Pada konsentrasi 2% menunjukkan kematian dua ekor pada menit 10,tujuh ekor pada menit ke-30 dan kematian 100% pada menit ke-55. Dan pada konsentrasi 3% menunjukkan kematian pada tujuh ekor caplak pada menit ke-10, sembilan ekor pada menit ke-20 dan kematian 100% pada menit ke-30. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak akar tuba dengan konsentrasi 3% lebih efektif daripada 1% dan 2%. Ini dibuktikan dengan jumlah dan kecepatan kematian pada caplak. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar tuba kadar 1%, 2%, dan 3% sangat efektif digunakan sebagai anti ektoparasit anjing.
Perubahan Klinik Pada Anjing Lokal Selama Teranestesi Ketamin Dengan Berbagai Dosis Premedikasi Xilazin Secara Subkutan Dwiningrum, Kadek Mira; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya; Putra Pemayun, I Gusti Agung Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (3) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.888 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan klinik yang terjadi selama teranestesi ketamin dengan premedikasi xilazin yang melebihi dosis pemberian secara intramuskuler pada anjing lokal yang diberikan secara subkutan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu pemberian xilazin dosis 2 mg/kg bb (kontrol), 4 mg/kg bb, 6 mg/kg bb, dan 8 mg/kg bb. Setiap perlakuan menggunakan enam ekor anjing sebagai ulangan, sehingga anjing yang digunakan sebanyak 24 ekor. Data kuantitatif yang diperoleh dianalisis dengan Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan, sedangkan data kualitatif yang diperoleh disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perubahan klinik pada dosis premedikasi 2 mg/kg bb, 6 mg/kg bb dan 8 mg/kg bb, sedangkan pada dosis 4 mg/kg bb anjing tidak teranestesi sempurna sehingga tidak dilakukan pengamatan perubahan klinik pada dosis 4 mg/kg bb. Perbedaan dosis premedikasi xilazin berpengaruh nyata (P0,05) terhadap pulsus, CRT, frekuensi respirasi, suhu tubuh, dan tekanan otot rahang. Perbedaan waktu pengamatan selama anjing teranestesi berpengaruh sangat nyata (P
Prevalensi Infestasi Tungau Kudis pada Anjing di Kawasan Wisata di Bali Satria, Julian; Oka, Ida Bagus Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (3) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.467 KB)

Abstract

Anjing merupakan sahabat terbaik manusia. Dalam pemeliharaannya, anjing dapat terserang berbagai macam penyakit. Kedekatan hubungan antara manusia dan anjing memunculkan potensi terjadinya penularan penyakit, khususnya yang bersifat zoonosis. Potensi penularan penyakit zoonosis tentunya akan berpengaruh pada daerah wisata di Bali karena dapat menyebabkan penurunan jumlah wisatawan yang akan berkunjung. Sarcoptes scabiei, Demodex spp., dan Otodectes cynotis adalah tungau kudis pada anjing yang diklasifikasikan sebagai penyakit zoonosis. Objek penelitian adalah 100 ekor anjing yang ada pada kawasan wisata di Bali yang relatif padat dikunjungi wisatawan. Anjing yang teramati mengalami gejala kudis dikerok kulitnya dan kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk mengidentifikasi tungaunya. Sampel dinyatakan positif apabila ditemukan minimal satu parasit dalam setiap stadium perkembangannya. Pada penelitian ini, didapatkan 14 ekor anjing yang mengalami gejala kudis. Dari hasil pemeriksaan ditemukan 8 sampel kerokan kulit yang positif terinfestasi tungau kudis. Jenis tungau yang ditemukan adalah Demodex spp. dengan prevalensi 8%. Sehubungan dengan besarnya prevalensi tersebut, perlu perhatian yang serius terhadap anjing-anjing yang berada di kawasan wisata di Bali, terutama menyangkut kebersihan dan kesehatan kulit.
Fungi­-fungi Penginfeksi Kulit Ular Liar di Bali Negara, I Nyoman Wisnu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi; Prabawa, I Made Agus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.08 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.489

Abstract

Fungi merupakan salah satu agen penyakit infeksius yang memiliki beragam jenis. Beberapa jenis di antaranya dapat ditemukan pada kulit ular liar. Fungi yang ditemukan pada kulit ular liar tersebut mampu menginfeksi kulit, bahkan dapat menyebabkan kematian. Bali dalam hal ini belum memiliki data yang memadai mengenai jenis fungi yang dapat ditemukan pada kulit ular liar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi fungi yang dapat ditemukan pada kulit ular liar. Penelitian dilakukan dengan mengkoleksi sampel berupa swab dari kulit ular liar yang dibiakkan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dengan suhu 20ºC-30ºC. Koloni yang tumbuh pada SDA diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati karakteristik koloni secara kasat mata dan dilanjutkan dengan identifikasi secara mikroskopis dengan bantuan mikroskop dan pewarnaan menggunakan Methylene Blue. Hasil penelitian yang diperoleh ialah Aspergillus flavus, Aspergillus niger, Penicillium sp, Curvularia lunata, Candida sp., Mucor sp., dan Acremonium sp. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat tujuh jenis fungi yang ditemukan pada kulit ular liar di Bali. Beberapa di antara fungi tersebut dapat menjadi ancaman bagi kesehatan hewan maupun manusia.
Isolasi dan Indentifikasi Bakteri Escherichia Coli dari Udara pada Rumah Potong Unggas Swasta di Kota Denpasar Trisno, Komang; Gel-gel, Ketut Tono Pasek; Suarjana, I Gusti Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.671 KB)

Abstract

Escherichia coli merupakan bagian dari mikroflora yang secara normal hidup dalam saluran pencernaan manusia dan hewan. Penelitiaan ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri E. coli di udara pada Rumah Potong Unggas (RPU). Sebanyak 30 sampel yang berasal dari ruangan pemotongan dan ruangan produksi yang masing-masing berjumlah 15 sampel. Sampel berasal dari RPU Usaha Dagang Sari Daging di Kota Denpasar. Pengambilan sampel menggunakan media eosin methylene blue agar (EMBA) secara terbuka dan dilanjutkan dengan uji pewarnaan Gram. Koloni yang berwarna hijau metalik dan yang menunjukan ciri-ciri bakteri Escherichia coli pada pewarnaan Gram kemudian dilakukan uji triple sugar iron agar (TSIA) dan uji indol, MR/VP, sitrat (IMViC). Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 30 sampel yang diisolasi hanya 10 sampel yang menujukan hasil positif bakteri E. coli yang terbagi menjadi dua tempat yaitu 179 koloni pada ruangan pemotongan dan 23 koloni ruangan produksi. Dapat disimpulkan bahwa telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi bakteri E. coli dari udara pada RPU Swata Kota Denpasar sebanyak 33,3% (10 dari 30 sampel) yaitu pada ruang pemotongan sebanyak 40% dan ruang produksi sebanyak 27%.
Waktu Beku Darah Sapi Bali Umur, Azmil; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (5) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.464 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa lama waktu beku darah pada sapi bali yang dipotong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kapiler, setiap 30 detik tabung mikro pipa kapiler dipatahkan sedikit demi sedikit sampai terbentuknya bekuan fibrin yang mengindikasikan terbentuknya pembekuan darah. Rata-rata lama waktu pembekuan darah pada sapi bali adalah 163.36 detik. Dari hasil sebaran data waktu beku darah pada sapi bali menunjukkan bahwa masih dalam sebaran normal dan dapat dipublikasikan bahwa waktu pembekuan darah pada sapi bali berkisar dari 125 detik sampai 204 detik.