cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Struktur Histologi dan Histomorfometri Usus Halus Bagian Jejunum Sapi Bali Eristiawan, I Gede Erick; Setiasih, Ni Luh Eka; Suastika, Putu; Heriyani, Luh Gede Sri Surya; Susari, Ni Nyoman Werdi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.10.1.71

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur histologi dan perbedaan histomorfometri jejunum sapi bali pada bagian anterior, medial, dan posterior. Sebanyak 10 sampel sapi bali betina berusia empat sampai lima tahun diambil di Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Organ jejunum diambil pada bagian anterior, medial, dan posterior untuk selanjutnya difiksasi menggunakan larutan Neutral Buffered Formalin (NBF) 10%, kemudian diberi pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE) untuk dijadikan preparat histologi. Hasil pengamatan struktur histologi disajikan secara deskriptif kualitatif, sedangkan data histomorfometri disajikan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menemukan jejunum tersusun atas empat lapisan; tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Pengukuran histomorfometri menunjukkan ketebalan tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa pada bagian anterior secara berturut-turut 655,44±73,34 ?m, 191,98±25,78 ?m, 799,04±58,97?m, 122,68±32,90?m, pada bagian medial 726,04±52,87 ?m, 174,96±34,09 ?m, 885,14±69,74 ?m, 138,84±28,71 ?m dan pada bagian posterior 770,92±37,28 ?m, 211,08±27,99 ?m, 958,74±60,97 ?m, 273,2±46,56 ?m. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam ketebalan tunika mukosa antara bagian anterior dengan medial dan posterior, tunika submukosa antara bagian medial dengan posterior, tunika muskularis antara bagian anterior dengan posterior, tunika serosa antara bagian anterior dengan medial dan posterior, serta antara bagian medial dengan posterior, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan histomorfometri dari ketiga bagian jejenum sapi bali.
Morfometri Organ Usus Halus Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat Santi, Elysabeth Vanessa Tirta; Susari, Ni Nyoman Werdi; Suatha, I Ketut; Heryani, Luh Gde Sri Surya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.727

Abstract

Kerbau lumpur merupakan jenis kerbau yang berada di Pulau Lombok, yang kerap dimanfaatkan daging dan tenaganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfometri organ usus halus (duodenum, jejenum, ileum) pada kerbau lumpur di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pengukuran morfometri berupa panjang, lebar, serta berat organ. Sampel penelitian diambil dari lima ekor kerbau lumpur yang berusia antara 2 - 4 tahun. Organ usus halus didapat dari tempat pemotongan hewan Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Organ tersebut kemudian ditentukan batas tiap bagiannya dimulai dari duodenum yang diawali dengan akhir pilorus abomasum, berbentuk memanjang menyerupai kurva C dilanjutkan dengan jejenum dengan bentuk bergelombang yang ditandai dengan adanya arteri mesenterika dan diakhiri dengan ileum dengan bentuk lebih lurus serta tidak terdapat penggantung. Organ diukur panjang dan lebar menggunakan pita ukur bersatuan centimeter (cm), selanjunya mengukur berat menggunakan timbangan digital bersatuan gram (g). Data yang diperoleh dianalisis dengan bantuan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) secara deskriptif kuantitatif. Hasil pengukuran total panjang usus halus kerbau lumpur di Pulau Lombok yaitu 1.084 cm dengan panjang perbagiannya (duodenum, jejenum, dan ileum) berturut-turut yaitu 109 cm; 791,4 cm; 184,4 cm dan lebar berturut-turut yaitu 2,7 cm; 3,18 cm; dan 3,24 cm dengan rata-rata berat 3,04 kg sehingga jejenum merupakan bagian usus halus terpanjang. Nilai koefisien keragaman panjang dan lebar usus halus berkisar antara 2,53%-18,85% dimana koefisien keragaman lebar lebih besar dibandingkan koefisien keragaman panjang yang menandakan ukuran lebar usus halus lebih bervariasi.
Prevalensi dan Faktor Risiko Strongyloides papillosus pada Kambing-Kambing di Kota Denpasar Handojo, Chindi Meilina; Apsari, Ida Ayu Pasti; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.245

