cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Pemberian 10% Susu Afkir dalam Pakan Dapat Menurunkan Pertambahan Bobot Badan, dan Meningkatkan Feed Convertion Ratio Anak Babi Wibawa, I Gede Pratama Candra; Ardana, Ida Bagus Komang; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.458 KB)

Abstract

Babi merupakan salah satu ternak yang sangat penting dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat non muslim Indonesia. Peternak babi kerap memberikan susu afkir sebagi feed supplement untuk meningkatkan pertumbuhan ternak. Susu afkir yaitu susu sapi dalam kemasan yang telah ditolak/reject namun, kondisi fisik dan nutrisi susu afkir masih baik dan sering digunakan peternak babi untuk menekan biaya produksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian susu afkir pada konsentrasi 5% dan 10% dalam campuran pakan babi terhadap konsumsi pakan pertambahan bobot badan dan nilai Feed Convertion Ratio (FCR) pada anak babi persilangan/crossbreed jantan lepas sapih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Legkap (RAL) terdiri dari tiga perlakuan dan sembiang ulangan, dengan total 27 ekor anak babi yang diberi pakan standar (CP-550) dikombinasikan dengan susu afkir 5% (P1), dan kelompok ternak babi yang diberi pakan standar (CP-550) dikombinasikan dengan susu afkir 10% (P2). Data hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji sidik ragam. Pengaruh antar perlakuan dapat dilihat dan dilanjutkan dengan ujii jarak berganda Duncan. Pemberian susu afkir dengan konsentrasi 5% maupun 10% dalam pakan dapat meningkatkan jumlah konsumsi pakan secara nyata pada anak babi crossbreed jantan lepas sapih. Pemberian susu afkir dengan konsentrasi 5% dalam pakan tidak mempengaruhi pertambahan berat badan dan nilai FCR secara nyata akan tetapi bila ditingkatkan 10% dapat menurunkan pertambahan besar badan dan memperbesar nilai FCR anak babi crossbreed jantan lepas sapih.
Cytomorphometry Peripheral Blood Mononuclear Cell Anjing Kintamani Bali Areningrat, Putu Ayutia; Suartini, I Gusti Ayu Agung; Setyawati, Iriani
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.097 KB)

Abstract

Anjing kintamani bali (AKB) adalah kelompok anjing lokal jenis pegunungan yang hidup di sekitar Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Anjing kintamani bali merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang sangat perlu dijaga kelestarian dan kemurniannya. Peripheral blood mononuclear cell (PBMC) sebagai komponen penting sistem kekebalan tubuh yang terlibat dalam imunitas humoral dan seluler, dapat digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit atau respon terhadap pengobatan serta menemukan biomarker yang valid dalam kompartemen sel darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran sel limfosit dan sel monosit pada AKB sehat yang dievaluasi berdasarkan pemeriksaan cytomorphometry. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial AxB. Data dianalisis dengan analisis ragam dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar. Berdasarkan hasil penelitian, AKB memiliki nilai cytomorphometry yaitu diameter sel limfosit (7,312-8,761µm), diameter nukleus limfosit (5,786-7,138 µm), diameter sel monosit (7,785-8,883 µm), diameter nukleus monosit (6,099-7,457 µm), circumference sel limfosit (23,131-27,737 µm), circumference nukleus limfosit (18,160-22,402 µm), circumference sel monosit (24,514-27,966 µm), circumference nukleus monosit (19,093-23,442 µm), surface area sel limfosit (42,318-60,140 µm2), surface area nukleus limfosit (27,331-40,308 µm2), surface area sel monosit (48,313-62,334 µm2), surface area nukleus monosit(28,979-43,736 µm2), luas sitoplasma sel limfosit (8,863-27,509 µm2), dan luas sitoplasma sel monosit (12,230-25,953 µm2).
Polimorfisme Lokus Mikrosatelit D2S1368 pada Populasi Monyet Ekor Panjang di Pura Puncak Mundi, Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali Sihombing, Tri Indra Erikson; Wandia, I Nengah; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.194 KB)

