cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Extracellular Matrix dari Vesica Urinaria Babi Mempercepat Kesembuhan Luka Sayat Tanpa Menimbulkan Anemia dan Leukositosis pada Tikus Putih Surbakti, Yeyen Fami Gressia Br; Dharmawan, Nyoman Sadra; Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.322 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.1

Abstract

Luka terbuka memerlukan biomaterial untuk mempercepat proses kesembuhan. extracellular matrix (ECM) dari vesica urinaria babi merupakan salah satu biomaterial yang sering digunakan sebagai perancah sehingga pada resipien proses kesembuhan luka menjadi lebih cepat. Keamanan penggunaan extracellular matrix dapat dianalisa melalui gambaran darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui biokompatibilitas bahan ECM yang berasal dari vesica urinaria babi dievaluasi dari hasil pemeriksaan darah khususnya total eritrosit, kadar hemoglobin, dan total leukosit. Penelitian ini menggunakan 32 ekor tikus putih jantan yang telah dianestesi kemudian diberikan luka insisi pada punggung sepanjang 2 cm dengan kedalaman 0,2 mm dan dibagi kedalam dua kelompok. KI sebagai kontrol, tidak diberi bahan ECM dan KII sebagai perlakuan, diberi bahan ECM. Extracellular matrix dari vesica urinaria babi dibuat menggunakan metode Freytes yang sedikit dimodifikasi. Extracellular matrix berbentuk serat halus diaplikasikan sampai menutupi daerah luka sayat kemudian dioleskan vaselin sebagai perekat ECM pada luka. Pengambilan sampel darah dilakukan empat kali yaitu pada hari ke-1, hari ke-5, hari ke-10, hari ke-15 pasca pembedahan, sampel darah diambil dari vena lateralis sebanyak 0,5 ml dan kemudian diperiksa menggunakan mesin Animal Blood Counter iCell-800Vet. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ECM dari vesica urinaria babi dapat mempercepat kesembuhan luka tanpa menimbulkan perubahan nilai total eritrosit, kadar hemoglobin, dan total leukosit dari nilai rujukan normal, sehingga dapat disimpulkan ECM dari vesica urinaria babi tidak memiliki efek negatif terhadap profil hematologi tikus putih jantan.
Pemberian Serbuk Biji Kelor (Moringa oleifera) Menurunkan Tingkat Keasaman Limbah Cair Peternakan Babi Putra, I Made Arya Udyana; Merdana, I Made; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.709 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.219

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi serbuk biji kelor dan lama waktu pengendapan pada limbah peternakan babi ditinjau dari pH. Penelitian ini menggunakan 5 sampel air limbah peternakan babi sebanyak 500 mL dan tiga kali pengulangan. Konsentrasi serbuk biji kelor yang digunakan yaitu 50 mg/L, 100 mg/L, 150 mg/L, dan 200 mg/L dengan lama waktu penendapan 0 menit, 20 menit, 40 menit dan 60 menit. Konsentrasi serbuk biji kelor dicampurkan pada 4 sampel limbah sedangkan sampel kontrol tidak diberikan perlakuan apapun. Pengukuran pH dilakukan pada awal waktu pengendapan menggunakan pH meter digital. Nilai pH limbah peternakan babi sebelum diberikan perlakuan adalah 7,4. Setelah perlakuan, sampel kedua (50 mg/L) nilai pH turun hingga 7,3 pengendapan 0, 20, 40 dan 60 menit. Sampel ketiga (100 mg/L) pengendapan 0 dan 20 menit nilai pH 7,3 dan turun menjadi 7,2 pada pengendapan 40 dan 60 menit. Sampel keempat (150 mg/L) pH 7,2 pada pengendapan 0, 20 dan 40 menit, nilai pH turun menjadi 7,1 pada pengendapan 60 menit. Sampel kelima (200 mg/L) nilai pH 7,1 pada pengendapan 0 dan 20 menit dan menurun menjadi 7,0 pada lama waktu pengendapan 40 dan 60 menit. Hasil uji sidik ragam menunjukkan bahwa serbuk biji kelor berpengaruh nyata terhadap penurunan pH pada limbah peternakan babi. Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan hasil berbeda nyata pada berbagai konsentrasi dan berbagai lama waktu pengendapan. Penelitian ini konsentrasi serbuk biji kelor terbaik adalah 200 mg/L dengan lama waktu pengendapan 60 menit.
Perbandingan Akurasi Berbagai Metode Kalibrasi Skala Pengukuran dalam Morfometri Eritrosit Elang Ular Bido (Spilornis cheela) Hardian, Andreas Bandang; Megarani, Dorothea Vera; Nugrahani, Warih Pulung; Rahmawati, Irhamna Putri
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.122 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.68