Abstract

Kambing merupakan salah satu ternak yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kota Denpasar. Namun, dalam pengembangannya terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh nematoda gastrointestinal Strongyloides papillosus. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi infeksi nematoda ini pada kambing, di antaranya adalah; umur, jenis kelamin, jumlah kambing per kandang, ras/breed serta sistem perkandangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi S. papillosus dan hubungannya dengan faktor risiko yang memengaruhi infeksi pada kambing yang dipelihara di Kota Denpasar. Sejumlah 150 faeses berbeda dari kambing yang dipelihara di Kota Denpasar diambil sebagai sampel pada penelitian ini. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan metode apung dan data yang diperoleh dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat berupa uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi S. papillosus pada kambing yang dipelihara di Kota Denpasar adalah 24,7%. Uji chi-square mendapatkan bahwa umur dan jumlah kambing per kandang memiliki hubungan dengan prevalensi infeksi cacing S. papillosus, sedangkan jenis kelamin, breed serta sistem perkandangan tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi cacing S. papillosus.
Prosedur Diagnosis dan Kasus Urolitiasis Berulang pada Kucing atau Anjing dalam Praktek Dokter Hewan di Kota Bandung Mulyani, Gita; Setiawati, Elsa Pudji; Rahmiati, Dwi Utari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.435

Abstract

Urolitiasis merupakan kondisi terbentuknya berbagai jenis batuan dalam saluran urinaria. Identifikasi jenis batuan yang dilakukan saat mendiagnosis urolitiasis perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit yang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai prosedur diagnosis kasus urolitiasis pada kucing dan anjing dalam praktek dokter hewan di Kota Bandung dan kasus urolitiasis berulang. Sampel responden diambil menggunakan purposive sampling dan didapatkan sembilan responden dokter hewan. Variabel yang diamati adalah prosedur diagnosis dan kasus urolitiasis berulang. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner berupa google formulir kemudian diolah secara deskriptif. Variabel prosedur diagnosis dikategorikan menjadi prosedur baik dan kurang baik, sedangkan variabel keberulangan dikategorikan menjadi berulang dan tidak berulang. Hasil didapatkan bahwa enam dari sembilan responden memiliki prosedur diagnosis baik. Seluruh responden dengan prosedur diagnosis baik maupun kurang baik mendapati dan menangani kasus urolitiasis berulang. Dalam kasus urolitiasis dokter hewan praktek melakukan prosedur diagnosis menggunakan berbagai alat penunjang diagnosis. Kasus urolitiasis yang berulang terjadi dengan interval yang berbeda, prosedur diagnosis bukan satu-satunya faktor yang bisa mendukung terjadinya keberulangan, faktor lain seperti pakan sangat mendukung terbentuk urolit kembali.
Laporan Kasus: Rhinitis Unilateral pada Kucing Lokal yang Mengalami Langit-langit Mulut Bercelah (Cleft Palate) Takariyanti, Dzikri Nurma'rifah; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.1036

Abstract

Rhinitis adalah peradangan pada selaput lendir hidung. Masalah ini umum dan sering terjadi pada kucing. Penyakit ini dapat timbul dari sejumlah gangguan intranasal atau sistemik. Seekor kucing lokal betina berumur satu tahun dengan bobot badan 2,2 kg diperiksa dengan keluhan adanya leleran pada hidung sebelah kiri dan sering bersin disertai dengan dahak dan bercak darah. Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya pembengkakan limfonodus mandibularis sebelah kiri, ditemukan lubang pada langit-langit mulut (cleft palate). Auskultasi paru-paru normal terdengar bunyi vesikular. Pemeriksaan hematologi menunjukkan adanya trombositosis yang menunjukkan adanya peradangan. Hewan didiagnosis rhinitis dan ditangani dengan pemberian antibiotik cefadroxin monohidrat dua kali sehari dan bromhexine sebagai terapi simptomatis satu kali sehari secara per oral. Hari ketujuh setelah pengobatan kucing kasus sudah tidak bersin dan tidak ada leleran yang keluar dari hidung.
Seroprevalensi Tetelo pada Peternakan Itik di Desa Takmung Kabupaten Klungkung Cahyani, Ni Luh Risna; Suardana, Ida Bagus Kade; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.641