Abstract

Penelitian polimorfisme lokus mikrosatelit D2S1368 pada populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pura Puncak Mundi, Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali bertujuan untuk mengetahui jumlah alel, frekuensi alel, heterozigositas, Polymorphism Information Content (PIC) dan keseimbangan Hardy-Weinberg berdasarkan sebaran alel dengan Uji Chi-Square sebanyak enam sampel darah monyet ekor panjang diambil dari Pura Puncak Mundi, Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali. Sampel diekstraksi dengan menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kits produksi Qiagen. Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan sebanyak30 siklus dengan suhu annealing 50°C. Alel dipisahkan secara elektroforesis pada gel poliakrilamid 8% dan dimunculkan dengan perwarnaan perak (silver staining). Hasil penelitian menunjukkan heterozigositas lokus mikrosatelit D2S1368 rendah (0,29) dengan nilai PIC cukup informatif (0,28). Sebaran alel lokus menyimpang dari keseimbangan hukum Hardy-Weinberg. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan lokus mikrosatelit D2S1368 bersifat polimorfik.
Studi Kasus: Aural Hematoma pada Anjing Lokal Berumur 12 Tahun Irhas, Rajiman; Jayawardhita, Anak Agung Gde; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.935 KB)

Abstract

Aural hematoma adalah pembengkakan akibat penimbunan darah pada daun telinga (pinna auricula). Hewan kasus adalah anjing lokal betina berumur 12 tahun dengan bobot badan 15 kg. Terjadi kebengkakan pada pinna auricula kanan. Pemeriksaan fisik yang dilakukan menunjukkan hasil yang normal, namun memang ditemukan adanya infeksi ektoparasit pada tubuh hewan. Infeksi ektoparasit tersebut diduga yang menjadi penyebab hewan menggaruk dan mengepakkan telinganya secara berlebihan, hingga menimbukkan aural hematoma pada hewan kasus. Pemeriksaan laboratorium hewan menunjukkan hasil yang cukup stabil untuk dilakukan tindakan operasi. Tindakan yang dilakukan adalah menggunakan metode pembedahan teknik insisi dengan pembuatan drainasi terbuka pada pinna bagian media. Prognosa pada kasus ini adalah fausta Terapi pasca-operasi menggunakan antibiotika longamox injeksi dan dilanjutkan dengan pemberian Amoxicilin secara peroral, serta pemberian meloxicam sebagai anti-inflamasi dan analgesiknya. Hasil pengamatan menunjukkan terjadinya kesembuhan luka pada hari ke-21, yang ditandai dengan luka mengering dan terbentuk jaringan baru (kolagenasi).
Laporan Kasus: Penanganan Patah Miring pada Tulang Kering dan Tulang Betis Kanan pada Anjing Persilangan Dewi, Anak Agung Raka Isyani; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.912 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.206

Abstract

Fraktur merupakan kerusakan kontinuitas jaringan tulang. Anjing persilangan berjenis kelamin jantan, berumur dua tahun, bobot badan 11 kg, warna rambut coklat diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami kepincangan sejak 3 hari yang lalu akibat tertabrak motor. Secara fisik anjing nampak sehat, nafsu makan dan minum baik, urinasi dan defekasi normal. Inspeksi menunjukkan anjing mengalami pincang pada kaki kanan, mengalami kesakitan, bengkak serta terdengar suara krepitasi saat dilakukan palpasi. Pemeriksaan darah anjing mengalami limfositosis dan granulositosis. Pemeriksaan radiologi terlihat patahan pada os tibiae dan os fibulae dengan jenis patahan oblique. Tindakan praoperasi dengan pemberian atropine sulfat 0,25 mg/mL sebanyak 1 mL secara subkutan. Anastesi umum yang digunakan yaitu ketamine 100 mg/mL sebanyak 1,5 mL d an xylazine 20 mg/mL sebanyak 1 mL secara intravena dan anastesi inhalasi menggunakan isoflurence. Insisi dilakukan sepanjang daerah fraktur ±15 cm pada lokasi fraktur, musculus yang membungkus os tibiae dan os fibulae dikuakkan hingga bagian diafisis os tibiae dan os fibulae yang mengalami fraktur terlihat. Pemasangan intramedullary pin pada pada os tibiae dengan metode retrograded. Pascaoperasi diberikan antibotik cefotaxime 100mg/mL (2,5 mL intravena) dan dilanjutkan dengan ciprofloxazine 50 mg/tab (1 tab 2 kali/hari peroral), amoksan 250mg/tab (1 tablet 3 kali/hari selama tiga hari), analgesik meloxicam 7,5 mg/tab (0,2 tab hari ke-1 dan 0,1 tab pada hari selanjutnya), kalsium laktat 500 mg/tab (1 tab 1 kali/hari) dan enbatik serbuk pada luka insisi (secukupnya 1 kali/hari). Hasil operasi menunjukkan kesembuhan luka mulai pada hari ke-8 ditunjukkan dengan luka operasi sudah mulai mengering dan adanya usaha anjing untuk berdiri, berjalan walaupun masih pincang.
Jumlah Cemaran Bakteri Coliform dan Non-Coliform pada Air di RPU di Denpasar Melampaui Baku Mutu Nasional Sabaaturohma, Clara Luceatriani; Gelgel, Ketut Tono Pasek; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.94 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.139

