cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Profil Bobot Badan dan Tingkat Mortalitas Tikus Jantan Galur Sprague Dawley Selama Pembentukan Fibrosarkoma yang Dipicu oleh Benzo(a)piren Sewoyo, Palagan Senopati; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.1

Abstract

Benzo(a)piren (BaP) merupakan satu di antara beberapa contoh polisiklik aromatik hidrokarbon yang berasal dari hasil sisa pembakaran tidak sempurna bahan organik. Senyawa BaP seringkali digunakan pada penelitian untuk menginduksi fibrosarkoma. Secara umum pasien yang mengalami kanker akan mengalami penurunan bobot badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil bobot badan, waktu yang dibutuhkan untuk menimbulkan fibrosarkoma serta tingkat mortalitas tikus jantan galur Sprague Dawley setelah diinjeksi dengan BaP. Penelitian ini digunakan 18 ekor tikus dengan dua perlakuan. Tikus pada perlakuan 0 (P0) tidak diberi perlakuan, sedangkan tikus pada perlakuan I (PI) diinjeksi dengan BaP 0,3% yang dilarutkan dalam oleum olivarum 0,1 mL sebanyak sepuluh kali yang diberikan bertahap dengan interval dua hari melalui injeksi subkutan. Tikus P0 dan PI berjumlah masing-masing enam dan 12 ekor. Larutan BaP dibuat dengan cara dilarutkan dalam oleum olivarum, dicampur dan diaduk sampai homogen. Bobot badan tikus ditimbang pada awal penelitian kemudian dilakukan secara rutin setiap seminggu sekali selama 19 minggu. Diawal penelitian rerata bobot badan tikus pada P0 dan PI secara berurutan adalah 121,43 ± 7,04 g dan 131,49 ± 16,31 g. Rerata bobot badan tikus pada P0 dan PI dari minggu pertama hingga ke-19 adalah 178,53 ± 29,97 g dan 159,20 ± 14,24 g. Waktu yang dibutuhkan untuk memicu fibrosarkoma adalah 85,5 ± 17,6 hari. Tingkat mortalitas pada perlakuan P0 adalah 0% dan pada perlakuan PI 8,33%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian BaP secara signifikan menurunkan profil bobot bobot badan tikus dan memiliki tingkat mortalitas mencapai 8,33%.
Seroprevalensi Penyakit Tetelo pada Peternakan Itik di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali Lijung, Derfina; Suardana, Ida Bagus Kade; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.787

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle Disease adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh Paramyxovirus dan merupakan penyakit endemik hampir diseluruh dunia kecuali di Benua Antartika. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seroprevalensi penyakit tetelo pada itik di peternakan itik petelur di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Sampel penelitian sebanyak 76 sampel berasal dari darah itik yang diternakkan secara ekstensif di Desa Baha. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling) dan melalui vena brachialis itik yang berumur enam bulan serta belum pernah diberikan vaksin tetelo. Keberadaan virus dideteksi dengan uji hambatan hemaglutinasi (Haemaglutination Inhibition Test/ HI test). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 76 sampel yang diperiksa, tiga sampel menunjukkan hasil positif dengan titer antibodi 22-25 HI unit. Simpulannya adalah seroprevalensi penyakit tetelo pada peternakan itik di Desa Baha sebesar 3,94%. Seroprevalensi ini menggambarkan bahwa telah terjadi paparan virus tetelo pada ternak itik yang dipelihara secara ekstensif di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Gambaran Kesejahteraan Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) di Annafi Bird Farm, Cirebon, Jawa Barat Irfan, Mohamad; Agustian, Dwi; Hiroyuki, Andi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.683