Abstract

Itik merupakan salah satu jenis komoditas ternak di Indonesia yang mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai penghasil telur dan daging. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang itik adalah tetelo dimana penyakit ini sangat merugikan bagi industri peternakan unggas. Penyakit ini dapat menyerang ayam, itik dan kalkun dengan gejala klinis tremor, tortikolis, dan inkordinasi. Penyebaran penyakit ini melalui kontak langsung dari itik yang terinfeksi ke itik yang sehat. Penyakit ini telah mewabah diseluruh Indonesia termasuk Provinsi Bali. Seroprevalensi tetelo di Kabupaten Klungkung sekitar 46.2% pada tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa seroprevalensi tetelo pada itik di Desa Takmung, Kabupaten Klungkung tahun 2019. Sampel penelitian adalah serum itik yang diambil dari tiga peternakan di Desa Takmung, Kabupaten Klungkung. Pada setiap peternakan diambil sebanyak 50 sampel. Maka total sampel sebanyak 150 sampel serum itik yang tidak divaksinasi. Serum diuji serologi menggunakan uji hambatan hemaglutinasi (HI) di Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil penelitian menunjukan bahwa di Desa Takmung kabupaten, Kabupaten Klungkung terinfeksi virus tetelo dengan seroprevalensi sebesar 5.33%.
Gambaran Hematologi Anjing Peliharaan di Kota Denpasar Mahindra, Aditya Try; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.314

Abstract

Anjing merupakan hewan peliharaan yang memiliki hubungan paling dekat dengan manusia.Pemeriksaan kesehatan yang rutin harus ada untuk menjaga stamina anjing supaya tetap dalam kondisi prima. Salah satu indikator untuk mengetahui kondisi kesehatan melalui pemeriksaan darah. Populasi anjing di Kota Denpasar pada tahun 2019 menurut Dinas Pertanian Kota Denpasar adalah sekitar 97.522 ekor. Berbagai analisis gambaran darah pada anjing dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan lokal terhadap faktor fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran darah dari anjing peliharaan yang diberi pakan secara rumahan. Objek penelitian yang digunakan adalah anjing yang dipelihara masyarakat di Kota Denpasar dengan jumlah 47 ekor. Pengambilan sampel darah dilakukan pada anjing-anjing yang dipelihara oleh masyarakat Kota Denpasar. Lokasi penelitian dilaksanakan di Labolatorium Diagnosis Klinik, Patologi Klinik, Radiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan dan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil menunjukkan bahwa anjing di Kota Denpasar banyak yang tidak sehat. Kemungkinan yang menyebabkan anjing tidak sehat yaitu dalam hal pemberian gizi yang kurang baik, dan lingkungan yang terinfestasi penyakit. Perlu adanya peningkatan pemantauan pemeliharaan maupun kesehatan anjing di Kota Denpasar, terutama mengenai pemeriksaan laboratorium kemudian peningkatan kebersihan lingkungan supaya anjing terhindar dari serangan penyakit dan pemberian pakan yang memiliki nutrisi yang baik untuk anjing.
Laporan Kasus: Penerapan Episiotomi Diikuti Kemoterapi Vincristin dalam Penanganan Transmissible Venereal Tumor pada Anjing Kampung Betina Saputra, Muhammad Rama Imam; Wandia, I Nengah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.1024