Abstract

Air merupakan tempat bagi hidupnya berbagai jenis mikroba seperti bakteri, jamur, maupun kapang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah cemaran bakteri coliform dan non-coliform pada air di Rumah Pemotongan Unggas (RPU) di Denpasar. Penelitian ini menggunakan 16 sampel air yang diambil dari keran di RPU. Jumlah bakteri pada sampel dihitung secara konvensional dengan metode sebar pada media eosin methylene blue agar (EMBA), selanjutnya hasil dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-0220-1987, standar Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 32 tahun 2017, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001. Hasil rata-rata bakteri coliform pada air di RPU Denpasar sebanyak 84,375x104 cfu / ml dan non coliform dengan jumlah 14,375x104 cfu / ml. Dapat disimpulkan bahwa jumlah cemaran bakteri pada air yang berada di rumah pemotongan unggas di Denpasar melampaui standar SNI 01-0220-1987 yang menyatakan jumlah maksimum kuman-kuman patogenik sebanyak 0.00 / 100 mL, juga melampaui standar Peraturan Pemerintah Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 32 Tahun 2017 yang menyatakan jumlah maksimum bakteri coliform sebanyak 50 cfu / 100 mL dan maksimum E.coli 0 cfu / 100 mL, serta melampaui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 pada klasifikasi mutu air kelas I, II, III dan IV, yang menyatakan syarat total bakteri coliform sebanyak 1000 / 100 mL untuk mutu air kelas I, 5000 / 10 mL untuk mutu air kelas II, 10000 / 100 mL untuk mutu air kelas III dan IV.
Pemberian Tylosin Tartrate dan Fosfomycin Sodium dalam Air Minum Meningkatkan Jumlah Eosinofil dan Basofil Ayam Broiler Astawa, I Ketut; Ardana, Ida Bagus Komang; Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.752 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi antibiotik tylosin tartrate dan fosfomycin sodium yang dicampur dengan air minum terhadap total leukosit dan diferensial leukosit broiler. Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging/broiler jantan umur 17 hari yang dibagi atas empat perlakuan yaitu diberi kombinasi tylosin tartrate dan fosfomycin sodium 1 g/L air minum (P1), diberi 2 g/L air minum (P2), diberi 3 g/L air minum (P3) dan tanpa diberi tylosin tartrate dan fosfomycin sodium (P0). Perlakuan dilakukan pada ayam broiler umur 17-20 hari dan sampel darah diambil pada umur 21 hari.Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang berisi antikoagulan ethylene diamine tetra acid (EDTA). Total leukosit dan diferensial leukosit dihitung menggunakan alat uji otomatis (Automatic Blood Counter). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total leukosit kelompok P0(44,74± 11,49 x 103 µl) dan P1(46,77± 6,89 x 103 µl) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok P3(35,34± 2,41 x 103 µl), diferensial leukosit menunjukkan bahwa penambahan kombinasi antibiotik tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah heterofil, limfosit, dan monosit. Akan tetapi berpengaruh nyata meningkatkan jumlah eosinofil dan basofil. Pemberian kombinasi antibiotik tylosin tartrate dan fosfomycin sodiumyang dicampur dengan air minum dapat meningkatkan jumlah eosinofil dan basofil pada ayam broiler.
Laporan Kasus: Pemasangan Selang Drainase Dalam Penanganan Pasca-Operasi Reseksi Transmissible Venereal Tumor pada Vulva Anjing Persilangan Saulina, Renata; Wandia, I Nengah; Dada, I Ketut Anom
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.278 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.259