Abstract

Dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist pada tahun 2019 status konservasi burung murai batu (Copsychus malabaricus) di dunia tergolong beresiko punah. Di Pulau Jawa murai termasuk burung langka. Penyebab utama kelangkaan dan kepunahan adalah rusaknya habitat dan perburuan untuk diperdagangkan, sehingga perlu adanya upaya konservasi salah satunya dalam bentuk kegiatan penangkaran agar keberadaanya tetap lestari. Annafi Bird Farm merupakan salah satu penangkar burung murai batu yang berada di Cirebon, Jawa Barat dalam pemanfaatannya perlu untuk memperhatikan kesejahteraan hewan. Kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan. Penilaian terhadap penerapan kesejahteraan hewan dapat membantu pihak penangkar untuk lebih memperhatikan kesejahteraan satwa dari penanganan medis maupun non-medis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesejahteraan burung murai batu yang dikelola oleh penangkar Annafi Bird Farm. Sampel responden diambil menggunakan total sampling yaitu satu animal keeper yang bekerja di penangkaran. Selain itu dilakukan pengamatan pada 65 ekor burung dari seluruh kandang. Variabel yang diamati adalah kesejahteraan hewan dan program kesejahteraan hewan pada burung murai batu di penangkaran. Pengambilan data dilakukan menggunakan wawancara terstruktur dan lembar observasi checklist mengacu pada peraturan dirjen PHKA No. 6 Tahun 2011 yang diisi oleh peneliti dan pengelola kemudian data diolah secara deskriptif. Hasil didapatkan bahwa menurut peneliti memiliki skor 74,8 dan menurut pengelola 82. Skor tersebut termasuk kategori baik. Hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kesejahteraan murai batu yaitu pada dimensi bebas rasa sakit dan luka dan bebas bebas dari rasa takut dan tertekan.
Klasterisasi Babi yang Dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran berdasarkan Bobot Badan Maheswari, Ni Putu Permata Dewi; Sampurna, I Putu; Sukada, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan babi yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran berdasarkan bobot badan. Bobot badan babi menjadi salah satu hal yang penting, sebab bobot badan menentukan harga jual daging babi. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran langsung bobot badan babi dan melakukan pendataan terhadap jenis kelamin, jenis babi, pakan, sistem pemeliharaan, umur, dan daerah asal babi tersebut. Data yang diperoleh dianalisis dengan deskriptif distribusi frekuensi kuantitatif, dilanjutkan dengan analisis klaster hierarki, dan dijelaskan dalam bentuk tabel keanggotaan klaster. Hasil penelitian terhadap 220 ekor babi yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran diperoleh rata-rata bobot badan sebesar 109,64 ± 17,053 kg dan berdasarkan distribusi frekuensi komulatif, sebaran data tersebut masuk ke dalam kategori sebaran normal dan tidak ada faktor dominan yang memengaruhi variasi bobot badan babi tersebut. Dapat disimpulkan bahwa klaster bobot badan babi yang dipotong di Rumah Pemotong Hewan Pesanggaran diperoleh hasil lima keanggotaan klaster dan kelima keanggotaan klaster tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin dan daerah asal babi termasuk jenis babi, umur, pakan, serta sistem pemeliharaan.
Jumlah Fungi Pada Cairan Rumen Sapi Bali Marlissa, Faccettarial Cylon Marchel; Suarjana, I Gusti Ketut; Besung, I Nengah Kerta
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (3) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.3.383

Abstract

Rumen merupakan kompartemen lambung ruminansia terbesar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan sementara dan di dalamnya terjadi proses fermentasi oleh berbagai mikroba. Fungi membantu degradasi serat pakan yang terjadi dalam rumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah fungi pada cairan rumen sapi bali. Sampel yang diambil pada penelitian ini menggunakan cairan rumen sapi bali yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pesanggaran, Denpasar yaitu sebanyak 20 sampel. Sampel yang diperoleh selanjutnya diencerkan dengan mengambil 1 mL cairan rumen dan dihomogenkan bersama 9 mL aquades steril sehingga diperoleh pengenceran 10-1, selanjutnya dengan cara yang sama dilakukan pengenceran sampai mencapai tingkat pengenceran 10-4. Kemudian sampel dengan konsentrasi 10-3 dan 10-4 diambil sebanyak 0,1 mL lalu diinokulasikan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) menggunakan metode sebar secara duplo. Sampel diinkubasikan di dalam wadah kotak yang tertutup rapat pada suhu kamar 26-300C selama 5 hari. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah koloni fungi yang tumbuh pada media SDA pada hari kedua , ketiga, keempat dan kelima berturut-turut 37,3.104 CFU/mL, 96,8.104 CFU/mL, 140.104 CFU/mL dan 167.104 CFU/mL. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata jumlah fungi pada cairan rumen sapi bali yang diambil pada pada hari ke 5 sebanyak 167.104±186,425 CFU/mL.
Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Cacing Tipe Strongyl pada Babi di Wilayah Dataran Rendah Provinsi Bali Mariyana, Lilik Dwi; Dwinata, I Made; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.949