Abstract

Transmissible Venereal Tumor (TVT) adalah tumor pada anjing yang dapat menular melalui proses perkawinan. Pada kasus ini, seekor anjing kampung berumur tiga tahun dengan bobot 11 kg, berjenis kelamin betina mengalami abnormalitas pada alat kelaminnya. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis dan hasil pengujian histopatologi, anjing kasus didiagnosis mengalami TVT. Penanganan kasus TVT dilakukan dengan menerapkan metode episiotomi. Anjing diinjeksi asam traneksamat satu jam sebelum dilakukan operasi dengan dosis 10-20 mg/kgBB yaitu sebanyak 2 mL. Premedikasi menggunakan atropin sulfat dengan dosis 0,02-0,04 mg/kgBB diberikan sebanyak 1 mL subkutan. Anastesi diberikan kombinasi xylazine dengan dosis 1-3 mg/kgBB diberikan sebanyak 1 mL dan ketamin dosis 10-15 mg/kgBB diberikan sebanyak 1,3 mL intramuskuler. Episiotomi dilakukan dengan melakukan insisi pada vagina dan perineum untuk memperlebar bagian vagina sehingga memudahkan pengangkatan masa tumor. Dilanjutkan dengan penutupan daerah insisi menggunakan benang chromic catgut ukuran 3,0 dengan metode jahitan simple interrupted suture, dan diikuti dengan jahitan subcuticular untuk daerah dermis dan jahitan terakhir yaitu menggunakan benang jahit silk ukuran 2,0 dengan metode jahitan terputus. Perawatan pascaoperasi menggunakan antibiotik amoxicillin dengan dosis 10-20 mg/kgBB yang diberikan sebanyak 1/3 tablet dan analgetik asam mefenamat dengan dosis 10-30 mg/kgBB yang diberikan sebanyak 1/5 tablet secara per oral selama lima hari. Anjing diberikan obat kemoterapi vincristin sulfat dengan dosis 0,025 mg/kgBB dan diberikan sebanyak 0,27 mL secara intravena pada hari ke-4 pascaoperasi. Vincristin sulfat diberikan dua kali dengan interval satu minggu. Hasil penanganan mendapatkan hasil yang baik, perdarahan berhenti pada hari ke-2 pascaoperasi, luka insisi mengering pada hari ke-7.
Menentukan Umur Kucing Jantan dengan Menghitung Jumlah Tulang Carpal Menggunakan Teknik Radiografi Maghfira, Aulia; Kuntara, Atta; Rahmiati, Dwi Utari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.540

Abstract

Umur hewan adalah salah satu bagian penting dalam pengambilan data pasien. Memperkirakan umur seseorang pada manusia dilakukan dengan metode umur tulang (bone age) dengan cara menghitung tulang carpal menggunakan teknik radiografi. Metode umur tulang yang digunakan untuk memperkirakan umur pada manusia kemudian dilakukan pada kucing untuk melihat perubahan tulang carpal pada kucing dengan umur yang berbeda. Penelitian ini dilakukan menggunakan data radiografi pada kucing jantan dengan umur 11 hari (new born), empat bulan, enam bulan, dan lebih dari satu tahun. Seluruh sampel kucing diidentifikasi jumlah tulang carpal berdasarkan anatomi lengkap tulang carpal yang berjumlah delapan tulang melalui gambaran radiografi. Osifikasi tulang dimulai pada umur tiga sampai delapan minggu sehingga pada sampel kucing berumur 11 hari pertumbuhan tulang carpal belum terlihat, sementara pada kucing dengan umur empat bulan, enam bulan dan lebih dari satu tahun memiliki tulang carpal lengkap delapan tulang.
Laporan Kasus: Anaplasmosis pada Anjing Peranakan Kintamani Tahlia, Ninis Arsyi; Suartha, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.304

Abstract

Anaplasmosis merupakan penyakit pada anjing yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular gram negatif yang termasuk dalam famili Anaplasmataceae. Seekor anjing mix kintamani berumur 1 tahun diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan; gatal-gatal, infestasi caplak, lemas, nasfu makan menurun dan eritema di seluruh tubuh anjing. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan membran mukosa mulut pucat, anjing lemah, infestasi caplak Rhiphicephalus pada kulit. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan terjadi anemia normositik hiperkromik, dan trombositopenia. Pemeriksaan ulas darah positif ditemukan agen Anaplasma spp. Terapi yang diberikan berupa terapi secara kausatif, simtomatis dan suportif. Terapi kausatif diberikan doksisiklin dosis 10 mg/kg BB diberikan secara oral selama 28 hari, ivermectin dosis 0,2-0,3 mg/kg BB, disuntikkan secara subkutan satu minggu sekali selama tiga minggu, terapi simtomatis dengan vetadryl dosis 1-5 mg/kg BB,disuntikkan secara subkutan satu minggu sekali selama tiga minggu, sedangkan terapi suportif diberikan pemberian vitamin livron b-pleks sehari sekali selama 10 hari. Pengobatan dengan doksisiklin, ivermectin, vetadryl dan livron b-pleks memberikan hasil yang baik terhadap anjing kasus dari segi keaktifan hewan, pertumbuhan rambut, nafsu makan yang baik dan hewan bebas dari caplak.