Abstract

Transmissible venereal tumor (TVT) adalah tumor yang ditularkan secara horizontal dengan sel tumor venereal berbentuk bulat besar yang didiagnosis pada anjing. Berdasarkan anamnesis, temuan klinis, serta dikonfirmasi hasil biopsi, anjing didiagnosis menderita TVT. Pada pemeriksaan sitologi yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar, sel-sel tumor yang ditemukan berupa sel-sel limfoblas dengan ukuran dan bentuk homogen disertai adanya stroma dan indeks mitosis sedang. Penangan dalam kasus anjing penderita TVT ini dilakukan dengan pengangkatan jaringan tumor pada vulva dan dilanjutkan dengan pemasangan selang drainase kemudian pemberian kemoterapi vincristine sulphate 0,025 mg/kg berat badan secara intravena diberikan sebanyak 1 kali setiap sekali seminggu selama 4 minggu. Setelah dua minggu observasi, luka operasi sembuh sepenuhnya. Kasus ini terbukti bahwa pemasangan selang drainase dapat mencegah akumulasi urin pada vulva.
Pemberian Serbuk Biji Kelor pada Limbah Cair Rumah Pemotongan Ayam Tradisional Mampu Menurunkan Jumlah Escherichia coli Saputra, I Dewa Ketut Ari; Suada, I Ketut; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.449 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.148

Abstract

Serbuk biji kelor dapat berperan sebagai koagulan alami untuk memperbaiki kualitas air, mereduksi logam berat, menurunkan jumlah bakteri Escherichia coli dan alga serta sebagai surfaktan / hidrofilik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh serbuk biji kelor pada konsentrasi berbeda terhadap jumlah E. coli pada limbah Rumah Pemotongan Ayam tradisional (RPA). Pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola split-time. Bakteri E. coli dihitung dengan metode penumbuhan pada media EMBA (eosin methylene blue agar). Faktor utama yaitu konsentrasi serbuk biji kelor sebagai berikut ; 0 mg / L, 50 mg / L, 100 mg / L, 150 mg / L dan 200 mg / L, dengan faktor tambahan adalah waktu pengendapan yaitu 0 menit, 20 menit, 40 menit, 60 menit. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa serbuk biji kelor berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah bakteri E. coli pada limbah RPA tradisional. Dengan konsentrasi terbaik serbuk biji kelor, 200 mg/L dan lama pengendapan yakni 60 menit, memberikan pengaruh terhadap penurunan jumlah E. coli pada limbah RPA tradisional.
Perbandingan Uji Subjektif Kualitas Daging Sapi Bali Produksi Rumah Pemotongan Hewan Gianyar, Klungkung dan Karangasem Sihombing, Vivi Ekatry; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.785 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.99

Abstract

Kualitas fisik daging merupakan hal yang sangat penting yang harus diperhatikan sebagai hasil produksi suatu Rumah Pemotongan Hewan (RPH), karena kualitas fisik yang baik menghasilkan mutu daging yang berkualitas dan layak untuk dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas fisik daging sapi bali produksi RPH Gianyar, Klungkung dan Karangasem. Sampel daging diambil pada bagian regio longissimus masing-masing sampel diambil sebanyak ± 100 gram. Sampel daging sapi diuji kualitas fisiknya terhadap warna, bau, tekstur dan konsistensi dengan menggunakan 10 orang panelis yang telah memenuhi persyaratan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Kruskal-Walis jika terdapat perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna, bau dan konsistensi daging sapi dari RPH Gianyar, Klungkung, dan Karangasem tidak ada perbedaan nyata, sedangkan untuk tekstur dari RPH Karangasem menunjukkan adanya perbedaan nyata dengan RPH Gianyar dan RPH Klungkung. Tekstur daging sapi dari RPH Karangasem terlihat lebih kasar daripada RPH Gianyar dan Klungkung, hal ini diduga karena umur sapi yang dipotong di RPH Karangasem sudah termasuk sapi-sapi tua sehingga banyak mengandung jaringan ikat dan teksturnya terlihat sangat kasar.