Abstract

Infeksi parasit cacing tipe Strongyl umum menginfeksi ternak babi sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan, yang berdampak terjadinya penurunan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko infeksi cacing tipe Strongyl pada babi yang dipelihara di wilayah dataran rendah Provinsi Bali. Sampel penelitian feses babi yang berjumlah 245 sampel yang diambil dari wilayah dataran rendah basah (125 sampel) dan dataran rendah kering (120 sampel). Sampel feses diperiksa dengan metode konsentrasi pengapungan menggunakan larutan NaCl jenuh. Hasil penelitian didapatkan prevalensi infeksi cacing tipe Strongyl pada babi di dataran rendah Provinsi Bali sebesar 70,2% yang berasal dari wilayah dataran rendah basah (62,4%) dan wilayah dataran rendah kering (78,3%). Faktor risiko kebersihan kandang, kepadatan kandang dan wilayah berhubungan dengan prevalensi infeksi cacing tipe Strongyl pada babi, sedangkan faktor jenis kelamin, umur dan pengobatan tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi cacing tipe Strongyl.
Pemberian Jamu Daun Ashitaba pada Ayam Kampung Tidak Memengaruhi Respons Antibodi terhadap Flu Burung Subtipe H5N1 Pradnyandika, I Putu Krisna Ardhia; Sudira, I Wayan; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.604

Abstract

Flu burung (Avian Influenza) atau AI merupakan penyakit zoonosis berbahaya dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi. Pencegahan penyakit flu burung dilakukan dengan cara melakukan vaksinasi. Permasalahan di lapangan, tidak semua vaksin dapat menghasilkan titer antibodi yang tinggi akibat berbagai faktor. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebutadalah pemberian bahan yang mampu merangsang sistem imun (imunostimulator). Bahan alami yang mempunyai sifat sebagai imunostimulator adalah chalcone yang banyak terkandung pada tanaman ashitaba (Angelica keiskei). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian jamu daun ashitaba untuk meningkatkan titer antibodi pada ayam kampung pascavaksinasi flu burung. Penelitian ini menggunakan 25 ekor ayam kampung yang dibagi menjadi lima perlakuan yang terdiri dari: P0 (kontrol), P1 (50 mg/ekor/hari), P2 (100 mg/ekor/hari), P3 (200 mg/ekor/hari) dan P4 (400 mg/ekor/hari). Pemberian jamu daun ashitaba dilakukan satu kali sehari selama dua minggu. Pada hari ke-21 dilakukan vaksinasi dengan vaksin flu burung subtipe H5N1. Minggu ke-1, ke-2 dan ke-3 pascavaksinasi dilakukan pengambilan darah. Pemeriksaan titer antibodi flu burung dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Hasil penelitian menunjukkan rataan titer antibodi setiap perlakuan yaitu 2,4 HI log 2; 2,6 HI log 2; 3,8 HI log 2; 3,4 HI log 2; dan 1,8 HI log 2 yang artinya pemberian jamu daun ashitaba tidak dapat meningkatkan titer antibodi, sedangkan waktupengambilan darah berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan titer antibodi pada minggu ketiga pascavaksinasi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jamu daun ashitaba pada ayam kampung tidak meningkatkan titer antibodi flu burung subtipe H5N1.
Prevalensi Infeksi Nematoda Tipe Strongyl pada Sapi Bali di Dataran Rendah Basah dan Kering di Provinsi Bali Dina, Putu Ayu; Pasti Apsari, Ida Ayu; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (1) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.1.125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi infeksi cacing nematoda tipe strongyl pada sapi bali di dataran rendah basah dan kering di Provinsi Bali. Sampel yang diperiksa adalah feses sapi bali sebanyak 288 sampel yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu dataran rendah basah (163) dan dataran rendah kering (125). Pengambilan sampel sapi bali dilakukan secara purposive sampling di wilayah dataran rendah Bali. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan metode apung dengan menambahkan larutan gula sheater. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi nematoda tipe strongyl pada sapi bali yang berasal dari wilayah dataran rendah basah sebesar 55,8% dan wilayah dataran rendah kering sebesar 39,2%. Faktor risiko kondisi wilayah berhubungan terhadap prevalensi infeksi nematoda tipe strongyl pada sapi bali, sedangkan faktor jenis kelamin dan umur tidak.
Pendugaan Bobot Karkas Sapi Bali Jantan dan Betina Berdasarkan Panjang Badan dan Lingkar Dada Ananda, Made Krisna; Sampurna, Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.512