Abstract

Morfometri sel berguna untuk mendeteksi abnormalitas seluler berdasar pengukuran sel secara kuantitatif. Metode ini telah diterapkan pada berbagai pemeriksaan klinis yang melibatkan inspeksi morfologi sel seperti pemeriksaan sitologi, histopatologi, dan patologi digital. Kalibrator skala yang umum digunakan adalah mikrometer kalibrasi (calibration slide). Terbatasnya ketersediaan mikrometer kalibrasi di laboratorium sering menjadi hambatan dalam melakukan morfometri sel sehingga diperlukan alat alternatif yang terbukti memiliki akurasi yang sama. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan parameter morfometri eritrosit elang ular bido (Spilornis cheela) menggunakan tiga kalibrator berbeda: mikrometer kalibrasi, kamar hitung Neubauer, dan batang skala digital pada kamera mikroskop. Sebanyak 58 eritrosit elang ular bido dipilih dari preparat apus darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa dan difoto menggunakan kamera mikroskop. Seluruh sel diukur menggunakan aplikasi ImageJ. Kalibrasi pengukuran dilakukan dalam lima metode dengan kalibrator yang telah disebutkan. Analisis perbandingan secara statistika dilakukan dengan membandingkan rata-rata panjang sel, lebar sel, panjang nukleus, dan lebar nukleus melalui uji analysis of variance (ANOVA) dan uji lanjutan Tukey’s Honestly Significant Difference (HSD). Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada rata-rata parameter morfometri eritrosit berdasar lima metode kalibrasi. Hasil uji lanjutan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara hasil pengukuran menggunakan kalibrasi dengan mikrometer kalibrasi (calibration slide) dan kamar hitung Neubauer. Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini bahwa kamar hitung Neubauer dapat digunakan untuk menggantikan mikrometer kalibrasi (calibration slide) jika belum tersedia di fasilitas klinik maupun laboratorium.
Studi Kasus: Demodekosis pada Anjing Jantan Muda Ras Pug Umur Satu Tahun Wahyudi, Gregorius; Anthara, Made Suma; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.692 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.45

Abstract

Demodekosis pada anjing merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi tungau Demodex sp dalam lapisan kulit dermis atau pada folikel rambut. Hewan kasus adalah anjing ras pug berjenis kelamin jantan, berumur ±1 tahun dan memiliki bobot badan 4,1 kg. Berdasarkan hasil anamnesis anjing mengalami gatal-gatal dan kemerahan selama kurang lebih satu bulan. Pada saat itu rambut anjing sudah mulai rontok dan teramati adanya ketombe. Anjing sering menggaruk pada bagian telinga, leher, punggung, dan wajah hingga merah. Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopik ditemukan tungau yaitu Demodex sp., sedangkan hasil pemeriksaan darah rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, dapat disimpulkan bahwa anjing ini didiagnosis menderita demodekosis. Pengobatan secara kausatif untuk anjing kasus diberikan ivermektin dengan dosis anjuran 0,2-0,4 ml/kg berat badan dan diinjeksikan sebanyak 0,16 ml secara subkutan dengan interval pengulangan sekali seminggu. Chlorfeniramin meleat sebagai antihistamin dengan dosis anjuran 2-4 mg/kg berat badan pada kasus ini diberikan dua kali sehari secara oral dan fish oil sekali sehari. Hewan dimandikan dengan amitras sekali seminggu dengan dosis pemberian 1ml : 100 ml. Setelah lima hari paska terapi, hewan kasus menunjukkan berkurangnya frekuensi menggaruk dan kemerahan pada kulit.
Uji Cemaran Mikroba pada Daun Mimba (Azadiractha Indica A. Juss) Sebagai Standarisasi Bahan Obat Herbal Saweng, Cikal Farah Irian Jati; Sudimartini, Luh Made; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.288 KB)

Abstract

Tanaman mimba (Azadiractha indica A. Juss) merupakan bahan herbal yang telah lama digunakan sebagai obat tradisional. Daun mimba mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, tanin, azadiracthin, salanin, meliantriol, nimbin, dan nimbidin yang bermanfaat dalam kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah cemaran mikroba yang terdapat pada simplisia daun mimba yang dikoleksi disekitar Univeristas Udayana, Jimbaran, Bali memenuhi persyaratan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) No. 12 tahun 2014 serta peningkatan mutu dan keamanan obat herbal terstandar. Penentuan cemaran mikroba simplisia daun mimba dilakukan dengan uji angka lempeng total (ALT) mengunakan media Plate Count Agar (PCA) dan angka kapang khamir (AKK) menggunakan media Potato Dextrose Agar (PDA). Pertumbuhan koloni bakteri diinokulasikan pada lempeng agar dengan metode sebar dan diinokulasi pada suhu 35-370C selama 24 -48 jam dan pada suhu 20-250C untuk pertumbuhan angka kapang khamir selama lima hari. Diperoleh hasil dengan pengukuran kuantitaif angka lempeng total dan angka kapang khamir dari simplisia daun mimba yaitu 3750 cfu/g dan 100 cfu/g. Simpulan daun mimba yang dikoleksi dari Kampus Univeristas Udayana, Jimbaran, Bali telah memenuhi persyaratan sesuai dengan standar cemaran mikroba pada obat tradisional pada BPOM RI No. 12 tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional yaitu jumlah angka lempeng bakteri maksimal 1.000.000 cfu/g dan angka kapang khamir maksimal 10.000 cfu/g dan layak digunakan sebagai bahan baku obat herbal karena telah memenuhi syarat.
Keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) Pada Sapi Bali di Kecamatan Mengwi, Badung, Bali Fania, Bella; Trilaksana, I Gusti Ngurah Bagus; Puja, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.68 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.177

Abstract

Inseminasi buatan (IB) merupakan suatu rangkain proses terencana dan terpogram karena menyangkut kualitas genetik ternak di masa yang akan datang.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan IB dan faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan inseminasi buatan pada sapi bali di Mengwi. Jenis penelitian yang dilaksanakan yaitu penelitian observasional dengan rancangan crossectional data diambil dalam suatu waktu di Mengwi, Badung, Bali. Pengumpulan data dalam penelitian yaitu teknik pemeliharaan data diambil menggunakan kuisioner, dan untuk pengambilan data pelaksanaan diambil dari ISIKHNAS. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa inseminasi buatan di Mengwi, sudah berhasil dan faktor peternak yang berpengaruh terhadap keberhasilan inseminasi buatan di Mengwi, terdiri dari pengetahuan inseminasi buatan, pengetahuan keunggulan inseminasi buatan, pengetahuan tentang kapan sapi dikawinkan, sedangkan faktor petugas inseminasi buatan seluruh faktor saling mempengaruhi terhadap keberhasilan inseminasi buatan di Mengwi, Badung, Bali.
Pemberian Kalsium Hidrogen Fosfat Dihidrat dan Vitamin D3 untuk Pengobatan Rickets pada Anak Anjing Persilangan Dewi, Putu Ayu Purbani Novia; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.044 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.107

Abstract

Anjing merupakan persilangan antara Pomeranian dengan anjing lokal, berjenis kelamin jantan berumur 3,5 bulan dan memiliki bobot badan 3 kg mengalami gangguan muskuloskeletal dengan tanda klinis berpindah tempat dengan cara menyeret badan dan kedua kaki belakangnya, di samping terjadi deformitas simetris pada ekstremitas cranial dan terdapat rasa nyeri pada ekstremitas caudal. Anjing pada kasus ini setiap harinya hanya diberikan pakan nasi dan hati ayam oleh pemiliknya. Pemeriksaan radiografi ditemukan bagian yang mengalami radiolusen pada os tibia fibula, deformitas tulang simetris terjadi pada ekstremitas kranial pada os humerus, serta deformitas pada lumbosakral. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, dan leukositosis. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium, disimpulkan anjing kasus didiagnosis menderita rickets. Terapi kausatif diberikan berupa calcifar 500 mg 1/6 tablet/hari selama 4 minggu, terapi simtomatis berupa meloxicam 7.5 mg 1/6 tablet/hari selama 7 hari, dan terapi suportif dengan mengganti makanan dengan dog food komersial, pemijatan otot-otot ekstremitas caudal, mengontrol bobot badan, mengajak anjing latihan ringan yaitu berjalan dipagi hari dan berenang. Setelah empat minggu terapi anjing mengalami peningkatan kekuatan tulang yaitu anjing sudah dapat berlari, menaiki dan menuruni tangga, meskipun deformitas pada kedua kaki depan dan tulang punggung tidak dapat kembali normal.
Gambaran Histopatologi Ginjal Marmut yang Diberi Ekstrak Daun Tapak Dara (Cantharanthus roseus) dan Wijayakusuma (Epiphyllum oxypetalum) Humaira, Sarah; Berata, I Ketut; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.129 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.12