Abstract

Bobot karkas adalah bobot ternak yang sudah disembelih, dikuliti, dan telah dipisahkan bagian kepala, jeroan, keempat kaki mulai dari persedian carpus atau tarsus ke bawah. Jumlah sampel yang diambil yaitu 20 sapi jantan dan 24 sapi betina. Panjang tubuh diukur dari bongkol bahu (tuberositas humeri) sampai ujung tulang duduk (tuber ischii) menggunakan roll meter dan untuk lingkar dada diukur dengan melingkarkan pita ukur pada bagian dada belakang bahu. Karkas yang sebelumnya sudah dikurangi bagian kepala, kulit, keempat kaki bagian bawah termasuk karpal dan tarsal, isi rongga dada, dan isi rongga perut dihitung beratnya menggunakan timbangan duduk. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan independent t-test kemudian dianalisis dengan regression metode linear. Hasil pengukuran lingkar dada dan panjang tubuh pada sapi bali diketahui bahwa hasil rerataan lingkar dada sapi bali jantan yaitu 161,4 cm sedangkan pada sapi bali betina 157,2 cm, panjang tubuh sapi bali jantan yaitu 129,5 cm dan betina 116,6 cm, rerataan dari berat karkas pada sapi bali jantan yaitu 171,87 kg sedangkan pada sapi bali betina 115,43 kg. Hasil analisis regresi diperoleh persamaan regresi pada sapi bali jantan Y=0,0005 D2P dengan koefisien korelasi (R)=0,991 sedangkan betina Y=0,0004 D2P dengan koefisien korelasi (R)=0,994. Hal tersebut menunjukkan bahwa panjang tubuh, lingkar dada, dan berat karkas mempunyai keeratan karena mendekati angka 1. Berdasarkan hasil analisis regression metode linear diketahui laju perubahan berat karkas pada sapi bali jantan lebih tinggi daripada sapi bali betina sehingga sapi bali jantan lebih ekonomis untuk dipotong karena memiliki persentase berat karkas lebih tinggi daripada sapi bali betina,
Kajian Pustaka: Pemanfaatan Eksopolisakarida Bakteri Asam Laktat Probiotik Asal Produk Pangan Fermentasi sebagai Imunomodulator Mundiri, Nur Ashiddiqi; Megantara, Imam; Anggaeni, Trianing Tyas Kusuma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (5) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.5.849

Abstract

Meningkatnya kasus yang terkait dengan sistem imun, seperti infeksi mendorong para peneliti untuk menemukan alternatif imunomodulator baru yang aman dan efektif. Eksopolisakarida adalah polisakarida hasil sintesis dari bakteri asam laktat yang dilepaskan pada ekstraseluler sel. Umumnya, eksopolisakarida digunakan sebagai peningkat tekstur dan cita rasa pada industri pangan, namun eksopolisakarida diketahui memiliki potensi sebagai imunomodulator yang berperan dalam sistem imun bawaan pada pencernaan. Eksopolisakarida bakteri asam laktat mampu meningkatkan sistem imun bawaan melalui peran dari gut associated lymphoid tissue (GALT). Penggunaan eksopolisakarida sebagai imunomodulator telah banyak dilakukan yang dibuktikan secara in vitro dan in vivo pada hewan uji tikus dan mencit, dan diperoleh hasil berupa peningkatan aktivitas makrofag, produksi sitokin serta mampu menstimulasi pembentukan IgA. Studi literatur ini membahas mengenai eksopolisakarida sebagai imunomodulator yang meliputi pemanfaatan eksopolisakarida yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat dan mekanisme kerja dari bakteri asam laktat dalam mempengaruhi sistem imun bawaan.