Abstract

Tanaman tapak dara (Catharanthus roseus) dan wijayakusuma (Epiphyllum oxypetalum) merupakan tanaman bahan obat tradisional yang mampu mempercepat kesembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian kedua ekstrak tanaman tersebut terhadap ginjal yang diamati secara histopatologi. Penelitian menggunakan marmut, sebanyak 24 ekor, yang dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok I diberi salep vaselin sebagai kontrol (K), Kelompok II (P1) diberi salep ekstrak tapak dara konsentrasi 15%, Kelompok III (P2) diberi salep ekstrak wijayakusuma konsentrasi 15%, dan Kelompok IV (P3) diberi salep kombinasi ekstrak tapak dara dan wijayakusuma konsentrasi 15%. Setelah tujuh hari pertama pemberian perlakuan, tiga ekor marmut dari setiap kelompok dikorbankan nyawanya kemudian dinekropsi dan tiga ekor yang masih hidup diberi perlakuan hingga hari ke-14 lalu dikorbankan nyawanya dan dinekropsi. Setelah dinekropsi pada minggu pertama dan kedua, organ ginjal diambil untuk kemudian diproses pembuatan preparat histologi. Proses pembuatan preparat histopatologi dilakukan dengan metode Kiernan dan pewarnaan hematoxylin-eosin (HE). Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang diberi kombinasi ekstrak daun tapak dara dan wijayakusuma, tampak lesi degenerasi melemak, kongesti, perdarahan dan nekrosisnya paling ringan dibandingkan kelompok yang diberi ekstrak daun tapak dara atau wijayakusuma secara tunggal. Kesimpulannya adalah pemberian kombinasi ekstrak daun tapak dan wijayakusuma konsentrasi 15% pada terapi kesembuhan luka paling baik terhadap kesehatan ginjal dibandingkan pemberian ekstrak daun tapak dara atau wijayakusuma secara tunggal.
Pengimbuhan Asam Format Menurunkan Jumlah dan Diameter Folikel Limfoid Limpa, dan Memperkecil Diameter Folikel Limfoid Bursa Fabricius Aristawati, I Dewa Agung Ayu Irma; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (2) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.579 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.2.228

Abstract

Salah satu cara dalam meningkatkan efisiensi kecernaan pakan adalah dengan menambahkan feed additive. Asam organik yang sering digunakan sebagai feed additive, adalah asam format, karena sifat kelarutannya yang tinggi dalam air. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian asam format terhadap folikel limfoid bursa Fabricius dan limpa ayam, dilakukan penelitian dengan menggunakan 18 ekor day old chick (DOC) ayam kampung dengan tiga perlakuan yakni perlakuan kontrol (P0) ayam diberikan minum yang tidak mengandung asam format. Perlakuan 1 (P1) ayam diberikan air yang mengandung asam format (pH 2,5) dan perlakuan 2 (P2) ayam diberikan air yang mengandung asam format (pH 3,5). Masing masing perlakuan terdiri dari enam ekor ayam sebagai ulangan (n). Ayam ditimbang bobot badannya sebelum diberikan perlakuan. Enam minggu pasca perlakuan, ayam ditimbang kembali dan dikorbankan nyawanya dengan cara dislokasi capitis serta dilanjutkan dengan nekropsi. Organ bursa Fabricius dan limpa diambil dan dimasukkan dalam formalin 10%, jaringan yang telah difiksasi kemudian diproses dan diwarnai dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan pH air minum akibat pemberian asam format tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah folikel limfoid bursa Fabricius. Namun, berpengaruh nyata terhadap penurunan diameter folikel limfoid bursa Fabricius. Hasil penelitian juga menunjukkan penurunan pH air minum berpengaruh nyata terhadap penurunan jumlah dan diameter folikel limfoid pulpa putih limpa. Simpulannya adalah pemberian air minum yang asam menekan sistem imun ayam kampung.
Keragaman Performa Reproduksi Babi Landrace Betina di Kabupaten Tabanan Bali Pero, Fransisco Victoriano; Nindhia, Tjokorda Sari; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (1) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.716 KB) | DOI: 10.19087/imv.2020.9.1.54

Abstract

Babi landrace menjadi pilihan pertama para peternak karena babi landrace memiliki rata-rata tingkat kelangsungan hidup tertinggi pasca proses penyapihan sehingga banyak digunakan sebagai indukan. Kabupaten Tabanan merupakan sentra peternakan babi di Provinsi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman performa reproduksi dan korelasi antar performa reproduksi dari babi landrace betina. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuisioner, data dianalisis dengan analisis faktor komponen utama, dengan 15 komponen variabel yang diambil berdasarkan rata-rata performa reproduksi yang biasanya terjadi. Hasil dari penelitian ini komponen performa reproduksi lama birahi memiliki keragaman paling kecil, sedangkan variabel yang memiliki keragaman yang paling besar adalah umur maksimal beranak. Umur maksimal kawin dan umur maksimal beranak mempunyai korelasi positif yang paling tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan keragaman serta korelasi antara komponen penampilan reproduksi babi landrace betina. Perlu dilakukan seleksi babi landrace betina terhadap performa reproduksi yang mempunyai keragaman yang tinggi, sosialisasi terhadap para peternak tentang performa reproduksi yang baik, penerapan manajemen peternakan babi landrace yang berhubungan dengan performa reproduksi serta seleksi terhadap umur maksimal beranak dan umur maksimal kawin yang memiliki keragaman besar untuk mengoptimalkan efisiensi reproduksi babi landrace betina.